(SIARAN BERITA) Workshop Online Fotografi Pakai Ponsel Bertema Ruang Aman Perempuan

Jerman – Salah satu program yang diusung Ruanita Indonesia sejak tahun 2021 adalah program jangka panjang AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspira nYatamu). Banyaknya laporan yang diterima Ruanita Indonesia tentang kasus pelecehan seksual, diskriminasi dan kekerasan domestik yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri melatarbelakangi dibuatnya kampanye AISIYU ini.

Melalui program AISIYU, Ruanita Indonesia ingin meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di luar Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mengubah sikap dan budaya di masyarakat yang sayangnya masih menganggap kekerasan terhadap perempuan adalah suatu hal yang biasa terjadi.

Adapun program AISIYU dibuat sebagai kampanye tahunan yang diadakan bertepatan dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 November.  Kampanye tahunan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk proaktif melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan berbagi dukungan sosial untuk para penyintas kekerasan.

Kampanye AISIYU dilangsungkan lewat platform digital melalui media sosial Ruanita Indonesia dalam bentuk konten edukatif, informatif, dan inspiratif. Kampanye AISIYU akan dilangsungkan selama 16 hari, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024.

Diharapkan selama durasi masa kampanye ini, semakin besar pula peluang untuk membuat perubahan sosial, budaya, dan politik yang diperlukan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Lewat kampanye AISIYU pula masyarakat dapat diajak untuk berkontribusi dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan, bebas dari ancaman dan kekerasan.

Setiap tahunnya Ruanita Indonesia menggunakan media yang berbeda untuk berkampanye. Pada tahun 2023, Ruanita Indonesia mengadakan visual art workshop yang menghasilkan 16 produk seni kolase. Kampanye AISIYU tahun 2024 ini mengusung tema “Ruang Aman Perempuan” lewat media fotografi. Di era digital ini, membuat foto dengan ponsel berkamera sangat mudah dilakukan.

Ditambah lagi penggunaan media sosial untuk saling berbagi foto terbukti menjangkau banyak orang dan dapat dijadikan media kampanye yang positif.  Hal inilah yang mendasari Ruanita Indonesia untuk menggunakan fotografi sebagai media kampanye anti kekerasan terhadap perempuan tahun di 2024.

Rangkaian Kampanye AISIYU 2024 akan diadakan dalam bentuk online workshop dan pameran digital (media sosial Ruanita). Tahun ini Ruanita Indonesia menghadirkan online workshop keterampilan fotografi praktis menggunakan kamera ponsel. Workshop fotografi praktis ini akan dibagi dalam dua pertemuan pada tanggal 7 dan 14 September 2024, yang dibuka secara resmi oleh Renata Siagian, Konjen KJRI Hamburg di Jerman.

Pada pertemuan pertama, Bahrul Fuad selaku Komisioner Komnas Perempuan, akan menyampaikan konsep ruang aman bagi perempuan sebagai panduan tema untuk peserta dalam mengambil foto. Selanjutnya, Yogi Cahyadi selaku Redaktur Foto Republika Network, akan menyampaikan teori dan teknik dasar fotografi, termasuk pengambilan foto menggunakan fitur-fitur dalam kamera ponsel. Diharapkan peserta workshop tidak hanya mampu membuat foto estetik, tapi juga mampu menyuarakan isu pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Topik teori dan teknik dasar fotografi menggunakan ponsel akan diteruskan pada pertemuan kedua. Di akhir workshop, peserta diminta untuk membuat dan mengirimkan minimal dua buah foto menggunakan ponsel sesuai dengan tema “Ruang Aman Perempuan”.

Dari foto-foto yang masuk akan dipilih 16 foto yang nantinya akan dipublikasikan pada pameran digital di media sosial Ruanita pada tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024. Program Workshop Fotografi diselenggarakan Ruanita Indonesia dalam kerja sama bersama KJRI Hamburg, KBRI Berlin, dan Komnas Perempuan.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik kehidupan di mancanegara.

Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Proyek kami berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system, untuk warga Indonesia di luar Indonesia, terutama perempuan.

Info lebih lanjut: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak info@ruanita.com

(AISIYU) Sekutu di Awan Biru

Pembuat karya: Corinthiani

Akun Instagram: corin_sinulingga

Judul karya: Sekutu di Awan Biru

Deskripsi: Di sini ada awan biru sebagai bentuk ruang bebas, di mana langit selalu memberi kesempatan kepada siapapun manusia, termasuk seorang korban kekerasan. Bahkan, seorang korban punya kebebasan untuk menemukan support system atau women support women, membantunya untuk membatasi hubungan berkedok mengendalikan dan menjatuhkan.

(IG LIVE) Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Kolase “Merdeka dari Kekerasan”

Dalam diskusi IG Live episode November 2023, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Peremuan yang masih menjadi rangkaian program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) 2023. Program AISIYU 2023 diselenggarakan dalam bentuk kolase dengan judul “Merdeka dari Tindak Kekerasan” dimulai dari 25 November hingga 10 Desember, yang menjadi Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Untuk membahas lebih dalam, Anna sebagai pemandu IG Live mengundang Veryanto Sitohang yang adalah Komisioner Komnas Perempuan dan Hernita Oktarini, yang adalah Koordinator Proyek AISIYU 2023 sekaligus Relawan Ruanita Indonesia.

Diskusi IG Live ini terbagi dalam 3 segmen yakni: Apa itu Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan mengapa diselenggarakan selama 16 hari?; segmen kedua adalah mengapa kampanye AISIYU dalam bentuk kolase; dan segmen terakhir apa pesan dan harapan kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan.

Follow us

Veryanto kemudian menceritakan sejarah dan latar belakang tercetusnya Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang berawal dari peristiwa di Dominika pada 25 November. Kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran hak asasi manusia sehingga upaya melakukan kampanye anti kekerasan diperingati hingga 10 Desember, Hari Asasi Manusia Sedunia.

Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan itu diinisiasi oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001. Rangkaian Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan termasuk adalah Hari AIDS Sedunia yang dirayakan dunia 1 Desember. Setiap tahun Komnas Perempuan menggelar hampir 200 kegiatan di seluruh Indonesia. Komnas Perempuan bersama jaringannya menggelar tema di tahun 2023: Kenali Hukumnya dan Lindungi Korban.

Veryanto pun menyebutkan berbagai perangkat hukum untuk membuat kebijakan perlindungan terhadap perempuan, tetapi implementasinya dari aparat hukum hingga warga masyarakat belum dapat menerapkannya misalnya untuk kasus KDRT.

Hernita sebagai koordinator proyek AISIYU 2023 menjelaskan bahwa Workshop Kolase adalah tindak lanjut kunjungan Ruanita Indonesia ke Kantor Komnas Perempuan. Kita memilih seni kolase sebagai media visual untuk menampung aspirasi Sahabat Ruanita menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan melalui potongan bahan sederhana tetapi bermakna.

Rencanaya produk kolase 2023 yang sudah dilatihkan akan ditampilkan lewat kanal media sosial Ruanita Indonesia dan Komnas Perempuan mulai 25 November – 10 Desember 2023. Veryanto juga menambahkan berbagai program 16 Hari Anti Kekerasan yang digelar di Indonesia.

Lebih lanjut tentang rekaman diskusi IG Live dapat disaksikan berikut ini:

Subcribe kanal YouTube untuk mendukung program kami.

(SIARAN BERITA) Berkontemplasi Merdeka dari Kekerasan, Ruanita dan Komnas Perempuan Selenggarakan Workshop Seni Kolase

Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.

Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.

Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.

Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.

Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.

Follow us

Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.

“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.

Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.

Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.

Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.

Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan

Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.

“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.

Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.

(MATERI INFORMASI) Workshop Seni Kolase Online 2023

Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.

Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.

Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.

(SIARAN BERITA) Cegah Kekerasan terhadap Perempuan di Luar Negeri, Komnas Perempuan dan Ruanita Bahas Inisiasi Kerja Sama

INDONESIA – Pada hari Senin (18/9) Ruanita Indonesia melakukan audiensi dan diskusi bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan yang bertempat di kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ruanita diwakilkan oleh Anna Knöbl selaku Founder of Ruanita Indonesia yang didampingi oleh para relawan seperti: Hernita Oktarini, Natasha Hartanto, dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Kedatangan tim Ruanita Indonesia disambut dengan baik oleh Komnas Perempuan yang dipimpin oleh Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat , Veryanto Sitohang dan didamping oleh Staf Komnas Perempuan lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan mengapresiasi kerja Ruanita Indonesia yang selama ini telah berupaya untuk membuat program terstruktur dalam mengatasi kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia di luar Indonesia.

Hernita Oktarini, selaku juru bicara dalam Tim Ruanita Indonesia menjelaskan tentang profil Ruanita Indonesia yang baru saja menginjak usia 2 tahun. Pada Maret 2023, Ruanita Indonesia telah berbadan hukum di bawah Pemerintah Indonesia dengan nama: Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan bekerja secara digital untuk terhubung dengan berbagai perempuan Indonesia di mancanegara.

Hernita juga menjabarkan tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia selama ini di luar Indonesia seperti: status izin tinggal, kultur (bahasa dan budaya), psikologis, pekerjaan, krisis sosial dan identitas kebangsaan, keamanan hingga keluarga dan pengasuhan anak.

“Tinggal di negara yang memiliki budaya, bahasa, dan sistem pemerintahan yang berbeda tentu mendapatkan beragam tantangan. Mulai dari aspek psikologosi, saat tinggal di luar negeri, hingga kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang terikat dalam perkawinan campuran,” kata Anna menambahkan penjelasan Hernita.

Selain itu, Ruanita Indonesia berharap kepada Komnas Perempuan untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada perempuan Indonesia di luar negeri melalui dukungan psikosial, dukungan informasi dan edukasi tentang hak-hak perempuan di luar negeri, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi hak-hak perempuan seperti menjadi perantara dengan KBRI/KJRI dalam mengakses layanan kekonsuleran. Ruanita Indonesia berharap dapat menindaklanjuti kerja sama dengan Komnas Perempuan sehingga menjadi program terintegrasi dan menyeluruh untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.

Lebih lanjut, Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Veryanto Sitohang menjelaskan: “Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, baik di luar negeri atau melibatkan warga negara asing lebih rumit untuk ditangani karena mempertimbangkan sistem hukum kedua negara.”

Acara ditutup dengan diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan untuk menindaklanjuti kampanye bersama yang sudah dijalankan oleh Ruanita Indonesia setiap 25 November tiap tahun pada saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.