Kebahagiaan pada umumnya biasa diidentifikasikan oleh gerakan wajah tersenyum atau tertawa. Namun apakah tertawa dan tersenyum menjadi satu-satunya tolak ukur dalam kebahagiaan?
Pada IG Live di bulan Maret 2023, Ruanita membahas tentang kebahagiaan atau apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi bahagia yang dipandu oleh Fransisca Sax seorang volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.
Pada kesempatan kali ini ada dua sahabat Ruanita, Selvie Tandirerung yang berkerja sebagai Mine Engineer di Finlandia dan juga Dewi Nielsen yang bekerja sebagai suster di Denmark, akan bercerita dan berbagi sudut pandang mereka tentang apa itu kebahagiaan di Finlandia & Denmark.
Menurut Statista, Finlandia dan Denmark merupakan dua negara peringkat teratas dalam index kebahagiaan. Selvie dan Dewi yang sudah lama menetap di kedua negara tersebut bercerita tentang cara hidup dan juga kebiasaan yang menyebabkan dua negara tersebut berada di peringkat atas negara paling bahagia di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga akan berbagi tentang perbedaan kultur & cara pandang antara Indonesia dan Denmark & Finlandia dan juga perbedaan fundamental dalam konsep kebahagiaan.
Padahal jika ditilik, Finlandia dan Denmark yang secara geografis berada di Eropa Utara, terkenal akan minimnya sinar matahari ketika musim dingin ditambah lagi suhu cuaca yang hanya berkisar sekitar 20 derajat Celcius pada musim panas. Kekayaan alam mereka juga tidak seberagam atau tidak semelimpah ruah jika dibandingkan dengan Indonesia
Kemudian, apa sih yang membuat Finlandia & Denmark berada di peringkat atas?
Apakah karena masyarakat di dua negara tersebut suka tertawa? Atau karena mereka gemar membayar pajak? Atau mungkin karena mereka mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi antar sesama dan juga kepada badan pemerintahan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan klik dan putar ulang siaran IG Live Ruanita yang semoga akan menjawab rasa penasaran para sahabat Ruanita dan juga bisa menjadi pembelajaran di hidup kita.
Penulis:Putri T. tinggal di Jerman (akun IG: pupsaloompa)
Episode IG Live di bulan Desember 2022 ini masih menjadi rangkaian kampanye 16 Hari memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh pada 25 November. Sejalan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, RUANITA mengundang narasumber yang memahami dan meneliti HIV & AIDS selama ini terutama dalam kasus HIV & AIDS yang terjadi pada perempuan. Apakah ada kekerasan pada perempuan dalam kasus HIV & AIDS?
Narasumber yang dimaksud adalah Anindita Gabriella Sudewo (akun IG: gabiaja) yang adalah peneliti dan pernah bekerja di HIV & AIDS Research Center Unika Atma Jaya Jakarta. Gabi – begitu dia disapa – telah menyelesaikan tema Disertasi berkaitan HIV & AIDS di UNSW Australia. Gabi Sudewo Ph.D. baru saja menyelesaikan Disertasi studi S3 di UNSW Australia yang masih berkaitan dengan HIV & AIDS.
Norma sosial membuat perempuan lebih rentan dalam kasus HIV & AIDS, di mana terjadi relasi kuasa dalam kasus heteronormatif bahwa perempuan disalahkan dan perempuan tidak punya kuasa untuk mendapatkan layanan kesehatan. Misalnya ada kasus perempuan tidak punya kuasa untuk pergi mendapatkan pengobatan dan layanan rutin karena suami tidak mendukung.
Pengaruh struktur sosial mengenai pandangan: menjadi istri yang baik, pasangan seks yang baik, dan lainnya sehingga menyulitkan perempuan sebagai partner seks untuk melindungi diri misalnya pemakaian kondom saat berhubungan seks. Perempuan dalam penelitian Gabi juga ditemukan bahwa mereka masih sulit untuk mengambil keputusan untuk kesehatan dan perlindungan dirinya.
Kekerasan dalam kasus HIV & AIDS bukan hanya berupa kekerasan fisik atau kekerasan verbal melainkan pada pembatasan terhadap layanan kesehatan HIV & AIDS dan tidak adanya dukungan sosial dari pasangan seks pada perempuan.
Perempuan sebenarnya memiliki kekuatan yakni network sosial yang cukup kuat dibandingkan laki-laki. Melalui social support system yang dibangun seperti RUANITA, ini bisa mengurangi risiko bermunculan kasus HIV & AIDS. Selain itu, kita perlu meningkatkan kampanye untuk sadar tes HIV & AIDS agar lebih dini mengetahui statusnya.
Sejak muncul HIV & AIDS pertama kali di dunia memang tampak seperti isu yang menyeramkan yang berkaitan dengan perilaku seks atau penggunaan zat, bukan masalah kesehatan yang menjadi prioritas. Penting juga memiliki kesadaran untuk memeriksakan dirinya melalui tes HIV & AIDS sehingga lebih dini mengetahui statusnya.
Hari AIDS Sedunia ini juga mendorong pemahaman masyarakat bahwa HIV & AIDS adalah isu kesehatan kronis, bukan isu moral sehingga perlu kesadaran bersama. Hari AIDS Sedunia ini juga perlu memerangi stigma sosial di masyarakat yang menghambat kampanye di masyarakat. Padahal dukungan sosial itu penting untuk mereka yang hidup dengan HIV & AIDS seperti dukungan pengobatan, motivasi, dan lainnya.
Sebagai manusia, kita punya hak asasi manusia yang sama untuk melindungi diri dan mendapatkan akses kesehatan yang sama. Begitu pun dalam kasus HIV & AIDS, kita perlu mendorong peningkatan informasi yang benar dan tepat tentang HIV & AIDS.
Pesan Gabi adalah memulai dukungan dari diri sendiri seperti tidak membuat stigma sosial kepada mereka yang hidup dengan HIV & AIDS. Sebagai makhluk sosial, kita perlu memberikan dukungan yang memberdayakan kepada mereka yang menjadi kelompok rentan dan memberikan advokasi kepada perempuan yang masih menjadi kelompok rentan.
Lebih lanjut tentang diskusi virtual IG Live dapat menyimak rekamannya di saluran YouTube kami berikut:
Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.
“Bagaimana menerima kasus dan tidak menghakimi korban di masa mendatang melalui kebijakan terintegrasi?” kata Chris Poerba sebaga narasumber IG Live Episode November 2022 yang mengambil tema: kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM).
Program IG Live adalah salah satu program RUANITA yang diselenggarakan tiap bulan dengan tema-tema menarik dan mengundang tamu yang bercerita menurut pengetahuan, pengalaman dan pengamatan.
Pada Episode November 2022 IG Live dipandu oleh Fransisca Sax, volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.
Program IG Live ini menjadi bagian dari kampanye 16 hari peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.
Untuk mendalami tema ini, kami mengundang Chris Poerba, peneliti dan penulis buku bertema gender dan HAM. Chris Poerba juga pernah bekerja sebagai Badan Pekerja Purnabakti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2012-2021) dan sekarang bekerja sebagai konsultan peneliti di Komnas HAM Indonesia.
Fransisca menjelaskan latar belakang tema IG Live episode November 2022 adalah bagian dari rangkaian kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA yang disebut program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamu) yang kini memasuki tahun kedua. Tahun lalu RUANITA menggelar kampanye SURAT TERBUKA yang menyuarakan keprihatian akan maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan.
Mengingat kendala teknis yang dialami Fransisca di Jerman dan Chris Poerba di Indonesia, mohon agar penonton dapat memahami bagaimana kami telah berupaya maksimal dalam menyelenggarakan program IG Live tiap bulannya.
Kekerasan terhadap perempuan adalah termasuk bagian dari kekerasan terhadap hak asasi manusia. Ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan itu belum tentu dialami oleh para pria sehingga itu membuat penderitaan tersendiri bagi perempuan yang menjadi kelompok rentan. Hal ini pun sudah tercantum dalam Konvensi Internasional menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender.
Sebagai pekerja kemanusiaan, Chris Poerba tentu punya motivasi tersendiri karena telah bergelut lebih dari 10 tahun dalam isu yang sama. Chris menilai selama ini masih banyak orang rancu antara pendapat gender dan kodrat, padahal relasi perempuan dan laki-laki adalah sama. Chris mengaku ini tak mudah untuk meyakini paradigma berpikir seperti ini dalam masyarakat terutama yang masih mendominasi oleh paham patriaki.
Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan masih mengalami kekerasan dan dalam 10 tahun belum ada penurunan angka yang signifikan. Mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sulit diproses secara hukum?
Kekerasan terhadap perempuan ini masih terlihat seperti gunung es di mana ada banyak hal yang memengaruhi seperti korban tidak percaya satu sama lain, stigma sosial masyarakat, diskriminasi dan selama ini penanganannya memang masih hanya ada permukaan. Penanganannya menurut Chris perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Lebih jelas tentang program IG Live, bisa disaksikan rekamannya dalam saluran YouTube kami berikut:
JERMAN – IG Live Episode Juli 2022 yang diselenggarakan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita adalah bertema penanganan anak dengan Autisme di Jerman. Acara IG Live (16/7) dipandu oleh Christophora Nisyma, yang biasa disapa Nisyma (akun IG: ruanita.indonesia). Dia kemudian mengundang narasumber yang berbagi keilmuan dan pengalaman seputar menangani anak dengan Autisme di Jerman. Narasumber yang dimaksud adalah Fransisca Sax, M.Psi. yang bertugas saat ini di Daycare di Munich, Jerman.
IG Live di bulan Juli ini sebagai pengantar webinar yang digelar Ruanita dengan judul: Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara? pada Minggu, 17 Juli 2022. Fransisca menetap di Jerman sejak 2016, kemudian dia memutuskan untuk bekerja di Daycare untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus di Munich pada 2020.
Layanan yang dilakukan Fransisca sehari-hari juga termasuk anak-anak yang masuk gangguan dalam spektrum Autisme melalui bermain, makan siang, ngobrol, atau melakukan terapi. Fransisca biasa membuat diagnosa perkembangan tiap anak/remaja yang didampinginya.
Tugas lainnya yang berkaitan dengan fungsi orang tua yang dilakukan Fransisca adalah membantu orang tua untuk menemukan terapi yang sesuai untuk kebutuhan anak. Di Jerman terdapat peraturan yang mengatur bahwa anak-anak dengan Autisme bisa terinklusi di masyarakat. Ini menjadi perbedaan Jerman dengan negara lainnya. Autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus adalah keragaman yang memperkaya, bukan membebani.
Oleh karena itu, pemerintah Jerman berharap bahwa masyarakat juga bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak dengan Autisme. Itu berarti bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang dituntut bisa beradaptasi di masyarakat. Masyarakat juga harus bisa membantu mereka – anak/remaja berkebutuhan khusus – terinklusi di masyarakat.
Jerman sudah meratifikasi sejak 2009 Konvensi PBB tentang hak individu anak-anak berkebutuhan khusus. Ratifikasi ini sudah berlaku di 16 negara bagian di Jerman, yang disesuaikan dengan kebijakan tiap-tiap negara bagian. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Jerman patut mengetahui paragraf 35A BGB yang menjadi landasan kuat agar anak berkebutuhan khusus tetap dapat terlayani seperti terapi, bantuan finansial dan bantuan pendampingan lainnya.
Sekolah itu gratis di Jerman sedangkan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ditanggung oleh asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan layanan tak berbayar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tua perlu menghubungi instansi terkait di Jerman.
Di paragraf 35A BGB tersebut tertera bahwa anak/remaja yang berkebutuhan khusus itu mendapatkan layanan inklusi jika perkembangannya lebih lambat 6 bulan dari usia perkembangan atau individu seusianya. Misalnya anak umur 6 tahun tetapi belum dapat melakukan toilet training atau belum bisa berbicara seperti anak-anak seusianya.
Kondisi anak-anak yang mengalami keterlambatan tentu akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Penting untuk mengetahui dan mendeteksi perkembangan anak sejak dini agar bisa dilakukan penanganan secepatnya.
Diagnostik keterlambatan anak ini menjadi indikator bahwa anak memerlukan penanganan dini. Bantuan terkait anak-anak berkebutuhan khusus yang disediakan pemerintah Jerman kepada masyarakat berupa bantuan rawat jalan, tempat tinggal khusus sifatnya sementara, bantuan perawat/terapis untuk membantu anak berkebutuhan khusus sampai rumah tinggal permanen untuk anak-anak berkebutuhan khusus bila mereka tidak lagi memiliki orang tua/sanak keluarga lainnya.
Tujuan pemerintah Jerman lewat program inklusi adalah memberi kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dan bisa hidup di masyarakat pada umumnya. Spektrum anak dengan Autisme itu begitu luas sehingga perlu terapi yang mana bantuan pun bergantung pada diagnostik dari anak/remaja tersebut. Pemerintah mengambil alih pembiayaan sehingga perlu juga ada laporan mengenai perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayainya melalui diagnostik berkala. Ini pula yang menjadi bagian dari pekerjaan Fransisca sehari-hari.
Menurut Fransisca, penanganan anak dengan Autisme itu harus dilakukan secara holistik mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hukum dan lainnya. Di Jerman terapi yang diberikan kepada anak dengan Autisme pertama kali diberikan oleh dokter anak setelah melihat kecenderungan atau kemungkinan gangguan spektrum Autisme. Orang tua kemudian membawa anak untuk bagian penanganan anak usia dini. Orang tua akan didampingi dalam merawat dan mengasuh anak-anak dengan Autisme. Fransisca menegaskan layanan ini hanya untuk anak-anak berusia PAUD atau anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.
Anak dengan gangguan spektrum Autisme biasanya mengalami masalah bahasa, meski begitu bukan berarti dia tidak bisa bicara. Diagnosa bisa merujuk pada bagaimana kondisi anak sebenarnya sehingga perlu stimulasi lebih lanjut. Anak bisa dirujuk ke terapi wicara atau dalam Logopädie Therapie dalam Bahasa Jerman.
Lainnya anak dengan gangguan spektrum Autisme punya kecenderungan masalah dengan sensori panca indera seperti fokus pada penglihatan atau pendengaran tertentu saja. Anak-anak yang punya kecenderungan demikian, menurut Fransisca, biasanya dirujuk ke Ergotherapie dalam Bahasa Jerman. Di Indonesia, Ergotherapie disebut sebagai terapi okupasi.
Lebih lanjut tentang penanganan anak dengan Autisme di Jerman yang disampaikan oleh Fransisca dapat disaksikan dalam tayangan IG Live berikut: