(IG LIVE) Kesedihan dan Kesepian di Hari Raya: Ruanita Indonesia Bahas Realita Emosional Perayaan di Perantauan

Ruanita Indonesia kembali menggelar program bulanan Diskusi IG Live episode Desember 2025 dengan tema yang jarang disentuh namun sangat relevan: kesedihan dan kesepian di hari raya.

Gelaran rutin bulanan ini menghadirkan percakapan santai tetapi penuh makna bersama para narasumber yang memiliki pengalaman hidup di luar negeri, khususnya dalam merayakan hari-hari besar tanpa keluarga dan dalam konteks budaya yang berbeda.

Dipandu oleh Bernadeta Dwiyani, Praktisi Kesehatan Mental di Spanyol dan Co-founder Kesmenesia, sesi ini menghadirkan dua pembicara: Firman, psikolog klinis sekaligus co-founder Kesmenesia yang menetap di Jerman dan Vero, pengajar BIPA yang tinggal di Tiongkok

Topik ini dianggap penting karena di tengah hingar-bingar Natal dan Tahun Baru, sempat terlupakan bahwa perayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Banyak orang merasakan tekanan emosional, kehilangan, bahkan isolasi; terutama mereka yang tinggal jauh dari keluarga.

Follow us

Ketika diminta menggambarkan suasana Natal di Tiongkok, Vero menjelaskan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi bagian dari tradisi mayoritas. Ia menerangkan bahwa: Natal lebih dirayakan sebatas simbol dan dekorasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, esensi dan nilai spiritualnya kurang dipahami oleh masyarakat lokal. Perayaan agama di Tiongkok cenderung diatur ketat oleh pemerintah, sehingga umat harus merayakan secara terbatas.

Meski begitu, ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan: dekorasi Natal mulai terlihat lebih terbuka dan kehadiran orang asing meningkat sehingga toleransi terhadap perayaan semakin membaik.

Namun, ketika bicara tentang pengalaman emosional, Vero tak menampik adanya rasa rindu kampung halaman: kerinduan pada masakan khas, keluarga, serta kegiatan seperti ibadah bersama menjadi pemicu kesedihan yang kerap muncul setiap menjelang hari raya.

Dalam kesempatan ini, Firman memberi penjelasan mendalam tentang mengapa hari raya dapat memicu rasa sedih atau kesepian.

Menurut Firman ada berbagai faktor, antara lain:

  • situasi hari raya sebenarnya netral, namun makna yang kita berikan bersifat personal;
  • ekspektasi sosial, termasuk gambaran ideal yang kita lihat dari iklan, budaya, dan media sosial—membentuk tekanan bahwa kita harus bahagia;
  • kehilangan, proses berduka, atau pengalaman masa lalu dapat muncul kembali ketika rutinitas berhenti dan kita punya waktu untuk merenung;
  • rasa kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik—bahkan di tengah keluarga pun, seseorang dapat merasa hampa.

Firman menegaskan bahwa rasa sedih di hari raya adalah sesuatu yang normal, bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, momen libur dapat menjadi kesempatan untuk: memproses emosi yang selama ini terpendam, mempertanyakan ulang idealisasi perayaan, memahami kebutuhan pribadi, menetapkan batasan (boundaries), dan mencari keseimbangan antara koneksi dan waktu untuk diri sendiri.

Dalam diskusi, kedua narasumber menyentuh isu yang dialami banyak pengikut Ruanita Indonesia: merayakan hari raya sebagai migran atau ekspatriat.

Tantangannya meliputi: perbedaan budaya dan norma sosial, keterbatasan kebebasan beragama, minimnya akses ke komunitas, jarak fisik dari keluarga, dan kesepian yang muncul karena “perbandingan” dengan suasana kampung halaman

Firman mendorong audiens untuk: menerima bahwa tidak semua emosi harus ceria, mengenali fase adaptasi yang sedang dijalani, membuka diri terhadap komunitas lokal atau orang-orang Indonesia di negeri tersebut, fleksibel antara kebutuhan pribadi dan sosialisasi

Diskusi IG Live ini menjadi ruang aman bagi migran, mahasiswa, dan pekerja perantauan untuk saling berbagi pengalaman. Tema yang jarang diangkat ini justru menyoroti sisi kemanusiaan hari raya: bahwa tidak semua orang bahagia, dan itu wajar.

Perayaan bukan sekadar simbol, tetapi tentang koneksi, keseimbangan, dan penerimaan diri.

Simak rekaman selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Nilai Remitansi ke Indonesia Jauh Lebih Besar dari Pariwisata

Program Cerita Sahabat Spesial Episode Juni 2023 mengangkat tema remitansi keluarga di Indonesia yang memang dirayakan secara internasional pada 16 Juni setiap tahun. Pada perayaan International Day of Family Remittances RUANITA mengundang Senior Economist, Senior Banker and Business Woman yang kini menetap di Belanda. Dia adalah Dessy Rutten yang telah 25 tahun tinggal di Eropa dan ahli dalam urusan ekonomi perbankan.

Karena keahlian dalam literasi keuangan tersebut, RUANITA meminta pendapat beliau tentang remitansi keluarga yang biasa dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia tinggal dan bekerja di luar negeri? Dari sekian alasan pastinya mereka mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dengan berbagai alasan.

Dessy menjelaskan tujuan orang Indonesia melakukan remitansi. Pertama, remitansi ditujukan untuk kebutuhan edukasi di mana orang-orang Indonesia di luar negeri banyak mendukung kebutuhan pendidikan anggota keluarga mereka di Indonesia.

Peringkat kedua, remitansi banyak dilakukan juga untuk berobat anggota keluarga di Indonesia. Alasan ketiga, orang-orang Indonesia di luar negeri melakukan remitansi untuk membangun atau merenovasi rumah di Indonesia. Baru alasan terakhir yang sebenarnya bagus dan penting adalah modal usaha.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tidak semua orang-orang Indonesia di luar negeri bertahan seumur hidup dan tinggal di luar negeri, banyak juga dari mereka yang ingin menghabiskan masa tua di tanah air. Sayangnya anggota keluarga di Indonesia tidak memanfaatkan uang remitansi yang diberikan anggota keluarga lainnya di luar negeri.

Dessy menyarankan untuk meminta anggota keluarga di Indonesia agar membuka akun bank di Indonesia agar bukti pengiriman uang dapat terekam dengan jelas. Bagaimana pun pemberian uang secara cash kepada anggota keluarga di Indonesia menurut Dessy adalah sangat tidak mendidik.

Bila melihat APBN di Indonesia, Dessy berpendapat kalau nilai remintasi itu menyumbangkan sepuluh persen. Artinya nilai remitansi sendiri lebih besar dari sektor pariwisata. Dengan potensi nilai remintasi yang besar, sudah seharusnya pemerintah beserta jajarannya untuk membuat kebijakan dan mengelolanya dengan tepat sasaran. Bukan tidak mungkin, tujuan dari International Day of Family Remittances yang diperingati setiap 16 Juni bahwa remitansi dapat berdampak pada pembangunan dapat tercapai.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak penjelasan lengkap dari Dessy Rutten di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program kami.