(SWG) Perlindungan Hak Pekerja Migran Perempuan – Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia

Pada episode keempat program berbahasa Inggris Sharing With Guchi (SWG), Cindy Guchi tidak dapat hadir karena sedang menjalani cuti melahirkan. Kami turut mendoakan kesehatan dan kebahagiaan bagi Cindy dan bayinya. Sebagai pengganti, episode kali ini dipandu oleh Natasha Hartanto, relawan dari Ruanita Indonesia.

Dalam episode ini, Natasha mewawancarai Koreeyor Manuchae, seorang pengacara dari Thailand yang telah lama mengadvokasi hak-hak pekerja migran, khususnya perempuan.

Pekerja migran perempuan memegang peranan penting dalam ekonomi global. Namun, mereka kerap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap eksploitasi, diskriminasi, dan minimnya akses terhadap perlindungan hukum.

Di Thailand, terdapat sekitar 1,4 juta pekerja migran perempuan dari negara tetangga seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja. Mereka bekerja di berbagai sektor seperti pekerjaan domestik, pertanian, konstruksi, hingga pengolahan hasil laut. Namun sayangnya, pekerjaan mereka masih dipandang sebagai pekerjaan tidak terampil, yang membuat mereka sulit mengakses pelatihan atau perlindungan kerja yang lebih baik.

Menurut Koreeyor, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan migran adalah kurangnya kepekaan gender dalam sistem hukum, terutama di pengadilan tenaga kerja. Misalnya, tidak ada ketentuan yang menjamin keterwakilan jender dalam proses mediasi maupun persidangan. Hal ini dapat membuat perempuan migran merasa tidak nyaman, terintimidasi, dan enggan menyuarakan keluhannya.

Di sisi hukum pidana, Thailand memang memiliki polisi perempuan untuk menangani kasus kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga. Namun jumlah mereka masih sangat terbatas, terutama dalam menangani kasus perdagangan orang yang korbannya mayoritas adalah perempuan.

Koreeyor juga menyoroti pentingnya pelatihan pra-keberangkatan (pre-departure training) bagi para calon pekerja migran. Saat ini, pelatihan yang diberikan seringkali dilakukan dengan cepat, menggunakan video satu arah, tanpa ada komunikasi dua arah yang memungkinkan peserta benar-benar memahami hak dan kewajiban mereka.

Kualitas pelatihan ini sangat penting agar pekerja migran—khususnya perempuan—mengetahui hak-haknya, memahami mekanisme pengaduan, dan menyadari bentuk-bentuk kekerasan seperti pelecehan seksual.

Meskipun Thailand memiliki undang-undang yang melarang diskriminasi gender dan memberikan cuti melahirkan, masih banyak celah dalam perlindungan hak perempuan pekerja migran. Saat ini, cuti melahirkan hanya dibayar selama 45 dari 90 hari, dan belum ada insentif kebijakan untuk mendukung perempuan yang ingin punya anak—padahal Thailand sedang menghadapi krisis populasi akibat penuaan.

Lebih jauh lagi, kesadaran tentang pentingnya consent atau persetujuan dalam relasi seksual masih minim, baik di kalangan masyarakat umum maupun dalam sistem hukum. Koreeyor menekankan bahwa perempuan perlu dididik tentang hak-hak mereka, termasuk memahami arti dan pentingnya persetujuan secara sadar.

Koreeyor menyampaikan bahwa salah satu cara untuk memberdayakan pekerja migran perempuan adalah melalui asosiasi informal, di mana mereka dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, dan belajar tentang hak-hak hukum mereka. Walaupun undang-undang Thailand belum mengizinkan pekerja migran membentuk serikat, mereka tetap bisa membentuk asosiasi untuk saling mendukung.

Ruanita Indonesia meyakini bahwa perjuangan ini bukan hanya soal pekerja migran semata, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang adil dan inklusif. Perlindungan terhadap pekerja migran perempuan adalah investasi bagi masa depan bersama.

Dalam memperingati Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia, mari kita semua—baik individu, komunitas, hingga pembuat kebijakan—turut ambil bagian dalam memperjuangkan hak dan martabat para pekerja migran, khususnya perempuan. Perubahan bisa dimulai dari memahami, menghormati, dan menyuarakan hak-hak mereka.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi, dapat disimak di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Studi dan Pembelajaran Hidup dari Jerman Ke Thailand

Melanjutkan episode ke-31 dari program podcast RUMPITA di bulan November kali ini, Podcaster Anna dan Ecie mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Bangkok, Thailand. Dia adalah Legiana Lestari yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Thailand, untuk memperdalam keahlian Bahasa Jermannya. Dalam episode ini, Legiana banyak berbicara tentang studi dan pembelajaran hidup yang diperolehnya saat berada di Jerman dan di Thailand.

Awal studi S1 di Indonesia, Legiana yang studi Bahasa Jerman merasa perlu untuk melanjutkan studinya dan memperdalam kemampuan berbahasa Jerman karena dia tidak pernah mendapatkan Native Speaker sebagai pengajar tamu dalam perkuliahan. Legiana merasa perlu praktik Bahasa Jerman dengan penutur asli, sehingga ia memutuskan studi ke Jerman.

Setiba di Jerman, Legiana berkuliah di Universitas Hamburg tetapi tak mudah untuk mengikuti perkuliahan sepenuhnya. Untuk memperdalam keahliannya tersebut, Legiana sempat mencoba berbagai program di Jerman agar dapat langsung mempraktikkan Bahasa Jerman dengan native speaker.

Legiana tidak berhasil menyelesaikan studi di Jerman dan dia memutuskan kembali ke Jerman. Saat itu, Legiana harus merawat sang ibu yang sakit. Tak hanya itu, kondisi pandemi juga menyulitkan Legiana untuk meneruskan studi di Jerman.

Pada akhirnya, Legiana kembali menyusun rencana ulang agar dapat melanjutkan studi Bahasa Jerman dan meraih impiannya tersebut, yang sempat tertunda. Saat bertemu dengan pemelajar, Legiana seperti terpacu untuk dapat meneruskan studinya tersebut.

Legiana tahu bahwa tak mudah mendapatkan studi belajar dan tinggal di Jerman. Ada banyak cerita bagaimana studi di Jerman tak mudah, meskipun Legiana telah menguasai Bahasa Jerman di kampus sebelumnya di Indonesia.

Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Legiana mendapatkan kesempatan beasiswa di Thailand yang mana ia bisa tetap dapat melanjutkan studi berbahasa Jerman impiannya tersebut. Meski tinggal di Thailand, tak mudah tetapi Legiana bersyukur tidak ada perbedaan jam untuk tetap mengontak ibunya di Indonesia.

Legiana bercerita bahwa dia harus menguasai Bahasa Jerman dan Bahasa Thailand sekaligus agar dapat menyelesaikan studinya tersebut. Sehari-hari administrasi perkuliahan banyak menggunakan Bahasa Thailand. Tak hanya menguasai Bahasa Thailand saja, Legiana juga lebih sering menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi selama tinggal di Thailand.

Simak diskusi podcast RUMPITA selengkapnya yang dipandu oleh Anna dan Ecie di Jerman berikut ini: