(WARGA MENULIS) Puisi – Atas Nama Kemanusiaan

Atas Nama Kemanusiaan

Atas nama kemanusiaan,
seorang aktivis renta berbicara lirih,
sepanjang hidupnya ia mengukur jalan
mendampingi mereka yang terusir
dari gang-gang sempit yang kini berdinding beton.

Follow us



Atas nama kemanusiaan,
wajah seorang pengusaha terpampang di poster,
senyumnya tak pernah absen dari beragam kajian,
sambil menghitung laba dari proyek bantuan
yang menjual air mata anak-anak yatim.

Atas nama kemanusiaan,
seorang politikus berjanji dengan heroik
sekuat tenaga memulangkan sang pemangsa,
yang memperkosa puluhan lelaki di negeri seberang

Atas nama kemanusiaan,
sekarang giliran siapa? 

(oleh Yunita Tan, IG:yun.ita.tan)

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan, si Bijak yang Dijaga Ibu Bumi

Perempuan diberikan kelembutan,
Diberikan kekuatan,
dan diberikan kemampuan penyembuh dari Ibu Bumi

Perempuan, menahan sakit 9 sembilan bulan demi kebaikan
Mampu meredam kemarahan saat terpinggirkan
Mampu merusak saat ditindas
Menjadi si bijak kala dilupakan

Follow us



Perempuan dihadirkan dari doa Karema yang Agung
Kami kuat, karena ditatar Maria Maramis
Tak pamrih, karena ajaran Kartini

Tahun 1919, 1000 Perempuan hadir menyuarakan HAK politik Indonesia
Tapi kini, perempuan dibatasi angka 30 persen
Tapi, kami tak gentar
Karena, kami Perempuan yang dijaga Ibu Bumi, adalah yang Terbaik.

Oleh: Gracey Wakary (IG : @ndutghe)

(WARGA MENULIS) Puisi – Namaku Perempuan

Namaku Perempuan

Namaku Perempuan
Si Empu akan apa yang ada dan yang akan ada dalam diriku sendiri.

Namaku Perempuan
Si Tuan akan apa yang aku jalankan dan inginkan tanpa perkecualian.

Namaku Perempuan
Pemimpin dari setiap mimpiku yang kujadikan kenyataan.

Namaku Perempuan
Musuh besar yang tegar akan semua gagasan dan tindakan yang melawan perempuan!.

Follow us



Ibu Bumi

Ibu Bumi memberiku Rahim
Dan tak seorangpun berhak menjadi hakim!
Tugasku……………….
Membela semua keturunan Ibu Bumi
Anakku
Anakmu
Anak mereka
Anak kita semua
Anak-anak keturunan Ibu Bumi.


Yacinta Kurniasih
@yacintakurniasih (Instragram)
Yacinta Kurniasih (LinkedIn)
Yacinta Kurniasih (FB)

(WARGA MENULIS) Puisi – Mau Kapan Lagi

Mau Kapan Lagi?

Oleh: Keket Kape

Utas medsos rame dengan puan yang tinggal puing raga
Femisida menyeruak satu demi satu terkuak
Peluh dan pilu membasahi anak, ibu, bapak, dan saudara
Di meja hijau ketok palu bebas menggelegar

Sementara di kampung seberang sungai
Puan terdiam saat terima beda tunai
Meski datang lebih awal, keringat lebih mengucur
Bahkan saat haid pun susah minta libur

Di ruang-ruang kerja di kota
Kaki puan terikat tanpa bisa lari kencang
Posisi ini, itu … mustahil
Perjuangan dikalikan nol … jadi nihil

Follow us



Dalam ladang politik, puan seringkali gigit jari
Penyelenggara lima, hanya satu yang boleh terisi
Bagaimana bisa mengisi kursi
Sudah ditentukan jumlah sebelum seleksi

Ada banyak karena …
Pujian ayah yang berbeda atas prestasi yang sama
Pun mbalung sumsumnya “Surga nunut, neraka katut”
Puan hanyalah “kanca wingking” yang mesti nurut

Tidak bisa menunggu lagi …

Sebab menunggu untuk apa?
Untuk siapa?
Setiap detik dan intervalnya adalah anugerah Sang Pemberi Waktu
yang mestinya puan merekahkan senyum

*Keket KaPe adalah nama pena Chatarina Pancer Istiyani
FB: Chatarina Pancer Istiyani
IG: Chatarina Pancer Istiyani
YT: Chapaist Channel

(WARGA MENULIS) Puisi – Nyi Rambut Kasih

Nyi Rambut Kasih

Wajah penuh pesona
Setiap tanah rasanya bernyawa
Para rakyat seperti tersihir warna
Oleh rambut mengurasi yang maha asih

Follow us



Ia berkebaya menjuntai panjang
Terus mencari-cari ketenangan pada sebuah legenda
Meski kadang menjadi propaganda
Tetapi tentu yang terjadi bukan risalah semata

Kadang aku tak paham mengapa perempuan dianggap mistis
Mengapa tak pernah diberi ruang realitis?
Apakah kita hanya hidup pada dunia magis?
Atau sengaja dibiarkan guna-guna dan menangis?

Note : Nyi Rambut Kasih merupakan tokoh perempuan asal majalengka yang memiliki kemampuan ngahiyang (menghilang) ia terkenal cantik, sakti, dan berambut panjang menjuntai.

Oleh: Noviyanti (akun sosial media novii.yp)

(WARGA MENULIS) PUISI – Lorong

Lorong

Marah!
Kenong seperti sudah habis kesabaran,
mengeluh tubuhnya dibentur kayu
Gema monoton minta tolong, susup di bawah sadar.
Kalau gini terus lama-lama aku bisa kesambet.

Rahimku dipenuhi janji kepalsuan
Membesar, menyesak anyir bau nafas lelaki birahi.

Follow us



Dia tak mungkin tau bagaimana menjadi bapak,
kencing saja belum lurus.
Apalagi aku, masa depanku petang.
Bagaimana mau jadi ibu?
dari sekolahpun aku ditendang.

“Cetarrrr!!”
Angin yang dari tadi diam, mengumpat ditampar pecut
Tubuh liuk, hilang ditelan ketidakadilan
Tak ada menu lain, memang hanya beling yang bisa kumakan.

Aku perempuan ditikam takdir,
menebus dosa syair jahanam rayuan setan.

Rena (@renananina)

(WARGA MENULIS) Puisi – Mahina

Mahina*

Mahina tak lelah bergulat dengan zaman
Ketika pencakar langit bersaing dengan puncak Binaiya
Mahina ingin tetap pegang dayung dalam pesawat

Mahina masih bergulat dengan zaman
Keluar dari bumi Nunusaku dengan kebaya
Mahina ingin sagu dan kelapa berderajat dunia

Mahina bergulat dengan zaman
Saat pasar riuh dengan bahasa saudagar
Mahina ingin bahasa tana lantang terdengar

Mahina takkan lelah bergulat dengan zaman
Mahina menarik tali rotan dengan kuat
Sengit semangatnya sekeras ombak musim barat

Mahina selalu bergulat dengan zaman
Mengandung dan melahirkan saja ia kalahkan
Tanah, gunung, dan pulau ia buahkan

Mahina tetap berdaya karena percaya
Walaupun perubahan terbit di ufuk barat
Matahari tak pernah terbenam di gunung timur


Ambon, 31 Januari 2025
*) Berarti ‘perempuan’ dalam salah satu bahasa daerah di Maluku

Nama Penulis: Eka Julianty Saimima

Nama Akun Media Sosial: eskhy_s

(WARGA MENULIS) Puisi – Aku yang Tak Utuh

Aku yang Tak Utuh

Di antara riuhnya suara bising
pandanganku kabur jauh tenggelam dalam diri yang asing
Layaknya deru kehidupan yang selalu riuh
Mengoyak gejolak isi kepalaku yang terasa penuh

Entah berapa kali aku berseru “Apakah aku masih utuh?”
Jeritan batin menukik diantara hening malam yang gaduh
Menerima takdir semesta dengan menggerutu “Bisakah KAU segera menjemputku?”
Ucapku merayu sembari derai air menggenangi ujung kelopak mata yang sayu

Follow us

Hingga aku tersadar bahwa diriku tak pernah utuh
Bahkan untuk hidup yang katanya milikku
Nyatanya kakiku lebam membiru dan mulutkupun membisu kaku
Tidak selayaknya merpati yang kedua sayapnya terbang bebas jauh

Kata orang aku pasti mampu, ucap mereka dengan angkuh
Yang pada kenyataannya aku hanya manusia yang rapuh
Tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih hidupku
Karena bagi mereka, aku hanya seorang Perempuan yang wajib patuh untuk mendapatkan surga Itu

Oleh: Ayu Erviana (akun Instagram: ayu_erviana)

(WARGA MENULIS) Puisi – Senjata Puan Itu Lukanya

Senjata Puan Itu Lukanya

jiwa puan seperti peta perang
dan raganya adalah sisa lebam yang tak mungkin semula
kadang cuma menuntut diam,
kadang menuntut tunduk
kuat, kuat, kuat,
begitu orang cuma minta ia kuat;

Follow us



bekas belur lebur itu kini mirip ruhnya
ruh yang tak selalu bertutur itu
ia tutup rapat dalam peti cekung pipinya
menelan duka dalam punggung tunggal
seakan malam tak pernah menagih air mata 
di punggungnya tertulis besar-besar :
“tidak nenerima lelah”

dalam hening yang ia peluk erat 
ada bara menyala lirih 
bukan untuk melawan 
hanya untuk mengingat—
luka melewati simbol kekalahan
ia pagar gahar tanpa kelakar.

Oleh Silvani Andalita (IG @silvaniandalita)

(WARGA MENULIS) PUISI – Kanca Wingking (Teman di Belakang)

Kanca Wingking (Teman di Belakang)

Kanca Wingking adalah parapuan yang  bernama istri 

Yang tak berani merobek hegemoni yang berjuluk suami

Hanya duduk, mengangguk, tunduk dan takiuk pada sebuah taklik

Tertawan oleh ujaran, ajaran, rayuan, dan bisikan tanpa perlawanan

Memilih mendengar alunan gamelan dari balik tirani kepatuhan

Nama baik

Follow us

Aib

Syurga

Keluarga

Adalah kata-kata bermantra yang mampu membungkam suara

Dalam riuhnya derita

Dan,

Kanca wingking bukanlah aku

Yang memilih pergi berlari mencari jati diri.

Penulis Wiwik Wahyu Widiastuti

Nama Pena Widiastuti

IG : widiastuti693

FB : Wiwik Wahyu Widiastuti

(WARGA MENULIS) PUISI – Ajakan Umbi Jahe


Ajakan Umbi Jahe

Hei, dengar!
Kenalkan, aku adalah umbi jahe
Aku bisa melawan parasit seperti ameba
Yang diam-diam menggerogoti, perlahan membunuh tanpa diketahui
Aku dijuluki umbi

Follow us


Ya, umbi yang sering diremehkan
Yang  sering juga (dipaksa) kerja rodi
Aku begitu kuat, dengan aroma khas aromatik
Aku diberi nama tanaman rimpang
Yang bisa kau ajak melawan
Melawan ameba saja bisa
Apalagi melawan oligarki

Yenik W/

Akun sosial media: @anandazeezenny

(WARGA MENULIS) PUISI Se-

Judul puisi: Se-

Lirik puisi:
Sebuah buku
Duduk nyaman di meja makan
Di luar, sehelai koran
Terbang terbawa senafas angin
Seekor kucing
Berjalan hati-hati melewati pintu kaca tanpa mencari apa-apa

Follow us


Seorang istri
Bernafas dalam cemas memandang suaminya
Seonggok keprihatinan menunggu
Setetes air mata mengalir turun mencari mulut supaya merasakan keasinannya
Setelah semua berlalu
Sebanyak prestasi apa yang perlu dikenal?
Dan, apakah orang yang tak peduli akan perbuatannya, masih berperasaan? Mengapa, Amerika?

Nama Penulis: Matthew Eddy (dengan bantuan dari Yacinta Kurniasih)

(WARGA MENULIS) Puisi – Menemukan Maria

Menemukan Maria

Aku sudah mati beberapa kali,/
menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/
janji-janji tak bertuan,/
letupan api-api neraka/
ditekan sesamanya,/
disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//

Bangke!//
Yang tersisa padaku adalah kehampaan/
Ketiadaan/
kosong!//

Maria, Maria!//
Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/
pada palang salib bernama pelayanan,/
hutang budi?/
pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/
haus validasi?/

Follow us


Maria, Maria!//
Berhenti!/
Bangun!/
Berdiri!//

Temukan kata,/ temukan tinta!//
Temukan nada!/Temukan ruang!/Temukan jalan!//

Buka mata,/
buka telinga//

Asaku,/ Asamu,/ bernama rasa!//
Angkat penamu!/
Suarakan bahasamu!/
Puisikan kudetamu!//

Temukan asa!/
Temukan warna!/
Temukan Maria!//


Banjarmasin, 1 Februari.

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias
Instagram: @mariafraniayu

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Pahlawanita 

Perempuan Pahlawanita 

Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung. 

Ada barisan pendekar pahlawan perempuan … 

Follow us

dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan. 

Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit 

entah, apa kriterianya terlalu sulit 

atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit. 

Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram. 

Kenali mereka 

Sanjung pengorbanan mereka 

Tak perlu diterka 

perjuangan mereka membuat perempuan merdeka. 

Hamburg, 04.02.2025 

Penulis: Dyah Narang-Huth (akun Instagram: dyahnaranghuth)

(WARGA MENULIS) Luka yang Tak Kasat Mata

Luka yang Tak Kasat Mata

Mereka berkata perempuan lemah
Lahir ke dunia hanya untuk pasrah
Dibungkam kata, dibalut resah
Ditarik ke ruang yang penuh musnah

Di meja-meja yang penuh janji
Namaku tenggelam tak bersaksi
Mereka bicara seolah suci
Padahal tubuhku dikekang sunyi

Follow us

Dalam doa-doa yang kau paksakan
Kau suruh aku tunduk bertahan
Seolah luka harus dipendam
Seolah suaraku diredam

Namun nyala tak bisa padam
Api kecil menembus kelam
Aku berdiri, aku menantang
Bukan milikmu, bukan bayang

Aku perempuan, aku merdeka
Tak lagi tunduk, tak lagi luka
Dari abu aku menyala
Membakar dunia yang memenjara

Nama Penulis: Anak Agung Sagung Kumalashanti

Nama Pena: bbluesaturnn

Nama Akun Sosial Media: Instagram @aask__ksaa