(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancangara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.ruanita.com atau hubungi info@ruanita.com.

(SWZ) Neuromental Training: Cara Mengenali Koneksi Tubuh dan Pikiran Perempuan

Dalam program Sharing with Guchi (SWG), yang kini menjadi episode terbaru Sharing with Zee (SWZ) memasuki episode ke-5, yang mana Cindy Guchi – host SWG – sedang mengambil cuti melahirkan. Ruanita Indonesia pada episode terbaru menghadirkan Libi Fuchs, seorang ahli neuromental training dari Austria.

Bersama host Azizah Seiger, yang akrab disapa Zee, Libi membahas bagaimana perempuan bisa melatih kekuatan pikiran untuk menghadapi tantangan hidup, terutama terkait kesehatan mental, siklus menstruasi, dan peran ganda.

Neuromental training adalah pengembangan dari mental training yang sering digunakan atlet profesional. Jika pelatihan fisik memperkuat otot, maka neuromental training memperkuat pikiran, emosi, dan fokus.

Menurut Libi, melatih otak seperti menciptakan jalur di padang rumput: semakin sering kita berlatih berpikir positif, semakin kuat “jalur” itu terbentuk di dalam otak.

Perempuan menghadapi tantangan unik:

  • Peran ganda di rumah dan karier
  • Ketidaksetaraan di dunia kerja
  • Perubahan emosi karena siklus menstruasi

Namun, perempuan sebenarnya lebih tahan terhadap stres dibanding laki-laki. Libi menekankan pentingnya mengakui kekuatan ini untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Memahami fase menstruasi bisa membantu perempuan mengatur energi:

  • Fase Folikular (awal siklus): Waktu terbaik untuk keputusan penting, berolahraga, atau mengerjakan tugas berat.
  • Fase Luteal (pra-menstruasi): Energi cenderung menurun, emosi tidak stabil, dan fokus berkurang.

“Kadang, cukup mengatakan pada pasangan atau rekan kerja: ‘Bisakah kita tunda keputusan ini minggu depan?’ Itu bukan kelemahan, tapi kesadaran diri,” ujar Libi.

Follow us

Tentunya, PMS (Premenstrual Syndrome) dialami 50% perempuan usia subur, ditandai dengan kecemasan, mudah tersinggung, dan kelelahan.

Mungkin saja, ada perempuan yang mengalami PMDS (Premenstrual Dysphoric Disorder). Situasi PMDS atau PMDD itu lebih lebih berat dari PMS, dialami 6–8% perempuan, dengan gejala emosional yang lebih ekstrem.

Libi membagikan teknik sederhana Emotional Power Tapping (EPT), yang terbukti:

  • Mengurangi hormon stres (cortisol) hingga 37%
  • Meningkatkan imunitas hingga 130%
  • Mengurangi rasa sakit dan depresi

EPT dilakukan dengan mengetuk titik tertentu di tubuh sambil fokus pada ketenangan. Teknik ini bisa dilakukan di mana saja.

Neuromental training mengajarkan kita untuk menghargai tubuh dan pikiran. “Jika kita tidak mengakui diri sendiri, bagaimana orang lain bisa?” kata Libi. Saatnya perempuan saling mendukung dan menguatkan, membentuk sisterhood global yang dimulai dari kesadaran diri.

Simak selengkapnya Talkseries: Sharing with Zee episode ke-5 berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.