(CERITA SAHABAT SPESIAL) Rayakan Tahun Baru di Bangladesh, Bukan di Bulan Januari

Tahun baru selalu identik dengan momen penuh harapan, doa, dan semangat baru. Namun, cara orang-orang merayakannya bisa sangat berbeda, tergantung di mana mereka tinggal.

Dalam program cerita sahabat spesial yang rilis setiap bulan, Ruanita Indonesia mengundang relawan Ruanita yang tinggal di Bangladesh tentang bagaimana perayaan tahun baru di sana.

Dalam episode kali ini, kita akan mendengarkan cerita Elia, seorang sahabat wanita Indonesia yang kini tinggal di Dhaka, Bangladesh, bersama keluarganya. Ia berbagi pengalaman unik tentang bagaimana perayaan tahun baru di sana begitu berbeda, dengan yang biasa kita jalani di Indonesia.

Bagi Elia, tahun baru di Indonesia, khususnya di kampung halamannya Lampung, biasanya dirayakan dengan sederhana.

Malam pergantian tahun diisi dengan bakar-bakaran, menyalakan kembang api, dan berkumpul bersama keluarga. Tidak ada ritual yang terlalu rumit, tapi hangatnya kebersamaan sudah cukup membuat malam itu istimewa.

Berbeda dengan Indonesia yang merayakan tahun baru setiap 1 Januari, masyarakat Bangladesh justru menyambut tahun baru mereka pada 14 April, yang dikenal dengan nama Pohela Boishakh. Bukan sekadar pergantian tahun, Pohela Boishakh dirayakan layaknya festival besar penuh warna, budaya, dan kebersamaan.

Sejak pagi hari, ribuan orang berkumpul di Dhaka University, pusat perayaan terbesar di ibu kota. Jalanan dipenuhi arak-arakan dan pawai, lengkap dengan patung-patung hewan simbolik seperti macan dan burung hantu, yang melambangkan ketangguhan.

Follow us

Anak-anak muda menghias jalanan dengan alpona design, seni lukis khas Bangladesh yang dipajang di dinding, pintu, hingga jalan raya.

Suasana meriah semakin terasa ketika perempuan mengenakan mahkota bunga di kepala, sementara laki-laki memakai panjabi putih dan perempuan mengenakan baju merah atau putih seperti syari atau kurti.

Tak lengkap rasanya sebuah perayaan tanpa hidangan spesial. Di Pohela Boishakh, menu utamanya adalah pantabat (nasi yang direndam air semalaman) yang disantap bersama ikan hilsa goreng, ikan nasional Bangladesh.

Tradisi ini lahir dari masa lalu ketika tahun baru bertepatan dengan musim panen—sehingga masyarakat menikmati beras baru hasil panen bersama keluarga.

Pohela Boishakh juga menjadi momen saling berkunjung antar-kerabat. Keluarga muda biasanya mengunjungi yang lebih tua, lalu sebaliknya, menciptakan suasana hangat penuh silaturahmi.

Ucapan khas “Shubho Noboborsho” (Selamat Tahun Baru) terdengar di setiap pertemuan, mempererat ikatan sosial antarwarga.

Cerita Elia mengingatkan kita bahwa perayaan tahun baru bukan sekadar tentang tanggal di kalender. Di Indonesia, kesederhanaan menjadi kunci, selama ada keluarga, malam tahun baru terasa hangat. Sedangkan di Bangladesh, tahun baru adalah festival budaya yang meriah, penuh seni, simbol, dan tradisi yang sarat makna.

Dua cara yang berbeda, tapi keduanya sama-sama menghadirkan esensi. Ini tentang harapan baru, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehidupan.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial dari Bangladesh ini di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar dapat mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Diskusi Daring: Atasi Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD dengan Libatkan 3 Kontinen

Jakarta, 29 November 2025 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Atasi Adiksi Games Online pada Anak Usia Sekolah Dasar” pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari orang tua, guru, pemerhati anak, hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu pendidikan dan perkembangan anak di era digital.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara yang memberikan pandangan dan pengalaman berharga. Mom Elia Qudo, ibu rumah tangga asal Bangladesh, berbagi kisah nyata dalam mendampingi anak usia sekolah dasar yang gemar bermain game online, termasuk bagaimana ia mengatur keseimbangan antara waktu bermain dan belajar anak di rumah. 

Dari Australia, Ayah Andri, pendidik dan pendiri Indolanan, menyoroti pentingnya permainan dalam proses tumbuh kembang anak serta memperkenalkan kembali nilai permainan tradisional sebagai alternatif yang menyenangkan dan edukatif untuk mengatasi kecanduan game.

Follow us

Sementara itu, Mom Mala Holland, seorang psikoterapis yang berdomisili di Inggris, membagikan perspektif psikologis melalui pendekatan play therapy dan memberikan tips praktis bagi orang tua dalam mengelola penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar.

Kegiatan ini dipandu oleh Asti Tyas Nurhidayati, guru sekolah dasar sekaligus relawan Ruanita yang saat ini berdomisili di Islandia. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi seputar tantangan mendampingi anak di tengah kemudahan akses digital yang begitu luas.

Melalui diskusi ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak adiksi game online terhadap aspek psikologis, sosial, dan akademik anak. Mereka juga mendapatkan strategi praktis untuk mencegah dan mengatasi kecanduan sejak dini, termasuk pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendampingan orang tua di era digital. Ruanita Indonesia juga berencana mempublikasikan rangkuman hasil diskusi beserta rekomendasi praktis bagi orang tua melalui laman resmi www.ruanita.com dan media sosial sebagai bahan edukasi masyarakat.

Perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Adiksi game pada anak adalah tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama dengan bijak. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan profesional menjadi kunci agar anak-anak dapat tumbuh seimbang di tengah dunia digital,” ujar Asti Tyas menutup acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk terus menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran bagi perempuan serta keluarga Indonesia di seluruh dunia, guna menciptakan generasi anak yang cerdas, tangguh, dan berdaya di era teknologi.

Informasi lebih lanjut, bisa mengontak Asti Tyas Nurhidayati melalui e-mail info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) KBRI Dhaka dan Ruanita Indonesia Sukses Gelar Diskusi Daring “Cerdas & Bijak Bersama Teknologi”

Dhaka, 15 Agustus 2025 – KBRI Dhaka bersama Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertema “Cerdas dan Bijak Bersama Teknologi” pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Acara ini diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) di Bangladesh dengan tujuan meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap maraknya hoaks serta penipuan berbasis teknologi.

Acara dibuka oleh Perwakilan KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang menekankan pentingnya membekali diri dengan keterampilan digital di era teknologi yang berkembang pesat. Diskusi dipandu oleh Elia Qudo, relawan Ruanita Indonesia di Bangladesh.

Follow us

Dua narasumber utama hadir berbagi wawasan. Anggy Eka Pratiwi, relawan Ruanita Indonesia dan mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, India, membahas cara mengenali hoaks serta modus penipuan yang melibatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Sementara itu, Octanty Mulianingtyas, dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Indonesia, memberikan tips praktis agar WNI dapat menggunakan teknologi secara aman dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Diskusi ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menguatkan solidaritas komunitas WNI di Bangladesh agar mampu melawan hoaks dan menciptakan lingkungan digital yang sehat,” ungkap Sahid Nurkarim, perwakilan KBRI Dhaka.

Informasi lebih lanjut: Elia Qudo, Relawan Ruanita Indonesia di Dhaka (info@ruanita.com)

Rekaman acara diskusi dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlanjutan kami.

(CERITA SAHABAT) Kisah Berwirausaha di Bangladesh: Menemukan Peluang di Tengah Pandemi COVID-19

Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola oleh Ruanita Indonesia. Saat ini, saya tinggal di Bangladesh dan mau bercerita tentang bagaimana pengalaman berwirausaha di sini. Ini semua berawal dari masa Pandemi COVID-19 yang melanda semua orang di dunia, termasuk saya di Bangladesh.

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi banyak orang, termasuk saya. Pandemi COVID-19 membuat kehidupan sehari-hari berubah drastis. Sebagai seorang WNI yang tinggal di Bangladesh, saya juga merasakan dampaknya. Kebijakan “Stay Home” membatasi aktivitas di luar rumah, dan teman-teman saya, sesama WNI, kesulitan mendapatkan produk Indonesia yang biasa mereka beli di pasar DCC Market.

Follow us

Awalnya, saya hanya membantu mereka dengan belanja titipan. Namun, semakin sering mereka meminta bantuan, saya mulai berpikir bahwa ini adalah peluang. Teman-teman menyarankan agar saya mulai berjualan online, agar mereka tidak perlu sungkan menitip terus. Dengan niat ingin membantu dan menyediakan akses mudah ke produk Indonesia, saya memutuskan untuk memulai usaha online kecil-kecilan. Itulah awal dari perjalanan bisnis saya.


Saat pertama memulai, saya tidak pernah menyangka bahwa antusiasme teman-teman WNI di sini akan sebesar itu. Awalnya, pelanggan saya hanyalah teman-teman dekat di sekitar rumah. Namun, berkat grup WhatsApp komunitas WNI, informasi tentang usaha saya menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, permintaan datang dari berbagai daerah di Bangladesh, termasuk mereka yang tinggal jauh dari Dhaka.

Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah pengiriman barang, terutama selama masa lockdown. Banyak pelanggan di luar Dhaka harus menunggu lebih lama untuk menerima pesanan mereka. Ada kalanya pengiriman yang biasanya hanya memakan waktu sehari menjadi tertunda hingga beberapa hari. Meski begitu, saya terus mencari cara untuk memastikan barang sampai dengan selamat, dan pelanggan tetap merasa puas.


Saya fokus menjual bahan pangan khas Indonesia, seperti Indomie, kecap, dan tepung tapioka, yang sangat diminati oleh komunitas WNI di sini. Untuk mempermudah transaksi, saya memanfaatkan teknologi lokal seperti aplikasi pembayaran Bkash, yang memungkinkan transfer uang dengan mudah. Selain itu, saya menggunakan WhatsApp dan Facebook sebagai media utama untuk promosi. Saya selalu memastikan foto produk dan daftar harga diperbarui agar pelanggan bisa melihat dengan jelas apa yang saya tawarkan.

Teknologi juga sangat membantu dalam hal pengiriman. Saat ini, jasa pengiriman di Bangladesh sudah cukup variatif, sehingga saya bisa memilih layanan yang sesuai dengan lokasi pelanggan. Dengan strategi ini, saya bisa menjangkau pelanggan di berbagai wilayah, bahkan yang berada di luar kota.


Saya bersyukur karena perjalanan bisnis ini tidak saya lalui sendirian. Saya bekerja sama dengan eksportir lokal untuk mendatangkan produk Indonesia, memastikan ketersediaan barang selalu terjaga. Saya juga mendapat dukungan besar dari komunitas WNI di sini, termasuk mahasiswa Indonesia di BRAC University. Mereka membantu mempromosikan usaha saya di lingkungan kampus, memperluas jangkauan pelanggan hingga ke teman-teman mereka yang berasal dari negara lain.

Keluarga suami saya juga menjadi pilar penting dalam usaha ini. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi pelanggan setia. Produk seperti Indomie menjadi favorit mereka, dan hal ini semakin memotivasi saya untuk terus berkembang.


Bagi saya, wirausaha adalah pengalaman yang seru dan penuh pelajaran. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa penting untuk tetap produktif. Usaha ini tidak hanya membantu teman-teman mendapatkan produk Indonesia, tetapi juga memberi saya kesempatan untuk belajar dan menghadapi tantangan baru. Selain bahan pangan, saya mulai menjual makanan homemade, seperti nastar, lontong sayur, dan cilok. Saya menikmati proses menciptakan sesuatu yang membawa rasa nostalgia kampung halaman bagi pelanggan saya.

Meski menghadapi banyak kendala, seperti ketika akses internet di Bangladesh sempat dimatikan selama dua minggu pada Juli 2024 akibat gejolak politik, saya terus berusaha untuk mempertahankan bisnis ini. Saat itu, komunikasi dan pengiriman barang menjadi sangat sulit. Namun, saya belajar bahwa dengan kesabaran dan tekad, semua hambatan bisa diatasi.


Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya menyadari bahwa wirausaha tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun hubungan, memahami kebutuhan orang lain, dan memberikan solusi. Melihat teman-teman WNI di seluruh Bangladesh bisa menikmati produk Indonesia membuat saya merasa bahagia. Saya merasa menjadi bagian dari upaya menjaga rasa kebersamaan dan memori kampung halaman bagi mereka.

Ke depan, saya berharap barang-barang Indonesia bisa lebih mudah masuk ke Bangladesh, sehingga variasi produk yang saya tawarkan bisa semakin beragam. Saya juga ingin terus meningkatkan keterampilan memasak agar bisa menghadirkan lebih banyak pilihan makanan khas Indonesia bagi pelanggan saya.


Bagi siapa saja yang ingin memulai usaha, terutama di negara berkembang, pesan saya sederhana: jangan takut mencoba. Gali potensi diri, pahami lingkungan sekitar, dan jangan ragu untuk belajar dari pengalaman. Setiap tantangan yang dihadapi adalah peluang untuk tumbuh. Perjalanan saya membuktikan bahwa dengan niat baik dan kerja keras, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermakna, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Penulis: Elia Qudo, perempuan Indonesia yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun Instagram @eliaqudo88.