Nama saya Fajar. Saya adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat dan pindah ke Amerika pada Desember 2023, saat usia kehamilan saya memasuki lima bulan. Keputusan untuk pindah tidaklah mudah, mengingat saya harus meninggalkan tanah air dan memulai kehidupan baru di negeri yang serba asing. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung sepanjang perjalanan ini.
Saat pertama kali tiba di Colorado, saya merasa sangat sendirian. Di Brighton, tempat tinggal kami, hampir tidak ada orang Indonesia. Untungnya, saya kemudian bertemu komunitas ibu-ibu Indonesia di sebuah bazar masjid, yang membuat saya merasa lebih diterima dan memiliki teman untuk berbagi cerita.
Kehamilan pertama saya penuh dengan tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat. Sebelum pindah, saya rutin memeriksakan diri di Indonesia, termasuk mendapatkan buku kesehatan ibu dan anak dari Puskesmas. Dokter kandungan di Indonesia juga membekali saya dengan surat izin terbang dan obat penguat kandungan agar perjalanan panjang ke Amerika Serikat aman.
Sesampainya di Amerika Serikat, saya langsung mendaftar di Women’s Health Center di Colorado. Di sana, saya bertemu dengan bidan yang membantu saya selama masa kehamilan hingga persalinan. Setiap bulan, saya menjalani pemeriksaan rutin. Meskipun awalnya saya khawatir dengan kendala bahasa, ternyata para tenaga medis di sini sangat ramah dan selalu menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Hal ini membuat saya merasa nyaman dan percaya diri.
Melahirkan di Amerika Serikat menjadi pengalaman yang luar biasa. Saya memilih metode persalinan sesar karena alasan medis. Prosesnya sangat berbeda dibandingkan dengan cerita teman-teman saya di Indonesia. Di sini, perhatian dokter dan perawat begitu detail. Setelah operasi, mereka memastikan saya tidak merasa sakit dan memantau kondisi saya dengan cermat sebelum mengizinkan saya pulang.
Hal yang membuat saya terkesan adalah kunjungan dokter laktasi pasca-persalinan. Dokter membantu memastikan saya dan bayi saya bisa menjalani proses menyusui dengan benar. Jika ada masalah, saya bisa langsung menghubungi dokter tersebut, bahkan setelah saya pulang ke rumah. Sistem ini benar-benar membuat saya merasa didukung.
Sebagai ibu baru di negeri orang, tentu saya tidak terlepas dari tantangan emosional. Ada saat-saat di mana saya merasa kesepian, terutama ketika suami saya harus bekerja. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung. Ia membantu saya merawat bayi, dari mengganti popok hingga menenangkan bayi yang menangis.
Meski sempat merasa overwhelmed, untungnya saya tidak mengalami baby blues yang ekstrem. Saya banyak belajar untuk menerima perubahan ini dengan perlahan dan terus berkomunikasi dengan suami. Membaca cerita-cerita sahabat di Ruanita juga membantu saya merasa terhubung dengan pengalaman para ibu lainnya.
Budaya di Amerika dan Indonesia sangat berbeda, terutama dalam cara mendukung ibu baru. Di Amerika Serikat, saya melakukan tradisi baby shower, di mana keluarga besar datang sebelum bayi lahir untuk merayakan kehadiran anggota keluarga baru. Setelah melahirkan, tidak ada tradisi kunjungan seperti di Indonesia, tetapi perhatian yang diberikan melalui sistem kesehatan sangat luar biasa.
Selain itu, saya bertekad untuk membesarkan anak saya dengan nilai-nilai budaya Indonesia, seperti sopan santun kepada orang tua. Meski tinggal di Amerika, saya ingin anak saya tetap mengenal akar budayanya dan memiliki nilai-nilai yang kuat.
Melahirkan di negeri orang adalah pengalaman yang penuh dengan pelajaran. Bagi para ibu Indonesia yang menjalani perjalanan serupa, saya ingin berbagi pesan ini: persiapkan diri dengan baik, cari komunitas yang mendukung, dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan. Tidak ada ibu yang sempurna, tetapi setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bentuk cinta terbesar untuk anak kita.
Tentang Penulis: Fajar adalah seorang ibu muda yang saat ini tinggal di Colorado, Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun instagram @thomasandfajar.
Pada episode keempat program berbahasa Inggris Sharing With Guchi (SWG), Cindy Guchi tidak dapat hadir karena sedang menjalani cuti melahirkan. Kami turut mendoakan kesehatan dan kebahagiaan bagi Cindy dan bayinya. Sebagai pengganti, episode kali ini dipandu oleh Natasha Hartanto, relawan dari Ruanita Indonesia.
Dalam episode ini, Natasha mewawancarai Koreeyor Manuchae, seorang pengacara dari Thailand yang telah lama mengadvokasi hak-hak pekerja migran, khususnya perempuan.
Pekerja migran perempuan memegang peranan penting dalam ekonomi global. Namun, mereka kerap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap eksploitasi, diskriminasi, dan minimnya akses terhadap perlindungan hukum.
Di Thailand, terdapat sekitar 1,4 juta pekerja migran perempuan dari negara tetangga seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja. Mereka bekerja di berbagai sektor seperti pekerjaan domestik, pertanian, konstruksi, hingga pengolahan hasil laut. Namun sayangnya, pekerjaan mereka masih dipandang sebagai pekerjaan tidak terampil, yang membuat mereka sulit mengakses pelatihan atau perlindungan kerja yang lebih baik.
Menurut Koreeyor, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan migran adalah kurangnya kepekaan gender dalam sistem hukum, terutama di pengadilan tenaga kerja. Misalnya, tidak ada ketentuan yang menjamin keterwakilan jender dalam proses mediasi maupun persidangan. Hal ini dapat membuat perempuan migran merasa tidak nyaman, terintimidasi, dan enggan menyuarakan keluhannya.
Di sisi hukum pidana, Thailand memang memiliki polisi perempuan untuk menangani kasus kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga. Namun jumlah mereka masih sangat terbatas, terutama dalam menangani kasus perdagangan orang yang korbannya mayoritas adalah perempuan.
Koreeyor juga menyoroti pentingnya pelatihan pra-keberangkatan (pre-departure training) bagi para calon pekerja migran. Saat ini, pelatihan yang diberikan seringkali dilakukan dengan cepat, menggunakan video satu arah, tanpa ada komunikasi dua arah yang memungkinkan peserta benar-benar memahami hak dan kewajiban mereka.
Kualitas pelatihan ini sangat penting agar pekerja migran—khususnya perempuan—mengetahui hak-haknya, memahami mekanisme pengaduan, dan menyadari bentuk-bentuk kekerasan seperti pelecehan seksual.
Meskipun Thailand memiliki undang-undang yang melarang diskriminasi gender dan memberikan cuti melahirkan, masih banyak celah dalam perlindungan hak perempuan pekerja migran. Saat ini, cuti melahirkan hanya dibayar selama 45 dari 90 hari, dan belum ada insentif kebijakan untuk mendukung perempuan yang ingin punya anak—padahal Thailand sedang menghadapi krisis populasi akibat penuaan.
Lebih jauh lagi, kesadaran tentang pentingnya consent atau persetujuan dalam relasi seksual masih minim, baik di kalangan masyarakat umum maupun dalam sistem hukum. Koreeyor menekankan bahwa perempuan perlu dididik tentang hak-hak mereka, termasuk memahami arti dan pentingnya persetujuan secara sadar.
Koreeyor menyampaikan bahwa salah satu cara untuk memberdayakan pekerja migran perempuan adalah melalui asosiasi informal, di mana mereka dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, dan belajar tentang hak-hak hukum mereka. Walaupun undang-undang Thailand belum mengizinkan pekerja migran membentuk serikat, mereka tetap bisa membentuk asosiasi untuk saling mendukung.
Ruanita Indonesia meyakini bahwa perjuangan ini bukan hanya soal pekerja migran semata, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang adil dan inklusif. Perlindungan terhadap pekerja migran perempuan adalah investasi bagi masa depan bersama.
Dalam memperingati Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia, mari kita semua—baik individu, komunitas, hingga pembuat kebijakan—turut ambil bagian dalam memperjuangkan hak dan martabat para pekerja migran, khususnya perempuan. Perubahan bisa dimulai dari memahami, menghormati, dan menyuarakan hak-hak mereka.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi, dapat disimak di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.
Halo Sahabat Ruanita, aku senang sekali bisa berbagi pengalaman dan kisahku lewat program cerita sahabat, apalagi yang kurasakan adalah sakit autoimun yang tidak mudah dipahami oleh orang awam. Perkenalkan aku, Zee atau biasa dipanggil Azizah, ibu seorang putri yang kini menetap di Austria lebih dari 10 tahun. Aku senang sekali melakukan aktivitas bertualang seperti hiking dan kegiatan outdoor lainnya. Namun, suatu ketika aku mengalami sakit yang tidak pasti dan hampir membuat duniaku runtuh seketika.
Awalnya, aku hanya merasa sakit seperti influenza. Gejalanya ringan, tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Namun, semakin lama, kondisiku semakin memburuk. Dokter pun tidak bisa langsung memberikan diagnosa pasti. Beberapa dugaan muncul: Morbus Bechet atau Granulomatosis dengan Poliangiitis (GPA). Kedua penyakit ini termasuk dalam kategori autoimun, dan lebih spesifik lagi, Bechet masuk dalam kategori autoinflammatory disease yang memengaruhi pembuluh darah atau disebut Blutgefäßerkrankung dalam bahasa Jerman.
Gejalaku semakin kompleks: pembuluh darah di paru-paru pecah, kaki mulai lumpuh, dan rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mengalami serangkaian pemeriksaan dan diagnosa yang terus berubah-ubah. Mulai dari dugaan lupus hingga berbagai penyakit autoimun lainnya, semuanya diperiksa dan hasilnya selalu negatif.
Pada Desember 2023, aku mulai sering sakit-sakitan. Awalnya terasa seperti flu biasa tanpa demam, hanya badan yang ngilu dan sinusitis yang tak kunjung sembuh. Namun, pada Maret, gejalanya semakin aneh. Muncul luka di mulut seperti sariawan yang tak kunjung hilang, kaki tiba-tiba lebam tanpa sebab, dan luka yang terus muncul di berbagai bagian tubuh.
Aku bahkan mengalami luka di area genital yang pada awalnya kupikir hanya iritasi biasa. Rasa sakitnya semakin parah hingga aku harus memberanikan diri melihat kondisiku dengan kaca. Ternyata, luka-luka itu sudah sangat besar.
Aku dan suami akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis ginekologi. Dokter langsung membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku sempat dicek untuk kemungkinan terkena penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Aku sempat merasa takut dan khawatir akan stigma sosial jika hasilnya positif. Namun, semua hasil tes menunjukkan negatif. Tak ada jawaban pasti mengenai penyakitku.
Kondisiku semakin memburuk. Pada April 2024, aku tiba-tiba bangun tidur dan tidak bisa bergerak. Badanku terasa nyeri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku semakin sering keluar masuk rumah sakit, menjalani serangkaian tes dan operasi kecil hingga lima kali dalam waktu sebelas bulan. Aku pun dirawat untuk pemeriksaan organ secara menyeluruh: dari paru-paru, otak, hingga bagian tubuh lainnya. Para dokter kebingungan dan sering kali hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aku sempat merasa sangat putus asa. Bahkan, dalam satu titik, aku berpikir bahwa lebih baik jika aku terkena kanker saja. Setidaknya, dengan kanker, ada diagnosa yang jelas dan pengobatan yang terarah. Namun, aku harus terus menjalani ketidakpastian ini.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, pada akhir Juni, dokter mulai mencurigai bahwa aku mengidap Morbus Bechet. Aku pun mulai mendapatkan pengobatan. Sayangnya, obat yang diberikan sangat keras hingga sistem pencernaanku kolaps, dan aku kembali harus dirawat di rumah sakit.
Di tengah semua ini, aku merasakan dampak besar pada keluargaku. Suamiku harus berhenti bekerja selama beberapa bulan untuk merawatku. Anak kami yang masih berusia dua tahun pun lebih banyak diasuh oleh neneknya karena aku hampir tidak bisa bergerak. Aku merasa begitu bersalah dan terpuruk karena tidak bisa menjalankan peranku sebagai ibu.
Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Perjalanan ini masih panjang, tetapi aku terus berjuang untuk mendapatkan jawaban dan harapan akan kesembuhan.
Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Dengan dorongan suami, aku mencoba berpikir lebih positif dan menerapkan afirmasi dalam keseharianku. Aku belajar bahwa menerima kenyataan adalah langkah pertama dalam menghadapi penyakit ini.
Berbulan-bulan aku hanya bisa berbaring, bahkan menggunakan alat bantu untuk berjalan (Krücken dalam Bahasa Jerman) pun tidak membantu. Suami selalu membawaku langsung ke pintu rumah sakit. Pada satu titik, aku merasa kehilangan kendali atas hidupku sendiri. Namun, suamiku terus mengingatkan bahwa ini bukan salahku. Aku berusaha mencari cara untuk mengalihkan pikiranku dari sakit yang terus menghantui, akhirnya aku menemukan distraksi dalam permainan video. Selama berbulan-bulan, game menjadi pelarian dari rasa sakit yang tak berkesudahan.
Aku juga sempat mengalami pertarungan batin yang berat. Dalam budaya Indonesia, sakit sering kali dikaitkan dengan karma atau azab. Bahkan ada yang menyarankan agar aku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, komentar seperti itu justru membuatku semakin terpuruk. Aku menyadari bahwa aku harus menemukan kekuatan dari dalam diriku sendiri.
Seiring waktu, kondisi fisikku mulai membaik. Meski masih ada tantangan, aku mulai bisa melakukan hal-hal kecil seperti duduk bersama anakku, menonton TV bersamanya, dan merasakan kehangatan keluargaku. Motivasi terbesarku adalah anakku. Aku ingin bisa berjalan lagi, bermain dengannya, dan kembali menjalani kehidupan normal.
Kini, setelah perjalanan panjang, aku telah belajar banyak tentang kesabaran, penerimaan, dan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Aku masih dalam proses pemulihan, tetapi aku lebih siap menghadapi masa depan dengan semangat baru.
Satu hal yang aku pelajari, ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membawa kekecewaan. Aku mencoba untuk tidak menetapkan tenggat waktu bagi kesembuhanku. Aku fokus untuk menikmati setiap perkembangan kecil dan menghargai kehidupan yang masih kumiliki. Aku juga memahami bahwa tidak semua orang akan mengerti perjuanganku, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, aku sendiri tahu apa yang harus kulakukan untuk bertahan.
Aku berharap kisahku bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mengalami hal serupa. Aku senang sekarang aku mulai sedikit percaya diri dan berkontak dengan banyak orang. Aku tetap aktif menjadi co-founder Klub Membaca untuk anak-anak di Indonesia dan aku juga menjadi ketua departemen sosial di organisasi Perinma. Aku bahkan senang secara sukarela membantu di program Ruanita, seperti berbagi kisahku ini. Tidak mudah hidup dengan kondisi autoimun, tetapi dengan menerima keadaan dan tetap mencari kebahagiaan dalam hal-hal kecil, kita bisa terus melangkah ke depan.
Penulis: Azizah Seiger, tinggal di Austria dan dapat dikontak via akun instagram: wondering.zee.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Risti, yang menetap di Belanda karena saya menikah dengan suami, yang berkewarganegaraan Belanda. Masa-masa awal saya tinggal di Belanda, saya sempat mengalami gegar budaya, mulai dari faktor cuaca, makanan, bahasa, gaya hidup sekaligus interaksi sosial dengan berbagai kalangan.
Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi dan filterisasi aspek sosial budaya tersebut, perlahan saya bisa melewati dengan beragam tahapan usaha. Mengapa saya bisa melaluinya dengan baik? karena saya berpikiran positif dalam menyikapi berbagai tantangan yang dihadapi di negeri rantau. Berkaca dari pengalaman pribadi itu saya termotivasi untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan, dengan tema berpikir positif.
Masa-masa Adaptasi
Ada beberapa kebiasaan orang Belanda yang bagi saya cukup menarik dan sedikit berbeda dengan kebiasaan kita di Indonesia, seperti kebiasaan untuk membuat janji terlebih dahulu untuk segala urusan. Meskipun itu sekedar janji untuk minum teh atau kopi, kita harus memperhatikan waktu kita berkunjung atau janji temu. Bila kita sepakat siang hari berkunjung ke rumah salah satu kenalan atau kerabat, maka biasanya batas waktu tak tertulis untuk bertamu menjelang waktu makan malam sekitar jam 6 sore.
Menariknya, bila tuan rumah sudah mengatakan “nou we gaan zo eten”, atau diterjemahkan “Sekarang kami akan makan malam!”, itu berarti kita harus segera pergi! Namun, bila kita diundang untuk makan siang sekaligus makan malam, maka sebelumnya tuan rumah akan menanyakan makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh tamu, supaya mereka tidak menyajikannya.
Salah satu keunikan lainnya di Belanda adalah menjadikan sepeda sebagai salah satu sarana transportasi utama warga di sini. Jangan heran bila jumlah sepeda melebihi populasi jumlah penduduk. Kebiasaan lainnya adalah pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan dan mengucap salam dengan orang yang berpapasan, meski kita tidak mengenalnya. Ketika saya dan suami melakukannya di Indonesia, orang-orang melihat kami seperti orang yang aneh.
Satu lagi yang cukup berbeda dengan budaya di Indonesia, laki-laki di Belanda juga terbiasa turun ke dapur memasak dan urusan rumah tangga lainnya. Ada juga yang punya anak untuk menjaga dan mengasuh anak-anak mereka. Jadi jangan heran, bila seorang bayi lahir maka ada cuti khusus untuk sang ibu dan untuk sang ayah.
Sejak saya tinggal di Belanda, saya bersyukur dapat menyelaraskan ritme kehidupan dan rutinitas dengan berbagai kegiatan yang menunjang proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Tahun pertama sampai tahun kedua, saya disibukkan dengan segala formalitas untuk menjadi penduduk Belanda, mulai dari belajar Bahasa Belanda dan beragam ujian yang menyertainya, termasuk berbagai tes kesehatan yang wajib dan sukarela dan urusan-urusan lainnya.
Menginjak tahun ketiga, saya baru memberanikan diri memasuki dunia kerja. Saya bersyukur sampai saat ini, saya masih dimampukan untuk berkiprah di dunia kerja. Saya menjadikan rutinitas harian sebagai aktivitas yang menyenangkan. Saya senantiasa menekankan prinsip: jalani segala proses hidup dengan rasa syukur dan penuh rasa bahagia.
Berlanjut ke masa awal memasuki dunia kerja, saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami gegar budaya dengan sistem dan etos kerja di sini, selama kita menjalaninya sesuai dengan pedoman kerja yang ditetapkan perusahaan untuk semua karyawan. Kerja di sini harus tepat waktu, semua kinerja kita terpantau dan terukur. Supervisor juga tidak akan segan memberikan pujian atau kritik kepada kita.
Selain itu, setiap 3 atau 6 bulan sekali kinerja kita dievaluasi, sistem upah sangat jelas dan transparan. Sebagai pekerja, tidak ada alasan mendadak bahwa kita tidak datang kerja karena hujan misalnya. Umumnya, karyawan yang tiga kali tidak datang dengan alasan yang tidak jelas, maka diberi peringatan keras. Jika pekerja masih juga melakukan pelanggaran kerja, maka otomatis hubungan kerja berakhir dan perusahaan tidak akan memberikan surat referensi kerja.
Saya bersyukur sampai saat ini saya dimampukan untuk mengemban tanggung jawab kerja sesuai harapan perusahaan, pemberi kerja. Satu lagi yang membuat saya menjalani pekerjaan dengan rasa bahagia, karena saya mendapati tidak ada halangan untuk kami – kaum muslim – dalam menjalankan shalat di tempat kerja, bahkan perusahaan menyediakan ruangan khusus shalat.
Selain itu, saya juga menjalin hubungan yang baik dan hangat dengan sesama rekan kerja. Dari pengalaman saya, tekanan kerja seberat apapun, tentu terasa ringan dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama, dengan semangat gotong royong. Seperti pepatah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.
Mengelola rasa, jiwa, raga dan pikiran dalam menjalani hidup yang tentram
Seiring dengan era digital, menjalin hubungan kemasyarakatan memang telah mengalami pergeseran di hampir seluruh bagian bumi, termasuk di sini. Di Belanda, lazimnya pertemuan, baik yang bersifat formal maupun nonformal, diawali temu janji yang dibuat lewat media sosial, seperti: e-mail, whatsapp, facebook, instagram, dll. Bahkan, pertemuan dengan keluarga, sahabat atau bahkan tetangga tidak bisa serta merta langsung datang, kita harus membuat janji terlebih dahulu.
Saya dan suami berkala setiap dua minggu sekali untuk mengunjungi ibu di kota lain. Setidaknya, sekali dalam sebulan bertemu sahabat-sahabat orang Belanda, menjalin silaturahmi dengan komunitas orang Indonesia di sini dengan berbagai grup yang ada. Apalagi saat Ramadan, biasanya kami iftar dengan komunitas muslim Indonesia atau para mualaf di Belanda. Saat Idul Fitri, biasanya kami mengirim hantaran lebaran ke tetangga
tetangga di lingkungan rumah, yang kebetulan non muslim semua. Biasanya kami terlibat pembicaraan hangat dengan para tetangga. Satu yang menjadi catatan saya, bahwa relasi sosial yang kita bangun itu berpulang kembali kepada diri kita.
Bila kita menjalaninya penuh toleransi atas segala perbedaan, selalu berbaik sangka, serta saling menjaga dan menolong, maka hati dan jiwa kita pun bahagia dan tentram. Namun, bila relasi itu mulai toksik maka lebih baik kita menjaga jarak, karena hal itu berpengaruh negatif pada diri dan jiwa kita.
Ada banyak Perempuan yang menjadi inspirasi saya, setelah saya tinggal di sini. Dua di antaranya adalah politikus Khadidja Arib dan pelari Sifan Hassan. Mereka begitu menginspirasi saya. Kiprah mereka begitu luar biasa dalam pandangan saya dan sebagian warga Belanda. Mereka terlihat begitu energik dan senantiasa optimis melewati beragam fase dalam proses kehidupannya.
Begitupun saya terus belajar berproses untuk senantiasa optimis dan berpikir positif atas setiap fase kehidupan yang saya jalani di negeri kincir ini. Ketika saya melewati satu fase yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya tetap berbaik sangka dan berpikir positif, bahwa ada rencana lain dari Allah SWT yang lebih baik. Hal itu saya alami, ketika saya dan suami menjalani proses bayi tabung yang tidak berhasil. Saya dan suami pada akhirnya menerima takdir itu dan berbuat lebih banyak untuk mendukung anak-anak yang kurang beruntung dengan cara kami.
Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Salah satu hikmah bagi saya adalah tersedia cukup ruang dan waktu untuk menuangkan beragam peristiwa yang terjadi dalam bentuk tulisan, apalagi di saat suami pergi ke kantor dan saya sedang berlibur kerja. Saat seperti itu, pikiran saya mengembara dan berkreasi. Satu lagi bahwa bacaan pun mampu memengaruhi sikap positif kita.
Ketika saya mengalami situasi sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah berdo’a kepada Allah SWT. Setelah saya berpikir jernih, kemudian saya merenungkan apa yang terjadi, lalu berkata pada diri sendiri bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Pikiran positif itu sesungguhnya akan mempengaruhi perilaku kita sehari-hari. Begitupun sebaliknya. Berpikir positif itu memerlukan energi jiwa yang cukup melelahkan. Begitupun berpikir negatif. Jadi, kalau keduanya sama-sama melelahkan jiwa dan hati kita, maka akan lebih bijak, bila kita memilih untuk senantiasa berpikir positif.
Kebiasaan saya dan suami ngobrol tentang beragam tema juga membantu saya menjaga pola pikir yang positif akan situasi di sekitar kita. Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di sini, rasanya saya sudah dapat mengatasi perasaan homesick. Kalaupun perasaan itu hadir, maka saya segera menelepon keluarga di Indonesia.
Zaman ini begitu banyak perubahan, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi. Mari manfaatkan kondisi dan situasi yang ada, dengan sebaik-baiknya. Prinsipnya, apapun yang dihadapi kita terima, jalani, nikmati dan syukuri, sehingga kita terjauhkan dari rasa stres dan depresi.
Sebelum kita memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri, ada sebaiknya kita mempelajari dan memahami dulu adat istiadat, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan di negara yang akan kita datangi. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, agar kita dapat beradaptasi dengan baik. Kita perlu tetap manjaga jati diri dan karakter kita sebagai orang Indonesia.
Tentunya, kita sebaiknya berpikir positif dalam situasi dan keadaan apapun, serta di manapun tinggal. Ingat bahwa berpikir positif tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi diperlukan sebuah keterampilan yang harus dipelajari. Berpikir positif akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih bersemangat dan optimis untuk menjalani hidup.
Semoga tulisan ringan dan sederhana saya mampu memberikan sedikit pencerahan untuk selalu memotivasi diri kita dalam mengedepankan pola pikir yang positif.
Penulis: Risti Handayani, kontributor Ruanita di Belanda, perantau di negeri Kincir Belanda, dan dapat dihubungi lewat akun facebook: Ristiyanti Handayani.
Bulan Juli 2025, Ruanita Indonesia menghadirkan kisah inspiratif dalam seri Cerita Sahabat Spesial dari salah satu sudut dunia yang penuh tantangan: industri energi Qatar.
Kali ini, kita diajak mengenal lebih dekat sosok Nurlany Yassin, atau yang akrab disapa Lany, seorang perempuan Indonesia yang telah lebih dari 13 tahun menetap dan berkarier di Doha sebagai analis komersial di Qatar Energy, perusahaan energi nasional yang berada di jantung industri gas alam cair dunia.
Dalam kesehariannya, Lani bukan hanya berperan sebagai pekerja profesional, tapi juga sebagai seorang ibu dari putri berusia 8 tahun.
Ia menjelajahi peran ganda ini di tengah budaya kerja yang sangat patriarkal, seraya membuktikan bahwa perempuan bisa bertahan, tumbuh, bahkan unggul di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.
Qatar dikenal sebagai salah satu negara dengan struktur budaya yang konservatif. Hal ini sangat memengaruhi pola kebijakan di lingkungan kerja, termasuk dalam industri besar seperti minyak dan gas.
Menurut Lany, masih banyak kebijakan kepegawaian dan administratif yang dibuat tanpa mempertimbangkan perspektif perempuan.
“Banyak kebijakan yang seolah hanya dibuat untuk laki-laki,” ujarnya. Misalnya, dalam dokumen kebijakan perusahaan, istilah yang sering muncul adalah “istri dan anak-anak” tanpa mempertimbangkan skenario jika pekerja utamanya adalah seorang perempuan.
Akibatnya, pegawai perempuan seperti Lany harus melakukan klarifikasi ekstra untuk memastikan apakah hak-hak mereka juga dijamin.
Dalam banyak kasus, kebutuhan perempuan sebagai pekerja, ibu, dan individu sering kali tidak terpikirkan dalam penyusunan awal kebijakan.
“Kadang bukan karena sengaja mengabaikan, tapi karena budaya patriarki itu sangat melekat,” ungkapnya.
Minoritas tapi Punya Nilai Lebih
Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang sebagian besar didominasi laki-laki, Lany mengakui bahwa ia berada dalam posisi minoritas.
Namun, ia melihat sisi positif dari kondisi ini. Kadang justru karena menjadi minoritas, ia mendapatkan perlakuan khusus yang menguntungkan.
“Saat saya melakukan kunjungan ke offshore, saya mendapatkan kamar sendiri, sementara rekan-rekan laki-laki tidur di ruang bersama,” ceritanya.
Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa meskipun dominasi laki-laki terasa kuat, keberadaan perempuan bisa membawa perubahan positif dalam dinamika kerja, termasuk dalam fasilitas dan ruang aman.
Namun demikian, Lany tetap menekankan bahwa menjadi minoritas juga berarti harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri.
Perempuan harus menunjukkan tidak hanya keahlian teknis dan keilmuan, tetapi juga komitmen dan konsistensi dalam bekerja.
Ia berharap lebih banyak perempuan Indonesia tidak takut untuk terjun ke bidang-bidang yang selama ini dianggap “maskulin” seperti teknik, fisika, atau geosains.
Komunikasi dan Manajemen Waktu sebagai Kunci
Menjalani peran sebagai profesional dan ibu bukanlah hal mudah, terutama di lingkungan dengan ekspektasi tinggi.
Lany menekankan pentingnya manajemen waktu dan komunikasi yang baik, baik dengan keluarga maupun dengan kantor.
“Selama kita bisa mengatur waktu dengan baik dan terbuka dalam komunikasi, semuanya bisa dijalankan,” katanya.
Kemampuan ini sangat penting, terutama ketika seseorang harus bekerja di luar negeri tanpa sistem dukungan keluarga besar.
Hal ini juga berkaitan erat dengan kemandirian perempuan dalam menentukan jalan hidup dan kariernya.
Tantangan Sistemik dan Ketidaksetaraan yang Tersirat
Dalam wawancara ini, Lany juga mengungkap bagaimana sistem ketenagakerjaan di Qatar, meskipun menawarkan peluang profesional masih menyimpan banyak tantangan dari sisi perlindungan sosial.
Misalnya, tidak adanya skema pensiun yang layak bagi pekerja asing. “Kami harus pintar-pintar menabung sendiri, karena tidak ada uang pensiun. Hanya pesangon,” ungkapnya.
Hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang menawarkan skema jaminan hari tua atau pensiun yang lebih jelas.
Demikian pula dengan akses terhadap kesejahteraan kesehatan, yang meskipun tersedia di Timur Tengah, tetap sangat bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan.
Dalam konteks ini, penting bagi perempuan untuk tidak sekadar fokus pada gaji atau jabatan, tetapi juga memahami dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai pekerja lintas negara.
Harapan untuk Generasi Perempuan Masa Kini
Menutup ceritanya, Lany memberikan pesan kuat kepada para perempuan Indonesia di mana pun mereka berada.
Ia mengajak semua perempuan untuk tidak membatasi diri hanya karena stigma atau konstruksi sosial yang melekat.
“Yang paling penting adalah apa yang kita inginkan untuk hidup kita. Apa yang membuat kita tertarik dan semangat. Jangan pernah patah semangat, terus kejar cita-cita,” katanya penuh keyakinan.
Lany membuktikan bahwa menjadi perempuan di sektor industri padat laki-laki bukanlah halangan.
Justru, dengan keuletan, keberanian, dan kesadaran atas potensi diri, perempuan bisa hadir sebagai agen perubahan dalam struktur kerja yang selama ini bias gender.
Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkap di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi
Ruang virtual Instagram Ruanita kembali menjadi tempat hangat berbagi cerita dan inspirasi. Diskusi IG LIVE interaktif bertema “The Joy of Less: Hidup Minimalis dalam Mode dan Fesyen” menghadirkan dua sahabat Ruanita yang tinggal di dua benua berbeda: yakni Rieska Wulandari di Milan, Italia dan Dewi Maya di South Carolina, Amerika Serikat.
Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menelusuri makna hidup minimalis dari sudut pandang keseharian hingga industri kreatif seperti fesyen.
Sebagai jurnalis lepas dan kontributor media, Rizka yang tinggal di kota Rimini, Italia, mengawali dengan menggambarkan bahwa hidup minimalis baginya berarti hidup secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
“Buat saya, minimalisme bukan sekadar gaya hidup lucu-lucu. Tapi trik untuk menghadapi tantangan hidup,” ujarnya.
Rizka menekankan bahwa hidup di kota di Italia dengan ruang yang terbatas menuntut masyarakat untuk berbagi ruang dan fasilitas.
Dari apartemen kecil hingga taman umum, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya bersama—konsep minimalis yang kolektif, bukan individual.
Uniknya, meski Italia dikenal sebagai pusat mode dunia, Rizka mengungkapkan bahwa masyarakatnya justru sangat sadar akan esensi dan kualitas.
Gaya hidup old money atau professional style menjadi bentuk minimalisme tersendiri: membeli barang berkualitas tinggi sebagai investasi jangka panjang, bukan demi tren sesaat.
Sementara itu, Dewi, seorang desainer yang berbasis di South Carolina, AS, berbagi refleksinya setelah bertahun-tahun terjun di industri fashion. Ia mengaku bahwa kesadaran minimalis datang seiring pengalaman dan kedewasaan.
“Dulu, aku ikut tren terus. Tapi makin ke sini, aku sadar: fungsi lebih penting dari estetika sesaat,” katanya.
Dewi kini fokus mengembangkan karya berbasis slow fashion dan upcycled materials. Ia pernah membuat fashion show yang menggunakan tas-tas daur ulang dari plastik dan aktif bekerja sama dengan UKM Indonesia untuk memproduksi barang handmade dari jarak jauh.
Menurutnya, masyarakat Amerika cukup menghargai produk yang etis dan tahan lama. Kesadaran lingkungan dan preferensi terhadap kualitas menjadi alasan kuat mengapa minimalisme dalam fashion menjadi semakin relevan.
Baik Rizka maupun Dewi sepakat bahwa minimalisme tidak harus berarti “pelit” atau kekurangan. Justru, ini soal menyadari kebutuhan dan memprioritaskan fungsi, nilai, dan keberlanjutan. Beberapa tips yang mereka bagikan:
Gunakan kembali dan berbagi: dari baju bayi hingga buku, banyak bazar dan platform second-hand di Eropa.
Pilih bahan berkualitas: barang yang tahan lama bisa menjadi investasi, bahkan bisa diwariskan atau dijual kembali.
Kurasi lemari baju: lebih baik punya sedikit baju yang cocok dan fungsional daripada lemari penuh tren yang cepat usang.
Belanja dengan kesadaran: apakah barang ini akan berguna lama? Siapa yang membuatnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?
Diskusi IG LIVE ini bukan sekadar tentang gaya atau tren, tapi soal cara memaknai hidup dengan lebih sederhana dan sadar.
“Di Italia, ada musim untuk bekerja keras, dan ada musim untuk istirahat dan menikmati hidup. Itu yang membuat hidup terasa seimbang,” ungkap Rizka sambil tersenyum di sela liburannya di pantai.
Akhir sesi terasa seperti pelukan hangat—dua perempuan Indonesia dari dua benua membuktikan bahwa hidup lebih sedikit bukan berarti kehilangan, tapi justru menemukan kembali makna, kesadaran, dan ruang untuk bernapas.
Simak selengkapnya Diskusi IG LIVE Episode Juli 2025 di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami
Jakarta, 3 Juli 2025 — Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) pada Kamis, 3 Juli 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama strategis dalam upaya perlindungan dan pemberdayaan perempuan, khususnya dalam konteks transnasional.
Audiensi tersebut dihadiri oleh dua perwakilan relawan Ruanita, yakni Asti Tyas Nurhidayati yang hadir langsung di Jakarta dan Natasha Hartanto yang turut serta dalam diskusi. Tim Ruanita disambut oleh Ibu Irjen Pol (Purn.) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA.
Dalam pertemuan tersebut, tim Ruanita memaparkan visi dan misi organisasi sebagai ruang aman dan kolektif bagi perempuan Indonesia di mancanegara. Ruanita berbagi pengalaman lapangan mengenai isu-isu yang dihadapi perempuan Indonesia dalam situasi transnasional, termasuk pentingnya dukungan kesehatan mental, akses konseling berbasis bahasa ibu, serta manajemen berbasis nilai.
“Kami percaya bahwa perlindungan perempuan tidak mengenal batas negara. Ruanita hadir untuk menjembatani kebutuhan perempuan Indonesia di luar negeri dengan pendekatan berbasis komunitas, intervensi psikososial, dan nilai kemanusiaan,” ujar Asti Tyas Nurhidayati dalam sesi diskusi.
KemenPPPA menyambut baik inisiatif Ruanita dan menyatakan terbuka untuk menjalin komunikasi lanjutan serta kerja sama strategis, khususnya dalam menyentuh komunitas WNI perempuan yang berada di luar negeri namun tetap menjadi bagian penting dari bangsa Indonesia.
Pertemuan ini menjadi langkah awal yang signifikan bagi Ruanita dalam memperkuat jejaring kelembagaan dan membuka ruang kolaborasi konkret bersama KemenPPPA di masa depan. Diharapkan, kolaborasi ini dapat memperluas jangkauan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia lintas batas negara.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Mariko Angeli yang tinggal di Spanyol. Saya adalah digital content creator yang senang membagikan kehidupan tinggal di Spanyol lewat laman media sosial ini. Berbicara mengenai budaya Spanyol, perbedaan yang mendasar yang dialami dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan, waktu makan, dan kebiasaan makan yang agak berbeda dari Indonesia.
Jenis dan menu makanan pun berbeda. Mereka di Spanyol sering mengkonsumsi banyak roti, sebagai makanan, dan anggur, sebagai minuman, dalam keseharian mereka. Menariknya, waktu makan siang di Spanyol itu pukul 14.00, sedangkan di Indonesia saya terbiasa makan siang pada pukul 12.00.
Di sekolah atau di tempat kerja kita memanggil atasan atau guru kita hanya dengan nama mereka saja. Itu yang menurut saya, salah satu norma sosial yang berbeda dengan di Indonesia. Meski hidup sudah terbilang modern di Eropa, tetapi saya masih menyaksikan bagaimana fenomenabudaya masih ada di Spanyol.
Saya menemukannya saat acara perkabungan. Saya melihat salah satu keluarga dari teman saya, yang merupakan orang lokal Spanyol, ikut serta di situ. Mereka masih menerapkan tradisi yang bernama Luto/Duelo Prolongado. Ini merupakan tradisi berkabung yang sangat lama bisa setahun atau lebih.
Dalam tradisi ini, keluarga atau orang-orang terdekat dari almarhum memperpanjang periode berkabung sebagai bentuk penghormatan, cinta, dan kesedihan mendalam. Perempuan yang berkabung biasanya mengenakan pakaian hitam penuh, termasuk gaun panjang, selama periode berkabung.
Terkadang mereka juga mengenakan kerudung hitam, dikenal sebagai mantilla. Laki-laki umumnya mengenakan setelan hitam atau pakaian dengan warna gelap. Warna hitam ini melambangkan duka dan kesedihan. Pakaian hitam ini bisa dikenakan selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada seberapa dekat hubungan dengan almarhum.
Di komunitas kecil atau desa, tradisi Luto Prolongado biasanya lebih ketat karena semua orang mengenal satu sama lain, dan tekanan sosial untuk mematuhi aturan berkabung lebih kuat.
Pada beberapa kasus, jika ada keluarga dalam masa berkabung, seluruh komunitas mungkin menyesuaikan gaya hidup mereka, seperti menghentikan acara-acara meriah untuk menghormati yang meninggal.
Disebut Duelo Prolongado, secara harfiah itu berarti duka cita atau kesedihan. Lebih lanjut, ini menjadi proses emosional atau psikologis yang mendalam dan dialami seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai.
Mereka berfokus pada perasaan internal dan proses duka yang berlarut-larut. Perasaan duka yang tidak cepat mereda, di mana seseorang mungkin tetap merasa sangat terpukul atau sedih dalam waktu yang lama.
Di jaman modern, tradisi ini sudah tidak begitu umum, apalagi di kota-kota besar termasuk di Barcelona, yang menjadi tempat saya tinggal. Saya hanya sekali itu melihat sendiri.
Mungkin, kita masih bisa menemukan lebih banyak lagi di daerah-daerah konservatif atau religius, seperti di daerah pedesaan di Andalucia, Galicia, atau Castile.
Di Spanyol, ada juga fenomena budaya lainnya yang disebut “ataques de nervios”. Dari literatur yang ditemukan, “Ataques de Nervious” merujuk pada suatu kondisi emosional atau serangan yang intens, seringkali disertai dengan gejala fisik dan emosional yang kuat seperti menangis, berteriak, tremor, dan perasaan kehilangan kontrol.
Kondisi ini sering dianggap sebagai respons terhadap situasi stres atau krisis emosional yang berat, dan biasanya terjadi dalam konteks sosial atau keluarga.
Menurut pandangan pribadi saya dan sekilas yang saya ketahui, stigma terhadap gangguan kesehatan mental masih ada di Spanyol, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.
Namun, pandangan ini perlahan berubah, terutama di kalangan anak muda. Peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental, didukung oleh kampanye sosial dan liputan media, telah membantu mengurangi stigma seputar terapi psikologis dan gangguan mental.
Kesadaran akan kesehatan mental di sini juga begitu gencar digalakkan. Saya pernah melihat ada iklan pemerintah di televisi, jika anak kita menjadi korban bullying, kita dapat mengontak nomor telepon bantuan yang disediakan.
Spanyol sepertinya masih memiliki budaya yang sangat erat dengan nilai-nilai keluarga dan komunitas. Dalam konteks ini, keluarga seringkali berperan sebagai sistem dukungan pertama bagi seseorang yang mengalami gangguan mental. Peran keluarga sangat penting.
Yang saya ketahui orang Spanyol dikenal memiliki kehidupan sosial yang kuat dan komunitas yang erat. Mereka sering terlibat dalam aktivitas sosial dengan keluarga besar, teman-teman, atau tetangga.
Dukungan sosial yang kuat ini sering menjadi sumber kenyamanan dan dukungan emosional. Ketika menghadapi stres atau masalah, mereka cenderung berbagi dengan orang terdekat, yang dapat membantu mengurangi beban emosional.
Selain fenomena budaya yang dijelaskan di atas, dalam konteks sosial budaya, saya perhatikan mereka memiliki tradisi yang unik lainnya. Saya sendiri belum pernah melihat atau mengenalnya di Indonesia.
Tradisi malam tahun baru di Spanyol, misalnya. Warga di sini memiliki kebiasaan memakan 12 buah anggur di 12 detik sebelum tahun yang baru. Menurut saya, ini adalah tradisi yang unik dan menarik dan berbeda dengan yang sering saya rayakan di Indonesia.
Jika sahabat Ruanita datang ke Spanyol, mungkin juga ada kesempatan untuk menyaksikan festival yang bernama El Colacho atau festival lompat bayi. Festival ini diadakan di kota Castrillo de Murcia di Spanyol utara.
Festival ini melibatkan seorang pria yang berpakaian sebagai “setan” (Colacho) yang melompati bayi-bayi yang diletakkan di atas kasur di jalan. Ritual ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan bayi dari dosa asli dan membawa mereka keberuntungan serta perlindungan. Meski tidak ada bayi yang dilaporkan terluka, buat saya tradisi ini agak aneh dan berbahaya.
Sebagai orang Indonesia di Spanyol, tak jarang mereka berpikir bahwa saya adalah seorang muslim. Warga lokal berasumsi bahwa semua orang Indonesia beragama Islam.
Ada juga yang tidak mengenal Indonesia, hingga saya menyebutkan pulau Bali, yang lebih banyak dikenal. Indonesia bukanlah negara yang sangat dikenal dari Asia Tenggara seperti Filipina, yang memiliki sejarah dan hubungan panjang dengan Spanyol.
Untuk beradaptasi di Spanyol, saya tidak memiliki masalah tetapi saya masih harus belajar dalam berkomunikasi. Di Barcelona, kita menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Catalan dan Bahasa Spanyol (Castellano), sehingga saya harus belajar dua bahasa tersebut untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik.
Tentu saja, kita terus belajar bahasa Spanyol karena dengan komunikasi yang baik kita bisa mengerti dan bisa cepat beradaptasi, termasuk juga dalam lingkungan kerja.
Secara pribadi, saya tidak memiliki tantangan yang signifikan. Malah saya merasa sistem kesehatan di Spanyol, seperti jaminan kesehatan dari pemerintah dan asuransi pribadi yang dipakai di sini sangat baik.
Begitu pula dengan sistem pendidikannya yang sangat baik, kita bisa mengaksesnya, mulai dari yang berbayar hingga gratis dari pemerintah. Tersedia juga banyak bantuan-bantuan pendidikan dari pemerintah dan swasta untuk siapa saja (lokal, imigran), yang menurut saya mungkin belum ada di Indonesia.
Menurut pengamatan saya tentang perkembangan gender di Indonesia dan di Spanyol yang tidak sepenuhnya, dalam beberapa dekade terakhir, Spanyol telah mengalami perubahan signifikan dalam hal kesetaraan gender.
Undang-undang yang mendukung kesetaraan gender, hak perempuan, serta kebebasan seksual sudah lebih diperhatikan. Representasi perempuan di politik juga cukup tinggi.
Di Spanyol, peran pria juga mengalami perubahan. Di masa lalu, pria dianggap sebagai pencari nafkah utama, tetapi kini ada ekspektasi bahwa pria turut berperan aktif dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Cuti ayah menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap tanggung jawab pria dalam mengasuh anak.
Kekerasan berbasis gender menjadi masalah serius di Spanyol, namun pemerintahnya telah berkomitmen kuat untuk memerangi hal ini. Ada undang-undang khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan kesadaran masyarakat terhadap isu ini semakin tinggi.
Nah, bagi sahabat Ruanita yang berencana pindah ke Spanyol untuk memahami dan mengatasi perbedaan budaya, adalah pelajari, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Spanyol, budaya, tradisi dan sebagainya, agar kita paham, apakah kita sanggup dengan segala perbedaannya.
Hal ini penting sebagai pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk pindah ke Spanyol. Selain itu, belajar Bahasa Spanyol Basic itu penting sekali, sebelum pindah ke Spanyol sehingga membantu dan meringankan kita dalam berkomunikasi dan tinggal di Spanyol.
Penulis: Mariko Angeli, Digital Content Creator, tinggal di Spanyol, dapat dikontak akun IG marikoangeli_
JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daringwww.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.
Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.
Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.
Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.
Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.
Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.
Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.
Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.
Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.
Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:
Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.
Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.
Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.
Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.
Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.
“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.
Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.
Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.
Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.
Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.
Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com)
Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:
Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.
Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha
Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.
Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.
Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.
Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.
Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.
Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.
Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.
Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.
Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.
Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.
Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.
Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri
Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.
Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.
Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.
Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.
Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya
Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.
Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.
Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.
Mengenal Sosok Bernadia
Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).
Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.
“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.
Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.
Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.
Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.
“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.
Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.
Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.
Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.
Empat Pilar Trauma-Informed Yoga
Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:
Mengalami Momen Saat Ini Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
Membuat Pilihan Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
Mengambil Aksi yang Efektif Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
Membangun Ritme dan Keterhubungan Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.
Praktik yang Lembut dan Aksesibel
Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.
Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.
Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.
Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.
Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.
Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.
Tidak Mengkualifikasi Pengalaman
Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.
Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.
“Pengalaman tiap orang berbeda.
Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.
Peran Fasilitator yang Empatik
Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.
Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.
Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan
Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.
Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.
Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.
Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.
“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.
Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap
Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.
Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.
Komitmen Ruanita Indonesia
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.
Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.
Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing.
Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.
Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?
Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.
Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.
Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.
Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.
Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.
Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.
Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.
Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.
Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, perempuan Indonesia kini tampil lebih berani melangkah ke ranah global. Podcast Jibber-Jabber edisi ketiga, hasil kolaborasi Ruanita Indonesia dan PPI Dunia, menghadirkan kisah inspiratif dari Widhi—seorang mahasiswi PhD di Bordeaux, Prancis—yang berbagi pengalaman hidup dan belajarnya di berbagai negara Eropa.
Studi di luar negeri kini bukan lagi sekadar mimpi, melainkan peluang nyata yang semakin terbuka bagi perempuan Indonesia. Widhi memulai kisahnya dengan menjelaskan bahwa fenomena ini sejalan dengan perubahan paradigma di masyarakat. “Sekarang bukan lagi bertanya ‘bisakah saya?’, tetapi ‘di mana saya bisa mulai?’,” ujarnya.
Menurutnya, perempuan Indonesia kini lebih sadar akan potensi mereka. Mereka tidak hanya mengejar pendidikan tinggi di luar negeri, tetapi juga terlibat aktif dalam penelitian, mendirikan startup, bahkan berperan di lembaga internasional. PPI Dunia, tempat Widhi berperan sebagai Kepala Divisi Teknologi dan Industri, menjadi salah satu platform penting dalam mendukung aspirasi perempuan Indonesia di luar negeri.
Meski penuh peluang, jalan untuk belajar di luar negeri tidak selalu mulus. Tantangan datang dalam berbagai bentuk: perbedaan budaya, kendala bahasa, hingga kerinduan pada keluarga. Widhi membagikan pengalamannya tinggal di berbagai negara—Polandia, Prancis, Belgia, hingga Inggris—yang masing-masing memiliki bahasa dan budaya berbeda.
Salah satu tantangan unik yang ia hadapi sebagai perempuan berhijab adalah bagaimana orang-orang asing menanyakan alasan ia mengenakan jilbab. “Itu jadi momen refleksi dan edukasi juga,” ungkapnya. Di sisi lain, tantangan bahasa menjadi masalah praktis sehari-hari. Widhi menekankan pentingnya mempelajari bahasa lokal agar bisa berintegrasi lebih baik dalam masyarakat dan dunia kerja.
“Jika ingin bekerja di negara Eropa, mengenal bahasanya adalah nilai tambah besar. Ini menunjukkan kita berusaha untuk menghargai dan menyatu dengan budaya mereka,” tambahnya.
Beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda juga bukan hal mudah. Widhi menyoroti bahwa sistem akademik di Eropa mendorong kemandirian dan partisipasi aktif dalam diskusi. “Kita didorong untuk mengajukan ide, mengkritisi teori, dan membela argumen kita—meski kita sendiri belum yakin sepenuhnya,” katanya sambil tersenyum.
Baginya, ini sangat berbeda dari sistem di Indonesia yang cenderung lebih terstruktur dan berorientasi pada instruksi. Namun, ia melihat ini sebagai bentuk pertumbuhan intelektual yang membentuk kemandirian dan ketangguhan.
Selain tantangan akademik, aspek personal juga menjadi ujian tersendiri. Hidup jauh dari keluarga, mengatur keuangan sendiri, serta menghadapi momen-momen penting seperti Idul Fitri tanpa keluarga adalah hal yang tidak mudah.
Namun Widhi menemukan cara untuk mengubah kerinduan menjadi kekuatan. Di hari raya, ia memasak rendang dan opor, lalu mengundang teman-teman dari berbagai negara untuk makan bersama. “Saya ingin menciptakan rasa rumah, meski jauh dari rumah. Ini juga jadi momen untuk memperkenalkan budaya kita ke dunia,” jelasnya.
Lebih dari sekadar berbagi makanan, momen seperti ini menjadi bukti bahwa ‘rumah’ tidak lagi sebatas tempat asal, tapi sesuatu yang bisa diciptakan, dibawa, dan dibagikan.
Di balik tantangan, banyak pula pengalaman yang memperkaya. Widhi mengaku salah satu momen paling membanggakan adalah saat ia melakukan riset di perusahaan global Umicore di Belgia. Di sana, ia terlibat langsung dalam pengembangan material baterai generasi terbaru. “Saya merasa semua teori yang saya pelajari akhirnya menjadi nyata dan berguna,” ujarnya.
Ia juga menjalani magang musim panas di Slovenia, yang membantunya menemukan passion-nya dalam bidang riset elektrolit untuk baterai. “Di sinilah saya benar-benar menemukan siapa saya dan apa yang ingin saya capai ke depan,” tambahnya.
Salah satu pesan penting dari Widhi dalam podcast ini adalah pentingnya memperluas lingkaran pertemanan lintas negara. “Banyak pelajar Indonesia yang hanya berteman dengan sesama orang Indonesia. Padahal pengalaman terbaik justru datang saat kita membuka diri untuk belajar dari budaya lain,” katanya.
Melalui interaksi dengan teman-teman dari India, Prancis, Jerman, dan negara lainnya, Widhi belajar memahami berbagai perspektif dan cara hidup. Ini, katanya, adalah pelajaran kehidupan yang tak ternilai dari studi di luar negeri.
Di akhir sesi, Widhi memberikan pesan penuh semangat: perempuan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di kancah global, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata. “Kita tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga untuk membawa perubahan, baik secara akademik maupun sosial.”
Podcast ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan pribadi, tapi juga seruan kolektif bahwa perempuan Indonesia mampu, layak, dan siap untuk berdiri di panggung dunia.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Simak diskusi seru berbahasa Inggris berikut ini yang dipandu oleh Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia:
Halo, sahabat Ruanita! Namaku Lina Herliana. Aku perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Finlandia dan sedang menjadi mahasiswi di tingkat akhir. Perjalananku ke sini bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang kualami—kegagalan, penolakan, kesepian, musim dingin yang tak mudah, dan juga berbagai tantangan yang muncul ketika aku berani mencoba lagi hingga di titik ini sekarang.
Kali ini ini, aku ingin bercerita pada sahabat Ruanita semua tentang bagaimana aku bisa menjadi peserta program Au Pair di usia 27 tahun, yang mana pada saat ini batas usia program Au Pair adalah 26 tahun, lalu akhirnya aku bisa berstatus sebagai mahasiswi di negeri yang jauh dari tanah air.
Semuanya bermula dari satu keinginan: aku ingin tinggal di Belanda. Alasan utamanya karena aku ingin bisa lebih sering bertemu nenekku yang tinggal di sana. Namun, waktu itu usiaku sudah 27 tahun, dan banyak program tinggal di luar negeri—termasuk program au pair—yang memiliki batasan usia maksimal 26 tahun. Aku sempat bingung, sehingga aku mulai mencari cara lain agar bisa tetap ke Eropa, terutama ke Belanda.
Dari hasil berselancar di Google dan nonton beberapa channel YouTube, aku mengenal program Au Pair. Aku mulai mencari tahu lebih dalam dan akhirnya mendaftar di situs aupairworld.com. Aku sempat beberapa kali wawancara dengan calon host family di Belanda, tapi sayangnya tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Belanda menggunakan visa schengen dan mendaftarkan diri sebagai relawan di organisasi migran dan multikultural di sana.
Aku sempat tinggal di Belanda selama lebih dari sebulan, menjadi volunteer, dan dari situ temanku menyarankan untuk mencoba lagi untuk mendaftar Au Pair. Aku kembali membuka akun lamaku di situs Au Pair, dan tanpa ekspektasi besar, aku mengubah lokasi ke Finlandia. “Siapa tahu beruntung,” pikirku waktu itu.
Ternyata benar. Dalam waktu 24 jam, aku langsung mendapat balasan dari salah satu keluarga di Finlandia. Kami berdiskusi dan dalam satu hari kami sudah sepakat. Bulan berikutnya, aku pun berangkat ke Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia menerapkan batas maksimal apply program Au Pair adalah 30 tahun. Beruntungnya, saat aku apply di Finlandia, usiaku masih belum sampai 30 tahun.
Awalnya aku masuk Finlandia masih dengan visa schengen dari Belanda. Baru kemudian aku mengajukan visa au pair dari Finlandia langsung. Prosesnya tidak mudah. Pengajuanku sempat ditolak oleh imigrasi Finlandia karena sertifikat bahasa yang aku lampirkan dianggap kurang resmi.
Untungnya, host family-ku sangat mendukung. Mereka sampai menyewa pengacara untuk mengajukan banding. Kami harus menunggu hampir dua tahun sampai visa itu akhirnya keluar. Aku mengajukan permohonan pada Maret 2019, dan baru mendapat visa pada Januari 2021. Proses panjang itu benar-benar menguji kesabaran, tapi aku bersyukur, host family-ku tetap percaya dan memperjuangkan aku.
Setelah beberapa waktu tinggal di kota Tampere, aku pindah ke Helsinki. Di sana aku bekerja penuh waktu di sebuah restoran cepat saji. Restoran itu juga yang membantu proses perpanjangan izin tinggalku. Sambil aku menunggu perpanjangan visa, ibuku wafat di Indonesia. Aku benar-benar sedih saat itu, karena aku tidak bisa pulang untuk menunggu proses pengajuan perpanjangan visa yang belum selesai.
Selain itu, pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi, di mana aku ditolak lagi oleh imigrasi. Namun, aku berhasil mendapat bantuan dari pengacara publik (yang di sini gratis), dan akhirnya berhasil mendapatkan keputusan positif. Saat itu, aku bekerja selama enam bulan sambil mencoba mendaftar kuliah—sekadar mencoba keberuntungan saja.
Aku memang sejak dulu tertarik dengan dunia kuliner. Suatu hari, iklan pendaftaran kuliah muncul di timeline Instagram-ku. Padahal waktu itu pendaftaran sebenarnya sudah tutup. Aku tetap coba apply, dan tiga bulan kemudian aku mendapat undangan wawancara. Ternyata, aku diterima!
Katanya, karena ada mahasiswa yang keluar, dan mereka kekurangan orang. Rasanya seperti tidak dapat dipercaya, aku bisa berkuliah di Finlandia. Aku akhirnya menjadi mahasiswi di bidang culinary di Finlandia.
Salah satu hal yang membuatku bersyukur bisa belajar di sini adalah karena sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik. Untuk pemegang izin tinggal tipe A seperti aku, kami bisa mengakses pendidikan secara gratis, bahkan mendapat bantuan dari pemerintah. Aku menerima housing allowance dan study support yang cukup untuk membantuku bertahan hidup di sini. Tentu, aku tetap harus mandiri dalam hal makan dan transportasi, tapi dukungan itu sangat berarti—terutama bila dibandingkan dengan apa yang aku bisa akses di negara sendiri.
Budaya Finlandia juga sangat berbeda. Salah satu culture shock paling besar adalah soal sauna. Di sini, sauna adalah bagian penting dari kehidupan. Mereka biasa beramai-ramai masuk sauna tanpa busana. Aku tidak bisa dan sampai sekarang belum pernah ikut sauna bareng orang lain. Buatku, aku bisa memiliki batas pribadi yang tetap aku jaga karena aku adalah orang Indonesia.
Soal bahasa, aku justru senang. Aku memang suka belajar bahasa baru, jadi tidak kesulitan berkomunikasi. Namun, hal yang sulit justru datang dari musim dingin yang panjang dan ekstrem. Di bulan November dan Desember, Finlandia sangat gelap dan dingin—matahari hampir tidak muncul. Rasanya sangat sepi dan menekan. Tahun-tahun pertama aku tidak terlalu terpengaruh, tapi setelah 3-4 tahun tinggal di sini, dampak musim dingin itu mulai terasa secara mental.
Untuk menjaga kewarasan, aku biasanya mencoba menghibur diri. Anak-anak di keluarga – tempat aku tinggal – mereka suka sekali bermain salju. Jadi, kami sering bermain bersama. Kadang juga kami pergi ke Lapland, ke tempat Santa Claus, dan mencoba olahraga musim dingin. Itu lumayan mengangkat suasana hatiku karena musim dingin di Finlandia.
Sahabat Ruanita, aku pernah juga mengalami hal yang menyakitkan sebagai Au Pair. Pengalaman paling menyakitkan selama menjadi Au Pair, terjadi di bulan terakhir masa tugasku. Hanya karena aku menolak ikut ke summer cottage untuk mengasuh anak-anak, host family-ku tiba-tiba memintaku keluar dari rumah. Aku bahkan tidak menerima uang saku di bulan itu. Rasanya seperti ditendang tanpa peringatan.
Untungnya, aku sudah punya keluarga baru yang siap menerima aku dua minggu kemudian. Sambil menunggu mereka yang sedang liburan, aku kembali ke Belanda untuk sementara. Setelah itu, aku kembali ke Finlandia dan langsung pindah ke rumah host family yang baru.
Pengalaman itu sangat memengaruhi kondisi psikologisku. Namun, di sisi lain, itu juga membuatku lebih kuat dan lebih sadar bahwa hidup di perantauan membutuhkan ketegasan dalam membangun batas diri. Aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus siap dengan segala kemungkinan.
Sebagai mahasiswi kuliner yang juga seorang muslim, aku pernah khawatir akan diminta memasak makanan yang bertentangan dengan prinsipku. Tapi ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di sini, para pengajar sangat menghormati pilihan pribadi. Aku selalu terbuka dan jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan, dan mereka justru mencari pengganti bahan yang sesuai.
Toleransi di Finlandia cukup tinggi. Selama kita jujur dan terbuka, mereka tidak akan memaksa. Itu hal yang membuatku semakin nyaman belajar di sini.
Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun, kalau aku tanya langsung ke orang Finlandia, mereka sendiri sering merasa tidak selalu bahagia. Tingkat depresi di sini juga cukup tinggi. Tapi yang membuat Finlandia layak disebut negara bahagia adalah karena kesejahteraan warganya sangat terjamin, sistem pendidikannya bagus, dan mereka sangat mencintai alam.
Dan aku pun merasa bahagia di sini. Aku merasa disupport secara nyata—sesuatu yang tidak aku dapatkan di negara sendiri.
Kalau kamu ingin datang ke Finlandia sebagai Au Pair atau mahasiswa, ada dua hal yang harus kamu siapkan: fisik dan mental menghadapi musim dingin, serta kesiapan menghadapi masyarakat yang sangat introvert. Orang Finlandia tidak suka basa-basi. Mereka tidak mudah tersenyum atau memulai percakapan. Jadi, jangan cepat merasa ditolak.
Selain itu, kamu juga harus open-minded, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya dan agama. Jangan terlalu kaku dengan aturan pribadi yang tidak fleksibel, karena justru itu yang bisa membuatmu kesulitan beradaptasi.
Dan yang tak kalah penting, dukungan keluarga juga sangat berarti. Tidak semua orang tua Indonesia rela melepas anaknya tinggal di luar negeri, apalagi ikut program au pair yang belum terlalu umum.
Aku berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan para Au Pair di luar negeri, terutama di negara-negara seperti Finlandia yang belum punya badan perlindungan resmi. Kalau terjadi sesuatu seperti yang kualami dulu—diusir tanpa alasan yang jelas—tidak ada tempat bagi kami untuk mengadu.
Kalau bisa, dibuatlah kerja sama bilateral agar ada sistem pengawasan dan perlindungan yang jelas. Program Au Pair ini sebenarnya positif. Banyak orang Indonesia yang mendapat pengalaman dan peluang hidup baru dari sini. Sayang sekali kalau potensi itu tidak dimaksimalkan atau malah membiarkan risiko-risiko tanpa perlindungan hukum.
Sahabat Ruanita, itulah sepotong perjalanan hidupku yang penuh putaran, dari Indonesia ke Belanda, lalu akhirnya ke Finlandia. Dari relawan, menjadi Au Pair, hingga kini menjalani hidup sebagai mahasiswi di negara yang memberiku ruang untuk tumbuh dan belajar.
Mungkin sahabat Ruanita yang membaca ini juga sedang mencari jalan. Kalau iya, semoga kisahku bisa jadi pengingat: jalan itu mungkin panjang dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditempuh.
Penulis: Lina Herliana, yang tinggal di Finlandia dan dapat dikontak via akun instagram linaherl_
Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com.
Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami.
Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar.
Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil: ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi.
Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis.
Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi.
Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul 04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya.
Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek.
Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.
Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut.
Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa.
Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.
Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian.
Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi.
Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam. Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh, seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun.
Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya.
Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana. Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya.
Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra. Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut.
Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.
Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno.
Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup.
Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.
Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya.
Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.