Atas nama kemanusiaan, seorang aktivis renta berbicara lirih, sepanjang hidupnya ia mengukur jalan mendampingi mereka yang terusir dari gang-gang sempit yang kini berdinding beton.
Atas nama kemanusiaan, wajah seorang pengusaha terpampang di poster, senyumnya tak pernah absen dari beragam kajian, sambil menghitung laba dari proyek bantuan yang menjual air mata anak-anak yatim.
Atas nama kemanusiaan, seorang politikus berjanji dengan heroik sekuat tenaga memulangkan sang pemangsa, yang memperkosa puluhan lelaki di negeri seberang
Perempuan diberikan kelembutan, Diberikan kekuatan, dan diberikan kemampuan penyembuh dari Ibu Bumi
Perempuan, menahan sakit 9 sembilan bulan demi kebaikan Mampu meredam kemarahan saat terpinggirkan Mampu merusak saat ditindas Menjadi si bijak kala dilupakan
Perempuan dihadirkan dari doa Karema yang Agung Kami kuat, karena ditatar Maria Maramis Tak pamrih, karena ajaran Kartini
Tahun 1919, 1000 Perempuan hadir menyuarakan HAK politik Indonesia Tapi kini, perempuan dibatasi angka 30 persen Tapi, kami tak gentar Karena, kami Perempuan yang dijaga Ibu Bumi, adalah yang Terbaik.
Ibu Bumi memberiku Rahim Dan tak seorangpun berhak menjadi hakim! Tugasku………………. Membela semua keturunan Ibu Bumi Anakku Anakmu Anak mereka Anak kita semua Anak-anak keturunan Ibu Bumi.
Utas medsos rame dengan puan yang tinggal puing raga Femisida menyeruak satu demi satu terkuak Peluh dan pilu membasahi anak, ibu, bapak, dan saudara Di meja hijau ketok palu bebas menggelegar
Sementara di kampung seberang sungai Puan terdiam saat terima beda tunai Meski datang lebih awal, keringat lebih mengucur Bahkan saat haid pun susah minta libur
Di ruang-ruang kerja di kota Kaki puan terikat tanpa bisa lari kencang Posisi ini, itu … mustahil Perjuangan dikalikan nol … jadi nihil
Dalam ladang politik, puan seringkali gigit jari Penyelenggara lima, hanya satu yang boleh terisi Bagaimana bisa mengisi kursi Sudah ditentukan jumlah sebelum seleksi
Ada banyak karena … Pujian ayah yang berbeda atas prestasi yang sama Pun mbalung sumsumnya “Surga nunut, neraka katut” Puan hanyalah “kanca wingking” yang mesti nurut
Tidak bisa menunggu lagi …
Sebab menunggu untuk apa? Untuk siapa? Setiap detik dan intervalnya adalah anugerah Sang Pemberi Waktu yang mestinya puan merekahkan senyum
*Keket KaPe adalah nama pena Chatarina Pancer Istiyani FB: Chatarina Pancer Istiyani IG: Chatarina Pancer Istiyani YT: Chapaist Channel
Ia berkebaya menjuntai panjang Terus mencari-cari ketenangan pada sebuah legenda Meski kadang menjadi propaganda Tetapi tentu yang terjadi bukan risalah semata
Kadang aku tak paham mengapa perempuan dianggap mistis Mengapa tak pernah diberi ruang realitis? Apakah kita hanya hidup pada dunia magis? Atau sengaja dibiarkan guna-guna dan menangis?
Note : Nyi Rambut Kasih merupakan tokoh perempuan asal majalengka yang memiliki kemampuan ngahiyang (menghilang) ia terkenal cantik, sakti, dan berambut panjang menjuntai.
Marah! Kenong seperti sudah habis kesabaran, mengeluh tubuhnya dibentur kayu Gema monoton minta tolong, susup di bawah sadar. Kalau gini terus lama-lama aku bisa kesambet.
Rahimku dipenuhi janji kepalsuan Membesar, menyesak anyir bau nafas lelaki birahi.
Dia tak mungkin tau bagaimana menjadi bapak, kencing saja belum lurus. Apalagi aku, masa depanku petang. Bagaimana mau jadi ibu? dari sekolahpun aku ditendang.
“Cetarrrr!!” Angin yang dari tadi diam, mengumpat ditampar pecut Tubuh liuk, hilang ditelan ketidakadilan Tak ada menu lain, memang hanya beling yang bisa kumakan.
Aku perempuan ditikam takdir, menebus dosa syair jahanam rayuan setan.
Di antara riuhnya suara bising pandanganku kabur jauh tenggelam dalam diri yang asing Layaknya deru kehidupan yang selalu riuh Mengoyak gejolak isi kepalaku yang terasa penuh
Entah berapa kali aku berseru “Apakah aku masih utuh?” Jeritan batin menukik diantara hening malam yang gaduh Menerima takdir semesta dengan menggerutu “Bisakah KAU segera menjemputku?” Ucapku merayu sembari derai air menggenangi ujung kelopak mata yang sayu
Hingga aku tersadar bahwa diriku tak pernah utuh Bahkan untuk hidup yang katanya milikku Nyatanya kakiku lebam membiru dan mulutkupun membisu kaku Tidak selayaknya merpati yang kedua sayapnya terbang bebas jauh
Kata orang aku pasti mampu, ucap mereka dengan angkuh Yang pada kenyataannya aku hanya manusia yang rapuh Tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih hidupku Karena bagi mereka, aku hanya seorang Perempuan yang wajib patuh untuk mendapatkan surga Itu
Program Diskusi Podcast Rumpita – Rumpi by Ruanita Indonesia – tayang tiap bulan dengan berbagai tema yang ditawarkan. Pada episode Maret 2025 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema terkait perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap 8 Maret. Oleh karena itu, informan yang diundang adalah sahabat Ruanita yang tinggal di Swiss.
Dia adalah Sekar, yang telah lama tinggal di Swiss sejak tahun 2017, kini bekerja sebagai Business Analyst di perusahaan swasta yang menyediakan data-data finansial untuk kebutuhan kliennya.
Sekar sendiri secara profesional telah berhasil memimpin timnya yang terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang kebangsaan.
Sekar bercerita perjalanan kariernya yang tak mudah. Itu semua bermula dari pekerjaannya di Indonesia yang berurusan dengan perbankan. Tak puas dengan kariernya di Indonesia, Sekar memutuskan untuk mengambil studi lanjutan di Korea Selatan.
Para pendengar Podcast RUMPITA akan mendengar bagaimana perjalanan kuliah Sekar yang tak mudah juga di Korea Selatan, yang semula dibayangkannya indah seperti layaknya drama-drama yang disajikan dalam film asal negeri gingseng ini.
Kuliah belum selesai di Korea Selatan, Sekar bertemu dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Sekar pun memutuskan untuk pindah dan melanjutkan studi di Swiss.
Swiss merupakan negara maju yang tak mudah juga ditaklukan oleh Sekar seorang diri, ketika akhirnya dia harus menjadi Single Mom.
Lewat kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Swiss, Sekar tidak perlu bekerja banting tulang seratus persen agar dapat membesarkan anaknya.
Sekar bisa tetap merawat anaknya dan bekerja secara profesional. Meski telah berpisah dengan suami, Sekar pun berbagi peran dan tanggung jawab dengan anaknya untuk membesarkan anak mereka.
Simak diskusi podcast yang dipandu oleh Kristin dan Anna tentang perjalanan karier Sekar mulai dari Indonesia, Korea Selatan, hingga Swiss. Apakah mendapatkan pekerjaan di Swiss itu cukup hanya berbekal Bahasa Inggris saja?
Apa saja syarat-syarat untuk berkuliah di Korea Selatan dan di Swiss? Bagaimana Sekar berbagi peran dan tanggung jawabnya menjadi pekerja profesional dengan seorang Single Mom? Apa kiat-kiat Sekar untuk menjalani kehidupan kerja yang seimbang di Hari Perempuan Internasional ini?
Jangan lupa FOLLOW akun Spotify Rumpita, Rumpi by Ruanita Indonesia agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
jiwa puan seperti peta perang dan raganya adalah sisa lebam yang tak mungkin semula kadang cuma menuntut diam, kadang menuntut tunduk kuat, kuat, kuat, begitu orang cuma minta ia kuat;
bekas belur lebur itu kini mirip ruhnya ruh yang tak selalu bertutur itu ia tutup rapat dalam peti cekung pipinya menelan duka dalam punggung tunggal seakan malam tak pernah menagih air mata di punggungnya tertulis besar-besar : “tidak nenerima lelah”
dalam hening yang ia peluk erat ada bara menyala lirih bukan untuk melawan hanya untuk mengingat— luka melewati simbol kekalahan ia pagar gahar tanpa kelakar.
Hei, dengar! Kenalkan, aku adalah umbi jahe Aku bisa melawan parasit seperti ameba Yang diam-diam menggerogoti, perlahan membunuh tanpa diketahui Aku dijuluki umbi
Ya, umbi yang sering diremehkan Yang sering juga (dipaksa) kerja rodi Aku begitu kuat, dengan aroma khas aromatik Aku diberi nama tanaman rimpang Yang bisa kau ajak melawan Melawan ameba saja bisa Apalagi melawan oligarki
Lirik puisi: Sebuah buku Duduk nyaman di meja makan Di luar, sehelai koran Terbang terbawa senafas angin Seekor kucing Berjalan hati-hati melewati pintu kaca tanpa mencari apa-apa
Seorang istri Bernafas dalam cemas memandang suaminya Seonggok keprihatinan menunggu Setetes air mata mengalir turun mencari mulut supaya merasakan keasinannya Setelah semua berlalu Sebanyak prestasi apa yang perlu dikenal? Dan, apakah orang yang tak peduli akan perbuatannya, masih berperasaan? Mengapa, Amerika?
Nama Penulis: Matthew Eddy (dengan bantuan dari Yacinta Kurniasih)
Aku sudah mati beberapa kali,/ menguburkan diri pada harapan-harapan palsu,/ janji-janji tak bertuan,/ letupan api-api neraka/ ditekan sesamanya,/ disalahpersepsikan oleh dirinya sendiri//
Bangke!// Yang tersisa padaku adalah kehampaan/ Ketiadaan/ kosong!//
Maria, Maria!// Sampai kapan kau akan menggantungkan diri?/ pada palang salib bernama pelayanan,/ hutang budi?/ pada orang-orang yang bertuan kekuasaan,/ haus validasi?/
Hari ini diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tentunya, Ruanita Indonesia telah mempersiapkan berbagai program untuk merayakannya, termasuk menyiapkan diskusi IG LIVE yang menjadi program bulanan.
Pada episode Maret 2025, Ruanita Indonesia menggelar tema perempuan dalam inklusi dan komunitas global yang disuarakan oleh perempuan Indonesia di mancanegara.
Diskusi IG LIVE lewat platform instagram @ruanita.indonesia, Ruanita Indonesia mengundang informan yakni Go Suan Ny yang tinggal di Jerman dan menjadi survivor speaker bagi Ruanita Indonesia. Selain itu, ada Evita Haapavaara yang sedang berwirausaha di Finlandia dan telah tinggal sejak 30 tahun lalu di sana.
Diskusi dipandu oleh Rufi, Zukhrufi Sysdawita, yang menggali berbagai peran dan tantangan perempuan Indonesia seperti Suan Ny dan Evita di mancanegara. Suan Ny bercerita pengalamannya untuk melamar kerja di Jerman yang tak mudah.
Dia mengalami berbagai penolakan, yang membuatnya tidak patah arang untuk terus melamar kerja. Sejak kecelakaan tahun 2017, Suan Ny terpaksa hidup dalam kondisi yang sulit dan dia pun masih menjalani peran sebagai Single Mom.
Dia menyadari bahwa pandangan terhadap perempuan dengan disabilitas masih sering menjadi tantangan bagi Suan Ny. Dia ingin mengubah pandangan tersebut dan meyakinkan bahwa kemampuan seseorang tidak lagi dilihat dari kemampuan fisiknya semata.
Terbukti, Suan Ny berhasil menyelesaikan studi S2 di salah satu universitas di Jerman, padahal situasi Suan Ny yang mengalami keterbatasan fisik saat itu.
Suan Ny ingin membuktikan bahwa orang dengan disabililtas bukan orang bodoh dan tidak memiliki harapan untuk bekerja di dunia profesional.
Suan Ny ingin perspektif yang berbeda dan melihat dirinya bukan sebagai orang disabilitas (=orang yang tidak berdaya), melainkan orang difabel (=different able). Sebagai difabel, Suan Ny bisa menggunakan sendok atau mengetik komputer dengan cara berbeda daripada umumnya.
Lain Suan Ny, lain pula cerita Evita. Dia datang ke Finlandia sejak 1994, yang mana kelompok migran pada masa itu masih sangat kecil di Finlandia. Evita merasa bahwa pendidikannya di Indonesia yang ditempuhnya di Universitas Indonesia, mampu memberikannya kesempatan kerja di Finlandia.
Nyatanya itu tidak mudah! Evita kemudian menginisasi usaha yang dirintisnya di Finlandia, berkat kemudahan legalisasi dan dukungan dari pemerintah Finlandia sendiri untuk perempuan dan kelompok migran.
Apa saja tantangan yang dihadapi Suan Ny dan Evita sebagai perempuan Indonesia di mancanegara? Apa yang menjadi solusi mereka untuk mengatasi tantangan tersebut?
Bagaimana caranya untuk dapat meraih impian di negeri yang mereka tempati sebagai perempuan Indonesia? Apa pesan mereka di Hari Perempuan Internasional?
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan dukung kami dengan SUBSCRIBE!