(CERITA SAHABAT) Hanya Aku, Dia, dan Anak-anak

What others think of you is none your business. Dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa apa yang dipikirkan orang lain bukan menjadi urusan saya. Begitu yang saya terapkan dalam hidup saya agar hidup saya tidak disibukkan berbagai prasangka-prasangka yang belum tentu benar.

Saya memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Bahkan saat ini saya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengan warga negara asing yang sudah dijalani selama tiga tahun. Pernikahan kedua ini adalah off the record alias tidak diketahui oleh keluarga besar saya di Indonesia. 

Orang Indonesia memiliki budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Itu betul dan saya setuju dengan pendapat itu. Begitu kental dan akrabnya keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa mereka memiliki standar terbaik yang sudah ditetapkan bersama. Anehnya, kami semua harus mengikuti standar yang ditetapkan tersebut demi terjalinnya rasa kekeluargaan. Bagi saya, hidup itu tidak semestinya dibuat standar yang belum tentu itu baik bagi semua orang. 

Sayangnya keakraban itu sering dicurahkan dalam bentuk intervensi. Tidak hanya kepada saya, tetapi juga keluarga lain yang dianggap lebih muda. Hal ini sudah membuat saya jengah dan memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan keluarga besar saya. Keputusan ini diambil setelah saya mengakhiri pernikahan pertama saya dengan pria asal Indonesia. 

Siapa pun yang menikah selalu berharap yang terbaik hingga maut memisahkan, tetapi siapa bisa menebak jalannya takdir kehidupan. Sebagai survivor kekerasan dalam rumah tangga dengan level cukup membuat bulu kuduk bergidik, dan sebagian besar dilakukan di depan anak-anak kami, membuat saya memutuskan bahwa enough is enough, tidak akan ada lagi kekerasan terjadi. Setelah memutuskan bercerai, fokus saya adalah bekerja dan berusaha memperbaiki akibat yang telah ditimbulkan karena trauma atas kekerasan ayah mereka terhadap saya. 

Dengan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat, saya berhasil menggugat cerai suami pertama. Saya berhasil mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Saya tidak meneruskan kasus perlakuan kekerasan mantan suami ke ranah hukum karena mantan suami mengalami gangguan psikologis. Alasan gangguan psikologis ini seperti menjadi alibinya melakukan kekerasan kepada saya. Setelah saya bercerai dari suami pertama, saya putuskan untuk mencari kebahagiaan untuk saya dan anak-anak. 

Saya merasa bahwa pengalaman pahit berkeluarga di pernikahan pertama tentu mengajari saya banyak hal termasuk cara saya berkomunikasi dengan keluarga besar saya. Saya berkomunikasi dengan mereka hanya sebatas peristiwa-peristiwa penting saja. Saya pun tidak ikut campur dalam konflik yang muncul dalam keluarga besar saya. Saya tidak merasa berutang budi atau uang kepada mereka. Saya putuskan untuk mencari kebahagiaan dengan cara sendiri. 

Menjadi single mother bukan hal yang mudah pun sulit. Saya bersyukur disibukkan dengan pekerjaan yang membuat saya tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga besar. Di tengah kesibukan bekerja, saya bertemu dengan pria berkewarganegaraan Amerika, yang kini menjadi suami kedua.

Awalnya saya ragu untuk membangun bahtera rumah tangga dengannya mengingat pernikahan sebelumnya terus terang membuat saya mempunyai masalah dengan kepercayaan terhadap orang lain, terutama untuk menjalin hubungan baru. 

Namun pria ini begitu berbeda. Dia adalah pria yang jujur, setia, terbuka, dan apa adanya. Saya suka dengan gaya simple life yang dia jalani. Hal terpenting yang membuat saya jatuh hati adalah kesediaan dia untuk menerima anak-anak saya menjadi bagian dari hidupnya. 

Saya harus menyembuhkan diri saya akan trust issue, apalagi selama belasan tahun sendiri, saya sudah menemukan kebebasan, tidak perlu memikirkan hubungan yang melibatkan emosi. Mengapa saya harus menambah masalah dalam hidup saya? Akan tetapi, waktu membuktikannya bahwa kami bisa bersama. 

Kami memang berbeda secara budaya dan latar belakang, tetapi banyak hal yang membuat kami sejalan dalam pola pikir dan interest yang membangun minat kami. Kesamaan ini yang mendorong saya untuk menerima pinangan darinya. 

Kesetiaannya benar-benar ditunjukkan ketika saya perlu waktu untuk menyelesaikan masa lalu saya dan keluarga besar saya. Tekadnya untuk menunggu dan rasa kepeduliannya untuk memahami pekerjaan saya telah meluluhkan hati untuk membangun rumah tangga untuk kali kedua. 

Masa lalu sudah berlalu. Kini saya punya masa sekarang dan masa depan. Kami putuskan untuk tinggal bersama anak-anak di negeri tetangga. Saya jalani hidup tanpa intervensi dari keluarga besar. Saya pun menutup rapat-rapat cerita pernikahan kedua saya karena saya tidak ingin kisah pernikahan saya selanjutnya memunculkan potensi konflik. 

Saya sudah bahagia dengan suami dan anak-anak kini, mengapa saya perlu menunjukkan kebahagiaan ini pada keluarga besar dan dunia? Itu pendapat saya.

Beruntunglah, suami memahami keputusan saya untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengannya. Dia menghargai apa yang saya putuskan. Bagi saya, komunikasi adalah hal terpenting dalam suami-istri terutama perkawinan campuran lintas budaya seperti ini. Sekecil apa pun masa lalu yang pernah terjadi, keduanya perlu bercerita jujur agar tidak menimbulkan prasangka dan konflik. 

Mungkin orang-orang sekitar saya bertanya, mengapa saya masih tetap merahasiakan pernikahan kedua saya. Jawaban saya, ini adalah keputusan berdua. Saya hanya tidak ingin menimbulkan prasangka tentang apa yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang saya sampaikan di awal, biarlah kebahagiaan itu hanya milik saya, dia, dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup harmonis dan tanpa konflik yang bisa memperkeruh hubungan suami-istri. 

Keluarga besar memang penting yang membentuk solidaritas satu sama lain. Namun, kita perlu membatasi seberapa jauh bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal ini perlu agar bisa hidup seperti yang kita mau. Bagaimana pun saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya sudah lelah mengikuti standar terbaik yang ditetapkan. Prinsip saya, menjadi diri sendiri sudah cukup membuat saya bahagia. 

Bahagia itu bukan yang kemarin atau mengikuti standar yang ditetapkan. Bahagia itu adalah sekarang, saat saya bisa merasa bebas menjadi diri sendiri, tanpa konflik keluarga atau standar yang ditetapkan keluarga. 

Penulis: Lorelai, tinggal di Singapura dan cerita ini bisa ditemukan dalam buku yang sudah diterbitkan oleh Ruanita dan Padmedia Publisher berjudul: Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua.

(IG LIVE) Bagaimana Meditasi Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana?

Mindfulness Practice telah terbukti membantu dalam meningkatkan kesehatan jiwa dan raga, salah satunya kebiasaan sederhana meditasi. Apakah meditasi hanya berkaitan dengan ajaran agama tertentu? Apakah mindfulness practice hanya untuk kalangan orang kaya? Bagaimana cara membangun kebiasaan baik meditasi dalam kehidupan sehari-hari? Apa tantangan membangun kebiasaan baik meditasi ini dalam hidup sehari-hari?

Untuk membahas lebih dalam lewat program diskusi IG Live, Ruanita Indonesia mengudang sahabat Ruanita yang tinggal di Taiwan dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan saran tentang kebiasaan meditasi yang sudah mereka lakukan. Mereka adalah Nikita Nazhira, yang adalah Reiki Master dan wiraswasta yang sedang menetap di Taiwan dan Maria Frani Ayu, yang adalah perawat kesehatan jiwa yang aktif menulis masalah kesehatan mental di Indonesia.

Membangun kebiasaan meditasi dalam kehidupan sehari-hari memang bukan hal yang simpel. Hal ini diakui oleh Nazhira setelah dia memulainya sejak empat tahun lalu. Saat itu, Nazhira sedang hamil anak pertama ketika dia mengalami kecemasan untuk menghadapi kehamilan seorang diri. Nazhira pun mengakui manfaatnya setelah menjalani kebiasaan meditasi rutin, terutama berpengaruh pada proses melahirkan untuk lebih tenang dan rileks.

Ayu menuturkan bahwa orang banyak beranggapan meditasi terkait pratik agama tertentu, tetapi sebenarnya meditasi itu baik untuk kesehatan jiwa raga. Pada akhirnya, meditasi ini menjadi konsep lintas agama dan gaya hidup orang-orang moderen yang memiliki banyak tantangan. Bahkan meditasi dianjurkan untuk dilakukan setiap hari karena sangat bermanfaat untuk mereduksi stres.

Tidak hanya meditasi yang sulit dipraktikkan setiap hari, banyak kebiasaan baik memang sulit untuk dilakukan tanpa disertai niat dan konsistensi. Demikian penuturan Nazhira. Nazhira menambahkan ada banyak cara membangun kebiasaan baik ini, mulai dari gratis hingga berbayar. Nazhira sendiri membuka kelas meditasi yang ditawarkan mulai dari harga IDR 500 ribu rupiah.

Apa yang membedakan mindfulness practice dan meditasi? Ayu menegaskan dua hal berbeda untuk istilah tersebut, tetapi ketika digabung maka dua istilah tersebut menjadi kuat untuk dipraktikkan. Ayu juga menegaskan betapa sulitnya untuk dipraktikkan bagi mereka yang sedang mengalami gangguan kecemasan. Ayu pun menjelaskan bagaimana menghindari monkey minds saat meditasi.

Simak selengkapnya diskusi IG Live tersebut di kanal YouTube kami dan jangan lupa pastikan untuk SUBSCRIBE ya

(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(PODCAST RUMPITA) Menjajaki Karier di Negeri Baltik, Usai Studi di Estonia

Memasuki episode di musim panas, program podcast Rumpita yakni Rumpi bersama Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Estonia. Diskusi via podcast ini dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 yang menempuh studi di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman dan didampingi oleh Anna.

Tamu podcast yang diundang dalam episode ini adalah Enlik Tjio, seorang podcaster juga lewat akun instaram enliktjioe. Enlik juga suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan green technologies yang sedang hits beberapa tahun belakangan ini.

Enlik adalah seorang Software Developer yang telah menyelesaikan studi master di bidang teknologi dan informatika di Estonia. Kini Enlik tetap tinggal di Estonia, mengelola program Podcast pribadinya, dan menjalani hobi traveling ke berbagai negara.

follow us

Nama Enlik bukanlah sebuah nama yang memilliki makna. Enlik mengakui bahwa ini adalah nama yang tidak sengaja disebutkan oleh ibunya yang kesulitan menyebutkan nama “Hendrik”, sehingga nama Enlik tercatat dalam dokumen resmi hingga sekarang.

Nama membawa berkah dan mungkin yang terjadi pada Enlik setelah dia menyelesaikan studi di bidang teknologi dan informatika di Indonesia.

Enlik pun sempat mengenyam pengalaman tinggal di Australia, kemudian membuatnya untuk terus mengasah pengalaman yang lebih menantang dan menarik lagi di benua biru.

Enlik mengakui bahwa dia sempat melamar studi di beberapa negara, hingga akhirnya dia memilih studi di Estonia yang lebih mudah secara birokrasi dan memberikan tunjangan sebagai mahasiswa di awal studi.

Bagaimana perjalanan Enlik hingga berhasil menempuh studi di Estonia? Apa saja syarat-syaratnya untuk bisa studi di Estonia? Bagaimana pengalaman menarik dan menantang yang dialami Enlik selama studi dan tinggal di Estonia? Apa saja rekomendasi Enlik terkait dengan green technologies yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini untuk diterapkan di Indonesia? Kalau mau tinggal dan bekerja di Estonia, apa pesan Enlik?

Simak diskusi Podcast berikut ini dan jangan lupa follow akun podcast kami ya:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Dinamika Sejarah Gerakan Perempuan

Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh pendidikan S3 di Canbera, Australia.

Dia adalah Dyah Ayu Kartika yang memiliki latar belakang ilmu psikologi dan sempat membantu teman-teman perempuan Indonesia dalam trauma healing.

Dyah mengakui bahwa pengalaman pekerjaannya selama ini banyak bersentuhan dengan isu perempuan dan kekerasan yang kemudian menggiringnya pada opini, bahwa bentuk-bentuk kekerasan pada perempuan tidak hanya di ranah domestik saja.

Ia menyadari bahwa ini harus ditangani lewat jalur kebijakan.

Follow kami

Menurut Dyah, sistem sosial di masyarakat Indonesia juga memberikan pengaruh dalam gerakan perempuan selama ini, termasuk bagaimana masyarakat lebih mengunggulkan peran laki-laki daripada perempuan.

Misalnya saja, gerakan patriotisme dalam merebut kemerdekaan Indonesia mulai banyak diangkat peran perempuan yang dulunya tidak terdengar gaungnya di masyarakat.

Selain itu, Dyah juga menyoroti peran perempuan dalam dunia politik yang dirasakan masih minim. Pertama, kebanyakan sistem sosial di masyarakat masih belum melihat peran perempuan sebagai individu yang berdaya.

Kedua, adanya beban ganda perempuan juga yang ingin maju dalam dunia politik. Ketiga, Dyah mengakui perlu ada peran partai politik untuk melakukan kaderisasi dalam memunculkan kader-kader berkualitas, termasuk perempuan juga.

Apa saja temuan Dyah tentang gerakan perempuan selama ini? Apa yang membuat gerakan perempuan sempat terhenti secara historis di Indonesia? Benarkah gerakan perempuan di Indonesia selama ini terjadi begitu beragam?

Dalam sejarah gerakan perempuan, bagaimana sebenarnya peran perempuan dalam dunia politik? Bagaimana caranya agar dapat mendorong partisipasi peran perempuan di dunia politik? Apa pesan Dyah di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Untuk mendukung kami, tolong SUBSCRIBE kanal kami.

(CERITA SAHABAT) Ayo, Dukung Orang Muda Aktif dalam Pembangunan!

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama pena saya adalah Devita. Saya tinggal di Jerman sejak dua tahun lalu. Saat ini, saya adalah pekerja di kota Stuttgart, Jerman. Saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang peran orang muda dalam pembangunan.

Sebagaimana kalian tahu bahwa PBB menetapkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Wah, itu suatu kebanggaan tersendiri buat kita yang masih muda untuk diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan bangsa dan dunia.

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin bagikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait tema ini. Menurut saya, orang muda sangat berperan besar dalam pembangunan karena generasi muda akan menjadi pembuat kebijakan, kemudian memimpin bangsa dan menentukan kemajuan sebuah bangsa di masa depan.  

Meskipun dalam realitanya di masyarakat, masih ada saja anggapan miring dan ketidakpercayaan kepada orang muda dalam bertugas. Bahkan mitos yang beredar di masyarakat seperti belum banyak makan asam garam, semakin memperlemah peran orang muda dan masih disangsikan keterlibatannya. Menurut saya, ini terjadi disebabkan oleh faktor kultur yang sudah tertanam kuat di masyarakat.

Ada anggapan bahwa usia mempengaruhi kualitas diri seseorang, sehingga orang muda dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak orang yang lebih tua. Anggapan sempit seperti ini justru membuat terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada generasi muda. 

Hal lainnya yang saya soroti seperti generation gap. Dalam bekerja bersama dengan orang muda, terkadang timbul kesenjangan pikiran, pengalaman, keahlian, yang menghambat suatu tim kerja hanya karena generation gap yang tidak diatasi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu menjembatani peran orang muda agar tidak terjadi kesenjangan sehingga menimbulkan masalah sosial dalam pembangunan. Masyarakat perlu memberikan kepercayaan seluas-luasnya untuk orang muda. Pepatah orang Jerman menyebut, “Kontrolle ist gut, Vertrauen ist besser.” Artinya, masyarakat bisa mengontrol para orang muda yang dipercayai tersebut. 

Di era seperti ini, dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mendapatkan informasi mudah tentang sosok orang muda yang berhasil di dunia dan menjadi role model. Mereka yang dijadikan panutan ini memang pantas karena menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya untuk berkontribusi positif dan aktif dalam pembangunan.

Kita perlu menyebarluaskan best practices seperti ini melalui platform media sosial, sehingga ini memberikan pengaruh positif pada orang muda. Cara kedua adalah membuat program mentoring dan pendampingan yang memungkinkan generasi muda terhubung dengan tokoh sukses tersebut.

Ketiga, masyarakat bisa melibatkan institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan orang muda dengan melibatkan tokoh muda berprestasi tersebut. Meskipun, ada juga orang muda yang tidak berhasil dan dipandang sebagai “sampah sosial” tetapi saya pikir banyak juga orang muda berprestasi yang siap mendukung orang muda lainnya.

follow kami

Orang muda yang masih dipandang sebelah mata dan kurang berpengalaman dapat dikalahkan dengan melakukan transfer knowledge antar orang muda sendiri, misalnya dengan mengadakan program mentoring, di mana para senior dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Sementara, generasi muda  juga dapat membawa ide segar dan perspektif baru. Selain itu, kita dapat juga mengadakan pelatihan bersama yang melibatkan, baik generasi muda maupun senior dalam transfer knowledge, di mana keduanya dapat saling belajar dan melengkapi.

Selanjutnya, hal terpenting yang bisa dilakukan adalah mengakui dan mengapresiasi kontribusi dan prestasi dari semua individu tanpa memandang usia. 

Salah satu pengalaman menarik yang saya lakukan adalah berkontribusi aktif dengan menjadi sukarelawan membangun desa. Kegiatan tersebut dilakukan saat saya sedang berkuliah di Malang, Indonesia . Bersama dengan organisasi dari universitas, pada saat itu, kami  melakukan program volunteer untuk membangun melalui program city branding.

Hal yang kami lakukan saat itu adalah mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, membaca untuk anak-anak. Kami juga ikut aktif dalam membersihkan lingkungan desa dan menganalisis model city branding yang tepat bagi desa tersebut. Kontribusi yang kami lakukan lainnya, yakni membuat web desa, sehingga potensi yang dimiliki oleh-oleh dari kampung tersebut dapat tersebar luas. 

Melalui website tersebut, kita dapat menyebarkan informasi terkait usaha yang dimiliki oleh warga desa seperti umkm ataupun potensi wisata alam yang dapat menjadi  tujuan wisata bagi turis untuk berkunjung ke kampung tersebut. Ini diharapkan menjadi pembangunan khususnya pembangunan desa dapat terus bergerak maju.

Menurut saya, indikatornya dapat diukur melalui beberapa hal, seperti: tingkat partisipasi pemuda dalam politik dan sosial, tingkat pendidikan dan keterampilan pemuda, kemudahan akses bagi generasi muda terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi, serta tingkat keterlibatan pemuda dalam pembangunan.

Pemerintah dapat mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung pendidikan dan pelatihan keterampilan, memfasilitasi akses pemuda, dan menggalakkan partisipasi pemuda terhadap kesempatan ekonomi, politik, sosial.

Selain itu, kita bisa memberikan ruang bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan. Program-program pemerintah perlu juga mendorong keterlibatan pemuda dalam inisiatif pembangunan lokal dan global, sehingga ini bisa menjadi sarana efektif.

Di International Youth Day, teruntuk sahabat muda Ruanita, saya berpesan untuk terus bersemangat dalam karya dan berani untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan!

Mari menjadi agen perubahan dalam membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Teruslah berjuang untuk impian-impian kita, dan jangan pernah ragu untuk berkontribusi pada masyarakat!. Kita punya kekuatan untuk mengubah dunia! 

Happy International Youth Day!

Penulis: Rufi, yang kini sedang menempuh studi S2 di Jerman dan dapat dikontak di akun Instagram zsyasdawita. Tulisan ini adalah hasil wawancara seorang teman, dengan nama pena Devita. Devita adalah seorang pekerja yang tinggal di Stuttgart, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Dinamika Kasus Perdagangan Orang?

Dunia memperingati Hari Anti Perdagangan Orang pada 30 Juli setiap tahunnya. Dalam kaitan tersebut, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kirgizstan dan telah bekerja di organisasi dunia yang menangani permasalahan kasus perdagangan orang ini.

Lewat program cerita sahabat spesial setiap bulannya, kami ingin berbagai pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik sesuai tema yang disampaikan oleh narasumber.

Dia adalah Aisyah Yuliyani atau yang biasa dipanggil Yuli. Yuli bertanggung jawab terkait intervensi UNODC di bidang peradilan pidana, yang meliputi isu gender-based violence, trafficking in persons, dan lain sebagainya.

Yuli juga menjelaskan bahwa pekerjaannya termasuk memberikan intervensi di wilayah Asia Tengah yang terkait dengan pengelolaan orang-orang di area konflik.

Dengan pengalaman yang digeluti Yuli selama ini, tentunya dia banyak memahami bagaimana memenuhi hak-hak perempuan di situasi konflik atau yang terlibat dalam bidang pidana.

Follow us

Yuli mengakui ia banyak berbicara dengan stakeholders dalam isu hukum dalam menjalankan tugasnya tersebut.

Lewat video lengkap yang disajikan Ruanita Indonesia, Yuli bercerita juga tentang bagaimana mendampingi teman-teman perempuan yang berkonflik dengan hukum. Bukan tidak mungkin, teman-teman perempuan tersebut terjebak dalam kasus-kasus pidana perdagangan orang, termasuk dalam tindakan prostitusi dan penipuan.

Yuli menghimbau agar teman-teman dapat memastikan tawaran pekerjaan yang menggiurkan di luar Indonesia, tanpa tahu detil pekerjaaannya.

Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap peluang kasus penipuan dan prostitusi yang marak terjadi, akibat ketidaktahuannya tentang tawaran pekerjaan yang diambilnya.

Lewat komunitas dan organisasi kemasyarakatan Indonesia di luar Indonesia, kita bisa menjangkau orang-orang Indonesia terutama perempuan yang masih terjebak dalam eksploitasi pekerjaan atau penipuan kerja. Kita perlu membantu mereka keluar dari jerat kasus tersebut.

Bagaimana dinamika kasus-kasus perempuan Indonesia yang menjadi korban perdagangan orang yang selama ini dilakukan oleh Yulil dan organisasinya? Apa yang harus disadari dari maraknya tawaran penipuan kerja yang menjanjikan, tetapi malah menjerumuskan? Apa yang perlu dilakukan orang-orang Indonesia untuk membantu mereka? Apa pesan Yuli untuk sahabat Ruanita dan dunia dalam Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(PODCAST IN ENGLISH) Persiapan Pindah Ke Luar Negeri Pakai Visa Penyatuan Keluarga

Ruanita Indonesia baru saja meluncurkan program Podcast terbaru dalam Bahasa Inggris.

Program podcast yang berbicara seputar peran dan pengalaman perempuan di mancanegara akan dimoderasi oleh Aini Hanafiah dan Kristina Ayuningtyas yang sama-sama tinggal di mancanegara untuk mendampingi suami yang bertugas di mancanegara.

Aini sudah lebih lama ikut mendampingi suami bertugas sejak lebih dari sepuluh tahun. Kini Aini menetap bersama keluarganya di Norwegia.

Sedangkan Kristin baru saja ikut serta mendampingi suami bertugas di Slowakia. Keduanya terlibat obrolan asyik seputar bagaimana persiapan dokumen melalui visa penyatuan keluarga.

Follow us

Aini mengatakan bahwa berpindah dari satu negara ke negara lainnya menjadi pengalaman menarik sekaligus menantang.

Mungkin tidak semua orang mudah beradaptasi dan memulai kehidupan yang baru di suatu negara yang berbeda kultur dan bahasa sehari-harinya.

Aini bisa memahami pengalaman culture shock yang tentunya tidak mudah dialami dari satu negara ke negara lainnya.

Kristin berbicara tentang bagaimana dokumen yang juga harus dilengkapi, termasuk tahapan yang cukup melelahkan mengingat panjangnya birokrasi dan tuntutan dokumen yang dipenuhi.

Kristin sampai tidak bisa berbicara banyak, bagaimana upayanya untuk bisa tetap mendampingi suami bertugas di mancanegara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman Jadi Pekerja Migran di Slowakia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Rinatu Siswi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Tutus. Sekarang saya menetap di Slowakia sejak tahun 2022 dan sehari-hari saya bekerja sebagai pramusaji di bar dan restoran sebuah hotel di Slowakia. Banyak orang Indonesia yang bertanya, bagaimana saya bisa memiliki kesempatan menjadi pekerja migran di Slowakia. Mungkin saja, sahabat Ruanita tidak banyak mengenal negara yang saya tempati ini. 

Ini semua berawal dari keinginan saya untuk tinggal bersama dengan suami. Suami sendiri telah bekerja selama sebelas tahun menjadi pekerja migran. Setelah kami menikah pada tahun 2018, prinsipnya, saya tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di Slowakia. 

Untuk tinggal bersama suami di Slowakia, saya putuskan untuk mengajukan visa kumpul keluarga. Pada akhirnya, saya pun bisa menetap di Slowakia. Seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa kurang nyaman hanya berdiam di rumah. Bagaimana pun saya di Indonesia memiliki riwayat selalu bekerja, meskipun saya melakukan kuliah sambil bekerja. 

Kebetulan saat itu, di musim panas, ada lowongan pekerjaan di tempat suami saya bekerja. Saya pun memutuskan untuk bekerja kembali, walaupun subjek pekerjaan yang saya pelajari sebelumnya, itu sangat berbeda dengan kebutuhan tempat kerja saya yang sekarang.

Follow us ruanita.indonesia

Selanjutnya, pihak manajemen di tempat saya bekerja pun mengupayakan perubahan visa. Semula visa saya adalah visa kumpul keluarga, kini visa saya menjadi visa kerja. Boleh dibilang, saya sudah satu setengah tahun bekerja sebagai pekerja migran di Slowakia. 

Kalau ditanya, mengapa saya memilih negara Slowakia untuk bekerja. Alasan utamanya adalah agar saya dapat tinggal bersama dengan suami. Tentunya, sahabat Ruanita pun penasaran dengan prosedur untuk warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bekerja di Slowakia. Menurut pengetahuan saya, bekerja di Slowakia dapat ditempuh dengan dua jalur.

Jalur pertama adalah menggunakan agen penyalur kerja dan jalur kedua adalah melakukannya secara mandiri. Apa yang saya alami adalah mendapatkan pekerja di Slowakia lewat jalur mandiri. Ternyata, meskipun jenis visa yang diajukan pertama kali adalah jenis visa keluarga, tetapi prosedurnya pun tidak jauh berbeda dengan visa kerja. 

Apabila kalian sudah dinyatakan mendapatkan pekerjaan yang dilamar di suatu negara, pertama kali, menurut saya adalah memastikan terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut. Mengapa? Hal ini dilakukan untuk menghindari penipuan kerja yang sedang marak belakangan ini. Meskipun sulit, tetapi kita harus mengecek dulu agar tidak menjadi korban penipuan. 

Setelah itu, kita wajib memiliki sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan posisi yang akan kita lamar. Kita perlu mendaftarkan ke notaris kopi sertifikat kompetensi sebagai proses legalisasi. Usahakan kalian mengecek daftar notaris yang dipersyaratkan di tiap kedutaan yang menjadi lokasi negara tinggal. Proses

legalisasi ini diperlukan agar kita layak dan kompetensi kita diakui secara internasional (apostille). Setelah proses legalisasi di notaris selesai, kalian bisa mengirimkan dokumen tersebut ke negara terkait untuk diterjemahkan ke dalam bahasa resmi negara tujuan. 

Apabila dokumen selesai diterjemahkan, dokumen tersebut akan dikirim lagi ke Indonesia yang disertai surat-surat yang berkaitan dengan perusahaan, misalnya kontrak kerja, surat kuasa, pihak sponsor dari perusahaan, dsb.

Selanjutnya, kita akan mendapatkan undangan wawancara dengan pihak konsulat (di kedutaan negara tujuan yang berada di Indonesia). Saat wawancara, kita perlu membawa serta pelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Selesai wawancara, akan ada proses perekaman sidik jari. Visa kerja akan terbit setelah proses di atas selesai dilakukan. 

Menurut saya, tantangan terbesar saya bekerja sebagai pekerja migran adalah bahasa. Lingkup saya bekerja dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu rekan-rekan kerja yang menggunakan Bahasa Hungaria sebagai bahasa sehari-hari, dan jenis kedua adalah customer yang menggunakan Bahasa Slowakia.

Baik Bahasa Hungaria maupun Bahasa Slowakia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda. Saya harus saya mempelajarinya dalam waktu yang sama. Ditambah lagi, pronounce kedua bahasa tersebut yang terkadang tidak sama dengan bahasa baku. Pada situasi tersebut, saya berusaha menjelaskan sesuatu dengan Bahasa Inggris.

Meskipun hampir tujuh puluh persen, customer yang datang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi saya masih terbantu dengan komunikasi bahasa tubuh. Untuk hal-hal yang masih belum dapat dipahami, saya biasanya memakai bahasa tubuh seperti mengangguk, menggerakkan tangan, dsb. Kalau customer tidak memahami komunikasi saya, saya biasanya meminta bantuan rekan kerja saya. 

Hal yang paling dirasa berbeda dari budaya Indonesia adalah budaya ketegasan. Mungkin di Indonesia sangat melekat dengan “rasa kurang enak” sehingga teguran disampaikan secara lebih lembut , yang pada akhirnya menjadikan seseorang kurang jera.

Di tengah kesulitan dalam pekerjaan, saya berusaha membentengi diri dengan banyak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan (meskipun lewat YouTube). Saya selalu berbagi segala sesuatu, uneg-uneg di tempat kerja, yang saya rasakan kepada suami. Memang masalahnya tidak cepat selesai, tetapi ini berefek memberi kelegaan. 

Awalnya keluarga saya merasa berat hati karena sejak lulus SMA saya sudah meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi dan bekerja di luar kota.

Namun, keputusan untuk tinggal bersama dengan suami adalah hal yang paling tepat, ketimbang hidup terpisah setelah menikah. Seiring berjalannya waktu, keluarga malah merasa terharu dan bangga, karena saya adalah satu-satunya anak yang bisa bekerja di luar negeri. 

Menurut saya, sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan menandatangani kontrak kerja, kita perlu mengecek dengan lebih detil terhadap kontrak kerja yang disepakati.

Misalnya, tentang job description, target jumlah jam kerja dalam satu bulan, nominal gaji yang akan diterima, fasilitas apa saja yang akan didapatkan, dsb. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak menimbulkan konflik atau perselisihan di kemudian hari. Bagaimana pun, kontrak kerja adalah landasan yang membentengi kita sebagai pekerja migran, apabila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan. 

Berkaitan dengan kekerasan atau diskriminasi di tempat kerja, saya merasa sepanjang kita bisa berlaku sopan dan bertingkah laku wajar, warga lokal akan menghargai kita juga.

Pesan saya untuk sahabat Ruanita yang ingin menjadi pekerja migran di Eropa dan Slowakia pada khususnya, kita harus memiliki mental kuat dan fisik yang prima. Mengapa kita perlu bermental kuat? Kita berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda.

Selain itu, fisik yang prima juga membantu kita mengatasi cuaca dan empat musim di Eropa sangat ekstrim, berbeda dengan Indonesia. 

Penulis: Rinatu Siswi atau Tutus, pekerja migran di Slowakia dan dapat dikontak di akun sosial media Instagram @rinatusiswi atau facebook Rinatu Siswi.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(CERITA SAHABAT) Berada Dalam Generasi Sandwich Tidaklah Mudah dan Selalu Negatif

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan  dengan Miri, Sarawak, Malaysia.

Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di  sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.

Di  waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11  tahun. 

Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus  menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan  anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.

Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri.  Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti  kepada orang tua. 

Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri  dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.

Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya,  ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara  kebutuhan hidup mereka masih tinggi.

Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus  menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  menafkahi anak-anaknya. 

Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang  sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.

Follow us

Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di  Indonesia.  Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di  masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.

Meskipun secara pribadi, saya tidak punya  pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak. 

Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich,  menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu: 

1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun  hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat  memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat. 

2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari  pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat  membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran,  ketahanan, dan empati.

3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga  kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap  terhubung dan kuat. 

4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich  memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik  dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak. 

Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal.  Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk  menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.

Saya pun turut prihatin, ketika  keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan. 

Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan  menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa  menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti  dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka.  Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang. 

Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang  umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di  saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.

Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington,  Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult  Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh  ilmuwan-ilmuwan budaya barat.  Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari  8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia.  Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya. 

Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh  tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena  kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat  orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 

Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan  keadaan orang tua mereka sendiri. 

Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah.  Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran. 

Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung  semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan  keluarga menjadi tidak baik

Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan  emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami  penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. 

Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci  menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus.  Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia. 

Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung  keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab,  Allah tahu kita mampu.  Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan  orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.

Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang  sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita.  Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta  bantuan profesional ya, jika dibutuhkan.  Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya. 

Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Peran Orang Tua Menentukan Siblings Rivalry

Halo sahabat Ruanita, saya seorang WNI yang saat ini berdomisili di salah satu negara di Eropa barat dan saat ini keseharian saya mengikuti kursus bahasa di tempat saya tinggal. Saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai siblings rivalry

Menurut kamus American Psycology Association, siblings rivalry adalah persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, atau kasih sayang dari salah satu atau kedua orang tuanya atau untuk pengakuan atau penghargaan lain, seperti di bidang olahraga atau akademik.

Hal ini umumnya terjadi dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu. Menurut pengamatan saya, biasanya terjadi pada keluarga dengan anak yang jarak umurnya tidak jauh dari satu anak dengan anak yang lainnya. 

Saya adalah anak tertua dari tiga bersaudara, kebetulan perbedaan umur saya dan kedua adik saya tidak terlalu jauh. Kedua orang tua saya tergolong workaholic parents.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa ditinggal dengan pengasuh atau anggota keluarga lainnya, ketika orang tua saya harus bekerja. Ketika kecil, hal ini tidak begitu mengganggu saya, bahkan sebaliknya saya merasa sangat beruntung punya saudara yang selalu bisa diajak bermain bersama.

Follow us

Namun, semua hal tersebut perlahan-lahan berubah, ketika saya memasuki usia remaja. Saya selalu merasa kalau orang tua saya lebih mencurahkan perhatian mereka kepada kedua adik saya.

Contohnya, ketika ada acara kumpul keluarga, di mana yang akan selalu dibanggakan adalah kedua adik saya. Padahal kalau dibandingkan kedua adik saya, secara akademis saya lebih baik dibandingkan mereka berdua. 

Hal ini membuat saya mempunyai rasa cemburu terhadap kedua adik saya. Namun, sebagai anak tertua saya selalu berusaha menutupi hal tersebut, yang berdampak terhadap kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Hal ini membuat saya menjadi lebih tertutup saat di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu saya dengan teman-teman di luar rumah. 

Saat itu, orang tua saya menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi. Sebagai kakak, saya selalu diminta untuk mengalah, apabila terjadi pertikaian dengan saudara-saudara saya.

Sebagai seorang remaja yang sedang membutuhkan banyak perhatian, tentu saja saya merasa frustasi dan sedih karena harus memendam berbagai macam emosi yang saya rasakan sendiri.

Saya cukup beruntung karena hal tersebut tidak membuat saya terjebak dalam hal-hal negatif, karena bisa saja terjadi pada seorang remaja. 

Menurut saya, orang tua berperan besar dalam terjadinya siblings rivalry antar saudara. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya menemukan jawaban mengapa orang tua bisa menjadi penyebab terjadinya siblings rivalry.

Dalam buku Scattered Minds, Gabor Mate menjelaskan bahwa kondisi orang tua dalam menyambut kehadiran tiap anak akan berbeda-beda dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perlakuan orang tua terhadap masing-masing anak. 

Bisa saja kesiapan secara mental dan financial orang tua saya lebih baik, ketika kedua adik saya lahir dibandingkan saat saya lahir. Saya sendiri saat ini sudah berdamai dengan hal tersebut dan berusaha memahami bahwa, di tengah keterbatasan orang tua saya saat itu, mereka tetap menjadi orang tua yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya. 

Berdasarkan apa yang saya alami, menurut saya tidak selamanya siblings rivalry itu memiliki dampak yang buruk. Saya menjadi belajar untuk lebih mandiri dan selalu berusaha tidak bergantung pada orang lain.

Selain itu, saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, meskipun terkadang saya masih meminta pendapat keluarga saya. 

Namun, setiap keputusan yang saya ambil tidak bergantung pada pendapat orang lain. Saat ini, saya merasa siblings rivalry yang dulunya saya alami, tidak terlalu mengganggu pikiran saya lagi, ketika saya sedang tinggal jauh dari keluarga.

Dari pengalaman dan pengamatan saya, siblings rivalry bisa terjadi di keluarga manapun, karena hal tersebut juga terjadi dalam keluarga suami saya. Namun seperti yang saya alami, hal tersebut perlahan-lahan akan berkurang, bahkan hilang seiring bertambahnya usia, terutama saat kami masing-masing telah berkeluarga. 

Menurut saya, siblings rivalry adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun tentu saja, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari siblings rivalry. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: memberikan perhatian terhadap kebutuhan tiap anak, mengajarkan kepada anak menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka, tidak membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya di depan orang lain, dan menghabiskan waktu dengan masing-masing anak agar tiap anak merasakan kedekatan dengan orang tuanya.

Nah, sahabat Ruanita begitulah pendapat dan pengalaman saya tentang siblings rivalry yang mungkin bisa membantu.  

Penulis: Anonim.