(CERITA SAHABAT) Pitt Hopkins Syndrome, Resiliensi Ibu, Cahaya Kecilku

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.

Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana. 

Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.

Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.

Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.

Follow us

Aku pun harus mengalami induksi.  Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.  

Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja. 

Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat. 

Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.” 

Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan. 

Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku. 

Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.

Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.

Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual. 

Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”. 

Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.

Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.

Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.

Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.

(PODCAST RUMPITA) Peluang dan Tantangan PostDoc di Jepang Sebagai Perempuan Indonesia

Dunia memperingati 7 April sebagai World Health Day, yang mendorong Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai dokter untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Lewat Podcast RUMPITA yang tayang tiap bulan, episode kali ini membahas tentang pengalaman riset Postdoc setelah studi PhD di Jepang tentang dunia medis.

Dia adalah dokter Mita, yang adalah seorang ibu, periset, dan dokter untuk berbagi tentang peluang dan tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani studi Postdoc selama di Jepang.

Setelah berhasil menyelesaikan studi PhD di Jepang, setahun kemudian dokter Mita langsung menerima tawaran untuk lanjut studi Postdoc.

Follow us

Meskipun Jepang termasuk dalam benua Asia, tetapi budaya dan etos kerja orang-orang Jepang memiliki keunggulan tersendiri. Beruntung, supervisor dokter Mita sangat memahami situasinya sebagai ibu.

Sejak tinggal lebih dari lima tahun di Jepang, dokter Mita harus beradaptasi juga bagaimana tinggal di Jepang yang juga tak mudah.

Contohnya, bagaimana kehidupan di Jepang yang juga rawan bencana alam. Pemerintah Jepang telah mengantisipasi dengan memberikan peringatan dini kepada warganya, apabila ada prediksi typhoon misalnya.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari dokter Mita dalam menyelesaikan studi PhD-nya. Dia pun tak lupa untuk berbagi peran sebagai ibu dan peneliti juga.

Dokter Mita belajar bahwa membuat riset di bidang kedokteran tentu berdasarkan pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

Hasil risetnya tentu akan sangat membantu agar masyarakat tetap sehat. Peran pemerintah di sini sangat menentukan bagaimana kebijakan mengatur kadar gula atau garam dalam kemasan produk makanan misalnya.

Bagaimana pengalaman menarik dan menantang dari perjalanan PhD dan studi Postdoc dokter Mita? Apa saja yang diperlukan untuk melamar beasiswa yang disediakan pemerintah Jepang?

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan riset di bidang kedokteran? Apa pesan dokter Mita bagi sahabat Ruanita yang ingin berhasil menyelesaikan studi di Jepang?

Simak selangkapnya di saluran Podcast SPOTIFY kami dan pastikan Anda juga FOLLOW RUMPITA untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Perempuan Butuh Sains, Sains Butuh Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya, Rieska Wulandari yang telah menetap di Italia sejak Agustus 2010 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis lepas di Italia untuk media massa televisi di tanah air dan saya juga seorang ibu dari dua orang anak dan bersuamikan seorang Italia.

Saya menjadi jurnalis karena latar belakang pendidikan saya memang sarjana Jurnalistik Fikom Unpad. Saya meliput berbagai kegiatan aktual di Italia untuk pemirsa Indonesia dan sebagai pengamat sosial saya juga mengamati kiprah perempuan dalam berbagai isu termasuk dalam hal partisipasi perempuan dalam bidang sains. 

Tinggal di Italia selama hampir 15 tahun, saya menilai masyarakat Italia menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat penting, bahkan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni mencatatkan dirinya sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Italia dan  dalam berbagai bidang termasuk sektor sains, kontribusi perempuan, sangat diperhatikan. 

Perempuan tak sekedar dianggap sebagai rekan kerja/ilmuwan/cendekia setara, namun juga punya kesempatan untuk mendapatkan posisi puncak dan  kadang diakui lebih cemerlang daripada pria.

Kondisi ini, tidak serta merta muncul. Dibutuhkan perjalanan dan sejarah panjang bagi masyarakat Italia untuk bisa mencapai titik ini. Seperti negara-negara lainnya,  dahulu kaum perempuan Italia juga hanya ditempatkan di belakang layar. Baru pada tahun 1874 perempuan diizinkan masuk sekolah menengah atas dan universitas, meskipun banyak institusi yang terus menolak mereka saat itu, namun gerakannya sudah mulai muncul.

Follow us

Sejarah pendidikan perempuan di Italia adalah perjalanan menarik yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, pergeseran budaya, dan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender. Pada tahun 1886, Pemerintahan Italia menetapkan undang-undang pertama yang menjamin akses yang sama terhadap pendidikan dasar bagi anak perempuan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam menyadari pentingnya mendidik anak perempuan.

Berlanjut kurang dari seratus tahun kemudian, tahun 1946 perempuan di Italia memperoleh hak untuk memilih di Italia yang berkaitan erat dengan status pendidikan mereka. Kemampuan untuk memilih dipandang sebagai perluasan hak-hak perempuan, didukung oleh peningkatan prestasi pendidikan mereka. 

Momen ketika perempuan Italia sudah mulai boleh ikut dalam pemilu ini, diabadikan dalam film karya Paola Cortellesi yang berjudul C’e Ancora Domani (There’s Still Tomorrow /Masih Ada Hari Esok), menggambarkan betapa kekuatan perempuan di bidang pendidikan dan politik memberikan perkembangan yang revolusioner kepada masa depan individu dan juga pada sebuah bangsa.

Film yang merupakan debut sutradara Paola Cortellesi, memenangkan People’s Choice Awards, penghargaan dari publik, pada Festival Film Internasional Pingyao edisi kedelapan, yang diprakarsai oleh sutradara Jia Zhange (pemenang Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2006 untuk Still Life) dan diselenggarakan di Tiongkok dari tanggal 24 hingga 30 September.

There’s Still Tomorrow juga telah mengumpulkan berbagai penghargaan tidak hanya di Italia, tetapi juga di luar negeri dari negara-negara Eropa hingga Australia.

Kembali lagi ke sejarah Italia dalam memperjuangkan hak perempuan, pemerintah Italia memperkuat hak perempuan dalam kesetaraan akses pendidikan dengan menerbitkan UU tahun 1977.  Sahabat Ruanita perlu tahu, bahwa tujuan dari undang-udang ini untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan dan tempat kerja, dengan menekankan kesempatan yang sama bagi anak perempuan di semua lingkungan pendidikan. 

Itu sebab, saya berpendapat tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di Italia. Hanya saja, perempuan memang memiliki tugas lain. Sebagai ibu rumah tangga misalnya, perempuan yang berkarier penuh di bidang ini, tidak semudah dengan para pria. Namun, secara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak ada perbedaan. 

Sejauh pengalaman tinggal di Italia sebagai jurnalis, saya malah mendapat banyak privilege dibandingkan pria. Secara etika dan hukum, perempuan di Italia memiliki sistem perlindungan penuh dan bahkan masuk dalam skala prioritas, untuk konteks tertentu.

Terkait perempuan di bidang sains selama tinggal di Italia, saya menyaksikan bahwa Italia telah sukses mengirim astronot perempuan yaitu Samantha Cristoforetti yang berangkat dengan rioket Soyuz pada 23 November 2014 dan ditempatkan selama 200 hari di Stasiun ISS serta yang kedua kali pada 27 Aoril 2022 dengan Space X untuk ekspedisi selama 170 hari dan ditempatkan di stasiun ISS.

Selain itu, prestasi kaum perempuan dalam bidang olahraga juga sangat mencenangkan dengan banyaknya delegasi atau kontingen dari Italia yang memenangkan berbagai kompetisi internasional, piala dunia dan termasuk Olimpiade. Tentunya, saya melihat bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan kerja atau lingkungan akademik. Mereka sangat mendukung perempuan untuk maju dan sukses dalam sektor sains. 

Sebagai seorang jurnalis, saya sekarang sebagai sekretaris dewan untuk organisasi jurnalis asing di Italia, Stampa Estera di Milan dan tahun ini kami meluncurkan Premio Innovazione Semi yaitu penghargaan di bidang inovasi. Perempuan tentu diperbolehkan mengikuti kompetisi ini. Selain itu, organisasi ini juga memiliki anggota jurnalis perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Tokoh perempuan di bidang sains yang membuat saya kagum adalah seperti Rita Levi-Montalcini, seorang ahli saraf pemenang Hadiah Nobel. Selain itu, saya juga mengagumi Emma Bonino, seorang politisi terkemuka dan pembela hak-hak perempuan, memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat memberdayakan perempuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan seorang jurnalis kawakan Italia Oriana Fallaci yang telah mewawancara tokoh-tokoh internasional dunia dan menghasilkan berbagai buku jurnalistik yang impresif, yang membuka mata dunia pada pentingnya mengutamakan hak dan kemerdekaan semua bangsa dan terutama perempuan.

Sementara dari Indonesia, meski tokoh ini bukan seorang ahli sains, saya mengidolakan Kartini. Menurut saya, beliau merupakan tokoh yang sangat penting dan saya kagumi karena pikiran dan tulisannya telah membuka kemungkinan kepada para perempuan untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, dan menentukan sendiri masa depannya. 

Bagi para perempuan muda yang ingin menyelami dunia sains, tantangan terbesar di bidang ini adalah untuk teguh dan memantapkan langkahnya dalam menjalani bidang ini tak hanya untuk mengangkat image tapi benar-benar sebagai panggilan hidup. 

Di Italia saya perhatikan, peran pria di dalam sains sama beratnya dengan perempuan karena peran pria dan perempuan dalam keluarga memang sama-sama harus berkontribusi pada perkembangan keluarga dan anak, apabila mereka telah memiliki keturunan.

Yang menjadi pembeda adalah pusat-pusat riset dan teknologi, industry dan media yang berkaitan dengan bidang ini kebanyakan terletak di Italia Utara, sehingga kebanyakan dari mereka yang ingin berkembang di bidang ini, harus pindah ke Italia bagian utara. 

Sejauh ini, saya belum melihat peneiti Indonesia yang berkiprah di Italia meski ada beberapa kenalan saya, perempuan yang bekerja di pusat riset milik Uni Eropa yang berlokasi di Italia dan beberapa perempuan yang menjalankan riset berkaitan dengan studi master dan doktoral mereka di Italia. 

Jika digali, Indonesia punya banyak peluang dalam bidang sains di Italia. Hanya saja perbedaan bahasa, sistem sertifikasi, dan tidak adanya MoU yang terjalin antara Indonesia dan Italia dalam hal ketenagakerjaan, membuat kesulitan bagi mereka yang ingin mengejar peluang di bidang ini di Italia. 

Tentunya, ada pengaruh yang besar dalam perbedaan budaya antara Indonesia dan Italia terhadap namun untuk kehidupan sekarang, sangat bisa didiskusikan dan sangat bisa dipertimbangkan. 

Melihat perjalanan Italia yang demikian komit melibatkan perempuan dalam dunia sains, sebetulnya tidak mustahil Indonesia juga sudah dalam perjalanan ke sana, terutama bila kita berkaca lagi pada kebudayaan kuno, di mana ketika pengaruh agama-agama populer belum masuk.

Seperti dalam kebudayaan Sunda dan Minang, posisi perempuan sangat dihormati dan dianggap sebagai gender yang harus mendapatkan prioritas. Hal ini terlihat dalam pantun-pantun Sunda, sementara dalam kebudayaan Minang masih berprinsip matrilineal hingga kini. Situasi berubah ketika paham patriaki memasuki Nusantara, baik melalui paham bernafas keagamaan maupun karena manipulasi politik dan kekuasaan. 

Jika sahabat Ruanita ingin mengejar karier atau pendidikan di bidang sains, khususnya Italia, saya rasa Italia bisa dijadikan sebagai referensi yang cukup menarik karena negara ini telah melahirkan tokoh tokoh jenius di bidang sains, keputusan mengambil pendidikan di Italia akan menjadi keputusan strategik di mana sahabat Ruanita bisa mengambil langsung dari rahim ilmu dan kebudayaan itu sendiri, yang mana bahasa latin yang menjadi inti kebudayaan Eropa lahir. 

Menjalani dan berinteraksi dengan berbagai komunitas di Italia, refleksi terbesar saya adalah perempuan di Italia, memiliki peran krusial dalam perkembangan sains secara nasional. Bahkan peran ini bisa mewakili posisi Italia secara global, apalagi bila ada pemenang nobel atau astronot yang berkebangsaan Italia. 

Selain pendidikan publik, keberadaan lembaga pendidikan yang diasuh gereja (Yayasan katolik), juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan Sains. Meskipun sekolah ini bernafaskan katolik, namun pelajaran sainsnya tidak terkungkung ideologi agama, melainkan sangat terbuka pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan termasuk menerima bahwa bumi terbentuk melalui teori big bang dan adanya evolusi. 

Hal ini membuat perkembangan sains di Italia tidak berbenturan dengan ranah ideologi dan prinsip-prinsip agama atau keimanan. Demikian juga peran serta perempuan dalam segala bidang sangat didorong dan tidak mengurung perempuan untuk puas dengan peran domestik, namun dalam peran lain yang sangat penting bagi kehidupan ilmu pengetahuan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara.

Sikap keterbukaan yayasan katolik pada sains ini menjadi tantangan bagi Indonesia, sebuah bangsa yang akhir-akhir ini kita akui, cenderung terkungkung dalam kerangka religius sehingga kontraproduktif dengan kemajuan sains. 

Sebagai perempuan Indonesia di Italia, saya berharap semoga kedua negara bisa saling berkontribusi dalam hal memajukan perempuan di dunia sains. Bagaimanapun sains membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan sains, lebih jauh, Italia membutuhkan Indonesia dan Indonesia juga membutuhkan Italia. 

Saya kita, sudah saatnya untuk mulai terbuka dan menyambut keterlibatan perempuan di bidang sains, bahkan harus mendorong perempuan dan memberikan dukungan serta pengayoman agar ketika menjalankan profesi ini, perempuan mendapatkan hasil yang maksimal dan dilindungi secara hukum, sehingga mereka dapat menjalankannya dalam rasa tenang dan nyaman. 

Saya yakin, perempuan Indonesia tidak hanya potensial, bahkan juga semakin banyak perempuan Indonesia yang bergerak di bidang ini, sehingga Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang sangat kuat. Ingatlah, pada kaum perempuan yang menjalani bidang ini, persaingan akan selalu ada. Persaingan dalam dunia kerja, baik antar sesama perempuan maupun dengan laki-laki sama kerasnya dalam konteks yang berbeda.

Oleh karena itu, semangat hanya akan ada jika diri sendiri memang teguh pendirian. Memang yang dijalani adalah sesuatu yang dicintai. Passion atau renjana bukan sekedar menjalankan pesan orang tua atau sekedar agar tampak terpandang. Selama jalan itu kita ambil – karena memang kerinduan kita dan ada panggilan jiwa – apapun tantangannya, akan dapat dijalani meski berat dan terjal. 

Sekali lagi sahabat Ruanita, ini saran saya:

  1. Kenali bahasanya, raih sertifikat bahasa secara formal, karena ini akan sangat membantu, baik dalam proses studi maupun dalam konteks profesionalisme. 
  2. Carilah universitas yang sesuai. Beberapa universitas di Italia juga sangat excellence dalam program-program spesifik. Saya yakin ini memberikan manfaat besar bagi yang melakukan riset maupun bagi masyarakat secara umum. 

Penulis: Rieska Wulandari, tinggal di Italia, pengelola website http://ri3ska.com/ dan www.wartaeropa.com, kontributor cerita sahabat di www.ruanita.com dan dapat dikontak via akun Instagram ri3ska.

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Pahlawanita 

Perempuan Pahlawanita 

Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung. 

Ada barisan pendekar pahlawan perempuan … 

Follow us

dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan. 

Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit 

entah, apa kriterianya terlalu sulit 

atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit. 

Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram. 

Kenali mereka 

Sanjung pengorbanan mereka 

Tak perlu diterka 

perjuangan mereka membuat perempuan merdeka. 

Hamburg, 04.02.2025 

Penulis: Dyah Narang-Huth (akun Instagram: dyahnaranghuth)

(IG LIVE) Selamat Hari Perempuan Internasional!

Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.

Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.

Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.

Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.

Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.

Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.

Follow us

Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.

Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.

Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.

Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.

Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.

Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?

Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!

(SIARAN BERITA) APPBIPA Jerman dan Ruanita Gelar Diskusi Daring Hari Bahasa Ibu Internasional

JERMAN, 21 Februari 2025 – Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momentum penting untuk menghargai bahasa pertama yang dikenalkan sejak lahir—bahasa yang tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun identitas pribadi, sosial, dan budaya. Bahasa ibu membuka pintu bagi pemahaman nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta perspektif unik suatu komunitas. 

Di era globalisasi, pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu turut memudahkan pembelajaran bahasa lain, mengenal budaya baru, dan memperkuat koneksi lintas budaya. Melalui pelestarian dan promosi bahasa ibu, termasuk Bahasa Indonesia, diharapkan dapat memperkaya keberagaman global sekaligus mengukuhkan identitas bangsa.

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia, APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Jerman bekerja sama dengan Ruanita Indonesia mengadakan diskusi online dengan tema “Bahasa Ibu Sebagai Pintu ke Keberagaman Dunia.”

Acara ini diadakan sebagai upaya menegaskan peran bahasa ibu dalam pembentukan identitas, komunikasi lintas budaya, dan sebagai gerbang untuk memahami dunia yang lebih luas. Selain itu, acara diskusi daring ini sebagai upaya untuk meningkatkan promosi Bahasa Indonesia di kancah global, melalui peran APPBIPA Jerman. Lewat acara ini, kepengurusan baru APPBIPA Jerman periode 2024-2029 pun diperkenalkan. 

Diskusi daring dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2025 pukul 19.00 – 21.00 secara terbuka kepada siapa saja yang tertarik tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Dalam diskusi daring ini, Atdikbud KBRI Berlin, Roniyus Marjunus, turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap pentingnya bahasa Ibu di mana pun berada.

Beliau menegaskan bahwa bahasa Ibu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas yang memperkuat eksistensi bangsa. Selain itu, bahasa Ibu memainkan peran penting dalam diplomasi budaya, yang dapat mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya.

Ada pun sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi, yang disampaikan oleh Desiree Luhulima, Pendidik dan Penulis Buku, sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Finlandia. Beliau memaparkan materi tentang Bahasa Ibu sebagai gerbang dunia. 

Menurut Desiree Luhulima, Relawan Ruanita di Finlandia sekaligus pakar pendidikan dan penulis buku Wujudkan Anak Bahagia: Pra-Pendidikan Dasar Metode Finlandia, “Bahasa Ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam membangun pemahaman dunia. Melalui Bahasa Ibu, anak-anak memperoleh keterampilan berpikir kritis, memahami konsep-konsep kompleks, dan mengembangkan identitas yang kuat. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Ibu, proses belajar bahasa lain dan ilmu pengetahuan dapat terhambat. Oleh karena itu, melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Ibu menjadi langkah krusial dalam mempersiapkan generasi mendatang yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya mereka.”

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Chatarina Maria, yang merupakan pengurus APPBIPA Jerman dengan materi mengenai peran BIPA di kancah internasional. Bahasa Ibu memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi alat diplomasi yang memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. Program BIPA berkembang pesat dengan kehadiran di 54 negara, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan daya saing global dibandingkan bahasa asing lainnya​.

Untuk memperkaya wawasan yang disampaikan oleh pemateri, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada pemateri dan peserta yang hadir. APPBIPA Jerman dan Ruanita Indonesia berharap bahwa diskusi daring ini dapat menjadi wadah dialog yang konstruktif dan inspiratif. Melalui partisipasi bersama, diharapkan akan terbangun sinergi yang lebih kuat antar pegiat bahasa dan budaya, serta semakin mengukuhkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah internasional.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak panitia penyelenggara  melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(IG LIVE) Safer Internet Day

Program IG LIVE lewat platform akun instagram @ruanita.indonesia dilaksanakan tiap bulan dengan berbagai tema diselenggarakan sebagai ruang diskusi dan berbagi inspirasi.

Pada bulan Februari 2025 ini, tema yang diambil sejalan dengan Safer Internet Day yang diperingati pada 11 Februari 2025 lalu.

Safer Internet Day mengingatkan kita bahwa internet kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan dan kita perlu aware tentang bagaimana berinternet yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Demikian pernyataan pembuka pemandu diskusi, Host IG LIVE, yakni relawan Ruanita Indonesia – Zukhrufi Sysdawita.

Bagi Herawasih Yasandikusuma, Digital Marketer yang bermukim di Swiss, Safer Internet Day adalah momen untuk kita dapat menjaga informasi pribadi.

Selain itu, dia menghimbau bagaimana menggunakan sandi atau password yang aman dalam berinternet. Wasih – demikian disapa – mengingatkan pentingnya multi-faktor autentifikasi.

Berkaitan dengan kecerdasan buatan, Wasih juga menyatakan bagaimana hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence, yang dapat membantu kita bekerja.

Lainnya, Netti yang tinggal di Serbia dan aktif sebagai digital content creator – menyatakan pentingnya edukasi tentang kultur berinternet, termasuk bagaimana mengedukasi anak-anak yang berusia sekolah.

Di Serbia, Netti menegaskan sudah ada program untuk sekolah tentang literasi digital.

Meski orang tua masih khawatir dengan internet untuk hal-hal yang tidak edukatif, tetapi orang tua bisa membuat batasan pada anak yang bisa diatur pada bagian setting platform media sosial tersebut, seperti misalnya: Facebook atau Instagram.

Lebih lanjut diskusi IG LIVE ini dapat disimak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Workshop Meningkatkan Kapasitas Warga Indonesia di Dubai dalam Era Digital

Dubai, 10 Februari 2025 Dalam upaya meningkatkan kapasitas warga Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, DWP KJRI Dubai, Komunitas Gelas Kosong bekerja sama dengan Ruanita Indonesia menggelar Workshop Produksi & Editing Konten Video Digital. Acara ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan produksi konten video guna mendukung promosi usaha dan komunikasi digital yang lebih efektif.

Workshop ini resmi dibuka oleh Konsul Jenderal RI untuk Dubai, Bapak Denny Lesmana, yang dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap program peningkatan kapasitas ini. “Di tengah kecanggihan teknologi saat ini, warga Indonesia di Dubai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam pembuatan konten digital. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi dan mengedukasi peserta agar lebih siap bersaing dalam dunia digital, baik untuk kebutuhan promosi usaha maupun pengembangan komunitas,” ujar beliau.

Workshop ini berlangsung dalam tiga sesi yang akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada tanggal 10, 17, dan 24 Februari 2025. Para peserta akan mendapatkan pelatihan dari para relawan Ruanita Indonesia yang berpengalaman di bidang digital content creation, yaitu Cindy Guchi dari Vietnam dan Anna dari Jerman, serta dipandu oleh moderator Utari Giri, Ketua Komunitas Gelas Kosong di Dubai.

Peserta workshop terdiri dari warga Indonesia yang tinggal di Dubai dan sekitarnya, anggota DWP KJRI Dubai, serta pemilik usaha kecil dan menengah yang ingin memperluas jangkauan bisnis mereka melalui media digital. Selain mendapatkan materi dan pelatihan praktis, peserta juga akan memperoleh akses ke rekaman workshop, sertifikat elektronik, serta pendampingan melalui grup WhatsApp.

Melalui workshop ini, diharapkan peserta mampu menciptakan konten video yang tidak hanya menarik dan informatif tetapi juga memiliki nilai edukatif serta dapat dimonetisasi. Acara ini merupakan bagian dari komitmen KJRI Dubai dan Ruanita Indonesia dalam memberdayakan komunitas warga Indonesia di luar negeri dengan keterampilan yang relevan di era digital.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi panita penyelenggara melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Sebaiknya Budaya Online yang Aman dan Bertanggungjawab di Indonesia?

Melanjutkan episode bulan Februari 2025, Ruanita Indonesia mengangkat tema Safer Internet Day dalam program cerita sahabat spesial, yang ditayangkan tiap bulan. Bagaimana pun, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka akses informasi dan peluang tanpa batas.

Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi PhD di University of Birmingham, Inggris. Dia adalah Zakiyatul Mufidah, seorang dosen yang sedang menekuni studi lanjutan.

Zakiya menyadari bahwa rasa aman dalam berinternet di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dalam program Sahabat Spesial yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, isu-isu terkait keamanan digital dan budaya online diangkat untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.

Salah satu penyebab utama kurangnya rasa aman di dunia maya adalah budaya online yang mentoleransi tindakan seperti cyberbullying dan pelanggaran privasi. Misalnya, penggunaan foto tanpa izin, baik untuk candaan maupun tindakan yang lebih serius, masih sering terjadi.

Menurut Zakiya, rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia membuat masyarakat cenderung menggunakan internet tanpa memahami risiko atau etika yang menyertainya. Hal ini mencakup kurangnya kesadaran terhadap pentingnya keamanan akun melalui otentikasi ganda (double authentication), risiko menggunakan Wi-Fi publik, hingga bahaya phishing.

Ada empat aspek utama literasi digital, seperti yang dijelaskan oleh Zakiya

  1. Digital Skill: Keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi.
  2. Digital Culture: Pemahaman budaya dan tanggung jawab saat berinteraksi di dunia maya.
  3. Digital Ethics: Mempraktikkan etika yang baik dalam komunikasi dan konten digital.
  4. Digital Safety: Menjaga keamanan data pribadi dan melindungi diri dari kejahatan siber.

Kesadaran masyarakat terhadap keempat pilar ini perlu terus ditingkatkan melalui edukasi, kampanye, dan pelatihan praktis.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial berikut di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(SIARAN BERITA) Femisida Dalam Berbagai Perspektif: Budaya, Psikolog, dan Hukum

Femisida, atau pembunuhan berbasis gender yang menargetkan perempuan, merupakan isu global yang semakin menjadi perhatian dunia. Berdasarkan Sidang Umum Dewan HAM PBB, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan di mana pelaku kejahatan berbuat sesuka hatinya karena korbannya adalah perempuan.

Muatan motif dalam kejahatan femisida berbeda dari pembunuhan biasa karena femisida mengandung aspek ketimpangan kuasa antara pria dan wanita, ketidaksetaraan gender, patriarki, stereotip misoginistik, dominasi/agresi/opresi, serta praktik budaya dan norma sosial yang merugikan perempuan. 

Pada tahun 2022, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mengklasifikasikan femisida yang menjelaskan dengan rinci bahwa sebagian besar femisida terjadi di ruang privat dengan berbagai motif kompleks yang dijabarkan dalam 16 kategori.

Pada tahun 2018, 20 negara anggota Uni Eropa meratifikasi Konvensi Istanbul di mana negara berkewajiban untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan secara menyeluruh dalam segala bentuk dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, melindungi korban, dan mengadili para pelakunya.

Kegagalan dalam menangani kasus adalah tanggung jawab negara. Konvensi Istanbul menekankan bahwa sulit tercipta kesetaraan antara perempuan dan laki-laki jika perempuan terus mengalami kekerasan berbasis gender dalam skala besar, tetapi lembaga negara menutup mata akan kondisi ini.

Di Indonesia sendiri, kenyataan yang terjadi adalah kasus femisida belum tercatat secara memadai. Komnas Perempuan Indonesia telah memantau femisida sejak 2017. Dalam dokumen ‘Femisida: Tuntutan Pembaruan Hukum dan Kebijakan Menyikapi Ancaman’ yang diterbitkan Komnas Perempuan pada tahun 2020, disebutkan bahwa kasus-kasus femisida di Indonesia jelas meningkat dalam jumlah maupun jenisnya, tetapi belum mendapat perhatian serius, bahkan masih dipandang sebagai tindakan kriminal biasa.

Setelah rilisan dokumen Komnas Perempuan yang bertajuk ‘Alarm bagi Negara dan Kita Semua: Hentikan Femisida (Pembunuhan terhadap Perempuan)’ di tahun 2017, belum ada perubahan hukum dan kebijakan terkait femisida oleh Polri maupun negara.

Hasil dari pemantauan Komnas Perempuan terhadap berita femisida dari media daring sepanjang 2019 mencatat jumlah 145 kasus. Namun, jumlah ini baru sebatas kasus femisida yang diliput oleh media massa, belum terhitung yang tidak diberitakan.

Dari data yang dikumpulkan Komnas Perempuan, relasi pelaku dengan korban sebagian besar masih berada dalam ranah relasi personal. Lalu, terdapat pola kekerasan sadisme berlapis yang dialami oleh korban perempuan dan tindak pelucutan martabat korban.

Di Indonesia, penghilangan nyawa diatur tersebar dalam Pasal 44 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT) dan juga di KUHP yaitu Pasal 338, Pasal 339, Pasal 340, Pasal 344, Pasal 345, dan Pasal 350.

Berdasarkan pantauan Komnas Perempuan, motif dan modus kekerasan berbasis gender sebelum atau yang menyertainya tidak menjadi faktor pemberat hukuman. Kasus femisida tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga berdampak signifikan pada tatanan sosial, termasuk kesehatan mental keluarga korban dan masyarakat.

Salah satu kasus femisida yang melibatkan perempuan Indonesia terjadi di Jerman pada tahun 2024, yang mana almarhum datang ke Jerman untuk menimba ilmu dan membangun karier yang gemilang. Oleh karena itu, diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan di mancanegara, terutama yang berkaitan dengan Femisida dan mendorong semua warga Indonesia untuk dapat melaporkan, dan mencatat kasus-kasus kekerasan yang dialami warga Indonesia di mancanegara lewat kolom pengaduan yang dibuat oleh Ruanita Indonesia, yang kemudian akan dilaporkan dalam laporan tahunan ke Komnas Perempuan Indonesia.

Untuk memperluas pengetahuan publik akan isu femisida dan kasus kekerasan terhadap perempuan Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Dunia akan menyelenggarakan diskusi online yang mengangkat tema “Femisida dalam Perspektif Psikologi, Budaya, dan Hukum“. Diskusi online ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 9 Februari 2025 pukul 10.00 – 12.00 CET (16.00 – 18.00 WIB) melalui platform digital Zoom meeting.

Diskusi online ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Perlinndungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Enni Widiyanti. Beliau menekankan pentingnya pengaturan khusus mengenai femisida dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Beliau menyatakan bahwa saat ini, terminologi femisida belum dikenal dalam hukum Indonesia, sehingga pembunuhan terhadap perempuan sering dianggap sama dengan pembunuhan biasa. Akibatnya, analisis mendalam terkait akar permasalahan femisida dan upaya pencegahannya belum optimal. Dengan adanya pengakuan dan pengaturan khusus tentang femisida, diharapkan penanganan kasus, identifikasi akar masalah, dan langkah pencegahan dapat lebih jelas dan efektif.

Diskusi online ini juga dihadiri oleh Siti Aminah Tardi (Komisioner Komnas Perempuan), Dini Tiara Sasmi (Akademisi Universitas Riau), Dr. Livia Iskandar (Psikolog, Wakil LPSK RI Periode 2019-2024 dan Direktur Yayasan Pulih), serta Dr. Gopala Sasie Rekha (Dosen Krimonologi di University Winchester, Inggris) sebagai para pemateri untuk membahas isu femisida dalam perspektif budaya, psikologi, dan hukum. 

Diskusi ini dibuka untuk umum dan dapat diakses oleh masyarakat Indonesia di manapun berada, yang tertarik dengan topik ini. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu femisida, serta memberikan pemahaman multidimensional terkait femisida dari perspektif psikologi, budaya, dan hukum.

Lebih lanjutnya, adanya diskusi online ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pelaporan dan pendataan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan Indonesia, serta mendorong pembentukan langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengurangi kasus kekerasan berbasis gender. Adapun kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan PPI Dunia bertujuan untuk memperkuat komunitas yang mendukung pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi Aini Hanafiah melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com. Materi informasi dapat diberikan setelah Anda mengisi formulir elektronik yang ditautkan tersebut dan mengirimkan ke Admin via surel: info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kemeriahan Imlek di Taiwan

Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.

Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.

Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.

Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Analisis Konsumsi Politik Generasi Z dalam Perspektif Herd Mentality

Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari  pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan  maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk  menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi  digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian  membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa. 

Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan  seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah  diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu  sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.

Herd mentality menjadi relevan  pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku,  serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan  sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam  tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk  mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend  di media sosial. 

Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di  masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan  perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.

Seperti pada agenda politik  terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut  berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu  konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar  disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya. 

Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa  membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal  tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.

Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan  bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam  jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.

Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong  saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan  sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.

Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak  mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami  proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk  mencari informasi lebih jauh lagi.

Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang  semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi  yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing. 

Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam  melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise  politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat  berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau  kelompok tertentu.

Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa  skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga  berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap  suatu individu yang mewakili partai tertentu. 

Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok  masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu  memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan  mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini,  dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.

Perilaku  herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan  prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta  dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar  belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama. 

Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan  konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan  kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok,  hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.

Sedangkan herd  mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena  pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan  tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar  belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih  dahulu.

Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif,  hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun. 

Masyarakat kolektif  lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti  masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib  bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya  suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.

Pendidikan politik juga belum bisa  sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah  pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam  berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada  tidak sama sekali.

Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri  adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang  terdekat. 

Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdeala dan instagram.com/@nila.docx

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.

(SWG) Bagaimana Kesetaraan Gender di India?

Melanjutkan episode ke-2 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita, yakni perempuan berkebangsaan India yang tinggal di West Bengali dan berprofesi seagai Researcher dan Lecturer sekarang. Dia bernama Sanchali Sarkar yang dapat dikontak lewat akun instagram sanchali_s yang juga kini sedang menempuh pendidikan PhD di Jerman.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Cindy, program ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk diskusi antara Cindy sebagai perempuan Indonesia dan perempuan dari negara lain tentang topik menarik dan bagaimana perspektif mereka terkait dengan tema yang ditawarkan di negara mereka.

Pada episode ke-2, Cindy mengangkat tema kesetaraan gender di India yang masih menjadi isu yang kompleks dan bagaimana implementasinya, sepanjang pengamatan dan pengetahuan dari informan yang juga menjadi dosen keseteraan gender di salah satu universitas di India.

Berbicara tentang kesetaraan gender, Sanchali menyatakan bahwa masih ada ketimpangan gender di negara tempat tinggalnya. Menurut informan, ada banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi seperti: masalah keluarga, agama, seksualitas, kasta, dan benturan budaya yang membuatnya sulit diimplementasikan.

Misalnya, pernikahan anak di India yang sudah dilarang sejak tahun 2006 tetapi faktanya masih saja terjadi pernikahan anak yang terjadi di masyarakat di negara tinggal Sanchali. Padahal, aturan menikah sudah jelas ketat yakni laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berusia 18 tahun, tetapi antara peraturan dan implementasi begitu timpang.

Sanchali mengakui bahwa struktur di masyarakat tempat tinggalnya begitu sangat patriakal, meskipun banyak juga yang mengakui bahwa undang-undang yang dibuat oleh pemerintah India sudah berpihak pada perempuan. Dalam realitanya, itu begitu sulit bagi orang-orang untuk mengaksesnya.

Tema-tema menarik apa saja yang dibahas dalam antara Cindy dengan Sanchali? Mengapa kesetaraan gender di India begitu sulit diterapkan? Apa pesan Sanchali kepada perempuan India dan perempuan seluruh dunia?

Simak selengkapnya program Sharing with Guchi (SWG) episode ke-2 berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.