(SIARAN BERITA) Tidak Sendiri di Perantauan: Konseling Daring untuk Perempuan PMI

LONDON, 8 Maret – Menyadari persoalan psikologis yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia seperti: kesepian, trauma, sandwich generation, hingga pikiran bunuh diri, yang telah mendorong Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi konseling kelompok daring ini.

Bagi banyak Perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI), perjalanan bekerja di luar negeri bukan hanya tentang pengorbanan ekonomi, tetapi juga tentang menghadapi tekanan, kehilangan, dan pengalaman yang meninggalkan luka batin.

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, sesi konseling kelompok daring dihadirkan sebagai ruang aman bagi PMI yang memiliki situasi trauma dan sedang tinggal di luar Indonesia. Selama dua jam, para peserta terhubung melalui pertemuan virtual untuk berbagi pengalaman, mendengarkan satu sama lain, dan membangun rasa saling menguatkan dalam suasana yang empatik dan penuh penghormatan.

Sesi ini difasilitasi oleh Idei Swasti, Psikolog dan kandidat doktor di Inggris, serta relawan Ruanita Indonesia. Dengan pendekatan yang hangat dan partisipatif, peserta diajak memahami bahwa respons terhadap trauma adalah hal yang manusiawi. Tidak ada kewajiban untuk membuka detail pengalaman; yang diutamakan adalah rasa aman, kerahasiaan, dan kebersamaan.

Dalam dinamika kelompok, terlihat bahwa meski latar belakang negara dan jenis pekerjaan berbeda, pengalaman emosional yang dirasakan memiliki kesamaan: rasa sepi, tekanan berkepanjangan, serta kebutuhan untuk didengar tanpa dihakimi.

Beberapa peserta membagikan refleksi tentang beban kerja dan jarak dari keluarga, sementara yang lain memilih hadir dan menyimak, tetap menjadi bagian dari lingkar dukungan yang tercipta.

Menurut Anna Knöbl, Founder dari Ruanita Indonesia, yang memberikan pengantar awal sesi konseling, momentum Hari Perempuan Internasional dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat bahwa kesehatan mental perempuan migran adalah isu nyata yang perlu mendapat perhatian bersama. Kegiatan ini memang bukan pengganti terapi individual, namun menjadi langkah kolektif untuk membangun solidaritas, memulihkan harapan, dan menegaskan bahwa perempuan migran tidak berjalan sendiri dalam proses penyembuhan mereka.