(AISIYU) Lari dan Merdekalah!

Pembuat karya: Mia Olivia

Akun Instagram: miaolivers_

Judul karya: Lari dan Merdekalah!

Deskripsi: Kemerdekaan untukku adalah keberanian untuk kita lari, kabur, berpisah, melepaskan, dari semua penjara-penjara tak berbentuk yang dibangun oleh pola pikir patriarki. Bukan hanya secara fisik tetapi yang lebih utamanya secara pikiran, karena kalau kita tidak memerdekakan pola pikir kita, sejauh apapun kita melarikan diri, penjara itu akan tetap mengikuti. Kita harus sadar bahwa kita ini NYATA dan MAMPU melakukan apapun. Sendiri saja mampu apalagi bersama-sama. Uluran tangan banyak pihak juga sangat membantu untuk para perempuan memerdekakan diri dan pikirannya dan  kungkungan penjara patriarki. Seni adalah cara memerdekakan diri, sudah digunakan sejak ratusan abad atau bahkan lebih lama. Dengan berkesenian apapun bentuknya, semoga para perempuan bisa menemukan pintu-pintu kemerdekaannya.

(CERITA SAHABAT) Begini Tips Healthy Relationship dengan Sesama Orang Indonesia di Negeri Rantau

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.

Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian. 

Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau jauh dari tanah air, tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.

Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat. 

Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik. 

Berdasarkan pengamatan saya, sesama orang Indonesia di negeri rantau saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama orang Indonesia di mancanegara pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama orang Indonesia juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?

Follow us

Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut. 

Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:

1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal.  Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.

2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.

3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.

4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.

5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi”  sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.

Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:

  1. Jujur dan hindari tindakan kriminal. 

Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.

  1. Saling Menghormati.

Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.

  1. Jauhi rasa iri dan dengki.

Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.

  1. Mendengarkan. 

Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.

  1. Memberi kebebasan pada setiap individu.

Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong  mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.

  1. Melakukan kegiatan bersama.

Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.

  1. Kebaikan selalu berbuah kebaikan. 

Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.

  1. Memiliki value dan passion pada hal yang sama. 

Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.

Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas orang Indonesia di mancanegara. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri. 

Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.

Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi

(RUMPITA) Bagaimana Trauma Healing yang Tepat?

Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.

Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.

Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.

Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.

Follow us.

Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.

Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.

Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.

Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?

Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Cegah Diabetes Dari Edukasi Diri Sampai Konsumsi Nutrisi

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Yulyana. Ada pula yang memanggil saya, Juliana. Es klingt fast gleiche😊 atau dalam Bahasa Jerman maksudnya, itu sama saja mau dipanggil Yulyana atau Juliana. Saya tinggal di Jerman sejak April 2013. Lokasi tinggal saya terletak di desa kecil, namanya Iggensbach. Areanya berada di sekitar Landkreis Deggendorf-Passau, negara bagian Bavaria.

Kalau mau dibayangkan, lokasi tinggal saya itu sekitar 25 – 30 kilometer dari Kota Passau. Kalau kita naik kendaraan melalui Autobahn, jalan tol dalam Bahasa Jerman, maka lokasi tinggal saya bisa dicapai sekitar 15 – 16 kilometer dari Kota Deggendorf. Di kota Deggendorf inilah, saya bekerja sebagai Krankenpflegerin atau perawat dalam Bahasa Indonesia di IMC Stroke Station. Lebih jelasnya, saya adalah perawat pasien stroke dengan sistem monitor. 

Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam program cerita sahabat RUANITA, terutama berkaitan dengan pengalaman saya tentang diabetes yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Kita perlu tahu kalau diabetes merupakan salah satu Silent Killer Disease, karena penyakit ini begitu tersembuyi. Apabila kita terlambat menanganinya, ini akan berkomplikasi ke organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita mengedukasi diri sendiri tentang status kesehatan kita dan konsumsi nutrisi harian kita.

Berbicara soal diabetes, ini bukan hal asing bagi saya. Keluarga saya merupakan keluarga yang memiliki penyakit ini. Itu sebab diabetes dikenal sebagai penyakit keturunan. Jadi, mau tidak mau, saya pun memiliki gen ini. Saya kehilangan oma yang meninggal karena diabetes mellitus. Seingat saya, almarhum oma hanya mengontrol pola makan seperti mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Namun diabetes yang diderita oma berujung pada komplikasi.

Komplikasi yang dialami almarhum oma sudah sampai ke organ mata, di mana dia harus mengalami kebutaan. Almarhum oma mengalami dekubitus level 4, yang sudah tembus ke tulang dan sulit disembuhkan. Kejadian itu sekitar tahun 1996, yang mana kami sekeluarga belum banyak mengenal dekubitus. Saat itu, belum ada penanganan yang optimal untuk pasien diabetes dengan luka dekubitus di Indonesia. 

Diabetes juga dialami oleh papa saya, yang didiagnosa sebagai diabetes melitus tipe 2 oleh dokter. Menurut saya, penanganan papa jauh lebih baik ketimbang almarhum oma. Papa diberi obat gula dan rutin diperiksa kadar gula darahnya. Selain itu, fungsi ginjal papa pun diperiksa per tiga bulan, terutama untuk Hba1C. Papa saya juga mengontrol konsumsi karbohidrat dan gula sehingga kadar gula darahnya selalu stabil. Ketika seseorang didiagnosa memiliki diabetes, maka dia harus mulai mengedukasi dirinya sendiri untuk mengetahui asupan nutrisi dan perilaku kesehariannya.

Salah satu teman baik saya pun didiagnosa diabetes melitus tipe 2 di saat usianya sudah memasuki pertengahan 30 tahunan. Tentu saja, dia sangat panik luar biasa dan begitu cemas. Saya bisa memahami situasinya yang tidak mudah menerima kenyataan tersebut. Apalagi dia harus hidup tanpa nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Itu sangat menyulitkan dia di awal hari-hari tanpa nasi. Tidak hanya mengontrol konsumsi nasi saja, dia pun harus mengontrol kadar gula darahnya. Dia pun jadi lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih bergizi. 

Bagi saya, didiagnosa penyakit apapun itu bukan berita menyenangkan bagi setiap orang. Apalagi kalau kita didiagnosa diabetes, yakni penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kita perlu tahu kalau diabetes itu bisa dicegah bahkan kita bisa mengendalikan komplikasinya. Penyakit diabetes sendiri memiliki dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Pada diabetes tipe 1 disebabkan oleh tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2 disebabkan karena tubuh gagal menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon penting yang dapat membantu mengantarkan glukosa ke sel tubuh agar bisa menghasilkan energi. 

Seperti cerita saya di atas, diabetes telah menyerang orang-orang terdekat saya. Sebagai orang yang berpotensi memiliki diagnosa diabetes. saya pun mulai waspada terhadap kemungkinan ini. Benar saja, saya pun didiagnosa diabetes gestasional pada saat saya sedang hamil. Beruntungnya diagnosa ini cepat diketahui di awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Saya wajib melakukan tes darah sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain: saat bangun tidur, satu jam setelah sarapan, satu jam setelah makan siang, dan satu jam setelah makan malam. 

Tak hanya tes darah saja, saya pun harus melakukan diet sehat seperti karbohidrat. Saya pun jadi lebih memerhatikan kadar indeks karbohidrat yang dikonsumsi. Tentu saja, ini bukan hal mudah dilakukan di awal karena saya harus melakukannya sendiri agar saya tetap sehat. Saya harus menimbang semua makanan yang akan dimakan, misalnya untuk nasi, pasta, atau mi maka saya hanya boleh mengonsumsi sebesar 15 gram saja. Itu setara dengan 3-4 sendok makan full. Saya hanya boleh makan dengan porsi yang sedikit tetapi sering. Jelas, itu tidak mudah ya😊

Puji Tuhan, saya bisa melewati fase ini dan tidak memerlukan suntikan insulin selama proses kehamilan saya. Setelah anak saya lahir pun, saya wajib mengecek kembali kadar gula darah. Dokter internist endokrinologi menyatakan kalau hasilnya normal. Dengan kesadaran saya sendiri, saya harus menjaga pola makan saya. Itu adalah kebiasaan sehat yang harus dilakukan oleh mereka yang didiagnosa diabetes. Saya pun rutin untuk datang dan memeriksakan diri ke Hausartzin atau dokter saya di Jerman. 

Berbicara tentang diabetes, tidak hanya disebabkan oleh pengalaman orang terdekat saya dan apa yang saya alami sendiri. Menurut saya, penanganan diabetes di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada saat perawatan almarhum oma sekitar tahun 1990-an. Keberhasilan ini ditunjang oleh program BPJS-Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis seperti pasien-pasien yang didiagnosa diabetes di Indonesia. Jadi mereka yang didiagnosa diabetes dapat rutin mendaftarkan dirinya ke puskesmas terdekat, kemudian mereka akan dirujuk ke dokter spesialis endokrinologi. Para pasien diabetes melitus dan hipertensi akan mendapatkan obat gula, pen suntik insulin, bahkan check up laboratorium gratis setiap enam bulan untuk kadar gula darah, Hba1C, fungsi ginjal, dan juga kolesterol darah. 

Saya salut dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan warganya melalui program BPJS. Namun begitu, ini belum sepenuhnya optimal bila tidak didukung oleh kesadaran warga sendiri akan pola hidup sehat. Saat saya berlibur ke Indonesia, saya melihat dan mengalami banyak produk makanan yang dijual dengan kadar gula yang tidak terkontrol. Sayangnya, masyarakat awam masih kurang peka akan hal ini. Hidup sehat itu ada di tangan kita.

Dalam rangka World Diabetes Day, kita bisa mengedukasi diri sendiri dengan membaca informasi yang tertera dalam produk makanan atau minuman yang dijual. Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menerapkan limit maksimal kadar gula dalam suatu produk makanan atau minuman seperti di Eropa. Di beberapa negara Eropa, produsen bahan makanan wajib mencantumkan besaran persentase kadar gula dalam suatu produk makanan yang diproduksi. Semakin banyak kadar gula dalam produk tersebut, maka semakin banyak pajak yang harus dibayar pihak produsen. Cara lain adalah adanya Nutriscore skala yang menjadi patokan huruf dari A sampai dengan E dengan pemberian warna yang menentukan kadar gulanya seperti: A dengan warna hijau, B dengan warna hijau muda, C dengan warna kuning, D dengan warna orange, dan E dengan warna merah.

Sebagai konsumen, kita perlu bersikap cerdas dengan membaca petunjuk kemasan makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Kita perlu cari tahu atau bertanya ke narasumber yang kompeten atau ahli di bidangnya seperti dokter atau ahli nutrisi mengenai diabetes. Saya pikir penting untuk warga Indonesia mendapatkan penyuluhan kesehatan yang benar dan tepat tentang diabetes melalui kegiatan kemasyarakatan di komunitas-komunitas di Indonesia. Seperti misalnya, kita bisa mengedukasi diri dari mitos-mitos yang beredar dan tidak benar. Ada banyak mitos yang mengatakan kalau diabetes menyerang pada orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Itu tidak benar. Diabetes dapat dialami pada siapa saja, terutama mereka yang tidak bisa menjaga pola makan dan hidup sehat. 

Pesan saya, pertama, diabetes itu bukan penyakit menular ya! Kedua, bersikaplah self-care atau peduli pada apa yang kita konsumsi. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Life healthy and balanced ya, Sahabat RUANITA! Terakhir, diabetes melitus bukan akhir segalanya. Kita masih bisa menjalani hidup dengan normal asalkan kita lebih memerhatikan pola makan dan rajin berolahraga, tentunya. 

Penulis: Juliana Wildenauer, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram: @schnuckiesnappy.

(MATERI INFORMASI) Workshop Seni Kolase Online 2023

Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.

Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.

Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.

Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.

(CERITA SAHABAT) Ini Kesedihan Saya Tinggal Jauh dari Keluarga di Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia. 

Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya. 

Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.

Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.

Follow us

Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.

Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu. 

Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan. 

Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile

Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya. 

Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.

Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down

Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.

Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.

Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut. 

Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body

Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja. 

Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Cancel Culture?

Pernah mendengar istilah cancel culture? Menurut Fadologi, blog yang membahas frasa populer di media sosial menyebutkan istilah cancel culture merujuk pada aksi, gerakan menolak seorang publik figur atau perusahaan akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Aksi ini umumnya terjadi di kalangan pengguna media sosial.

Alih-alih digunakan untuk memberi efek jera, cancel culture tak jarang berubah menjadi perilaku bullying pada pelakunya. Akibatnya mereka yang terkena imbasnya menjadi depresi dan memilih menarik diri dari lingkungan.

Cancel culture bisa menyebabkan seseorang kehilangan rasa empati. Fenomena ini juga menimbulkan masalah sosial lain berupa kekhawatiran takut akan penolakan.

Cancel culture terdapat dalam konsep Habermas tentang ruang publik(1962). Pada bukunya The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society menyebutkan bahwa ruang publik dikuasai oleh kaum elit.

Saat itu, produser, sutradara serta sejumlah penguasa memiliki kemampuan untuk memilih pekerja di industri media, mengatur headline berita, memboikot dan membuat daftar hitam bagi mereka yang tidak diinginkan.

Zaman berganti internet membuat keterbatasan menjadi tak terbatas. Kini siapa saja dengan mudah mengakses dan berbagi informasi peran media menjadi kontrol sosial pun menjadi bias.

Fenomena cancel culture tak hanya menjadi masalah sosial tapi juga kesehatan. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan berdasarkan rasa empati dan tolong menolong. Namun sikap penolakan ini tentu akan menimbulkan emosi negatif bagi orang-orang yang terlibat.

Walau begitu beberapa kasus cancel culture berhasil memerangi kasus seksisme dan rasisme. Salah satunya peristiwa yang menimpa pedangdut Saipul Jamil, ia diboikot untuk tampil di acara televisi usai bebas dari penjara karena terjerat kasus pedofilia.

Akibat peristiwa tersebut masyarakat Indonesia kini menjadi lebih peduli terhadap kasus penyimpangan seks ini dan menjadi lebih awas dalam melindungi anak.

Penulis: Farah Fuadona, WNI yang saat ini berdomisili di Ankara, Turki. Suka menulis dan berteman untuk menambah pengalaman.

(CERITA SAHABAT) Sempat Menjadi Stay at Home Mom, Ajari Saya Atasi Emotionally Drained Mental Clutter

Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.

Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.

Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.

Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.

Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.

Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.

Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.

Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.

Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.

Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.

Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.

Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.

Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.

Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.

Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.

Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.

Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.

Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.

Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.

(WORKSHOP SENI VISUAL) Seni Kolase 2023

Program Workshop Visual Arts – Seni Kolase diselenggarakan Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Komnas Perempuan Republik Indonesia yang bertujuan agar mendorong partisipasi warga melalui karya seni sebagai gerakan global untuk menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan, sehingga tercapai kesetaraan gender yang menjadi fokus proyek. 

Program Workshop Seni Kolase 2023 diselenggarakan pada Sabtu, 4 & 11 November 2023 pukul 10.00 – 12.00 CET/ pukul 16.00 – 18.00 WIB melalui zoom meeting. Harapannya peserta dapat mengambil bagian dalam kampanye 16 Hari untuk memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung 25 November – 10 Desember 2023.

Program Workshop Seni Kolase 2023 ini hanya untuk 30 peserta. Mohon peserta menuliskan alasan kuat mengikuti workshop ini sehingga menjadi pertimbangan panitia untuk memilih Anda. Pendaftaran ditutup hingga tanggal 2 November 2023.

Ketentuan peserta:

  1. Warga Indonesia berusia minimal 18 tahun.
  2. Bersedia hadir penuh dan tepat waktu dalam pertemuan 1 dan 2.
  3. Bersedia menyerahkan hasil karyanya setelah workshop kedua selesai.
  4. Bersedia mengambil foto/scan karya yang diproduksinya dan mengirimkannya ke panitia penyelenggara via email info@ruanita.com.
  5. Bersedia menuliskan deskripsi singkat (3-5 kalimat) tentang karya yang dibuat dan dicantumkan (nama & akun media sosialnya) pada saat kampanye berlangsung.
  6. Bersedia menyediakan peralatan seperti: gunting, cutter, lem kertas, isolasi, doubletape, kertas gambar ukuran A4, penggaris, alas pemotong dan bahan seperti: majalah/brosur/koran bekas, dll.
  7. Bersedia mengisi formulir berikut

Pengiriman produk workshop sebagai partisipasi kampanye dilakukan selama 11 – 14 November 2023 via email info@ruanita.com. Sebagai tindak lanjut, 15 karya terbaik dari peserta akan dipilih panitia dan ditampilkan di akun media sosial IG, FB, dan website Ruanita Indonesia dan di-repost oleh akun Komnas Perempuan Indonesia. Karya peserta juga bisa dilihat di website www.ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Trauma yang Buat Saya Tidak Percaya pada Siapapun

Halo, perkenalkan nama saya Robin. Jujur, saya ingin menjaga anonimitas saya sehingga saya tidak ingin Sahabat Ruanita mengetahui nama saya sebenarnya. Saya kembali menetap di Indonesia sudah 3 tahun lamanya. Sebenarnya, saya sudah pernah tinggal di Italia lebih lama tetapi baru-baru ini saya memutuskan untuk pindah lagi kembali ke Indonesia. Sebelumnya, saya tinggal di Italia cukup lama. Meskipun cukup sering berpindah-pindah lokasi, sebagian besar waktu saya habiskan tinggal di Italia, tepatnya di Bologna. Sekarang saya tinggal di daerah Seturan. Rutinitas saya sehari-hari adalah bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Saya bekerja hampir sepanjang waktu, tetapi terkadang saya bekerja dari pukul 10 hingga sampai pukul 19.00 malam. Intinya, saya bekerja sekitar delapan jam setiap hari. Saya juga melakukan hobi di waktu senggang. 

Berbicara tentang hal traumatis, saya ingin bercerita terkait pekerjaan. Oleh karena itu, saya tidak menyebutkan nama perusahaannya, meskipun saya akan menceritakan detil apa yang membuat saya trauma. Pengalaman trauma saya dimulai ketika saya bekerja di Indonesia. Saya bekerja di suatu perusahaan di sana. Saya senang bisa bekerja di perusahaan tersebut karena ada teman saya juga yang bekerja di sana. Prinsipnya, kami saling mempercayai satu sama lain.

Follow us

Namun, dia “menikam” juga dari belakang. Yang pada akhirnya perbuatannya itu telah menjebloskan saya ke dalam penjara. Sungguh hal itu telah membuat saya sangat trauma. Terlebih lagi karena saya pernah mengalami hal-hal traumatis yang berhubungan dengan tempat kerja dan bullying di tempat kerja.

Saya merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat dipercayai. Bagaimana mungkin pengkhianatannya telah menjerumuskan saya ke dalam penjara. Syukurlah, saya sudah pulih sekarang. Namun, tentu masih ada “luka” yang mendalam di mana saya hampir tidak bisa mempercayai orang lain lagi seperti dulu. Saya mencoba berusaha sekuat tenaga untuk menemukan pekerjaan dimana tidak ada orang yang saya kenal di perusahaan tersebut. Saya menghindari bekerja dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Walaupun, saya butuh rekomendasi dan tawaran pekerjaan ketika saya tiba kembali ke Indonesia lagi. Saya tidak ingin trauma saya kembali lagi.

Spesifiknya, saya ceritakan detil tentang penyebab trauma saya. Jadi, saya pernah bekerja di suatu perusahaan di Jakarta selama kurang lebih satu tahun. Empat bulan pertama semua tampak baik-baik saja. Setelah itu, saya sering bekerja lembur, bahkan saya pernah bekerja lebih dari 12 jam sehari. Hal itu menjadi pemicu permasalahan dalam rumah tangga saya. Hubungan saya dengan anak-anak di rumah mulai terganggu. Tentu, itu sangat menyedihkan buat saya karena saya juga tidak bisa pulang. Saya seperti terpisah dari semua orang.

Baik sekarang ataupun dulu, saya bahkan tidak bisa mempercayai rekan kerja. Kita bekerja seperti seolah-olah harus waspada dan terus mengawasi satu sama lain untuk memastikan kalau semua pekerjaan baik-baik saja dan terselesaikan. Menurut saya, hal itu tidak baik dan tidak ideal dalam bekerja. Kondisinya semakin parah ketika kantor saya mulai membuka cabang baru sehingga saya harus bekerja 22-23 jam per hari. Setidaknya, saya bekerja lembur selama 6 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan berhenti dan mengundurkan diri.

Saya merasa tidak layak dan tidak cukup baik untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Saya merasa hidup saya sia-sia dan tidak ada gunanya. Saya bahkan tidak mempercayai orang lain hingga depresi menghantui saya saat ini. Saya berusaha mengatasinya agar bisa melewati hal-hal sulit. Saya seperti mati rasa. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kepala saya karena saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskannya. Saya seperti tersesat dan tidak berdaya.

Saya sudah pergi ke psikolog. Ya, itu membantu tetapi sebenarnya tidak cukup. Psikolog hanya berkata: “Kamu harus bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri dalam prosesnya.” Psikolog tidak menjelaskan bagaimana caranya? Ya, dia menjelaskannya tetapi saya tidak dapat mengikutinya. Mengapa? Karena itu sebenarnya di luar kemampuan saya. Itu pendapat saya.

Saat orang mendapatkan tekanan psikologis, memang kita perlu pergi ke Psikolog. Itu membantu tetapi hanya sebagian kecil menurut saya. Hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan coping mechanism untuk bisa mengatasi persoalan dalam diri tersebut. Pertama, saya mengatasinya dengan menggambar, kemudian beralih ke menulis. Saya pikir saya dapat mengekpresikan perasaan saya lewat tulisan. Sayangnya, seseorang mengetahui tulisan saya sehingga dia seperti mengejek saya sehingga membuat saya merasa semakin buruk. Saya pun tidak pernah menulis lagi. Saya lanjutkan dengan berolahraga seperti bersepeda, berenang, atau lari. Saya juga coba pergi ke tempat fitness.

Tidak sampai di situ saja, saya pun berusaha mencari social support group di Indonesia. Itu sedikit membantu karena di sana saya bisa sedikit berbagi namun kurang efektif karena  tidak ada orang seperti Psikolog yang akan memberi assessment tentang masalah kita. Pada akhirnya, saya tidak melakukan apa pun untuk mengatasi trauma saya. Saya tidak punya cara lain untuk mengatasi diri sendiri. Saya merasa tidak nyambung dengan keluarga saya karena saya merasa masih tidak mampu untuk menyampaikan apa yang saya alami kepada mereka. Saya tidak ingin membuat banyak masalah lagi. Saya hanya memendamnya dan semakin lama itu menghancurkan saya.

Peristiwa traumatis itu tentu saja telah membuat saya marah. Saya punya banyak kemarahan dalam diri saya dan pada diri saya sendiri. Meskipun itu hanya masa lalu, tetapi saya tidak berdaya karena hal traumatis itu seperti berada dalam benak saya. Saya pun tidak bisa menjelaskannya dengan baik kepada orang-orang sekitar saya, bahkan Psikolog sekalipun. Saya bingung bagaimana saya menjelaskan hal traumatis ini.

Di balik itu semua, saya tetap mengambil hikmahnya. Dengan begitu, saya menjadi lebih tangguh daripada sebelumnya. Saya menjadi pekerja keras sekarang karena peristiwa trauma tersebut. Saya masih bersyukur meskipun saya tetap berharap efek trauma ini dapat berkurang pada akhirnya. Ketika ada sesuatu yang menjadi “trigger” trauma saya kembali, saya berusaha menghindari konfrontasi tersebut. Saya cukup memperhatikan bagaimana saya menilai situasi dan orang lain berperilaku terhadap saya agar perasaan traumatis itu tidak muncul.

Setelah kejadian traumatis itu, saya berhenti kerja dan melamar pekerjaan baru saat itu Namun, saya mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah dengan tempat kerja dan lingkungan kerja. Akhirnya, saya “ditendang” bekerja di sana dan di sini. Saya benar-benar terpuruk dan kontrak saya pun tidak diperpanjang. Mereka menolak mempekerjakan saya karena saya dinilai tidak cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu. Saya merasa seperti “orang tidak berguna” saat ini.

Terakhir ini pesan saya untuk Sahabat Ruanita yang juga punya pengalaman traumatis seperti saya. Saya sampaikan berikut ini dalam Bahasa Inggris saja. I think that is going to be a bit difficult. I can only say this actually: if you want to trust someone, don’t regret it. Just do it with all your might, with everything you have. If you decide to trust someone, do not regret it. Because regret is actually really painful and you are destroying yourself in the process. But if you made a bad decision, I need to remind myself over and over that it’s actually their choice not mine. I could not control what those other people would do to me because, again, it is their choice to do so. I can’t control it. I can control my reaction. Even though it is easier said than done, I would always try that. So trusting them, it’s going to be my choice but proving me wrong is their choice not mine. I should not prove that they are wrong or I should not prove that I am wrong or I was wrong to trust them. No. If I can say this you need to be able to separate your professional life and your personal life. And if that is not enough then you can have like a second layer of personal life that only you would know. And I think it’s gonna be able to make it better than what I have received so far.

Di hari kesehatan mental sedunia, saya ingin dunia menjadi lebih baik. Saya tahu kita perlu lebih banyak tenaga profesional terkait kesehatan mental. Namun, saya berpikir itu tidak mudah dan murah. Kebanyakan dari mereka punya tarif yang agak mahal seperti Psikolog saya. Jadi, saya berharap agar ada institusi kesehatan mental yang mudah diakses dan dilakukan secara kolektif sehingga ini bisa membantu semua orang untuk kesehatan mental yang lebih baik.

Penulis: Nita (akun IG: msiyuun_) berdasarkan hasil wawancara seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya.

(PELITA) Mengapa Memilih Childfree?

Pada episode ke-10 di bulan Oktober 2023 program PELITA mengambil tema tentang Childfree yang terjadi di Indonesia. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia mengundang dua narasumber yang menjadi penggiat Childfree di Indonesia.

Mereka adalah Ratu Victoria Tunggono yang adalah penulis buku “Childfree” dan lainnya adalah Kei Savourie yang adalah seorang founder dari Kelascinta.

Stephanie mengawali diskusi tentang bagaimana asal mula mereka memilih menjadi Childfree di Indonesia.

Victoria sendiri telah menemukan buku dan komunitas yang membahas lebih dalam tentang Childfree sehingga dia bisa membedakan apa itu childfree dan childless.

Sedangkan Kei lebih menekankan untuk memilih hidup tidak harus sesuai dengan apa yang terjadi pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, termasuk memilih Childfree. Kei sendiri akhirnya berhasil memilih ketika dia menemukan istri yang akhirnya menyepakati pilihan Childfree setelah menikah.

Kei juga menjelaskan bahwa pilihan Childfree muncul ketika dunia sudah diperkenalkan dengan pilihan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Follow us

Kei dan Victoria menyadari bahwa mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sangat baik sebagai role model, sedangkan mereka berdua merasa tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik.

Baik Victoria maupun Kei menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki big pressure sebagai orang tua. Meski demikian, diskusi terbuka seperti yang digagas Ruanita Indonesia ini sangat efektif untuk menepis mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya, masyarakat memandang perempuan dianggap egois kalau memilih Childfree.

Victoria sangat menghormati orang-orang yang sudah memilih menjadi orang tua dan berharap agar pilihan orang tua sebagai ikatan batin seumur hidup. Menjadi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan tidak menjadikan anak sebagai “eksperimen” atau coba-coba.

Subscribe kanal YouTube kami ya untuk mendukung program kami.

(GALERI FOTO) Pertemuan dengan Wakil Ketua LPSK RI

Pada 4 Oktober 2023, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia yang diwakilkan oleh Anna Knöbl melakukan kunjungan ke kantor LPSK (=Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) Republik Indonesia yang bertempat di Jakarta. Sambutan yang hangat diterima oleh Wakil Ketua LPSK RI, Livia DF Istania Iskandar. Livia sendiri pernah mengisi acara dalam dialog online yang digagas Ruanita Indonesia bersama KJRI Hamburg dan PPI Kiel beberapa waktu lalu.

Diskusi antara Ruanita Indonesia dengan Wakil Ketua LPSK RI berfokus pada bagaimana standar pelaporan kasus yang terjadi pada warga Indonesia yang sedang berada di luar Indonesia, tetapi kasus tersebut terkait dengan situasi di Indonesia. Contoh yang pernah ditangani oleh LPSK RI seperti kasus penipuan kerja di luar negeri dan kasus perdagangan orang yang memang terjadi di luar Indonesia.

Wakil LPSK RI mendukung untuk mengadakan lebih banyak dialog hukum dan diseminasi tentang standar pelaporan untuk WNI yang tinggal di luar negeri dengan melibatkan organisasi kemasyarakaratan seperti Ruanita Indonesia. Selain itu, penting bagi para staf diplomat untuk bisa memiliki skill dan pengetahuan yang baik tentang penanganan kasus-kasus domestik yang terjadi di luar negeri.

(CERITA SAHABAT) Simak Cerita Saya yang Studi Pengobatan Ayurveda Langsung dari India

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Rakanita Arifah. Saya biasa dipanggil Nita. Saat ini saya sedang menempuh studi di New Delhi, India dengan jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS) atau yang lebih dikenal dengan Kedokteran Ayurveda. Saya memulai perkuliahan di India sejak 2019.

Sebelum mengutarakan pendapat, mari kita kenali dulu apa itu Ayurveda? Ayurveda merupakan sistem pengobatan tradisional yang sudah ada sejak 5000 tahun lalu.

World Health Organization (WHO) menetapkan Ayurveda sebagai pengobatan tradisional tertua di dunia. Walaupun begitu, ilmu Ayurveda terus berkembang dengan banyaknya penelitian yang mendukung keilmuan dari konsep Ayurveda. Itu sebab, Ayurveda tetap eksis dan relevan sampai pada era saat ini. 

Mengapa saya tertarik mendalami pengobatan Ayurveda? Mungkin sebagian Sahabat RUANITA bertanya-tanya. Pertama kali, saya mengenal Ayurveda yaitu pada saat saya duduk di bangku SD. Pada saat itu, saya sedang mengikuti ibu saya untuk belajar yoga di Bali. Saat itu, saya pun berkesempatan untuk melihat langsung proses pengobatan Ayurveda. Singkat cerita, saya mulai mencari tahu lebih dalam lagi tentang Ayurveda di bangku SMA.

Saya melihat Ayurveda ini unik sekali, berbeda dengan pengobatan modern yang sudah marak di manapun. Lalu saat saya mendekati waktu kelulusan SMA, saya mulai mencari informasi detil tentang pendidikan Kedokteran Ayurveda di India. Ini yang menguatkan niat dan tekad saya untuk apply beasiswa. 

Saya studi di India melalui AYUSH Scholarship, yang bekerja sama dengan ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Prosesnya sepertinya hampir sama dengan beasiswa pada umumnya. Pertama, kita harus menyiapkan beberapa dokumen seperti paspor, ijazah yang sudah diterjemahkan, recommendation letter, medical certificate, dsb.

Semua informasi tersebut bisa diakses langsung di website ICCR. Proses pengurusan Visa Student saya pada saat itu tergolong cepat dan efektif karena pihak ICCR Jakarta pun turut membimbing hingga proses pembuatan visa selesai.

Follow us

Tak mudah memang tinggal jauh dari keluarga. Itu menjadi hal yang begitu berat untuk saya pribadi. Namun saya bersyukur bahwa saya memiliki keluarga yang selalu support pada apapun keputusan dalam hidup saya. Salah satunya adalah melanjutkan studi ke India.

Tahun pertama menjadi tahun yang paling challenging bagi saya, karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, dan juga bahasa baru. But like people said, “No pain, no gain!”  Walau saya kuliah merantau diiringi dengan seribu tantangan, tetapi saya tetap menikmati prosesnya.

Kembali lagi soal pengobatan Ayurveda, tujuan dari Ayurveda sendiri bukan hanya mengobati penyakit, melainkan juga membantu manusia dalam menjaga kesehatan dengan memelihara keseimbangan pikiran, raga, dan spiritual. Kita sendiri mungkin mengenal berbagai pengobatan tradisional di dunia. 

Nah, salah satu hal unik dari Ayurveda yang membedakannya dari pengobatan tradisional lainnya adalah Ayurveda menerapkan konsep TRI DOSHA atau 3 sistem fungsional tubuh. TRI DOSHA ini yang berfungsi sebagai penyangga dan mengontrol sistem tubuh dalam kehidupan, yang mana jika dalam keadaan tidak seimbang akan mengakibatkan penyakit dalam tubuh.

Terlebih lagi, Ayurveda melihat tiap individu memiliki karakteristik dasar tubuh yang berbeda-beda. Itu yang menjadikan Ayurveda unik dalam mengobati penyakit karena tiap individu bisa mendapat penanganan yang berbeda baik dalam obat-obatan maupun terapinya.

Perkembangan bidang kesehatan baik itu moderen maupun tradisional, pasti memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan inovasi yang lebih efektif untuk menangangani masalah kesehatan.

Ayurveda hadir sebagai salah satu pilihan pengobatan untuk mengobati penyakit, yang mana sistem pengobatannya menggunakan pendekatan holistik dan natural. Obat-obatan Ayurveda juga terbuat dari bahan-bahan natural sehingga peluang akan efek samping yang didapat cenderung lebih kecil.

Selama saya belajar Ayurveda, saya banyak mendapatkan pengalaman berkesan di India seperti memelajari dan membuat obat dari tanaman herbal salah satunya.

Pada tahun kedua pembelajaran, kami – mahasiswa Kedokteran Ayurveda atau BAMS – memelajari Dravya Guna. Mata kuliah ini memelajari tentang obat-obatan atau pharmacology khususnya tanaman herbal. 

Salah satu fasilitas yang dimiliki kampus kami adalah herbal garden, di mana berisi tanaman-tanaman obat Ayurveda. Pada saat jadwal praktik, kami bersama-sama melakukan observasi tanaman obat guna mengetahui akan morfologi tanaman, manfaat tanaman, dsb. Itu merupakan salah satu pembelajaran yang sangat berkesan bagi saya pribadi.

Menurut saya pribadi, kita yang tinggal di Indonesia sangat bisa untuk mempraktikkan pengobatan Ayurveda. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih erat dengan ilmu empirisnya. Di era modern ini, tidak sedikit masyarakat yang menerapkan “back to nature”.

Pengobatan Ayurveda menggunakan sumber daya alam untuk bahan dasar obat-obatannya. Dengan minim efek samping, saya percaya Ayurveda dapat menjadi pilihan masyarakat dalam mengobati penyakitnya ataupun yang ingin hidup sehat bersama Ayurveda.

Sebagai orang yang sedang belajar ilmu pengobatan, saya berharap kita semua bisa mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Selain itu, saya berharap kita bisa mendapatkan pengobatan yang aman, efektif, mudah, dan murah bagi pasien. Tentunya, harapan saya tidak hanya seputar pengobatan saja, tetapi juga kita harus berfokus pada faktor pencegahan.

Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Point-point tersebut linear dengan tujuan dari pengobatan Ayurveda sendiri. Saya yakin, Ayurveda dapat menjadi salah satu solusi tepat dalam menangani masalah kesehatan yang ada. 

Untuk Sahabat RUANITA yang tertarik studi pengobatan Ayurveda seperti saya sekarang, silakan untuk mengunjungi website ICCR yang membahas info studi lebih lanjut.

Orang Indonesia yang kini menjadi lulusan kedokteran Ayurveda dari India terhitung 7 orang. Kami tergabung dalam sebuah organisasi yang dikenal Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional – AYURVEDA VAIDYA INDONESIA (AVINDO). 

Jika teman-teman tertarik dengan pengobatan Ayurveda, bisa kunjungi website kami yaitu www.avindo.org atau di Instagram kami @avindo_org untuk info lebih lanjut. 

Penulis: Rakanita Arifah atau biasa dipanggil Nita. Saat ini, Nita sedang tinggal di New delhi, India untuk menempuh studi S1 jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS). Nita dapat dikontak via akun Instagram: @rakanitaarifah.

(GALERI FOTO) Live Talkshow di TVRI World Berbicara Eksistensi Ruanita Indonesia

Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.

Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.

(IG LIVE) Gelar Kampanye Sepekan bersama ALZI Ned dan ALZI Jerman, Ruanita Bangun Solidaritas Untuk Berbagi Dukungan Sosial

Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.

Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.

Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.

Follow us

Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.

Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.

Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.

Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.

Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.

Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.

Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.

Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.