(PODCAST PMI STORIES) “Telinga dan Mental Baja” Saat Bekerja di Singapura

Mengawali program audio podcast perdana PMI (=Pekerja Migran Indonesia) Stories, Dewi Lubis selaku host program mengundang sesama pekerja migran di Singapura. Dia adalah Nova Haryanti, yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di Singapura. Karena di balik julukan “mental baja”, ada manusia pekerja yang belajar bertahan, hari demi hari, jauh dari rumah.

Cerita Nova dibagikan dalam episode perdana Podcast PMI Stories yang dikelola oleh Ruanita, dengan Dewi Lubis, sesama PMI di Singapura, sebagai host. Podcast ini membuka ruang aman bagi pekerja migran perempuan untuk bersuara, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Bekerja sebagai pekerja migran di Singapura bukan sekadar soal keterampilan domestik. Di balik rutinitas membersihkan rumah, menjaga anak, dan memasak, ada tuntutan yang jauh lebih berat, sehingga disebut bermental baja.

“Di sini kita dilarang baper,” kata Nova Haryanti, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lampung yang telah sebelas tahun bekerja di Singapura. “Kadang kata-kata majikan itu menyakitkan. Tapi kita harus bisa menahan diri, menerima, dan tetap profesional.”

Julukan “negeri bertelinga dan mental baja” bukan tanpa alasan. Di Singapura, ketegasan, kecepatan, dan disiplin adalah standar hidup sehari-hari. Itu sebab para pekerja migran harus beradaptasi cepat atau tertinggal.

Keputusan Nova untuk bekerja ke luar negeri berangkat dari niat sederhana, yakni dia ingin membantu perekonomian keluarga. Saat itu, Singapura bukan mimpi besar, melainkan peluang yang terlihat nyata karena banyak tetangga di kampungnya sudah lebih dulu merantau.

“Aku berangkat lewat sponsor. Prosesnya panjang dan melelahkan,” kenangnya. Ia harus bolak-balik Lampung–Jakarta untuk mengurus dokumen, paspor, dan medical check-up. Rasa cemas terus menghantui, karena satu hasil pemeriksaan saja bisa menggagalkan keberangkatan.

Dukungan keluarga pun datang setengah-setengah. “Yang benar-benar mendukung cuma mama,” ujarnya. Meski penuh kekhawatiran, sang ibu akhirnya melepas Nova pergi. Menurut Nova, dia adalah seorang anak gadis dengan modal nekat dan keberanian.

Hari-hari pertama di Singapura menjadi ujian mental tersendiri. Nova menggambarkannya sebagai perasaan campur aduk, seperti bingung, tidak nyaman, dan sangat kesepian.

Ia terkejut dengan ritme hidup yang serba cepat dan disiplin waktu yang ketat. Bahkan langkah kaki orang-orang terasa dua kali lebih cepat dibanding di Indonesia. Hal kecil pun menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan, seperti saat ia sadar bahwa air keran di Singapura bisa langsung diminum.

“Di boarding house tidak ada air minum. Ternyata air keran bisa diminum dan itu normal di sini. Saya benar-benar shock.

Sebagai pekerja rumah tangga, tugas Nova meliputi menjaga anak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan dapur, dan memasak. Jam kerjanya panjang. Pada majikan pertama, ia bekerja dari pukul enam pagi hingga sebelas malam. Di majikan kedua, jam kerja sedikit lebih manusiawi: pukul delapan pagi hingga sepuluh malam.

Perbedaan budaya kerja terasa sangat nyata, terutama dalam hal komunikasi. “Orang di sini sangat to the point,” ujar Nova. Keterbatasan bahasa Inggris sempat menjadi hambatan besar. Di awal bekerja, ia bahkan harus berkomunikasi dengan majikannya menggunakan Google Translate.

“Tapi dari situ saya belajar. Bahasa itu penting, bukan cuma untuk kerja, tapi untuk bertahan.”

Sebelas tahun di Singapura mengajarkan Nova tentang kemandirian dan kesabaran. Hidup jauh dari keluarga memaksanya belajar mengelola emosi, waktu, dan pikiran positif di tengah situasi yang menantang.

“Kita hanya punya dua pilihan antara menyerah atau bertahan dengan keputusan besar yang sudah kita ambil,” ujarnya.

Untuk pemerintah Indonesia, Nova menekankan pentingnya akses informasi yang transparan dan perlindungan yang lebih kuat bagi PMI, terutama terkait hak pekerja, kontrak kerja, dan bantuan hukum. “Kami ingin merasa aman dan yakin bahwa kami benar-benar dilindungi, meski jauh dari tanah air.”

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Nova bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Bahasa Ibu, Jejak Identitas Saya di Perantauan

Halo, sahabat Ruanita! Saya lahir dan besar di  Jawa Barat. Dari sana perjalanan saya bermula: belajar, bermimpi, dan akhirnya melangkah menembus batas geografi menuju negara-negara jauh. Sejak kecil saya selalu dekat dengan bahasa, dengan cerita rakyat Sunda, dengan nyanyian ibu, dengan pelajaran di sekolah. Tidak pernah saya sangka, bahasa yang saya pelajari dengan penuh cinta inilah yang akan menjadi jalan hidup saya.

Hari ini, ketika saya menulis refleksi ini dari Helsinki, Finlandia, dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai perempuan Indonesia yang menjadikan bahasa sebagai jembatan budaya. Perjalanan ini bukan hanya soal karier, tapi juga soal identitas, akar, dan tanggung jawab.

Saya menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan bahasa, sebuah bidang yang sejak awal saya yakini akan menjadi lahan pengabdian saya. Dari kelas-kelas kecil di Sukabumi, saya melanjutkan ke kota besar, lalu akhirnya keluar negeri.

Saat ini saya sedang menjalani program PhD di University of Helsinki dalam bidang Teacher Education. Selain itu, saya juga tengah menyelesaikan International Professional Teacher Education (IPTE) di Häme University of Applied Sciences. Dua jalur studi ini menantang, tetapi sekaligus memperkaya wawasan saya sebagai seorang pendidik.

Di sisi lain, saya tetap aktif mengajar. Saat ini saya dipercaya mengajar bahasa Indonesia di University of Victoria, Kanada. Perjalanan akademik saya memang berkelindan dengan perjalanan mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang saya mulai sejak masih di Indonesia.

Banyak orang bertanya: mengapa memilih BIPA? Mengapa tidak bidang lain yang lebih “besar” atau lebih menjanjikan dari segi karier?

Bagi saya, jawabannya jelas. Saya percaya bahwa bahasa adalah pintu gerbang budaya. Dengan bahasa, kita bisa memahami cara berpikir, cara merasa, cara sebuah masyarakat menata hidup. Dengan mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing, saya tidak hanya mengajarkan kata-kata, tata bahasa, atau aturan. Saya mengajarkan sebuah identitas bangsa, membuka pintu persahabatan, dan menghadirkan diplomasi budaya.

Inspirasi itu pula yang menggerakkan saya mendirikan Rumah BIPA, sebuah komunitas belajar bahasa dan budaya Indonesia. Rumah BIPA bukan sekadar kelas, melainkan ruang perjumpaan, antara orang Indonesia dan dunia, bahasa ibu dan bahasa asing, identitas dan keterbukaan. Itu prinsip saya. 

Setiap negara yang saya singgahi menghadirkan pengalaman menarik.

  • Di Australia, mahasiswa begitu kritis. Mereka selalu punya pertanyaan tajam, selalu ingin tahu konteks politik, sosial, dan budaya di balik setiap kata. Itu membuat saya belajar menyiapkan bukan hanya materi bahasa, tetapi juga perspektif Asia Tenggara secara luas.
  • Di Thailand, saya merasa ada kedekatan budaya. Banyak mahasiswa menemukan kosakata yang mirip, cara berpikir yang serupa. Pembelajaran menjadi lebih cair, penuh tawa, seolah kita bukan guru dan murid, melainkan teman yang saling bertukar bahasa.
  • Di Kanada, saya menghadapi tantangan terberat. Di sana, bahasa Indonesia tidak populer, kalah pamor dibanding bahasa-bahasa global seperti Inggris, Prancis, atau bahkan Mandarin. Saya harus kreatif mencari cara agar mahasiswa tertarik. Saya membuat materi interaktif, mengaitkan bahasa Indonesia dengan musik, kuliner, bahkan peluang bisnis lintas Asia.
  • Di Finlandia, tempat saya sekarang, saya belajar dari sistem pendidikan mereka yang luar biasa inovatif. Pendekatan individualisasi membuat saya sadar bahwa setiap mahasiswa datang dengan latar belakang berbeda, dan bahasa Indonesia bisa mereka temukan maknanya dari berbagai pintu masuk.

Di mana pun saya mengajar, ada satu momen kecil yang selalu menjadi kebahagiaan saya, yakni ketika mahasiswa mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata. Mereka menyapa saya dengan “Apa kabar, Bu?”, mereka berani mencoba menyanyikan lagu daerah, atau mereka dengan bangga membawa makanan Indonesia ke kelas. Saat itulah saya merasa bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sebagai penutur asli bahasa Indonesia yang hidup di lingkungan multibahasa, saya justru semakin merasakan betapa berharganya bahasa ibu.

Bahasa ibu adalah akar identitas saya. Bahasa ibu adalah suara batin, doa, dan rasa yang pertama kali saya kenal. Ketika berada di negeri orang, bahasa itu berubah menjadi penanda jati diri. Bahwa saya orang Indonesia dan saya membawa sesuatu yang khas dari tanah air.

Mengajar BIPA membuat saya kerap berdiskusi dengan mahasiswa tentang konsep bahasa ibu. Mereka sering bertanya: “Apakah bahasa Indonesia juga punya dialek seperti bahasa ibu kami?” Dengan senang hati saya menjelaskan bahwa Indonesia kaya dengan ratusan bahasa daerah dan bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu. Penjelasan itu sering membuat mereka kagum, karena bagi banyak bangsa, memiliki bahasa pemersatu yang hidup di tengah keragaman adalah sesuatu yang langka.

Namun, memperkenalkan bahasa ibu juga punya tantangan. Misalnya ketika menjelaskan tingkatan tutur atau konsep kesopanan dalam bahasa Indonesia. Mengapa kita memakai “Anda” kepada orang asing, tapi “kamu” kepada teman dekat? Mengapa ada perbedaan “saya” dan “aku”? Mahasiswa sering membandingkan dengan budaya mereka. Di sinilah saya belajar bahwa bahasa bukan hanya struktur, tetapi juga nilai budaya yang harus dipahami.

Saya percaya bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya. Karena itu, dalam mengajar saya selalu mengintegrasikan keduanya. Saya membawa kuliner, musik, film, bahkan tarian ke kelas. Saya mengajak mahasiswa tidak hanya belajar kata, tapi juga merasakan jiwa bahasa lewat pengalaman budaya.

Di luar kelas, saya juga konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam keluarga dan komunitas orang Indonesia di mancanegara. Di rumah, kami berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Saya ingin anak-anak saya, meski lahir dan tumbuh di luar negeri, tetap punya ikatan dengan bahasa ibu mereka.

Bersama komunitas Indonesia di Finlandia, kami rutin mengadakan kegiatan kebahasaan: kelas BIPA, diskusi budaya, perayaan hari nasional. Semua itu adalah cara kami merawat bahasa ibu sebagai warisan untuk generasi berikutnya.

Sebagai seorang perempuan Indonesia, saya melihat peran perempuan sangat strategis dalam menjaga bahasa ibu. Perempuan sering menjadi pendidik pertama dalam keluarga. Dari ibulah, anak-anak mendengar kata-kata pertama, nyanyian, dongeng, doa, dan percakapan sehari-hari.

Oleh karena itu, saya percaya perempuan adalah garda depan pelestarian bahasa. Di manapun berada, perempuan bisa menanamkan bahasa ibu sejak dini, baik di rumah maupun dalam komunitas. Bahkan di perantauan, perempuan tetap bisa menjaga api bahasa ibu tetap menyala, lewat komunikasi sehari-hari, kegiatan bersama, atau pewarisan nilai budaya.

Salah satu pengalaman paling menyentuh bagi saya adalah ketika mahasiswa asing, pada perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, membacakan puisi dalam bahasa Indonesia. Mereka mungkin bukan penutur asli, tetapi keberanian mereka menunjukkan bahwa bahasa kita dihargai, dipelajari, dan diapresiasi lintas budaya.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional ini, saya berpesan sederhana kepada seluruh perempuan Indonesia di manapun berada. Rawatlah bahasa ibu dengan bangga. Gunakan dalam keseharian. Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda. Jangan pernah ragu memperkenalkan keindahannya kepada dunia.

Bahasa adalah identitas dan kekuatan kita. Bahasa adalah warisan yang tidak bisa tergantikan. Dan perempuan, dengan perannya sebagai pendidik pertama, pengasuh, sekaligus penggerak komunitas, memiliki peran utama dalam memastikan bahasa itu tetap hidup lintas generasi.

Hari ini, di Helsinki yang dingin, saya menulis dengan hati hangat. Saya membayangkan suara ibu saya di Sukabumi yang dulu mengajarkan saya kata-kata pertama. Saya membayangkan mahasiswa saya di kelas yang tertawa mencoba mengucapkan “terima kasih” dengan lidah mereka yang masih kaku.

Di antara jarak yang begitu jauh, bahasa ibu adalah jembatan. Ia menghubungkan saya dengan masa lalu, dengan tanah air, dengan keluarga, dan dengan dunia.

Selama saya masih bisa berbicara, mengajar, dan menulis, saya akan terus merawatnya. Karena bahasa ibu bukan hanya milik saya, melainkan milik kita semua.

Penulis: Ari Nursenja, Founder RUMAH BIPA dan PhD Student di Finlandia, yang dapat dikontak via akun instagram arinursenja. 

(SIARAN BERITA) Suara Perempuan Pelaku Kawin Campur Menggema di Ruanita

Skopje, 15 Februari – Berbicara soal kawin campur, yang sering muncul adalah kisah cinta lintas negara, budaya, dan bahasa. Namun jarang yang mengangkat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana perempuan menegosiasikan suara, kuasa, dan ruang komunikasinya dalam keluarga lintas budaya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik temu workshop online yang diselenggarakan Ruanita pada Minggu, 15 Februari 2026.

Mengusung tema “Komunikasi & Agensi Perempuan Pelaku Kawin Campur”, workshop daring ini mempertemukan peserta dari berbagai zona waktu dalam ruang diskusi yang aman dan reflektif. Kegiatan dipandu oleh Leya Trajanoska, konselor pernikahan dan keluarga (M.A.) yang kini tinggal di Makedonia Utara.

Alih-alih mengajarkan bahasa atau tata krama komunikasi dalam rumah tangga multikultural, Leya mengajak peserta membongkar hal yang selama ini sering luput. Menurut Leya, bahasa dan komunikasi adalah arena negosiasi sosial, bukan sekadar alat bertukar pesan.

Diskusi bergerak cair dan hangat. Para peserta berbagi pengalaman tentang memilih bahasa dalam percakapan keluarga, bernegosiasi dengan pasangan dan keluarga mertua, sampai menghadapi tuntutan budaya yang berbeda. Terlihat jelas bahwa di balik persoalan “bahasa mana yang dipakai di rumah”, terdapat isu yang lebih besar. Menurut Anna Knöbl, masalah itu terletak pada ruang bagi perempuan untuk membentuk posisinya sendiri dalam keluarga.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa topik ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak. Banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing atau hidup di luar negeri menjalani keseharian yang penuh lapis makna, kebijakan, dan adaptasi, tetapi jarang ada ruang publik yang memberi tempat bagi pengalaman ini sebagai pengetahuan.

Acara ini diikuti oleh puluhan perempuan pelaku kawin campur di berbagai negara. Agar meningkatkan kenyamanan, acara ini tidak direkam. Selain itu, pemateri yang merupakan Relawan Ruanita Indonesia bersedia memberikan workshop online ini untuk berbagi dukungan dan solidaritas sebagai sesama perempuan pelaku kawin campur.

Anna Knöbl, sebagai perempuan kawin campur di Jerman dan penyelenggara acara ini, sangat berharap ini menjadi bagian dari upaya Ruanita memusatkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, bukan objek cerita. Melalui program diskusi, publikasi cerita, dan kegiatan berbasis refleksi, Ruanita membangun komunitas belajar yang tidak dibatasi wilayah atau identitas, tetapi disatukan oleh rasa ingin tahu, solidaritas, dan keinginan memahami diri dalam dunia yang terus berubah.

Informasi mengenai program dapat mengontak Leya Trajanoska melalui email info@ruanita.com.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(CERITA SAHABAT) Bekerja sebagai Nanny di Dubai, Pengalaman dan Tantangannya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Yuni yang kini bekerja dan menetap di Dubai, Uni Emirat Arab. Sejak lama aku sudah terbiasa merantau. Tahun 2004, setelah musibah tsunami Aceh, aku mulai mengadu nasib di luar daerah, hingga akhirnya berani melangkah lebih jauh ke luar negeri. Enam tahun terakhir aku menetap di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan berbagai pengalaman pahit manis yang menempa diriku.

Alasan awalku sederhana: ingin membantu orang tua. Namun seiring waktu, alasan itu berkembang menjadi tekad untuk memutus rantai generasi sandwich di keluarga kami. Aku ingin memperbaiki kehidupan, menyekolahkan anak-anak dengan baik, dan memastikan di masa depan aku tidak bergantung pada mereka.

Awal kedatanganku ke Dubai adalah melalui sebuah agen penyalur, dan aku bekerja sebagai nanny di sebuah keluarga lokal/Emirati. Keluarga ini sangat baik, tetapi budaya kerja mereka berbeda. Selama dua tahun kontrak, aku tidak mendapatkan libur sama sekali. Gajiku saat itu hanya 1200 dirham per bulan. Aku membaginya dengan disiplin: 600 dirham kukirim ke keluarga di kampung, sisanya kutabung dengan harapan suatu hari bisa mandiri dan mencari pekerjaan sendiri tanpa agen.

Setelah kontrak berakhir, aku sempat pulang ke Indonesia, lalu kembali lagi ke Dubai dengan visa kerja legal. Selama satu setengah tahun aku bekerja serabutan, tetap di bidang ART dan nanny, namun kontraknya tidak pernah lama—paling hanya tiga bulan di satu keluarga. Di masa itu aku juga mulai berjualan kue-kue Indonesia. Dari situlah lahir “Yuni Martabak,” yang sampai sekarang masih dikenal.

Suatu hari, dengan iseng aku mengunggah CV di situs pencari nanny. Tak kusangka, dari situlah aku bertemu dengan majikan Belanda yang kemudian menjadi tempatku bekerja hingga sekarang. Jadi, sebenarnya aku baru satu setengah tahun bersama keluarga Belanda ini, tetapi pengalaman enam tahun di Dubai itulah yang membentukku menjadi lebih kuat dan mandiri.

Menyesuaikan diri dengan mereka tidak sulit. Justru aku merasa dihargai. Sang “Sir” sering turun tangan membantu pekerjaan rumah dan aku diberi ruang untuk tetap menjalankan budaya Indonesia, termasuk memasak makanan khas seperti sate, nasi goreng, soto ayam, hingga bakwan.

Budaya kerja mereka berbeda dengan orang Indonesia. Mereka tegas dan jujur. Pujian hanya keluar ketika benar-benar tulus, bukan sekadar basa-basi. Sementara di Indonesia, kita terbiasa ramah, penuh “sungkan,” dan kadang tidak begitu tegas.

Kesalahpahaman tentu pernah terjadi, tetapi kuncinya adalah berkomunikasi langsung dan saling meminta maaf. Syukurlah, keluargaku di Dubai sangat pengertian. Mereka memberiku kebebasan untuk tetap menjalankan nilai-nilai budaya Indonesia, mulai dari ibadah, makanan, hingga pakaian. Bahkan, mereka menyukai masakan Indonesia favorit seperti sate, nasi goreng, soto ayam, kerupuk, bakwan, hingga pisang goreng!

Dalam pola asuh anak, aku melihat perbedaan yang cukup jelas. Mereka sangat disiplin dalam hal waktu: tidur, makan, dan bermain memiliki jadwal ketat. Meski ada pengasuh, orang tua tetap membagi waktu dan terlibat langsung dalam pengasuhan. Sedangkan di Indonesia, pola asuh biasanya lebih fleksibel, santai, dan mengalir.

Meski begitu, tantangan sebagai pekerja migran tetap berat. Rindu keluarga sering kali menjadi ujian terbesar, ditambah rasa lelah dan kadang tekanan mental. Aku mengatasinya dengan menangis untuk melepaskan emosi, belajar dari video YouTube, dan bersandar pada teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia). 

Di sisi lain, aku juga berusaha menjaga keseimbangan hidup: bermain badminton bersama komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB), ikut bazar KJRI untuk menjual kue, bahkan sempat berkesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Mimpiku sederhana namun kuat: suatu saat aku ingin punya toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin punya rumah di kota besar, dekat bandara, agar lebih mudah bila harus bepergian.

Cara yang kulakukan sederhana: aku menangis untuk meluapkan emosi, lalu belajar melepaskannya. Kadang aku belajar dari video YouTube untuk menenangkan diri. Teman-teman sesama PMI menjadi tempatku bersandar secara emosional di sini.

Yang membuatku tetap kuat adalah mimpi-mimpiku dan orang tua yang masih membutuhkan dukungan, juga anakku yang sedang bersekolah. Itu semua menjadi semangatku.

Pekerjaanku sehari-hari dimulai dengan mengajak jalan anjing pomeranian keluarga, lalu menyiapkan sarapan untuk Julien, anak yang aku asuh. Menunya biasanya telur orak-arik, tomat cherry, mentimun, dan roti. Setelah itu, aku menemaninya bermain, baik di play hall saat musim panas, maupun di taman saat musim dingin.

Siang hari aku menyiapkan makan siang, kemudian membereskan rumah saat Julien tidur siang. Sore harinya, aku memasak makan malam sesuai permintaan majikan.

Hari Minggu adalah hari liburku. Biasanya aku berkumpul dengan teman-teman PMI, dan malamnya bermain badminton. Aku juga bergabung dengan komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Dari sanalah aku banyak mendapat energi positif.

Soal keuangan, aku berusaha bijak: mengirim secukupnya untuk keluarga, sedangkan sisanya ditabung. Majikanku pun sangat menghargai pekerja, bahkan memberiku waktu bebas tambahan dua kali seminggu untuk bermain badminton sejak sore hingga tengah malam. Aku juga pernah ikut pelatihan pertolongan pertama, yang menjadi pengalaman berharga.

Momen paling berkesan selama di Dubai adalah ketika bisa berjualan di bazaar KJRI, bermain badminton bersama komunitas, dan kesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Pengalaman enam tahun ini membuatku lebih tangguh sebagai perempuan Indonesia. Aku tetap bangga dengan identitasku, dan pengalaman ini semakin menguatkanku untuk meraih mimpi.

Impian terbesarku adalah memiliki toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin memiliki rumah di kota besar agar dekat dengan bandara, supaya lebih mudah bila harus bepergian atau kembali ke tanah air.

Bekerja di luar negeri memang penuh tantangan, baik secara budaya, fisik, maupun emosional. Namun dengan niat yang kuat, komunikasi yang baik, dan dukungan dari sahabat-sahabat seperjuangan, semua itu bisa dijalani.

Aku percaya, setiap perantau membawa cerita, dan setiap cerita adalah kekuatan. Semoga mimpiku dan juga mimpi sahabat-sahabat Ruanita juga bisa tercapai.

Penulis: Yuni, tinggal di Dubai Uni Emirat Arab dan dapat dikontak via akun instagram yunninuranii.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Bijak Bersosial Media Menurut Saya?

Halo, sahabat Ruanita! Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya biasa dipanggil Tyka dan saat ini saya tinggal di salah satu provinsi  di negara Spanyol, yaitu Barcelona. Saya tinggal sekitar 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang lumayan cukup panjang saya memberanikan diri untuk berwirausaha di sini.  Tentunya, itu membutuhkan sebuah keberanian dan mental yang lumayan cukup berat.  Mungkin ada beberapa pertanyaan dari sahabat Ruanita, apa yang menjadi inspirasi saya.  

Menurut saya, Barcelona adalah salah satu provinsi di Spanyol yang memberikan ruang  untuk kita lebih mudah membangun komunikasi, berelasi, dan berwiraswasta. Saya mengamati, kebanyakan  perempuan-perempuan lokalnya begitu mandiri dan punya integritas tinggi untuk menciptakan peluang. 

Banyak perempuan di sini gigih, tangguh, dan bisa membaca serta menangkap sebuah peluang. Secara tidak langsung, daya tarik mereka menumbuhkan hasrat besar bagi saya untuk  berwiraswasta dibandingkan menjadi karyawan. Tentunya, lingkungan dan relasi saya dengan  perempuan-perempuan di sini menjadi inspirasi saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu, sayangnya.  

Saat ini, saya lebih fokus mengembangkan diri di bidang pariwisata yang mencakup  Hospitality, Event and Travel secara global.  

Untuk traveling, memang menjadi salah satu usaha kami. Bagi saya, traveling itu sangat  perlu ya. Secara tidak langsung, traveling memberikan wawasan dan  kesempatan serta ruang yang lebih untuk upgrade diri dan masih banyak Benefit lainnya. Saya yakin, jika sahabat Ruanita mencoba melakukan traveling bagi yang belum pernah, maka pasti akan merasakan perubahan yang luar biasa.

MEDIA SOSIAL DAN TINGGAL DI LUAR NEGERI

Media sosial itu bagi kami sangat menguntungkan, asalkan dalam penggunaan secara betul dan  memang dibutuhkan. Contohnya, media sosial akan  menguntungkan bagi kita yang sedang membangun usaha, untuk sarana membangun komunikasi, relasi, promosi (marketing) ataupun  bisa jadi untuk personal branding. Mungkin ini pendapat saya pribadi, tergantung  penggunaannya, bila kita gunakan secara positif. Tentunya, ini akan mengundang reaksi yang positif, tetapi kalau digunakan secara negatif, hasilnya akan menjadi negatif juga.  

Peran media sosial bagi saya 70% bisa untuk menjangkau komunikasi global dan relasi dibandingkan dilakukan secara  offline, yang mana tentunya sangat mempermudah dan dengan budget, yang lebih minus untuk bidang  marketing.  

Kami menggunakan media sosial untuk menciptakan aplikasi, branding, dan kampanye serta kolaborasi di Instagram, TikTok, dan ini sangat membantu kami.  

Kami membagikan pengalaman yang tujuannya untuk promosi, demi perkembangan bisnis kami di travel. Andaikan kami tidak memiliki bisnis di pariwisata, mungkin saya secara pribadi jarang melakukan update. Jadi, kami menggunakan media sosial untuk suatu kebutuhan. Itu salah satu kebijakan yang saya ambil juga.  

Selama ini, tantangan jarang sekali kami temukan karena kami hidup di sebuah tempat yang  penghasilanya 80% di bidang pariwisata di mana secara tidak langsung kami berperan  mengkampanyekan destinasi-destinasi mereka di bidang apapun. Sebelumnya, kami selalu  membangun komunikasi dengan yang bersangkutan ataupun atas permintaan mereka untuk  berkolaborasi.  

BIJAK DALAM BERSOSIAL MEDIA 

Terkait bijak bersosial media, berdasarkan pengalaman, kami sangat berhati-hati dan memahami  apa yang kita lempar atau melakukan update di media sosial, flexing, update status yang mengkritik, bicara  uang, politik, atau agama, maka saya sangat menghindarinya.  Hanya fokus untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai profesi pekerjaan dan produk kami. Selama ini, kami belum pernah menemukan hal negatif, seperti cyberbullying, kritik, dan hal negatif lainnya.  Mungkin apa yang kita dapat, mungkin akan menyesuaikan apa yang kita lempar di media sosial. 

Kembali beralih tentang pendapat netizen Indonesia ya. Mungkin hanya sekilas kadang kami  membaca tetapi  tidak ditujukan ke kami. Saya pribadi begitu sulit berkomentar, cukup kami  mengerti situasi mereka dan kami lebih cenderung mencari solusi saja.

Setiap individu berhak bicara  apapun, tetapi kalau kita bisa mengerti mereka. Itu tidak akan menjadi beban yang mengganggu, apalagi  menjadi masalah buat kita. Ambil nilai positifnya saja, seburuk apapun komentar netizen, setidaknya ada segi positifnya yang bisa diambil.  

Budaya berkomentar di Spanyol jauh sangat beda ya dengan netizen Indonesia. Namun, maaf jangan  dijadikan perbandingan! Orang Spanyol akan lebih berkomentar membangun! Mereka berkomentar untuk membutuhkan informasi atau mereka ingin membangun untuk relasi. Jadi, itu salah satu hal yang menguntungkan kami.  

Kami sangat menjaga privasi dan data kami, dengan tidak menggunakan sosial media untuk  privasi kami seperti: keadaan keluarga, kondisi keluarga, atau kegiatan-kegiatan yang tidak bersangkutan dengan marketing kami, yang pastinya akan kami hindari untuk update di sosial media.  

Bagi sahabat Ruanita semua, media sosial akan menjadi bagian jembatan menuju  kesuksesan atau mencapai impian dalam bisnis apapun, asalkan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakannya.

Bijak bermedia sosial diperlukan agar media sosial tidak menjerumuskan kita ke banyak hal negatif, yang kadang kita tidak menyadarinya. Pada akhirnya, tidak bisa bersikap bijak bermedia sosial akan membawa ke arus ke kehidupan, yang bisa  dibilang sulit, bila kita salah menggunakannya.  

Harapan saya kepada pemerintah Indonesia adalah pentingnya memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan media sosial, agar masyarakat memahami batasan dan etika dalam menggunakannya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

Regulasi yang dibuat pemerintah tidak akan efektif jika sumber daya manusianya tidak dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendidikan tentang literasi digital perlu dimulai sejak usia dini, dari anak-anak hingga generasi muda.

Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam membimbing anak memilih dan menggunakan media sosial secara bijak. Jika setiap orang tua di Indonesia melakukan ini, maka akan terjadi perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital. Dengan sinergi antara individu dan kebijakan pemerintah, media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan produktif untuk semua.

PENUTUP DAN INSPIRASI 

Sejauh ini, pengalaman bersosial media bagi kami sangat bermanfaat bagi saya pribadi dan tim  kami, serta bisa mempermudah klien kami untuk menggunakan sebagai sarana informasi yang  mereka butuhkan, terutama di bidang pariwisata dan Hospitality yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, media sosial kami anggap sebagai rasa penghargaan bagi konsumen kami atas apresiasi kami, yang telah memberi  kepercayaan ke kami dalam event mereka.  

Untuk seluruh sahabat Ruanita, yang menjadi pengguna sosial media dan ingin atau sedang berkarya di luar  negeri, ini pesan saya. Pertama, pahami apa Rule dalam menggunakan media sosial di tempat tersebut. Pasti setiap tempat memiliki Rule masing-masing yang berbeda dengan Indonesia. Bila sahabat Ruanita sudah paham benefit-nya, maka akan banyak perilaku bijak dalam membangun media sosial, seperti: memberi atau  mencari informasi positif.  

Sejauh ini, saya tetap akan menggunakan media sosial, baik Instagram, TikTok, dan evaluasi  aplikasi kami untuk di teknologi pariwisata. Tentunya, ini akan menjadi sebuah alat atau produk  yang bisa bermanfaat bagi orang banyak ke depan. Prinsip saya, media sosial merupakan salah satu bagian dari nyawa bisnis kami.  

Selebihnya tulisan ini semata-mata saya petik berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mungkin  sahabat Ruanita bisa memetik hal positif untuk membantu Anda semua untuk terus  bertumbuh dan berkembang dalam membangun bisnis di luar negeri. Sebaiknya, kita tidak ragu dan tidak salah untuk menentukan pilihan dalam menggunakan media sosial. Sekian dari saya. Bila ada kekurangan, harap dimengerti dan dimaafkan.  

Penulis: Tyka Karunia, perempuan Indonesia berwirausaha di Barcelona, Spanyol, yang dapat dikontak melalui akun Instagram @tykakarunia.

(SIARAN BERITA) Winter Depression: Tantangan Mental Pelajar Indonesia di Negara Bersalju

Jakarta, 31 Januari – Bagi banyak pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, hidup di negara dengan empat musim bukan sekadar menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin atau salju yang menumpuk. Ada tantangan yang lebih halus, tetapi berdampak signifikan terhadap keseharian mereka: Winter Depression atau yang juga dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Kondisi ini muncul akibat berkurangnya paparan cahaya matahari, perubahan ritme biologis tubuh, hingga tekanan adaptasi sosial dan budaya. Gejalanya bisa muncul dalam bentuk perasaan sedih yang berkepanjangan, penurunan energi, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Winter Depression kerap membuat pelajar terlambat mendapatkan penanganan, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental, performa akademik, dan kualitas hidup mereka.

Menyadari hal ini, Ruanita menggandeng Kesmenesia berkolaborasi dengan PPI Dunia untuk menyelenggarakan psikoedukasi daring bertajuk “Winter Depression: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Lebih Sehat”. Acara ini dijadwalkan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 CET atau 16.00 WIB, melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk pelajar Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri, serta pengurus dan anggota PPI.

Acara akan diawali oleh salam pembuka dan pengantar dari Ashlee Quissa, anggota PPI Dunia di Malaysia, yang memperkenalkan tujuan dan alur kegiatan. Selanjutnya, Aulia Farsi, pemateri ahli dalam bidang kesehatan mental, akan membimbing peserta untuk memahami Winter Depression secara mendalam. Mulai dari definisi, perbedaan dengan depresi biasa, hingga gejala emosional, fisik, dan perilaku yang dapat memengaruhi kehidupan akademik dan sosial pelajar.

Lebih dari sekadar teori, sesi ini juga membahas faktor risiko yang spesifik dialami pelajar Indonesia, seperti adaptasi budaya, homesickness, tekanan akademik, serta minimnya paparan sinar matahari di negara empat musim. Peserta akan diajak mengeksplorasi strategi koping praktis, termasuk perubahan gaya hidup, pentingnya dukungan sosial, hingga kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional.

Tak ketinggalan, sesi tanya jawab interaktif memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan baik secara tertulis di kolom Chat maupun formulir elektronik yang disediakan oleh Ruanita Indonesia sejak pendaftaran.

Menurut Aulia Farsi, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang kontekstual dan relevan bagi pelajar Indonesia. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenali gejala, tetapi juga siap menghadapi Winter Depression dengan strategi yang nyata dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Ruanita bersama Kesmenesia dan PPI Dunia berharap pelajar Indonesia dapat lebih sadar akan tantangan kesehatan mental yang mungkin muncul selama studi di luar negeri dan mampu menjaga kesejahteraan mereka secara lebih efektif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(SIARAN BERITA) Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21

Frankfurt, 25 Januari — Ruanita Indonesia memprakarsai sebuah diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21” yang diselenggarakan secara daring baru-baru ini. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara Kesmenesia dan KJRI Frankfurt, serta terbuka bagi siapa pun yang tertarik pada isu kesehatan mental.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam ini mengangkat hubungan antara norma gender, perkembangan teknologi, serta dampaknya terhadap kesehatan mental laki-laki. Selama ini, kesehatan mental laki-laki kerap dibungkus stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk kuat, tidak rapuh, dan sulit menunjukkan perasaan.

Norma gender tersebut berkontribusi pada rendahnya keterbukaan serta kecenderungan mencari bantuan profesional. Pada saat yang sama, era digital menciptakan tekanan baru berupa perbandingan sosial, perfeksionisme, hingga koneksi tanpa jeda yang memengaruhi kesejahteraan emosional.

Acara dibuka dengan sambutan dari penyelenggara. Acting Konsul Jenderal KJRI Frankfurt, Toary Worang, memberikan pengantar mengenai pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental dan memahami hambatan bagi laki-laki dalam mengekspresikan pengalaman emosional. Acara dipandu oleh Rasyid H. Wicaksono, seorang perawat terdaftar (Registered Nurse) di Jerman.

Sesi materi pertama membahas pengaruh budaya dan konstruksi gender terhadap kesehatan mental laki-laki, termasuk mitos “laki-laki harus kuat” yang menjadi penghalang bagi perilaku mencari bantuan psikologis, disampaikan oleh Sven Juda, Co-founder Kesmenesia di Belanda.

Sesi materi kedua menjelaskan tantangan kesehatan mental pada era digital, mulai dari pengaruh media sosial terhadap perbandingan sosial hingga ekspektasi performa. Selain menyoroti risiko, narasumber juga menggambarkan potensi teknologi dalam memperluas akses informasi dan layanan dukungan. Materi ini disampaikan oleh Fransisca Hapsari, Co-founder Kesmenesia di Jerman.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang membuka ruang refleksi bagi peserta untuk berbagi pandangan, pengalaman, serta kebutuhan dukungan seputar isu kesehatan mental laki-laki.  Diskusi online ini tidak direkam agar siapa saja merasa nyaman untuk berbagi dukungan sosial dan psikologis.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman poin penting serta apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat kesadaran dan sikap saling mendukung dalam menghadapi tantangan kesehatan mental di abad ke-21.

Melalui pendekatan kolektif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami kesehatan mental dan gender dalam konteks budaya dan perkembangan teknologi. Ruanita Indonesia selaku penyelenggara menekankan pentingnya perubahan sikap yang lebih terbuka, empatik, dan berkelanjutan dalam mendukung kesejahteraan mental bersama.

Informasi lebih lanjut: Sven Juda, Koordinator Acara (E-mail info@ruanita.com). 

(IG LIVE) Bongkar Mitos Seputar Kehamilan: Jangan Asal Percaya!

Pada awal tahun, Ruanita Indonesia mengawali program diskusi Instagram Live dengan tema parenting, khususnya mereka yang sedang hamil atau menantikan kehamilan. Topiknya sederhana tetapi penuh intrik budaya: “Bongkar Mitos Seputar Kehamilan – Jangan Asal Percaya.” Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sesi ini mengulas bagaimana mitos kehamilan beredar, bagaimana ia memengaruhi cara kita memandang tubuh perempuan, dan bagaimana ilmu pengetahuan kadang perlu turun tangan untuk menertibkan persepsi yang keliru.

Dua sahabat Ruanita yang bergabung kali ini hadir dari dua negara yang berbeda. Natalia Eka Putri, seorang ibu dan dokter gigi spesialis anak yang kini tinggal di Belanda, dan Merry, seorang ibu rumah tangga yang kini berdomisili di Portugal. Merry juga telah berpengalaman hamil di beberapa negara. Kehadiran keduanya membuka ruang diskusi lintas budaya yang hangat dan informatif.

Salah satu mitos yang langsung dibahas adalah anggapan bahwa setiap kehamilan berarti satu gigi ikut tanggal. Mitos yang terdengar dramatis ini ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Natalia menjelaskan bahwa memang ada ibu hamil yang mengalami kehilangan gigi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan.

Secara statistik, hanya sekitar empat belas hingga dua puluh satu persen ibu hamil yang mengalaminya. Penyebabnya pun bukan karena janin “mengambil kalsium dari gigi ibu,” melainkan karena perubahan hormon selama kehamilan yang memicu pembengkakan gusi, sensitivitas, hingga infeksi yang tidak dikelola dengan baik.

Menurut Natalia, sekitar enam puluh hingga tujuh puluh lima persen ibu hamil mengalami pembengkakan gusi atau gingivitis gravidarum. Kondisi ini membuat gusi mudah berdarah, terasa sensitif, dan rentan mengalami peradangan lebih lanjut.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat merambat ke tulang penyangga gigi dan berakhir pada gigi yang goyang hingga tanggal. Lebih jauh lagi, kesehatan gusi ternyata dapat memengaruhi hasil kehamilan. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara infeksi gusi kronis dengan kelahiran prematur serta bayi dengan berat badan rendah.

Hal yang menarik, di tengah semua perubahan tubuh tersebut, perilaku makan ibu hamil juga ikut berubah. Rasa lapar yang muncul lebih sering, selera yang meningkat terhadap makanan manis, serta kebutuhan emosional untuk mencari kenyamanan melalui makanan adalah bagian dari respon hormonal tubuh.

Fenomena “ngidam” yang sering dianggap sekadar budaya ternyata memiliki penjelasan biokimia yang jelas. Namun ketika mengidam itu berujung pada konsumsi gula berlebih, risiko gigi berlubang pun ikut meningkat. Meski demikian, Natalia menegaskan bahwa kehamilan bukanlah penyebab gigi melemah. Perlu diperhatikan hal yang menentukan adalah bagaimana ibu hamil menjaga dan merawat kesehatan mulutnya.

Di Belanda, pemeriksaan gigi justru dianjurkan secara berkala selama kehamilan. Perawatan seperti pembersihan karang gigi, penambalan, hingga ronsen dapat dilakukan dengan aman sepanjang memperhatikan tahap kehamilan dan perlindungan yang memadai.

Kesadaran ini masih belum merata di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana sebagian ibu hamil cenderung menghindari dokter gigi karena ketakutan atau mitos yang diwariskan keluarga.

Setelah membahas dari perspektif medis, sesi IG Live beralih ke pengalaman personal lewat cerita Merry. Pengalamannya menarik karena ia menjalani kehamilan di lingkungan dan negara yang berbeda, dari Singapura hingga Arab Saudi dan kemudian Portugal.

Merry mengaku tidak terlalu mengikuti mitos-mitos kehamilan, tetapi ia beberapa kali bersentuhan dengan saran-saran unik dari keluarga, teman, maupun lingkungan budaya tempat ia tinggal.

Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya terjadi ketika ia hamil di Singapura. Menjelang proses persalinan, bayinya tiba-tiba berhenti bergerak dalam waktu yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk segera datang ke rumah sakit pada malam hari.

Setelah pemeriksaan detak jantung, perawat memberikan segelas air dingin dan beberapa saat kemudian bayi kembali merespon dengan tendangan. Pengalaman sederhana ini mematahkan salah satu larangan populer di Indonesia yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh minum air dingin.

Berbeda dengan Singapura, ketika Merry menjalani kehamilan di Arab Saudi, pendekatannya jauh lebih medis dan minim omongan mitos. Di sana, pemeriksaan darah berkala menjadi standar, sehingga perjalanan kehamilannya terasa lebih klinis dan terstruktur.

Justru ketika Merry pulang ke Indonesia yang paling terasa adalah kehadiran mitos yang lebih bernuansa mistis: larangan keluar rumah pada malam hari, larangan mengikuti pemakaman, hingga saran membawa benda tajam saat berada di tempat tertentu untuk menghindari gangguan makhluk halus. Merry menyikapinya dengan santai. Baginya, penting untuk tetap menghargai kekhawatiran keluarga, namun juga penting menjaga batas agar ibu hamil tidak justru terbebani secara mental.

Diskusi ditutup dengan catatan penting bahwa mitos kehamilan tidak pernah muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya, ketakutan, dan warisan informasi turun-temurun yang terkadang dimaksudkan untuk menjaga, tetapi tidak jarang justru membingungkan.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir untuk membantu ibu hamil membedakan antara kekhawatiran yang perlu dan yang tidak perlu. Perpaduan keduanya, yakni kebijaksanaan budaya dan pengetahuan medis, merupakan bekal penting bagi perempuan yang sedang menjalani kehamilan.

Melalui program IG Live ini, terlihat jelas bahwa kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk cara perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Dan di tengah segala suara yang datang dari berbagai arah, perempuan berhak memilih informasi yang paling membuatnya tenang, sehat, dan berdaya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Warga Menulis Fiksi: Setiap Orang Punya Cerita

Jakarta, Januari 2026 – Ruanita Indonesia kembali menyelenggarakan program literasi bertajuk Workshop Warga Menulis Fiksi “Gema dari Ruang Hening”, sebuah ruang menulis kolektif untuk orang Indonesia di berbagai negara dalam mengolah pengalaman hidup menjadi karya fiksi yang kuat, bermakna, dan berlapis konteks transnasional. Program ini digelar sebagai bagian dari Kampanye Digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menjadi salah satu agenda literasi tahunan Ruanita.

Workshop yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Asmayani Kusrini, penulis fiksi dan seorang Communications Officer yang bermukim di Brussel, sebagai pemateri utama. Sementara jalannya kegiatan dimoderasi oleh Griska Gunara, relawan Ruanita di Inggris Raya, yang punya latar belakang jurnalistik.

Program berformat tiga pertemuan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 17, 24 Januari, dan 7 Februari 2026 dengan durasi dua jam setiap sesi. Waktu disesuaikan dengan zonasi internasional mulai pukul 09.00 GMT, 10.00 CET, 11.00 EET, hingga 16.00 WIB, untuk memastikan keterjangkauan peserta yang berada di berbagai negara.

Di Ruanita, penyelenggara meyakini bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan pengalaman lintas batas kerap melahirkan narasi yang kompleks dan kaya. Karena itu, workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas teknis menulis, tetapi juga sebagai ruang aman untuk meresapi pengalaman transnasional, membaca dan mendiskusikan referensi cerita pendek, menonton film relevan, serta memproduksi karya fiksi yang kemudian dipersiapkan sebagai bagian kampanye publik.

Selain menghasilkan naskah, peserta juga ditargetkan menyelesaikan draft final untuk dikirimkan selambatnya 14 Februari 2026. Karya-karya terpilih akan dipublikasikan dalam Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional 2026, serta berpeluang diterbitkan dalam buku ketiga Ruanita Indonesia. Dengan demikian, program ini diharapkan berkontribusi pada produksi pengetahuan dan narasi perempuan Indonesia lintas negara, sekaligus memperkuat praktik literasi kultural yang inklusif dan sensitif pengalaman.

Workshop ini terbuka bagi warga berusia di atas 18 tahun dari mana pun berada yang pernah atau sedang mengalami kehidupan antarnegara. Peserta wajib mengikuti ketentuan teknis seperti kehadiran penuh dalam tiga sesi, penyusunan karya sesuai instruksi pemateri, penyerahan naskah final, serta pemberian persetujuan penggunaan karya dalam kampanye digital. Perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal dan seluruh data peserta akan disimpan maksimal enam bulan sesuai kebijakan privasi penyelenggara.

Melalui workshop “Gema dari Ruang Hening”, Ruanita berharap muncul suara-suara baru dalam penulisan fiksi Indonesia kontemporer yang bersumber dari pengalaman hidup orang Indonesia di berbagai penjuru dunia, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun individu yang bergerak lintas batas budaya.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Informasi lebih lanjut, kontak Griska Gunara di UK melalui email: info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Melahirkan Tanpa Mitos, Terpenting adalah Ibu yang Melahirkan itu Happy di Swiss

“Aku pernah bertanya ke suamiku, ada tidak sih mitos seputar kehamilan seperti itu di Swiss? Karena di Indonesia ada ya. Lalu kata suamiku, ‘tidak ada, yang penting ibu yang baru melahirkan happy, senang’. Tidak ada mitos-mitos seperti itu.” – Fitri

Halo, sahabat Ruanita! Kali ini, kita akan menceritakan Fitri berdasarkan program cerita sahabat spesial, yang pernah ditayangkan pada episode Juni 2022 lalu. Fitri adalah seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Swiss dan membagikan pengalamannya saat menjalani kehamilan dan proses persalinan di negeri Eropa Tengah tersebut. Dalam kisahnya, ia membandingkan bagaimana pendekatan terhadap kehamilan dan persalinan sangat berbeda antara Indonesia dan Swiss, termasuk dalam hal kepercayaan, mitos, dan praktik keseharian.

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan mitos-mitos kehamilan: mulai dari larangan makan makanan tertentu, posisi tidur yang diatur, sampai pantangan bersentuhan dengan benda atau aktivitas tertentu yang katanya bisa berdampak pada bayi. Namun, bagi Fitri, semua mitos itu seperti menguap begitu saja ketika ia menjalani kehamilan di Swiss.

Saat ia bertanya kepada suaminya, yang merupakan orang Swiss, apakah ada pantangan atau kepercayaan tertentu yang harus diikuti selama kehamilan, jawabannya sederhana namun mencengangkan bagi Fitri: tidak ada.

Yang terpenting dalam sistem Swiss, menurut suaminya dan tim medis yang mendampingi, adalah kesejahteraan ibu: apakah sang ibu merasa senang, tenang, dan nyaman. Tidak ada larangan makan ini atau itu, tidak ada anjuran untuk menghindari hal-hal tertentu berdasarkan kepercayaan turun-temurun. Semua rekomendasi medis berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan individual sang ibu.

Bagi Fitri, sistem layanan kesehatan di Swiss merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Dari kontrol kehamilan bulanan, suntikan, tindakan medis, hingga pengobatan dan proses melahirkan – semuanya ditanggung oleh asuransi. Ia bahkan tidak perlu pusing menyiapkan pakaian atau perlengkapan bayi di rumah sakit, karena semuanya telah disediakan.

Menariknya, sistem perawatan ibu hamil dan melahirkan di Swiss begitu terstruktur. Setiap ibu hamil mendapatkan informasi jelas dan terperinci sejak awal. Ketika waktu melahirkan semakin dekat, Fitri tinggal menelepon rumah sakit yang telah ditentukan untuk membuat janji. Bahkan sebelum hari kelahiran, kondisi dirinya diperiksa dan ia diberikan tindakan akupunktur untuk mempercepat pembukaan – sebuah praktik medis yang jauh dari nuansa mistik atau mitos.

Hal unik lainnya adalah bahwa dokter kandungan yang mendampingi pemeriksaan kehamilan bulanan bukanlah orang yang akan menolong persalinan. Proses kelahiran Fitri justru ditangani oleh bidan rumah sakit, seorang profesional yang sudah terlatih.

Prosesnya pun sangat fleksibel. Saat diminta memilih metode persalinan, ia diberikan pilihan: normal atau melalui air (water birth). Fitri memilih melahirkan secara normal karena merasa tidak nyaman dengan kemungkinan melihat darah di air.

Setelah persalinan, Fitri dan bayinya langsung dipindahkan ke kamar bersama. Sistem di Swiss sangat menekankan ikatan antara ibu dan bayi, sehingga mereka tidak dipisahkan.

Hal yang lebih mengesankan lagi adalah layanan pascapersalinan di rumah. Lima hari setelah keluar dari rumah sakit, bidan akan datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Mereka mengecek berat badan bayi, melihat apakah ada tanda-tanda masalah kesehatan, dan bahkan mengajarkan ulang cara menyusui dan memandikan bayi.

Lebih lanjut, lembaga perlindungan anak setempat, juga akan datang ke rumah. Kunjungan mereka bukan dalam rangka menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mereka ingin melihat apakah ibu dan ayah merasa bahagia, apakah rumah tangga harmonis, dan apakah ada potensi stres yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Karena kemampuan bahasa Jermannya saat itu belum terlalu lancar, Fitri bahkan diberikan buku-buku anak sebagai bentuk dukungan edukatif untuk keluarga mudanya. Baginya, sistem ini sangat membantu dan tidak membuatnya merasa sendirian.

Satu hal lagi yang menarik adalah soal subsidi. Pemerintah Swiss memberikan bantuan tunai sekitar 200 Swiss Franc per anak setiap bulan (saat itu) jumlah yang cukup signifikan untuk membantu membeli kebutuhan dasar seperti susu dan popok. Sistem ini berlaku baik bagi ibu maupun ayah, tergantung siapa yang bekerja.

Bagi Fitri, menjalani kehamilan dan persalinan tanpa tekanan mitos membuatnya merasa lebih ringan dan fokus pada hal-hal penting: kesehatannya sendiri dan kebahagiaan bayinya. Ia merasa bahwa sistem Swiss lebih mempercayai kekuatan pengetahuan, pendampingan profesional, dan dukungan sosial, daripada ketakutan yang tidak rasional.

Cerita Fitri memberi kita perspektif bahwa kehamilan adalah pengalaman yang sangat personal dan seharusnya bebas dari rasa takut yang tidak berdasar. Pengalaman di Swiss menunjukkan bahwa ibu bisa lebih bahagia dan tenang ketika didampingi oleh sistem yang empatik, ilmiah, dan suportif, bukan oleh larangan-larangan yang belum tentu relevan.

Ruanita percaya bahwa setiap perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan dukungan yang ramah, berbasis bukti, dan bebas stigma. Cerita sahabat seperti ini menjadi inspirasi kita semua untuk terus mendorong sistem layanan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih manusiawi.

Penulis: Andanistya, Relawan Ruanita Indonesia.

(SIARAN BERITA) Gotong Royong dan Spiritualitas Jadi Kunci Perawatan Mental WNI di Inggris Raya

London, 18 Januari 2026 — Acara diskusi daring bertajuk “Awal yang Baru untuk Pikiran yang Sehat” yang mengangkat tema promosi kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia di Inggris Raya telah berlangsung pada Minggu malam waktu Indonesia, dan berhasil menarik partisipasi masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Inggris Raya serta beberapa negara di sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas Ruanita dan didukung oleh KBRI London itu digelar melalui platform Zoom Meeting selama dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 waktu Inggris atau pukul 17.00 hingga 19.00 WIB.

Acara dibuka oleh Ketua DWP KBRI London, Sari Percaya, yang dalam pengantarnya menekankan pentingnya menempatkan kesehatan mental sebagai bagian integral dari resolusi awal tahun. Menurutnya, awal tahun bukan hanya momentum untuk memperbaiki kesehatan fisik, karier, atau ekonomi, namun juga kesempatan untuk merawat keseimbangan batin dan ketangguhan emosional. 

Sari juga mengulas sejumlah tantangan kesehatan mental yang umum dihadapi Warga Negara Indonesia di Inggris Raya, mulai dari jarak dengan keluarga dan tanah air, tekanan akademik maupun pekerjaan, adaptasi budaya dan cuaca, hingga keterbatasan jejaring sosial. Ia menegaskan bahwa ruang aman berbasis komunitas, seperti yang dibangun Ruanita, turut membantu mengurangi rasa kesepian dan menumbuhkan solidaritas sesama perantau.

Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Zakiyatul Mufidah, mahasiswa program doktor di University of Birmingham sekaligus relawan Ruanita. Pada sesi pertama, dua narasumber menyampaikan materi utama mengenai kesehatan mental dari perspektif ilmiah maupun praktis.

Pemateri pertama, Idei K. Swasti, psikolog sekaligus kandidat doktor bidang psikologi di University of Leeds, memaparkan materi berjudul “Kesehatan Mental sebagai Resolusi Awal Tahun: Spiritualitas dan Gotong Royong di Perantauan.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kesehatan mental harus ditempatkan setara dengan kesehatan fisik dan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal budaya yang kuat berupa spiritualitas, gotong royong, dan rasa kekeluargaan sebagai sumber resiliensi dalam menghadapi tekanan hidup di luar negeri.

Sementara itu, pemateri kedua, Yuki Fragariani, praktisi kesehatan mental yang berbasis di Irlandia, membahas peran pikiran bawah sadar dan metode hipnoterapi dalam menjaga keseimbangan mental. Ia memberikan beberapa contoh pendekatan self-healing yang dapat diterapkan peserta secara mandiri untuk mengelola stres dan kelelahan emosional.

Memasuki sesi kedua, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber melalui tanya jawab interaktif. Sejumlah peserta turut berbagi pengalaman pribadi mengenai tantangan akademik, tekanan kerja, dan rasa rindu keluarga selama tinggal di luar negeri. Diskusi berlangsung hangat dan menggambarkan adanya kebutuhan nyata akan ruang berbagi dan dukungan komunitas dalam isu kesehatan mental.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, sekaligus mengurangi stigma yang selama ini menjadi penghambat dalam mencari pertolongan psikologis. Selain itu, acara ini juga memperkuat solidaritas dan jejaring dukungan di kalangan orang Indonesia di mancanegara, khususnya di Inggris Raya.

Dengan keberlangsungan kegiatan tersebut, penyelenggara berharap langkah awal ini dapat menciptakan strategi kesehatan mental yang berkelanjutan bagi WNI di perantauan dan menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat Indonesia di luar negeri.

Info lebih lanjut: Zakiyatul Mufidah, Relawan Ruanita di UK dapat dikontak melalui info@ruanita.com 

Selengkapnya rekaman dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.