(SIARAN BERITA) Film “Dua Kali” Dorong Kesadaran Kesehatan Mental dan Berani Patahkan Stigma Sosial

Berlin, 18 Oktober 2025 – Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial yang kuat, khususnya dalam isu kesehatan mental. Mengusung tema “Berani Bicara akan Kesehatan Mental”, acara Diskusi & Nonton Bareng Film “Dua Kali” berhasil diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2025, di Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Ruanita Indonesia, KBRI Berlin, Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin, dan Kesmenesia, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka percakapan publik tentang kesehatan mental, meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia di Jerman terkait stigma sosial, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya relawan Ruanita di Jerman, sebagai kreator lokal yang berani mengangkat isu kesehatan mental.

Acara dimulai pukul 16.00 dengan registrasi dan ramah tamah, diikuti pengantar dari Rensi, dilanjutkan sambutan dari Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Dimas Wisudawan.

Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter “Dua Kali” yang disutradarai oleh Ullil Azmi dan diperankan oleh Mariska Ajeng, keduanya tinggal di Hamburg.

Follow us

Film ini menampilkan pengalaman hidup individu dengan gangguan mental dalam konteks transnasional, sekaligus menjadi medium untuk membangun empati dan membuka dialog publik.

Sesi diskusi panel menghadirkan perspektif bagaimana kehidupan lintas budaya Indonesia-Jerman yang dimoderasi oleh Rensy Kireyne, mahasiswi di Jerman. Penanggap adalah Walter Ng, yang juga seorang mahasiswa di Jerman dengan lugas menceritakan pengalaman dan tantangan tinggal di Jerman, termasuk bagaimana menghadapi isu kesehatan mental.

Tim film berbagi proses kreatif pembuatan film dan refleksi tentang keberanian mematahkan stigma sosial. Firman Tambunan, Co-founder Kesmenesia dan Psikolog Klinis di Jerman, ikut memberikan pandangan profesional mengenai prosedur mengakses layanan kesehatan mental di Jerman, serta perspektif budaya Indonesia terkait stigma mental. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta, yang berlangsung hingga malam hari.

Acara ini dihadiri oleh komunitas Indonesia di Berlin dan sekitarnya, serta individu yang tertarik pada kesehatan mental, psikologi, dan budaya Indonesia. Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta dapat melihat bagaimana film dapat menjadi alat advokasi sosial, mendorong kesadaran baru, serta memperkuat solidaritas komunitas terhadap isu kesehatan mental.

Dalam kesempatan ini, Kesmenesia juga diperkenalkan sebagai organisasi yang berfokus pada layanan komunitas Indonesia di Eropa secara profesional dan inklusif, dalam menyediakan pendampingan kesehatan mental yang berbasis empati dan keterbukaan.

Acara Diskusi dan Nonton Bareng Film “Dua Kali” menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat bersinergi untuk menciptakan ruang diskusi yang aman, mematahkan stigma, dan mendorong masyarakat lebih berani membicarakan isu kesehatan mental.

Informasi lebih lanjut dapat mengontak Marieska Ajeng, Koordinator Program melalui email info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.