(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(WARGA MENULIS) Puisi – Menemukan Maria

Menemukan Maria

Aku sudah mati beberapa kali,/
menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/
janji-janji tak bertuan,/
letupan api-api neraka/
ditekan sesamanya,/
disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//

Bangke!//
Yang tersisa padaku adalah kehampaan/
Ketiadaan/
kosong!//

Maria, Maria!//
Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/
pada palang salib bernama pelayanan,/
hutang budi?/
pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/
haus validasi?/

Follow us


Maria, Maria!//
Berhenti!/
Bangun!/
Berdiri!//

Temukan kata,/ temukan tinta!//
Temukan nada!/Temukan ruang!/Temukan jalan!//

Buka mata,/
buka telinga//

Asaku,/ Asamu,/ bernama rasa!//
Angkat penamu!/
Suarakan bahasamu!/
Puisikan kudetamu!//

Temukan asa!/
Temukan warna!/
Temukan Maria!//


Banjarmasin, 1 Februari.

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias
Instagram: @mariafraniayu