(SIARAN BERITA) Ruanita dan KBRI New Delhi Gelar Diskusi Daring dan Hadirkan Wawasan Lintas Budaya untuk Keluarga Indonesia–India

NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.

Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.

Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.

Follow us

Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.

Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.

Follow us

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.

Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.

Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)

Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Bagaimana Sadari Alzheimer Sedini Mungkin?

Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati tiap 21 September, Ruanita Indonesia mengundang dua sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda dan di Australia.

Tema yang diskusi IG LIVE yang diangkat adalah kenali dan sadari Alzheimer sedini mungkin, yang masih dipandang awam oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Diskusi IG Live lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Jerman.

Sebagai awalan, Rida bertanya tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, risiko Alzheimer pun sudah mulai ditunjukkan di usia sekitar 30 – 40 tahun. Resiko Alzheimer semakin tinggi ketika seseorang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Di Belanda sendiri, menurut Manik, telah ada 15 ribu orang yang didiagnosa Alzheimer.

Menurut Yacinta, kita perlu mengetahui riwayat keluarga apakah anggota keluarga punya risiko Alzheimer, agar kita bisa mengetahui sedini mungkin.

Sebagaimana tema tahun ini, yang dijelaskan oleh Manik, yakni Time to Act yang menjadi aksi bersama untuk mencegah Alzheimer sedini mungkin.

ALZI NEDERLAND punya tiga pilar antara lain: komunikasi, edukasi, dan juga outreach, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan demensia dan Alzheimer.

Selain memperkuat kesadaran akan Alzheimer, ALZI NED juga menjadi jembatan dengan keluarga kita di Indonesia dan situasi di Belanda.

Hal yang penting diingat adalah Alzheimer itu berkaitan dengan culture yang membantu orang dengan Alzheimer dapat memulihkan kondisinya.

Itu sebab, pentingnya kesadaran akan Alzheimer ini ditingkatkan agar menjadi aksi gerak bersama untuk keluarga yang memiliki orang dengan Alzheimer dan pemerintah.

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita episode September 2024 berikut ini di kanal YouTube kami:

Subscribe kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Meditasi Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana?

Mindfulness Practice telah terbukti membantu dalam meningkatkan kesehatan jiwa dan raga, salah satunya kebiasaan sederhana meditasi. Apakah meditasi hanya berkaitan dengan ajaran agama tertentu? Apakah mindfulness practice hanya untuk kalangan orang kaya? Bagaimana cara membangun kebiasaan baik meditasi dalam kehidupan sehari-hari? Apa tantangan membangun kebiasaan baik meditasi ini dalam hidup sehari-hari?

Untuk membahas lebih dalam lewat program diskusi IG Live, Ruanita Indonesia mengudang sahabat Ruanita yang tinggal di Taiwan dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan saran tentang kebiasaan meditasi yang sudah mereka lakukan. Mereka adalah Nikita Nazhira, yang adalah Reiki Master dan wiraswasta yang sedang menetap di Taiwan dan Maria Frani Ayu, yang adalah perawat kesehatan jiwa yang aktif menulis masalah kesehatan mental di Indonesia.

Membangun kebiasaan meditasi dalam kehidupan sehari-hari memang bukan hal yang simpel. Hal ini diakui oleh Nazhira setelah dia memulainya sejak empat tahun lalu. Saat itu, Nazhira sedang hamil anak pertama ketika dia mengalami kecemasan untuk menghadapi kehamilan seorang diri. Nazhira pun mengakui manfaatnya setelah menjalani kebiasaan meditasi rutin, terutama berpengaruh pada proses melahirkan untuk lebih tenang dan rileks.

Ayu menuturkan bahwa orang banyak beranggapan meditasi terkait pratik agama tertentu, tetapi sebenarnya meditasi itu baik untuk kesehatan jiwa raga. Pada akhirnya, meditasi ini menjadi konsep lintas agama dan gaya hidup orang-orang moderen yang memiliki banyak tantangan. Bahkan meditasi dianjurkan untuk dilakukan setiap hari karena sangat bermanfaat untuk mereduksi stres.

Tidak hanya meditasi yang sulit dipraktikkan setiap hari, banyak kebiasaan baik memang sulit untuk dilakukan tanpa disertai niat dan konsistensi. Demikian penuturan Nazhira. Nazhira menambahkan ada banyak cara membangun kebiasaan baik ini, mulai dari gratis hingga berbayar. Nazhira sendiri membuka kelas meditasi yang ditawarkan mulai dari harga IDR 500 ribu rupiah.

Apa yang membedakan mindfulness practice dan meditasi? Ayu menegaskan dua hal berbeda untuk istilah tersebut, tetapi ketika digabung maka dua istilah tersebut menjadi kuat untuk dipraktikkan. Ayu juga menegaskan betapa sulitnya untuk dipraktikkan bagi mereka yang sedang mengalami gangguan kecemasan. Ayu pun menjelaskan bagaimana menghindari monkey minds saat meditasi.

Simak selengkapnya diskusi IG Live tersebut di kanal YouTube kami dan jangan lupa pastikan untuk SUBSCRIBE ya

(IG LIVE) Mendiskusikan Self-Compassion dari Keilmuan Psikologi dan Praktik Sehari-hari

Dalam diskusi IG Live Ruanita Indonesia di bulan Juni mengangkat tema self-compassion bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kedua tamu diskusi IG Live adalah Fransisca Mira, yang adalah akademisi dan peneliti di bidang ilmu psikologi yang tinggal di Jerman dan Monique Aditya, yang adalah penulis buku dan penyintas KDRT yang kini menetap di Singapura.

Diskusi IG Live yang berlangsung sekitar empat puluh menit tersebut dipandu oleh Rida yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Self-compassion adalah cara kita untuk memperlakukan diri kita, dalam keadaan baik maupun buruk dalam hidup. Demikian Rida mengawali diskusi sebelum membahasnya lebih dalam.

Fransisca mengawali diskusi dengan ilustrasi sosial, yang mana kita sering kali mendapatkan kritikan atau pujian. Secara pribadi, kita tidak mudah menerima pujian dan kritikan sosial juga.

Menurut Fransisca, ini penting untuk memiliki self-compassion, yang secara etimologinya berarti melakukan apa yang kita suka, termasuk ketika kita sedang dalam situasi negatif atau tidak baik-baik saja.

Justru, kita bisa menerima kesulitan dan tetap peduli pada diri sendiri, dengan tidak memberikan kalimat negatif. Self-Compassion menurut Fransisca, secara teori terdiri atas tiga hal yakni: Self-kindness; Common Humanity atau Humannes; dan Mindfulness.

Follow us.

Tahun 2007, Monique mengakui berada di fase yang sulit ketika dia pernah merasa gagal dalam berumah tangga. Monique pun mengajak kedua anaknya untuk melihat keluarga secara utuh, meski tidak ada figur ayah saat itu.

Dengan begitu, Self-compassion membantu Monique untuk mengatasi keterpurukan situasi yang dialaminya. Monique pun mengakui self-compassion itu penting.

Bagaimana kita bisa menyayangi orang lain kalau kita tidak bisa menyayangi diri sendiri? Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang bertumbuh dan berbahagia.

Begitu pun Fransisca menceritakan pengalaman sulitnya menjadi peneliti di Jerman, di mana kerap ia merasa overthinking pada situasi pekerjaannya.

Bagaimana literatur psikologi tentang self-compassion? Apa saja contoh-contoh self-compassion dalam kehidupan sehari-hari? Apa manfaat self-compassion? Mengapa self-compassion itu begitu penting dalam meningkatkan kesehatan mental?

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita tersebut dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Mendiskusikan Partisipasi Perempuan dalam Dunia STEM

Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia memiliki program diskusi IG Live yang dilaksanakan tiap bulan dengan tema-tema menarik. Di bulan Mei 2024, Ruanita Indonesia mengangkat tema perempuan dalam dunia STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), terutama melihat peluang karier dan kewirausahaan untuk perempuan Indonesia.

Dalam membahas tema ini, kami mengundang Zakiyatul Mufidah Ahmad yang adalah seorang dosen di Indonesia yang juga adalah penerima beasiswa LPDP. Zakiya, begitu dipanggil, sedang menempuh studi S3 di Inggris dengan topik penelitian berfokus pada aktivis perempuan dalam dunia digital.

Zakiya menjelaskan alasan mengapa dia tertarik untuk meneliti topik tersebut, karena kegelisahannya melihat partisipasi perempuan perempuan yang masih terbilang rendah dan belum ramah pada perempuan.

Dengan latar belakang kajian gender di masa studi S1 dan S2, Zakiya berharap kajian gender di dunia digital akan membantunya untuk memetakan bagaimana permasalahan dan kebutuhan perempuan Indonesia. Perempuan dalam dunia STEM cenderung rendah dapat difokuskan pada ideologi pemerintah Indonesia yang menempatkan peran perempuan dalam domestik, yang jauh dari dunia digital.

Follow us: ruanita.indonesia

Meski dalam diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Lany disebabkan oleh masalah teknis, tetapi diskusi tetap berjalan terlebih pada fokus peran perempuan dalam dunia digital. Pemerintah dapat meningkatkan keterampilan vokasional untuk melibatkan perempuan dalam dunia digital, bersama NGO/LSM.

Menurut Zakiya, di Indonesia, perempuan begitu sulit dan takut untuk menjadi aktivis dalam dunia digital, selain masih banyak keterbatasan infrastruktur digital di area remote di Indonesia. Penting juga tools dan fasilitas yang dapat mendorong perempuan dapat lebih aktif di dunia digital, tentunya pemerintah dapat memberikan fasilitas tersebut di masa mendatang.

Bagaimana angka partisipasi perempuan Indonesia dalam dunia digital? Bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendukung partisipas perempuan dalam dunia digital? Apa saja yang perlu dilakukan perempuan agar dapat meningkatkan peluang karier dan kewirausahaan di dunia STEM di Indonesia? Apa pesan dan harapan para tamu dalam diskusi ini?

Simak rekaman selanjutnya dalam kanal YouTube kami berikut

Jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Kepemimpinan Perempuan

Hari Perempuan Internasional yang dirayakan tiap 8 Maret menjadi kesempatan bagi Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia untuk bersuara tentang bagaimana partisipasi perempuan Indonesia, terutama di wilayah global. Ruanita menggelar berbagai program online selama tiga minggu berturut-turut, termasuk di antaranya melakukan diskusi IG Live yang memanfaatkan platform instagram untuk berdiskusi selama 30-40 menit.

Pada episode spesial ini, Ruanita mengangkat tema kepemimpinan perempuan yang menjadi kaitan dengan Workshop Warga Menulis dan Hari Perempuan Internasional di tahun lalu. Ruanita sendiri telah berhasil menerbitkan buku kedua bersama APPIBIPA Jerman, yakni “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang ditulis oleh 13 warga Indonesia di Eropa.

Untuk membahas lebih dalam tentang kepemimpinan perempuan, kami mengundang Dyah Kartika Ayu, seorang mahasiswi S3 di The University Australian National University, Monash University, dan tinggal di Australia dan juga Aini Hanafiah, seorang kontributor buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang tinggal di Norwegia.

Follow us

Dyah Kartika Ayu, atau yang biasa disapa Katy menjelaskan bagaimana dinamika gerakan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Hanya saja potret gerakan perempuan ini tidak banyak dipublikasikan dan lebih banyak menyorot patriotisme kaum laki-laki.

Gerakan perempuan di masa kini sudah banyak di bidang profesionalitas, seperti menjadi pemimpin di perusahaan atau industri usaha kecil/menengah. Katy mengakui sudah terjadi perubahan dinamika kelompok perempuan sesuai ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Memang diakui bahwa angka partisipasi perempuan di bidang politik dan pemerintahan terbilang rendah. Berdasarkan penelitian, Katy menyatakan ada kesulitan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi sebagai caleg. Misalnya, faktor personal perempuan yang punya kapabilitas sebagai caleg hanya saja terbentur biaya yang tidak murah.

Perempuan yang menjadi caleg kebanyakan adalah mereka yang punya modal cukup besar. Selain itu, masih ada diskriminasi dan bias stigma terhadap caleg perempuan. Diskriminasi dan bias stigma juga masih terjadi di antara sesama perempuan, semisal bagaimana kita masih melihat cara pandang terhadap Bos perempuan.

Pendapat berbeda tentang kepemimpinan perempuan disampaikan oleh Aini Hanafiah yang berfokus bagaimana peran perempuan di area privat atau keluarga. Bahwa masih banyak pandangan bahwa peran ibu adalah pelengkapnya ayah, kenyataannya tidak demikian. Menjalani peran sebagai ibu, Aini memberi pandangan berbeda terutama saat Aini harus menetap di mancanegara dengan berbagai tantangan yang berbeda saat berada di Indonesia.

Bagaimana dinamika perempuan memimipin yang sudah ada dalam sejarah bangsa Indonesia? Bagaimana pandangan Dyah Kartika Ayu tentang kepemimpinan perempuan di bidang legislatif di Indonesia? Apa saja yang membuat perempuan sulit mendapatkan kesempatan memimpin di bidang politik dan pemerintahan? Apakah mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin dalam keluarga atau area privat? Tantangan seperti apa yang dihadapi perempuan Indonesia dalam memimpin kehidupannya saat mereka berada di mancanegara?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia di Mancanegara dalam Pemilu 2024

Sebagaimana kita ketahui Indonesia akan menggelar pemilihan umum pada 14 Februari 2024. Tidak semua negara memberlakukan peraturan dan kebijakan yang sama, di mana warga negaranya yang berada di luar negeri, memiliki kesempatan untuk tetap ikut memilih meski tinggal di luar negeri.

Untuk warga Indonesia di luar negeri, dianggap masuk dalam dapil yang mengikuti lokasi Kementerian Luar Negeri di Jakarta, yang membawahi KBRI/KJRI tempat di mana warga Indonesia tercatat di luar negeri.

Untuk membahas lebih dalam tentang proses pemilihan umum yang berlangsung di luar negeri dan bagaimana perempuan Indonesia dapat tetap terlibat dalam pemilihan umum, meski di luar negeri, Ruanita Indonesia mengundang narasumber.

Narasumber berikut ini adalah dua perempuan yang telah terpilih menjadi panitia pemilihan umum di luar negeri. Adalah Etty P Theresia yang didapuk sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri Frankfrut 2024 dan tinggal di Jerman, yang kemudian narasumber berikutnya adalah Utari Giri, yang terpilih sebagai Ketua PPLN Dubai 2024 dan tinggal di Uni Emirat Arab.

Follow kami ya @ruanita.indonesia

Karena kondisi teknis dan permasalahan lokasi yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Utari Giri, maka diskusi IG Live mengalami permasalahan, di mana Utari Giri tidak sepenuhnya bisa hadir dan terlibat. Beliau sedang mendapatkan tugas Bimbingan Teknis dan secara kebetulan ada kendala internet sehingga membuat diskusi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pemilihan umum di luar negeri memiliki tiga metode, menurut Etty menjelaskan. Rida, Mahasiswi S2 di Universitas Passau, Jerman mengakui bahwa dia mendapatkan kertas suara melalui pos dan perlu dikirimkan untuk memenuhi hak pilihnya. Selain dikirimkan via pos, bentuk pemilihan umum lainnya adalah datang ke lokasi yang disediakan oleh KBRI/KJRI di negara lokasi tinggal.

Di Jerman, menurut Etty, pemilihan umum serempak dilaksanakan pada Sabtu, 10 Februari 2024 sesuai lokasi yang dipilih oleh KBRI/KJRI setempat. Metode lainnya yang tidak dipergunakan di Jerman adalah metode keliling yang dilakukan petugas pemilu.

Etty mengaku penasaran dengan metode ini, yang mungkin bisa diceritakan oleh Utari Giri yang menjadi Ketua PPLN di Dubai. Sayangnya, kendala teknis telah membuat Utari tidak bisa hadir dalam diskusi IG Live.

Etty pun menjelaskan bagaimana perempuan Indonesia di mancanegara dapat terlibat untuk mendukung perhelatan akbar ini. Tidak menyebarkan hoaks/berita bohong atau memantau bagaimana pelaksanaan pemilu di lokasi tinggalnya, pun bisa dilakukan.

Siapapun bisa melaporkan kalau ada pelaksanaan yang tidak benar, tidak tepat, atau berpotensi kecurangan. Perempuan perlu memerhatikan apabila ada potensi kekerasan berbasis gender yang ditujukan kepada perempuan, yang memilih atau bertugas sebagai panitia pemilihan umum.

Apa saja tugas-tugas panitia pemilihan umum di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Etty? Apa saja pengalaman menarik selama mempersiapkan perhelatan akbar di Jerman, yang dilakukan oleh Etty dan kawan-kawan yang terlibat?

Selain menjadi panitia pelaksana pemilu, apa saja yang bisa dilakukan perempuan Indonesia di mancanegara untuk mendukung terselenggaranya pemilihan umum? Apa pesan Etty sebagai Ketua Panwaslu Luar Negeri di Frankfurt?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut:

Dukung kami dengan subscribe kanal YouTube kami.