(CERITA SAHABAT) Jadikan Kakek-Nenek Sebagai Support System Untuk Anak-anak, Begini Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini. 

Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik  apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.

Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.

Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa  berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.

Follow us

Kami  menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.

Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.

Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.

Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan  sampai selesai pemakaman.

Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.

Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.

Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.

Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.

Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.

Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.

Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.

Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.

Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.

Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.

Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.

Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.

Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu  kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-

Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri  masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.

Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.

Sebagai penutup, saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.