(KNOWLEDGE SHARING) Dongeng Sebagai Ruang Bermain Imajinasi

Melbourne, 10 Januari – Ruanita Indonesia menggelar program Knowledge Sharing secara daring pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 16.00–18.00 WIB, dengan materi pertama bertajuk “Dongeng dan Bermain Imajinasi”.

Sesi ini mengangkat peran dongeng dari perspektif keilmuan, budaya, serta praktik kreatif untuk mendukung perkembangan imajinasi dan kesejahteraan psikologis.

Materi dibuka dengan penjelasan mengenai apa itu dongeng dan bagaimana dongeng memiliki manfaat keilmuan bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial.

Peserta diajak melihat bagaimana cerita lisan dapat menjadi medium untuk pemaknaan nilai, pengolahan emosi, serta penyusunan skenario mental dalam kehidupan sehari-hari.

Pemateri kemudian menguraikan dongeng sebagai ruang bermain imajinasi, termasuk bagaimana imajinasi mendukung fleksibilitas berpikir, kemampuan problem-solving, dan pemahaman sosial.

Pada bagian ini diperkenalkan pula pendekatan Conceptual PlayWorld (CPW) yang mengintegrasikan permainan, imajinasi, dan pembentukan konsep dalam pengalaman belajar.

Sesi diperkuat dengan penjelasan tentang mendongeng sebagai seni dan praktik kultural, mencakup:

  • dasar-dasar mendongeng
  • seni menyampaikan cerita secara lisan
  • menghidupkan tokoh dan emosi
  • menyampaikan pesan moral
  • relevansi dalam budaya Indonesia

Andri, Founder Indolanan, turut menyampaikan pemaparan mengenai mendongeng dari perspektif praktik, termasuk penggunaan media permainan, relasi dengan dunia imajinatif, serta nilai-nilai yang dapat diinternalisasi melalui narasi. Materi juga mengaitkan konsep dari The Fleer’s untuk memahami bagaimana dunia cerita dapat menjadi wadah belajar dan eksplorasi.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab serta praktik mendongeng bersama peserta, yang menghadirkan pengalaman langsung mengenai bagaimana teknik mendongeng dapat digunakan sebagai alat kreativitas, koneksi emosional, serta peningkatan rasa percaya diri. Sesi berlangsung selama dua jam dengan suasana hangat, inklusif, dan partisipatif.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Diskusi Daring: Atasi Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD dengan Libatkan 3 Kontinen

Jakarta, 29 November 2025 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Atasi Adiksi Games Online pada Anak Usia Sekolah Dasar” pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari orang tua, guru, pemerhati anak, hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu pendidikan dan perkembangan anak di era digital.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara yang memberikan pandangan dan pengalaman berharga. Mom Elia Qudo, ibu rumah tangga asal Bangladesh, berbagi kisah nyata dalam mendampingi anak usia sekolah dasar yang gemar bermain game online, termasuk bagaimana ia mengatur keseimbangan antara waktu bermain dan belajar anak di rumah. 

Dari Australia, Ayah Andri, pendidik dan pendiri Indolanan, menyoroti pentingnya permainan dalam proses tumbuh kembang anak serta memperkenalkan kembali nilai permainan tradisional sebagai alternatif yang menyenangkan dan edukatif untuk mengatasi kecanduan game.

Follow us

Sementara itu, Mom Mala Holland, seorang psikoterapis yang berdomisili di Inggris, membagikan perspektif psikologis melalui pendekatan play therapy dan memberikan tips praktis bagi orang tua dalam mengelola penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar.

Kegiatan ini dipandu oleh Asti Tyas Nurhidayati, guru sekolah dasar sekaligus relawan Ruanita yang saat ini berdomisili di Islandia. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi seputar tantangan mendampingi anak di tengah kemudahan akses digital yang begitu luas.

Melalui diskusi ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak adiksi game online terhadap aspek psikologis, sosial, dan akademik anak. Mereka juga mendapatkan strategi praktis untuk mencegah dan mengatasi kecanduan sejak dini, termasuk pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendampingan orang tua di era digital. Ruanita Indonesia juga berencana mempublikasikan rangkuman hasil diskusi beserta rekomendasi praktis bagi orang tua melalui laman resmi www.ruanita.com dan media sosial sebagai bahan edukasi masyarakat.

Perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Adiksi game pada anak adalah tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama dengan bijak. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan profesional menjadi kunci agar anak-anak dapat tumbuh seimbang di tengah dunia digital,” ujar Asti Tyas menutup acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk terus menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran bagi perempuan serta keluarga Indonesia di seluruh dunia, guna menciptakan generasi anak yang cerdas, tangguh, dan berdaya di era teknologi.

Informasi lebih lanjut, bisa mengontak Asti Tyas Nurhidayati melalui e-mail info@ruanita.com.