Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.
Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.
Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.
Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.
Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.
Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.
Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.
Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.
Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.
Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.
Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.
Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.
Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.
Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:
Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, RUANITA mengundang Eka Moncarre yang tinggal hampir 30 tahun di Prancis dan telah lama bergiat di bisnis promosi pariwisata Indonesia di luar Indonesia.
Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) di Indonesia, Eka kemudian melanjutkan kuliahnya di Prancis untuk menekuni bidang pariwisata, terutama memperkenalkan Indonesia di Eropa. Eka bahkan pernah ditunjuk sebagai VITO (=Visit Indonesia Tourism Officer) sebagai agen perwakilan promosi Indonesia di mancanegara.
Pengalaman Eka dalam dunia pariwisata dan budaya sudah tidak diragukan lagi. Eka bercerita kalau dia pernah dipercaya untuk mendampingi perhelatan COP tahun 2021 di Paris.
Keinginannya semakin kuat untuk mempromosikan Indonesia di Eropa, setelah dia berhasil membuat business plan untuk merintis House of Indonesia atau yang dikenal La Maison De L’Indonesie di Paris.
Eka adalah Fouder dan CEO untuk rumah budaya di Paris yang banyak mempromosikan Indonesia lewat industri kopi, kuliner, produk-produk kerajinan orang Indonesia, ekspo budaya, hingga pariwisata.
Dalam video berdurasi 5 menit, Eka bercerita bagaimana awal mulanya dia ingin memperkenalkan kopi asal Indonesia yang tidak dikenal kafe-kafe di Eropa padahal Indonesia adalah produsen kopi terbesar di dunia.
Eka menyadari bahwa merintis promosi Indonesia pun tidak mudah. Salah satunya, Eka berpendapat penting untuk melihat poin of view orang-orang bukan Indonesia tentang Indonesia sendiri.
Selain itu, Eka berpendapat pentingnya promosi sebagai investasi, bukan lagi memandang promosi sebagai membayar atau tidak membayar. Eka menyadari berbisnis pariwisata dan budaya bukan hal yang mudah.
Apa saja tantangan Eka dalam merintis usahanya di Paris, Prancis? Bagaimana sebaiknya peran pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Indonesia di luar Indonesia? Apa saja kunci keberhasilan Eka dalam mengelola usaha yang dirintisnya? Apa harapan Eka agar promosi pariwisata dan budaya Indonesia tidak “jalan di tempat”?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.
Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.
Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.
Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.
Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.
Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?
Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.
Jika Anda mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di luar Indonesia, segera laporkan ke KBRI/KJRI yang menjadi lokasi domisili Anda. Anda juga bisa melaporkan ke kami lewat formulir pelaporan kekerasan yang di bilik kanan Website atau kontak Admin of Ruanita via email: info@ruanita.com.