(CERITA SAHABAT) Mulai dari Cerita Horor ke Cerita Supranatural di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami. 

Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar. 

Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil:  ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi. 

Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis. 

Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi. 

Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul  04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya. 

Follow us

Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek. 

Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.

Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu,  tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut. 

Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa. 

Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.

Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian. 

Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya  mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi. 

Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam.  Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya  pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh,  seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun. 

Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan  manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya. 

Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana.  Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya. 

Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra.  Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut. 

Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.  

Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno. 

Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup. 

Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.

Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya. 

Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.

(CERITA SAHABAT) Meninggalkan Pekerjaan Demi Mengejar Passion

Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius. 

Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun.  Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang. 

Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.

Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya  kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary  yang kami kirimkan. 

Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia.  Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.

Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang. 

Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.  

Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya. 

Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.

Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay. 

Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya.  Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe. 

Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha. 

Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya. 

Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah  karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.

Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan. 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora. 

Penulis: Karin, tinggal di Turki.