(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman dan Saran Menuliskan Goals Awal Tahun, Kalau Kamu?

Halo! Nama saya Puti Ceniza Sapphira, biasa dipanggil Chica. Sejak November 2021 saya kembali merantau di Amerika Serikat, tepatnya di Upper Peninsula Michigan, kota Houghton. Kesibukan sehari-sehari saya sebagai homemaker, directing my community library in Bandung @pustakalanalibrary, menjadi Mamin di @mamarantau, dan menjadi volunteer di beberapa organisasi di sini.

Berbicara tentang resolusi awal tahun, menurut saya adalah intensi, harapan, dan capaian yang kita terapkan pada diri kita untuk menyambut tahun baru dengan semangat baru. Tentunya harapan menjadi manusia yang lebih baik lagi – baik sebagai makhluk individu, sosial, dan spiritual.  Tentunya semua  itu, biasanya dilakukan dengan berkesadaran untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Saya sendiri menulis Goals awal tahun yang jadi kebiasaan sedari usia remaja. Dengan kita memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita jadi memiliki skala prioritas. Menurut saya, Goals itu seperti panduan mau mengalokasikan energi, waktu, effort kita ke mana di tahun tersebut dan juga menjaga intensi kita untuk meraih sesuatu yang memberi dampak baik pada keberlangsungan hidup kita di tahun itu.

Ada pengalaman menarik ketika saya menuliskan Goals awal tahun. Contohnya waktu tahun 2019 lalu. Saya jadi membuka kembali jurnal di akhir 2019 nih dan membaca “New Year’s Resolution” di mana saya menuliskannya begini: read every day; learn a new language; pick up a new hobby; take up a new course; level up your skills; wake up early; weekly exercise.

Follow us: ruanita.indonesia ya!

Dan bisa ketebak ya, gagal semua 😀 Kenapa? Karena jelas dari poin-poin yang saya tulis di atas saya tidak memiliki SMART Goals. Apa itu SMART?

S itu berarti Specific: Goals kita itu harus jelas, detil dan langsung pada tujuan yang ingin dicapai. M itu berarti Measurable yang mana kita harus menjelaskan bagaimana cara kita mencapainya. A itu berarti Achievable yang mana kita harus menuliskan Goals yang realistis untuk mencapainya. R itu berarti Relevant yang mana kita menuliskan Goals yang langsung pada prioritas tujuan hidup kita. Terakhir itu T yang berarti Time-Bound yang mana kita punya timeline untuk mewujudkannya.

Selain SMART, kita juga  bisa menerapkan tips-tips membangun SISTEM dalam membentuk kebiasaan baru seperti yang ada dari buku Atomic Habits oleh James Clear. Atomic habits adalah perubahan ke arah yang lebih baik dalam skala kecil. 1% peningkatan setiap harinya. 1% improvement setiap hari bisa membawa perubahan yang sangat besar jika dilakukan secara rutin dalam 365 hari. Tujuan (Goals) lebih condong ke hasil. Kalau sistem adalah tentang proses yang kita alami buat menggapai hasil.

Dalam membentuk kebiasaan, sistem lebih penting. Mengapa? Semua orang bisa aja punya tujuan, tapi hanya orang sukses yang bisa meraihnya soalnya mereka punya sistem. Alasan kedua, tujuan membatasi kebahagiaan karena kita merasa hanya akan bahagia kalau kita meraih tujuan itu.

Jadi, bikin Goals percuma dong? Gak juga; karena keberadaan Goals akan bagus untuk menentukan arah (setting a direction) tetapi untuk memiliki progres, membangun sistem lebih penting.

Dari sumber bacaan yang saya baca, ada tiga level dalam mengubah kebiasaan. Level 1: Mengubah hasil. Seringkali tujuan levelnya ada di sini. Misal, makan lebih sehat. Level 2: Mengubah proses. Kebiasaan levelnya ada di sini. Misal, makan buah 5 macam per hari. Level 3: Mengubah identitas. Level yang terbaik karena berarti kita mengubah mindset, asumsi, kepercayaan kita daripada “saya ingin sehat” maka “Saya orang yang fit dan sehat”

Selain yang disebutkan di atas, saya pikir ada empat cara untuk membuat kebiasaan antara lain: make it obvious, make it attractive, make it satisfying, dan terakhir make it easy.

Membuat kebiasaan menulis Goals awal tahun memang tidak mudah. Ini dari sumber bacaan yang saya baca yakni kita harus punya antara lain: (1). Habit Formation. Jangan kelamaan bikin rencana dan overthinking, kebiasaannya segera dilakukan aja; (2). The Law of Least Effort. Bikin lingkungan yang mendukung pembentukan kebiasaanmu. Misal,kita ingin belajar gitar, taruh gitarnya di tempat yang gampang dilihat dan buat playlist dari YouTube untuk belajar beberapa lagu yang kamu sukai di level pemula; (3). Two-minute Rule. Waktu mulai, bikin kebiasaannya gampang. Misal, kalau pengen mulai membiasakan diri baca buku, baca sehari sehalaman aja. Kalau udah biasa, nambah lagi dikit-dikit; (4). A commitment device. Investasi ke hal-hal yang bikin kebiasaanmu lebih gampang di kemudian hari. Misal, ingin menabung, riset dan daftar ke bank yang menawarkan fitur menabung otomatis.

Cara yang jauh lebih baik untuk mendekati resolusi adalah dengan memilih satu kebiasaan baru untuk difokuskan, dan kemudian menambahkan yang lain nanti (setelah kebiasaan pertama tertanam dalam rutinitas harian Anda) – daripada 7 resolusi sekaligus yang membuat kewalahan.

Selain fokus pada resolusi yang sedikit daripada resolusi yang banyak, kita juga harus memulainya dari hal yang kecil dulu. Misalnya, jika tujuan akhir kita adalah mulai workout lebih sering maka tidak realistis untuk kondisi dari yang tidak pernah berolahraga menjadi berolahraga selama satu jam setiap hari.

Mulailah dengan menetapkan tujuan yang lebih kecil dan lebih realistis, seperti ‘Saya akan melakukan yoga stretching 5 menit setiap hari saat bangun tidur’. Ketika melakukan stretching 5 menit di pagi hari terasa lebih alami, kemudian bertahap tingkatkan menjadi 10 menit, 20 menit, dst. Mungkin perlu beberapa minggu/bulan untuk mencapai tujuan teman-teman, tetapi itu lebih baik daripada gagal di bulan Januari dan menyerah di bulan berikutnya!

Tantangannya adalah kita butuh waktu untuk bisa ngobrol dan cek ke dalam diri apa sih yang masih kurang dari diri dan apa yang ingin dikembangkan. Beberapa pertanyaan untuk ditanyakan pada diri sendiri seperti berikut ini:

  • Akankah tujuan ini memengaruhi kebahagiaan jangka panjang saya?
  • Apakah tujuan ini menguntungkan pernikahan, karier, atau keluarga saya?
  • Apakah tujuan ini secara praktis berguna untuk kehidupan saya sehari-hari?
  • Apakah tujuan in akan relevan dengan kebutuhan saya?
  • Apakah saya melakukan ini karena saya pikir orang lain mengharapkannya ini dari saya?

Utamanya adalah kesadaran dan kemauan diri untuk menjaga semangat mewujudkan Goals tersebut. Oleh karena itu penting kita membangun sistem termasuk juga partner in crime yang bisa sama-sama mengingatkan untuk semangat. Semisal, saya ingin bisa rutin nge-Gym atau fitness. Kalau sendiri, kadang ada rasa mager atau bosan, dengan ada teman jadi bisa saling bergantian kalau ada yang satu melemah semangatnya 😀

Juga keep your success in your journal, rasanya memuaskan sekali dengan membuat habit tracker dan melihat progress kita dari waktu ke waktu.

Oh ya, penting juga untuk kita selalu keep update sama topik yang ingin kita perbaiki. Misal kalau ingin mulai bisa keuangan yang sehat, coba follow, simak podcast, baca artikel/subscribe blog yang berhubungan sama topik Financial. Perluas literasi terkait resolusi yang ingin dicapai.

Terakhir ini adalah saran dan pesan saya untuk teman-teman yang ingin memulainya. Take time to think, reflect, and write what is your ideal life and how you perceive your better self next year. Make it SMART and build a SYSTEM that makes you eager to pursue it!

Penulis: Puti Ceniza merupakan mamarantau di Houghton, MI, AS. Di tengah menyempatkan diri untuk menjadi relawan aktif beberapa komunitas di kotanya ia juga menjalani peran sebagai Director di perpustakaan komunitas yang ia dirikan sejak 2015 di Bandung, @pustakalanalibrary.

(CERITA SAHABAT) Resolusi Awal Tahun: Rencanaku Belum Tentu RencanaNya

Aku tidak memiliki resolusi tahunan seperti orang-orang kebanyakan yang membuatnya sebelum tahun berakhir dengan me-publish-nya di media sosial, menulisnya di sebuah notes book, dan menempelnya di atas meja kerja. Aku membuat resolusi hidup jangka panjang di benakku sendiri. Aku hanya menjelaskan hal itu kepada diriku sendiri. 

Hal itu merupakan rancangan rencana-rencana tahapan kehidupanku yang “harus” aku capai. Seperti apa aku ingin melihat diriku di 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Aku telah membuat nya sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu. Saat umurku 20 tahun. Sekarang umurku sudah 26 tahun. Resolusi jangka panjangku tidak memiliki waktu mulai atau batas waktu “kadaluarsa”.

Hal tersebut tentu saja berjalan tidak seperti yang aku rancang. Contohnya, aku mengusahakan di saat umurku 25 tahun, aku sudah menyelesaikan studi Bachelor dan Master-ku di Jerman. Kemudian di umur 26 tahun aku bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan, umur 27 tahun aku menikah dengan pujaan hatiku, 28 tahun – 30 tahun aku menjadi seorang ibu dan isteri yang baik sekaligus melanjutkan S3 dan mengajar di sebuah universitas di Jerman. 

Namun kenyataannya 6 tahun setelah resolusi jangka panjang tersebut dibuat, aku baru saja menyelesaikan Bachelorku dan aku baru melanjutkan studi master. Aku belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaanku sekarang paruh waktu sebagai kasir di sebuah toko supermarket. Selain itu, aku mencari tambahan uang bekerja di  sebuah pabrik obat untuk bagian pengemasan. 

Hidupku tidak sespektakuler dan menjanjikan seperti rancangan resolusi yang telah kubuat. Aku juga punya resolusi lain juga seperti meningkatkan ketaatanku kepada Tuhan, selalu tepat waktu beribadah, selalu menambah hafalan surah-surah, lebih mengasihi, lebih beramal di saat apapun dan keadaan sulit. 

Aku harus menjaga kesehatan jasmaniku karena beberapa anggota keluargaku meninggalkan kami dalam keadaan sakit. Aku tidak menginginkan orang yang menyayangiku akan kehilanganku karena suatu penyakit. Itu sebab aku memulainya sedini mungkin dan sadar bahwa kesehatan dimulai dari cara kita berpikir, yaitu bersikap positif. 

Buatku keluarga adalah sekelompok orang yang menyatu karena ikatan darah, kemiripan sifat maupun fisik, atau mempunyai pandangan hidup atau perspektif dalam kehidupan yang sama. Sebagai keluarga, kita wajib bertugas untuk saling menyayangi, mendukung, melindungi, dan memotivasi, di dalam perjalanan untuk tumbuh berkembang bersama. Kita tidak memiliki batas kesabaran dan maaf untuk satu sama lain. 

Sebagai keluarga, kita bersedia ada untuk satu sama lain dalam 24 jam 7 hari. Kita ada mulai dari titik kehidupan tertinggi hingga terendah. Sebagai keluarga, kita bersama sampai tugas duniawi masing-masing berakhir dan berkumpul lagi di suatu tempat yang kekal.

Aku tidak mau terlalu bahagia, atau terlihat bahagia, karena bisa jadi datang ujian, entah ujian kecil atau pun ujian besar. Ada orang yang melihat orang lain bahagia, dia akan ikut bahagia dan mendoakan orang tersebut. Namun banyak juga orang yang melihat orang lain bahagia lalu berusaha untuk menghancurkannya. Aku tetap menikmati rasa bahagia itu dengan rasa bersyukur dan bersiap-siap untuk tahap ujian selanjutnya. 

Diremehkan tentang “kepintaran” sudah aku alami sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga besar dari tante-tanteku. Aku juga diremehkan oleh sepupu dan teman-teman sebaya yang masih sama-sama berjuang di Jerman ini. 

Ketika seseorang meremehkan atau memandang seseorang sebelah mata, menurutku, orang tersebut sebenarnya belum cukup mencintai dirinya sendiri. Bisa jadi dia belum cukup puas dengan apa yang dia capai selama ini. Atau dia sedang menghadapi krisis kepercayaan diri sehingga dia mengemis pengakuan dan pujian dari orang lain. 

Ketika aku sedang mengalami krisis kepercayaan diri atau aku merasa apapun yang aku jalani tidak sesuai dengan planning jangka panjangku maka aku selalu ingat, bahwa Tuhan adalah planner terbaik dan tersukses. Dia adalah segalanya. Menurutku, aku sudah lalui dan jalani saat ini dan ke depannya sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa.

Aku tidak perlu bersedih atau berkecil hati. Aku hanya harus terus berusaha, berusaha dan berusaha termasuk menekan egoku dan kemalasanku. Sampai saatnya aku berserah diri, dan bersyukur. Tidak ada lagi hal yang dapat aku lakukan di luar itu. 

Apapun resolusi yang kamu buat, entah tahunan maupun jangka panjang sepertiku, hal tersebut harus dapat memotivasi, meningkatkan rasa percaya diri dan memacu sifat konsisten yang kamu miliki. 

Tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih baik dan buruk. Bagiku, semua resolusi yang kamu sematkan, hanya kamu sendiri yang akan jalani dan lalui. Bukan orang lain yang melakukan hal tersebut untuk kamu. Oleh karena itu, jangan juga kita menyamakan atau membandingkan dirimu dengan orang lain. Jadilah dirimu sendiri! Karena kamu berarti dan kamu harus menghargai segala hal yang ada di dirimu.

Penulis: Mahasiswa Master yang tidak pamer resolusi awal tahun dan tinggal di Jerman.