(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental bersama KBRI Wina dan PPI Austria

Acara difasilitasi oleh KBRI Wina, Austria dan dihadiri oleh Dubes RI, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina. Acara ini dipandu oleh relawan Ruanita di Austria, Azizah Seiger. Hadir sebagai pemateri adalah Anna Knöbl dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria.

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancanegara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Azizah Seiger, Koordinator Acara melalui e-mail info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Jadi Advokat Kesehatan Mental Untuk Patahkan Stigma

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.

Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.

Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.

Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.

Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.

Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.

Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Membicarakan Film Pendek Bertema Kesehatan Mental “Dua Kali”

Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.

Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”

Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.

Follow us

Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.

Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.

Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.

Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:

Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Trauma yang Buat Saya Tidak Percaya pada Siapapun

Halo, perkenalkan nama saya Robin. Jujur, saya ingin menjaga anonimitas saya sehingga saya tidak ingin Sahabat Ruanita mengetahui nama saya sebenarnya. Saya kembali menetap di Indonesia sudah 3 tahun lamanya. Sebenarnya, saya sudah pernah tinggal di Italia lebih lama tetapi baru-baru ini saya memutuskan untuk pindah lagi kembali ke Indonesia. Sebelumnya, saya tinggal di Italia cukup lama. Meskipun cukup sering berpindah-pindah lokasi, sebagian besar waktu saya habiskan tinggal di Italia, tepatnya di Bologna. Sekarang saya tinggal di daerah Seturan. Rutinitas saya sehari-hari adalah bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Saya bekerja hampir sepanjang waktu, tetapi terkadang saya bekerja dari pukul 10 hingga sampai pukul 19.00 malam. Intinya, saya bekerja sekitar delapan jam setiap hari. Saya juga melakukan hobi di waktu senggang. 

Berbicara tentang hal traumatis, saya ingin bercerita terkait pekerjaan. Oleh karena itu, saya tidak menyebutkan nama perusahaannya, meskipun saya akan menceritakan detil apa yang membuat saya trauma. Pengalaman trauma saya dimulai ketika saya bekerja di Indonesia. Saya bekerja di suatu perusahaan di sana. Saya senang bisa bekerja di perusahaan tersebut karena ada teman saya juga yang bekerja di sana. Prinsipnya, kami saling mempercayai satu sama lain.

Follow us

Namun, dia “menikam” juga dari belakang. Yang pada akhirnya perbuatannya itu telah menjebloskan saya ke dalam penjara. Sungguh hal itu telah membuat saya sangat trauma. Terlebih lagi karena saya pernah mengalami hal-hal traumatis yang berhubungan dengan tempat kerja dan bullying di tempat kerja.

Saya merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat dipercayai. Bagaimana mungkin pengkhianatannya telah menjerumuskan saya ke dalam penjara. Syukurlah, saya sudah pulih sekarang. Namun, tentu masih ada “luka” yang mendalam di mana saya hampir tidak bisa mempercayai orang lain lagi seperti dulu. Saya mencoba berusaha sekuat tenaga untuk menemukan pekerjaan dimana tidak ada orang yang saya kenal di perusahaan tersebut. Saya menghindari bekerja dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Walaupun, saya butuh rekomendasi dan tawaran pekerjaan ketika saya tiba kembali ke Indonesia lagi. Saya tidak ingin trauma saya kembali lagi.

Spesifiknya, saya ceritakan detil tentang penyebab trauma saya. Jadi, saya pernah bekerja di suatu perusahaan di Jakarta selama kurang lebih satu tahun. Empat bulan pertama semua tampak baik-baik saja. Setelah itu, saya sering bekerja lembur, bahkan saya pernah bekerja lebih dari 12 jam sehari. Hal itu menjadi pemicu permasalahan dalam rumah tangga saya. Hubungan saya dengan anak-anak di rumah mulai terganggu. Tentu, itu sangat menyedihkan buat saya karena saya juga tidak bisa pulang. Saya seperti terpisah dari semua orang.

Baik sekarang ataupun dulu, saya bahkan tidak bisa mempercayai rekan kerja. Kita bekerja seperti seolah-olah harus waspada dan terus mengawasi satu sama lain untuk memastikan kalau semua pekerjaan baik-baik saja dan terselesaikan. Menurut saya, hal itu tidak baik dan tidak ideal dalam bekerja. Kondisinya semakin parah ketika kantor saya mulai membuka cabang baru sehingga saya harus bekerja 22-23 jam per hari. Setidaknya, saya bekerja lembur selama 6 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan berhenti dan mengundurkan diri.

Saya merasa tidak layak dan tidak cukup baik untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Saya merasa hidup saya sia-sia dan tidak ada gunanya. Saya bahkan tidak mempercayai orang lain hingga depresi menghantui saya saat ini. Saya berusaha mengatasinya agar bisa melewati hal-hal sulit. Saya seperti mati rasa. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kepala saya karena saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskannya. Saya seperti tersesat dan tidak berdaya.

Saya sudah pergi ke psikolog. Ya, itu membantu tetapi sebenarnya tidak cukup. Psikolog hanya berkata: “Kamu harus bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri dalam prosesnya.” Psikolog tidak menjelaskan bagaimana caranya? Ya, dia menjelaskannya tetapi saya tidak dapat mengikutinya. Mengapa? Karena itu sebenarnya di luar kemampuan saya. Itu pendapat saya.

Saat orang mendapatkan tekanan psikologis, memang kita perlu pergi ke Psikolog. Itu membantu tetapi hanya sebagian kecil menurut saya. Hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan coping mechanism untuk bisa mengatasi persoalan dalam diri tersebut. Pertama, saya mengatasinya dengan menggambar, kemudian beralih ke menulis. Saya pikir saya dapat mengekpresikan perasaan saya lewat tulisan. Sayangnya, seseorang mengetahui tulisan saya sehingga dia seperti mengejek saya sehingga membuat saya merasa semakin buruk. Saya pun tidak pernah menulis lagi. Saya lanjutkan dengan berolahraga seperti bersepeda, berenang, atau lari. Saya juga coba pergi ke tempat fitness.

Tidak sampai di situ saja, saya pun berusaha mencari social support group di Indonesia. Itu sedikit membantu karena di sana saya bisa sedikit berbagi namun kurang efektif karena  tidak ada orang seperti Psikolog yang akan memberi assessment tentang masalah kita. Pada akhirnya, saya tidak melakukan apa pun untuk mengatasi trauma saya. Saya tidak punya cara lain untuk mengatasi diri sendiri. Saya merasa tidak nyambung dengan keluarga saya karena saya merasa masih tidak mampu untuk menyampaikan apa yang saya alami kepada mereka. Saya tidak ingin membuat banyak masalah lagi. Saya hanya memendamnya dan semakin lama itu menghancurkan saya.

Peristiwa traumatis itu tentu saja telah membuat saya marah. Saya punya banyak kemarahan dalam diri saya dan pada diri saya sendiri. Meskipun itu hanya masa lalu, tetapi saya tidak berdaya karena hal traumatis itu seperti berada dalam benak saya. Saya pun tidak bisa menjelaskannya dengan baik kepada orang-orang sekitar saya, bahkan Psikolog sekalipun. Saya bingung bagaimana saya menjelaskan hal traumatis ini.

Di balik itu semua, saya tetap mengambil hikmahnya. Dengan begitu, saya menjadi lebih tangguh daripada sebelumnya. Saya menjadi pekerja keras sekarang karena peristiwa trauma tersebut. Saya masih bersyukur meskipun saya tetap berharap efek trauma ini dapat berkurang pada akhirnya. Ketika ada sesuatu yang menjadi “trigger” trauma saya kembali, saya berusaha menghindari konfrontasi tersebut. Saya cukup memperhatikan bagaimana saya menilai situasi dan orang lain berperilaku terhadap saya agar perasaan traumatis itu tidak muncul.

Setelah kejadian traumatis itu, saya berhenti kerja dan melamar pekerjaan baru saat itu Namun, saya mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah dengan tempat kerja dan lingkungan kerja. Akhirnya, saya “ditendang” bekerja di sana dan di sini. Saya benar-benar terpuruk dan kontrak saya pun tidak diperpanjang. Mereka menolak mempekerjakan saya karena saya dinilai tidak cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu. Saya merasa seperti “orang tidak berguna” saat ini.

Terakhir ini pesan saya untuk Sahabat Ruanita yang juga punya pengalaman traumatis seperti saya. Saya sampaikan berikut ini dalam Bahasa Inggris saja. I think that is going to be a bit difficult. I can only say this actually: if you want to trust someone, don’t regret it. Just do it with all your might, with everything you have. If you decide to trust someone, do not regret it. Because regret is actually really painful and you are destroying yourself in the process. But if you made a bad decision, I need to remind myself over and over that it’s actually their choice not mine. I could not control what those other people would do to me because, again, it is their choice to do so. I can’t control it. I can control my reaction. Even though it is easier said than done, I would always try that. So trusting them, it’s going to be my choice but proving me wrong is their choice not mine. I should not prove that they are wrong or I should not prove that I am wrong or I was wrong to trust them. No. If I can say this you need to be able to separate your professional life and your personal life. And if that is not enough then you can have like a second layer of personal life that only you would know. And I think it’s gonna be able to make it better than what I have received so far.

Di hari kesehatan mental sedunia, saya ingin dunia menjadi lebih baik. Saya tahu kita perlu lebih banyak tenaga profesional terkait kesehatan mental. Namun, saya berpikir itu tidak mudah dan murah. Kebanyakan dari mereka punya tarif yang agak mahal seperti Psikolog saya. Jadi, saya berharap agar ada institusi kesehatan mental yang mudah diakses dan dilakukan secara kolektif sehingga ini bisa membantu semua orang untuk kesehatan mental yang lebih baik.

Penulis: Nita (akun IG: msiyuun_) berdasarkan hasil wawancara seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya.