(CERITA SAHABAT SPESIAL) Menjadi Ibu dan Entrepreneur di Amerika Serikat, Mungkinkah?

Dalam mewujudkan dukungan terhadap kesetaraan gender, RUANITA memiliki program Karir & Kewirausahaan untuk perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara. Agar semakin mendorong lebih banyak lagi perempuan Indonesia terampil dalam berwirausaha, RUANITA membagikan praktik baik yang sudah dilakukan oleh Dewi Maya.

Dewi Maya adalah perempuan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat dan telah berhasil mendirikan usaha tas dengan nama bisnis: Dewi Maya. Koleksi tas yang diciptakannya dapat dilihat dalam akun Instagram: dewimaya.shop di mana koleksi tas buatan tangannya banyak dilirik oleh warga Amerika Serikat.

Dewi bercerita bagaimana perjuangannya di awal tinggal di Amerika Serikat itu tidak mudah. Dia memulai kedatangannya dengan memperkuat keterampilan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Dewi pun membagi waktunya dengan bekerja agar impiannya memiliki usaha dapat terwujud. Berbekal tekad yang kuat, Dewi pun belajar bagaimana membangun jaringan dan usaha sehingga kelak dia tahu bagaimana dia harus mengelola usahanya.

Ketika Pandemi Covid-19 melanda dunia, Dewi tak kehilangan akal. Dia menekuni hobi menjahit yang dulu sudah dikenalnya dari sang ibu. Dia pun mencoba berbagai bahan Good Will yang tersedia di market negeri Paman Sam sebagai material yang berkualitas baik. Meskipun Dewi hamil, niatnya memulai usaha tidak surut. Tas yang dikerjakannya benar-benar berkesan bagi para pembeli yang menjadi pengunjung Bazaar sekitar tempat tinggalnya.

Ya, Dewi memulai usahanya dari kelompok kecil dan area sekitar tempat tinggalnya. Usaha Dewi tak sia-sia, produk tas yang dihasilkannya pun banyak dilirik warga di Amerika Serikat. Setelah Dewi mendaftarkan izin usahanya di Amerika Serikat, Dewi pun berpeluang mendapatkan Grants berupa 2 unit mesin jahit yang mendukung usahanya tersebut.

Dewi menceritakan bagaimana pengalaman kesehariannnya antara berbagi tugas menjadi ibu dengan perempuan berwirausaha di rumahnya. Dia pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan suaminya dalam urusan domestik. Keberhasilan Dewi berwirausaha di Amerika Serikat didengar pihak VOA yang mengundangnya berbagai keberhasilan lewat kanal media mereka.

Bagaimana pengalaman Dewi sebagai ibu rumah tangga dan Entrepreneur di Amerika Serikat? Simak dalam kanal YouTube kami berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Jurang Krisis Eksistensial Saat Karir Terhenti

Apakah kamu bahagia tinggal di luar negeri?” pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang teman dalam obrolan kami saat itu. Pertanyaan ini cukup membekas di dalam pikiran saya waktu itu.

Ya, tentu saja saya bahagia.

Namun tidak banyak orang tahu, kebahagiaan ini bukan serta merta tanpa pengorbanan. Setelah menikah di kota kelahiran saya, saya harus meninggalkan Indonesia untuk bisa bergabung dengan suami saya di negara kelahirannya di Eropa.

Meninggalkan keluarga, teman-teman dan kehidupan yang saya miliki di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun terberat yang pernah saya alami. Saya mengalami perubahan yang sangat drastis di dalam kehidupan saya. 

Ketika saya tinggal di Indonesia, saya adalah seorang perempuan yang sangat aktif. Saya memiliki pekerjaan dengan posisi yang sangat baik di sebuah perusahaan internasional. Saya juga memiliki banyak teman dan hampir selalu memiliki aktivitas di luar rumah.

Semua itu berubah semenjak kepindahan saya ke Eropa. Berpindah ke negara baru, saya harus rela melepaskan kehidupan dan segala pencapaian yang saya miliki. Berat rasanya, tetapi semua itu adalah pilihan yang harus saya ambil dan jalani demi bisa bersatu dengan suami saya. 

Masa transisi dari memiliki pekerjaan tetap menjadi tidak memiliki pekerjaan cukup membuat saya frustasi. Pasalnya, sejak muda saya memang sudah terbiasa bekerja.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menjadi pengangguran membuat saya merasa kehilangan arah dan jati diri. Seiring berjalannya waktu, career gap yang saya miliki pun semakin melebar dan membuat saya semakin tertekan dan pesimis.

Minimnya pemahaman bahasa yang saya miliki menjadi kendala yang paling signifikan. Ya, memang sebelumnya saya sudah mengambil kursus bahasa tapi nyatanya mempelajari bahasa yang benar-benar baru itu bukan perkara yang mudah.

Saya merasa bahwa pemahaman bahasa yang saya miliki belum cukup untuk saya bisa masuk ke dalam dunia profesional dan mendapatkan pekerjaan yang “normal”. Hal ini seringkali membuat saya gelisah.

Saya merasa tidak berdaya karena harus bergantung kepada suami. Ya, memang dia suami saya, tetapi saya pun ingin “menyumbangkan” sesuatu untuk keluarga kami.

Saya sendiri tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sudah saya habiskan di bangku sekolah hanya untuk menjadi pengangguran di negeri orang.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang datang dari kanan dan kiri. Sering kali teman-teman saya menanyakan tentang lowongan pekerjaan di Eropa yang kemudian biasanya akan saya timpali dengan candaan.

Sejujurnya saya cukup lelah dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini, toh sebenarnya jika memang mereka benar-benar berniat mencari pekerjaan di luar negeri mereka bisa mencari informasi dengan mudah di internet.

Memang saya tinggal di luar negeri, tetapi saya bukan agen penyalur pekerjaan atau TKI, bahkan mencari pekerjaan untuk diri saya sendiri pun saya kesulitan.

Beruntungnya, saya memiliki seorang suami yang baik dan selalu meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak apa-apa jika saya membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan yang tepat, bahkan tidak apa-apa jika saya tidak bekerja.

Bagi suami saya, kebahagiaan dan kesehatan saya lah yang paling penting. Karena dukungan dari suami saya inilah, pelan-pelan saya bangkit dan mencoba menemukan apa yang bisa saya lakukan.

Saat ini, saya bekerja menjadi penerjemah lepas dengan beberapa klien tetap. Walaupun saya tidak memiliki pekerjaan secemerlang dulu, paling tidak saya selalu berusaha untuk memberdayakan diri.

Bagi saya, terkadang yang paling berharga dalam sebuah proses itu bukanlah hasilnya, tetapi usaha yang kita lakukan untuk menuju kesana.

Penulis: RK, seorang WNI tinggal di Swiss.