Juli 2025 — Dalam rangka mendorong penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha di era digital, Ruanita menyelenggarakan Workshop Konten Digital Marketing bagi pemula secara daring pada bulan Juli 2025.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan literasi digital di kalangan pelaku usaha mikro, khususnya perempuan, yang belum sepenuhnya mampu memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok secara strategis untuk pemasaran produk.
Konten digital yang relevan dan menarik kini menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kehadiran bisnis secara online. Pemateri adalah Puput Cibro, seorang profesional marketing dan Brand Strategist yang tinggal di Singapura dan Ceko. Pemateri lainnya adalah Putri Trapsiloningrum, yang banyak dikenal sebagai konsulatan Business & Technology Integration yang bermukim di Jerman.
Workshop ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam membuat konten marketing, memahami tren dan algoritma media sosial, serta mengasah kepercayaan diri dalam menampilkan produk secara digital.
Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diharapkan dapat menghasilkan 1–2 konten siap tayang yang sesuai dengan karakter usaha masing-masing. Peserta adalah perempuan Indonesia yang bermukim di Indonesia, Jerman, Austria, Inggris, Prancis, dan India.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan kreatif. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diperoleh melalui kanal resmi Ruanita.
Di episode ke-13 kali ini, Podcast Rumpita yang dipandu oleh Nadia dan Fadni kedatangan narasumber seorang perancang perhiasan Indonesia yang sedang bermukim di Italia, Amelia Rachim.
Amelia Rachim memutuskan menjadi seorang perancang perhiasan ketika dirinya bekerja praktek di Bali setelah lulus dari jurusan Desain Produk FSRD ITB, dan pada tahun 2008 ia mendapat beasiswa Master di bidang Jewellery Engineering di Politecnico di Torino Italia.
Pada tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan sebagai pemenang termuda kompetisi perhiasan yang diadakan oleh Breil, sebuah merk Italia terkemuka untuk jam dan perhiasan. Tidak hanya menang beberapa kompetisi Internasional. Perhiasan rancangan Amelia juga dipakai oleh artis ternama internasional seperti Anggun C. Sasmi dan juga Kristin Chenoweth.
Menjalani kuliah master di Italia, Amelia mengalami tantangan terbesar ketika dirinya juga harus mempelajari sifat dan daya lebur logam dari sisi kimia dan fisika, dan tidak semata-mata hanya dari sudut pandang seninya saja.
Amelia juga menjelaskan tentang karakteristik emas sebagai logam dan tingkat karatnya, dimana semakin tinggi tingkat karat emas maka kemungkinan emas mudah bengkok akan tinggi.
Ketika berbicara tentang desain, desain perhiasan Amelia sendiri terinspirasi oleh filosofi Indonesia dan itu menjadi ciri khas Amelia yang telah dikenal oleh para kliennya.
Ia menambahkan bahwa market internasional sangat menyukai cerita atau makna filosofis dibalik sebuah perhiasan, oleh karena itu yang akan membuat desainer semakin dihargai dan desainnya dihargai lebih tinggi.
Dalam podcast ini Amelia berbagi tips untuk meraih kesuksesan sebagai perancang perhiasan. Menurutnya untuk menjadi seorang perancang perhiasan sangat dibutuhkan persistensi, kesabaran yang tinggi, dan selalu mengasah jiwa kreatif dengan bersekolah di sekolah seni. Rajin mengikuti lomba juga akan menambah wawasan tentang trend masa kini yang ditunjukkan oleh para peserta desain lainnya.
Tidak hanya kesuksesan, Amelia juga berbagi tentang jatuh bangunnya sebagai seorang perancang perhiasan Indonesia yang bermukim di Italia.
Jika Sahabat Rumpita ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut dan topik seru lainnya dengan Amelia, silahkan putar podcast episode kali ini.
NORWEGIA – Sabtu (23/4) Ruanita Indonesia kembali menggelar diskusi virtual IG Live lewat akun instagram @ruanita.indonesia. Diskusi virtual kali ini mengambil momentum peringatan Hari Kartini dan melanjutkan tema yang sama dari acara Webinar Kewirausahaan yang diadakan 6 Februari 2022 lalu. Dipandu oleh Ferdyani Atikaputri/Atika dari Tim Ruanita Indonesia, kali ini Ruanita mengundang Ibu Dessy Rutten Ph.D FERSA, akademisi dan pebisnis yang tinggal di Belanda untuk membahas tema ‘Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan’.
Bagi perempuan Indonesia yang tinggal di Eropa, aktivitas berwirausaha bisa menjadi pilihan untuk pekerjaan dan aktualisasi diri. Namun ada banyak hal yang harus dipelajari dan disiapkan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Terlebih lagi setelah situasi pandemi COVID-19 selama lebih dari dua tahun belakangan; di satu sisi memunculkan banyak tantangan namun juga menciptakan banyak kesempatan baru yang unik dalam dunia kewirausahaan. Dalam diskusi virtual kali ini, Ibu Dessy Rutten menjabarkan kiat-kiat agar perempuan Indonesia dapat tetap tangguh dalam berwirausaha di Eropa dan meneladani semangat Ibu Kartini dalam membangun solidaritas sesama perempuan Indonesia.
Di awal diskusi, menurut Ibu Dessy Ruten, sosok pahlawan perempuan yang punya pengaruh dalam hidupnya adalah sosok almarhumah ibunda. Dari sosok ibundalah ia belajar nilai-nilai kewanitaan mulai dari sopan santun, tata tertib, kerapian, tepat waktu, serta belajar tidak hanya menjadi profesional tetapi juga untuk keterampilan mengurus diri dan keluarga. Nilai-nilai yang dipelajari dari ibunda menjadi bekal bagi Ibu Dessy Rutten tatkala pindah ke luar negeri karena saat merantau dan hidup sendiri inilah dituntut harus mandiri tetapi tetap mempunyai budi pekerti dan menjunjung nilai-nilai luhur wanita Indonesia.
Ibu Dessy Rutten pun bercerita ketika kepindahannya yang pertama kali ke Inggris, ia menemukan ada karakteristik yang mirip antara budaya Inggris dan Jawa dari segi sopan santun, etika berbahasa, kedisiplinan serta british diplomacy. Hanya dengan mengubah konteks beda negara, nilai-nilai yang mirip ini jadi cocok karena sudah melekat sebelumnya. Dari situlah Ibu Dessy Rutten melihat bahwa nilai-nilai yang dipelajari dari ibunda di Indonesia menjadi lebih disuburkan ketika merantau ke Inggris.
Kondisi merantau di Eropa juga membuat Ibu Dessy termotivasi dengan nilai egaliter dan keyakinan apapun bisa kita capai, tentunya dengan tetap menjalankan hak dan kewajiban kita. Kalau menilik lagi isi surat-surat yang ditulis R.A.Kartini kepada JH Abendanon, tutur Ibu Dessy, saat itu Kartini merasa terbuka sekali jendela wawasannya karena pada masa itu liberalisasi dan gerakan kebangkitan wanita sudah ada di Eropa, yang menanamkan keyakinan bahwa perempuan bisa mencapai pendidikan setinggi apapun. Pendidikan ini bisa ditempuh lewat jalur formal maupun informal, never stop learning.
Ibu Dessy memberikan contoh nilai lainnya yang dipelajari ketika di Eropa adalah kemandirian secara finansial. Kewirausahaan bisa masuk sebagai salah satu jalan bagi wanita untuk mencapai cita-citanya dan mencapai kemandirian finansial atau ekonomi. Lanjutnya lagi, menilik arti kata ‘ekonomi’ sendiri adalah ‘ilmu untuk mengatur rumah tangga’, baik itu rumah tangga dalam lingkup keluarga sebagai unit terkecil, di lingkup perusahaan, maupun di masyarakat dan negara.
Sebagai wanita, ilmu ekonomi bisa mulai diterapkan dulu untuk diri sendiri lalu untuk keluarga, lalu ke luar berkarir, hingga sampai di tingkat mengatur perusahaan karena itu semua pada dasarnya adalah penerapan ilmu ekonomi. Penjelasan Ibu Dessy disarikan oleh Atika sebagai bentuk emansipasi wanita adalah dimulai dari diri sendiri, lalu diterapkan ke keluarga dan ke lingkungan yang lebih besar.
Berbicara tentang hal kewirausahaan, meskipun skalanya masih kecil namun beberapa tahun belakangan aktivitas kewirausahaan menjadi penolong bagi banyak perempuan Indonesia untuk survive menghadapi tantangan pandemi. Ibu Dessy Rutten sendiri melihat prospek kewirausahaan oleh wanita Indonesia sebagai tantangan yang harus disambut dengan optimisme agar dapat menyiapkan peluang dari tantangan tersebut.
Namun sebelum memulai berwirausaha, Ibu Dessy Rutten menjelaskan bahwa peluang kewirausahaan ini bergantung pada beberapa faktor seperti wilayah geografis, perizinan, serta resources yang tersedia. Beberapa elemen kewirausahaan tersebut dari satu negara dengan negara yang lain bisa berbeda-beda. Namun inti dari kewirausahaan adalah pemberdayaan diri dari dalam ke luar, dengan menjadi mandiri dan berdaya.
Menurut Ibu Dessy Rutten, peluang kewirausahaan di Indonesia di Indonesia lebih mudah karena izinnya tidak serumit di luar negeri dan pasarnya sudah langsung jelas, tinggal kita menentukan fokus segmen, permodalan serta jenis jasa dan produk yang akan ditawarkan. Sementara di luar negeri ada juga peluang kewirausahaan namun sebelum memulainya kita harus lebih jeli membuat pemetaan resources yang dimiliki, mempelajari perizinan, marketing, serta menemukan market dari jasa atau produk yang hendak kita tawarkan. Ditambah lagi, hasil adaptasi dari kondisi pandemi ini menciptakan percepatan pada push factor untuk penguasaan digital skill.
Ibu Dessy Rutten juga menekankan bahwa di luar semua elemen tersebut, setiap individu memiliki talent yang spesifik, tinggal bagaimana mengasah kemampuan tersebut sebelum memulai berwirausaha. Ini bisa dimulai dengan mengenali hobi dan bakat yang dimiliki, lalu mempelajari kekurangan apa saja yang harus dibenahi sehingga nantinya kita dapat lebih cerdas melihat peluang. Jika sebelum berwirausaha kita kesulitan untuk objektif melihat hal-hal yang harus dibenahi, Ibu Dessy Rutten menyarankan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan orang lain untuk assessing dan memberikan komentar sebagai mentor.
Punya mentor ini penting namun kita harus selektif dalam mencari mentor yang objektif. Mulai juga dengan membuat business plan yang kecil namun teliti dalam penjabaran operasionalnya dan market serta bentuk produk atau jasanya spesifik. Khusus bagi yang tinggal di luar negeri, Ibu Dessy menekankan untuk mempelajari dan memiliki izin usaha terlebih dahulu karena nanti ini berkaitan dengan urusan pajak. Intinya, pelaku usaha tidak bisa mengelak dari membayar pajak dan izin usaha; jangan sampai menjalankan usaha gelap karena nanti urusannya repot.
Mengenai penguasaan digital skill untuk mendukung aktivitas kewirausahaan, menurut Ibu Dessy Rutten kita dapat langsung fokus pada marketing. Semua marketing sekarang berfokus pada digital marketing, apalagi platformnya sudah banyak di media sosial dan melalui e-commerce dan payment system yang lebih terpadu. Ibu Dessy Rutten menekankan bahwa meskipun sekarang banyak platform belajar yang bisa diakses secara gratis, tetapi segala sesuatu yang berkualitas itu ada ‘harga’ yang harus dibayarkan, entah itu berupa tenaga maupun waktu yang diluangkan untuk belajar.
Jika mempunyai keterbatasan financial resources untuk belajar lagi, Ibu Dessy Rutten menyarankan untuk mulai dengan mencari info lewat google atau belajar secara otodidak dengan mengamati pola marketing akun-akun favorit lalu disesuaikan kembali dengan budget dan kemampuan masing-masing.
Satu hal yang Ibu Dessy Rutten akui bahwa belajar itu adalah proses yang terus-menerus dan bagian dari ibadah; never stop learning. Bagi Ibu Dessy Rutten, belajar adalah proses yang mengasyikkan dan sebagai wanita, seiring dengan bergantinya identitas diri kita juga harus mempelajari banyak hal baru. Ketika di bangku kuliah dan dunia kerja belajar bisnis, ketika berkeluarga belajarnya beralih ke pendidikan anak karena ini penting untuk menanamkan karakter baik pada diri anak. Untuk pendidikan formal, Ibu Dessy Rutten terus mengasah digital marketing skills dengan setiap tahun mengambil kursus lagi untuk mengikuti perkembangan dunia media sosial yang pesat.
Menurut Ibu Dessy Rutten, belajar tidaklah hanya sebatas yang didapatkan dari bangku sekolah formal saja, tetapi juga mempelajari keterampilan lainnya untuk pengembangan diri seperti public speaking, belajar negosiasi bisnis, bahkan belajar berkebun serta belajar secara otodidak yang melibatkan trial and error. Contoh nyata yang bisa kita pelajari dari tulisan-tulisan korespondensi R. A. Kartini adalah pentingnya kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Saat tinggal di luar negeri, selain penguasaan bahasa Inggris, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa lokal adalah penting dan pasti berguna dalam bersosialisasi dan berbisnis.
Dalam berwirausaha, komunikasi dalam bahasa lokal penting bagi marketing untuk mengenalkan usaha, menjual produk dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen, serta berdialog dengan partner bisnis untuk mencapai suatu deal. Kemampuan dasar komunikasi dalam banyak bahasa turut membantu kita dalam menyerap ilmu-ilmu di luar jalur pendidikan formal.
Ibu Dessy Rutten sangat menyarankan perempuan Indonesia sedari muda untuk mengasah kemampuan komunikasi, mindset & cognitive skills dan pembelajaran karakter, karena ini akan berguna sekali untuk mengembangkan diri, berkarir, maupun saat nanti berkeluarga. Peran wanita sangatlah unik dan kompleks berlapis-lapis, sehingga dibutuhkan kemampuan dan kemauan untuk terus mau belajar dan mengembangkan diri.
Jika sahabat Ruanita memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!
(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)