(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kisah Perempuan Indonesia di Industri Energi di Qatar

Bulan Juli 2025, Ruanita Indonesia menghadirkan kisah inspiratif dalam seri Cerita Sahabat Spesial dari salah satu sudut dunia yang penuh tantangan: industri energi Qatar.

Kali ini, kita diajak mengenal lebih dekat sosok Nurlany Yassin, atau yang akrab disapa Lany, seorang perempuan Indonesia yang telah lebih dari 13 tahun menetap dan berkarier di Doha sebagai analis komersial di Qatar Energy, perusahaan energi nasional yang berada di jantung industri gas alam cair dunia.

Dalam kesehariannya, Lani bukan hanya berperan sebagai pekerja profesional, tapi juga sebagai seorang ibu dari putri berusia 8 tahun.

Ia menjelajahi peran ganda ini di tengah budaya kerja yang sangat patriarkal, seraya membuktikan bahwa perempuan bisa bertahan, tumbuh, bahkan unggul di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.

Bekerja di Tengah Budaya Patriarkal

Qatar dikenal sebagai salah satu negara dengan struktur budaya yang konservatif. Hal ini sangat memengaruhi pola kebijakan di lingkungan kerja, termasuk dalam industri besar seperti minyak dan gas.

Menurut Lany, masih banyak kebijakan kepegawaian dan administratif yang dibuat tanpa mempertimbangkan perspektif perempuan.

“Banyak kebijakan yang seolah hanya dibuat untuk laki-laki,” ujarnya. Misalnya, dalam dokumen kebijakan perusahaan, istilah yang sering muncul adalah “istri dan anak-anak” tanpa mempertimbangkan skenario jika pekerja utamanya adalah seorang perempuan.

Akibatnya, pegawai perempuan seperti Lany harus melakukan klarifikasi ekstra untuk memastikan apakah hak-hak mereka juga dijamin.

Dalam banyak kasus, kebutuhan perempuan sebagai pekerja, ibu, dan individu sering kali tidak terpikirkan dalam penyusunan awal kebijakan.

“Kadang bukan karena sengaja mengabaikan, tapi karena budaya patriarki itu sangat melekat,” ungkapnya.

Minoritas tapi Punya Nilai Lebih

Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang sebagian besar didominasi laki-laki, Lany mengakui bahwa ia berada dalam posisi minoritas.

Namun, ia melihat sisi positif dari kondisi ini. Kadang justru karena menjadi minoritas, ia mendapatkan perlakuan khusus yang menguntungkan.

“Saat saya melakukan kunjungan ke offshore, saya mendapatkan kamar sendiri, sementara rekan-rekan laki-laki tidur di ruang bersama,” ceritanya.

Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa meskipun dominasi laki-laki terasa kuat, keberadaan perempuan bisa membawa perubahan positif dalam dinamika kerja, termasuk dalam fasilitas dan ruang aman.

Namun demikian, Lany tetap menekankan bahwa menjadi minoritas juga berarti harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri.

Perempuan harus menunjukkan tidak hanya keahlian teknis dan keilmuan, tetapi juga komitmen dan konsistensi dalam bekerja.

Ia berharap lebih banyak perempuan Indonesia tidak takut untuk terjun ke bidang-bidang yang selama ini dianggap “maskulin” seperti teknik, fisika, atau geosains.

Komunikasi dan Manajemen Waktu sebagai Kunci

Menjalani peran sebagai profesional dan ibu bukanlah hal mudah, terutama di lingkungan dengan ekspektasi tinggi.

Lany menekankan pentingnya manajemen waktu dan komunikasi yang baik, baik dengan keluarga maupun dengan kantor.

“Selama kita bisa mengatur waktu dengan baik dan terbuka dalam komunikasi, semuanya bisa dijalankan,” katanya.

Kemampuan ini sangat penting, terutama ketika seseorang harus bekerja di luar negeri tanpa sistem dukungan keluarga besar.

Hal ini juga berkaitan erat dengan kemandirian perempuan dalam menentukan jalan hidup dan kariernya.

Tantangan Sistemik dan Ketidaksetaraan yang Tersirat

Dalam wawancara ini, Lany juga mengungkap bagaimana sistem ketenagakerjaan di Qatar, meskipun menawarkan peluang profesional masih menyimpan banyak tantangan dari sisi perlindungan sosial.

Misalnya, tidak adanya skema pensiun yang layak bagi pekerja asing. “Kami harus pintar-pintar menabung sendiri, karena tidak ada uang pensiun. Hanya pesangon,” ungkapnya.

Hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang menawarkan skema jaminan hari tua atau pensiun yang lebih jelas.

Demikian pula dengan akses terhadap kesejahteraan kesehatan, yang meskipun tersedia di Timur Tengah, tetap sangat bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan.

Dalam konteks ini, penting bagi perempuan untuk tidak sekadar fokus pada gaji atau jabatan, tetapi juga memahami dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai pekerja lintas negara.

Harapan untuk Generasi Perempuan Masa Kini

Menutup ceritanya, Lany memberikan pesan kuat kepada para perempuan Indonesia di mana pun mereka berada.

Ia mengajak semua perempuan untuk tidak membatasi diri hanya karena stigma atau konstruksi sosial yang melekat.

“Yang paling penting adalah apa yang kita inginkan untuk hidup kita. Apa yang membuat kita tertarik dan semangat. Jangan pernah patah semangat, terus kejar cita-cita,” katanya penuh keyakinan.

Lany membuktikan bahwa menjadi perempuan di sektor industri padat laki-laki bukanlah halangan.

Justru, dengan keuletan, keberanian, dan kesadaran atas potensi diri, perempuan bisa hadir sebagai agen perubahan dalam struktur kerja yang selama ini bias gender.

Ruanita Indonesia dan Cerita Sahabat Spesial

Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan Ruanita Indonesia yang menyoroti kisah-kisah nyata perempuan Indonesia dari berbagai latar belakang dan belahan dunia.

Program ini bertujuan membuka ruang inspirasi, pembelajaran, dan refleksi tentang perjuangan serta kekuatan perempuan dalam menghadapi tantangan hidupnya, baik di ruang domestik maupun publik.

Edisi Juli ini adalah bukti bahwa keberanian perempuan menembus batas budaya dan sistem bukan hanya kisah tentang individu, tapi juga tentang harapan kolektif akan masa depan yang lebih adil dan setara.

Simak selengkap di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Perempuan di Industri Tambang: Di Bawah Komando Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Selvi Tandirerung, yang sekarang tinggal di Finlandia sudah lebih dari lima tahun lalu. Saya adalah perempuan Indonesia yang juga berprofesi sebagai  Mining Engineer atau Insinyur Pertambangan.

Saya ingin berbagi pengalaman dan inspirasi lewat program cerita sahabat ini, tentang peran perempuan dalam industri tambang. Sebagaimana kita sudah tahu, bahwa dunia tambang itu selalu dianggap sebagai dunia laki-laki.

Saat saya memulai karir saya di dunia pertambangan, memang sangat sedikit perempuan yang berminat untuk bekerja di pertambangan. Ya, contohnya saja dalam kuliahan itu kita hanya ada dari 56 atau 59 siswa dalam satu kelas.

Hanya ada 9 siswa perempuan dalam angkatan perkuliahan saat itu. Sahabat Ruanita, kita bisa melihat betapa jomplangnya antara mahasiswa peminat pertambangan berdasarkan gender. Kebanyakan mayoritas itu adalah mahasiswa laki-laki.

Mengapa saya sampai tiba di Finlandia? Awalnya, saya coba-coba saja untuk melamar ke perusahaan-perusahaan di luar seperti di Australia, di Amerika, di Turki.

Waktu itu, saya hanya tahu perusahaan tambang itu adanya di sekitar situ saja. Intinya, saya tidak pernah berpikir bahwa ada perusahaan pertambangan di negara Eropa.

Pada suatu hari, saya menemukan lowongan pekerjaan. Lowongan tersebut tertulis bahwa mereka membutuhkan untuk resident permit untuk bekerja di pertambangan di Finlandia.

Saya coba melamar dan kebetulan mereka tertarik dengan saya. Akhirnya, saya tiba di negara ini.

Di tempat kerja saya itu, sistem bekerjanya untuk saya sendiri adalah dua minggu  bekerja dan 2 minggu kerja on-site. Dua minggu tersebut, saya harus berada di site dan 1 minggu itu saya harus ada di rumah.

Hal yang suka dari tempat saya bekerja, perusahaan tambang telah menggalakkan campaign seperti Women in Mining.

Oleh karena itu, mereka pun mulai menerima beberapa perempuan yang dianggap bisa berkontribusi di dalam dunia pertambangan. 

Mengapa perempuan enggan atau kurang berminat bekerja di perusahaan pertambangan?

Menurut saya, hal ini mungkin disebabkan mereka berpikir bahwa perusahaan pertambangan itu identik dengan tanah kotor.

Ada juga yang berpendapat, bahwa kondisinya terlalu berbahaya untuk perempuan.

Dokumen pribadi milik Selvie Tandirerung.

Saya sendiri berpendapat, bekerja di tambang itu semua sudah diperhitungkan untuk sistem safety-nya.

Perusahaan tambang tentunya telah mempersiapkan kita yang bekerja agar risiko dan bahaya dapat diminimalisir terjadinya.  

Ada juga yang berpikir bahwa pekerjaan di industri tambang, hanya untuk pekerjaan laki-laki.

Di Finlandia, memang ada peraturan perundang-undangan yang menjelaskan bahwa perempuan itu mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal apapun.

Level perempuan untuk bekerja, itu setara dengan laki-laki.

Kalau laki-laki bisa jadi presiden, perempuan juga bisa jadi presiden.

Itulah mengapa di Finlandia juga ada, perdana menteri perempuan. Perdana menteri perempuan yang saya maksud adalah Sanna MIrella Marin, yang menjabat 2019-2023.

Sahabat Ruanita, di Finlandia tidak ada statement yang bisa mengatakan bahwa hanya laki-laki yang bisa menduduki posisi direktur.

Atau, tidak ada pernyataan di Finlandia hanya laki-laki saja yang bisa bekerja di dunia pertamangan. Jadi, perempuan dan laki-laki memiliki level yang sama.

Di akhir cerita saya, saya cukup bangga bisa berkarier sebagai seorang perempuan Indonesia di Finlandia.

Satu kebanggaan, buat saya dan orang tua saya adalah saat koran lokal memuat berita tentang saya yang bekerja di industri tambang.

Judul artikel koran tersebut adalah naisen komenosa. Kalau teman-teman mau translate, judul artikel tersebut berarti di bawah komando seorang perempuan.

Penulis: Selvi Tandirerung, bekerja di industri tambang di Finlandia dan bisa dikontak via instagram exoticgirltravel.

(SIARAN BERITA) Lewat Daring, Ruanita Indonesia Temui KBRI Wina


Jerman, 7 Juli 2025 — Tim Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wina, Austria, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran komunitas, terutama partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Pertemuan daring ini dihadiri oleh perwakilan KBRI Wina, yakni Bapak Shabda Thian dan Ibu Vita, yang menyambut tim Ruanita dalam situasi hangat dan konstruktif.

Pihak KBRI Wina kemudian menyampaikan apresiasi terhadap upaya kerja para relawan Ruanita Indonesia yang telah berkontribusi dalam menciptakan ruang aman dan mendukung bagi perempuan Indonesia, khususnya mereka yang sedang berada di luar Indonesia.

Pertemuan ini juga menandai langkah awal penjajakan kolaborasi antara KBRI Wina dan Ruanita Indonesia.

Salah satu poin penting yang disepakati adalah perlunya melakukan pre-assessment bagi para calon perawat dari Indonesia yang belajar dan akan bekerja di Austria.

Pendekatan ini bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan program pendukung yang sesuai dengan konteks dan tantangan mereka di Austria, sebagai negara tujuan.

Selain itu, kedua pihak membuka kemungkinan mengembangkan program pertukaran informatif, yang dirancang berdampak positif dan edukatif, baik secara sosial, budaya, maupun profesional.

Program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam penguatan komunitas warga Indonesia di Austria, serta membuka akses informasi dan ruang dialog yang lebih inklusif.

Audiensi ini dimoderasi oleh Ibu Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, dan merupakan bagian dari misi Ruanita Indonesia sebagai jembatan kolektif yang edukatif dan inspiratif yang mengedepankan nilai-nilai Indonesia, intervensi komunitas, dan berbagi sumber daya.

Dengan semangat kolaboratif, Ruanita Indonesia dan KBRI Wina akan terus menjajaki bentuk kerja sama yang konkret demi mendukung pemberdayaan perempuan dan warga Indonesia di luar negeri secara lebih luas.

Kontak: Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria (e-mail: info@ruanita.com).

(IG LIVE) The Joy of Less: Hidup Minimalis dari Perspektif Jurnalis Lepas di Italia dan Desainer Tas di Amerika Serikat

Ruang virtual Instagram Ruanita kembali menjadi tempat hangat berbagi cerita dan inspirasi. Diskusi IG LIVE interaktif bertema “The Joy of Less: Hidup Minimalis dalam Mode dan Fesyen” menghadirkan dua sahabat Ruanita yang tinggal di dua benua berbeda: yakni Rieska Wulandari di Milan, Italia dan Dewi Maya di South Carolina, Amerika Serikat.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menelusuri makna hidup minimalis dari sudut pandang keseharian hingga industri kreatif seperti fesyen.

Sebagai jurnalis lepas dan kontributor media, Rizka yang tinggal di kota Rimini, Italia, mengawali dengan menggambarkan bahwa hidup minimalis baginya berarti hidup secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

“Buat saya, minimalisme bukan sekadar gaya hidup lucu-lucu. Tapi trik untuk menghadapi tantangan hidup,” ujarnya.

Rizka menekankan bahwa hidup di kota di Italia dengan ruang yang terbatas menuntut masyarakat untuk berbagi ruang dan fasilitas.

Dari apartemen kecil hingga taman umum, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya bersama—konsep minimalis yang kolektif, bukan individual.

Uniknya, meski Italia dikenal sebagai pusat mode dunia, Rizka mengungkapkan bahwa masyarakatnya justru sangat sadar akan esensi dan kualitas.

Gaya hidup old money atau professional style menjadi bentuk minimalisme tersendiri: membeli barang berkualitas tinggi sebagai investasi jangka panjang, bukan demi tren sesaat.

Sementara itu, Dewi, seorang desainer yang berbasis di South Carolina, AS, berbagi refleksinya setelah bertahun-tahun terjun di industri fashion. Ia mengaku bahwa kesadaran minimalis datang seiring pengalaman dan kedewasaan.

“Dulu, aku ikut tren terus. Tapi makin ke sini, aku sadar: fungsi lebih penting dari estetika sesaat,” katanya.

Dewi kini fokus mengembangkan karya berbasis slow fashion dan upcycled materials. Ia pernah membuat fashion show yang menggunakan tas-tas daur ulang dari plastik dan aktif bekerja sama dengan UKM Indonesia untuk memproduksi barang handmade dari jarak jauh.

Menurutnya, masyarakat Amerika cukup menghargai produk yang etis dan tahan lama. Kesadaran lingkungan dan preferensi terhadap kualitas menjadi alasan kuat mengapa minimalisme dalam fashion menjadi semakin relevan.

Baik Rizka maupun Dewi sepakat bahwa minimalisme tidak harus berarti “pelit” atau kekurangan. Justru, ini soal menyadari kebutuhan dan memprioritaskan fungsi, nilai, dan keberlanjutan. Beberapa tips yang mereka bagikan:

  • Gunakan kembali dan berbagi: dari baju bayi hingga buku, banyak bazar dan platform second-hand di Eropa.
  • Pilih bahan berkualitas: barang yang tahan lama bisa menjadi investasi, bahkan bisa diwariskan atau dijual kembali.
  • Kurasi lemari baju: lebih baik punya sedikit baju yang cocok dan fungsional daripada lemari penuh tren yang cepat usang.
  • Belanja dengan kesadaran: apakah barang ini akan berguna lama? Siapa yang membuatnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?

Diskusi IG LIVE ini bukan sekadar tentang gaya atau tren, tapi soal cara memaknai hidup dengan lebih sederhana dan sadar.

“Di Italia, ada musim untuk bekerja keras, dan ada musim untuk istirahat dan menikmati hidup. Itu yang membuat hidup terasa seimbang,” ungkap Rizka sambil tersenyum di sela liburannya di pantai.

Akhir sesi terasa seperti pelukan hangat—dua perempuan Indonesia dari dua benua membuktikan bahwa hidup lebih sedikit bukan berarti kehilangan, tapi justru menemukan kembali makna, kesadaran, dan ruang untuk bernapas.

Simak selengkapnya Diskusi IG LIVE Episode Juli 2025 di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(CERITA SAHABAT) Praktik Gaya Hidup Minimalis yang Tak Mudah: Mulai dari Finansial ke Usaha Rumahan di Polandia

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Lina, yang tinggal di Polandia. Sehari-hari, saya beraktivitas mengelola usaha Dapur Tempeh dan pastry, yang juga menjadi hobi saya. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini, terutama membagikan pengalaman, pengamatan, dan pendapat saya terkait gaya hidup minimalis. 

Gaya hidup minimalis kini menjadi trend tersendiri bagi pencintanya. Menurut saya, gaya hidup minimalis adalah gaya hidup yang fokus pada kesederhanaan. Sederhana memang! Saya pikir gaya hidup minimalis tidak mudah dijalani, di tengah kehidupan moderenitas yang serba mudah dan instan. Jujur, saya sendiri belum sepenuhnya tertarik menjalankan gaya hidup minimalis. Alasannya, gaya hidup minimalis tidak mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sejak tinggal di Polandia, saya dan suami sedang belajar dan berusaha menerapkan gaya hidup sederhana dalam kehidupan keluarga kami. Kami juga memiliki dua anak kecil. Kami pun lebih memilih untuk fokus pada hal-hal penting untuk kebutuhan keluarga daripada keinginan pribadi.

Saya pikir, konsep minimalisme memiliki beberapa kategori. Mungkin ini yang memengaruhi cara saya dalam menjalani hidup sehari-hari di Polandia. Misalnya, kami sedang menjalani konsep minimalisme finansial. Minimalis finansial artinya gaya hidup  yang mungkin lebih mengarah pada pengelolaan keuangan, agar kami lebih bijak dalam menggunakan uang.

Sebagai contoh, kami hanya melakukan transaksi dengan uang tunai atau debit. Bagi kami, ini adalah pilihan hidup yang smart, karena hal yang kami lakukan sangat berpengaruh pada pengendalian diri dan mental. Kami tidak stres dengan tekanan untuk mengembalikan kredit, yang pernah saya alami saat masih muda dan belum berkeluarga.

Sahabat Ruanita, gaya hidup minimalis itu bermacam-macam ya dan bisa dipilih sesuai kebutuhan dan keinginan. Tentunya, ada banyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkannya. Saya sendiri masih kesulitan untuk menemukan barang yang sesuai dengan kebutuhan saya, agar dapat menerapkan gaya hidup minimalis tersebut.

Saya ingin tampil cantik dan sudah terbiasa membeli Skincare yang saya bawa dari Jepang. Rupanya, skincare tersebut tidak cocok dengan iklim di Polandia. Pada akhirnya, saya harus merogoh kocek lebih lagi karena saya membeli berbagai merek Skincare untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan kulit saya. Awalnya, saya ingin berhemat tetapi nyatanya saya malahan melakukan pemborosan. 

Sejak tinggal di Polandia, saya tidak menemukan perbedaan pandangan mengenai gaya hidup minimalis antara masyarakat Polandia dan Indonesia. Menurut saya, memilih hidup sederhana bukanlah budaya suatu negara, melainkan pilihan pribadi masing-masing. 

Selain itu, ada juga perbedaan cara penerapan minimalisme yang bergantung pada status perkawinan. Gaya hidup orang yang memiliki anak dengan orang lajang atau orang yang hidup tanpa anak, tentu akan berbeda. Sahabat Ruanita, gaya hidup minimalis itu tergantung pada pilihan masing-masing, bukan pada bagaimana budaya orang tersebut dibesarkan.

Setelah kami memutuskan minimalis finansial, kami selalu mempertimbangkan apakah barang yang akan dibeli itu benar-benar berguna dan tahan lama. Misalnya, saat membeli baju anak, kami akan membeli satu ukuran lebih besar agar bisa dipakai selama setahun, mengingat anak-anak tumbuh dengan cepat.

Dalam hal memasak, kami biasa memasak dengan porsi yang cukup, sehingga makanan tidak terbuang begitu saja. Selanjutnya, saya yang sekarang sedang mengelola usaha pun, saya hanya berinvestasi pada hal-hal yang benar-benar dapat mengembangkan usaha saya

Kembali tentang kebiasaan hidup di Polandia, yang mendukung gaya hidup minimalis, jujur saya tidak mengetahui banyak tentang kebiasaan budaya Polandia. Namun, yang saya perhatikan, orang Polandia lebih menyukai makanan rumahan daripada berkumpul di rumah makan, seperti halnya keluarga suami saya.

Selain itu, saya sepenuhnya belum dapat menjalankan kehidupan minimalis, yang seimbang antara pekerjaan, kehidupan sosial, dan waktu pribadi saya. Saya masih sibuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus mengelola bisnis kecil saya, sehingga hampir tidak ada waktu untuk bersosialisasi.

Sehari-hari, saya sibuk mengelola usaha tempeh dan pastry. Usaha saya ini berawal dari pengalaman saya tinggal selama 13 tahun di Jepang. Di waktu senggang, saya mengikuti kursus pastry di Jepang, karena kue-kue di sana sangat ringan dan enak.

Sewaktu saya masih lajang, saya berkeinginan untuk membuat kue-kue tersebut untuk keluarga saya. Pada akhirnya saat pindah ke Polandia, saya memutuskan untuk membuka usaha dengan menerima pesanan kue. Kebetulan, kemampuan bahasa Polandia saya masih kurang memenuhi persyaratan untuk bekerja di Polandia.

Sementara untuk usaha tempeh yang saya tekuni, ini semua berawal dari pengalaman saya tinggal di Jepang, yang mana saya belajar langsung dari pengrajin tempe di sana. Selain tempe adalah makanan kesukaan saya sejak kecil, saya juga terinspirasi untuk membuat usaha tempe dari beliau di Jepang.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang cukup menarik dari masyarakat Polandia sendiri, terutama mereka yang adalah vegetarian. Pembeli kami mengaku puas dengan tempeh yang dipesannya. Alasannya, mereka sudah pernah ke Indonesia dan menikmati tempeh di sana. Lainnya, mereka juga suka dengan tempeh buatan saya, meskipun ada yang mengeluhkan bau fermentasi tempeh. 

Dalam mengelola usaha tempeh dan pastry, tentunya tidak mudah dan memiliki kendala seperti bahan baku. Untuk pastry misalnya, tersedia berbagai jenis tepung terigu di Polandia, sehingga saya harus mencoba beberapa kali agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan untuk tempe, tantangannya adalah sulitnya menemukan kacang kedelai berkualitas baik, agar tidak remuk saat proses pengupasan kedelai.”

Kembali ke gaya hidup minimalis dengan usaha rumahan, saya banyak mengunakan sistem pre-order agar produksi lebih tetap sasaran dan menghindari makanan terbuang. Saya juga banyak membagikan inspirasi saya mengelola usaha lewat akun Instagram saya, termasuk tentang video cara mengolah tempeh. 

Di Polandia, warga di sini selalu memberikan apresiasi yang positif atas apa saya yang kerjakan. Tentu, ini berbeda dengan kata-kata negatif yang kadang-kadang diterima dari orang Indonesia seperti: ‘Untuk apa buang waktu, buat sendiri lebih murah,’ atau menerima dan berkata, ‘Ah, biasa saja, lumayan!”

Sejak tinggal di Polandia, saya menyadari ada regulasi ketat terhadap kemasan makanan, sehingga pilihan kemasan yang dijual terbatas. Di Indonesia, kita bisa memiliki banyak variasi, misalnya memakai daun pisang untuk membungkus tempeh karena daun pisang begitu mudah didapatkan.

Dengan pilihan gaya hidup minimalis, saya memilih kemasan yang dapat digunakan kembali untuk kue-kue kering saya. Saya pun masih memasak dan menyediakan makanan di rumah adalah masakan Indonesia. Untuk acara ulang tahun atau acara tertentu, kami biasanya mengundang saudara-saudara suami untuk makan di rumah. Tentu saja, saya selalu memasak makanan Indonesia untuk mereka.

Sahabat Ruanita, hidup sebagai perempuan perantau tentu saja mengajarkan kemandarian baik dalam mengelola keuangan, tantangan keluarga, maupun kehidupan sosial.

Saya sendiri masih sedang belajar menerapkan gaya hidup minimalis, yang tentunya masih banyak sekali tantangan. Menurut saya, gaya hidup minimalis ini penting untuk diterapkan. Ketika kita memilih hidup sederhana, kita lebih dapat fokus pada hal – hal yang lebih penting. Langkah ini pastinya dapat menciptakan dunia yang lebih baik, terutama pada lingkungan. 

Penulis: Lina, yang tinggal di Polandia dan dapat dikontak via akun instagram: dozo_bialystok. Lina juga mengelola usaha tempeh dan dapat dikontak via akun instagram: dapur_tempeh

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Temui KemenPPPA Bahas Perlindungan Hak Perempuan

Jakarta, 3 Juli 2025 — Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) pada Kamis, 3 Juli 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama strategis dalam upaya perlindungan dan pemberdayaan perempuan, khususnya dalam konteks transnasional.

Audiensi tersebut dihadiri oleh dua perwakilan relawan Ruanita, yakni Asti Tyas Nurhidayati  yang hadir langsung di Jakarta dan Natasha Hartanto  yang turut serta dalam diskusi. Tim Ruanita disambut oleh Ibu Irjen Pol (Purn.) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA.

Dalam pertemuan tersebut, tim Ruanita memaparkan visi dan misi organisasi sebagai ruang aman dan kolektif bagi perempuan Indonesia di mancanegara. Ruanita berbagi pengalaman lapangan mengenai isu-isu yang dihadapi perempuan Indonesia dalam situasi transnasional, termasuk pentingnya dukungan kesehatan mental, akses konseling berbasis bahasa ibu, serta manajemen berbasis nilai.

“Kami percaya bahwa perlindungan perempuan tidak mengenal batas negara. Ruanita hadir untuk menjembatani kebutuhan perempuan Indonesia di luar negeri dengan pendekatan berbasis komunitas, intervensi psikososial, dan nilai kemanusiaan,” ujar Asti Tyas Nurhidayati dalam sesi diskusi.

KemenPPPA menyambut baik inisiatif Ruanita dan menyatakan terbuka untuk menjalin komunikasi lanjutan serta kerja sama strategis, khususnya dalam menyentuh komunitas WNI perempuan yang berada di luar negeri namun tetap menjadi bagian penting dari bangsa Indonesia.

Pertemuan ini menjadi langkah awal yang signifikan bagi Ruanita dalam memperkuat jejaring kelembagaan dan membuka ruang kolaborasi konkret bersama KemenPPPA di masa depan. Diharapkan, kolaborasi ini dapat memperluas jangkauan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia lintas batas negara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Ruanita, kunjungi situs resmi di http://www.ruanita.com atau hubungi tim komunikasi Ruanita di info@ruanita.com.

Narahubung: Asti Tyas Nurhidayati (Relawan Ruanita di Islandia) dengan kontak E-mail: info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Ruanita Kerja Sama dengan KemenPPPA dan KBRI Berlin Gelar Diskusi Daring Interaktif Bertema Program Au Pair di Eropa Barat & Skandinavia

JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daring www.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.

Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.

Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.

Follow us

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.

Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.

Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.

Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.

Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.

Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:

  • Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
  • Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.

Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.

Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.

Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.

Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.

“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.

Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.

Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.

Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.

Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.

Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com

Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:

(IG LIVE) Perempuan Wirausaha di Negeri Rantau: Cerita Nyata dari Taiwan dan Polandia

Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.

Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha

Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.

Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.

Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.

Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.

Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.

Follow us

Strategi Bisnis dan Peluang Pasar

Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.

Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.

Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.

Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.

Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.

Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.

Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri

Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.

Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.

Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.

Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.

Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya

Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.

Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Trauma-Informed Yoga: Ruang Aman untuk Pulih dan Terhubung

Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.

Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.

Mengenal Sosok Bernadia

Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).

Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.

“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.

Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.

Follow us

Apa Itu Trauma-Informed Yoga?

Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.

Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.

Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.

“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.

Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.

Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.

Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.

Empat Pilar Trauma-Informed Yoga

Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:

  1. Mengalami Momen Saat Ini
    Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
  2. Membuat Pilihan
    Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
  3. Mengambil Aksi yang Efektif
    Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
  4. Membangun Ritme dan Keterhubungan
    Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.

Praktik yang Lembut dan Aksesibel

Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.

Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.

Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.

Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.

Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.

Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.

Tidak Mengkualifikasi Pengalaman

Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.

Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.

“Pengalaman tiap orang berbeda.

Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.

Peran Fasilitator yang Empatik

Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.

Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.

Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan

Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.

Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.

Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.

Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.

“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.

Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap

Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.

Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.

Komitmen Ruanita Indonesia

Program Cerita Sahabat Spesial merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menyediakan ruang aman, suportif, dan inklusif bagi komunitas untuk tumbuh dan pulih bersama.

Melalui platform ini, kisah-kisah inspiratif dan pendekatan penyembuhan yang beragam dibagikan untuk membuka percakapan, membangun empati, dan memperluas wawasan tentang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.

Edisi kali ini adalah pengingat bahwa yoga bukan sekadar soal fleksibilitas tubuh, tapi juga tentang self-care pada diri sendiri. Tentang pilihan, kesadaran, dan koneksi.

Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Manfaat Musik Untuk Kesehatan Mental

Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.

Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.

Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing. 

Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.

Follow us

Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?

Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.

Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.

Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.

Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.

Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.

Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.

Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang  dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.

Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.

Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.

(PODCAST IN ENGLISH) Meretas Batas: Perjalanan Perempuan Indonesia Menempuh Studi di Luar Negeri

Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, perempuan Indonesia kini tampil lebih berani melangkah ke ranah global. Podcast Jibber-Jabber edisi ketiga, hasil kolaborasi Ruanita Indonesia dan PPI Dunia, menghadirkan kisah inspiratif dari Widhi—seorang mahasiswi PhD di Bordeaux, Prancis—yang berbagi pengalaman hidup dan belajarnya di berbagai negara Eropa.

Studi di luar negeri kini bukan lagi sekadar mimpi, melainkan peluang nyata yang semakin terbuka bagi perempuan Indonesia. Widhi memulai kisahnya dengan menjelaskan bahwa fenomena ini sejalan dengan perubahan paradigma di masyarakat. “Sekarang bukan lagi bertanya ‘bisakah saya?’, tetapi ‘di mana saya bisa mulai?’,” ujarnya.

Follow us

Menurutnya, perempuan Indonesia kini lebih sadar akan potensi mereka. Mereka tidak hanya mengejar pendidikan tinggi di luar negeri, tetapi juga terlibat aktif dalam penelitian, mendirikan startup, bahkan berperan di lembaga internasional. PPI Dunia, tempat Widhi berperan sebagai Kepala Divisi Teknologi dan Industri, menjadi salah satu platform penting dalam mendukung aspirasi perempuan Indonesia di luar negeri.

Meski penuh peluang, jalan untuk belajar di luar negeri tidak selalu mulus. Tantangan datang dalam berbagai bentuk: perbedaan budaya, kendala bahasa, hingga kerinduan pada keluarga. Widhi membagikan pengalamannya tinggal di berbagai negara—Polandia, Prancis, Belgia, hingga Inggris—yang masing-masing memiliki bahasa dan budaya berbeda.

Salah satu tantangan unik yang ia hadapi sebagai perempuan berhijab adalah bagaimana orang-orang asing menanyakan alasan ia mengenakan jilbab. “Itu jadi momen refleksi dan edukasi juga,” ungkapnya. Di sisi lain, tantangan bahasa menjadi masalah praktis sehari-hari. Widhi menekankan pentingnya mempelajari bahasa lokal agar bisa berintegrasi lebih baik dalam masyarakat dan dunia kerja.

“Jika ingin bekerja di negara Eropa, mengenal bahasanya adalah nilai tambah besar. Ini menunjukkan kita berusaha untuk menghargai dan menyatu dengan budaya mereka,” tambahnya.

Beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda juga bukan hal mudah. Widhi menyoroti bahwa sistem akademik di Eropa mendorong kemandirian dan partisipasi aktif dalam diskusi. “Kita didorong untuk mengajukan ide, mengkritisi teori, dan membela argumen kita—meski kita sendiri belum yakin sepenuhnya,” katanya sambil tersenyum.

Baginya, ini sangat berbeda dari sistem di Indonesia yang cenderung lebih terstruktur dan berorientasi pada instruksi. Namun, ia melihat ini sebagai bentuk pertumbuhan intelektual yang membentuk kemandirian dan ketangguhan.

Selain tantangan akademik, aspek personal juga menjadi ujian tersendiri. Hidup jauh dari keluarga, mengatur keuangan sendiri, serta menghadapi momen-momen penting seperti Idul Fitri tanpa keluarga adalah hal yang tidak mudah.

Namun Widhi menemukan cara untuk mengubah kerinduan menjadi kekuatan. Di hari raya, ia memasak rendang dan opor, lalu mengundang teman-teman dari berbagai negara untuk makan bersama. “Saya ingin menciptakan rasa rumah, meski jauh dari rumah. Ini juga jadi momen untuk memperkenalkan budaya kita ke dunia,” jelasnya.

Lebih dari sekadar berbagi makanan, momen seperti ini menjadi bukti bahwa ‘rumah’ tidak lagi sebatas tempat asal, tapi sesuatu yang bisa diciptakan, dibawa, dan dibagikan.

Di balik tantangan, banyak pula pengalaman yang memperkaya. Widhi mengaku salah satu momen paling membanggakan adalah saat ia melakukan riset di perusahaan global Umicore di Belgia. Di sana, ia terlibat langsung dalam pengembangan material baterai generasi terbaru. “Saya merasa semua teori yang saya pelajari akhirnya menjadi nyata dan berguna,” ujarnya.

Ia juga menjalani magang musim panas di Slovenia, yang membantunya menemukan passion-nya dalam bidang riset elektrolit untuk baterai. “Di sinilah saya benar-benar menemukan siapa saya dan apa yang ingin saya capai ke depan,” tambahnya.

Salah satu pesan penting dari Widhi dalam podcast ini adalah pentingnya memperluas lingkaran pertemanan lintas negara. “Banyak pelajar Indonesia yang hanya berteman dengan sesama orang Indonesia. Padahal pengalaman terbaik justru datang saat kita membuka diri untuk belajar dari budaya lain,” katanya.

Melalui interaksi dengan teman-teman dari India, Prancis, Jerman, dan negara lainnya, Widhi belajar memahami berbagai perspektif dan cara hidup. Ini, katanya, adalah pelajaran kehidupan yang tak ternilai dari studi di luar negeri.

Di akhir sesi, Widhi memberikan pesan penuh semangat: perempuan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di kancah global, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata. “Kita tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga untuk membawa perubahan, baik secara akademik maupun sosial.”

Podcast ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan pribadi, tapi juga seruan kolektif bahwa perempuan Indonesia mampu, layak, dan siap untuk berdiri di panggung dunia.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.

Simak diskusi seru berbahasa Inggris berikut ini yang dipandu oleh Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia:

(CERITA SAHABAT) Dari Au Pair ke Mahasiswi: Pertukaran Budaya dan Tantangan Tinggal di Finlandia

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Lina Herliana. Aku perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Finlandia dan sedang menjadi mahasiswi di tingkat akhir. Perjalananku ke sini bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang kualami—kegagalan, penolakan, kesepian, musim dingin yang tak mudah, dan juga berbagai tantangan yang muncul ketika aku berani mencoba lagi hingga di titik ini sekarang. 

Kali ini ini, aku ingin bercerita pada sahabat Ruanita semua tentang bagaimana aku bisa menjadi peserta program Au Pair di usia 27 tahun, yang mana pada saat ini batas usia program Au Pair adalah 26 tahun, lalu akhirnya aku bisa berstatus sebagai mahasiswi di negeri yang jauh dari tanah air.

Semuanya bermula dari satu keinginan: aku ingin tinggal di Belanda. Alasan utamanya karena aku ingin bisa lebih sering bertemu nenekku yang tinggal di sana. Namun, waktu itu usiaku sudah 27 tahun, dan banyak program tinggal di luar negeri—termasuk program au pair—yang memiliki batasan usia maksimal 26 tahun. Aku sempat bingung, sehingga aku mulai mencari cara lain agar bisa tetap ke Eropa, terutama ke Belanda.

Dari hasil berselancar di Google dan nonton beberapa channel YouTube, aku mengenal program Au Pair. Aku mulai mencari tahu lebih dalam dan akhirnya mendaftar di situs aupairworld.com. Aku sempat beberapa kali wawancara dengan calon host family di Belanda, tapi sayangnya tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Belanda menggunakan visa schengen dan mendaftarkan diri sebagai relawan di organisasi migran dan multikultural di sana.

Follow us

Aku sempat tinggal di Belanda selama lebih dari sebulan, menjadi volunteer, dan dari situ temanku menyarankan untuk mencoba lagi untuk mendaftar Au Pair. Aku kembali membuka akun lamaku di situs Au Pair, dan tanpa ekspektasi besar, aku mengubah lokasi ke Finlandia. “Siapa tahu beruntung,” pikirku waktu itu.

Ternyata benar. Dalam waktu 24 jam, aku langsung mendapat balasan dari salah satu keluarga di Finlandia. Kami berdiskusi dan dalam satu hari kami sudah sepakat. Bulan berikutnya, aku pun berangkat ke Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia menerapkan batas maksimal apply program Au Pair adalah 30 tahun. Beruntungnya, saat aku apply di Finlandia, usiaku masih belum sampai 30 tahun. 

Awalnya aku masuk Finlandia masih dengan visa schengen dari Belanda. Baru kemudian aku mengajukan visa au pair dari Finlandia langsung. Prosesnya tidak mudah. Pengajuanku sempat ditolak oleh imigrasi Finlandia karena sertifikat bahasa yang aku lampirkan dianggap kurang resmi.

Untungnya, host family-ku sangat mendukung. Mereka sampai menyewa pengacara untuk mengajukan banding. Kami harus menunggu hampir dua tahun sampai visa itu akhirnya keluar. Aku mengajukan permohonan pada Maret 2019, dan baru mendapat visa pada Januari 2021. Proses panjang itu benar-benar menguji kesabaran, tapi aku bersyukur, host family-ku tetap percaya dan memperjuangkan aku.

Setelah beberapa waktu tinggal di kota Tampere, aku pindah ke Helsinki. Di sana aku bekerja penuh waktu di sebuah restoran cepat saji. Restoran itu juga yang membantu proses perpanjangan izin tinggalku. Sambil aku menunggu perpanjangan visa, ibuku wafat di Indonesia. Aku benar-benar sedih saat itu, karena aku tidak bisa pulang untuk menunggu proses pengajuan perpanjangan visa yang belum selesai.

Selain itu, pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi, di mana aku ditolak lagi oleh imigrasi. Namun, aku berhasil mendapat bantuan dari pengacara publik (yang di sini gratis), dan akhirnya berhasil mendapatkan keputusan positif. Saat itu, aku bekerja selama enam bulan sambil mencoba mendaftar kuliah—sekadar mencoba keberuntungan saja.

Aku memang sejak dulu tertarik dengan dunia kuliner. Suatu hari, iklan pendaftaran kuliah muncul di timeline Instagram-ku. Padahal waktu itu pendaftaran sebenarnya sudah tutup. Aku tetap coba apply, dan tiga bulan kemudian aku mendapat undangan wawancara. Ternyata, aku diterima!

Katanya, karena ada mahasiswa yang keluar, dan mereka kekurangan orang. Rasanya seperti tidak dapat dipercaya, aku bisa berkuliah di Finlandia. Aku akhirnya menjadi mahasiswi di bidang culinary di Finlandia.

Salah satu hal yang membuatku bersyukur bisa belajar di sini adalah karena sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik. Untuk pemegang izin tinggal tipe A seperti aku, kami bisa mengakses pendidikan secara gratis, bahkan mendapat bantuan dari pemerintah. Aku menerima housing allowance dan study support yang cukup untuk membantuku bertahan hidup di sini. Tentu, aku tetap harus mandiri dalam hal makan dan transportasi, tapi dukungan itu sangat berarti—terutama bila dibandingkan dengan apa yang aku bisa akses di negara sendiri.

Budaya Finlandia juga sangat berbeda. Salah satu culture shock paling besar adalah soal sauna. Di sini, sauna adalah bagian penting dari kehidupan. Mereka biasa beramai-ramai masuk sauna tanpa busana. Aku tidak bisa dan sampai sekarang belum pernah ikut sauna bareng orang lain. Buatku, aku bisa memiliki batas pribadi yang tetap aku jaga karena aku adalah orang Indonesia.

Soal bahasa, aku justru senang. Aku memang suka belajar bahasa baru, jadi tidak kesulitan berkomunikasi. Namun, hal yang sulit justru datang dari musim dingin yang panjang dan ekstrem. Di bulan November dan Desember, Finlandia sangat gelap dan dingin—matahari hampir tidak muncul. Rasanya sangat sepi dan menekan. Tahun-tahun pertama aku tidak terlalu terpengaruh, tapi setelah 3-4 tahun tinggal di sini, dampak musim dingin itu mulai terasa secara mental.

Untuk menjaga kewarasan, aku biasanya mencoba menghibur diri. Anak-anak di keluarga – tempat aku tinggal – mereka suka sekali bermain salju. Jadi, kami sering bermain bersama. Kadang juga kami pergi ke Lapland, ke tempat Santa Claus, dan mencoba olahraga musim dingin. Itu lumayan mengangkat suasana hatiku karena musim dingin di Finlandia.

Sahabat Ruanita, aku pernah juga mengalami hal yang menyakitkan sebagai Au Pair. Pengalaman paling menyakitkan selama menjadi Au Pair, terjadi di bulan terakhir masa tugasku. Hanya karena aku menolak ikut ke summer cottage untuk mengasuh anak-anak, host family-ku tiba-tiba memintaku keluar dari rumah. Aku bahkan tidak menerima uang saku di bulan itu. Rasanya seperti ditendang tanpa peringatan.

Untungnya, aku sudah punya keluarga baru yang siap menerima aku dua minggu kemudian. Sambil menunggu mereka yang sedang liburan, aku kembali ke Belanda untuk sementara. Setelah itu, aku kembali ke Finlandia dan langsung pindah ke rumah host family yang baru.

Pengalaman itu sangat memengaruhi kondisi psikologisku. Namun, di sisi lain, itu juga membuatku lebih kuat dan lebih sadar bahwa hidup di perantauan membutuhkan ketegasan dalam membangun batas diri. Aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus siap dengan segala kemungkinan.

Sebagai mahasiswi kuliner yang juga seorang muslim, aku pernah khawatir akan diminta memasak makanan yang bertentangan dengan prinsipku. Tapi ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di sini, para pengajar sangat menghormati pilihan pribadi. Aku selalu terbuka dan jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan, dan mereka justru mencari pengganti bahan yang sesuai.

Toleransi di Finlandia cukup tinggi. Selama kita jujur dan terbuka, mereka tidak akan memaksa. Itu hal yang membuatku semakin nyaman belajar di sini.

Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun, kalau aku tanya langsung ke orang Finlandia, mereka sendiri sering merasa tidak selalu bahagia. Tingkat depresi di sini juga cukup tinggi. Tapi yang membuat Finlandia layak disebut negara bahagia adalah karena kesejahteraan warganya sangat terjamin, sistem pendidikannya bagus, dan mereka sangat mencintai alam.

Dan aku pun merasa bahagia di sini. Aku merasa disupport secara nyata—sesuatu yang tidak aku dapatkan di negara sendiri.

Kalau kamu ingin datang ke Finlandia sebagai Au Pair atau mahasiswa, ada dua hal yang harus kamu siapkan: fisik dan mental menghadapi musim dingin, serta kesiapan menghadapi masyarakat yang sangat introvert. Orang Finlandia tidak suka basa-basi. Mereka tidak mudah tersenyum atau memulai percakapan. Jadi, jangan cepat merasa ditolak.

Selain itu, kamu juga harus open-minded, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya dan agama. Jangan terlalu kaku dengan aturan pribadi yang tidak fleksibel, karena justru itu yang bisa membuatmu kesulitan beradaptasi.

Dan yang tak kalah penting, dukungan keluarga juga sangat berarti. Tidak semua orang tua Indonesia rela melepas anaknya tinggal di luar negeri, apalagi ikut program au pair yang belum terlalu umum.

Aku berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan para Au Pair di luar negeri, terutama di negara-negara seperti Finlandia yang belum punya badan perlindungan resmi. Kalau terjadi sesuatu seperti yang kualami dulu—diusir tanpa alasan yang jelas—tidak ada tempat bagi kami untuk mengadu.

Kalau bisa, dibuatlah kerja sama bilateral agar ada sistem pengawasan dan perlindungan yang jelas. Program Au Pair ini sebenarnya positif. Banyak orang Indonesia yang mendapat pengalaman dan peluang hidup baru dari sini. Sayang sekali kalau potensi itu tidak dimaksimalkan atau malah membiarkan risiko-risiko tanpa perlindungan hukum.

Sahabat Ruanita, itulah sepotong perjalanan hidupku yang penuh putaran, dari Indonesia ke Belanda, lalu akhirnya ke Finlandia. Dari relawan, menjadi Au Pair, hingga kini menjalani hidup sebagai mahasiswi di negara yang memberiku ruang untuk tumbuh dan belajar.

Mungkin sahabat Ruanita yang membaca ini juga sedang mencari jalan. Kalau iya, semoga kisahku bisa jadi pengingat: jalan itu mungkin panjang dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditempuh.

Penulis: Lina Herliana, yang tinggal di Finlandia dan dapat dikontak via akun instagram linaherl_

(PODCAST RUMPITA) Mulai dari Tri Hita Kirana ke Waste Management: Studi S2 di Italia

Diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – hadir setiap bulan dengan berbagai tema, termasuk di bulan Juni ini dengan tema lingkungan hidup.

Melanjutkan episode ke-38, diskusi podcast RUMPITA mengundang sahabat Ruanita yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Milan, Italia. Dia adalah Ni Made Asri Wahyuni, yang meneliti keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku buang sampah di Bali.

Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Novi di Norwegia dan Anna. Kebetulan Novi pernah menggeluti bidang lingkungan hidup sewaktu masih bekerja di Indonesia.

Novi sendiri mengamati saat berlibur di Bali beberapa waktu lalu, bahwa objek wisata yang dikenal dunia itu sudah banyak mengalami perubahan, termasuk tumpukan sampah yang tak sedap dilihat.

Bagi Asri yang lahir dan besar di Bali, perilaku membuang sampah orang Bali kini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan plastik yang dianggap praktis dan efisien.

Padahal dulu orang Bali lebih menggunakan daun dan menyatukan sampah organik begitu saja, karena hanya sampah dapur dan sampah ritual upacara adat.

Follow us

Ketertarikan Asri meneliti perilaku membuang sampah didasari oleh fenomena sosial tentang Bali yang kotor oleh tumpukan sampah.

Sebagai pusat pariwisata dunia, Asri yang juga kerap disapa Made ini juga mengingatkan kearifan lokal warga Bali, yang terpaut dengan perspektif Tri Hita Karana.

Asri atau Made pernah bergabung sebagai aktivis lingkungan sebelum dia melanjutkan studi S2 di Italia.

Beliau merasa telah banyak banjar atau komunitas masyarakat di Bali yang menerapkan pemilahan sampah atau menerapkan pemanfaatan sampah organik untuk kebutuhan masyarakat sendiri.

Dari pengamatannya tersebut, Asri pun meneliti perilaku membuang sampah dengan perspektif kearifan lokal yang sudah dialami oleh warga Bali sendiri.

Apa itu Tri Hita Karana? Bagaimana keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku membuang sampah? Apa hasil penelitian Asri sendiri untuk rekomendasi masyarakat di Bali? Apa pesan Asri yang juga menjadi aktivis lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia?

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW akun kami berikut:

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Cerita Horor ke Cerita Supranatural di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami. 

Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar. 

Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil:  ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi. 

Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis. 

Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi. 

Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul  04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya. 

Follow us

Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek. 

Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.

Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu,  tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut. 

Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa. 

Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.

Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian. 

Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya  mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi. 

Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam.  Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya  pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh,  seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun. 

Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan  manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya. 

Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana.  Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya. 

Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra.  Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut. 

Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.  

Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno. 

Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup. 

Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.

Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya. 

Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.