(IG LIVE) Bongkar Mitos Seputar Kehamilan: Jangan Asal Percaya!

Pada awal tahun, Ruanita Indonesia mengawali program diskusi Instagram Live dengan tema parenting, khususnya mereka yang sedang hamil atau menantikan kehamilan. Topiknya sederhana tetapi penuh intrik budaya: “Bongkar Mitos Seputar Kehamilan – Jangan Asal Percaya.” Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sesi ini mengulas bagaimana mitos kehamilan beredar, bagaimana ia memengaruhi cara kita memandang tubuh perempuan, dan bagaimana ilmu pengetahuan kadang perlu turun tangan untuk menertibkan persepsi yang keliru.

Dua sahabat Ruanita yang bergabung kali ini hadir dari dua negara yang berbeda. Natalia Eka Putri, seorang ibu dan dokter gigi spesialis anak yang kini tinggal di Belanda, dan Merry, seorang ibu rumah tangga yang kini berdomisili di Portugal. Merry juga telah berpengalaman hamil di beberapa negara. Kehadiran keduanya membuka ruang diskusi lintas budaya yang hangat dan informatif.

Salah satu mitos yang langsung dibahas adalah anggapan bahwa setiap kehamilan berarti satu gigi ikut tanggal. Mitos yang terdengar dramatis ini ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Natalia menjelaskan bahwa memang ada ibu hamil yang mengalami kehilangan gigi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan.

Secara statistik, hanya sekitar empat belas hingga dua puluh satu persen ibu hamil yang mengalaminya. Penyebabnya pun bukan karena janin “mengambil kalsium dari gigi ibu,” melainkan karena perubahan hormon selama kehamilan yang memicu pembengkakan gusi, sensitivitas, hingga infeksi yang tidak dikelola dengan baik.

Menurut Natalia, sekitar enam puluh hingga tujuh puluh lima persen ibu hamil mengalami pembengkakan gusi atau gingivitis gravidarum. Kondisi ini membuat gusi mudah berdarah, terasa sensitif, dan rentan mengalami peradangan lebih lanjut.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat merambat ke tulang penyangga gigi dan berakhir pada gigi yang goyang hingga tanggal. Lebih jauh lagi, kesehatan gusi ternyata dapat memengaruhi hasil kehamilan. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara infeksi gusi kronis dengan kelahiran prematur serta bayi dengan berat badan rendah.

Hal yang menarik, di tengah semua perubahan tubuh tersebut, perilaku makan ibu hamil juga ikut berubah. Rasa lapar yang muncul lebih sering, selera yang meningkat terhadap makanan manis, serta kebutuhan emosional untuk mencari kenyamanan melalui makanan adalah bagian dari respon hormonal tubuh.

Fenomena “ngidam” yang sering dianggap sekadar budaya ternyata memiliki penjelasan biokimia yang jelas. Namun ketika mengidam itu berujung pada konsumsi gula berlebih, risiko gigi berlubang pun ikut meningkat. Meski demikian, Natalia menegaskan bahwa kehamilan bukanlah penyebab gigi melemah. Perlu diperhatikan hal yang menentukan adalah bagaimana ibu hamil menjaga dan merawat kesehatan mulutnya.

Di Belanda, pemeriksaan gigi justru dianjurkan secara berkala selama kehamilan. Perawatan seperti pembersihan karang gigi, penambalan, hingga ronsen dapat dilakukan dengan aman sepanjang memperhatikan tahap kehamilan dan perlindungan yang memadai.

Kesadaran ini masih belum merata di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana sebagian ibu hamil cenderung menghindari dokter gigi karena ketakutan atau mitos yang diwariskan keluarga.

Setelah membahas dari perspektif medis, sesi IG Live beralih ke pengalaman personal lewat cerita Merry. Pengalamannya menarik karena ia menjalani kehamilan di lingkungan dan negara yang berbeda, dari Singapura hingga Arab Saudi dan kemudian Portugal.

Merry mengaku tidak terlalu mengikuti mitos-mitos kehamilan, tetapi ia beberapa kali bersentuhan dengan saran-saran unik dari keluarga, teman, maupun lingkungan budaya tempat ia tinggal.

Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya terjadi ketika ia hamil di Singapura. Menjelang proses persalinan, bayinya tiba-tiba berhenti bergerak dalam waktu yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk segera datang ke rumah sakit pada malam hari.

Setelah pemeriksaan detak jantung, perawat memberikan segelas air dingin dan beberapa saat kemudian bayi kembali merespon dengan tendangan. Pengalaman sederhana ini mematahkan salah satu larangan populer di Indonesia yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh minum air dingin.

Berbeda dengan Singapura, ketika Merry menjalani kehamilan di Arab Saudi, pendekatannya jauh lebih medis dan minim omongan mitos. Di sana, pemeriksaan darah berkala menjadi standar, sehingga perjalanan kehamilannya terasa lebih klinis dan terstruktur.

Justru ketika Merry pulang ke Indonesia yang paling terasa adalah kehadiran mitos yang lebih bernuansa mistis: larangan keluar rumah pada malam hari, larangan mengikuti pemakaman, hingga saran membawa benda tajam saat berada di tempat tertentu untuk menghindari gangguan makhluk halus. Merry menyikapinya dengan santai. Baginya, penting untuk tetap menghargai kekhawatiran keluarga, namun juga penting menjaga batas agar ibu hamil tidak justru terbebani secara mental.

Diskusi ditutup dengan catatan penting bahwa mitos kehamilan tidak pernah muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya, ketakutan, dan warisan informasi turun-temurun yang terkadang dimaksudkan untuk menjaga, tetapi tidak jarang justru membingungkan.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir untuk membantu ibu hamil membedakan antara kekhawatiran yang perlu dan yang tidak perlu. Perpaduan keduanya, yakni kebijaksanaan budaya dan pengetahuan medis, merupakan bekal penting bagi perempuan yang sedang menjalani kehamilan.

Melalui program IG Live ini, terlihat jelas bahwa kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk cara perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Dan di tengah segala suara yang datang dari berbagai arah, perempuan berhak memilih informasi yang paling membuatnya tenang, sehat, dan berdaya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Melahirkan Tanpa Mitos, Terpenting adalah Ibu yang Melahirkan itu Happy di Swiss

“Aku pernah bertanya ke suamiku, ada tidak sih mitos seputar kehamilan seperti itu di Swiss? Karena di Indonesia ada ya. Lalu kata suamiku, ‘tidak ada, yang penting ibu yang baru melahirkan happy, senang’. Tidak ada mitos-mitos seperti itu.” – Fitri

Halo, sahabat Ruanita! Kali ini, kita akan menceritakan Fitri berdasarkan program cerita sahabat spesial, yang pernah ditayangkan pada episode Juni 2022 lalu. Fitri adalah seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Swiss dan membagikan pengalamannya saat menjalani kehamilan dan proses persalinan di negeri Eropa Tengah tersebut. Dalam kisahnya, ia membandingkan bagaimana pendekatan terhadap kehamilan dan persalinan sangat berbeda antara Indonesia dan Swiss, termasuk dalam hal kepercayaan, mitos, dan praktik keseharian.

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan mitos-mitos kehamilan: mulai dari larangan makan makanan tertentu, posisi tidur yang diatur, sampai pantangan bersentuhan dengan benda atau aktivitas tertentu yang katanya bisa berdampak pada bayi. Namun, bagi Fitri, semua mitos itu seperti menguap begitu saja ketika ia menjalani kehamilan di Swiss.

Saat ia bertanya kepada suaminya, yang merupakan orang Swiss, apakah ada pantangan atau kepercayaan tertentu yang harus diikuti selama kehamilan, jawabannya sederhana namun mencengangkan bagi Fitri: tidak ada.

Yang terpenting dalam sistem Swiss, menurut suaminya dan tim medis yang mendampingi, adalah kesejahteraan ibu: apakah sang ibu merasa senang, tenang, dan nyaman. Tidak ada larangan makan ini atau itu, tidak ada anjuran untuk menghindari hal-hal tertentu berdasarkan kepercayaan turun-temurun. Semua rekomendasi medis berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan individual sang ibu.

Bagi Fitri, sistem layanan kesehatan di Swiss merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Dari kontrol kehamilan bulanan, suntikan, tindakan medis, hingga pengobatan dan proses melahirkan – semuanya ditanggung oleh asuransi. Ia bahkan tidak perlu pusing menyiapkan pakaian atau perlengkapan bayi di rumah sakit, karena semuanya telah disediakan.

Menariknya, sistem perawatan ibu hamil dan melahirkan di Swiss begitu terstruktur. Setiap ibu hamil mendapatkan informasi jelas dan terperinci sejak awal. Ketika waktu melahirkan semakin dekat, Fitri tinggal menelepon rumah sakit yang telah ditentukan untuk membuat janji. Bahkan sebelum hari kelahiran, kondisi dirinya diperiksa dan ia diberikan tindakan akupunktur untuk mempercepat pembukaan – sebuah praktik medis yang jauh dari nuansa mistik atau mitos.

Hal unik lainnya adalah bahwa dokter kandungan yang mendampingi pemeriksaan kehamilan bulanan bukanlah orang yang akan menolong persalinan. Proses kelahiran Fitri justru ditangani oleh bidan rumah sakit, seorang profesional yang sudah terlatih.

Prosesnya pun sangat fleksibel. Saat diminta memilih metode persalinan, ia diberikan pilihan: normal atau melalui air (water birth). Fitri memilih melahirkan secara normal karena merasa tidak nyaman dengan kemungkinan melihat darah di air.

Setelah persalinan, Fitri dan bayinya langsung dipindahkan ke kamar bersama. Sistem di Swiss sangat menekankan ikatan antara ibu dan bayi, sehingga mereka tidak dipisahkan.

Hal yang lebih mengesankan lagi adalah layanan pascapersalinan di rumah. Lima hari setelah keluar dari rumah sakit, bidan akan datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Mereka mengecek berat badan bayi, melihat apakah ada tanda-tanda masalah kesehatan, dan bahkan mengajarkan ulang cara menyusui dan memandikan bayi.

Lebih lanjut, lembaga perlindungan anak setempat, juga akan datang ke rumah. Kunjungan mereka bukan dalam rangka menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mereka ingin melihat apakah ibu dan ayah merasa bahagia, apakah rumah tangga harmonis, dan apakah ada potensi stres yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Karena kemampuan bahasa Jermannya saat itu belum terlalu lancar, Fitri bahkan diberikan buku-buku anak sebagai bentuk dukungan edukatif untuk keluarga mudanya. Baginya, sistem ini sangat membantu dan tidak membuatnya merasa sendirian.

Satu hal lagi yang menarik adalah soal subsidi. Pemerintah Swiss memberikan bantuan tunai sekitar 200 Swiss Franc per anak setiap bulan (saat itu) jumlah yang cukup signifikan untuk membantu membeli kebutuhan dasar seperti susu dan popok. Sistem ini berlaku baik bagi ibu maupun ayah, tergantung siapa yang bekerja.

Bagi Fitri, menjalani kehamilan dan persalinan tanpa tekanan mitos membuatnya merasa lebih ringan dan fokus pada hal-hal penting: kesehatannya sendiri dan kebahagiaan bayinya. Ia merasa bahwa sistem Swiss lebih mempercayai kekuatan pengetahuan, pendampingan profesional, dan dukungan sosial, daripada ketakutan yang tidak rasional.

Cerita Fitri memberi kita perspektif bahwa kehamilan adalah pengalaman yang sangat personal dan seharusnya bebas dari rasa takut yang tidak berdasar. Pengalaman di Swiss menunjukkan bahwa ibu bisa lebih bahagia dan tenang ketika didampingi oleh sistem yang empatik, ilmiah, dan suportif, bukan oleh larangan-larangan yang belum tentu relevan.

Ruanita percaya bahwa setiap perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan dukungan yang ramah, berbasis bukti, dan bebas stigma. Cerita sahabat seperti ini menjadi inspirasi kita semua untuk terus mendorong sistem layanan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih manusiawi.

Penulis: Andanistya, Relawan Ruanita Indonesia.