(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bersuara Untuk Perempuan Papua dari Negeri Rantauan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mempersembahkan program bulanan mereka yang bertajuk Cerita Sahabat Spesial (CSS). Program ini merupakan inisiatif untuk menyoroti berbagai kisah nyata tentang perempuan yang berjuang melawan kekerasan dan stigma, serta memperkuat solidaritas di antara mereka.

Edisi November CSS mengangkat kisah inspiratif Cikita Febrilia atau Ciki, seorang perempuan Papua dari Kota Sorong yang saat ini menempuh studi magister di Swiss. Ciki juga merupakan Partnership Manager di organisasi Sa Perempuan Papua, yang bergerak dalam isu-isu yang masih sering dianggap tabu di Papua, seperti kekerasan terhadap perempuan dan stigma sosial yang menempel pada perempuan Papua.

Dalam cerita yang dibagikan, Ciki berbicara tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita, serta upayanya melalui Sa Perempuan Papua untuk menciptakan Honai Aman, sebuah ruang aman yang didedikasikan untuk perempuan Papua.

Ruang ini memungkinkan perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan untuk mendapatkan dukungan psikologis dan bantuan hukum. Menurut Ciki, masalah kekerasan di Papua tidak hanya fisik, tetapi juga berupa kekerasan verbal yang menyakitkan, seperti ejekan terkait warna kulit dan bentuk tubuh yang sering diterima oleh perempuan Papua.

Ciki juga mengungkapkan bahwa kekerasan dan stigma yang dialami oleh perempuan Papua sering kali berakar dari sistem patriarki dan trauma turun-temurun. Budaya patriarki yang masih kuat di daerah pedalaman membuat perempuan sulit untuk merdeka dari kekerasan.

Namun, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk mengedukasi dan mendukung perempuan Papua, baik melalui ruang aman fisik maupun platform digital, serta menyebarkan informasi dan edukasi lewat media sosial.

Pengalaman Ciki juga mencakup cyber harassment yang ia terima ketika berbagi foto dalam pakaian adat Papua. Alih-alih diapresiasi, ia justru mendapatkan komentar-komentar negatif yang menyoroti fisiknya, membuatnya merasa tersakiti.

Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk terus berjuang menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan Papua, baik secara fisik maupun digital.

Program CSS edisi ini menyoroti pentingnya solidaritas dan edukasi dalam memberantas kekerasan terhadap perempuan. Ciki menyampaikan bahwa perempuan Papua harus bisa merdeka dari kekerasan dan mencintai diri sendiri, sekaligus membantu perempuan lain untuk mencapai hal yang sama.

Melalui ruang aman yang mereka ciptakan, Sa Perempuan Papua terus berupaya untuk menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di daerah pedalaman yang akses terhadap edukasi dan dukungan masih sangat terbatas.

Dengan menghadirkan cerita-cerita seperti ini setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui program CSS berusaha untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan.

Kisah-kisah ini bukan hanya sekedar narasi, tetapi menjadi ajakan bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih adil dan aman bagi perempuan di seluruh Indonesia.

Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menjadi momentum penting bagi program CSS untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi dalam menghentikan kekerasan berbasis gender di seluruh penjuru negeri.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial di kanal YouTube berikut ini:

(AISIYU) Melawan Ketakutan

Pembuat karya: Rena Lolivier

Akun Instagram: renananina

Judul karya: Melawan Ketakutan

Deskripsi: Kekerasan Verbal adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering terjadi dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar kehidupan domestik. Kekerasan ini seringkali diabaikan dan dianggap remeh, tetapi bisa menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan mental. Gambar seorang perempuan yang hendak menutup panci dengan ikan “bergigi” di dalamnya menjadi simbol bahwa perempuan sebenarnya memiliki kekuatan untuk menghentikan segala kekerasan yang mereka alami. Melalui karya ini pula saya berharap bahwa kita sebagai perempuan mampu berdiri untuk diri kita sendiri, berani untuk berhenti “mendengarkan” kata-kata yang menyakitkan dan merdeka dari kekerasan itu sendiri.

(SIARAN BERITA) Berkontemplasi Merdeka dari Kekerasan, Ruanita dan Komnas Perempuan Selenggarakan Workshop Seni Kolase

Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.

Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.

Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.

Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.

Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.

Follow us

Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.

“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.

Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.

Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.

Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.

Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan

Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.

“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.

Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.