Aku sudah mati beberapa kali,/ menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/ janji-janji tak bertuan,/ letupan api-api neraka/ ditekan sesamanya,/ disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//
Bangke!// Yang tersisa padaku adalah kehampaan/ Ketiadaan/ kosong!//
Maria, Maria!// Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/ pada palang salib bernama pelayanan,/ hutang budi?/ pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/ haus validasi?/
Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.
Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.
Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.
Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.
Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.
Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu,
menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu.
JERMAN, 21 Februari 2025 – Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momentum penting untuk menghargai bahasa pertama yang dikenalkan sejak lahir—bahasa yang tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun identitas pribadi, sosial, dan budaya. Bahasa ibu membuka pintu bagi pemahaman nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta perspektif unik suatu komunitas.
Di era globalisasi, pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu turut memudahkan pembelajaran bahasa lain, mengenal budaya baru, dan memperkuat koneksi lintas budaya. Melalui pelestarian dan promosi bahasa ibu, termasuk Bahasa Indonesia, diharapkan dapat memperkaya keberagaman global sekaligus mengukuhkan identitas bangsa.
Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia, APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Jerman bekerja sama dengan Ruanita Indonesia mengadakan diskusi online dengan tema “Bahasa Ibu Sebagai Pintu ke Keberagaman Dunia.”
Acara ini diadakan sebagai upaya menegaskan peran bahasa ibu dalam pembentukan identitas, komunikasi lintas budaya, dan sebagai gerbang untuk memahami dunia yang lebih luas. Selain itu, acara diskusi daring ini sebagai upaya untuk meningkatkan promosi Bahasa Indonesia di kancah global, melalui peran APPBIPA Jerman. Lewat acara ini, kepengurusan baru APPBIPA Jerman periode 2024-2029 pun diperkenalkan.
Diskusi daring dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2025 pukul 19.00 – 21.00 secara terbuka kepada siapa saja yang tertarik tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Dalam diskusi daring ini, Atdikbud KBRI Berlin, Roniyus Marjunus, turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap pentingnya bahasa Ibu di mana pun berada.
Beliau menegaskan bahwa bahasa Ibu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas yang memperkuat eksistensi bangsa. Selain itu, bahasa Ibu memainkan peran penting dalam diplomasi budaya, yang dapat mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya.
Ada pun sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi, yang disampaikan oleh Desiree Luhulima, Pendidik dan Penulis Buku, sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Finlandia. Beliau memaparkan materi tentang Bahasa Ibu sebagai gerbang dunia.
Menurut Desiree Luhulima, Relawan Ruanita di Finlandia sekaligus pakar pendidikan dan penulis buku Wujudkan Anak Bahagia: Pra-Pendidikan Dasar Metode Finlandia, “Bahasa Ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam membangun pemahaman dunia. Melalui Bahasa Ibu, anak-anak memperoleh keterampilan berpikir kritis, memahami konsep-konsep kompleks, dan mengembangkan identitas yang kuat. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Ibu, proses belajar bahasa lain dan ilmu pengetahuan dapat terhambat. Oleh karena itu, melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Ibu menjadi langkah krusial dalam mempersiapkan generasi mendatang yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya mereka.”
Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Chatarina Maria, yang merupakan pengurus APPBIPA Jerman dengan materi mengenai peran BIPA di kancah internasional. Bahasa Ibu memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi alat diplomasi yang memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. Program BIPA berkembang pesat dengan kehadiran di 54 negara, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan daya saing global dibandingkan bahasa asing lainnya.
Untuk memperkaya wawasan yang disampaikan oleh pemateri, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada pemateri dan peserta yang hadir. APPBIPA Jerman dan Ruanita Indonesia berharap bahwa diskusi daring ini dapat menjadi wadah dialog yang konstruktif dan inspiratif. Melalui partisipasi bersama, diharapkan akan terbangun sinergi yang lebih kuat antar pegiat bahasa dan budaya, serta semakin mengukuhkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah internasional.
Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.
Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak panitia penyelenggara melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.
Melanjutkan episode bulan Februari 2025, Ruanita Indonesia mengangkat tema Safer Internet Day dalam program cerita sahabat spesial, yang ditayangkan tiap bulan. Bagaimana pun, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka akses informasi dan peluang tanpa batas.
Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Dia adalah Zakiyatul Mufidah, seorang dosen yang sedang menekuni studi lanjutan.
Zakiya menyadari bahwa rasa aman dalam berinternet di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam program Sahabat Spesial yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, isu-isu terkait keamanan digital dan budaya online diangkat untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.
Salah satu penyebab utama kurangnya rasa aman di dunia maya adalah budaya online yang mentoleransi tindakan seperti cyberbullying dan pelanggaran privasi. Misalnya, penggunaan foto tanpa izin, baik untuk candaan maupun tindakan yang lebih serius, masih sering terjadi.
Menurut Zakiya, rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia membuat masyarakat cenderung menggunakan internet tanpa memahami risiko atau etika yang menyertainya. Hal ini mencakup kurangnya kesadaran terhadap pentingnya keamanan akun melalui otentikasi ganda (double authentication), risiko menggunakan Wi-Fi publik, hingga bahaya phishing.
Ada empat aspek utama literasi digital, seperti yang dijelaskan oleh Zakiya
Digital Skill: Keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi.
Digital Culture: Pemahaman budaya dan tanggung jawab saat berinteraksi di dunia maya.
Digital Ethics: Mempraktikkan etika yang baik dalam komunikasi dan konten digital.
Digital Safety: Menjaga keamanan data pribadi dan melindungi diri dari kejahatan siber.
Kesadaran masyarakat terhadap keempat pilar ini perlu terus ditingkatkan melalui edukasi, kampanye, dan pelatihan praktis.
Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial berikut di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Herawasih Yasandikusuma. Saya biasa dipanggil Wasih. Saat ini saya tinggal di Geneva, Switzerland dari sejak lulus SMA di Indonesia, atau saya sudah berada di Swiss hampir 50 tahun. Dulu saya bekerja di berbagai organisasi internasional yang dikelola PBB, sekarang saya sudah tidak bekerja lagi. Saya sudah pensiun dan aktif menjalani pekerjaan lowong sebagai domain digital marketing.
Sejak pandemi Covid-19, saya mulai mencari kesibukan untuk bekerja secara online, apalagi saya sudah pensiun. Saya kemudian menekuni bisnis yang bisa dijalankan dari rumah atau work from home. Saya pun mengambil Closing Online Course. Setelah mendapatkan sertifikat tersebut, saya mencari infopreneur di LinkedIn. Dari situ, pekerjaan saya dimulai dalam bidang digital world.
Tentunya, bekerja di dunia digital tidak mudah. Ada banyak ancaman keamanan siber yang biasanya melanda para profesional digital marketing seperti saya. Ancaman tersebut antara lain: Phishing attacks, data breaches, ransomware/malware, insider threats, dan sebagainya.
Oleh karena itu, penting bagi mereka yang aktif dalam digital marketing untuk selalu vigilant danmemakai secure password. Bagaimana pun kita tidak pernah tahu bahaya digital yang mengancam, sehingga saya menyarankan selalu untuk memperbaharui software yang dimiliki.
Selain itu, kita perlu berhati-hati terhadap informasi seperti link, pranala atau tautan yang dibagikan. Bukan tidak mungkin, salah klik link atau pranala yang sembarangan itu bisa mengancam keamanan digital kita juga.
Selama ini, saya tidak pernah mengalami berbagai serangan di dunia maya yang mengancam. Tentunya, saya selalu alert dan berhati-hati dalam menggunakan platforms.
Saya selalu memastikan only partnering with reliable entities yang akan dibuka link atau tautan yang diberikan, kemudian memastikan pembayaran yang aman saat bertransaksi, dan yang terpenting adalah melaporkan apabila ada suspicious accounts pada media sosial.
Menurut saya, adanya artificial intelligence dalam dunia digital setidaknya dunia sudah terbantu dalam digital marketing. Hal ini juga mempermudah pekerjaan saya dalam dunia digital. Namun, kita tetap perlu berhati-hati dan bersikap waspada di dunia digital, terutama apabila terjadi penyalahgunaan data dan informasi yang tidak benar. Bagaimana pun, kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan kecerdasan manusia sesungguhnya.
Beberapa cybersecurity practices yang dapat melindungi data pribadi dan informasi sensitif klien, seperti yang saya lakukan, antara lain: (1). Secara teratur, selalu melakukan back up data klien, yang memastikan data tersimpan dengan baik, aman, dan tidak hilang; (2). Memastikan pembaharuan sistem dan platform software; (3). Selalu menggunakan perangkat encrypted communication misalnya saja layanan email yang aman, aplikasi pesan yang sudah encrypted; (4). Memberikan training best practices kepada rekan kerja lainnya, seperti bagaimana mengenali phising email, tidak menggunakan public wifi untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan, memberikan akses data klien hanya kepada rekan kerja yang memerlukannya; (5). Mereviu dan melakukan pembaharuan akses; (6). Menggunakan pasword yang aman dengan otentifikasi berbagai faktor.
Tentunya, pekerjaan digital marketing sering kali melakukan lewat email marketing. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan keamanannya dari serangan phising seperti: (1). Encrypt informasi sensitif dan data klien di dalam email untuk mencegah unauthorized access kalau-kalau terjadi serangan hackers yang tidak diinginkan; (2). Memonitor kampanye email marketing, terutama untuk aktivitas yang tidak biasa, misalnya: kenaikan dari bounce rate atau complaints dari klien yang disebabkan oleh phishing attack; (3). Memakai secure email marketing platforms dengan advanced security features (spam filtering, phishing detection, encryption); (4). Melatih staf marketing dan klien supaya tidak sembarangan melakukan klik link yang mencurigakan atau mengunduh file lampiran dari pengirim yang tidak dikenal; (5). Melaporkan kepada staf IT apabila ada email yang mencurigakan; (6). Menggunakan email authentication protocols untuk memverifikasi keaslian domain pengirim dan mencegah spoofing email.
Spoofing email adalah tindakan memalsukan header email sehingga pesan tampak seolah-olah berasal dari sumber yang sah atau tepercaya, padahal sebenarnya berasal dari pengirim yang tidak sah atau jahat. Ini adalah bentuk penipuan yang sering digunakan dalam serangan phishing atau upaya penipuan lainnya. Di tengah era digital seperti sekarang, kita perlu memperhatikan keamanan siber dalam bekerja dan bertransaksi di dunia digital.
Hal ini penting untuk perlindungan terhadap ancaman siber seperti: protect sensitive information (personal data, financial details) dari penyalahgunaan akses dan otoritas yang tidak dikenali; mencegah financial losses for individuals and businesses dari kasus ransomware atau phishing scams; menjaga online transactions dengan cybersecurity measures (encryption, secure payment gateways); menjaga kepercayaan dan reputasi dengan cybersecurity practices yang kuat sehingga membantu bisnis terpercaya dan kredibel karena telah menunjukkan komitmen untuk melindungi data dan privasi mereka.
Beberapa contoh seperti yang pernah terjadi Marriott International mengalami data breach atau pelanggaran data yang mengungkap detail kartu pembayaran lebih dari 5 juta pelanggan. Sahabat Ruanita juga perlu tahu Facebook menghadapi reaksi keras dan pengawasan atas penanganan data pengguna dalam Cambridge Analytica Scandal.
Tentunya, kita perlu tahu cara mengidentifikasi dan menghindari website atau aplikasi yang berpotensi berbahaya saat melakukan riset pasar. Beberapa tips antara lain:
Melakukan verifikasi kredibilitas situs web (contact information, privacy policy, terms of service, hindari situs web dengan URL mencurigakan, spelling errors, poor design);
Selalu teliti pada reputasi situs web atau aplikasi (cari reviews, ratings, feedback from other users untuk menilai kredibilitas dan kepercayaan situs web atau aplikasi);
Perlu berhati-hati terhadap email and pesan yang tidak diminta, dengan cara menghindari mengeklik tautan atau mengunduh lampiran email yang bisa berisi malware atau phishing;
Perlu menggunakan sumber yang dapat dipercara untuk download untuk meminimalkan risiko pengunduhan malware atau malicious software);
Menjaga dan melindungi software and security measures up to date with the latest patches to protect against security vulnerabilities;
Selalu gunakan jaringan yang aman, dengan cara menghindari melakukan riset pasar pada jaringan wifi publik karena jaringan tersebut mungkin tidak aman,
Gunakan VPN (virtual private network) saat mengakses informasi sensitif di jaringan publik;
Bersikap waspada pada tanda bahaya (berhati-hati terhadap situs web atau aplikasi yang meminta informasi sensitif seperti passwords, financial details atau data pribadi tanpa alasan yang sah);
Selalu percaya naluri sendiri dan bersikap hati-hati bila ada sesuatu yang mencurigakan.
Di tengah ancaman bahaya siber, kita perlu melakukan pelatihan keamanan yang sangat penting bagi tim pemasaran digital untuk meningkatkan kesadaran, melindungi data sensitif, dan memitigasi risiko serangan siber. Dengan mendidik anggota tim tentang praktik baik keamanan siber, organisasi dapat mengurangi kemungkinan pelanggaran data, serangan phishing dan cyber threats yang lain.
Berikut beberapa topik penting yang harus dibahas dalam pelatihan keamanan siber untuk tim pemasaran digital:
Mengajar anggota tim cara mengenali email phishing, menghindari mengklik tautan berbahaya atau mengunduh lampiran, dan melaporkan email mencurigakan ke departemen IT;
Menggunakan password security (tekankan pentingnya membuat kata sandi yang kuat dan unik, menggunakan autentikasi multifaktor, dan menghindari penggunaan ulang kata sandi di seluruh akun);
Menekankan data protection (mendidik anggota tim tentang pentingnya menjaga data sensitif, mengikuti peraturan perlindungan data, dan menangani informasi klien dengan aman);
Memastikan secure communication (encrypted communication tools, layanan email yang aman, dan metode berbagi file yang aman untuk melindungi informasi sensitif yang dibagikan dalam tim dan klien);
Meningkatkan kesadaran rekayasa sosial (meningkatkan kesadaran tentang taktik rekayasa sosial yang digunakan oleh cyber attackers untuk memanipulasi individu agar mengungkapkan informasi rahasia atau melakukan tindakan tidak sah);
Melatih anggota tim tentang cara merespon insiden keamana dan memberikan panduan device security (memberikan panduan tentang pengamanan perangkat yang digunakan untuk bekerja, keeping software updated, using anti-malware programs);
Sahabat Ruanita, terakhir saya pikir kita perlu memastikan bahwa platform media sosial yang digunakan untuk kampanye marketing aman dari serangan siber. Dengan mengikuti langkah-langkah berikut, kita bisa tetap waspada sehingga bisnis tetap berjalan aman. Berikut beberapa langkah untuk membantu melindungi akun dan kampanye media sosial:
Melakukan autentifikasi dengan 2 faktor untuk menambah lapisan ekstra dan mencegah akses yang tidak dikehendaki, menambah lapisan keamanan ekstra, dan mencegah akses tidak sah.
Even if passwords are compromised, buatlah kata sandi yang kuat dan unik untuk akun media sosial dan hindari penggunaan kata sandi yang sama di beberapa akun.
Batasi akses ke akun media sosial hanya untuk anggota tim yang berwenang dan hindari berbagi kredensial login atau informasi sensitif melalui saluran yang tidak aman.
Secara teratur, lakukan review and pembaharuan account permissions, settings, and connected apps to ensure that only necessary permissions are granted;
Melatih anggota tim pemasaran untuk mengenali taktik rekayasa sosial yang digunakan dalam serangan phishing, seperti fake login pages atau pesan yang menipu, untuk mencegah akses tidak sah ke akun;
Rutin memantau aktivitas akun media sosial untuk setiap perilaku yang tidak biasa (unauthorized login attempts, changes to account settings, or suspicious posts) dan segera ambil tindakan jika ada aktivitas mencurigakan yang terdeteksi;
Rajin cek informasi tentang security updates dan praktik terbaik yang disediakan oleh platform media sosial dan berita terkait ancaman keamanan media sosial;
Gunakan social media management tool that offers security features (pemantauan akun, kontrol akses dan metode otorisasi yang aman untuk mengelola dan melindungi akun media sosial).
Menurut saya, kebijakan privasi menjadi hal utama yang harus menjadi fokus digital marketing. Mereka yang bekerja di digital marketing harus memastikan bahwa mereka memiliki dasar hukum untuk memproses data pribadi, mendapatkan persetujuan eksplisit untuk pengumpulan data, memberikan pemberitahuan privasi yang transparan, dan menerapkan perlindungan data; Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) berlaku untuk bisnis yang beroperasi di Uni Eropa.
Selain itu, para digital marketers harus menyadari undang-undang pemberitahuan pelanggaran data yang mengharuskan bisnis perlu memberi tahu pihak berwenang jika terjadi pelanggaran data yang membahayakan informasi pribadi. COPPA, undang-undang federal AS, misalnya mengatur pengumpulan informasi pribadi online dari anak-anak di bawah usia 13 tahun. Digital marketers harus mendapatkan izin orang tua sebelum mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak berdasarkan peraturan COPPA tersebut. Para digital marketers dalam kampanye pemasaran email harus menyertakan informasi pengirim yang akurat sesuai undang-undang seperti elektronik privasi yang berlaku di negara Uni Eropa dan mematuhi guidelines for commercial email communications.
Di Hari Internasional Safer Internet, saya ingin membagikan strategi untuk membantu mendeteksi dan mencegah aktivitas berbahaya, antara lain: (1). menerapkan proses verifikasi akun di mana pengguna wajib untuk memverifikasi identitas mereka melalui metode seperti verifikasi email, verifikasi telepon atau CAPTCHA untuk mengurangi pembuatan akun palsu oleh bot atau pelaku jahat; (2). memantau aktivitas akun secara rutin untuk mengetahui pola yang tidak biasa, seperti high volume of account registrations atau login dari lokasi mencurigakan, yang dapat mengindikasikan aktivitas bot atau akun penipuan; (3). menerapkan alat dan layanan pendeteksi bot yang dapat mengidentifikasi dan memblokir automated bot traffic di situs web, social media platform, atau kampanye iklan untuk mencegah interaksi penipuan; (4). Lakukan track engagement metrics such as click-through rates, conversion rates, time on site to identify abnormal patterns or inconsistencies that may indicate bot activity influencing campaign performance; (5). Lakukan verifikasi CAPTCHA untuk pengiriman formulir, untuk membedakan antara aktivitas manusia dan aktivitas otomatis, serta mencegah bot mengirimkan fake leads; (6). Gunakan teknik pemblokiran IP dan pembatasan kecepatan untuk membatasi akses ke situs web atau aplikasi dari alamat IP yang mencurigakan atau untuk membatasi frekuensi interaksi pengguna untuk mencegah abusive behavior by bots; (7). Latih tim digital marketers tentang cara mengenali dan merespons aktivitas mencurigakan, seperti akun palsu atau interaksi yang didorong oleh bot; (8). Lakukan kolaborasi dengan cybersecurity experts untuk menilai keamanan kampanye digital marketing dan mengembangkan strategi untuk memerangi serangan bot dan aktivitas jahat lainnya secara efektif. Hal-hal yang disebutkan ini dapat menjaga reputasi brand mereka dan memastikan integritas upaya pemasaran mereka.
Dalam rangka Safer Internet Day, pesan saya kepada dunia dan pelaku dunia digital yakni: selalu memprioritaskan online safety, security and responsible use of the internet. Dengan bekerja sama, kita dapat mempromosikan internet yang lebih aman bagi semua. Tentunya, kita dapat menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan positif di mana setiap orang dapat bereksplorasi dan berinovasi dengan percaya diri.
Penulis adalah Herawasih Yasandikusuma, yang tinggal di Jenewa, Swiss. Dapat dikontak via akun LinkedIn herawasih yasandikusuma dan facebook/instagram: wasihtravel.
Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.
Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.
Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.
Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.
Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.
Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.
Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.
Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.
Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.
Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.
Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.
Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”
Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.
Pesan untuk Hari Kanker Sedunia
Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.
Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.
Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.
Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.
Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.
Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.
Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.
Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.
Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.
Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi
Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa.
Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.
Herd mentality menjadi relevan pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku, serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend di media sosial.
Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.
Seperti pada agenda politik terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya.
Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.
Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.
Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.
Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk mencari informasi lebih jauh lagi.
Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing.
Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau kelompok tertentu.
Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap suatu individu yang mewakili partai tertentu.
Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini, dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.
Perilaku herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama.
Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok, hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.
Sedangkan herd mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih dahulu.
Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif, hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun.
Masyarakat kolektif lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.
Pendidikan politik juga belum bisa sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada tidak sama sekali.
Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang terdekat.
Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdealadan instagram.com/@nila.docx
Melanjutkan diskusi IG Live yang tayang setiap bulan, pada bulan Januari 2025 Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar diskusi yang tak kalah seru untuk membahas status single, bersama dua sahabat Ruanita yang berada di dua lokasi negara berbeda.
Tentunya, diskusi IG Live tetap dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita yang membahasnya secara menarik bersama Ecie Linasari dan Nissa Vidyanita. Pandangan single shaming bisa dilihat dalam perspektif budaya dan atau psikologi, tetapi apakah benar ini disebabkan ketidaksetaraan gender?
Ecie meyakini bahwa pertanyaan tentang status single yang disandangnya lebih banyak diperoleh dari orang-orang Indonesia, meski dia berada di Jerman. Batasan yang tegas memang diperlukan untuk merespon pertanyaan orang-orang sekitar atau membuat komentar negatif yang tidak tepat.
Sementara Vidya memahami bahwa Single Shaming mudah terjadi di masyarakat, yang masih menempatkan perempuan pada posisi marjinal. Vidya tidak mengalami single shaming saat berada di Irlandia. Perempuan yang tidak berpasangan masih dianggap sebagai bentuk kegagalan.
Single shaming juga masih dipandang kuat dalam perspektif budaya, sehingga hal itu tidak terjadi pada masyarakat di Jerman atau di Irlandia. Menurut Ecie, orang asing yang tak kenal di Indonesia bisa saja dengan mudahnya bertanya tentang status pernikahan padanya.
Vidya pun berpesan kepada sahabat Ruanita yang menyimak Diskusi IG Live untuk percaya bahwa tidak ada yang salah menjadi single. Berikan pula batasan yang menandakan bahwa kita harus bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.
Nama saya Siwi, biasa dipanggil Siwi oleh teman-teman dekat. Saya tinggal di Jerman, tepatnya di kota Berlin, dan sudah menetap di sini selama kurang lebih 10 tahun. Minat saya beragam, mulai dari membaca buku, memasak, serta mendalami budaya setempat. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai ibu, mahasiswi dan juga business developer di sebuah perusahaan tas di Berlin.
Di keluarga saya sendiri, berpelukan antara orang tua dan anak-anak atau antar kerabat sudah menjadi hal yang biasa. Budaya ini berasal dari nilai-nilai kekeluargaan yang kuat di Indonesia, di mana berpelukan dimaknai sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang dan dukungan emosional.
Ketika saya pulang ke Indonesia, saya selalu merasakan kehangatan dalam pelukan orang tua dan suami saya setiap dia pulang kerja. Pelukan bagi kami seperti obat, untuk menunjukan rasa cinta, rindu, dan saling menguatkan. Saya berpikir, kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan dan momen berpelukan menjadi simbol pencapaian dan kerja sama yang erat.
Dari sudut pandang budaya, berpelukan ini menunjukkan rasa keakraban dan solidaritas, sedangkan secara psikologis, ini memberi saya rasa dihargai dan diperhatikan, menguatkan ikatan emosional kami.
Sebagai ibu baru di perantauan merasa bahwa setiap tangan yang terulur adalah seperti harapan, begitu juga pelukan. Pelukan yang sederhana menyimpulkan banyak cinta, hangat, dan penghargaan. Berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang.
Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.
Menurut saya, berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.
Saya memahami bahwa ada anggapan bahwa berpelukan hanya dilakukan sesama gender atau menyiratkan romantisme. Namun, bagi saya, berpelukan lebih dari sekadar aspek romantis. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan, kasih sayang, dan keakraban tanpa memandang gender. Pandangan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis.
Secara psikologis, berpelukan memberikan banyak manfaat bagi saya. Ini membantu mengurangi stres, meningkatkan perasaan nyaman, dan memperkuat ikatan sosial. Berpelukan juga dapat merangsang produksi hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, yang membantu meningkatkan mood dan rasa bahagia.
Saya pernah mengalami situasi di mana seseorang enggan untuk dipeluk. Hal ini terjadi saat saya ingin memeluk seorang teman yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Saya memahami bahwa tidak semua orang nyaman dengan kontak fisik. Alasan mereka mungkin beragam, termasuk perbedaan budaya, pengalaman pribadi, atau preferensi individu.
Di tempat kerja, saya juga pernah melihat budaya berpelukan diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih informal dan setara. Saya setuju dengan pendekatan ini karena dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan kerja yang lebih baik. Namun, penting untuk selalu menghormati batasan pribadi dan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman.
Selama pandemi Covid-19, keterbatasan dalam kontak sosial, termasuk berpelukan, sangat mempengaruhi saya. Saya merasakan kehilangan kehangatan dan kedekatan yang biasanya dirasakan melalui pelukan. Berpelukan sangat penting dalam konteks kesehatan mental karena memberikan rasa nyaman dan mendukung kesejahteraan emosional, terutama di masa-masa sulit.
Kepada Sahabat Ruanita, saya ingin menyampaikan bahwa berpelukan memiliki banyak manfaat baik dari perspektif budaya maupun psikologis. Ini membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan mental. Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, selama itu dilakukan dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasan pribadi.
“Hugs are the heartbeat from the soul to the soul.” — Terri Guillemets. Dan seperti banyak bahasa cinta yang dilakukan oleh manusia, pelukan adalah bahasa cinta yang tidak perlu berbahasa: hanya butuh dua tangan yang terulur dan empati.
Penulis: Siwi yang tinggal di Berlin, Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram @swdiary95.
JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.
Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.
Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.
Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.
Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.
Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.
Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman
Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.
Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.
Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.
Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.
Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya.
Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih).
Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan.
Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.
Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain.
Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu, bahkan harus.
Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.
Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.
Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.
Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja, tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih.
Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„ atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”
Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka.
Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.
Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.
Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.
Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.
Frankfurt, JERMAN – Memulai tahun baru dengan semangat positif, Ruanita Indonesia bekerja sama KJRI FRANKFURT, ALZI Nederland, komunitas ALZI Jerman, dan SELINDO mengadakan diskusi bauran/hybrid bertema “Awali Tahun Agar Aktif dan Produktif Sejak Usia Emas”.
Acara ini dirancang untuk menginspirasi warga Indonesia di Eropa, agar tetap sehat, produktif, dan terhubung secara sosial. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 11.00–13.00 CET (17.00–19.00 WIB) melalui platform Zoom Meeting.
Banyak warga Indonesia yang tinggal di Eropa menghadapi tantangan khas, seperti keterbatasan dukungan sosial dan perubahan gaya hidup. Dalam diskusi ini, peserta akan diajak untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan fisik dan mental serta mempererat solidaritas dalam komunitas.
Konjen RI untuk Frankfurt, Antonius Yudi Triantoro berkesempatan membuka acara diskusi ini dan menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan ruang berbagi dan belajar. “Kami berharap diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru bagi warga senior untuk menjalani hidup lebih bermakna dan terhubung,” ujarnya.
Diskusi ini akan menghadirkan pemateri terkemuka, di antaranya:
Antonius Yudi Triantor (Konjen RI Frankfurt), yang akan memberikan sambutan pembuka.
Danny Yatim, penulis buku Tetap Aktif di Usia Emas dan psikolog.
dr. Dara R. Pabittei, Elderly Care Physician dan penggiat Alzheimer Demensia dari ALZI Nederland, yang akan berbagi wawasan tentang kesehatan otak.
Rusdin Sumbajak, perwakilan SELINDO (Senior Lansia Indonesia di Jerman), yang akan menjadi penanggap diskusi.
Diskusi ini mencakup sesi inspiratif dan interaktif, termasuk pembahasan tentang:
Menjaga produktivitas di usia emas oleh Danny Yatim.
Kesehatan otak dan cara mencegah demensia oleh dr. Dara R. Pabittei.
Sesi tanya jawab interaktif untuk berbagi pengalaman hidup di usia lanjut.
Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai tahun baru dengan semangat aktif dan produktif. “Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, kami ingin memperkuat solidaritas dan dukungan sosial bagi warga Indonesia di Eropa,” tambah Teti Arndt, komunitas ALZI Jerman.
Untuk materi informasi diskusi, silakan simak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi: