
Nama saya Fajar. Saya adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat dan pindah ke Amerika pada Desember 2023, saat usia kehamilan saya memasuki lima bulan. Keputusan untuk pindah tidaklah mudah, mengingat saya harus meninggalkan tanah air dan memulai kehidupan baru di negeri yang serba asing. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung sepanjang perjalanan ini.
Saat pertama kali tiba di Colorado, saya merasa sangat sendirian. Di Brighton, tempat tinggal kami, hampir tidak ada orang Indonesia. Untungnya, saya kemudian bertemu komunitas ibu-ibu Indonesia di sebuah bazar masjid, yang membuat saya merasa lebih diterima dan memiliki teman untuk berbagi cerita.
Kehamilan pertama saya penuh dengan tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat. Sebelum pindah, saya rutin memeriksakan diri di Indonesia, termasuk mendapatkan buku kesehatan ibu dan anak dari Puskesmas. Dokter kandungan di Indonesia juga membekali saya dengan surat izin terbang dan obat penguat kandungan agar perjalanan panjang ke Amerika Serikat aman.
Sesampainya di Amerika Serikat, saya langsung mendaftar di Women’s Health Center di Colorado. Di sana, saya bertemu dengan bidan yang membantu saya selama masa kehamilan hingga persalinan. Setiap bulan, saya menjalani pemeriksaan rutin. Meskipun awalnya saya khawatir dengan kendala bahasa, ternyata para tenaga medis di sini sangat ramah dan selalu menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Hal ini membuat saya merasa nyaman dan percaya diri.
Melahirkan di Amerika Serikat menjadi pengalaman yang luar biasa. Saya memilih metode persalinan sesar karena alasan medis. Prosesnya sangat berbeda dibandingkan dengan cerita teman-teman saya di Indonesia. Di sini, perhatian dokter dan perawat begitu detail. Setelah operasi, mereka memastikan saya tidak merasa sakit dan memantau kondisi saya dengan cermat sebelum mengizinkan saya pulang.
Hal yang membuat saya terkesan adalah kunjungan dokter laktasi pasca-persalinan. Dokter membantu memastikan saya dan bayi saya bisa menjalani proses menyusui dengan benar. Jika ada masalah, saya bisa langsung menghubungi dokter tersebut, bahkan setelah saya pulang ke rumah. Sistem ini benar-benar membuat saya merasa didukung.
Sebagai ibu baru di negeri orang, tentu saya tidak terlepas dari tantangan emosional. Ada saat-saat di mana saya merasa kesepian, terutama ketika suami saya harus bekerja. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung. Ia membantu saya merawat bayi, dari mengganti popok hingga menenangkan bayi yang menangis.
Meski sempat merasa overwhelmed, untungnya saya tidak mengalami baby blues yang ekstrem. Saya banyak belajar untuk menerima perubahan ini dengan perlahan dan terus berkomunikasi dengan suami. Membaca cerita-cerita sahabat di Ruanita juga membantu saya merasa terhubung dengan pengalaman para ibu lainnya.
Budaya di Amerika dan Indonesia sangat berbeda, terutama dalam cara mendukung ibu baru. Di Amerika Serikat, saya melakukan tradisi baby shower, di mana keluarga besar datang sebelum bayi lahir untuk merayakan kehadiran anggota keluarga baru. Setelah melahirkan, tidak ada tradisi kunjungan seperti di Indonesia, tetapi perhatian yang diberikan melalui sistem kesehatan sangat luar biasa.
Selain itu, saya bertekad untuk membesarkan anak saya dengan nilai-nilai budaya Indonesia, seperti sopan santun kepada orang tua. Meski tinggal di Amerika, saya ingin anak saya tetap mengenal akar budayanya dan memiliki nilai-nilai yang kuat.
Melahirkan di negeri orang adalah pengalaman yang penuh dengan pelajaran. Bagi para ibu Indonesia yang menjalani perjalanan serupa, saya ingin berbagi pesan ini: persiapkan diri dengan baik, cari komunitas yang mendukung, dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan. Tidak ada ibu yang sempurna, tetapi setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bentuk cinta terbesar untuk anak kita.
Tentang Penulis: Fajar adalah seorang ibu muda yang saat ini tinggal di Colorado, Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun instagram @thomasandfajar.