Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.
Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.
Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.
Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.
Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.
Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.
Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.
Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.
Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.
Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?
Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?
Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:
Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Mengompol atau yang lebih dikenal dengan nocturnal enuresis adalah suatu kondisi keluarnya urin secara tidak sengaja. Mengompol Sekunder adalah mengompol yang kembali terjadi setelah sang anak tidak pernah mengompol lagi setidaknya dalam kurun waktu setelah 6 bulan dari masa mengompol primer atau mengompol usia bayi.
Pada tahun 2018, kami sekeluarga pindah ke Jepang. Saat itu, usia anak pertama kami 3 tahun. Kami lalu menapaki lembar kehidupan baru dengan segala ritme dan kultur baru bagi kami. Alhamdulillah, anak kami sudah lulus toilet training sejak usia 2 tahun. Selama di Jepang, singkat cerita adaptasi terjadi dengan cepat dan sangat baik bagi semua, terutama untuk anak kami.
Pada tahun 2021, kami sekeluarga pindah ke Berlin, Jerman. Saat itu, anak pertama hampir berusia 6 tahun dan anak kedua berusia hampir 3 tahun. Penyesuaian diri pun tak elak kami lakukan. Penggunaan bahasa di rumah pun mengalami perubahan, Bahasa Jepang lalu Bahasa Jerman yang tentunya sangat berbeda. Sistem bahasa di rumah kami, One Parent One Language, mengalami sedikit perubahan. Dengan ayahnya, anak-anak tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Sedangkan dengan ibunya, komunikasi yang digunakan semula Bahasa Jepang, kini saya putuskan beralih ke Bahasa Jerman. Hal ini dilakukan untuk kepentingan mendukung proses adaptasi, terutama di lingkungan sekolah. Begitu kami tiba, di tahun anak kami menginjak usia sekolah dasar. Inilah juga awal cerita mengenai mengompol sekunder yang dialami anak saya.
Tahun 2021 juga bertepatan dengan masa transisi Pandemik ke Endemik. Kami datang ke kota dan negara baru yang bertepatan dengan tahun ajaran Sekolah Dasar dimulai. Ternyata, ini menjadi babak yang mungkin ‘spektakuler´ untuk anak pertama kami. Pada beberapa hari pertama sekolah, pengalaman anak masih lumayan smooth dan terjadilah mengompol sekunder ini, terutama ketika malam hari.
Beruntung, ketika dia mulai merasa berkemih, dia cepat terbangun dan lari ke toilet. Memang tidak merembes banyak tetapi dengan sifat perfeksionisnya, ternyata ini lumayan membuat dia frustasi. Ini terjadi setidaknya hampir seminggu.
Pada siang hari, beberapa kali pun sempat terjadi tetapi sekedar terlambat menyadari dan kemudian bisa ditahan, lalu dia berlari menuju toilet. Awalnya, saya melihat ini sesuatu yang biasa. Namun ketika ini terlihat berulang, mulailah saya merasa cemas. Pembawaan sosok saya yang sering disebut tegas, pun turut campur. Ternyata ini pun menjadi salah satu pemicu yang membuat frustasi anak menjadi terasa lebih berat.
Untuk anak usia sekolah dasar, yang kemudian dilakukan ibu biasanya adalah membantu mengingatkan lagi tentang rutinitas seperti membiasakan berkemih sebelum tidur dan mengingatkan untuk tidak menahan keinginan berkemih jika sedang asyik bermain. Dalam kondisi anak yang merasa frustasi, pada diri anak yang dilihat adalah “Mama yang Cerewet”. Dengan ketidakmengertian, tidak memahami, dan jauh dari kesan membantu sehingga ini membuat saya patah hati.
Sebagai ibu di zaman sekarang ini, sikap open minded saya pikir penting sekali. Selama beberapa hari dengan tujuan Bonding ibu dan anak, saya mencairkan suasana dengan sengaja menjemput dia lebih awal dari sekolah. Anak tidak mengikuti kegiatan daycareafter school.
Saya mengajak dia makan siang berdua, bermain di taman sambil berpiknik, pergi ke tempat-tempat favoritnya, hingga kami pergi menonton film di bioskop hanya berdua saja. Kami melakukan banyak pelukan, mengusap kepala, bahkan bercanda lembut, mengucapkan banyak kata penuh makna kasih sayang, dan mengapresiasi atas segala hal baik yang dia lakukan.
Tentu selama ´bonding´ ini, observasi tetap berjalan sambil sedikit demi sedikit mengeksplorasi perasaannya seperti masalah-masalah yang sedang dia hadapi. Namun, saya berusaha untuk tidak langsung ´frontal´menelisik pada masalah mengompol sekunder ini. Saya berasumsi pada saat itu, anak saya pun tidak memahami apa yang menjadi penyebab dia bisa mengompol lagi.
Saya berpikir, sangat tidak tepat rasanya pada kondisi tersebut bertanya: “mengapa bisa begini, begitu…’” pada anak. Toh, anak pasti tidak bisa menjawabnya. Walaupun pertanyaan tersebut adalah bentuk kecemasan dengan sedikit kesal dari ibu, tetapi percayalah kita tidak akan mendapatkan jawaban dari anak.
Yang terjadi adalah ibu dan anak akan sama-sama terjebak pada area debat kusir yang bercampur emosi. Mungkin, ini bisa terjadi setelah terdapat “dinding pemisah tinggi dan tebal” yang terbangun antara ibu dengan anak. Oleh karena itu, kita sebagai ibu harus berusaha tenang sebisa mungkin meskipun berbagai rasa cemas, penasaran serta emosi lain yang dirasakan.
Berjalan beberapa hari, saya mulai melihat ada titik terang. Lalu, saya datang kepada dua teman saya yang berprofesi sebagai Dokter dan Psikolog Anak. Saya datang berkonsultasi tentang masalah dan membawa beberapa kesimpulan hasil Bonding dan observasi yang sudah saya lakukan.
Dari konsultasi bersama ahli tersebut, saya semakin memahami mengenai mengompol sekunder. Selain itu, saya jadi memahami bahwa mengompol pada anak harus mendapatkan penanganan yang benar.
Anak yang mengompol bukanlah anak yang malas atau nakal. Ada beberapa penyakit atau hal psikologis yang bisa terkait. Walaupun memang kebanyakan anak-anak yang mengompol tidak memiliki masalah kesehatan, mengompol biasanya akan membuat stres untuk orang tua. Namun patut diingat bahwa stres juga terjadi pada anak itu sendiri dan membuat anak tumbuh jadi anak yang tidak percaya diri apabila tidak ditangani dengan benar.
Pada kasus anak saya, mengompol sekunder ini terjadi pada masa-masa proses adaptasi lingkungan dan sekolah baru, di mana ada rasa sedih yang mendalam terkait perpindahan dari Jepang ke Jerman. Usianya pada saat itu sudah memahami merasakan jalinan pertemanan, memiliki bonding dengan lingkungannya tetapi kemudian harus pindah ke tempat baru dan meninggalkan itu semua.
Ketika datang ke lingkungan baru, ada banyak hal yang harus dicerna, budaya, kebiasaan – kebiasaan serta bahasa yang tentunya begitu berbeda. Begitu banyak hal yang harus dicerna dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mungkin membuat jadi letih berlebih dan berimbas terhadap pengendalian diri dalam berkemih.
Berdasarkan teman – teman saya tadi, saya mendapat insight bahwa mengompol sekunder terjadi diduga karena ada masalah atau penyakit lain yang mendasarinya. Oleh karena itu, masalah atau penyakit yang mendasarinya ini yang harus dulu ditangani, sehingga diharapkan gangguan mengompol tidak terjadi lagi.
Karena masalahnya adalah psikologis, maka yang anak saya butuhkan adalah dukungan dan kehadiran sosok ibu yang menemani, meraih genggaman tangannya saat dia merasa tidak aman, mendekap erat saat dia merasa cemas, dan menyemangati dia. Benar saja, setelah masa-masa adaptasi awal ini terlewati dengan baik, dia tidak mengompol lagi.
Pentingnya mencari tahu dengan bertanya kepada ahli atau membaca juga berpengaruh sekali bagi ibu untuk bisa tetap tenang. Oleh karena itu, saya pun mencari tahu dan mendalami mengenai mengompol pada anak. Banyak artikel saya baca dan video-video saya tonton.
Sebagai penguatan batin sebagai ibu, saya pun membaca banyak artikel dan cerita mengenai luar biasanya seorang ibu. Meneladani kisah-kisah tersebut bahkan sepenggal quotes ringan tentang ibu pun saya baca hampir setiap hari.
Pesan saya untuk Sahabat Ruanita, menjadi ibu memanglah tidak mudah. Namun tetaplah optimis dan tanamkan selalu sifat mau terus belajar. Karena jiwa yang sedang kita besarkan bukan hanya sejiwa ini, tetapi ada jiwa lain yakni jiwa anak kita. Sebagai orang tua, kita perlu mendampingi anak melewati masa-masa sulit yang juga bagian dari tumbuh kembang.
Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang. Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.
Di sebuah kota kecil di Swiss, tinggal seorang anak bernama Daniel. Daniel adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Dia memiliki tekad yang kuat untuk belajar dan selalu ingin berbagi pengetahuannya dengan teman-temannya. Namun, hidupnya berubah ketika dia masuk ke kelas lima. Di kelas barunya, Daniel bertemu dengan Kevin, seorang anak yang sering merasa cemburu pada kecerdasan dan kepopuleran Daniel. Kevin merasa terancam oleh kemampuan Daniel dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sasaran bullying.
Awalnya, bullying itu terjadi secara halus, dengan cemoohan dan ejekan di balik punggung Daniel. Pertama kali, Daniel merasakan adanya sesuatu yang tidak beres adalah ketika dia mulai kehilangan teman-temannya. Mereka menghindari Daniel dan berpaling kepada Kevin, karena takut menjadi korban selanjutnya. Daniel merasa sendirian dan takut. Dia merasa tidak berdaya menghadapi sikap Kevin dan mulai merasa rendah diri.
Perubahan dalam perilaku Daniel mulai terlihat. Dia menjadi lebih tertutup, sering merasa sedih, dan prestasinya di sekolah mulai menurun. Pada suatu hari, ketika Daniel pulang dari sekolah dengan mata yang merah karena menahan air mata, ibunya, Lisa, melihat perubahan ini dan memutuskan untuk mengajak bicara Daniel. Setelah beberapa saat keraguannya luluh, Daniel akhirnya menceritakan pengalaman bullying yang dialaminya dari Kevin.
Mendengar cerita Daniel, hati Lisa teriris. Dia merasa sedih melihat anaknya yang sedang menderita. Lisa dengan tegas meyakinkan Daniel bahwa dia tidak sendirian dan bahwa mereka akan menghadapi masalah ini bersama-sama.
Bullying adalah tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan berdampak negatif bagi korban. Saya percaya bahwa bullying adalah masalah serius yang perlu segera diatasi. Bullying dapat merusak harga diri dan kesejahteraan mental seseorang, dan mempengaruhi perkembangan mereka secara keseluruhan.
Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk bersama-sama mengambil tindakan dan mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menghormati dan menghargai orang lain. Hanya dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, kita dapat menghentikan kejadian bullying.
Dari pengalaman yang dialami Daniel dan Lisa, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mereka yang menjadi korban bullying. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diambil:
Dengarkan dengan empati
Dengarkan cerita anak Anda dengan penuh perhatian dan empati. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang pengalaman mereka tanpa interupsi. Ini akan membantu anak merasa didengar dan didukung.
Berikan dukungan dan cinta
Berikan dukungan dan cinta tanpa syarat pada anak Anda. Jelaskan bahwa mereka tidak salah dan tidak sendirian. Pastikan anak merasa aman dan terlindungi di lingkungan keluarga mereka.
Ajari strategi penanganan konflik
Bantu anak Anda untuk mengembangkan keterampilan sosial dan strategi penanganan konflik yang efektif. Ajari mereka cara mengkomunikasikan perasaan mereka secara positif dan mencari bantuan dari orang dewasa ketika dibutuhkan.
Koordinasi dengan sekolah
Sampaikan masalah ini kepada pihak sekolah dan ajak mereka berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah ini.
Penyebab bullying pada anak bisa bermacam-macam, dan seringkali merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berinteraksi. Kurangnya pemahaman tentang empati dan penghargaan terhadap perbedaan orang lain, memiliki masalah kepercayaan diri dan harga diri rendah, pengaruh lingkungan seperti keluarga yang tidak mendukung atau pola perilaku agresif dalam lingkungan sekitar anak, tekanan sosial dan dorongan untuk menunjukkan dominasi atau kuasa atas orang lain, dan yang juga seringkali dilupakan adalah kurangnya memberikan pemahaman tentang dampak buruk dari tindakan bullying.
Dengan niat ingin berbagi pengalamannya, Lisa memiliki beberapa saran untuk orang tua korban Bullying, antara lain :
Yang pertama, dengarkan dan percayai anak Anda. Berikan mereka kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan pastikan mereka merasa didengar dan didukung. Kemudian berikutnya, jaga komunikasi terbuka dengan sekolah. Koordinasikan dengan guru dan staf sekolah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menangani bullying.
Kita juga perlu mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang kuat melalui kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau klub-klub yang diminati. Jangan lupa ajari anak Anda tentang pentingnya penghargaan terhadap perbedaan orang lain dan bagaimana bertindak dengan empati.
Dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Konsultasikan dengan psikolog atau konselor yang berpengalaman untuk membantu anak Anda mengatasi trauma dan membangun kembali kepercayaan diri mereka.Terus berikan dukungan dan cinta tanpa syarat. Ingatkan anak Anda bahwa mereka berharga dan tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.
Lisa juga berbicara dengan Daniel tentang pentingnya menghargai diri sendiri dan memperkuat kepercayaan diri. Mereka mencari kegiatan ekstrakurikuler yang diminati Daniel, seperti bergabung dengan klub sains dan drama di sekolah. Melalui kegiatan ini, Daniel bertemu dengan teman-teman baru yang mendukung dan menghargainya.
Selain itu, Lisa terus memberikan dukungan emosional pada Daniel. Dia selalu siap mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiran Daniel, serta memberikan nasihat dan dorongan yang dibutuhkan. Lisa juga mengajarkan Daniel tentang pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain, sehingga Daniel dapat memahami bahwa tindakan Kevin bukan salahnya.
Dalam beberapa bulan, dengan dukungan yang tak tergoyahkan dari ibunya dan tindakan yang diambil oleh sekolah, situasi mulai berubah bagi Daniel. Bullying yang dialaminya mulai mereda. Kevin mendapatkan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakannya. Mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan mereka.
Daniel belajar banyak dari pengalaman ini. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dan penuh kepercayaan diri. Dia juga mulai memahami bahwa kebaikan, empati, dan dukungan adalah senjata yang paling ampuh dalam menghadapi bullying.
Melalui kesabaran, kasih sayang, dan tindakan yang tepat, Lisa membantu Daniel mengatasi pengalaman bullying yang dialaminya. Mereka membuktikan bahwa dengan mendukung satu sama lain, kita dapat mengatasi tantangan yang sulit dalam hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin anaknya mengalami bullying sama seperti yang dialami Daniel, Lisa berpesan bahwa: “Ingatlah setiap situasi bullying adalah unik, dan solusi efektif mungkin berbeda untuk setiap anak. Kita harus tetap tunjukan empati, tanggap dan berkomunikasi dengan anak Anda. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat menghadapi pengalaman ini dengan kekuatan dan membangun kepercayaan diri yang kokoh.’’
Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang. Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.
Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.
Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.
Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.
Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.
Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.
Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.
Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.
Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.
Wanita Alfa atau lebih dikenal khalayak dengan Alfa Female, pertama kali digunakan untuk menggambarkan seorang wanita yang memiliki sifat yang kuat, independent, dan berpengaruh. Istilah ini berasal dari istilah “Alfa Male”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria yang memimpin dalam segala hal, baik dalam hal profesional maupun pribadi. Dalam hal ini “Wanita Alfa” atau Alfa Female digunakan untuk menggambarkan wanita yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan Alfa Male.
Kepribadian wanita Alfa sangat kuat. Mereka memiliki keyakinan diri yang tinggi, kemampuan memimpin dengan hebatnya dan tidak takut berbicara demi memperjuangkan pendapat. Mereka menggunakan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi digunakan dengan baik, persuasif dan bisa memotivasi banyak orang adalah salah satu caranya.
Kepopuleran dan pengaruh wanita Alfa di dunia sangat besar dan bisa dibilang meningkat setiap tahunnya. Berikut adalah beberapa tokoh wanita Alfa yang populer dan berpengaruh di dunia:
1. Kamala Harris – Wakil Presiden Amerika Serikat.
2. Angela Merkel – Mantan Kanselir Jerman.
3. Jacinda Ardern – Perdana Menteri Selandia Baru.
4. Hillary Clinton – Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.
5. Oprah Winfrey – Pembicara, Produser Televisi dan Filantropis.
6. Sheryl Sandberg – COO Facebook dan Penulis Buku “Lean In”.
7. Michelle Obama – Pengacara, Penulis dan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat.
8. Indira Gandhi – Mantan Perdana Menteri India.
9. Amanda Gorman – Penyair, Aktivis dan Penulis.
10. Sri Mulyani – Wanita sekaligus orang Indonesia Pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan Menteri Keuangan Indonesia.
Tokoh-tokoh wanita Alfa di atas sudah dicatatkan dalam sejarah sebagai pemikir terkemuka dalam bidang mereka masing-masing. Secara umum, saya melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai pemimpin inspiratif dan role model bagi banyak orang, terutama bagi kaum wanita.
Mereka membuktikan bahwa gender tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dan memimpin dalam bidang tertentu. Mereka menunjukan bahwa bukan gender, melainkan kualitas seperti dedikasi, keterampilan dan kemampuan memimpin adalah faktor yang menjadikan seorang pemimpin hebat dan sukses.
Pencapaian istimewa dari para wanita Alfa di atas adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan peran publik dan perannya sebagai wanita dengan sangat baik. Mereka mampu menjalani hidup mereka dengan sangat efektif, menjadi pemimpin di bidang mereka, dan juga memenuhi tanggung jawab sebagai seorang wanita.
Memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas mereka, memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik, dan memastikan bahwa semuanya dapat berjalan lancar. Mereka adalah wanita Alfa yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain, baik di tempat kerja maupun di rumah. Terlihat dengan jelas memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya.
Kemudian menjadi pertanyaan di benak saya, bagaimana seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa? Wanita-wanita Alfa ini sukses tidak hanya menggebrak stigma kepemimpinan yang biasa dipegang kaum pria, tapi juga memengaruhi publik serta orang yang ada disekitarnya. Menyeimbangkan peran, memberikan kontribusi yang signifikan di berbagai bidang baik di lingkungan kerja maupun di rumah adalah sesuatu luar biasa. Dengan memiliki visi yang jelas dan tidak terpengaruh oleh keterbatasan gender. Wanita Alfa memimpin dengan keterampilan dan keahlian yang luar biasa, membuat keputusan sulit dan membawa perubahan yang diperlukan.
Apakah seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa karena bentukan dari sebuah intuisi wanita itu sendiri? Ataukah menjadi seorang wanita Alfa adalah sebuah pilihan yang memang dipilih sendiri oleh wanita itu? Atau munculnya wanita Alfa ini karena lingkungan yang membuatnya? Melalui narasi-narasi di bawah ini saya coba untuk menguraikan.
Narasi yang pertama, ada seorang wanita bernama Fatimah. Sebagai anak bungsu dari keluarga mampu dan istri dari seorang pengusaha sukses, dia memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan membuat keputusan yang tepat dan cepat.
Kemampuan ini berasal dari intuisinya yang kuat dan dalam, yang seolah memberikan nasihat dan petunjuk kepadanya dalam setiap tahap hidupnya. Fatimah selalu memercayai dan mengikuti intuisinya, bahkan saat orang lain tidak setuju dengan pilihan hidupnya.
Ia memutuskan untuk mengikuti mimpinya dan mengejar karir di bidang yang benar-benar passion-nya menjadi Teknisi Mesin meskipun ini berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan pekerjaan lamanya. Intuisi Fatimah membawanya ke lingkungan dan situasi baru yang memacu pertumbuhan dan pengembangan diri.
Ia beradaptasi dan membuat keputusan yang tepat, membawanya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam bidang yang dipilihnya. Fatimah memimpin timnya dengan visi yang jelas dan tegas, memotivasi orang untuk bekerja sama dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal. Ia memimpin dengan kepemimpinan yang inspiratif dan membantu orang lain untuk berkembang dan sukses bersama.
Fatimah menjadi contoh bagi wanita lain bahwa intuisi adalah kekuatan yang sangat kuat dan dapat membantu seseorang mencapai kesuksesan dan memimpin hidup mereka. Ia membuktikan bahwa dengan memercayai intuisi dan mengikuti intuisi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan memiliki pengaruh besar dalam lingkupnya.
Narasi yang kedua, sosok wanita bernama Dian, anak sulung dan seorang ibu tunggal dengan 5 anak, kondisi keluarganya mengharuskan Dian untuk mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dian memutuskan memilih untuk menjadi sosok kepala keluarga yang kuat dan tangguh supaya bisa membawa keluarganya sukses dan mapan.
Dian bekerja dengan giat sambil menjalankan rumah tangga serta membesarkan anak-anaknya sendiri. Dian mulai membangun usaha catering rumahan yang dikerjakan sendiri pada awalnya, hingga akhirnya usaha catering-nya sukses dan memiliki karyawan total lebih dari 800 orang.
Dian berhasil memotivasi dan meyakinkan karyawan-karyawannya untuk sukses bersama dengan membuka cabang di beberapa kota lain. Di sini kita bisa melihat, Dian adalah sosok yang memiliki kemampuan dalam memilih pilihan hidupnya dengan kuat dan tegas. Tekanan lingkungan dan permasalahan demi permasalahan tidak gentar ia hadapi dengan sebaiknya.
Saat ini pada usianya menjelang 70 tahun, Dian sudah bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, menikmati masa-masa pensiun, ia berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kelima anak Dian sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat pascasarjana dan berkarir dengan gemilang.
Dian adalah contoh dari seorang wanita yang memilih untuk menjadi wanita Alfa tangguh. Ia membuktikan dengan membuat pilihan hidup yang berani, seseorang bisa menjadi wanita Alfa yang sukses memberikan dampak positif untuk dirinya, keluarganya dan juga timnya.
Narasi yang ketiga. Diceritakan bahwa Mira, wanita yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat mendukung dan membentuk dirinya menjadi wanita Alfa. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang memperkuat pemikiran dan keyakinan bahwa setiap setiap wanita memiliki potensi untuk memimpin dan berpengaruh dalam lingkup mereka.
Mira adalah anak dari seorang wanita sukses pemilik perusahaan besar yang menaungi beberapa perusahaan dan berpengaruh dalam lingkup bisnis. Ia menjadi panutan Mira dan membantu Mira memahami bahwa wanita adalah kaum berdaya yang memiliki kemampuan memimpin dan bisa memengaruhi publik. Mira memperoleh pendidikan yang kuat dan sangat menunjang serta lingkup kerja yang menyediakan kesempatan baginya untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuannya sebagai wanita Alfa.
Ia bekerja dengan tim dan pimpinan yang menghormati serta mendukung potensi dan bakat yang dimilikinya. Mira kini menjadi sosok wanita Alfa, pengusaha sukses dan aktivis yang populer menyuarakan aspirasi-aspirasi lingkungan dengan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Melalui ide-ide yang ia suarakan, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah ke arah yang lebih baik.
Sosok Mira adalah bukti bahwa lingkungan adalah tempat terbaik yang memengaruhi pembentukan pola pikir dan karakter seseorang. Ia menjadi contoh bahwa dengan memiliki lingkungan yang menghormati dan mendukung setiap potensi wanita untuk berkembang, seorang wanita bisa menjadi wanita Alfa yang sukses dan berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya.
Ada beberapa wanita yang secara alami berintuisi, memiliki kepribadian dan sikap yang kuat dalam memimpin, sementara yang lainnya mungkin harus memilih untuk mengembangkan serta memperkuat kemampuan mereka dalam memimpin melalui pelatihan atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya menawarkan “untuk menambah dan mengasah ilmu kepemimpinan”.
Saya pun percaya bahwa pengalaman hidup dan lingkungan juga memainkan peran dalam membentuk seorang wanita menjadi wanita Alfa. Terkadang, orang-orang dapat memutuskan untuk menjadi pemimpin setelah mengalami situasi atau tantangan yang membutuhkan mereka untuk memimpin dan membuktikan kemampuan mereka.
Perlu diingat bahwa setiap wanita memiliki potensi untuk sukses, tidak peduli apakah mereka memiliki sifat wanita Alfa atau tidak. Keberhasilan dalam bidang apapun tergantung pada kerja keras, dedikasi dan kemampuan belajar yang tangguh serta beradaptasi.
Jadi walaupun secara alami memiliki kepribadian dan sikap wanita Alfa, tidak ada jaminan bahwa wanita ini akan sukses. Apalagi menggebrak dan berpengaruh terhadap publik, tidak ada batasan bagi siapa saja mencapai kesuksesan.
Panggilan untuk setiap wanita: Kejarlah impian dan manfaatkan potensi Anda sepenuhnya! Ini adalah ajakan untuk memiliki keberanian dan tekad untuk memimpin dan berkontribusi positif dalam masyarakat.
Menjadi wanita Alfa di ruang publik, bukan hanya tentang sukses di bidang tertentu saja, ini tentang memiliki dedikasi dan gairah untuk mencapai kesuksesan bersama. Mari berperan ganda dan buktikan bahwa wanita bisa berdaya, membuat perbedaan positif bagi diri sendiri dan dalam hidup banyak orang.
Sampai akhirnya pada suatu hari Anda bisa berkata layaknya kalimat mutiara anonim: “Jangan meremehkan saya! Saya tahu lebih banyak daripada yang saya katakan, melakukan lebih banyak dari yang saya bicarakan dan memperhatikan lebih banyak dari yang Anda sadari.”
Penulis: Nadiya Dewantari, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman