(IG LIVE SPESIAL) Memutus Stigma dan Meningkatkan Solidaritas di Hari AIDS Sedunia

Pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, sekaligus masih menjadi rangkaian kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Sebelum diskusi dimulai, Ruanita Indonesia turut menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Acara ini dipandu oleh Rufi, begitu disapa untuk Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif:

  • Chichi Betaubun – aktivis HIV/AIDS Yapeda, Papua, yang kini tengah menempuh studi S2 di Swiss.
  • Ayu Oktariani – aktivis HIV dan penggerak isu perempuan, dikenal lewat platform edukasinya di media sosial.

Memulai diskusi, Chichi memberikan gambaran situasi HIV & AIDS di Papua. Ia menjelaskan bahwa di kota-kota besar seperti Jayapura dan Timika, edukasi HIV relatif mudah dijangkau berkat dukungan sekolah, fasilitas publik, dan komunitas.

Namun tantangan terbesar masih muncul di wilayah pedalaman dan kampung-kampung, di mana pembicaraan tentang HIV masih dianggap tabu. Banyak masyarakat masih mengaitkan HIV dengan kutukan, penyakit kotor, atau perilaku “nakal”. Tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa banyak anak terlahir dengan HIV karena penularan dari orang tua.

Di sisi lain, misinformasi masih menjadi hambatan serius. Konten-konten menyesatkan tentang penularan HIV, termasuk isu lama seputar jarum suntik di makanan/minuman—masih dipercaya sebagian masyarakat, meski tidak berdasar.

“Informasi menyesatkan ini bertahan bertahun-tahun dan masih dipercaya hingga kini,” ujar Chichi “Karena itu edukasi tidak boleh berhenti.”

Tinggal di Swiss memberikan perspektif baru bagi Chichi. Ia menuturkan bahwa negara tersebut kini memiliki perlindungan hukum kuat bagi orang yang hidup dengan HIV.

Follow us for more

“Kesadaran publik tinggi, informasinya tepat, dan pemerintah memastikan tidak ada hambatan hukum bagi orang yang hidup dengan HIV,” jelasnya.

Namun ia menekankan bahwa hal terpenting tetaplah kehadiran komunitas, hal yang juga sudah kuat di Papua, seperti kelompok dukungan Melati Support Group.

Ayu kemudian berbagi kisah personalnya. Tahun depan menandai 17 tahun ia hidup dengan HIV, setelah terinfeksi dari suami yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Ia menekankan bahwa HIV tidak mengenal batas perilaku, karena semua orang memiliki potensi risiko.

Awalnya, ia tidak punya niat menjadi aktivis. Ia hanya ingin bertahan, mencari informasi, dan menghindari depresi. Kebiasaan membaca sejak kecil membuatnya cepat memahami HIV secara ilmiah, bukan melalui stigma.

Bergabung dengan kelompok dukungan sebaya menjadi titik balik baginya.

“Di sana saya sadar bahwa nilai saya sebagai manusia tidak berkurang sedikit pun. Saya tetap bisa berkarya, sekolah, bekerja, punya mimpi,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, ia mulai terjun ke advokasi kebijakan, isu perempuan, serta menyediakan ruang aman bagi komunitas melalui kedai kopi miliknya di Bandung.

Ayu memaparkan tantangan berlapis yang dihadapi perempuan dengan HIV, terutama karena budaya patriarkal yang masih kuat:

1. Stigma lebih berat dibanding laki-laki

Perempuan dengan HIV lebih sering dianggap penyebab masalah atau diasosiasikan dengan perilaku buruk, meski kenyataannya banyak terinfeksi dari pasangan.

2. Minimnya kontrol atas tubuh sendiri

Keputusan tentang menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui sering diambil oleh keluarga atau masyarakat, bukan oleh perempuan itu sendiri.

3. Beban pengasuhan ganda

Perempuan dianggap penanggung jawab utama kesehatan keluarga, sehingga sering mengabaikan kesehatannya sendiri.

4. Risiko kekerasan dan penolakan

Beberapa perempuan mengalami kekerasan atau penolakan setelah diagnosis, terutama jika pasangan menolak tes atau tidak menerima kenyataan.

“HIV itu memiskinkan, bukan hanya materi, tapi juga moral dan batin,” ujarnya.
“Karena itu penanganannya harus holistik, tidak bisa hanya dianggap sebagai persoalan medis.”

HIV tidak bisa dikenali dari fisik seseorang.

Satu-satunya cara mengetahui status HIV adalah tes darah.

Menebak-nebak status HIV seseorang berdasarkan bentuk tubuh, kulit, atau penampilan termasuk bentuk stigma yang perlu dihentikan.

Yang bisa dilakukan masyarakat adalah:

  • mencari informasi yang benar,
  • menghindari asumsi, dan
  • mendorong orang berisiko untuk tes tanpa menghakimi.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa perjuangan melawan HIV & AIDS bukan hanya soal obat, tetapi juga tentang kemanusiaan, empati, dan ruang aman bagi setiap orang.

Edukasi berkelanjutan, kebijakan inklusif, serta komunitas yang solid menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang bebas stigma dan diskriminasi.

Selamat Hari AIDS Sedunia.
Mari bersama memutus stigma dan menguatkan solidaritas.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlangsungan kami.

(AISIYU) Hal-hal Baik Mengalir kepada Saya dan Saya Menerima Kelimpahannya

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Griska yang tinggal di UK.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(IG LIVE SPESIAL) Pengalaman dan Tantangan Mendampingi Perempuan Penyintas Kekerasan di Mancanegara

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, organisasi profesi tenaga kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, mengadakan sesi IG LIVE bertema “Pengalaman Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan di Luar Negeri.” Acara ini disiarkan dari tiga negara berbeda: Spanyol, Jerman, dan Inggris, mempertemukan perspektif lintas-budaya mengenai isu kekerasan berbasis gender, terutama yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri.

Acara dipandu oleh Bernadia Dwiyani, Co-founder Kesmenesia yang kini bermukim di Spanyol. Dua narasumber yang hadir adalah Mala Holland, seorang psychotherapist di Inggris yang bekerja dengan perempuan dan anak penyintas kekerasan, serta Nelden Djakababa-Gericke, pendamping penyintas sekaligus praktisi kesehatan mental di Jerman.

Bernadia mengingatkan bahwa sejak 1993, PBB telah menetapkan 25 November sebagai International Day for the Elimination of Violence Against Women. Ia juga menyoroti laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang pada April 2023 mencapai 5.949 kasus, angka yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Menurut Mala, hari ini menjadi pengingat bahwa masih banyak perempuan, di sekitar kita dan di seluruh dunia, yang hidup dalam ketakutan. “Kesetaraan gender bukan hanya soal hak yang sama, tapi juga soal rasa aman yang sama,” katanya.

Budaya yang menormalkan penderitaan perempuan membuat kekerasan sering dianggap wajar atau bahkan perlu, padahal perempuan membutuhkan ruang aman untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa rasa takut.

Nelden menambahkan bahwa fakta kita masih membutuhkan hari peringatan ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender belum selesai. “Kalau kita benar-benar setara, hari seperti ini sudah tidak diperlukan lagi,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa sejak kecil, perempuan dibesarkan dengan kewaspadaan berlebih atas keselamatan diri, sebuah beban yang tidak dialami laki-laki secara setara.

Mala, yang bekerja di sektor amal di Inggris, mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan hampir selalu berdampak pada anak.

Trauma yang dialami ibu akan memengaruhi cara mereka mengasuh, cara mengambil keputusan, hingga persepsi anak terhadap relasi dan keselamatan. Sejak 2022, anak yang menyaksikan kekerasan pada ibunya kini diakui sebagai victim of domestic abuse, meski tidak mengalami kekerasan secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa siklus kekerasan tidak otomatis berhenti ketika hubungan berakhir. Banyak pelaku menggunakan jalur hukum, finansial, atau tekanan sosial untuk terus mengontrol mantan pasangan. “Kadang kekerasan justru semakin meningkat setelah hubungan itu putus,” jelasnya.

Mala memaparkan bahwa perempuan migran menghadapi lapisan kesulitan tambahan, seperti:

  • Hambatan bahasa, yang membuat mereka sulit menceritakan pengalaman atau memahami hak hukum.
  • Ketidakpastian status tinggal, yang sering dimanfaatkan pelaku untuk mengancam.
  • Minimnya jaringan sosial, terutama bila tinggal di kota kecil.
  • Tekanan budaya dan agama, yang kadang mendorong perempuan kembali ke hubungan berbahaya demi menjaga “keutuhan keluarga”.

Lebih jauh, ia menyoroti adanya normalisasi kekerasan dalam sebagian keluarga migran. Bagi sebagian orang, kekerasan dipandang sebagai disiplin rumah tangga, sehingga perempuan tidak mengenali bahwa mereka sedang mengalami relasi berbahaya.

Saat ditanya bagaimana mencegah kekerasan terjadi kembali, Mala menekankan satu hal penting: “Pencegahan bukan tanggung jawab korban. Tanggung jawab ada pada pelaku.”

Ia menolak narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus “lebih hati-hati”.

Follow us

Menurutnya, pelaku yang harus mengakui perbuatannya, mengikuti terapi, dan berkomitmen berubah.

Namun, bagi penyintas, yang paling penting adalah:

  • Mengetahui nomor bantuan darurat
  • Memahami batas dan red flags
  • Menyadari bahwa permintaan maaf pelaku tidak selalu berarti perubahan
  • Mengutamakan keselamatan diri dan anak

Menurut Mala, sebelum memulai terapi, penyintas harus merasa aman secara eksternal. Pemulihan tidak mungkin terjadi jika mereka masih berada dalam lingkungan berbahaya.

Beberapa langkah penting:

  1. Keamanan fisik: tempat tinggal aman, akses pangan, kesehatan, dan pendidikan anak.
  2. Keamanan hukum: akses terhadap shelter, bantuan hukum, atau sistem perlindungan setempat.
  3. Keamanan emosional: proses terapi yang membantu penyintas menemukan kembali rasa percaya diri dan martabat.

“Terapi adalah proses membangun kembali keamanan dari dalam,” kata Mala. Namun fondasinya tetap pada keamanan eksternal yang stabil.

Acara ditutup dengan penegasan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya isu personal, tetapi persoalan sosial yang berdampak lintas generasi. Trauma perempuan hari ini dapat membentuk masa depan anak-anak mereka, dan pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan.

Melalui dialog lintas negara ini, Ruanita Indonesia dan Kesmenesia kembali menegaskan komitmen untuk menyediakan ruang aman bagi penyintas dan meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan terhadap perempuan, terutama dalam konteks migrasi.

Simak selengkap di kanal YouTube Kesmenesia dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(AISIYU) Saya Merasa Marah dan Itu Tidak Apa-apa

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Dianita yang tinggal di India.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perjuangan Panjang Seorang Ibu Indonesia di Jerman untuk Keadilan dan Hak Asuh

Sejak Ruanita berdiri pada 2021, implementasi salah satu program berfokus pada dukungan kepada perempuan Indonesia penyintas kekerasan dan bagaimana membangun support system agar mereka tidak sendirian.

Program yang disebut sebagai AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) melalui kampanye digital agar menjadi perhatian global dan esensial selama 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan (HAKTP).

Pada November 2025 dari Cerita Sahabat Spesial (CSS) oleh Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mengangkat kisah Dwi Hariyani, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Jerman selama hampir 14 tahun dan menjalani perjuangan hukum demi mendapatkan kembali hak asuh anaknya.

Awal yang Sulit dan Kenyataan yang Pahit

Dwi pindah ke Jerman setelah menikah dengan seorang pria Jerman yang ia temui dalam waktu singkat. Ketika tiba di Jerman dalam kondisi hamil besar, ia menikah dan kemudian melahirkan anak di bulan berikutnya.

Namun, kenyataan hidup tak seindah harapan. Hubungan rumah tangganya kandas, dan yang lebih tragis, anaknya diambil secara sepihak oleh pihak suami saat ia ditinggal keluar rumah.

Frauenhaus: Rumah Aman untuk Permulaan Baru

Beruntung, seorang tetangga orang Jerman memberinya informasi tentang Frauenhaus, yakni rumah perlindungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam rumah tangga. Dari tempat itulah perjuangan panjang Dwi dimulai.

Di Frauenhaus, ia mulai dibantu untuk menyusun langkah hukum: mendapatkan pengacara, mencatat kronologi kejadian, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Namun, kondisi awal Dwi sangat memberatkan, seperti: tidak memiliki izin tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal sendiri, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Semua alasan ini, membuat hak asuh anak lebih berpihak kepada pihak suami.

Enam Tahun, Lebih dari 15 Kali Pengadilan

Apa yang dilalui Dwi bukan perkara mudah, apalagi tinggal jauh dari tanah air. Ia harus menjalani lebih dari 15 kali sidang pengadilan selama hampir tujuh tahun. Hakim yang sama mengikuti perjalanannya, bahkan sempat bertanya, “Kenapa Anda tidak menyerah saja?”

Namun, Dwi memilih untuk tetap bertahan. Sebagai seorang ibu, tidak ada perjuangan yang terlalu berat untuk memperjuangkan anaknya.

Ia percaya pada kekuatan doa dan kekuatan tindakan. “Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan,” ujarnya dengan mantap.

Menata Hidup Kembali: Bahasa, Pekerjaan, dan Hak Asuh

Saran pengacaranya sederhana tapi berat: jika ingin mendapatkan hak asuh anak, Dwi harus bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat, memiliki pekerjaan tetap, memiliki tempat tinggal mandiri, dan menjalankan hak kunjungan (Umgangsrecht) secara konsisten.

Dwi melakukannya semua. Ia mengikuti kursus bahasa sambil bekerja full time dan mengambil pekerjaan tambahan part-time.

Ia membiayai semua kebutuhan hukum sendiri, dari membayar pengacara hingga kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan menempuh perjalanan 400 km dua minggu sekali selama enam tahun untuk bisa bertemu anaknya.

Semua itu dilakukan Dwi seorang diri di Jerman.

Disiplin Diri dan Strategi Bertahan

Dwi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah sistem di Jerman dan bagaimana resiliensi dirinya sendiri. Dwi berusaha mengontrol emosi, belajar bahasa asing dalam waktu singkat, dan menghadapi birokrasi yang kompleks, meski itu adalah tantangan yang berat.

Sistem di Jerman membantunya untuknya belajar cepat memahami semua informasi, dengan mandiri. Tidak ada yang benar-benar membimbing atau mendampingi secara intens. “Mereka bantu hanya seminimal itu saja,” ujar Dwi.

Namun Dwi tetap konsisten. Ia menjalankan semua arahan pengacara dan hakim, dengan tekad yang bulat: mendapatkan kembali anaknya dan berjuang untuk membangun kehidupan baru di Jerman.

Frauenhaus dan Pentingnya Edukasi untuk Perempuan Indonesia di Luar Negeri

Dwi menekankan bahwa Frauenhaus adalah langkah pertama yang krusial bagi perempuan di Jerman yang mengalami kekerasan atau tekanan dalam rumah tangga di luar negeri.

Di sana, mereka bisa mendapatkan informasi awal tentang apa yang harus dilakukan, ke mana melapor, dan siapa yang bisa dihubungi.

Namun, edukasi tentang hal ini belum banyak diketahui oleh perempuan Indonesia di luar negeri, terutama yang berada dalam hubungan rentan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ia berharap ada lembaga payung atau organisasi seperti Ruanita Indonesia yang berfokus melindungi dan mengedukasi perempuan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam memahami hak-hak perempuan migran.

Keteguhan Hati, Nilai Diri, dan Pesan untuk Perempuan Indonesia

Dwi tidak ingin kisahnya menjadi sekadar tragedi. Ia menjadikan semua luka itu sebagai pembakar semangat untuk bangkit dan bertahan.

Bahkan ketika sudah bekerja dan mandiri, ia tetap harus membayar semua hutang bantuan pemerintah yang dulu sempat ia terima, saat tak berdaya.

Baginya, perempuan Indonesia harus belajar menakar risiko sebelum menikah dengan orang asing.

Tidak cukup hanya dengan mimpi tentang hidup “lebih enak” di luar negeri. Ada realitas, sistem hukum yang berbeda, dan tantangan yang harus disadari sejak awal.

“Tinggikan value dirimu dulu. Entah kamu tinggal di Indonesia atau di luar negeri, kamu harus punya nilai diri yang kuat,” tegasnya. Karena hanya dengan itu, seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi tersulit sekali pun.

Cerita Sahabat Spesial: Menjadi Suara bagi yang Tak Bersuara

Program Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan tiap bulan berbentuk video melalui kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Program ini hadir sebagai wadah berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi dari perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Edisi November ini bertepatan dengan peringatan Kampanye Digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini diharapkan dapat menyuarakan pengalaman bagi mereka yang voiceless, seperti Dwi.

Dwi Hariyani bukan hanya sosok ibu. Ia adalah gambaran nyata keteguhan hati perempuan Indonesia yang mampu bertahan, membangun kembali hidupnya dari nol, dan tidak pernah kehilangan harapan, saat tinggal di mancanegara.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental bersama KBRI Wina dan PPI Austria

Acara difasilitasi oleh KBRI Wina, Austria dan dihadiri oleh Dubes RI, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina. Acara ini dipandu oleh relawan Ruanita di Austria, Azizah Seiger. Hadir sebagai pemateri adalah Anna Knöbl dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria.

(IG LIVE SPESIAL) Melepas Diri dari Benang Kusut: Refleksi Trauma di World Trauma Day bersama Ruanita & Kesmenesia

Pada peringatan World Trauma Day tanggal 17 Oktober lalu, Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Kesmenesia menggelar sesi IG Live bertema “Melepas Diri dari Benang Kusut: Edisi Trauma Sedunia” pada Rabu (29/10) lalu.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia, sesi ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Bernadia Dwiyani, seorang konselor sekaligus trauma-informed yoga practitioner, dan Mystica Rosa, Psikoterapis sekaligus fasilitator Re-Teach Method yang kini menetap di Irlandia.

Diskusi dibuka dengan pembahasan mendasar: apa sebenarnya trauma itu? Menurut Rosa, trauma bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan energi yang terperangkap dalam sistem saraf tubuh akibat pengalaman yang belum terselesaikan.

“Namanya trauma itu bukan peristiwanya, tetapi energi yang tertangkap di dalam sistem saraf kita,” jelasnya, merujuk pada teori Peter Levine yang banyak meneliti respons hewan liar terhadap ancaman.

Rosa menjelaskan bahwa tubuh memiliki dua sistem saraf utama: sympathetic (yang berfungsi untuk melawan atau lari) dan parasympathetic (yang membuat tubuh membeku saat merasa terancam). Ketika energi akibat peristiwa traumatis tidak tersalurkan, tubuh “membekukannya” di dalam sistem saraf. Inilah yang kemudian membuat seseorang terus merasa waspada, takut, atau bahkan mati rasa dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, beliau membedakan beberapa jenis trauma:

  • Trauma akut, akibat peristiwa tunggal seperti kecelakaan atau kehilangan mendadak.
  • Trauma kronis, yang muncul dari tekanan berulang dalam kehidupan sehari-hari.
  • Trauma perkembangan, akibat kurangnya rasa aman di masa kanak-kanak.
  • Trauma relasional dan kolektif, seperti pengalaman pandemi atau bencana besar.

Melanjutkan bahasan tersebut, Bernadia menyoroti keterhubungan antara trauma, tubuh, dan pikiran. Menurutnya, trauma sering kali muncul karena suatu pengalaman yang datang terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu tiba-tiba, melebihi kapasitas tubuh untuk memprosesnya.

“Saat kita tidak bisa mengekspresikan energi itu, karena situasi sosial misalnya, maka tubuh akhirnya menyimpannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan hasil riset yang menunjukkan bahwa stres dan trauma dapat tersimpan di jaringan otot terdalam, bahkan hingga ke fascia. Tubuh pun “mengingat” sensasi-sensasi itu. Inilah sebabnya pendekatan bottom-up kini banyak digunakan dalam pemulihan trauma, yakni dengan mengembalikan kesadaran dan rasa aman melalui tubuh terlebih dahulu, baru kemudian ke ranah pikiran.

“Tubuh punya memori. Jadi penyembuhan trauma bukan cuma soal pikiran, tapi juga soal bagaimana kita belajar merasakan tubuh kita lagi,” jelas Nadia.

Ketika ditanya apakah trauma bisa muncul kembali, Nadia menjelaskan bahwa tubuh bisa terpicu (triggered) oleh hal-hal kecil yang mengingatkan pada pengalaman lama.

“Misalnya seseorang pernah mengalami kekerasan di jalan yang gelap. Meskipun sekarang jalannya aman, tubuh bisa tetap merespons seolah bahaya itu masih ada,” katanya.

Ia menganalogikan trauma seperti mobil yang terus digas tanpa henti. “Kalau terus dipaksa jalan tanpa sempat istirahat, lama-lama mesinnya rusak. Begitu juga tubuh kita,” ujarnya, menggambarkan bagaimana energi yang terus aktif bisa mengarah pada kelelahan kronis, gangguan imun, hingga masalah fisik yang tak terjelaskan secara medis,

Menutup sesi, Rosa kembali menekankan pentingnya kesadaran tubuh dan proses penyelesaian siklus energi yang terperangkap. Ia menjelaskan bahwa sistem saraf kita bekerja tanpa henti menerima rangsangan dari dunia luar. Ketika sistem ini belum “menyelesaikan” siklus trauma, tubuh tetap membaca sinyal bahaya meski situasi sudah aman.

“Yang membuat kita teringat kembali itu adalah trauma memory. Jadi bukan peristiwa yang berulang, tapi sinyal tubuh yang belum selesai,” ujarnya.

Melalui pendekatan seperti Re-Teach Method, seseorang dapat belajar kembali mengenali emosi, mengolah persepsi, dan membangun rasa aman yang baru. Prosesnya pelan, lembut, dan berfokus pada kesadaran tubuh.

Program IG Live ini menjadi ruang reflektif untuk memahami bahwa trauma bukan hanya urusan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana tubuh kita menyimpan, mengingat, dan berusaha bertahan. Rufi menutup sesi dengan ajakan untuk terus belajar mengenali diri:

“Trauma bukan akhir cerita. Ia bisa jadi awal dari perjalanan mengenal diri dan tubuh kita dengan lebih utuh.”

Kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa merawat kesehatan mental berarti juga merawat tubuh, sebab keduanya tidak bisa dipisahkan.

Pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi. Simak di kanal YouTube kami berikut:

(CERITA SAHABAT) Apa Arti Sebuah Nama: Mulai Nama Panjang ke Jati Diri

Halo, sahabat Ruanita! Namaku, Christophora Klementia Nevasta Nisyma. Sejak kecil, aku biasa dipanggil Nisyma. Aku sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2017, untuk tujuan studi S1, setelah aku lulus SMA di Indonesia pada usia 19 tahun. Dikarenakan ijazah SMA Indonesia tidak diakui di Jerman, aku harus pergi ke Studienkolleg selama satu tahun untuk menyetarakan ijazahku dan berkuliah di Jerman. Kini, aku sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan bekerja di sebuah perusahaan di Jerman sebagai Marketing Campaign Manager.

Saat SMA, aku mengambil jurusan Bahasa dan belajar bahasa Jerman, sehingga tak asing tentang kultur Jerman. Di keluarga, ibuku juga pernah mempelajari bahasa Jerman, bahkan hampir berkuliah ke Jerman dan memiliki orang tua angkat orang Jerman. Meski ibu tidak mengajarkan bahasa Jerman, aku merasa tidak asing sama sekali saat mulai belajar bahasa dan kultur Jerman dari nol. Sementara teman-temanku merasa kesulitan, aku merasa pelajaran bahasa Jerman ini mudah dan lama-kelamaan tumbuh rasa suka terhadap bahasa Jerman. Sejak remaja, aku sudah bermimpi kuliah di luar negeri. Namun kendala ekonomi, hal ini menjadi hanyalah sebuah mimpi.

Akhirnya, dengan kemampuan dan kedekatanku akan bahasa Jerman, aku melihat peluang untuk kuliah di Jerman yang lebih terjangkau. Aku pun memutuskan untuk kuliah di Jerman. Saat datang ke Jerman pertama kali, aku sama sekali tidak mengalami culture shock dan merasa sangat nyaman tinggal di Jerman. Budaya sosial, pola pikir dan gaya hidup Jerman terasa sangat cocok dengan karakter pribadiku. Aku merasa seperti menemukan tempat tinggal yang sesuai untukku kelak. Menurutku, negara Jerman memberikan kesempatan tak terbatas dan menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyatnya dan warga negara asing yang ingin menetap/tinggal layak di Jerman. Hal ini mendorongku tinggal dan bekerja di Jerman sampai sekarang.

Bercerita tentang namaku, ada sejarahnya. Aku lahir di keluarga katolik yang taat dan almarhum eyang kakung adalah seorang guru bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani untuk calon pastor katolik di Yogyakarta. Beliaulah yang memberikan namaku dan adikku. Di keluarga besar, semua cucu eyang kakungku memiliki nama yang juga panjang, tidak hanya aku. Nama Christophora berasal dari bahasa Yunani yang merupakan nama baptisku. Sebagai orang Katolik, orang tua memilih nama tersebut dengan makna teladan hidup dari Santo  Christophorus.

Karena aku perempuan, namaku menjadi Christophora dan memiliki makna membawa Kristus ke mana pun. Selanjutnya, nama Klementia berasal  dari bahasa Latin yang berarti penuh kasih. Selanjutnya, ada nama Nevasta yang merupakan ide ibuku. Kata Nevas konon ditarik dari kata “Nafas” karena aku dilahirkan pada Hari Raya Pentakosta. Hari Raya Pentakosta dirayakan Gereja Katolik untuk merayakan turunnya Roh Kudus. Terakhir, nama Nisyma dari bahasa Ibrani yang berarti didengarkan. Kata orangtuaku, doa mereka akhirnya terkabul, setelah mereka menantikan kehadiranku selama dua tahun.

Nama panjang kerap dianggap sesuatu yang membanggakan, yang menunjukkan garis keturunan atau filosofi tertentu. Namun dalam perjalananku, terutama saat tinggal di Jerman, aku menyadari bahwa nama panjangku ini bisa menjadi sumber kesulitan. Permasalahan penulisan nama lengkap selalu menjadi masalah dan rumit selama aku tinggal di Jerman 8 tahun terakhir, baik secara birokrasi pemerintahan, perkuliahan dan pengalaman kerja. Seperti yang  diketahui, di Indonesia tidak ada konsep hukum tentang kepemilikan nama keluarga seperti di negara-negara lainnya. Di Indonesia tidak ada pula ketentuan dan kepastian bahwa nama depan adalah otomatis nama panggilan. Dalam paspor pun hanya tertera satu baris “nama lengkap” atau “full name”. Sedangkan di sejumlah negara-negara di dunia, termasuk Jerman, kolom nama dibagi menjadi dua: nama depan dan nama keluarga/nama belakang.

Dalam setiap proses pendaftaran baik online maupun offline, kami diwajibkan untuk mengisi kolom nama keluarga pada formulir pendaftaraan apapun. Dalam kasusku, permasalahan sudah mulai terjadi sejak pembuatan paspor pertamaku untuk pergi ke Jerman pertama kali. Baris nama lengkap atau full name pada paspor Indonesia hanya cukup untuk menuliskan namaku  hingga Nevasta (Christophora Klementia Nevasta) sedangkan Nisyma adalah nama panggilanku seumur hidup dan identitas paling penting bagiku. Akhirnya, kantor imigrasi menuliskan nama lengkapku di halaman Endorsement (halaman 4) dan di halaman pertama, yang hanya tertera Christophora Klementia Nevasta Nisyma.

Pada saat pembuatan visa nasional ke Jerman pertama kali, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia pun hanya mau mengikuti apa yang tertera di halaman pertama paspor. Tidak peduli apa nama lengkapku secara hukum di Indonesia. Hal ini juga bermasalah pada sistem birokrasi di Jerman yang sangat ketat, di mana itu mengharuskan adanya struktur nama depan (Vorname) dan nama belakang (Nachname). Di sana, nama seseorang harus terdiri dari dua komponen itu. Sementara aku tidak memiliki nama keluarga. Nama belakang dalam sistem Eropa biasanya diwariskan dan menjadi penanda keluarga besar. Dalam struktur penamaan di Indonesia, terutama di keluargaku, kami tidak menggunakan nama keluarga. Nama kami murni adalah rangkaian nama pemberian, tanpa sistem diwariskan.



Setiap kali aku mengurus sesuatu—apakah itu mendaftar asuransi, membuka rekening bank, atau mengurus dokumen universitas—aku selalu menghadapi masalah yang sama: namaku terlalu panjang. Sistem komputer tidak bisa menampungnya. Beberapa karakter hilang. Di beberapa dokumen, hanya dua atau tiga kata yang muncul. Di dokumen lain, urutannya teracak karena sistem Jerman mengasumsikan bahwa kata terakhir adalah nama keluarga, padahal itu bukan bagian dari nama keluargaku—karena aku tidak punya nama keluarga.

Masalah berikutnya adalah konsistensi data. Karena sistem tidak bisa menampung nama panjangku, muncul perbedaan antara satu dokumen dengan dokumen lain. Di asuransi tertulis sebagian nama. Di paspor tertulis lengkap. Di database universitas berbeda lagi. Ketika mengurus perpanjangan visa atau mengurus legalitas, aku selalu harus menjelaskan bahwa ini semua adalah satu nama yang sama, meski tertulis berbeda. Rasanya sangat melelahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang Jerman atau di setiap perusahaan di mana aku pernah bekerja, aku harus selalu menjelaskan hal yang sama dan berulang, bahwa nama panggilanku Nisyma. Sayangnya, Nisyma ada di paling belakang namaku. Nisyma bukan nama keluargaku. Orang Indonesia tidak punya nama keluarga. Setiap aku berganti tempat kerja atau memulai di perusahaan baru, aku harus menyampaikan hal itu. Kalau aku tidak bilang apapun, mereka akan otomatis memanggilku “Frau Nisyma” atau dalam bahasa Inggris “Ms. Nisyma” di mana umumnya dipandang sebagai nama keluarga. Mereka pun memanggilku secara informal Christophora, bukan Nisyma.

Uniknya, selama delapan tahun terakhir aku sudah pernah tinggal dan terdaftar di lima kota berbeda di Jerman. Aku memiliki tujuh kartu identitas sebagai ijin tinggal and satu visa nasional yang ditempelkan di paspor dengan nama yang tertera berbeda-beda. Terdapat tiga macam penulisan namaku yang berbeda beda – Christophora Klementia Nevasta (Nevasta di baris nama keluarga), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (satu baris), Christophora Klementia Nevasta Nisyma (Nisyma di baris nama keluarga). Kartu mahasiswaku dan salah satu idenitias bankku bernamakan Christophora Nisyma. Kartu asuransi kesehatanku bertuliskan Christophora Klementia Nisyma.

Kalau dilihat-lihat, amit amit aku ada masalah hukum misalnya, maka Kepolisian Jerman tentu akan kebingungan dan bisa dikira identitas palsu. Namun, masalahnya itu semua tergantung kantor imigrasi dan instansinya. Ada kantor imigrasi yang begitu kaku hanya mau mengambil nama yang tertera di halaman depan, tetapi ada pula  kantor imigrasi yang bisa memahami dan memasukkan semua namaku. Pada instansi non pemerintahan terkadang masih bisa memahami.

Sampai Februari 2025, aku sempat mempertimbangkan dan merencanakan untuk mengurangi namaku secara resmi di Indonesia, karena permasalahan yang kerap dialami mengenai penulisan/pemanggilan nama yang aku ceritakan sebelumnya. Pada akhirnya, pada perpanjangan izin tinggal sekarang ini (Februari 2025), aku berhasil meyakinkan kantor imigrasi di kotaku sekarang untuk menulis semua namaku di kartu identitasku yang menjadi kartu izin tinggal di Jerman.

Itu pun bukan proses yang mudah. Petugas di kantor imigrasi yang melayaniku, bahkan tidak yakin. Namun, beliau sangat baik karena mau mengusahakan untuk menanyakan pada pimpinan kantor imigrasi kotaku dengan kumpulan foto ijin tinggal dan visaku selama di Jerman dalam 8 tahun terakhir yang kulampirkan. Akhirnya, mereka menyetujui permohonanku dan sekarang nama lengkap aku telah tertulis komplit di kartu identitasku yang baru.

Melihat betapa rumitnya proses penggantian nama di Indonesia secara resmi dan aku harus pulang ke Indonesia untuk mengurusnya dengan waktu proses yang tidak tentu. Saat ini, aku memutuskan untuk menunda penggantian nama secara resmi di Indonesia. Apabila nanti dipermasalahkan oleh kantor catatan sipil saat kami menikah, aku akan mengurusnya. Hal terpenting sekarang nama panggilanku, tertera sesuai seperti di kartu identitasku di Jerman.

Ya, saat ini aku bertunangan dengan pria keturunan Yunani-Rusia yang berkebangsaan Jerman-Yunani. Kami pun berencana akan menikah dan menetap di Jerman. Ketika menikah secara sipil di Jerman, sepengetahuanku,  kami akan ditanya oleh petugas kantor catatan sipil dan diminta mengisi formulir, nama keluarga siapa yang akan dipakai setelah menikah. Atau pun kalau pasangan memutuskan untuk tidak menyamakan nama keluarga, pasangan tersebut harus memutuskan nama keluarga yang akan dipakai untuk anak mereka nanti, apabila mereka memiliki anak di kemudian hari.

Selain itu, ADAC (Asosiasi mobil terbesar di Eropa yang menawarkan asuransi perjalanan dan layanan servis kendaraan) dan Kementerian Luar Negeri Jerman menyarankan, jika seorang anak bepergian ke luar negeri hanya dengan satu orang tua, untuk meminta formulir persetujuan informal dari orang tua lainnya dan khususnya, dalam kasus perbedaan nama, salinan akta kelahiran anak, dan halaman data identitas wali sah harus disediakan, sehingga memudahkan perjalanan serta menghindari kemungkinan kesalahpahaman. Karena aku tidak memiliki nama keluarga dan berdasarkan pertimbangan di atas, aku memutuskan akan mengambil nama keluarga suamiku saat kami menikah nanti.

Selama aku tinggal di Jerman delapan tahun terakhir, aku merasa aneh dan sedih karena kartu identitasku di Jerman tidak mencantumkan nama yang paling penting bagiku. Nama panggilan menurutku, nama di mana aku dikenal sejak aku lahir hingga saat ini, baik di Indonesia maupun di Jerman. Kartu identitas adalah hal penting yang mengatur kehidupan sehari hariku di Jerman. Aku memang tidak bisa memilih namaku sendiri dan diberikan nama ini dengan banyak doa dan harapan yang disematkan keluargaku. Jadi, memang mau tidak mau, aku harus menerima bahwa namaku terlalu panjang. Bagaimana pun aku ingin memperjuangkan untuk nama “Nisyma” selalu ada.

Aku berharap, pemerintah Indonesia bisa mempermudah proses penggantian nama tanpa perlu proses sidang di pengadilan di masa mendatang. Mungkin, itu cukup dengan pengajuan permohonan secara tertulis yang diajukan ke Disdukcapil dan wawancara dengan petugas Disdukcapil. Selain itu, aku berharap pemerintah Indonesia bisa mempertimbangkan untuk membuat baris nama di Indonesia menjadi dua baris, alih-alih hanya satu baris. Apalagi jika aku melihat nama anak-anak jaman sekarang (terlepas dari agamanya), banyak anak memiliki nama lengkap lebih dari dua atau tiga suku kata. Aku melihat juga Indonesia bukan lagi negara dengan pemilik nama hanya satu kata, seperti jaman dulu. Aku yakin ada banyak anak Indonesia, selain aku, yang lahir setelah tahun 2010 memiliki nama yang sangat panjang sepertiku dan tidak bisa menuliskan nama lengkap mereka di halaman depan paspor mereka.

Penulis: Nisyma dapat dikontak via akun Instagram ch.nissymaa dan tinggal di Jerman.

(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancanegara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Azizah Seiger, Koordinator Acara melalui e-mail info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Belajar dari India, Bagaimana Keamanan dan Peran Perempuan di Dunia Teknologi

Dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi digital, keamanan di ruang maya menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi. Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Oktober 2025 yang dikelola oleh Ruanita Indonesia kembali menyuguhkan narasi reflektif dan penuh wawasan, kali ini bersama Anggi Eka Pratiwi, seorang peneliti muda Indonesia yang tengah menempuh studi PhD di bidang Computer Science and Engineering di India.

Anggi berbagi kisah dan gagasannya tentang perlunya perlindungan digital yang komprehensif, pentingnya literasi digital bagi masyarakat umum, dan urgensi keterlibatan perempuan dalam bidang teknologi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Mengenal Sosok Anggi Eka Pratiwi

Anggi adalah representasi nyata perempuan muda Indonesia yang berani melangkah ke wilayah dominasi teknologi. Berasal dari latar belakang teknik, ia sejak awal telah menyadari bahwa perempuan masih menjadi minoritas di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Saat menempuh pendidikan sarjana di Indonesia, dari total 30 mahasiswa di kelasnya, hanya tiga orang yang perempuan, salah satunya adalah dirinya sendiri.

Kini, di India, Anggi tidak hanya melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi, tetapi juga mendalami topik riset yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita: competitive information diffusion atau penyebaran informasi kompetitif di media sosial.

Motivasi Penelitian: Mendeteksi dan Menelusuri Informasi Digital

Salah satu keprihatinan utama Anggi terhadap dunia digital saat ini adalah bagaimana hoaks atau informasi palsu menyebar dengan sangat cepat dan tak terdeteksi.

Banyak informasi yang viral di media sosial tidak memiliki sumber jelas, namun tetap beredar luas tanpa ada mekanisme penyaringan yang efektif.

Berangkat dari kegelisahan ini, Anggi memilih fokus penelitiannya untuk menciptakan model deteksi penyebaran informasi secara cepat dan akurat dengan data yang berasal dari media sosial.

Harapannya, model ini kelak bisa membantu masyarakat dan pemerintah dalam melacak asal-muasal berita palsu, serta menghambat laju penyebarannya sebelum menyebabkan kerusakan sosial lebih jauh.

Keamanan Digital: Studi Perbandingan Indonesia dan India

Melalui pengalamannya tinggal dan belajar di India, Anggi menyoroti bagaimana negara tersebut telah membangun sistem keamanan digital yang responsif dan terstruktur.

Di India, jika seseorang menjadi korban penipuan online atau kejahatan siber, masyarakat tahu persis harus menghubungi siapa dan ke mana melapor. Nomor darurat digital tersedia dan ditindaklanjuti secara cepat.

Berbeda dengan pengalamannya di Indonesia, ketika ia mencoba melapor atas insiden digital, respon yang diterima hanya berupa pencatatan tanpa kejelasan tindak lanjut.

Hal ini menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perlindungan siber di tanah air.

Menurut Anggi, data saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata, respons cepat, dan edukasi publik agar masyarakat tahu hak serta langkah apa yang harus diambil saat berada dalam situasi darurat digital.

Literasi Digital: Bekal Wajib di Era Internet

Dalam wawancaranya, Anggi juga menegaskan pentingnya literasi digital sebagai modal dasar bagi masyarakat modern. Ia mengusulkan agar pemerintah mengadakan pelatihan dasar tentang bagaimana menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.

Ada tiga poin penting yang Anggi bagikan kepada masyarakat terkait penggunaan internet dan media sosial:

  1. Gunakan media sosial sesuai tujuan yang positif. Jika ingin mencari berita, langsunglah ke situs berita resmi.
  2. Waspadai jejak digital. Apa pun yang dicari dan diakses akan direkam dan memengaruhi jenis konten yang muncul.
  3. Lindungi identitas digital. Gunakan fitur keamanan seperti private IP, adblocker, dan filter konten untuk menghindari paparan konten negatif dan melindungi privasi.

Ia juga mengingatkan bahwa internet bukan ruang netral, melainkan lingkungan yang penuh algoritma dan risiko jika tidak digunakan secara bijak.

Mendorong Perempuan di Dunia STEM

Anggi tidak hanya berbicara soal keamanan digital, tetapi juga membawa isu penting lain: ketimpangan gender di dunia teknologi.

Menurutnya, meskipun ada peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM, peran mereka masih sangat terbatas di tingkat pendidikan tinggi dan profesional.

Ia menyoroti praktik di India yang menetapkan kuota khusus untuk perempuan di program-program teknik dan sains, misalnya 30% dari total mahasiswa harus perempuan.

Kebijakan semacam ini, menurut Anggi, sangat efektif mendorong kesetaraan dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi perempuan di bidang teknologi.

Indonesia, kata Anggi, perlu mempertimbangkan strategi serupa. Selain itu, dibutuhkan narasi positif dan dukungan struktural agar lebih banyak perempuan tertarik dan merasa aman masuk ke ranah ini, yang selama ini dianggap milik laki-laki.

Pesan untuk Indonesia dan Generasi Digital

Sebagai penutup, Anggi menyampaikan harapan besarnya untuk Indonesia. Ia ingin masyarakat memiliki kesadaran lebih tinggi akan pentingnya keamanan digital, dan agar pemerintah membangun sistem perlindungan yang tidak hanya formal, tapi fungsional dan cepat merespon.

Ia juga mengajak para pemuda, khususnya perempuan Indonesia, untuk tidak takut mengejar bidang-bidang teknologi.

Dunia digital bukan hanya tempat untuk bermain atau hiburan, tapi medan yang luas untuk berkontribusi, meneliti, dan menciptakan solusi bagi tantangan zaman.

Tentang Cerita Sahabat Spesial (CSS)

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(SIARAN BERITA) Film “Dua Kali” Dorong Kesadaran Kesehatan Mental dan Berani Patahkan Stigma Sosial

Berlin, 18 Oktober 2025 – Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial yang kuat, khususnya dalam isu kesehatan mental. Mengusung tema “Berani Bicara akan Kesehatan Mental”, acara Diskusi & Nonton Bareng Film “Dua Kali” berhasil diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2025, di Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Ruanita Indonesia, KBRI Berlin, Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin, dan Kesmenesia, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka percakapan publik tentang kesehatan mental, meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia di Jerman terkait stigma sosial, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya relawan Ruanita di Jerman, sebagai kreator lokal yang berani mengangkat isu kesehatan mental.

Acara dimulai pukul 16.00 dengan registrasi dan ramah tamah, diikuti pengantar dari Rensi, dilanjutkan sambutan dari Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Dimas Wisudawan.

Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter “Dua Kali” yang disutradarai oleh Ullil Azmi dan diperankan oleh Mariska Ajeng, keduanya tinggal di Hamburg.

Follow us

Film ini menampilkan pengalaman hidup individu dengan gangguan mental dalam konteks transnasional, sekaligus menjadi medium untuk membangun empati dan membuka dialog publik.

Sesi diskusi panel menghadirkan perspektif bagaimana kehidupan lintas budaya Indonesia-Jerman yang dimoderasi oleh Rensy Kireyne, mahasiswi di Jerman. Penanggap adalah Walter Ng, yang juga seorang mahasiswa di Jerman dengan lugas menceritakan pengalaman dan tantangan tinggal di Jerman, termasuk bagaimana menghadapi isu kesehatan mental.

Tim film berbagi proses kreatif pembuatan film dan refleksi tentang keberanian mematahkan stigma sosial. Firman Tambunan, Co-founder Kesmenesia dan Psikolog Klinis di Jerman, ikut memberikan pandangan profesional mengenai prosedur mengakses layanan kesehatan mental di Jerman, serta perspektif budaya Indonesia terkait stigma mental. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta, yang berlangsung hingga malam hari.

Acara ini dihadiri oleh komunitas Indonesia di Berlin dan sekitarnya, serta individu yang tertarik pada kesehatan mental, psikologi, dan budaya Indonesia. Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta dapat melihat bagaimana film dapat menjadi alat advokasi sosial, mendorong kesadaran baru, serta memperkuat solidaritas komunitas terhadap isu kesehatan mental.

Dalam kesempatan ini, Kesmenesia juga diperkenalkan sebagai organisasi yang berfokus pada layanan komunitas Indonesia di Eropa secara profesional dan inklusif, dalam menyediakan pendampingan kesehatan mental yang berbasis empati dan keterbukaan.

Acara Diskusi dan Nonton Bareng Film “Dua Kali” menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat bersinergi untuk menciptakan ruang diskusi yang aman, mematahkan stigma, dan mendorong masyarakat lebih berani membicarakan isu kesehatan mental.

Informasi lebih lanjut dapat mengontak Marieska Ajeng, Koordinator Program melalui email info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(IG LIVE) Budaya dan Stigma terhadap Kesehatan Mental: Belajar dari Tiongkok, Swiss, dan Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, Ruanita Indonesia melalui akun Instagram resminya, @ruanita.indonesia, menggelar diskusi bertajuk “Budaya dan Stigma pada Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental.”

Diskusi ini dipandu oleh Rufi dan menghadirkan dua narasumber muda inspiratif: Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tengah menempuh studi di Tiongkok, serta Putu Rarasati, mental health speaker yang kini menetap di Swiss.

Acara ini diikuti dengan antusias oleh para sahabat Ruanita dari berbagai daerah, yang juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung melalui kolom komentar.

Dalam sesi pertama, Hilda Amanda menceritakan pengamatannya selama lima tahun tinggal di Tiongkok. Ia menilai bahwa pandangan masyarakat Tiongkok terhadap isu kesehatan mental kini sedang mengalami perubahan besar.

Follow us

Ia menambahkan bahwa di universitas tempatnya belajar, layanan konseling dan pusat kesehatan mental sudah tersedia secara gratis dan bersifat rahasia. Bahkan, di berbagai daerah, pemerintah bekerja sama dengan kampus untuk mengadakan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Generasi yang lebih tua masih menganggap gangguan kesehatan mental sebagai hal tabu, bahkan cenderung mengasingkan penderitanya. Namun, di kalangan Gen Z, topik ini sudah semakin terbuka dibicarakan,” ujar Hilda.

“Anak-anak muda di sini sudah tidak segan curhat atau mencari bantuan psikologis. Ada platform daring yang memungkinkan kita berbagi cerita tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Putu Rarasati membagikan pengalamannya tinggal di Swiss, negara yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat inklusif.

“Di Swiss, pembicaraan tentang depresi, burnout, atau terapi itu sudah jadi hal biasa, sama seperti membahas flu,” katanya.

Menurut Rarasati, lingkungan kerja dan sekolah di Swiss secara aktif mendukung kesehatan mental warganya. Karyawan mendapatkan lima minggu cuti wajib dalam setahun untuk mencegah stres, dan setiap individu memiliki akses ke hotline krisis serta layanan konseling yang ditanggung oleh asuransi wajib.

“Di sini, pergi ke psikolog dianggap sama normalnya seperti periksa ke dokter umum. Semua biaya kesehatan mental pun ditanggung asuransi,” jelasnya.

Ketika membahas konteks Indonesia, kedua narasumber sepakat bahwa stigma masih menjadi tantangan besar, meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini mulai meningkat.

Hilda mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang gangguan kesehatan mental dari kacamata spiritual.

“Sering kali orang yang sedang tidak baik-baik saja dianggap kurang ibadah atau jauh dari Tuhan. Ada juga yang menganggapnya ‘cengeng’ atau hanya cari perhatian,” ujarnya.

Sementara itu, Rarasati menyoroti fenomena self-stigma ketika individu yang mengalami masalah justru menyalahkan diri sendiri dan enggan mencari bantuan.

“Banyak yang sadar butuh bantuan, tapi takut dicap gila, lemah, atau jadi beban keluarga. Akibatnya, gejala mereka makin berat karena tidak tertangani sejak dini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Baik Hilda maupun Rarasati sepakat bahwa dukungan dari sistem, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga dunia kerja sangat berperan dalam mengurangi stigma.

Hilda mencontohkan bagaimana pemerintah Tiongkok aktif mengirimkan pesan edukatif dan menyediakan layanan konseling gratis di kampus-kampus. Sementara Rarasati menilai sistem asuransi di Swiss dapat menjadi model ideal.

“Kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental membantu masyarakat melihat bahwa ini bukan isu personal, tapi bagian dari kesejahteraan bersama,” jelas Rarasati.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini ditutup dengan ajakan untuk menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental. Baik Hilda maupun Rarasati menekankan bahwa setiap perasaan adalah valid, dan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan ketika merasa tidak baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa sedih, lelah, atau homesick, itu valid. Ngobrol, curhat, atau datang ke psikolog bukan tanda kamu lemah, tapi justru tanda kamu berani,” pesan Hilda.

Melalui forum seperti ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang sadar, terbuka, dan saling mendukung dalam perjalanan menjaga kesehatan mental.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Usaha Kuliner Indonesia di Prancis ke Pesan di Hari World Food Day

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya bernama Dena yang sekarang bermukim di Prancis. Saya senang ditawari untuk berkontribusi dalam program cerita sahabat, terkait program pangan karena saya dulu berkuliah di jurusan teknologi pangan di salah satu universitas ternama di Indonesia. Bagaimana saya tiba di Prancis? Berawal tahun 2017, saya bertemu dengan suami saya yang berkewarganegaraan Prancis di Jakarta.

Saat itu, saya masih bekerja di salah satu perusahaan asal Jerman. Tidak selang berapa lama dari perkenalan tersebut, kami memutuskan menikah sehingga saya pun berhenti kerja dan mempersiapkan diri untuk tinggal bersama suami di Prancis.

Saya menetap di Prancis bersama suami dan putra kami. Selain mengurus keperluan di rumah, sehari-hari saya juga menyalurkan hobi memasak dengan membuat aneka jajanan kaki lima favorit saya seperti bakso halal, pempek dan otak-otak untuk orang-orang Indonesia di Eropa yang rindu dengan jajanan kaki lima.

Tentunya, latar belakang studi di bidang teknologi pangan di Indonesia dan aktivitas saya mengelola usaha rumahan tersebut – membuat saya sangat tertarik untuk membagikan pengalaman dan pendapat saya terkait World Food Day.

Saya bahagia, jika orang-orang menikmati masakan yang saya buat dan mengapresiasi apa yang saya masak. Memasak tidak hanya hobi buat saya, tetapi bagaimana menciptakan kreasi makanan dan memasarkannya – yang saya pelajari sewaktu di bangku kuliah dan dunia pekerjaan di Indonesia, membuat saya semakin tertantang untuk menekuninya. 

Follow us

Berkenalan dengan Usaha Kuliner Rumahan

Usaha rumahan ini dimulai dari kecintaan saya pada jajanan kaki lima favorit saya yang begitu sulit ditemukan di Utara Prancis. Saya pun mencoba membuatnya sendiri di rumah, dengan konsep Halal dan cita rasa otentik seperti kita membeli jajanan bakso di kaki lima. Ketika saya membagikannya di media sosial, teman-teman yang melihat pun ingin mencobanya.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang sangat positif. Saya berpikir, mengapa tidak mencoba untuk berjualan kecil-kecilan. Setidaknya, saya dapat memberikan kemudahan kepada orang-orang Indonesia di Eropa yang kesulitan memasak atau mendapatkan jajanan kaki lima favorit mereka. 

Berdasarkan testimoni pelanggan saya – sebagian besar adalah orang Indonesia – mereka sangat senang dengan bakso dan pempek buatan saya. Buat orang-orang Prancis atau orang asing lainnya, yang mencicipi kuliner saya, rasa bakso terbilang unik.

Sedangkan untuk pempek, orang Prancis belum terlalu familiar dengan pempek, kecuali mereka pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Mereka senang dapat menikmati variasi olahan lain dari ikan.

Karena saya mengelola usaha rumahan berdasarkan pesanan, dengan target pasar saya adalah orang-orang Indonesia yang kangen makan bakso dan pempek selama tinggal di Eropa khususnya di Prancis, mungkin tantangan saya adalah soal otentifikasi cita rasa makanan tersebut.

Maksud saya, bagaimana mempertahankan masakan dengan cita rasa dan tekstur yang autentik, seperti halnya cita rasa bakso dan pempek yang dijual di Indonesia. Dalam hal ini, tantangan dimulai dari membuat resep, ketersediaan bahan baku dan bumbu-bumbu yang digunakan, hingga soal pemasaran dan pengiriman pesanan. 

Mengenai regulasi atau standar keamanan pangan antara Indonesia dan Prancis, pada dasarnya hampir sama, seperti pelatihan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) serta pelatihan lainnya yang terkait dengan keamanan pangan.

Meskipun jualan kuliner saya berkonsep masakan Indonesia ala rumahan, tetapi saya sudah menerapkan hal-hal yang terkait dengan standar keamanan pangan, agar masakan rumahan yang saya masak adalah masakan yang halal, aman, bersih, sehat dan layak untuk dikonsumsi.

Sejak awal membuat resep adonan bakso dan pempek ini, saya memutuskan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat di Prancis untuk mempermudah saya berikutnya, dalam menjaga kualitas dan cita rasa bakso dan pempek agar tetap konsisten.

Adapun bahan baku yang saya gunakan sangat mudah ditemukan di Prancis. Saya biasanya membelinya dari orang Indonesia yang berjualan produk-produk Indonesia di Prancis, di toko Asia, maupun di supermarket di Prancis. Sedangkan untuk bahan baku daging, saya berbelanja di toko daging halal di kota saya.

Berbicara strategi pemasaran yang digunakan, saya menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Menurut saya, keduanya sangat ampuh dan efektif untuk menjangkau orang-orang Indonesia di Eropa, yang tersebar di Prancis maupun wilayah eropa lainnya. Selain itu, media sosial tersebut sangat memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan calon pelanggan dan pelanggan lainnya untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Calon pelanggan juga dapat dengan mudah mempelajari produk saya, sebelum membeli. Mereka bisa melihat foto dan video dari produk kuliner rumahan saya, serta testimoni-testimoni dari pelanggan lain yang sudah membeli produk saya.

Keilmuan dan Aspek Kesehatan dalam Makanan 

Sahabat Ruanita, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa saya mempelajari tentang teknologi pangan. Itu sebab, saya menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk mengolah pangan dengan aman dan sesuai standar higienitas, seperti: masalah kebersihan diri, kebersihan peralatan memasak, kebersihan area pengolahan, penanganan bahan baku mentah, serta proses pengolahan, pemasakan dan pengemasan. 

Di awal, tantangan saya membuat resep adonan bakso dan adonan pempek adalah pemilihan bahan baku, yang sesuai dengan ketersediaannya di supermarket di Prancis.

Misalnya, penggunaan ikan tenggiri untuk pempek, sesuai resep originalnya, yang ternyata sangat sulit ditemukan di Prancis atau negara Eropa lainnya. Saya pun melakukan banyak riset untuk memilih dan mengetahui jenis ikan lainnya. 

Pada dasarnya, saya menggunakan bahan dan bumbu-bumbu dasar sederhana, tanpa bahan pengawet dan tanpa tambahan bahan untuk mengenyalkan bakso.

Ketika ada order pesanan, saya selalu memasaknya di akhir pekan, supaya kualitas produk masih bagus saat pengiriman produk ke pelanggan di hari Senin.

Perspektif tentang World Food Day & Industri Makanan 

Sahabat Ruanita, apakah mungkin usaha rumahan kaki lima seperti yang saya lakukan dapat berkontribusi untuk sustainability? Menurut saya, usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini sudah berkontribusi dalam sustainability pangan loh.

Usaha saya ini dibuat berdasarkan pesanan, supaya tidak ada makanan yang terbuang. Saya juga tidak menggunakan bahan pengawet untuk mempertahankan kualitas selama proses distribusi dan pengiriman produk ke pelanggan. Namun, saya menerapkan teknik-teknik dalam ilmu teknologi pangan seperti dalam proses pengolahan dan pengemasannya, sehingga produk bisa bertahan baik ke tangan pelanggan.

Saya selalu menyarankan ke pelanggan, agar produk disimpan dalam freezer (keadaan beku) untuk menambah umur penyimpanan, bila tidak langsung dimasak pada hari penerimaan paket produk dari ekspedisi. 

Karena saya menggunakan bahan baku yang masih segar, tanpa pengawet, dan berkualitas, tentu tantangan terbesar adalah bagaimana produk saya bisa bertahan kualitasnya, masih aman dan layak dikonsumsi saat pelanggan menerima produk. 

Sahabat Ruanita, sebagai informasi untuk proses pengiriman ke pelanggan biasanya memerlukan jangka waktu minimal tiga hingga tujuh hari kerja. Belum lagi, biaya pengiriman satu hari di Prancis maupun ke negara lain di Eropa sangat mahal. Dalam mengatasi proses pengiriman yang lebih dari 24 jam ini, maka saya menerapkan ilmu yang saya dapatkan saat dibangku kuliah jurusan teknologi pangan dengan melakukan riset dan percobaan agar produk tetap dapat bertahan kualitasnya dan aman dikonsumsi, walau tanpa menggunakan mesin pendingin selama proses pengiriman oleh ekspedisi. 

Pesan saya buat sahabat Ruanita yang ingin menekuni usaha kuliner rumahan, maka lakukan dan jalani apa yang disukai, terutama bisa dimulai dari hal-hal yang berhubungan dengan kuliner favorit.

Dari hal ini, kalian akan mudah mengembangkannya lebih luas lagi. Tidak perlu fokus ke kesulitannya dulu, melainkan fokuslah ke proses dan solusinya terlebih dahulu.

Harapan saya melalui usaha Bakso Kaki Lima Eropa ini, Insya Allah bisa berkembang menjadi kedai bakso dan jajanan kaki lima di Paris atau di kota-kota besar lainnya di Prancis, bahkan bisa ekspansi ke negara-negara Uni Eropa lainnya.

Saya juga berharap penggemar bakso dan jajanan kaki lima, tidak hanya orang Indonesia yang berada di Eropa saja, tetapi juga warga lokal Eropa lainnya.

Di hari World Food Day, marilah kita ikut berkontribusi dengan cara melakukan hal-hal yang sederhana di rumah, seperti mengurangi pemborosan makanan dan mengurang limbah pangan.

Hari Pangan Sedunia juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa masih ada masyarakat dunia lainnya yang mengalami kelaparan atau mereka yang kesulitan untuk mendapatkan akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi.

Dengan adanya Hari Pangan Dunia, kita juga dapat mendukung upaya untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan serta memberantas kelaparan bagi generasi mendatang.

Penulis: Dena T. Djajadisastra, tinggal di Prancis dan mengelola usaha rumahan yang dapat dihubungi via akun instagram @baksokaki5eropa.