(AISIYU) I am Enough

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Rena yang tinggal di Swiss.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(WARGA MENULIS) PUISI – Lorong

Lorong

Marah!
Kenong seperti sudah habis kesabaran,
mengeluh tubuhnya dibentur kayu
Gema monoton minta tolong, susup di bawah sadar.
Kalau gini terus lama-lama aku bisa kesambet.

Rahimku dipenuhi janji kepalsuan
Membesar, menyesak anyir bau nafas lelaki birahi.

Follow us



Dia tak mungkin tau bagaimana menjadi bapak,
kencing saja belum lurus.
Apalagi aku, masa depanku petang.
Bagaimana mau jadi ibu?
dari sekolahpun aku ditendang.

“Cetarrrr!!”
Angin yang dari tadi diam, mengumpat ditampar pecut
Tubuh liuk, hilang ditelan ketidakadilan
Tak ada menu lain, memang hanya beling yang bisa kumakan.

Aku perempuan ditikam takdir,
menebus dosa syair jahanam rayuan setan.

Rena (@renananina)

(AISIYU) Melawan Ketakutan

Pembuat karya: Rena Lolivier

Akun Instagram: renananina

Judul karya: Melawan Ketakutan

Deskripsi: Kekerasan Verbal adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering terjadi dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar kehidupan domestik. Kekerasan ini seringkali diabaikan dan dianggap remeh, tetapi bisa menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan mental. Gambar seorang perempuan yang hendak menutup panci dengan ikan “bergigi” di dalamnya menjadi simbol bahwa perempuan sebenarnya memiliki kekuatan untuk menghentikan segala kekerasan yang mereka alami. Melalui karya ini pula saya berharap bahwa kita sebagai perempuan mampu berdiri untuk diri kita sendiri, berani untuk berhenti “mendengarkan” kata-kata yang menyakitkan dan merdeka dari kekerasan itu sendiri.

(PRODUK) Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.

Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.

Follow us: @ruanita.indonesia

Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.

Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.

Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.

(WARGA MENULIS) Bukan Sekedar “Konco Wingking”

Bicara tentang kepemimpinan, yang pertama kali terlintas di kepala saya, mau tidak mau adalah peran gender. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar suku-suku di Indonesia menganut pola patriarki dalam budayanya, di mana posisi laki-laki dianggap lebih tinggi dan dominan dibandingkan dengan perempuan.

Budaya konvensional seringkali mendiskreditkan peran perempuan baik dalam ranah domestik maupun publik. Bahkan di masa lalu, perempuan dianggap tidak layak untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan tingkat pendidikan laki-laki. Seiring bergulirnya waktu, hal ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Kiprah perempuan dari yang tadinya hanya terbatas di ranah domestik, kini semakin muncul ke permukaan.

Lahir dan dibesarkan sebagai seorang perempuan Jawa, konsep patriarki tidak lagi asing bagi saya. Dalam budaya Jawa sendiri ada istilah bagi konco wingking untuk sebutan istri atau secara literal dapat diartikan dengan “teman di belakang”.

Istilah wingking sendiri diambil dari konsep arsitektur rumah Jawa di mana dapur selalu berada di bagian paling belakang rumah, namun kata wingking atau belakang dalam istilah konco wingking dipahami sebagai posisi di mana “seharusnya” seorang perempuan di dalam ranah domestik.  Menurut ide konvensional budaya Jawa, seorang istri harus bisa memenuhi dan melayani kebutuhan suaminya yang sering kali disebut sebagai 3M: macak, manak, masak (berdandan, melahirkan, dan memasak).

Menurut Dian (1996:76) Perempuan sering kali dituntut untuk mendampingi suami dalam kondisi apapun. Pada budaya Jawa terdapat istilah: yen awan dadi theklek, yen bengi dadi melek yang berarti perempuan di siang hari menjadi alas kaki dan malam hari menjadi alas tidur.

Konsep konco wingking ini kemudian menjadi salah satu bentuk konstruksi masyarakat yang diterapkan dalam kehidupan domestik. Walaupun seiring dengan perkembangan jaman pola ini sedikit menjadi “longgar”. Longgar, bukan berarti lantas hilang.

Seperti yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007), tradisi konco wingking memberi contoh konstruksi suatu sistem budaya yang menyediakan seperangkat pengetahuan dan model untuk bertindak, baik sebagai bentuk hubungan antara unsur-unsur kehidupan maupun sebagai bentuk aturan sosial. Hal ini kemudian memberikan pedoman tingkah laku bagi perempuan, khususnya perempuan Jawa.

Pengetahuan yang dimiliki perempuan tentang konco wingking ini kemudian membentuk segala tindakan dan posisi perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Pengetahuan inilah yang kemudian menjadi domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behaviour). Oleh karena itu, pengetahuan perempuan tentang konsep konco wingking ini telah membentuk identitas struktur perempuan yang dibentuk dari tataran domestik (rumah) yang kemudian mengantarkannya pada tataran publik (sosial).

Selain macak, manak, masak, seiring dengan perkembangan jaman dan modernisasi, perempuan juga dituntut dalam peran-peran domestik lainnya mulai dari mengurus anak sampai mengatur perekonomian keluarga. Perkembangan jaman kemudian memunculkan pergeseran peran perempuan dari ranah domestik ke publik.

Hal ini merupakan tanda penting dari perkembangan realitas sosial ekonomi dan politik. Kesadaran perempuan semakin meningkat terhadap peran non domestik. Hal ini terlihat dari adanya pergeseran aktivitas perempuan yang bukan saja sebagai pelaksana terhadap pekerjaan rumah namun juga perempuan telah berperan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan bidang-bidang lain di luar rumah tangga (Abdullah 2003:22).

Semakin modern, perempuan tidak dapat lagi diobjektifikasi hanya sebagai konco wingking saja. Perempuan tidak lagi dapat ditempatkan di dalam suatu kotak atau wadah tertentu. Perempuan saat ini telah menjadi subyek yang mampu memilih sendiri di mana dia harus berpijak. Hal ini dibuktikan dari banyaknya perempuan yang bekerja dan bahkan memiliki pengaruh yang cukup kuat di dalam masyarakat.

Nama perempuan Jawa Susi Pudjiastuti tentu tidak asing lagi di telinga kita. Namanya sempat menjadi sorotan publik ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya menjadi Menteri Kelautan ke-6 Indonesia. Bagaimana tidak, seorang perempuan Jawa yang hanya merupakan lulusan SMP bisa menjabat menjadi seorang menteri.

Perempuan Jawa yang seharusnya menurut budaya konvensional hanya bisa menjadi konco wingking ini telah mendobrak tembok-tembok patriarki. Kesuksesan Susi Pudjiastuti dalam mendobrak tembok-tembok ini tentu bukan tanpa perjuangan. Susi merasa tidak bisa melakukan hal yang tidak disukainya karena baginya melakukan hal yang tidak disukai hanya akan memberikan hasil yang tidak optimal.

Setelah dikeluarkan dari bangku SMA karena terlibat aktif dalam gerakan GOLPUT yang dianggap ilegal pada masa pemerintahan Orde Baru, Susi tidak lantas diam dan menyerah. Susi lantas menjual perhiasan miliknya dan menjadikan uang hasil penjualan perhiasan itu sebagai modal usaha. Berkat kegigihan dan kepintarannya dalam menjalankan usaha, Susi akhirnya dapat membuka pabrik pengolahan ikan yang berhasil menembus pasar Asia dan Amerika.

Tuntutan untuk dapat mendistribusikan produk hasil lautnya dengan segar hanya dapat dilakukan dengan mengirimkannya menggunakan pesawat. Inilah yang kemudian menjadi langkah awal Susi untuk menjalani bisnis penyewaan pesawat.

Ketika terjadi bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004, pesawat milik Susi-lah yang pertama berhasil mengakses Meulaboh. Saat itu kota Meulaboh menjadi salah satu lokasi bencana yang paling parah. Pesawat milik Susi inilah yang kemudian digunakan untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang daerahnya tidak bisa dicapai menggunakan alat transportasi lainnya.

Dari sini arah bisnis perusahaan Susi kemudian berubah. Susi semula hanya berniat untuk mendistribusikan bantuan dengan gratis, namun ternyata banyak lembaga non-pemerintah yang meminta bantuannya untuk berpartisipasi dalam pemulihan Aceh. Lalu ketika bisnis perikanan miliknya sedang mengalami penurunan, Susi kemudian menyewakan pesawat miliknya untuk menjalankan mendistribusikan bantuan kemanusiaan.

Sampai saat ini perusahaan penyewaan pesawat milik Susi sudah mempekerjakan setidaknya 170 pilot dan mengoperasikan 50 pesawat terbang dalam berbagai jenis. Ketika kemudian Susi ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat posisi sebagai Menteri Kelautan Indonesia yang ke-6, Susi melepaskan semua jabatan yang dimilikinya untuk menghindari konflik kepentingan antara fungsi regulator dan pebisnis.

Menjabat sebagai Menteri Kelautan, sosoknya kerap menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena gayanya yang dinilai eksentrik, tetapi juga keberaniannya. Salah satunya adalah keberanian dan komitmennya untuk memberantas tindakan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUFF).

Langkahnya untuk menenggelamkan kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia menjadi salah satu kebijakan yang dinilai berani dan menjadi sorotan. Hal inilah yang menjadikan profil Susi Pudjiastuti menonjol dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat.

Sebagai perempuan, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sosok Susi Pudjiastuti. Etos kerja dan gaya kepemimpinannya tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membuktikan bahwa posisi perempuan saat ini tidak lagi hanya sekedar konco wingking. Profilnya bisa menjadi contoh bahwa perempuan bisa menjadi subyek dan dapat menentukan kehidupannya, tidak melulu harus terbentur dengan embel-embel gender.

Nyatanya di luar ranah domestik perempuan juga dapat menginspirasi perubahan dengan menjadi tokoh dan pemimpin yang baik, tidak peduli gender ataupun tingkat pendidikan yang dimiliki. Jika kita memiliki tekad yang kuat dan konsistensi semua dapat kita raih.

Karena nyatanya pendidikan itu tidak hanya melulu tentang apa yang ada di atas kertas, tetapi tentang bagaimana kita hidup dan menjalani kehidupan dengan menggunakan akal budi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Penulis: Rena Lolivier, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Swiss