Juli 2025 — Dalam rangka mendorong penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha di era digital, Ruanita menyelenggarakan Workshop Konten Digital Marketing bagi pemula secara daring pada bulan Juli 2025.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan literasi digital di kalangan pelaku usaha mikro, khususnya perempuan, yang belum sepenuhnya mampu memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok secara strategis untuk pemasaran produk.
Konten digital yang relevan dan menarik kini menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kehadiran bisnis secara online. Pemateri adalah Puput Cibro, seorang profesional marketing dan Brand Strategist yang tinggal di Singapura dan Ceko. Pemateri lainnya adalah Putri Trapsiloningrum, yang banyak dikenal sebagai konsulatan Business & Technology Integration yang bermukim di Jerman.
Workshop ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam membuat konten marketing, memahami tren dan algoritma media sosial, serta mengasah kepercayaan diri dalam menampilkan produk secara digital.
Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diharapkan dapat menghasilkan 1–2 konten siap tayang yang sesuai dengan karakter usaha masing-masing. Peserta adalah perempuan Indonesia yang bermukim di Indonesia, Jerman, Austria, Inggris, Prancis, dan India.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan kreatif. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diperoleh melalui kanal resmi Ruanita.
Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.
Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha
Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.
Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.
Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.
Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.
Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.
Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.
Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.
Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.
Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.
Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.
Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.
Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri
Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.
Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.
Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.
Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.
Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya
Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.
Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.