(SIARAN BERITA) Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21

Frankfurt, 25 Januari — Ruanita Indonesia memprakarsai sebuah diskusi publik bertajuk “Digitalisasi & Gender: Tantangan Kesehatan Mental di Abad ke-21” yang diselenggarakan secara daring baru-baru ini. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara Kesmenesia dan KJRI Frankfurt, serta terbuka bagi siapa pun yang tertarik pada isu kesehatan mental.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam ini mengangkat hubungan antara norma gender, perkembangan teknologi, serta dampaknya terhadap kesehatan mental laki-laki. Selama ini, kesehatan mental laki-laki kerap dibungkus stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk kuat, tidak rapuh, dan sulit menunjukkan perasaan.

Norma gender tersebut berkontribusi pada rendahnya keterbukaan serta kecenderungan mencari bantuan profesional. Pada saat yang sama, era digital menciptakan tekanan baru berupa perbandingan sosial, perfeksionisme, hingga koneksi tanpa jeda yang memengaruhi kesejahteraan emosional.

Acara dibuka dengan sambutan dari penyelenggara. Acting Konsul Jenderal KJRI Frankfurt, Toary Worang, memberikan pengantar mengenai pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental dan memahami hambatan bagi laki-laki dalam mengekspresikan pengalaman emosional. Acara dipandu oleh Rasyid H. Wicaksono, seorang perawat terdaftar (Registered Nurse) di Jerman.

Sesi materi pertama membahas pengaruh budaya dan konstruksi gender terhadap kesehatan mental laki-laki, termasuk mitos “laki-laki harus kuat” yang menjadi penghalang bagi perilaku mencari bantuan psikologis, disampaikan oleh Sven Juda, Co-founder Kesmenesia di Belanda.

Sesi materi kedua menjelaskan tantangan kesehatan mental pada era digital, mulai dari pengaruh media sosial terhadap perbandingan sosial hingga ekspektasi performa. Selain menyoroti risiko, narasumber juga menggambarkan potensi teknologi dalam memperluas akses informasi dan layanan dukungan. Materi ini disampaikan oleh Fransisca Hapsari, Co-founder Kesmenesia di Jerman.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang membuka ruang refleksi bagi peserta untuk berbagi pandangan, pengalaman, serta kebutuhan dukungan seputar isu kesehatan mental laki-laki.  Diskusi online ini tidak direkam agar siapa saja merasa nyaman untuk berbagi dukungan sosial dan psikologis.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman poin penting serta apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat kesadaran dan sikap saling mendukung dalam menghadapi tantangan kesehatan mental di abad ke-21.

Melalui pendekatan kolektif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan memahami kesehatan mental dan gender dalam konteks budaya dan perkembangan teknologi. Ruanita Indonesia selaku penyelenggara menekankan pentingnya perubahan sikap yang lebih terbuka, empatik, dan berkelanjutan dalam mendukung kesejahteraan mental bersama.

Informasi lebih lanjut: Sven Juda, Koordinator Acara (E-mail info@ruanita.com). 

(IG LIVE) Bongkar Mitos Seputar Kehamilan: Jangan Asal Percaya!

Pada awal tahun, Ruanita Indonesia mengawali program diskusi Instagram Live dengan tema parenting, khususnya mereka yang sedang hamil atau menantikan kehamilan. Topiknya sederhana tetapi penuh intrik budaya: “Bongkar Mitos Seputar Kehamilan – Jangan Asal Percaya.” Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sesi ini mengulas bagaimana mitos kehamilan beredar, bagaimana ia memengaruhi cara kita memandang tubuh perempuan, dan bagaimana ilmu pengetahuan kadang perlu turun tangan untuk menertibkan persepsi yang keliru.

Dua sahabat Ruanita yang bergabung kali ini hadir dari dua negara yang berbeda. Natalia Eka Putri, seorang ibu dan dokter gigi spesialis anak yang kini tinggal di Belanda, dan Merry, seorang ibu rumah tangga yang kini berdomisili di Portugal. Merry juga telah berpengalaman hamil di beberapa negara. Kehadiran keduanya membuka ruang diskusi lintas budaya yang hangat dan informatif.

Salah satu mitos yang langsung dibahas adalah anggapan bahwa setiap kehamilan berarti satu gigi ikut tanggal. Mitos yang terdengar dramatis ini ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Natalia menjelaskan bahwa memang ada ibu hamil yang mengalami kehilangan gigi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan.

Secara statistik, hanya sekitar empat belas hingga dua puluh satu persen ibu hamil yang mengalaminya. Penyebabnya pun bukan karena janin “mengambil kalsium dari gigi ibu,” melainkan karena perubahan hormon selama kehamilan yang memicu pembengkakan gusi, sensitivitas, hingga infeksi yang tidak dikelola dengan baik.

Menurut Natalia, sekitar enam puluh hingga tujuh puluh lima persen ibu hamil mengalami pembengkakan gusi atau gingivitis gravidarum. Kondisi ini membuat gusi mudah berdarah, terasa sensitif, dan rentan mengalami peradangan lebih lanjut.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat merambat ke tulang penyangga gigi dan berakhir pada gigi yang goyang hingga tanggal. Lebih jauh lagi, kesehatan gusi ternyata dapat memengaruhi hasil kehamilan. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara infeksi gusi kronis dengan kelahiran prematur serta bayi dengan berat badan rendah.

Hal yang menarik, di tengah semua perubahan tubuh tersebut, perilaku makan ibu hamil juga ikut berubah. Rasa lapar yang muncul lebih sering, selera yang meningkat terhadap makanan manis, serta kebutuhan emosional untuk mencari kenyamanan melalui makanan adalah bagian dari respon hormonal tubuh.

Fenomena “ngidam” yang sering dianggap sekadar budaya ternyata memiliki penjelasan biokimia yang jelas. Namun ketika mengidam itu berujung pada konsumsi gula berlebih, risiko gigi berlubang pun ikut meningkat. Meski demikian, Natalia menegaskan bahwa kehamilan bukanlah penyebab gigi melemah. Perlu diperhatikan hal yang menentukan adalah bagaimana ibu hamil menjaga dan merawat kesehatan mulutnya.

Di Belanda, pemeriksaan gigi justru dianjurkan secara berkala selama kehamilan. Perawatan seperti pembersihan karang gigi, penambalan, hingga ronsen dapat dilakukan dengan aman sepanjang memperhatikan tahap kehamilan dan perlindungan yang memadai.

Kesadaran ini masih belum merata di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana sebagian ibu hamil cenderung menghindari dokter gigi karena ketakutan atau mitos yang diwariskan keluarga.

Setelah membahas dari perspektif medis, sesi IG Live beralih ke pengalaman personal lewat cerita Merry. Pengalamannya menarik karena ia menjalani kehamilan di lingkungan dan negara yang berbeda, dari Singapura hingga Arab Saudi dan kemudian Portugal.

Merry mengaku tidak terlalu mengikuti mitos-mitos kehamilan, tetapi ia beberapa kali bersentuhan dengan saran-saran unik dari keluarga, teman, maupun lingkungan budaya tempat ia tinggal.

Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya terjadi ketika ia hamil di Singapura. Menjelang proses persalinan, bayinya tiba-tiba berhenti bergerak dalam waktu yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk segera datang ke rumah sakit pada malam hari.

Setelah pemeriksaan detak jantung, perawat memberikan segelas air dingin dan beberapa saat kemudian bayi kembali merespon dengan tendangan. Pengalaman sederhana ini mematahkan salah satu larangan populer di Indonesia yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh minum air dingin.

Berbeda dengan Singapura, ketika Merry menjalani kehamilan di Arab Saudi, pendekatannya jauh lebih medis dan minim omongan mitos. Di sana, pemeriksaan darah berkala menjadi standar, sehingga perjalanan kehamilannya terasa lebih klinis dan terstruktur.

Justru ketika Merry pulang ke Indonesia yang paling terasa adalah kehadiran mitos yang lebih bernuansa mistis: larangan keluar rumah pada malam hari, larangan mengikuti pemakaman, hingga saran membawa benda tajam saat berada di tempat tertentu untuk menghindari gangguan makhluk halus. Merry menyikapinya dengan santai. Baginya, penting untuk tetap menghargai kekhawatiran keluarga, namun juga penting menjaga batas agar ibu hamil tidak justru terbebani secara mental.

Diskusi ditutup dengan catatan penting bahwa mitos kehamilan tidak pernah muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya, ketakutan, dan warisan informasi turun-temurun yang terkadang dimaksudkan untuk menjaga, tetapi tidak jarang justru membingungkan.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir untuk membantu ibu hamil membedakan antara kekhawatiran yang perlu dan yang tidak perlu. Perpaduan keduanya, yakni kebijaksanaan budaya dan pengetahuan medis, merupakan bekal penting bagi perempuan yang sedang menjalani kehamilan.

Melalui program IG Live ini, terlihat jelas bahwa kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk cara perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Dan di tengah segala suara yang datang dari berbagai arah, perempuan berhak memilih informasi yang paling membuatnya tenang, sehat, dan berdaya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Warga Menulis Fiksi: Setiap Orang Punya Cerita

Jakarta, Januari 2026 – Ruanita Indonesia kembali menyelenggarakan program literasi bertajuk Workshop Warga Menulis Fiksi “Gema dari Ruang Hening”, sebuah ruang menulis kolektif untuk orang Indonesia di berbagai negara dalam mengolah pengalaman hidup menjadi karya fiksi yang kuat, bermakna, dan berlapis konteks transnasional. Program ini digelar sebagai bagian dari Kampanye Digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menjadi salah satu agenda literasi tahunan Ruanita.

Workshop yang berlangsung secara daring ini menghadirkan Asmayani Kusrini, penulis fiksi dan seorang Communications Officer yang bermukim di Brussel, sebagai pemateri utama. Sementara jalannya kegiatan dimoderasi oleh Griska Gunara, relawan Ruanita di Inggris Raya, yang punya latar belakang jurnalistik.

Program berformat tiga pertemuan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 17, 24 Januari, dan 7 Februari 2026 dengan durasi dua jam setiap sesi. Waktu disesuaikan dengan zonasi internasional mulai pukul 09.00 GMT, 10.00 CET, 11.00 EET, hingga 16.00 WIB, untuk memastikan keterjangkauan peserta yang berada di berbagai negara.

Di Ruanita, penyelenggara meyakini bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan pengalaman lintas batas kerap melahirkan narasi yang kompleks dan kaya. Karena itu, workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas teknis menulis, tetapi juga sebagai ruang aman untuk meresapi pengalaman transnasional, membaca dan mendiskusikan referensi cerita pendek, menonton film relevan, serta memproduksi karya fiksi yang kemudian dipersiapkan sebagai bagian kampanye publik.

Selain menghasilkan naskah, peserta juga ditargetkan menyelesaikan draft final untuk dikirimkan selambatnya 14 Februari 2026. Karya-karya terpilih akan dipublikasikan dalam Kampanye Digital Hari Perempuan Internasional 2026, serta berpeluang diterbitkan dalam buku ketiga Ruanita Indonesia. Dengan demikian, program ini diharapkan berkontribusi pada produksi pengetahuan dan narasi perempuan Indonesia lintas negara, sekaligus memperkuat praktik literasi kultural yang inklusif dan sensitif pengalaman.

Workshop ini terbuka bagi warga berusia di atas 18 tahun dari mana pun berada yang pernah atau sedang mengalami kehidupan antarnegara. Peserta wajib mengikuti ketentuan teknis seperti kehadiran penuh dalam tiga sesi, penyusunan karya sesuai instruksi pemateri, penyerahan naskah final, serta pemberian persetujuan penggunaan karya dalam kampanye digital. Perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal dan seluruh data peserta akan disimpan maksimal enam bulan sesuai kebijakan privasi penyelenggara.

Melalui workshop “Gema dari Ruang Hening”, Ruanita berharap muncul suara-suara baru dalam penulisan fiksi Indonesia kontemporer yang bersumber dari pengalaman hidup orang Indonesia di berbagai penjuru dunia, baik sebagai pelajar, pekerja, maupun individu yang bergerak lintas batas budaya.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Informasi lebih lanjut, kontak Griska Gunara di UK melalui email: info@ruanita.com.

(PODCAST RUMPITA) Belajar dan Berkiprah di Dunia Medis, Tiongkok bersama Hilda Amanda Safir

Di awal tahun 2026, podcast RUMPITA – Rumpi bareng Ruanita menghadirkan sosok inspiratif yang tengah menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri: Hilda Amanda Safir, mahasiswi asal Indonesia di Anhui Medical University, Tiongkok.

Dipandu oleh Anna, percakapan hangat ini mengupas kehidupan Hilda di provinsi Anhui, mulai dari proses perkuliahan, budaya setempat, hingga teknologi medis terkini yang ia temui selama studi di Tiongkok.

Hilda telah tinggal di Tiongkok sejak tahun 2019. Ia mengungkap bahwa proses pendaftaran kuliah dan beasiswa di Tiongkok cukup sederhana, seleksi dilakukan sepenuhnya melalui dokumen seperti paspor, transkrip nilai, sertifikat TOEFL atau HSK, serta hasil medical check-up.

Ia menyarankan untuk menyiapkan dokumen jauh hari sebelum tenggat karena peminat beasiswa sangat banyak.

Hilda menerima beasiswa penuh dari Pemerintah Anhui yang mencakup:

  • Biaya kuliah (SPP),
  • Buku dan perlengkapan akademik,
  • Asrama kampus,
  • Tunjangan hidup dan makan.

Ia menambahkan bahwa semua mahasiswa, baik lokal maupun internasional, diwajibkan tinggal di asrama kampus.

Sebagai mahasiswi program kedokteran bidang bedah, Hilda memulai perjalanannya dengan niat menjadi dokter sejak SMA. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan semangat memberi dampak langsung kepada pasien mendorongnya untuk memilih spesialisasi ini.

Salah satu tantangan terberat di awal adalah bahasa Mandarin. Saat baru tiba, ia belum bisa berbicara Mandarin dan sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Google Translate.

Namun seiring waktu, Hilda berhasil menyesuaikan diri karena lingkungan memaksanya belajar dengan cepat, terutama karena pasien rumah sakit tidak bisa berbahasa Inggris.

“Kalau mau praktik langsung di rumah sakit, kita harus bisa Bahasa Mandarin. Karena pasiennya tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kita harus bisa tanya kondisi mereka langsung.”

Hilda sempat menceritakan pengalaman menarik ketika pertama kali menangani pasien di rumah sakit. Salah satu pasiennya bertanya kenapa ia mengenakan hijab saat musim panas. Ia menjelaskan bahwa itu bagian dari keyakinannya sebagai Muslim, dan pasien merespons dengan baik.

Hilda menyampaikan bahwa teknologi medis di Tiongkok berkembang sangat pesat, bahkan di kampusnya sudah digunakan robot operasi. Dokter hanya duduk di depan monitor dan mengoperasikan robot untuk melakukan prosedur langsung ke pasien.

Ia membandingkan dengan beberapa negara lain, bahwa teknologi seperti ini belum tentu digunakan secara luas. Menurut Hilda, ini adalah salah satu kekuatan besar sistem medis di Tiongkok.

Tinggal di dekat dengan Wuhan, Hilda mengungkap bahwa jumlah Muslim di kota tersebut tidak sebanyak di daerah seperti Xinjiang. Untuk urusan makanan, meskipun banyak pilihan, ia lebih sering memasak sendiri makanan khas Indonesia.

Ia juga menyarankan bahwa bagi siapa pun yang ingin ke Tiongkok, ada banyak opsi kuliner, dan kebanyakan kota sudah sangat terbuka pada wisatawan maupun mahasiswa internasional.

Di akhir diskusi, Hilda menyampaikan pesan kepada para perempuan Indonesia yang ingin berkuliah atau mengejar mimpi, khususnya di bidang STEM atau kedokteran:

  1. Jangan ragu untuk bermimpi besar dan terus berusaha.
  2. Buang rasa insecure, karena kesempatan tidak datang dua kali.
  3. Ambil langkah kecil sekarang, karena itu akan membawamu lebih dekat ke tujuan besar.

“Coba dulu. Niat baik dan langkah kecil hari ini bisa jadi awal dari pencapaian besar di masa depan.”

Dengarkan diskusi podcast RUMPITA selengkapnya berikut ini di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami terus berbagi.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.

(PODCAST IN ENGLISH) Bagaimana Berintegrasi di Islandia Setelah Tinggal 25 Tahun?

Podcast berbahasa Inggris Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad yang dikelola Ruanita Indonesia kembali hadir dengan cerita inspiratif perempuan Indonesia di luar negeri. Kali ini, host Aini Hanafiah dari Norwegia berbincang dengan Vita, seorang perempuan Indonesia yang sudah menetap di Reykjavík, Islandia, selama lebih dari 25 tahun.

Vita pertama kali pindah ke Islandia pada tahun 2000 karena menikah dengan pasangannya yang berasal dari sana. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pramugari di Jeddah, Arab Saudi, dan terbiasa berpindah-pindah negara. Karena itu, adaptasi terhadap iklim ekstrem dan budaya baru di Islandia tidak menjadi halangan besar baginya.

“Buat saya, pindah itu bukan akhir dari cerita, tapi justru awal dari petualangan baru,” ungkap Vita.

Meski terbiasa dengan lingkungan multikultural, Vita mengaku awal kepindahannya penuh tantangan. Ia harus beradaptasi menjadi “serba bisa”, seperti: mengurus anak, memasak, belajar mengemudi, hingga menavigasi sistem pendidikan dan kesehatan di Islandia.

Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika ia harus aktif memperjuangkan agar anaknya segera mendapat tempat di taman kanak-kanak. “Sebagai orang Indonesia, rasanya tidak biasa untuk ‘pushy’ atau menuntut. Tapi di sini saya belajar kalau kadang kita memang harus lebih tegas,” kata Vita.

Bagi Vita, mempelajari bahasa Islandia menjadi langkah penting dalam proses integrasi. Pemerintah memang mewajibkan imigran untuk mengikuti kursus bahasa, meski biayanya harus ditanggung sendiri. Dengan dukungan keluarga mertua, Vita perlahan belajar bahasa Islandia, meski hingga kini ia lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa itu pintu. Kalau kita mau belajar, pintunya terbuka. Kalau kita menolak, ya kita akan terisolasi,” ujarnya. 

Vita merasa beruntung memiliki sistem dukungan yang kuat dari keluarga besar suami. Kehadiran mereka membuat proses adaptasi terasa lebih ringan. Ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di tempat yang jauh seperti Islandia.

“Rasanya lucu, tiba-tiba ada yang menyapa ‘Kamu dari Indonesia?’ di supermarket. Dari situ saya sadar, bahkan di dekat Kutub Utara pun kita bisa menemukan saudara sebangsa,” kenangnya.

Selama lebih dari dua dekade, Vita tidak hanya membesarkan keluarga tetapi juga aktif bekerja, termasuk di dewan kota Reykjavík untuk isu-isu imigran. Ia menekankan bahwa kunci bertahan di luar negeri adalah keterbukaan, inisiatif, dan kemauan belajar.

“Islandia itu tempat yang ekstrem, baik alam maupun budayanya. Ada orang yang langsung jatuh cinta, ada juga yang merasa sulit. Saya memilih untuk mencintai tempat ini, karena di sini saya membangun hidup saya,” tuturnya.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(IG LIVE SPESIAL) Awal Tahun, Resolusi, dan Kesehatan Mental: Belajar Lebih Selaras dengan Diri

Memasuki awal tahun 2026, Ruanita berkolaborasi dengan Kesmenesia menghadirkan IG Live Spesial yang mengangkat topik yang sangat relevan bagi banyak orang: resolusi awal tahun dan kaitannya dengan kesehatan mental. Diskusi ini dipandu oleh Nadia, Co-Founder Kesmenesia sekaligus konselor, dan menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Hadir sebagai pembicara adalah Andi Pratiwi, seorang psikolog klinis dan praktisi Brainspotting yang berdomisili di Brisbane, Australia, dan Sven Juda Co-Founder Kesmenesia, yang juga merupakan mahasiswa S2 Psikologi di Maastricht University, Belanda, dan saat ini berada di Jerman. Diskusi lintas negara ini memberikan sudut pandang yang kaya mengenai resolusi, motivasi, serta tekanan sosial yang kerap muncul di awal tahun.

Resolusi Awal Tahun: Antara Harapan dan Realita

Dalam pembukaannya, Nadia menyoroti bagaimana resolusi awal tahun sering kali menjadi tradisi tahunan. Namun, di balik semangat “awal yang baru”, tidak sedikit orang justru merasa terbebani ketika resolusi tersebut tidak tercapai.

Andi menjelaskan bahwa resolusi kerap dipandang sebagai outcome yang kaku, misalnya target berat badan atau pencapaian tertentu. Cara pandang ini berisiko memunculkan jarak antara actual self dan ideal self, yang pada akhirnya dapat memicu stres dan rasa gagal.

“Resolusi akan lebih sehat untuk mental jika dilihat sebagai intensi, bukan sekadar target,” ujar Andi. Menurutnya, fokus pada nilai (values) seperti kesehatan, keseimbangan hidup, atau self-love jauh lebih berkelanjutan, dibandingkan target yang terlalu spesifik dan kaku.

Hal ini juga berlaku dalam konteks kesehatan mental. Alih-alih menetapkan resolusi seperti “berhenti cemas” atau “tidak boleh overthinking”, Andi menyarankan untuk menggeser fokus ke arah membangun relasi yang lebih penuh welas asih dengan diri sendiri. Menurutnya, itu adalah bagian alami dari manusia dan tidak bisa dihapus begitu saja.

Mengapa Resolusi Sering Gagal di Tengah Jalan?

Dari perspektif psikologi industri organisasi, Sven menyoroti fenomena honeymoon phase dalam resolusi awal tahun, di mana semangat tinggi di awal sering kali meredup dalam beberapa minggu. Salah satu penyebab utamanya adalah target yang tidak realistis dan perencanaan yang terlalu abstrak.

“Kita sering punya niat besar, tapi tidak diikuti dengan rencana yang konkret,” jelas Sven. Ia menekankan pentingnya concrete planning, seperti menentukan hari dan frekuensi aktivitas, agar resolusi tidak berhenti sebagai wacana.

Namun, Sven juga mengingatkan bahwa konsistensi tidak harus identik dengan kesempurnaan. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, misalnya karena sakit atau kondisi tertentu, hal tersebut tidak serta-merta berarti kegagalan. Di sinilah peran self-compassion menjadi krusial.

Menariknya, Sven juga membagikan temuan riset bahwa membangun kebiasaan baru tidak sesingkat yang sering dibayangkan. Dibutuhkan waktu antara 2–3 bulan, bahkan hingga 200 hari untuk kebiasaan yang lebih kompleks. Ekspektasi yang terlalu tinggi dalam waktu singkat justru dapat melemahkan motivasi.

Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan

Andi menambahkan bahwa dalam membangun resolusi, prinsip konsistensi pelan-pelan jauh lebih sehat dibandingkan tuntutan untuk langsung sempurna. Target yang terlalu tinggi berisiko membuat seseorang jatuh lebih sakit ketika gagal mencapainya.

Diskusi ini menekankan bahwa resolusi sebaiknya dipandang sebagai proses belajar. Ketika tidak berjalan sesuai rencana, itu bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran dan penyesuaian diri.

Hidup di Luar Negeri: Perspektif Baru tentang Produktivitas

Pada segmen kedua, diskusi bergeser ke pengalaman hidup sebagai perantau di luar negeri dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Andi membagikan pengalamannya di Brisbane, di mana budaya hidup terasa lebih santai dan present. Jam kerja yang jelas, kebiasaan pulang tepat waktu, serta keberanian mengambil cuti saat sakit menjadi pelajaran berharga baginya.

“Di sini aku belajar bahwa dunia tidak harus selalu terburu-buru,” ujar Andi. Ia melihat bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih lama, tetapi mampu menjaga keseimbangan antara kerja, kesehatan, dan kehidupan pribadi.

Hal ini diamini oleh Nadia, yang menyoroti bagaimana kemampuan menikmati momen sehari-hari, yang sering dianggap membosankan, tetapi justru merupakan seni hidup yang sering terlupakan.

Menutup Awal Tahun dengan Lebih Penuh Kesadaran

IG Live Spesial Ruanita dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa resolusi awal tahun tidak harus menjadi sumber tekanan. Dengan memahami nilai diri, membangun motivasi internal, membuat rencana yang realistis, serta mempraktikkan self-compassion, resolusi dapat menjadi alat untuk tumbuh, bukan untuk menyalahkan diri.

Awal tahun bukan tentang menjadi versi “sempurna” dari diri kita, melainkan tentang berjalan lebih selaras dengan diri sendiri, satu langkah kecil pada satu waktu.

Ikuti terus konten reflektif dan diskusi kesehatan mental lainnya hanya di www.ruanita.com dan simak selengkapnya di kanal YouTube Kesmenesia berikut. Pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Ibu Sambung Lintas Budaya, Ini yang Saya Pelajari

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ida yang menetap di Jerman lebih dari 20 tahun lebih. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Sebelum hidup saya berubah total di Jerman, saya adalah seorang guru sosiologi dan guru BK di sebuah SMA Islam berasrama di Bandung.

Hidup saya kala itu penuh dinamika: mengajar, membina remaja dari berbagai pelosok tanah air, dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Saya mencintai kehidupan saya yang teratur dan penuh makna masa itu. Tapi hidup kadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tak terduga.

Pada tahun 1999, saya dikenalkan oleh beberapa mantan murid saya kepada Pak Muiz, seorang pria Indonesia yang sudah lama menetap di Hamburg, Jerman.

Ia seorang duda dengan lima anak dari pernikahan sebelumnya dengan perempuan Jerman. Perkenalan kami unik, banyak melalui percakapan telepon, tanpa proses pacaran seperti umumnya. Tidak ada romantisme berlebih, hanya ada niat baik dan keberanian untuk membangun kembali hidup yang baru.

Setelah mengenalnya lebih dalam, saya melihat ketulusan seorang ayah yang berjuang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah perpisahan yang pahit.

Ada satu kalimat dari Pak Muiz yang membekas di hati saya: “Jangan hanya menikahi saya, tapi juga menikahi anak-anak saya.” Kalimat itu menjadi janji batin saya.

Kami menikah di Bandung. Beberapa bulan kemudian, saya datang ke Jerman sebagai turis, sebelum akhirnya menetap secara resmi di tahun 2000.

Pertemuan dengan Anak-anak Sambung

Saat pertama kali bertemu, anak-anak menyambut saya dengan cukup hangat. Tapi saya bisa merasakan ada dinding tak kasat mata di antara kami. Wajar, saya pikir. Mereka adalah anak-anak dari keluarga broken home, membawa luka dan ketidakpercayaan terhadap figur ibu baru.

Anak pertama, laki-laki, berusia 21 tahun, baru selesai wajib militer. Anak kedua dan ketiga, perempuan, masing-masing berusia 19 dan 18 tahun. Si kembar, dua anak perempuan, baru berusia 11 tahun. Saya membayangkan bahwa dengan usia-usia seperti itu, mereka sudah mandiri seperti remaja di Indonesia. Tapi realitasnya berbeda.

Mereka tumbuh dalam budaya Jerman yang sangat menjunjung kemandirian, namun pada saat yang sama menyimpan luka emosional yang dalam. Anak tertua menarik diri di kamar, kecewa karena gagal berkarier di militer. Anak kedua sibuk dengan Ausbildung, semacam pendidikan vokasi. Anak ketiga berhenti sekolah. Dan si kembar, meski lebih mudah didekati, tetap menunjukkan kehati-hatian.

Tantangan Awal

Bahasa menjadi tantangan pertama. Saya tidak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Inggris saya pun tidak banyak berguna di lingkungan kami, karena tetangga-tetangga dan toko-toko di sekitar hanya berbahasa Jerman. Anak-anak sambung saya hanya sedikit mengerti bahasa Indonesia.

Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih menggunakan “bahasa tubuh”. Saya memasak untuk mereka, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, mendampingi tugas sekolah si kembar. Dengan itulah saya membangun komunikasi: lewat tindakan, bukan kata-kata.

Suami saya sangat membantu dalam hal ini. Ia meminta anak-anak untuk memanggil saya “Ibu,” bukan hanya menyebut nama saya, meskipun dalam budaya Jerman biasanya anak-anak memanggil ibu sambung dengan nama saja.

Mengalah untuk Bertahan

Saya belajar mengalah. Sangat banyak. Saya tidak membawa konsep otoritas saya sebagai “ibu baru” ke dalam rumah ini. Saya masuk sebagai tamu. Saya memahami bahwa rumah ini pernah retak. Anak-anak ini sudah melalui cukup banyak luka. Maka saya memutuskan, untuk sementara, saya hanya perlu hadir: sebagai teman, sebagai sosok yang konsisten dan bisa dipercaya.

Meskipun demikian, ada masa-masa di mana saya hampir menyerah. Tahun pertama menjadi ujian berat. Dunia saya yang dulu penuh aktivitas sosial, kini berganti menjadi rutinitas membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memasak, dan mendengarkan kesunyian.

Banyak malam saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya meninggalkan dunia saya?” Ada saat-saat di mana rasa kesepian menggerogoti. Ada godaan untuk pulang saja ke Indonesia, kembali ke kehidupan yang nyaman.

Namun saya ingat janji saya. Saya menikahi Pak Muiz dan anak-anaknya. Saya bertahan.

Adaptasi Nilai Budaya

Saya membawa nilai-nilai Indonesia ke dalam rumah ini: keramahan, perhatian, ketekunan. Setiap masakan Indonesia yang saya siapkan menjadi jembatan kecil menuju hati mereka. Mereka mulai menyukai rendang, nasi goreng, sate, dan makanan-makanan sederhana yang saya buat.

Namun saya juga belajar dari budaya Jerman: menghargai privasi, tidak mencampuri urusan orang tanpa diundang, berbicara secukupnya. Anak-anak di sini lebih senang jika diberi ruang. Saya belajar untuk tidak “menggurui” atau “memaksa.” Saya menawarkan bantuan, bukan memaksakan kehadiran saya.

Pelan-pelan, hubungan kami membaik. Si kembar mulai lebih sering bercerita. Mereka menunjukkan hasil ujian sekolahnya, meminta tanda tangan saya, dan menceritakan teman-temannya. Anak-anak yang lebih besar tetap menjaga jarak, tapi saya tahu mereka mulai menghargai kehadiran saya.

Konflik Emosional

Tentu saja, konflik tetap ada. Terutama di awal, ada rasa dari anak-anak bahwa saya “merebut” ayah mereka. Mereka yang selama enam tahun hanya hidup berempat dengan ayahnya, tiba-tiba harus berbagi perhatian.

Saya mengatasi itu dengan mengalah. Saya membiarkan mereka menikmati waktu-waktu bersama ayah mereka. Saya tidak menuntut perhatian suami saya berlebihan. Saya menjaga agar saya tidak memperkeruh suasana. Saya memilih menjadi penyokong dari belakang.

Saya percaya, cinta dan kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus tumbuh perlahan.

Merayakan Keberhasilan Kecil

Ada satu momen yang sangat membekas: ketika si kembar mendapatkan nilai bagus di sekolah dan mereka berlari pulang menunjukkan hasilnya pada saya. Saat itu, saya tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding itu mulai runtuh.

Ada pula momen di mana anak-anak yang lebih besar, meskipun jarang berbicara, mulai menunjukkan perhatian kecil: memanggil saya untuk makan bersama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas makanan yang saya buat.

Pelajaran Besar

Tinggal di Jerman, menjadi ibu sambung lintas budaya, mengajarkan saya banyak hal:

Pertama, cinta itu lebih dari sekadar kata-kata. Ia hadir dalam perbuatan sederhana: memasak, mendengarkan, menemani dalam kesunyian.

Kedua, membangun keluarga berarti membangun kesabaran dan ketulusan. Kita tidak bisa menuntut cinta. Kita hanya bisa menawarkan cinta.

Ketiga, dalam keluarga lintas budaya, kita tidak bisa membawa semua nilai dari tanah air kita tanpa adaptasi. Kita harus membuka diri, belajar menghormati cara hidup yang berbeda.

Dan keempat, untuk bisa bertahan, kita harus berdamai dengan mimpi-mimpi yang tidak selalu bisa diwujudkan.

Saya dulu bermimpi melanjutkan S2 di Jerman. Tapi saya memilih menunda, karena prioritas saya adalah membangun keluarga ini. Bukan hanya keluarga saya dan suami, tapi juga menyembuhkan luka-luka lama anak-anak sambung kami.

Penutup

Menurut saya, pernikahan adalah ibadah dan merupakan sebuah janji suci pada Tuhan. Saya bertahan dalam pernikahan sebagai ibu sambung, itu lebih disebabkan pada komitmen saya terhadap nilai dan moralitas pernikahan. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial, yang bukan hanya menyangkut suami dan istri, melainkan juga keluarga dari suami dan istri.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, saya menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa sulitnya perjalanan ini, tapi untuk berbagi bahwa perjalanan ini sangat mungkin dilalui. Dengan cinta, kesabaran, dan kerendahan hati.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin sedang melalui jalan yang serupa: percayalah, cinta sejati itu dibangun pelan-pelan. Bukan dalam hitungan hari, tapi dalam kesetiaan bertahun-tahun.

Penulis: Ida, tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun instagram idasurjantiridwan.

(IG LIVE) Kesedihan dan Kesepian di Hari Raya: Ruanita Indonesia Bahas Realita Emosional Perayaan di Perantauan

Ruanita Indonesia kembali menggelar program bulanan Diskusi IG Live episode Desember 2025 dengan tema yang jarang disentuh namun sangat relevan: kesedihan dan kesepian di hari raya.

Gelaran rutin bulanan ini menghadirkan percakapan santai tetapi penuh makna bersama para narasumber yang memiliki pengalaman hidup di luar negeri, khususnya dalam merayakan hari-hari besar tanpa keluarga dan dalam konteks budaya yang berbeda.

Dipandu oleh Bernadeta Dwiyani, Praktisi Kesehatan Mental di Spanyol dan Co-founder Kesmenesia, sesi ini menghadirkan dua pembicara: Firman, psikolog klinis sekaligus co-founder Kesmenesia yang menetap di Jerman dan Vero, pengajar BIPA yang tinggal di Tiongkok

Topik ini dianggap penting karena di tengah hingar-bingar Natal dan Tahun Baru, sempat terlupakan bahwa perayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Banyak orang merasakan tekanan emosional, kehilangan, bahkan isolasi; terutama mereka yang tinggal jauh dari keluarga.

Follow us

Ketika diminta menggambarkan suasana Natal di Tiongkok, Vero menjelaskan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi bagian dari tradisi mayoritas. Ia menerangkan bahwa: Natal lebih dirayakan sebatas simbol dan dekorasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, esensi dan nilai spiritualnya kurang dipahami oleh masyarakat lokal. Perayaan agama di Tiongkok cenderung diatur ketat oleh pemerintah, sehingga umat harus merayakan secara terbatas.

Meski begitu, ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan: dekorasi Natal mulai terlihat lebih terbuka dan kehadiran orang asing meningkat sehingga toleransi terhadap perayaan semakin membaik.

Namun, ketika bicara tentang pengalaman emosional, Vero tak menampik adanya rasa rindu kampung halaman: kerinduan pada masakan khas, keluarga, serta kegiatan seperti ibadah bersama menjadi pemicu kesedihan yang kerap muncul setiap menjelang hari raya.

Dalam kesempatan ini, Firman memberi penjelasan mendalam tentang mengapa hari raya dapat memicu rasa sedih atau kesepian.

Menurut Firman ada berbagai faktor, antara lain:

  • situasi hari raya sebenarnya netral, namun makna yang kita berikan bersifat personal;
  • ekspektasi sosial, termasuk gambaran ideal yang kita lihat dari iklan, budaya, dan media sosial—membentuk tekanan bahwa kita harus bahagia;
  • kehilangan, proses berduka, atau pengalaman masa lalu dapat muncul kembali ketika rutinitas berhenti dan kita punya waktu untuk merenung;
  • rasa kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik—bahkan di tengah keluarga pun, seseorang dapat merasa hampa.

Firman menegaskan bahwa rasa sedih di hari raya adalah sesuatu yang normal, bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, momen libur dapat menjadi kesempatan untuk: memproses emosi yang selama ini terpendam, mempertanyakan ulang idealisasi perayaan, memahami kebutuhan pribadi, menetapkan batasan (boundaries), dan mencari keseimbangan antara koneksi dan waktu untuk diri sendiri.

Dalam diskusi, kedua narasumber menyentuh isu yang dialami banyak pengikut Ruanita Indonesia: merayakan hari raya sebagai migran atau ekspatriat.

Tantangannya meliputi: perbedaan budaya dan norma sosial, keterbatasan kebebasan beragama, minimnya akses ke komunitas, jarak fisik dari keluarga, dan kesepian yang muncul karena “perbandingan” dengan suasana kampung halaman

Firman mendorong audiens untuk: menerima bahwa tidak semua emosi harus ceria, mengenali fase adaptasi yang sedang dijalani, membuka diri terhadap komunitas lokal atau orang-orang Indonesia di negeri tersebut, fleksibel antara kebutuhan pribadi dan sosialisasi

Diskusi IG Live ini menjadi ruang aman bagi migran, mahasiswa, dan pekerja perantauan untuk saling berbagi pengalaman. Tema yang jarang diangkat ini justru menyoroti sisi kemanusiaan hari raya: bahwa tidak semua orang bahagia, dan itu wajar.

Perayaan bukan sekadar simbol, tetapi tentang koneksi, keseimbangan, dan penerimaan diri.

Simak rekaman selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(PODCAST RUMPITA) Sustainable Shipping dan Digitalisasi Kapal bersama Benhard di Spanyol

Pada episode RUMPITA kali ini, Anna dan Sesilia Susi berbincang bersama narasumber Benhard yang saat ini sedang tinggal di Spanyol. Benhard merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Joint Master Degree di bidang Sustainable Shipping 4.0.

Dalam podcast ini, ia membagikan pengalaman studi, pemahaman tentang digitalisasi di sektor perkapalan, serta tantangan dan strategi menuju industri kemaritiman yang lebih berkelanjutan.

Benhard menjelaskan bahwa program Erasmus Mundus memberikan kesempatan belajar lintas negara. Ia menjalani semester pertama di University of Naples Federico II di Italia, di mana ia mempelajari dasar-dasar konstruksi kapal dan stabilitas kapal, termasuk konsep second generation stability criteria yang sedang dikembangkan di dunia maritim.

Pada semester kedua dan ketiga, ia melanjutkan studi di Spanyol dengan fokus pada digitalisasi sistem perkapalan, sebuah bidang yang menjadi motivasinya sejak di Indonesia, mengingat tantangan dan peluang besar dalam modernisasi sistem pelayaran nasional.

Menurut Benhard, digitalisasi perkapalan tidak hanya berkaitan dengan teknologi tunggal, tetapi integrasi dari berbagai sistem seperti:

  • Internet of Things (IoT) untuk monitoring sistem kapal secara real-time.
  • Sensor suhu dan pH untuk sistem pendingin mesin.
  • Analisis data historis, misalnya untuk penjadwalan perawatan pompa.

Digitalisasi ini memungkinkan perawatan preventif dan efisiensi operasional kapal.

Follow us

Benhard juga menjelaskan bahwa dorongan global menuju sustainable shipping datang dari lembaga internasional seperti United Nations melalui IMO (International Maritime Organization). IMO memiliki berbagai fokus seperti:

  • Energy efficiency, maritime safety, dan traffic support.
  • Ocean governance, technical cooperation, dan new technology & innovation.

Ia juga mengungkap fakta menarik bahwa 80% logistik global dilakukan melalui laut, sehingga emisi dari sektor ini menjadi perhatian besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah route optimization untuk jalur pelayaran yang aman, pendek, dan efisien.

Beberapa strategi yang dijelaskan oleh Benhard untuk mendukung zero emission shipping antara lain:

  1. Logistik dan digitalisasi, termasuk pengurangan kecepatan kapal saat tidak perlu buru-buru.
  2. Efisiensi hydrodinamik, seperti membersihkan lambung kapal agar tidak menambah beban mesin.
  3. Optimalisasi mesin, misalnya menggunakan teknologi waste heat recovery atau fuel cell.
  4. Penggunaan energi alternatif seperti biofuel, LNG, atau tenaga angin.
  5. After-treatment, seperti teknologi carbon capture dan storage.

Benhard menjelaskan bahwa mencapai target zero emission pada 2050 bukanlah hal yang mudah karena:

  • Investasi teknologi masih mahal.
  • Ketersediaan bahan bakar alternatif tidak merata di seluruh dunia.
  • Adaptasi mesin kapal dan pelabuhan terhadap teknologi baru.
  • Pelatihan awak kapal yang harus diperbarui sesuai teknologi terbaru.
  • Desain kapal baru yang harus menyesuaikan dengan sistem ramah lingkungan.

Menurutnya, semua tantangan ini bisa diatasi jika perusahaan memiliki strategi adaptif sesuai dengan posisi dan target masing-masing.

Menjawab pertanyaan dari Sesilia, Benhard menyampaikan bahwa kapal kecil seperti ferry sungai dan passenger ship memungkinkan menggunakan baterai. Namun, kapal besar seperti kontainer atau tanker memerlukan daya besar dan pendinginan yang kompleks, sehingga kombinasi teknologi seperti baterai dan auxiliary engine masih diperlukan.

Untuk kapal yacht, penggunaan baterai juga mungkin, tergantung desain dan kebutuhan pemiliknya. Namun, ada tantangan seperti durasi pengecasan dan infrastruktur pelabuhan yang harus tersedia.

Untuk Sahabat Ruanita yang ingin memahami lebih jauh dunia maritim modern dan peran Indonesia dalam masa depan pelayaran global, episode ini memberikan wawasan yang sangat relevan.

Dengarkan langsung podcast ini hanya di kanal RUMPITA di Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental

Jakarta, 6 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP), Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia menyelenggarakan forum daring bertajuk “Perempuan di Ruang Digital: Literasi, Keamanan, dan Kesehatan Mental di Era Teknologi Global”, pada Sabtu, 6 Desember 2025, pukul 16.00–18.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.

Forum ini menjadi bagian dari upaya global memperkuat kesadaran dan aksi nyata untuk menghapus berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya di ruang digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti cyber harassment, doxing, revenge porn, body shaming, dan berbagai kekerasan berbasis gender lainnya.

Follow us

Forum Online ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Finlandia, dan dihadiri secara khusus oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operanata, yang memberikan sambutan kehormatan.

Sebagai pemantik diskusi, hadir Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan (PHP) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia yang menyoroti meningkatnya tren kekerasan berbasis online dan pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital.

Dalam sesi pengantar, Aurelia Aranti Vinton dari PPI Amerop menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud nyata kolaborasi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengadvokasi isu sosial global. Ia menekankan pentingnya literasi digital, keamanan data pribadi, dan peran perempuan dalam menciptakan komunitas daring yang aman dan saling mendukung.

Follow us

Forum ini menghadirkan tiga panelis perempuan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di berbagai negara, masing-masing membagikan perspektif tentang isu perempuan di era digital.

Zakiyatul Mufidah (PhD Student di United Kingdom) mengangkat tema “Membangun Digital Sisterhood Anti Kekerasan”, dengan menyoroti pentingnya solidaritas dan aktivisme digital perempuan yang berpijak pada konsep cozy feminism, yakni sebuah bentuk perlawanan terhadap kekerasan simbolik melalui narasi yang ramah dan membangun.

Sementara itu, Fransisca Hapsari (PhD Student di Jerman) dalam paparannya berjudul “Kesehatan Mental dan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital” membahas keterkaitan antara teknologi, psikologi, dan tantangan kesehatan mental yang dihadapi perempuan akibat tekanan sosial di dunia maya.

Adapun Anggy Eka Pratiwi (PhD Student di India) melalui topik “Pentingnya Literasi Digital dan Keamanan Siber bagi Perempuan” menekankan perlunya peningkatan literasi digital dan kesadaran akan keamanan siber agar perempuan mampu melindungi diri dari berbagai risiko kekerasan serta eksploitasi daring.

Sebagai penutup sesi panel, Chatarina Pancer Istiyani dari Komnas Perempuan menyampaikan tanggapan dan seruan aksi untuk memperkuat ekosistem perlindungan perempuan di ruang digital. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan peran aktif masyarakat dalam mendorong kebijakan publik yang berpihak pada korban.

Forum ini ditutup dengan refleksi bersama tentang pentingnya digital sisterhood, solidaritas antarperempuan untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, aman, dan berkeadilan gender.

Sebagai tindak lanjut, Ruanita Indonesia akan merilis rekaman video diskusi melalui kanal resmi www.ruanita.com, serta policy brief hasil diskusi untuk memperkuat advokasi perlindungan perempuan di ruang digital.

Beroperasi di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Ruanita Indonesia adalah sebuah platform digital pengetahuan dan advokasi nirlaba. Dengan landasan manajemen nilai dan resources sharing, kami berfokus pada isu psikologi, sosial, dan budaya yang relevan dalam situasi transnasional. Melalui kolaborasi pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kampanye edukatif, kami bertekad menciptakan ruang digital yang inklusif dan mengedepankan interseksionalitas untuk semua.

Informasi lebih lanjut, dapat mengontak Ari Nursenja selaku koordinator acara melalui email: info@ruanita.com.

(AISIYU) I Can Contribute Beautiful things to This World Even If They are Small

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Asti yang tinggal di Islandia.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(AISIYU) Aku Berhak Bahagia

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Annimah yang tinggal di India.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(AISIYU) Saya Tidak Sendirian

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Nelden yang tinggal di Jerman.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.