(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(IG LIVE) Refleksi Perempuan Desa dan Akademisi Bagaimana Membangun Perdamaian

Dalam rangka memperingati International Day of Living Together in Peace yang jatuh setiap tanggal 16 Mei, Ruanita Indonesia menyelenggarakan program diskusi secara langsung melalui platform Instagram Live. Diskusi ini mengangkat tema “Membangun Kedamaian di Tengah Keberagaman”, yang menjadi sangat relevan dalam konteks sosial budaya Indonesia yang multietnis dan multireligius.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita atau yang disapa Rufi dari Ruanita Indonesia. Diskusi IG LIVE menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Khaeria Ulfarani Rahman (pendiri Komunitas Perempuan Desa di Indonesia) dan Maria Regina Jaga (akademisi dan kandidat PhD di Amerika Serikat).

Ulfa, membuka diskusi dengan membagikan tantangan yang dihadapi dalam membangun kedamaian di komunitas desa.

Salah satu tantangan utama adalah memperkenalkan konsep penghargaan terhadap keberagaman, baik dalam hal budaya, agama, maupun bahasa. “Kata toleransi itu mudah diucapkan, tapi ketika kita turun langsung ke lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan desa sering kali menghadapi hambatan kepercayaan diri dalam mengembangkan potensinya. Melalui Komunitas Perempuan Desa, ia dan rekan-rekannya menginisiasi pendampingan agar perempuan desa dapat bertumbuh dan berdaya, sehingga mampu memahami pentingnya pendidikan dan menjadi agen harmoni dalam komunitas mereka. Pemberdayaan ini tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga mendorong ruang dialog dan penghargaan atas perbedaan.

Follow us

Maria Regina Jaga, yang akrab disapa Inja, memberikan perspektif dari sisi pendidikan karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah. Dalam pandangannya, perbedaan suku, etnis, dan agama bukanlah hambatan, tetapi sumber kekuatan yang perlu dirangkul.

Ia menyebut pentingnya peran guru dalam membentuk karakter anak sejak dini. “Guru punya tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai baik dari rumah, sembari menanamkan bahwa keberagaman adalah hal yang harus dirangkul,” jelas Inja. Ia juga menyoroti perlunya keberanian dalam menghadapi perbedaan dengan terbuka dan empatik, sesuatu yang bisa dicapai melalui interaksi langsung di lingkungan pendidikan.

Ulfa membagikan cerita tentang perjalanannya bersama komunitas perempuan di berbagai daerah, termasuk di kawasan adat Amatoa Kajang, Sulawesi Selatan. Di komunitas ini, mereka tidak hanya menekankan penghormatan antarsesama manusia, tetapi juga terhadap alam sebagai bagian dari kearifan lokal. Ulfa percaya bahwa ketika perempuan desa diberdayakan dan memiliki kesadaran pendidikan, mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu menjaga harmoni sosial.

Ia juga mengisahkan pengalamannya ketika berkunjung ke Kalimantan Timur, di mana ia merasa diterima sepenuhnya oleh komunitas lokal meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. “Saya Bugis, mereka Dayak. Tapi saya merasa menjadi bagian dari mereka,” katanya. Ini menunjukkan bahwa kedamaian tidak hanya bisa dirasakan, tetapi juga dibangun melalui pengalaman lintas budaya yang penuh penerimaan.

Inja kemudian berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bagaimana pendekatan culturally responsive pedagogy diterapkan di sana, yaitu sebuah metode pendidikan yang menghargai keberagaman budaya peserta didik. Anak-anak dilatih menjadi mediator konflik sejak usia dini melalui simulasi konflik dan diskusi solusi.

Menurutnya, pendidikan di AS tidak hanya mengajarkan anak untuk memahami bahwa konflik itu nyata, tetapi juga menyediakan ruang untuk mempelajari bagaimana menghadapi konflik tersebut secara sehat. Di sini empati dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci dalam membangun karakter.

Ia juga menceritakan bahwa sebagai pelajar internasional, ia mendapat kesempatan menjadi global ambassador untuk mengenalkan budaya dan nilai-nilai pendidikan dari Indonesia. Dalam proses ini, ia menyadari bahwa meskipun terdapat perbedaan pendekatan, nilai-nilai dasar dalam pendidikan karakter seperti empati, toleransi, dan kejujuran tetap memiliki benang merah yang universal.

Dalam penelitiannya, Inja berfokus pada pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya tutur seperti cerita rakyat, yang sarat dengan nilai-nilai positif dan keberagaman.

Sayangnya, banyak nilai-nilai tersebut tidak lagi diajarkan secara formal dan mulai tergerus oleh arus modernisasi. “Anak-anak sekarang cenderung melupakan akar dan budaya mereka sendiri,” ujarnya. Dengan merevitalisasi cerita rakyat dan budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, ia berharap empati dan penghargaan lintas budaya bisa tumbuh sejak dini.

Ulfa juga menekankan bahwa pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya menyasar perempuan secara umum, tetapi juga perempuan dengan disabilitas. Menurutnya, inklusivitas adalah bagian penting dari harmoni sosial. Ia berharap semua individu bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama, tanpa ada yang merasa tertinggal atau dianggap berbeda.

“Kita harus menyampaikan bahwa kita semua sama. Kita punya potensi dan kesempatan yang sama,” ujarnya dengan penuh semangat.

Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, baik komunitas, akademisi, hingga pemerintah. Kak Inja menyebut bahwa upaya menjaga kedamaian tidak harus melalui tindakan besar. Tindakan kecil di tingkat komunitas pun, jika dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

Ulfa menambahkan bahwa perempuan harus bisa saling menguatkan dalam gerakan maupun aksi-aksi lokal. “Cukup kegiatan kecil yang masif di tingkatan desa. Jadilah lilin-lilin kecil yang menerangi sekitar,” tuturnya.

Keduanya sepakat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian. Tidak hanya sebagai penggerak komunitas, tetapi juga sebagai pendidik dan penjaga nilai-nilai empati dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam suasana hangat diskusi ini, tersampaikan pesan bahwa perdamaian bukanlah sekadar idealisme, tetapi bisa dibangun dari tindakan konkret sehari-hari. Mulai dari mendengarkan, menghargai perbedaan, hingga memberi ruang kepada mereka yang kerap terpinggirkan. Diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang dialog seperti yang difasilitasi Ruanita Indonesia adalah bentuk kontribusi penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Simak selengkapnya program bulanan Diskusi IG LIVE episode Mei 2025 berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Menjalani Kehidupan Damai di Tanah Eropa

Hidup bersama dalam damai bagi saya adalah sebuah pencapaian. Itu adalah keadaan di mana kita merasa tenang karena semua kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, telah terpenuhi. Saya bersyukur memiliki rumah yang bebas dari beban utang bank, yang memberi saya kedamaian batin dan rasa aman hingga masa tua. Kedamaian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga perasaan bahwa saya dan keluarga memiliki fondasi kuat untuk menjalani hidup.

Ketika berbicara tentang Hungaria, negara tempat saya tinggal saat ini, khususnya di ibu kota Budapest, saya melihat toleransi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Hungaria, umumnya, ramah dan suka membantu, terutama ketika saya membutuhkan informasi atau bantuan kecil lainnya. Meski demikian, saya belum pernah secara langsung menyaksikan konflik yang diselesaikan dengan pendekatan damai. Namun, harmoni yang saya rasakan di sini memberikan pelajaran berharga.

Hungaria juga mengajarkan saya tentang keberagaman. Sebagai orang Indonesia, saya melihat masyarakat di sini sangat menghargai kebebasan berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Komunitas Indonesia di Budapest pun dapat menjalankan berbagai kegiatan, seperti pertemuan arisan atau jalan-jalan bersama, tanpa hambatan. Tradisi Hungaria yang menjunjung tenggang rasa ini menjadi landasan penting dalam menciptakan kehidupan yang damai.

Salah satu hal menarik di Hungaria adalah peran seni dan budaya dalam membangun harmoni. Festival musik dan pameran budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan keberagaman karakter dan visi mereka. Inisiatif ini, menurut saya, adalah cara yang indah untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam damai.

Follow us

Namun, tantangan tetap ada. Belajar untuk benar-benar menerima perbedaan adalah pekerjaan yang tidak mudah, baik di Hungaria maupun di tempat lain. Meski demikian, upaya pemerintah dan organisasi lokal untuk mempromosikan dialog lintas budaya menjadi langkah positif yang layak diapresiasi. Sebagai orang Indonesia di mancanegara, saya percaya bahwa berpartisipasi dalam program-program lokal, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghargai budaya setempat adalah kontribusi kecil yang dapat berdampak besar.

Pengalaman saya di Hungaria memberikan pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia: merangkul keberagaman untuk membangun harmoni sosial. Sebagai bangsa yang plural, kita memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan. Pluralisme ini harus dipelihara sebagai aset, di mana kita yang berbeda latar belakang bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Harapan saya untuk masa depan sederhana saja. Saya ingin melihat dunia, termasuk Hungaria dan Indonesia, terus hidup dalam kondisi damai sejahtera. Saya berharap kita semua dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan nilai-nilai hidup bersama dalam damai, saling menginspirasi, dan saling menguatkan.

Kepada sahabat Ruanita, pesan saya adalah hidup apa adanya. Nikmati apa yang telah kita miliki, tetap bersyukur, dan bantu orang lain sesuai kemampuan kita. Dengan cara ini, saya percaya, hidup bersama dalam damai bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah kenyataan yang dapat kita wujudkan bersama.

Penulis: Hayati Surjono, tinggal di Budapest dan dapat dikontak via akun Instagram szulcsan.hayati

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Bersama KJRI Mumbai Gelar Diskusi Daring “Perkawinan Campuran Indonesia-India”

MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.

Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.

Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1) Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman. 

Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.

Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.

Follow us

Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.

Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.

Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.

Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.

Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.

Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.

Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.

Informasi lebih lanjut: info@ruanita.com 

Rekaman acara dapat disimak di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

SUBSCRIBE ya.

(PODCAST RUMPITA) Pentingnya Storytelling tentang Indonesia untuk Dunia

Dalam episode podcast RUMPITA ke-37 yang tayang di SPOTIFY RUMPITA, kami menghadirkan sosok istimewa, Rane Hafied, seorang penulis, podcaster, dan penggerak literasi yang telah lama menetap di Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand.

Diskusi hangat bersama Rane membuka banyak wawasan tentang dunia kepenulisan, tantangan hidup di luar negeri, serta upaya mempertahankan identitas Indonesia lewat cerita.

Sejak muda, Rane sudah akrab dengan dunia menulis. Berawal dari keisengan menulis cerita pendek di majalah sekolah, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh semakin kuat.

Namun, siapa sangka perjalanan panjang itu membawanya ke berbagai pengalaman menarik, termasuk bekerja di bidang media dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di mancanegara.

Salah satu bagian menarik dari perbincangan adalah bagaimana Rane melihat pentingnya menjaga akar budaya Indonesia, bahkan saat tinggal jauh dari tanah air.

Dalam karyanya, ia kerap menyelipkan nuansa Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun nilai-nilai yang diangkat. “Menulis itu buat saya seperti cara menjaga jembatan ke rumah,” kata Rane dalam podcast ini.

Tak hanya soal menulis, Rane juga bercerita tentang dunia podcasting. Ia dikenal sebagai salah satu podcaster senior di Indonesia yang terus konsisten memproduksi konten berbobot, terutama tentang literasi dan budaya.

Lewat podcast-nya, ia berharap bisa menularkan semangat membaca dan menulis kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda.

Namun perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Rane mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapinya, mulai dari keterbatasan akses buku berbahasa Indonesia di luar negeri, hingga tantangan mental seperti homesick dan kerinduan akan komunitas lokal.

Menariknya, semua itu justru menjadi bahan bakar kreativitasnya.

Dalam diskusi podcast RUMPITA yang dipandu oleh Kristin dan Anna, Rane juga membagikan tips untuk para calon penulis yang ingin mulai menulis tapi merasa minder atau takut.

Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan keberanian untuk “menulis dulu, edit kemudian.” Ia menekankan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna.

Yang terpenting adalah menuangkan ide, lalu perlahan memperbaikinya seiring waktu.

Rane juga berbagi pengalamannya membangun komunitas literasi daring. Ia percaya bahwa komunitas sangat penting dalam menjaga semangat menulis dan membaca, apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.

Di komunitas ini, para anggotanya saling menyemangati, berbagi karya, dan bertumbuh bersama.

Menariknya, Rane melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, di era digital ini, kesempatan untuk berbagi karya semakin terbuka lebar.

“Tidak perlu lagi menunggu penerbit besar. Kamu bisa mulai dari blog, podcast, atau media sosial. Yang penting konsisten dan tetap autentik,” ungkapnya.

Diskusi santai namun penuh makna bersama Rane Hafied ini memberikan banyak inspirasi, tidak hanya bagi para penulis, tetapi juga siapa saja yang berjuang mempertahankan identitas diri di tengah perubahan zaman.

Kami di RUMPITA merasa beruntung bisa menghadirkan cerita-cerita seperti ini kepada para pendengar setia.

Jangan lewatkan episode lengkapnya di bawah ini dan pastikan FOLLOW akun spotify RUMPITA. Siapapun kamu, di manapun berada, semoga cerita Rane Hafied bisa menjadi pengingat bahwa semangat berkarya dan menjaga akar budaya tak pernah mengenal batas.

(CERITA SAHABAT) Menemukan Harmoni Kawin Campur Indonesia – India Lewat Perjalanan Hidup di Goa, India

Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya. 

Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah. 

Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.

Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.

Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. 

Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.

Follow us

Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.

Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.

Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.

Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia. 

Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.

Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.

Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.

Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.

Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.

Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”

Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.

Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.

Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.

Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan di Negeri Paling Membahagiakan, Finlandia?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi bulan Mei 2025 dari RUANITA – Rumah Aman Kita menghadirkan sosok perempuan inspiratif: Desiree Luhulima, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan yang telah tinggal di Finlandia selama hampir tiga dekade.

Melalui program ini, RUANITA mengajak kita menyelami lebih dalam esensi pendidikan dari perspektif orang Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan sistem pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu kisah paling membekas yang dibagikan Desiree adalah pengalamannya ketika mengunjungi sebuah daerah di Indonesia. Ia mengamati perilaku anak-anak yang membeli teh kemasan plastik saat istirahat sekolah.

Ketika ditanya ke mana mereka membuang gelas plastik tersebut, anak-anak dengan percaya diri menjawab: “ke tempat sampah, supaya tidak menyebabkan banjir.”

Namun ketika bel masuk berbunyi, gelas-gelas itu justru dilempar ke kali.

Follow us

Kejadian ini menjadi simbol nyata bagi Desiree atas apa yang ia sebut sebagai “keterputusan pendidikan”—yaitu ketidaktersambungan antara pengetahuan yang diajarkan dan perilaku nyata yang diterapkan.

Pendidikan yang mestinya membentuk karakter dan kesadaran lingkungan, justru terjebak pada hafalan dan rutinitas kosong.

Desiree membandingkan pengalamannya sebagai orang tua di Indonesia dan di Finlandia.

Di Indonesia, ia pernah mengalami stres berat sebagai ibu karena dua anak laki-lakinya yang sangat aktif.

Ia merasa harus terus mengontrol agar tidak dimarahi guru. Namun, saat berpindah ke Finlandia, anak-anaknya justru diapresiasi.

“Anak-anak diberi kebebasan, diberi ruang, diberi kepercayaan, diapresiasi, suaranya didengar, dan diberi kesempatan seluas-luasnya,” kata Desiree.

Ia melihat bagaimana kelebihan anak dihargai dan kekurangannya dicarikan solusi, bukan disalahkan.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya bisa mencapai itu juga.

Tapi ada yang belum kena, yaitu “roh” dari pendidikan itu sendiri, yakni semangat dan nilai-nilai yang menghidupi proses belajar-mengajar.

Desiree menjelaskan bagaimana pendekatan “sambil menyambil” diadopsi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Finlandia.

Artinya, matematika, IPA, dan pelajaran lain tidak diajarkan secara kaku, tetapi dimasukkan dalam aktivitas bermain.

Bermain menjadi wahana belajar, dan istirahat bukan hanya jeda, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang berharga.

Dalam bermain, anak-anak belajar kecerdasan sosial, mengelola konflik, dan berkolaborasi.

Di TK, jam belajar hanya sekitar empat jam sehari dan 190 hari per tahun, namun sarat makna.

Pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan kolaborasi antar siswa dijadikan kunci utama.

Di Finlandia, guru bukan sekadar profesi, melainkan peran mulia yang secara sadar dipilih. “Menjadi guru itu keren,” ujar Desiree.

Para guru merasa bahwa mereka sedang membentuk bangsa, bukan hanya mengajar mata pelajaran.

Untuk menjadi guru, Desiree sendiri harus menempuh pendidikan pedagogik setara 60 SKS. Proses seleksinya menekankan pada niat dan jiwa sebagai pendidik. Guru juga tidak bekerja sendiri.

Mereka bekerja kolektif untuk menyelesaikan tugas administratif, saling berbagi ide, dan mendukung satu sama lain. Dalam istilah Desiree, ini bukan “mencontek”, melainkan kolaborasi sadar yang adil dan saling memberi.

Salah satu kritik utama Desiree terhadap sistem pendidikan Indonesia adalah soal penilaian. Menurutnya, penilaian di Indonesia masih bersifat menghakimi dan penuh label negatif.

Misalnya, anak yang tidak rajin langsung disebut “malas”, tanpa melihat konteksnya.

Ia menyebut pentingnya penggunaan kata kerja dalam penilaian seperti “kamu sudah bisa menghitung dari satu sampai sepuluh”, bukan sekadar memberi angka atau nilai ujian.

Desiree juga menyoroti bahaya sistem peringkat (ranking), yang secara tidak sadar menyakiti anak-anak yang tidak masuk peringkat atas, dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Orang-orang yang masuk ranking adalah orang-orang yang seragam, dan ketika mereka masuk dunia kerja, mereka saling gontok,” ujarnya.

Inti dari seluruh gagasan yang disampaikan Desiree adalah bahwa pendidikan bukan sekadar alat akademik, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Anak-anak bukan untuk dilabeli, dibandingkan, atau ditekan, melainkan didampingi agar mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan peduli terhadap sekitarnya.

Ia menekankan pentingnya narasi dalam pendidikan: narasi yang positif, suportif, dan membangun.

“Narasi yang dipakai tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan, tidak membuang anak.

Mereka disimulasi untuk berperan di dalam komunitasnya,” kata Desiree.

Cerita Desiree Loholima adalah cermin yang jujur dan penuh harapan.

Ia tidak membandingkan untuk merendahkan, tetapi mengajak kita semua merefleksikan, yakni pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program cerita sahabat spesial yang di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(CERITA SAHABAT) Jaga Balita dan Anak Sakit di Swedia, Dibayar Pemerintah. Apa Iya?

Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sih vabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?

Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barn atau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya. 

Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit. 

Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya. 

Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan). 

Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun. 

Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu? 

Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home

Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter. 

Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se

Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit. 

Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan. 

Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.

Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua? 

Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe

(IG LIVE) Membedah Mitos dan Fakta Imunisasi pada Anak

Pada Sabtu (26/4) telah berlangsung diskusi IG LIVE yang dilakukan setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui akun Instagramnya (@ruanitacom) kembali menggelar diskusi IG Live bertema “Imunisasi Anak, Mitos atau Fakta?.

Diskusi ini diadakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia, dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi di tengah maraknya misinformasi.

Acara dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, dan menghadirkan dua sahabat Ruanita yang inspiratif: Kak Azizah, seorang ibu beranak satu sekaligus Ketua Departemen Sosial dan Kemanusiaan Perinma yang kini menetap di Austria, serta Kak Tiwi, seorang dokter yang berbagi pengalamannya dari Jerman.

Kak Azizah memulai sesi dengan berbagi pengalaman sistem imunisasi di Austria, termasuk penggunaan buku Mutterkindpass yang mencatat semua riwayat kesehatan ibu dan anak, serta rekomendasi vaksinasi yang difasilitasi oleh pemerintah secara gratis.

Ia juga menekankan pentingnya mencari informasi valid untuk menangkal hoaks tentang vaksin.

Dilanjutkan oleh Kak Tiwi, yang menjelaskan secara ilmiah tentang imunisasi sebagai perlindungan aktif terhadap penyakit infeksi berat seperti polio, campak, dan hepatitis.

Ia membantah mitos yang masih berkembang, seperti klaim tidak berdasar tentang hubungan vaksin dengan autisme. Data penelitian besar-besaran menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan vaksin dengan gangguan perkembangan otak.

Diskusi juga menyoroti pentingnya edukasi berbasis bukti di tengah gempuran informasi tidak valid di media sosial.

Pesan kuat disampaikan oleh Kak Azizah dan Kak Tiwi kepada para orang tua: buatlah keputusan imunisasi atas dasar kasih sayang dan informasi terpercaya, bukan ketakutan atau tekanan sosial.

Acara ini menginspirasi banyak sahabat Ruanita untuk lebih kritis dan aktif mencari informasi kesehatan anak dari sumber yang sahih.

Ruanita Indonesia kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung keluarga Indonesia menjadi lebih sehat dan berdaya melalui edukasi berbasis komunitas.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami berjalan terus:

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring: Peran Perempuan, Peluang, dan Tantangan di Era Digital

JAKARTA, 26 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PW Muslimat NU DIY menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Kartini dalam Dunia Digital”.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam dunia digital serta memberikan edukasi tentang literasi berinternet yang aman dan efektif.

Diskusi berlangsung secara daring melalui platform Zoom, yang dihadiri oleh perempuan Indonesia dari berbagai negara dan profesi, yang tertarik dengan isu kesetaraan gender dalam teknologi digital.

Dalam pengantar diskusi sekaligus membuka acara, Hj. Fatma Amalia selaku Ketua PW Muslimat NU DIY menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia digital.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta ancaman keamanan siber, termasuk kekerasan berbasis gender online.

Follow us

Acara ini menghadirkan dua perempuan Indonesia sebagai pemateri yang berbagi pengetahuan dan keilmuan dunia digital.

Pemateri pertama adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, seorang PhD student di University of Birmingham dan dosen di Universitas Trunojoyo Indonesia.

Zakiya memaparkan hasil risetnya mengenai bagaimana perempuan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai sektor. Berdasarkan temuannya, perempuan semakin aktif dalam bidang wirausaha digital, pendidikan, dan advokasi sosial.

Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti bias gender dalam industri teknologi serta minimnya akses terhadap sumber daya digital bagi perempuan di daerah terpencil.

Pemateri kedua adalah Rizqi Mutqiyyah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, alumni International Institute of Information Technology Bangalore, India jurusan MSc Digital Society dengan Beasiswa Kominfo.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan agar dapat memanfaatkan internet secara aman dan efektif.

Rizqi juga menjelaskan strategi dalam mengelola informasi dan identitas digital guna menghindari ancaman siber, seperti pencurian data dan kekerasan berbasis gender online.

Diskusi ini semakin menarik dengan kehadiran penanggap yang berasal dari komunitas perempuan Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab.

Utari Giri sebagai penanggap berpendapat mengenai pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi kekerasan berbasis gender di internet.

Setelah sesi pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Izidiza Febrine, relawan Ruanita di Jerman.

Banyak peserta yang mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka mengenai isu perempuan dan teknologi. Beberapa peserta juga berbagi strategi yang telah mereka terapkan dalam memanfaatkan dunia digital untuk pemberdayaan perempuan.

Di akhir acara, Zakiyatul Mufidah sebagai koordinator penyelenggara menegaskan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam dunia digital.

Sebagai tambahan informasi, acara ini juga dihadiri oleh perempuan Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Dhaka, para perempuan di Nepal, serta PW Muslimat NU di Taiwan dan Jepang, yang berpartisipasi menanyakan permasalahan dunia digital yang sedang meningkat partisipasinya.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, perempuan harus mampu beradaptasi dan memanfaatkannya secara maksimal demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat.

Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk terus berjejaring dan berkolaborasi dalam memperjuangkan hak perempuan di dunia digital.

Melalui akses dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik, perempuan dapat terus berkontribusi dalam berbagai bidang serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Rekaman acara tersebut dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Pitt Hopkins Syndrome, Resiliensi Ibu, Cahaya Kecilku

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, aku biasa dipanggil Amy dan kini menetap di United Kingdom (UK) sejak menikah dengan pria berkewarganegaraan asing. Aku juga seorang ibu dari tiga orang anak, yang mana anak pertama kini berusia 13 tahun, anak kedua sekarang berusia 11 tahun, dan anak ketiga berusia 1,5 tahun.

Anakku kedua ini yang mengubah hidupku sepenuhnya, karena dia begitu istimewa yang membuat hidupku berubah. Aku merasa istimewa sebagai seorang ibu, karena diberi amanah besar untuk merawat anakku, yang terlahir dengan Pitt Hopkins Syndrome. Justru, aku menyadari ini setelah aku pergi Umroh ke Mekkah dan bertemu dengan seorang perempuan bijaksana di sana. 

Perjalanan panjang diagnosa anakku kedua dengan Pitt Hopkins Syndrome, dimulai dari pengalamanku mengandungnya sejak kami masih di Dubai. Di Dubai, kami tidak punya keluarga, sementara keluarga besar suami tinggal di Inggris.

Suami memutuskan untuk tinggal di Inggris, karena kami hanya bertiga saat itu: aku, anakku, dan suamiku – di Dubai. Aku merasa kehamilan anakku yang kedua baik-baik saja, seperti kehamilanku sebelumnya. Hanya saja, medical record yang kupegang selama di Dubai tidak begitu detil dan komplit, sebagaimana yang diminta pihak petugas kesehatan di Inggris.

Pada umur kehamilan yang ketujuh bulan, aku pindah ke Inggris. Ketika dokter kandungan di Inggris memeriksa janinku, terlihat bahwa semua baik-baik saja. Berbagai tes kehamilan dimulai lagi dari awal, karena tak cukup informasi yang kubawa dari Dubai. Pada usia kandunganku saat itu sudah memasuki minggu ke-38, yang mana dokter memperhatikan bahwa pergerakan janin begitu lambat.

Follow us

Aku pun harus mengalami induksi.  Akhirnya, anakku kedua lahir dengan selamat. Anakku melewati serangkaian tes untuk memastikan kondisinya, tetapi respon yang diberikan anakku ini begitu berbeda. Dia begitu lamban merespon, yang kemudian membuat hatiku merasakan bahwa anakku yang kedua, sepertinya berbeda dari anakku yang pertama.  

Proses hingga mendapatkan diagnosis Pitt Hopkins Syndrome itu begitu panjang dan tidaklah mudah. Pada usia beberapa bulan, dia tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi-bayi lainnya. Dia terlambat tengkurap, merangkak, dan sulit melakukan kontak mata dalam waktu yang lama. Awalnya, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Namun, hati kecilku berkata lain. Anakku yang kedua ini pernah sempat dikatakan, punya masalah dengan liver, karena dia tampak begitu kuning. Dia didiagnosa hyperbilirubinia. Hyperbilirubinemia adalah kondisi di mana kadar bilirubin dalam darah meningkat di atas batas normal. Bilirubin adalah zat kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah dan biasanya diproses oleh hati, sebelum dikeluarkan melalui empedu ke dalam tinja. Anakku ini sampai dibawa ke rumah sakit khusus liver, nyatanya semua baik-baik saja. 

Ahli juga sempat menyebut anakku memiliki mitokondrial disorder. Mitokondrial disorder pada bayi baru lahir adalah kelainan yang terjadi akibat disfungsi mitokondria, yaitu bagian sel yang bertanggung jawab menghasilkan energi. Karena hampir semua sel tubuh membutuhkan energi, gangguan pada mitokondria dapat memengaruhi berbagai organ, terutama otak, otot, jantung, dan hati. Setelah dicek berkali-kali, anakku tidak memiliki kelainan tersebut, meskipun tumbuh kembang anakku begitu lambat. 

Pada usia sekitar tujuh bulan, anakku mulai mengalami batuk yang sangat parah. Kondisi ini menurut ahli, anakku didiagnosa Unsafe Swallow. Unsafe Swalow pada bayi baru lahir adalah kondisi di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakamanan saat menelan makanan atau cairan. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan neurologis, kelemahan otot, atau kelainan anatomi.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan aspirasi, yaitu masuknya cairan atau makanan ke saluran pernapasan, yang bisa berujung pada infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi). Karena batuknya yang sangat parah, suatu kali, pernah aku merasa putus asa melihat kondisi anakku yang sudah koma, dengan oksigennya yang drop, dan bibirnya tampak biru. Feeling-ku sempat mengatakan: “Anakku meninggal. He is gone. He is gone. Alhamdulilah, anakku survive dan dia bisa bertahan.” 

Tak hanya itu, anakku yang kedua ini juga sempat didiagnosa oleh ahli memiliki visual sight impairment. Pada bayi baru lahir, visual sight impairment adalah kondisi di mana bayi mengalami gangguan penglihatan sejak lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Ini bisa terjadi akibat kelainan pada mata, saraf optik, atau otak yang mengolah informasi visual. Diagnosa ini disebabkan anakku ini tidak bisa mengikuti objek yang dililhatnya, mungkin dia mengalami gangguan penglihatan. 

Sudah tidak terhitung lagi, berapa kali anakku harus bolak-balik rumah dan rumah sakit, hingga rumah sakit seperti rumah keduanya, padahal usianya saat itu masih belum dua tahun. Mondar-mandir ke rumah sakit dengan diagnosa yang bermacam-macam dan tidak tepat kerap membuatku semakin sulit, apalagi suamiku saat itu masih bekerja di Dubai. Beruntunglah, aku mendapatkan dukungan dari keluarga besar pihak suamiku di Inggris untuk membantu merawat anakku yang pertama dan membesarkan hatiku. 

Situasi begitu rumit dengan diagnosa anakku yang kedua. Pada saat dia berusia 6 bulan, anakku dirujuk ke berbagai macam spesialis, seperti: speech delay language, dan physiotherapy. Tak berhenti di situ saja, anakku juga dirujuk ke rumah sakit perawatan khusus anak-anak buat genetic, neurology and ophthalmology.

Pada saat usianya memasuki 1,5 tahun, anakku didiagnosa Pitt Hopkins Syndrome. Suamiku yang masih berada di Dubai, akhirnya memutuskan ikut pindah ke Inggris, pada saat anakku memasuki usia 2 tahun. Aku bahkan tidak tahu apa itu Pitt Hopkins Syndrome.

Dokter menjelaskan bahwa ini adalah kelainan genetik yang sangat langka, yang memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Anak-anak dengan kondisi ini sering mengalami kesulitan berbicara, berjalan, serta memiliki gangguan pernapasan dan intelektual. 

Aku sempat tidak percaya, bahwa dia mengalami kelainan genetik. Bagaimana mungkin itu terjadi padaku? It was so hard! Aku sempat berpikir negatif tentang masa depan anakku kelak. Lima tahun pertama, aku tidak bisa menerima kondisi anakku. Aku sempat bertanya kepada Allah: “Why you chose me?”. 

Dalam perjalanan ini, aku juga menemukan komunitas yang luar biasa. Ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama menjadi tempatku berbagi. Aku belajar dari pengalaman mereka, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa bahwa aku tidak sendirian. Suatu kali, aku belajar dari seorang ibu dalam kelompok dukungan sosial, di mana dia memiliki tiga orang anak dan semua anaknya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Bersyukurlah aku mendapatkan dukungan sosial dari kelompok orang tua yang memiliki situasi serupa di Inggris ini. Kami berbagi dukungan satu sama lain, yang saling menguatkan buat saya. Itu sangat membantu saya. Pemerintah di sini juga memberikan banyak fasilitas dan dukungan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, seperti anakku kedua. Semua fasilitas dan sarana pendukung, seperti terapi dan dukungan sosial pada orang tua pun disiapkan di sini.

Aku ingin anakku melihat dunia, meskipun aku tahu dia mungkin tidak memahami sepenuhnya. Kami kerap berpergian, termasuk ke Indonesia. Namun, dalam perjalanan itu, aku menyadari bahwa dunia ini tidak selalu ramah terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus. Aku sering mendapatkan tatapan aneh, bahkan komentar kasar dari orang-orang yang tidak memahami kondisi anakku. Aku belajar untuk tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang terpenting adalah anakku mendapatkan cinta dan dukungan yang dia butuhkan.

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat lelah. Menemani anakku menjalani berbagai terapi, mengajarkan keterampilan sederhana yang bagi anak lain mungkin begitu mudah, adalah tantangan besarku. Namun, aku juga menyadari bahwa keberadaanku sebagai ibunya adalah sumber kekuatan terbesarnya.

Di tengah semua tantangan, aku menyadari satu hal: resiliensi adalah kunci. Sebagai seorang ibu, aku harus terus maju, tidak peduli seberapa sulit jalannya. Aku mungkin jauh dari tanah air, tetapi hatiku tetap kuat. Anakku adalah cahaya kecilku, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia mendapatkan kehidupan terbaik.

Penulis: Amy, seorang ibu yang punya anak dengan Pitt Hopkins Syndrome di Inggris dan dapat dikontak via Instagram hamza_pitthopkins_syndrome.

(PODCAST RUMPITA) Peluang dan Tantangan PostDoc di Jepang Sebagai Perempuan Indonesia

Dunia memperingati 7 April sebagai World Health Day, yang mendorong Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai dokter untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Lewat Podcast RUMPITA yang tayang tiap bulan, episode kali ini membahas tentang pengalaman riset Postdoc setelah studi PhD di Jepang tentang dunia medis.

Dia adalah dokter Mita, yang adalah seorang ibu, periset, dan dokter untuk berbagi tentang peluang dan tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani studi Postdoc selama di Jepang.

Setelah berhasil menyelesaikan studi PhD di Jepang, setahun kemudian dokter Mita langsung menerima tawaran untuk lanjut studi Postdoc.

Follow us

Meskipun Jepang termasuk dalam benua Asia, tetapi budaya dan etos kerja orang-orang Jepang memiliki keunggulan tersendiri. Beruntung, supervisor dokter Mita sangat memahami situasinya sebagai ibu.

Sejak tinggal lebih dari lima tahun di Jepang, dokter Mita harus beradaptasi juga bagaimana tinggal di Jepang yang juga tak mudah.

Contohnya, bagaimana kehidupan di Jepang yang juga rawan bencana alam. Pemerintah Jepang telah mengantisipasi dengan memberikan peringatan dini kepada warganya, apabila ada prediksi typhoon misalnya.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari dokter Mita dalam menyelesaikan studi PhD-nya. Dia pun tak lupa untuk berbagi peran sebagai ibu dan peneliti juga.

Dokter Mita belajar bahwa membuat riset di bidang kedokteran tentu berdasarkan pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

Hasil risetnya tentu akan sangat membantu agar masyarakat tetap sehat. Peran pemerintah di sini sangat menentukan bagaimana kebijakan mengatur kadar gula atau garam dalam kemasan produk makanan misalnya.

Bagaimana pengalaman menarik dan menantang dari perjalanan PhD dan studi Postdoc dokter Mita? Apa saja yang diperlukan untuk melamar beasiswa yang disediakan pemerintah Jepang?

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan riset di bidang kedokteran? Apa pesan dokter Mita bagi sahabat Ruanita yang ingin berhasil menyelesaikan studi di Jepang?

Simak selangkapnya di saluran Podcast SPOTIFY kami dan pastikan Anda juga FOLLOW RUMPITA untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Perempuan Butuh Sains, Sains Butuh Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya, Rieska Wulandari yang telah menetap di Italia sejak Agustus 2010 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis lepas di Italia untuk media massa televisi di tanah air dan saya juga seorang ibu dari dua orang anak dan bersuamikan seorang Italia.

Saya menjadi jurnalis karena latar belakang pendidikan saya memang sarjana Jurnalistik Fikom Unpad. Saya meliput berbagai kegiatan aktual di Italia untuk pemirsa Indonesia dan sebagai pengamat sosial saya juga mengamati kiprah perempuan dalam berbagai isu termasuk dalam hal partisipasi perempuan dalam bidang sains. 

Tinggal di Italia selama hampir 15 tahun, saya menilai masyarakat Italia menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat penting, bahkan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni mencatatkan dirinya sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Italia dan  dalam berbagai bidang termasuk sektor sains, kontribusi perempuan, sangat diperhatikan. 

Perempuan tak sekedar dianggap sebagai rekan kerja/ilmuwan/cendekia setara, namun juga punya kesempatan untuk mendapatkan posisi puncak dan  kadang diakui lebih cemerlang daripada pria.

Kondisi ini, tidak serta merta muncul. Dibutuhkan perjalanan dan sejarah panjang bagi masyarakat Italia untuk bisa mencapai titik ini. Seperti negara-negara lainnya,  dahulu kaum perempuan Italia juga hanya ditempatkan di belakang layar. Baru pada tahun 1874 perempuan diizinkan masuk sekolah menengah atas dan universitas, meskipun banyak institusi yang terus menolak mereka saat itu, namun gerakannya sudah mulai muncul.

Follow us

Sejarah pendidikan perempuan di Italia adalah perjalanan menarik yang mencerminkan perubahan masyarakat yang lebih luas, pergeseran budaya, dan perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender. Pada tahun 1886, Pemerintahan Italia menetapkan undang-undang pertama yang menjamin akses yang sama terhadap pendidikan dasar bagi anak perempuan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam menyadari pentingnya mendidik anak perempuan.

Berlanjut kurang dari seratus tahun kemudian, tahun 1946 perempuan di Italia memperoleh hak untuk memilih di Italia yang berkaitan erat dengan status pendidikan mereka. Kemampuan untuk memilih dipandang sebagai perluasan hak-hak perempuan, didukung oleh peningkatan prestasi pendidikan mereka. 

Momen ketika perempuan Italia sudah mulai boleh ikut dalam pemilu ini, diabadikan dalam film karya Paola Cortellesi yang berjudul C’e Ancora Domani (There’s Still Tomorrow /Masih Ada Hari Esok), menggambarkan betapa kekuatan perempuan di bidang pendidikan dan politik memberikan perkembangan yang revolusioner kepada masa depan individu dan juga pada sebuah bangsa.

Film yang merupakan debut sutradara Paola Cortellesi, memenangkan People’s Choice Awards, penghargaan dari publik, pada Festival Film Internasional Pingyao edisi kedelapan, yang diprakarsai oleh sutradara Jia Zhange (pemenang Golden Lion di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2006 untuk Still Life) dan diselenggarakan di Tiongkok dari tanggal 24 hingga 30 September.

There’s Still Tomorrow juga telah mengumpulkan berbagai penghargaan tidak hanya di Italia, tetapi juga di luar negeri dari negara-negara Eropa hingga Australia.

Kembali lagi ke sejarah Italia dalam memperjuangkan hak perempuan, pemerintah Italia memperkuat hak perempuan dalam kesetaraan akses pendidikan dengan menerbitkan UU tahun 1977.  Sahabat Ruanita perlu tahu, bahwa tujuan dari undang-udang ini untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan di bidang pendidikan dan tempat kerja, dengan menekankan kesempatan yang sama bagi anak perempuan di semua lingkungan pendidikan. 

Itu sebab, saya berpendapat tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di Italia. Hanya saja, perempuan memang memiliki tugas lain. Sebagai ibu rumah tangga misalnya, perempuan yang berkarier penuh di bidang ini, tidak semudah dengan para pria. Namun, secara hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak ada perbedaan. 

Sejauh pengalaman tinggal di Italia sebagai jurnalis, saya malah mendapat banyak privilege dibandingkan pria. Secara etika dan hukum, perempuan di Italia memiliki sistem perlindungan penuh dan bahkan masuk dalam skala prioritas, untuk konteks tertentu.

Terkait perempuan di bidang sains selama tinggal di Italia, saya menyaksikan bahwa Italia telah sukses mengirim astronot perempuan yaitu Samantha Cristoforetti yang berangkat dengan rioket Soyuz pada 23 November 2014 dan ditempatkan selama 200 hari di Stasiun ISS serta yang kedua kali pada 27 Aoril 2022 dengan Space X untuk ekspedisi selama 170 hari dan ditempatkan di stasiun ISS.

Selain itu, prestasi kaum perempuan dalam bidang olahraga juga sangat mencenangkan dengan banyaknya delegasi atau kontingen dari Italia yang memenangkan berbagai kompetisi internasional, piala dunia dan termasuk Olimpiade. Tentunya, saya melihat bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan kerja atau lingkungan akademik. Mereka sangat mendukung perempuan untuk maju dan sukses dalam sektor sains. 

Sebagai seorang jurnalis, saya sekarang sebagai sekretaris dewan untuk organisasi jurnalis asing di Italia, Stampa Estera di Milan dan tahun ini kami meluncurkan Premio Innovazione Semi yaitu penghargaan di bidang inovasi. Perempuan tentu diperbolehkan mengikuti kompetisi ini. Selain itu, organisasi ini juga memiliki anggota jurnalis perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Tokoh perempuan di bidang sains yang membuat saya kagum adalah seperti Rita Levi-Montalcini, seorang ahli saraf pemenang Hadiah Nobel. Selain itu, saya juga mengagumi Emma Bonino, seorang politisi terkemuka dan pembela hak-hak perempuan, memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat memberdayakan perempuan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan seorang jurnalis kawakan Italia Oriana Fallaci yang telah mewawancara tokoh-tokoh internasional dunia dan menghasilkan berbagai buku jurnalistik yang impresif, yang membuka mata dunia pada pentingnya mengutamakan hak dan kemerdekaan semua bangsa dan terutama perempuan.

Sementara dari Indonesia, meski tokoh ini bukan seorang ahli sains, saya mengidolakan Kartini. Menurut saya, beliau merupakan tokoh yang sangat penting dan saya kagumi karena pikiran dan tulisannya telah membuka kemungkinan kepada para perempuan untuk bersekolah, mengenyam pendidikan, dan menentukan sendiri masa depannya. 

Bagi para perempuan muda yang ingin menyelami dunia sains, tantangan terbesar di bidang ini adalah untuk teguh dan memantapkan langkahnya dalam menjalani bidang ini tak hanya untuk mengangkat image tapi benar-benar sebagai panggilan hidup. 

Di Italia saya perhatikan, peran pria di dalam sains sama beratnya dengan perempuan karena peran pria dan perempuan dalam keluarga memang sama-sama harus berkontribusi pada perkembangan keluarga dan anak, apabila mereka telah memiliki keturunan.

Yang menjadi pembeda adalah pusat-pusat riset dan teknologi, industry dan media yang berkaitan dengan bidang ini kebanyakan terletak di Italia Utara, sehingga kebanyakan dari mereka yang ingin berkembang di bidang ini, harus pindah ke Italia bagian utara. 

Sejauh ini, saya belum melihat peneiti Indonesia yang berkiprah di Italia meski ada beberapa kenalan saya, perempuan yang bekerja di pusat riset milik Uni Eropa yang berlokasi di Italia dan beberapa perempuan yang menjalankan riset berkaitan dengan studi master dan doktoral mereka di Italia. 

Jika digali, Indonesia punya banyak peluang dalam bidang sains di Italia. Hanya saja perbedaan bahasa, sistem sertifikasi, dan tidak adanya MoU yang terjalin antara Indonesia dan Italia dalam hal ketenagakerjaan, membuat kesulitan bagi mereka yang ingin mengejar peluang di bidang ini di Italia. 

Tentunya, ada pengaruh yang besar dalam perbedaan budaya antara Indonesia dan Italia terhadap namun untuk kehidupan sekarang, sangat bisa didiskusikan dan sangat bisa dipertimbangkan. 

Melihat perjalanan Italia yang demikian komit melibatkan perempuan dalam dunia sains, sebetulnya tidak mustahil Indonesia juga sudah dalam perjalanan ke sana, terutama bila kita berkaca lagi pada kebudayaan kuno, di mana ketika pengaruh agama-agama populer belum masuk.

Seperti dalam kebudayaan Sunda dan Minang, posisi perempuan sangat dihormati dan dianggap sebagai gender yang harus mendapatkan prioritas. Hal ini terlihat dalam pantun-pantun Sunda, sementara dalam kebudayaan Minang masih berprinsip matrilineal hingga kini. Situasi berubah ketika paham patriaki memasuki Nusantara, baik melalui paham bernafas keagamaan maupun karena manipulasi politik dan kekuasaan. 

Jika sahabat Ruanita ingin mengejar karier atau pendidikan di bidang sains, khususnya Italia, saya rasa Italia bisa dijadikan sebagai referensi yang cukup menarik karena negara ini telah melahirkan tokoh tokoh jenius di bidang sains, keputusan mengambil pendidikan di Italia akan menjadi keputusan strategik di mana sahabat Ruanita bisa mengambil langsung dari rahim ilmu dan kebudayaan itu sendiri, yang mana bahasa latin yang menjadi inti kebudayaan Eropa lahir. 

Menjalani dan berinteraksi dengan berbagai komunitas di Italia, refleksi terbesar saya adalah perempuan di Italia, memiliki peran krusial dalam perkembangan sains secara nasional. Bahkan peran ini bisa mewakili posisi Italia secara global, apalagi bila ada pemenang nobel atau astronot yang berkebangsaan Italia. 

Selain pendidikan publik, keberadaan lembaga pendidikan yang diasuh gereja (Yayasan katolik), juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan Sains. Meskipun sekolah ini bernafaskan katolik, namun pelajaran sainsnya tidak terkungkung ideologi agama, melainkan sangat terbuka pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan termasuk menerima bahwa bumi terbentuk melalui teori big bang dan adanya evolusi. 

Hal ini membuat perkembangan sains di Italia tidak berbenturan dengan ranah ideologi dan prinsip-prinsip agama atau keimanan. Demikian juga peran serta perempuan dalam segala bidang sangat didorong dan tidak mengurung perempuan untuk puas dengan peran domestik, namun dalam peran lain yang sangat penting bagi kehidupan ilmu pengetahuan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara.

Sikap keterbukaan yayasan katolik pada sains ini menjadi tantangan bagi Indonesia, sebuah bangsa yang akhir-akhir ini kita akui, cenderung terkungkung dalam kerangka religius sehingga kontraproduktif dengan kemajuan sains. 

Sebagai perempuan Indonesia di Italia, saya berharap semoga kedua negara bisa saling berkontribusi dalam hal memajukan perempuan di dunia sains. Bagaimanapun sains membutuhkan perempuan dan perempuan membutuhkan sains, lebih jauh, Italia membutuhkan Indonesia dan Indonesia juga membutuhkan Italia. 

Saya kita, sudah saatnya untuk mulai terbuka dan menyambut keterlibatan perempuan di bidang sains, bahkan harus mendorong perempuan dan memberikan dukungan serta pengayoman agar ketika menjalankan profesi ini, perempuan mendapatkan hasil yang maksimal dan dilindungi secara hukum, sehingga mereka dapat menjalankannya dalam rasa tenang dan nyaman. 

Saya yakin, perempuan Indonesia tidak hanya potensial, bahkan juga semakin banyak perempuan Indonesia yang bergerak di bidang ini, sehingga Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang sangat kuat. Ingatlah, pada kaum perempuan yang menjalani bidang ini, persaingan akan selalu ada. Persaingan dalam dunia kerja, baik antar sesama perempuan maupun dengan laki-laki sama kerasnya dalam konteks yang berbeda.

Oleh karena itu, semangat hanya akan ada jika diri sendiri memang teguh pendirian. Memang yang dijalani adalah sesuatu yang dicintai. Passion atau renjana bukan sekedar menjalankan pesan orang tua atau sekedar agar tampak terpandang. Selama jalan itu kita ambil – karena memang kerinduan kita dan ada panggilan jiwa – apapun tantangannya, akan dapat dijalani meski berat dan terjal. 

Sekali lagi sahabat Ruanita, ini saran saya:

  1. Kenali bahasanya, raih sertifikat bahasa secara formal, karena ini akan sangat membantu, baik dalam proses studi maupun dalam konteks profesionalisme. 
  2. Carilah universitas yang sesuai. Beberapa universitas di Italia juga sangat excellence dalam program-program spesifik. Saya yakin ini memberikan manfaat besar bagi yang melakukan riset maupun bagi masyarakat secara umum. 

Penulis: Rieska Wulandari, tinggal di Italia, pengelola website http://ri3ska.com/ dan www.wartaeropa.com, kontributor cerita sahabat di www.ruanita.com dan dapat dikontak via akun Instagram ri3ska.

(WARGA MENULIS) Puisi – Perempuan Pahlawanita 

Perempuan Pahlawanita 

Kupantau kau dari negeri berlokasi di bumi paling ujung tanah airku, kau tak hanya punya kisah pendekar Jaka Sembung ada para srikandi merah putih sambung menyambung yang akan hilang karena jarangnya disanjung. 

Ada barisan pendekar pahlawan perempuan … 

Follow us

dan kucatat bukan hanya Kartini yang berjuang tuk kesetaraan. Ada Dewi Sartika, Rasuna Said dan Nyai Ahmad Dahlan Walanda Maramis dan Rohana Kuddus pejuang emansipasi pendidikan. 

Kulihat jejeran nama pahlawan wanita nasonal kita cukup sedikit Di bawah duapuluh nama dan hanya dua digit 

entah, apa kriterianya terlalu sulit 

atau perempuan berjasa memang selalu terkena edit. 

Mereka, para perempuan pahlawanita tak lupakan hidup ada asam dan tak abaikan hidup perempuan yang juga asin bergaram. Merekalah yang dulu tulus buka segala panca indra tuk jadi abdi dalam untuk Indonesia yang masa depan perempuannya masih buram. 

Kenali mereka 

Sanjung pengorbanan mereka 

Tak perlu diterka 

perjuangan mereka membuat perempuan merdeka. 

Hamburg, 04.02.2025 

Penulis: Dyah Narang-Huth (akun Instagram: dyahnaranghuth)

(IG LIVE) Selamat Hari Perempuan Internasional!

Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.

Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.

Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.

Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.

Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.

Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.

Follow us

Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.

Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.

Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.

Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.

Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.

Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?

Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!