(SIARAN BERITA) Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental

Jakarta, 6 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia menyelenggarakan forum daring bertajuk “Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental di Era Teknologi Global”, pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 16.00–18.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.

Forum ini menjadi bagian dari upaya global memperkuat kesadaran dan aksi nyata untuk menghapus berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya di ruang digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyber harassment, doxing, revenge porn, body shaming, dan berbagai kekerasan berbasis gender lainnya.

Follow us

Forum Online ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Finlandia, dan dihadiri secara khusus oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operanata, yang memberikan sambutan kehormatan.

Sebagai pemantik diskusi, hadir Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia yang menyoroti meningkatnya tren kekerasan berbasis online dan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital.

Dalam sesi pengantar, Aurelia Aranti Vinton dari PPI Amerop menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud nyata kolaborasi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengadvokasi isu sosial global. Ia menekankan pentingnya literasi digital, keamanan data pribadi, dan peran perempuan dalam menciptakan komunitas daring yang aman dan saling mendukung.

Follow us

Forum ini menghadirkan tiga panelis perempuan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di berbagai negara, masing-masing membagikan perspektif tentang isu perempuan di era digital.

Zakiyatul Mufidah (PhD Student di United Kingdom) mengangkat tema “Membangun Digital Sisterhood Anti Kekerasan”, dengan menyoroti pentingnya solidaritas dan aktivisme digital perempuan yang berpijak pada konsep cozy feminism, yakni sebuah bentuk perlawanan terhadap kekerasan simbolik melalui narasi yang ramah dan membangun.

Sementara itu, Fransisca Hapsari (PhD Student di Jerman) dalam paparannya berjudul “Kesehatan Mental dan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital” membahas keterkaitan antara teknologi, psikologi, dan tantangan kesehatan mental yang dihadapi perempuan akibat tekanan sosial di dunia maya.

Adapun Anggy Eka Pratiwi (PhD Student di India) melalui topik “Pentingnya Literasi Digital dan Keamanan Siber bagi Perempuan” menekankan perlunya peningkatan literasi digital dan kesadaran akan keamanan siber agar perempuan mampu melindungi diri dari berbagai risiko kekerasan serta eksploitasi daring.

Sebagai penutup sesi panel, Chatarina Pancer Istiyani dari Komnas Perempuan menyampaikan tanggapan dan seruan aksi untuk memperkuat ekosistem perlindungan perempuan di ruang digital. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan peran aktif masyarakat dalam mendorong kebijakan publik yang berpihak pada korban.

Forum ini ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya digital sisterhood, solidaritas antarperempuan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, aman, dan berkeadilan gender.

Sebagai tindak lanjut, Ruanita Indonesia akan merilis rekaman video diskusi melalui kanal resmi www.ruanita.com, serta policy brief hasil diskusi untuk memperkuat advokasi perlindungan perempuan di ruang digital.

Beroperasi di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Ruanita Indonesia adalah sebuah platform digital pengetahuan dan advokasi nirlaba. Dengan landasan manajemen nilai dan resources sharing, kami berfokus pada isu psikologi, sosial, dan budaya yang relevan dalam situasi transnasional. Melalui kolaborasi pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kampanye edukatif, kami bertekad menciptakan ruang digital yang inklusif dan mengedepankan interseksionalitas untuk semua.

(POLICY BRIEF) Memperkuat Keamanan Digital dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online bagi Perempuan Indonesia di Ruang Siber Global

POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA) 

Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 

1. Executive Summary 

Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas. 

Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA. 

2. Latar Belakang 

KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif. 

3. Identifikasi Masalah Utama 

  • Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake. 
  • Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik. 
  • Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital. 
  • Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban. 

4. Analisis Kebijakan 

KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik. 

5. Rekomendasi Kebijakan 

A. Untuk Komnas Perempuan: 

  • Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO. 
  • Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake. 
  • Sinkronisasi kebijakan antarlembaga. 
  • Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital. 

B. Untuk KemenPPPA: 

  • Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional. 
  • Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
  • Penguatan layanan trauma-informed. 
  • Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital. 

C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA: 

  • Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO. 
  • Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”. 
  • Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital. 

D. Untuk Platform Digital: 

  • Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake. 
  • Implementasi safety by default. 
  • Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan. 

E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil: 

  • Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO. 
  • Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini. 

6. Pesan Kunci 

KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama. 

7. Penutup 

Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.

Tertanda 

Tim Penyelenggara Forum Online: PhD Connections

  • Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia
  • Ari Nursenja Rivanti, PhD Student di Finlandia
  • Zakiyatul Mufidah, PhD Student di UK
  • Fransisca Hapsari, PhD Student di Jerman
  • Anggy Eka Pratiwi, PhD Student di India

(SIARAN BERITA) Soft Launch Kesmenesia

JERMAN – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia di Eropa), mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launch Event yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Menyadari tantangan hidup transnasional yang unik dalam menjaga kesehatan mental, mulai dari rasa rindu kampung halaman (homesickness), tekanan akademik maupun pekerjaan, isolasi sosial, hingga perbedaan budaya (cultural shock) dan risiko burnout, Kesmenesia hadir memperkuat psikoedukasi dan psikososial yang dibutuhkan warga Indonesia di mancanegara.

Follow us

Tentu saja, perbedaan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap isu kesehatan mental seperti: stigma, ekspresi emosi, hingga sistem dukungan psikologi, menjadi konteks penting yang diangkat dalam forum ini.

Mengusung format “Workshop Online: Berbagi Kesehatan Mental dan Perbedaan Budaya”, ruang interaktif digital yang berdurasi dua jam ini dihadiri oleh orang-orang yang tertarik akan tema kesehatan mental, lintas budaya, dan migrasi yang ingin berbagi pengalaman yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari peserta.

Para fasilitator yang terdiri atas Co-founder Kesmenesia yang tinggal di Eropa ini memfasilitasi berbagai topik, mulai dari pengalaman menghadapi stigma, perbedaan sistem bantuan psikologis, hingga strategi adaptasi lintas budaya. Peserta juga diajak berbagi pengalaman personal mengenai cara menjaga keseimbangan identitas budaya Indonesia sekaligus berintegrasi dengan kehidupan di Eropa.

Pendiri Kesmenesia terdiri atas praktisi, penggiat, peneliti, akademisi yang berfokus pada kesehatan mental di Eropa. Mereka antara lain: Ranindra Anandita, Aulia Farsi, Sven Juda, Firman Tambunan, Bernadia Dwiyani, Fransisca Hapsari, Nelden Djakababa-Gericke, dan Anna Knöbl. 

Kesmenesia (Kesehatan Mental Indonesia Eropa) merupakan organisasi profesi kesehatan mental yang menghimpun para psikolog, tenaga kesehatan jiwa, akademisi, serta individu Indonesia yang peduli pada isu kesehatan mental di Eropa. Berlandaskan nilai empati, keterbukaan, dan profesionalisme, Kesmenesia berkomitmen memperjuangkan layanan kesehatan mental yang inklusif bagi orang Indonesia di mancanegara.

Kontak Media: E-mail indonesiakesmen@gmail.com 

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(IG LIVE) Mendiskusikan Self-Compassion dari Keilmuan Psikologi dan Praktik Sehari-hari

Dalam diskusi IG Live Ruanita Indonesia di bulan Juni mengangkat tema self-compassion bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kedua tamu diskusi IG Live adalah Fransisca Mira, yang adalah akademisi dan peneliti di bidang ilmu psikologi yang tinggal di Jerman dan Monique Aditya, yang adalah penulis buku dan penyintas KDRT yang kini menetap di Singapura.

Diskusi IG Live yang berlangsung sekitar empat puluh menit tersebut dipandu oleh Rida yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Self-compassion adalah cara kita untuk memperlakukan diri kita, dalam keadaan baik maupun buruk dalam hidup. Demikian Rida mengawali diskusi sebelum membahasnya lebih dalam.

Fransisca mengawali diskusi dengan ilustrasi sosial, yang mana kita sering kali mendapatkan kritikan atau pujian. Secara pribadi, kita tidak mudah menerima pujian dan kritikan sosial juga.

Menurut Fransisca, ini penting untuk memiliki self-compassion, yang secara etimologinya berarti melakukan apa yang kita suka, termasuk ketika kita sedang dalam situasi negatif atau tidak baik-baik saja.

Justru, kita bisa menerima kesulitan dan tetap peduli pada diri sendiri, dengan tidak memberikan kalimat negatif. Self-Compassion menurut Fransisca, secara teori terdiri atas tiga hal yakni: Self-kindness; Common Humanity atau Humannes; dan Mindfulness.

Follow us.

Tahun 2007, Monique mengakui berada di fase yang sulit ketika dia pernah merasa gagal dalam berumah tangga. Monique pun mengajak kedua anaknya untuk melihat keluarga secara utuh, meski tidak ada figur ayah saat itu.

Dengan begitu, Self-compassion membantu Monique untuk mengatasi keterpurukan situasi yang dialaminya. Monique pun mengakui self-compassion itu penting.

Bagaimana kita bisa menyayangi orang lain kalau kita tidak bisa menyayangi diri sendiri? Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang bertumbuh dan berbahagia.

Begitu pun Fransisca menceritakan pengalaman sulitnya menjadi peneliti di Jerman, di mana kerap ia merasa overthinking pada situasi pekerjaannya.

Bagaimana literatur psikologi tentang self-compassion? Apa saja contoh-contoh self-compassion dalam kehidupan sehari-hari? Apa manfaat self-compassion? Mengapa self-compassion itu begitu penting dalam meningkatkan kesehatan mental?

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita tersebut dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.