Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.
Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.
Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.
Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.
Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.
Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.
Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.
Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:
Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.
“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.
Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.
Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.
Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.
Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.
Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.
“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.
Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.
“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.
Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:
Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania? Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya. Apa sih tsundoku atau bibliomania itu?
Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya. Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.
Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya. Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.
Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu. Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.
Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?
Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini.
Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz. Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata. Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga.
Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni. Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali. Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.
Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri.
Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali.
Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam. Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney. Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.
Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal.
Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud.
Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.
Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit.
Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak.
Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri. Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi.
Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru. Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.
Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading. Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming.
Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut. Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.
Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan. Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya.
Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“.
Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut.
Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.
Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri.
Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.
Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi. Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?
Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).
Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah.
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga.
Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.
Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian. Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku.
Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan. Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.
Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan. Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.
Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.
Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak. Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia.
Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita. Dan selamat membaca bersama keluarga!
Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.
Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.
Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.
Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.
Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.
Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.
Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.
Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.
Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.
Bertubuh mungil dan lincah, Westy Aden Bialke sekilas tampak seperti salah satu fashionista yang kerap kita temui di pusat kota Frankfurt, salah satu kota pusat financial di Eropa Barat. Penampilannya yang modis dan memesona menyimpan energi yang luar biasa. Siapa nyana, nama anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara ini merupakan salah satu nama yang seringkali muncul dalam tender proyek-proyek pabrik metalurgi dunia.
Ketertarikan Westy, begitu dia biasa dipanggil, pada bidang teknik berawal dari keluarga. Dia mendengarkan percakapan sang Ayah yang merupakan seorang insinyur sipil dan juga diskusi-diskusi dengan sang kakak yang telah lebih dulu memilih untuk berkuliah di bidang yang sama. Hal ini membuat Westy merasa bahwa bidang ini adalah bidang yang keren dan sangat menarik. Selain itu didukung oleh kesukaan dan prestasi Westy di bidang matematika dan fisika semasa duduk di bangku sekolah.
Prestasi Westy dan kecocokannya di bidang yang sudah dipilihnya terbukti dengan pekerjaan pertama yang didapatkannya. Lulus dari Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada tahun 1992, Westy langsung direkrut oleh ARCO (Atlantic Richfield Indonesia Inc.). Ini adalah sebuah perusahaan dengan kantor pusat di Amerika Serikat.
Dia bekerja di sebuah proyek di Pulau Pagerungan. Karena performanya yang mengesankan atasan, sang atasan pun meneruskan dokumen-dokumen Westy kepada seorang Head Hunter. Melalui inilah Westy kemudian direkrut untuk bekerja di Lurgi yakni sebuah perusahaan metalurgi yang berpusat di Jerman pada tahun 1995.
Ini menjadi prestasi tersendiri bagi Westy karena dia adalah insinyur pertama yang direkrut di Indonesia. Tentu berbeda dengan insinyur-insinyur sebelumnya yang direkrut dari luar Indonesia untuk bekerja di lokasi proyek di Indonesia.
Perusahaan ini membangun berbagai pabrik pengolahan bahan alam untuk klien-klien di berbagai negara, sebuah perusahaan di bidang pembangunan dan konsultan teknik, yang seringkali identik dengan dunia laki-laki. Pada saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998-1999, Westy pun diminta untuk bergabung dengan cabang perusahaan Lurgi di Malaysia.
Pada tahun 2001 dia pun ditawari untuk pindah ke kantor pusat di Frankfurt, Jerman. Kesempatan ini pun tidak disia-siakannya. Hingga saat ini Westy pun masih tinggal dan bekerja di kota Frankfurt.
Melalui berbagai proyek di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Chili, Trinidad dan banyak negara lain, Westy meniti karir selama 30 tahun terakhir hingga pada perusahaan dan posisinya saat ini. Sebagai Direktur Bidang Pemasaran dan Proposal di perusahaan Metso: Outotec yang berkantor pusat di Finlandia, wilayah pemasaran yang menjadi tanggung jawab Westy meliputi seluruh dunia.
Dia juga bertanggung jawab atas manajemen proposal di pusat-pusat kompetensi perusahaan di Jerman, India dan Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya perempuan di Departemen Pemasaran dan Proposal, Westy memimpin tim yang bekerja dari berbagai lokasi di seluruh dunia.
Salah satu puncak karirnya sampai saat ini adalah jabatan sebagai Vice President Proposal Management pada tahun 2016-2018, sebelum perusahaan mengalami perubahan struktur manajemen.
Ketika ditanya tentang tantangan apa yang dihadapinya sebagai perempuan yang berkarir di dunia yang sering dilihat sebagai dunia khas laki-laki, Westy memiliki beberapa jawaban yang menarik. Dia mengakui bahwa dalam bidang tertentu perempuan sering disepelekan.
Namun yang menarik adalah pengalamannya bahwa tantangan ini justru lebih besar ketika dia masih merintis karir di Indonesia. Selain tantangan untuk membuktikan diri bahwa dirinya adalah insinyur yang berkualitas.
Dia juga berhadapan dengan stereotype yang dimiliki baik oleh orang Indonesia sendiri maupun oleh tenaga kerja asing yang menganggap bahwa kualitas SDM dari luar negeri lebih baik daripada SDM lokal. Hal ini membuat Westy semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa perempuan Indonesia pun tidak kalah kualitasnya dengan insinyur-insinyur lain.
Di samping itu, ada tantangan-tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan gender. Ada juga berkaitan dengan asal, seperti pada saat dia mengambil alih sebuah proyek di Malaysia pada tahun 1999.
“Mereka sempat khawatir, apakah orang Malaysia akan bisa menerima pemimpin dari Indonesia, perempuan pula,” katanya.
“Tapi ternyata tidak ada masalah dan proyeknya sangat sukses,” tambahnya sambil tertawa.
Secara umum Westy menjelaskan bahwa cukup sulit bagi perempuan untuk diakui setara, apalagi di bidang yang secara tradisional dikerjakan oleh laki-laki. Perempuan setidak-tidaknya harus 50% lebih baik atau bahkan dua kali lebih baik daripada pekerja laki-laki.
Untuk merebut kesempatan dalam bidang yang secara tradisional adalah male domain pun cukup menantang. Seringkali yang dilihat pertama kali sebagai pekerja berpotensi adalah laki-laki, kemudian perempuan sebagai pilihan berikutnya. Oleh karena itu, penting bagi pekerja perempuan untuk memiliki profil istimewa agar tetap menonjol di antara kandidat-kandidat lainnya.
Sambil menceritakan perjalanan karirnya yang luar biasa, Westy mengatakan bahwa pada awalnya dia, seperti banyak perempuan lain. Dia harus bekerja keras untuk membuktikan diri. Dalam perjalanan karirnya, Westy merasa pada awal tidak banyak konflik karena dia berkonsentrasi kepada performa.
Dia hanya satu dari banyak staf bawahan yang fokusnya bekerja keras. Hal ini bergeser ketika karirnya sudah mulai menanjak dan posisinya sudah masuk ke jajaran manajemen. Tidak bisa dipungkiri bahwa politik perusahaan mulai memengaruhi proses dan cara kerja orang-orang yang bekerja pada tingkat manajemen.
Di antara jajaran manajemen yang mayoritas laki-laki kadang terbentuk kelompok-kelompok yang saling berkomunikasi tanpa melibatkan Westy. Itu sebab dia harus lebih proaktif untuk mengejar informasi.
“Perempuan adalah pemimpin yang lebih baik,“ kata Westy sambil tersenyum simpul, “aku meyakini itu.”
Salah satu hal yang telah dialami dan dipraktikkan oleh Westy sendiri adalah bahwa perempuan memiliki insting dan kepekaan untuk menangkap apa yang diperlukan oleh anggota tim untuk menjadi ‘A winning team‘.
Dia mengatakan bahwa melalui kepekaan khas perempuan ini, dia mampu menangkap apa yang dibutuhkan oleh anggota timnya untuk bisa mengembangkan potensi mereka secara maksimal meskipun pada saat bersamaan dia juga menuntut performa yang luar biasa dari seluruh anggota timnya. Sebagai timbal balik dari perhatian dan dukungan dari sang Atasan, anggota timnya sangat loyal dan bersedia memberikan usaha terbaik bagi kesuksesan tim.
Ketika saya minta untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinannya, Westy menjawab dengan spontan, “Aku menempatkan diri sebagai Role model. Tugasku mendemonstrasikan dan memberi contoh.”
Westy mengatakan bahwa dia tidak segan untuk melakukan semua pekerjaan, apapun itu. Kalau ada anggota tim yang datang dan mengatakan bahwa dia perlu bantuan, bantuan apa pun akan dikerjakan. Dia adalah bagian dari tim dan bukan bos. Komunikasi yang jelas dan tegas menjadikan semua anggota tim mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan tetap siap meminta bantuan jika diperlukan.
Yang menarik bagi saya adalah ketika Westy bercerita bahwa tantangan tidak hanya muncul di bidang kerja, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sebagai perempuan Asia yang menikah dengan laki-laki Jerman dan tinggal di Eropa, Westy bercerita bahwa dia terkadang dipandang sepele oleh orang-orang yang belum mengenalnya.
Meskipun Westy sendiri sering tidak ambil pusing, tetapi dia bercerita bahwa sang suamilah yang pada awalnya seringkali memperkenalkan dirinya. Suaminya langsung bercerita dengan bangga, “Istriku ini insinyur!“
Hal ini untuk membongkar stereotype perempuan asing yang dianggap menumpang hidup dengan pasangannya yang berkulit putih. “Sesudah 18 tahun menikah sih sudah tidak perlu lagi ya. ‘Kan kenalan kami semua sudah tahu hehehe,” kata Westy.
Di samping suami yang bangga akan identitas dan pencapaiannya, Westy juga sangat bersyukur karena pasangan hidupnya ini sangat mengerti tuntutan pekerjaannya. Datang dari latar belakang pekerjaan yang sama, sang suami mengerti beban dan bidang kerjanya.
“Kalau sama-sama pulang kerja, dia tahu betul hari ini seberat apa.”
Westy pun tidak khawatir meninggalkan rumah dalam rangka perjalanan dinasnya ke seluruh dunia karena mereka saling bekerja sama di dalam dan di luar rumah tangga.
“Suamiku lebih sering memasak loh, daripada aku.”
Harus diakui, mencapai karir yang luar biasa dan memimpin tim internasional dengan klien yang bekerja dalam zona waktu yang berbeda-beda membuat Westy sulit menjaga Work-life balance.
“Meskipun idealnya pulang kerja lepas dari telepon genggam, tetapi pada kenyataannya sulit ya. ‘Kan klien dan anggota timku jam kerjanya beda-beda,” dia mengakui.
“Tapi akhir pekan tetap milik suami ya, dikombinasikan dengan ketemu sesama orang Indonesia di Gereja,” tambahnya.
Ada banyak hal yang disyukuri oleh Westy: karir yang moncer dan pasangan yang baik, serta kesempatan untuk membahagiakan dan mengunjungi kedua orang tua di Indonesia dua kali setiap tahunnya.
Sebelum berpisah saya bertanya kepada Westy tentang tips atau hal-hal apa yang ingin dia bagi untuk sesama perempuan Indonesia. Perempuan berpaspor Indonesia ini pun membagikan pengalamannya.
“Jangan ragu-ragu untuk mengeksplorasi diri!”
Bakat apapun, dalam bidang apapun, harus digunakan sebaik-baiknya. Tidak penting apakah bakat dan minat itu ada bidang akademis, sosial, budaya, dan lain-lain, eksplorasilah karena ini adalah bagian penting kehidupan.
“Jangan bergantung pada laki-laki!”
Westy berpesan bahwa seorang perempuan harus punya jati diri dan harus mampu berdiri di kaki sendiri. Dia menekankan pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah salah satu pilar penting jati diri dan kemandirian. Apabila di kemudian hari, perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh maka itu pun tidak masalah. Namun dia sudah punya jati diri dan modal pribadi untuk duduk setara dengan partner hidupnya.
“Yang terakhir, jangan takut untuk mengambil tantangan!”
Banyak perempuan cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Namun kadang kehati-hatian ini menjadi batu sandungan jika bersaing dengan laki-laki yang cenderung lebih cepat menjawab “Bisa!“ ketika menghadapi tantangan. Westy mengatakan bahwa perempuan perlu lebih berani untuk mengambil risiko dan percaya pada diri sendiri, “Saya bisa!“.
Tak terasa sudah lebih dari satu setengah jam saya menimba inspirasi dari pemimpin perempuan di depan saya. Saatnya kami mengejar kereta untuk kembali ke rumah masing-masing. Sambil merapatkan jaket, saya berterima kasih dan mengamatinya menghilang di antara para penumpang kereta bawah tanah di pusat kota Frankfurt.
Penulis: Etty Prihantini Theresia, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman