Deskripsi: Kemerdekaan untukku adalah keberanian untuk kita lari, kabur, berpisah, melepaskan, dari semua penjara-penjara tak berbentuk yang dibangun oleh pola pikir patriarki. Bukan hanya secara fisik tetapi yang lebih utamanya secara pikiran, karena kalau kita tidak memerdekakan pola pikir kita, sejauh apapun kita melarikan diri, penjara itu akan tetap mengikuti. Kita harus sadar bahwa kita ini NYATA dan MAMPU melakukan apapun. Sendiri saja mampu apalagi bersama-sama. Uluran tangan banyak pihak juga sangat membantu untuk para perempuan memerdekakan diri dan pikirannya dan kungkungan penjara patriarki. Seni adalah cara memerdekakan diri, sudah digunakan sejak ratusan abad atau bahkan lebih lama. Dengan berkesenian apapun bentuknya, semoga para perempuan bisa menemukan pintu-pintu kemerdekaannya.
Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.
Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.
Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.
Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.
Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.
Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.
Dalam diskusi IG Live episode November 2023, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Peremuan yang masih menjadi rangkaian program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) 2023. Program AISIYU 2023 diselenggarakan dalam bentuk kolase dengan judul “Merdeka dari Tindak Kekerasan” dimulai dari 25 November hingga 10 Desember, yang menjadi Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.
Untuk membahas lebih dalam, Anna sebagai pemandu IG Live mengundang Veryanto Sitohang yang adalah Komisioner Komnas Perempuan dan Hernita Oktarini, yang adalah Koordinator Proyek AISIYU 2023 sekaligus Relawan Ruanita Indonesia.
Diskusi IG Live ini terbagi dalam 3 segmen yakni: Apa itu Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan mengapa diselenggarakan selama 16 hari?; segmen kedua adalah mengapa kampanye AISIYU dalam bentuk kolase; dan segmen terakhir apa pesan dan harapan kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan.
Veryanto kemudian menceritakan sejarah dan latar belakang tercetusnya Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang berawal dari peristiwa di Dominika pada 25 November. Kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran hak asasi manusia sehingga upaya melakukan kampanye anti kekerasan diperingati hingga 10 Desember, Hari Asasi Manusia Sedunia.
Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan itu diinisiasi oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001. Rangkaian Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan termasuk adalah Hari AIDS Sedunia yang dirayakan dunia 1 Desember. Setiap tahun Komnas Perempuan menggelar hampir 200 kegiatan di seluruh Indonesia. Komnas Perempuan bersama jaringannya menggelar tema di tahun 2023: Kenali Hukumnya dan Lindungi Korban.
Veryanto pun menyebutkan berbagai perangkat hukum untuk membuat kebijakan perlindungan terhadap perempuan, tetapi implementasinya dari aparat hukum hingga warga masyarakat belum dapat menerapkannya misalnya untuk kasus KDRT.
Hernita sebagai koordinator proyek AISIYU 2023 menjelaskan bahwa Workshop Kolase adalah tindak lanjut kunjungan Ruanita Indonesia ke Kantor Komnas Perempuan. Kita memilih seni kolase sebagai media visual untuk menampung aspirasi Sahabat Ruanita menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan melalui potongan bahan sederhana tetapi bermakna.
Rencanaya produk kolase 2023 yang sudah dilatihkan akan ditampilkan lewat kanal media sosial Ruanita Indonesia dan Komnas Perempuan mulai 25 November – 10 Desember 2023. Veryanto juga menambahkan berbagai program 16 Hari Anti Kekerasan yang digelar di Indonesia.
Lebih lanjut tentang rekaman diskusi IG Live dapat disaksikan berikut ini:
Subcribe kanal YouTube untuk mendukung program kami.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.
Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian.
Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau jauh dari tanah air, tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.
Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat.
Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik.
Berdasarkan pengamatan saya, sesama orang Indonesia di negeri rantau saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama orang Indonesia di mancanegara pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama orang Indonesia juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?
Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut.
Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:
1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal. Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.
2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.
3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.
4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.
5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi” sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.
Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:
Jujur dan hindari tindakan kriminal.
Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.
Saling Menghormati.
Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.
Jauhi rasa iri dan dengki.
Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.
Mendengarkan.
Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.
Memberi kebebasan pada setiap individu.
Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.
Melakukan kegiatan bersama.
Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.
Kebaikan selalu berbuah kebaikan.
Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.
Memiliki value dan passion pada hal yang sama.
Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.
Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas orang Indonesia di mancanegara. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.
Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi
Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.
Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.
Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.
Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.
Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.
Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.
“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.
Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.
Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.
Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.
Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan
Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.
“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.
Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.
Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.
Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.
Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.
Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.
Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.
Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.
Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.
Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?
Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:
Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Yulyana. Ada pula yang memanggil saya, Juliana. Es klingt fast gleiche😊 atau dalam Bahasa Jerman maksudnya, itu sama saja mau dipanggil Yulyana atau Juliana. Saya tinggal di Jerman sejak April 2013. Lokasi tinggal saya terletak di desa kecil, namanya Iggensbach. Areanya berada di sekitar Landkreis Deggendorf-Passau, negara bagian Bavaria.
Kalau mau dibayangkan, lokasi tinggal saya itu sekitar 25 – 30 kilometer dari Kota Passau. Kalau kita naik kendaraan melalui Autobahn, jalan tol dalam Bahasa Jerman, maka lokasi tinggal saya bisa dicapai sekitar 15 – 16 kilometer dari Kota Deggendorf. Di kota Deggendorf inilah, saya bekerja sebagai Krankenpflegerin atau perawat dalam Bahasa Indonesia di IMC Stroke Station. Lebih jelasnya, saya adalah perawat pasien stroke dengan sistem monitor.
Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam program cerita sahabat RUANITA, terutama berkaitan dengan pengalaman saya tentang diabetes yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Kita perlu tahu kalau diabetes merupakan salah satu Silent Killer Disease, karena penyakit ini begitu tersembuyi. Apabila kita terlambat menanganinya, ini akan berkomplikasi ke organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita mengedukasi diri sendiri tentang status kesehatan kita dan konsumsi nutrisi harian kita.
Berbicara soal diabetes, ini bukan hal asing bagi saya. Keluarga saya merupakan keluarga yang memiliki penyakit ini. Itu sebab diabetes dikenal sebagai penyakit keturunan. Jadi, mau tidak mau, saya pun memiliki gen ini. Saya kehilangan oma yang meninggal karena diabetes mellitus. Seingat saya, almarhum oma hanya mengontrol pola makan seperti mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Namun diabetes yang diderita oma berujung pada komplikasi.
Komplikasi yang dialami almarhum oma sudah sampai ke organ mata, di mana dia harus mengalami kebutaan. Almarhum oma mengalami dekubitus level 4, yang sudah tembus ke tulang dan sulit disembuhkan. Kejadian itu sekitar tahun 1996, yang mana kami sekeluarga belum banyak mengenal dekubitus. Saat itu, belum ada penanganan yang optimal untuk pasien diabetes dengan luka dekubitus di Indonesia.
Diabetes juga dialami oleh papa saya, yang didiagnosa sebagai diabetes melitus tipe 2 oleh dokter. Menurut saya, penanganan papa jauh lebih baik ketimbang almarhum oma. Papa diberi obat gula dan rutin diperiksa kadar gula darahnya. Selain itu, fungsi ginjal papa pun diperiksa per tiga bulan, terutama untuk Hba1C. Papa saya juga mengontrol konsumsi karbohidrat dan gula sehingga kadar gula darahnya selalu stabil. Ketika seseorang didiagnosa memiliki diabetes, maka dia harus mulai mengedukasi dirinya sendiri untuk mengetahui asupan nutrisi dan perilaku kesehariannya.
Salah satu teman baik saya pun didiagnosa diabetes melitus tipe 2 di saat usianya sudah memasuki pertengahan 30 tahunan. Tentu saja, dia sangat panik luar biasa dan begitu cemas. Saya bisa memahami situasinya yang tidak mudah menerima kenyataan tersebut. Apalagi dia harus hidup tanpa nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Itu sangat menyulitkan dia di awal hari-hari tanpa nasi. Tidak hanya mengontrol konsumsi nasi saja, dia pun harus mengontrol kadar gula darahnya. Dia pun jadi lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih bergizi.
Bagi saya, didiagnosa penyakit apapun itu bukan berita menyenangkan bagi setiap orang. Apalagi kalau kita didiagnosa diabetes, yakni penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kita perlu tahu kalau diabetes itu bisa dicegah bahkan kita bisa mengendalikan komplikasinya. Penyakit diabetes sendiri memiliki dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Pada diabetes tipe 1 disebabkan oleh tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2 disebabkan karena tubuh gagal menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon penting yang dapat membantu mengantarkan glukosa ke sel tubuh agar bisa menghasilkan energi.
Seperti cerita saya di atas, diabetes telah menyerang orang-orang terdekat saya. Sebagai orang yang berpotensi memiliki diagnosa diabetes. saya pun mulai waspada terhadap kemungkinan ini. Benar saja, saya pun didiagnosa diabetes gestasional pada saat saya sedang hamil. Beruntungnya diagnosa ini cepat diketahui di awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Saya wajib melakukan tes darah sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain: saat bangun tidur, satu jam setelah sarapan, satu jam setelah makan siang, dan satu jam setelah makan malam.
Tak hanya tes darah saja, saya pun harus melakukan diet sehat seperti karbohidrat. Saya pun jadi lebih memerhatikan kadar indeks karbohidrat yang dikonsumsi. Tentu saja, ini bukan hal mudah dilakukan di awal karena saya harus melakukannya sendiri agar saya tetap sehat. Saya harus menimbang semua makanan yang akan dimakan, misalnya untuk nasi, pasta, atau mi maka saya hanya boleh mengonsumsi sebesar 15 gram saja. Itu setara dengan 3-4 sendok makan full. Saya hanya boleh makan dengan porsi yang sedikit tetapi sering. Jelas, itu tidak mudah ya😊
Puji Tuhan, saya bisa melewati fase ini dan tidak memerlukan suntikan insulin selama proses kehamilan saya. Setelah anak saya lahir pun, saya wajib mengecek kembali kadar gula darah. Dokter internist endokrinologi menyatakan kalau hasilnya normal. Dengan kesadaran saya sendiri, saya harus menjaga pola makan saya. Itu adalah kebiasaan sehat yang harus dilakukan oleh mereka yang didiagnosa diabetes. Saya pun rutin untuk datang dan memeriksakan diri ke Hausartzin atau dokter saya di Jerman.
Berbicara tentang diabetes, tidak hanya disebabkan oleh pengalaman orang terdekat saya dan apa yang saya alami sendiri. Menurut saya, penanganan diabetes di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada saat perawatan almarhum oma sekitar tahun 1990-an. Keberhasilan ini ditunjang oleh program BPJS-Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis seperti pasien-pasien yang didiagnosa diabetes di Indonesia. Jadi mereka yang didiagnosa diabetes dapat rutin mendaftarkan dirinya ke puskesmas terdekat, kemudian mereka akan dirujuk ke dokter spesialis endokrinologi. Para pasien diabetes melitus dan hipertensi akan mendapatkan obat gula, pen suntik insulin, bahkan check up laboratorium gratis setiap enam bulan untuk kadar gula darah, Hba1C, fungsi ginjal, dan juga kolesterol darah.
Saya salut dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan warganya melalui program BPJS. Namun begitu, ini belum sepenuhnya optimal bila tidak didukung oleh kesadaran warga sendiri akan pola hidup sehat. Saat saya berlibur ke Indonesia, saya melihat dan mengalami banyak produk makanan yang dijual dengan kadar gula yang tidak terkontrol. Sayangnya, masyarakat awam masih kurang peka akan hal ini. Hidup sehat itu ada di tangan kita.
Dalam rangka World Diabetes Day, kita bisa mengedukasi diri sendiri dengan membaca informasi yang tertera dalam produk makanan atau minuman yang dijual. Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menerapkan limit maksimal kadar gula dalam suatu produk makanan atau minuman seperti di Eropa. Di beberapa negara Eropa, produsen bahan makanan wajib mencantumkan besaran persentase kadar gula dalam suatu produk makanan yang diproduksi. Semakin banyak kadar gula dalam produk tersebut, maka semakin banyak pajak yang harus dibayar pihak produsen. Cara lain adalah adanya Nutriscore skala yang menjadi patokan huruf dari A sampai dengan E dengan pemberian warna yang menentukan kadar gulanya seperti: A dengan warna hijau, B dengan warna hijau muda, C dengan warna kuning, D dengan warna orange, dan E dengan warna merah.
Sebagai konsumen, kita perlu bersikap cerdas dengan membaca petunjuk kemasan makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Kita perlu cari tahu atau bertanya ke narasumber yang kompeten atau ahli di bidangnya seperti dokter atau ahli nutrisi mengenai diabetes. Saya pikir penting untuk warga Indonesia mendapatkan penyuluhan kesehatan yang benar dan tepat tentang diabetes melalui kegiatan kemasyarakatan di komunitas-komunitas di Indonesia. Seperti misalnya, kita bisa mengedukasi diri dari mitos-mitos yang beredar dan tidak benar. Ada banyak mitos yang mengatakan kalau diabetes menyerang pada orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Itu tidak benar. Diabetes dapat dialami pada siapa saja, terutama mereka yang tidak bisa menjaga pola makan dan hidup sehat.
Pesan saya, pertama, diabetes itu bukan penyakit menular ya! Kedua, bersikaplah self-care atau peduli pada apa yang kita konsumsi. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Life healthy and balanced ya, Sahabat RUANITA! Terakhir, diabetes melitus bukan akhir segalanya. Kita masih bisa menjalani hidup dengan normal asalkan kita lebih memerhatikan pola makan dan rajin berolahraga, tentunya.
Penulis: Juliana Wildenauer, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram: @schnuckiesnappy.
Acara Workshop Seni Kolase Online dalam rangka Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan 2023 dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan melalui produk kolase bertema: Merdeka dari Kekerasan.
Workshop Seni Kolase Online disampaikan oleh Seniman Kolase, Putri Ayusha yang kini menetap di Spanyol. Karya-karya beliau dapat dilihat di Fanpage Facebook atau Instagram Kertasiun.
Sebagai informasi, Ruanita Indonesia memberikan akses materi untuk kepentingan pribadi dan pembelajaran bersama. Kami merekam data untuk kepentingan untuk komunikasi, informasi dan edukasi.
Untuk mengunduh materi tersebut, silakan mengisi formulir berikut yang ditautkan. Rekaman ulang acara tersebut atau permohonan materi, dapat juga langsung mengontak Admin via email di info@ruanita.com, apabila Anda belum mendapatkan materi atau rekaman zoom yang dimaksud.
Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia.
Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya.
Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.
Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.
Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.
Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu.
Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan.
Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile.
Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya.
Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.
Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down.
Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.
Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.
Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut.
Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body.
Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja.
Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.
Pernah mendengar istilah cancel culture? Menurut Fadologi, blog yang membahas frasa populer di media sosial menyebutkan istilah cancel culture merujuk pada aksi, gerakan menolak seorang publik figur atau perusahaan akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Aksi ini umumnya terjadi di kalangan pengguna media sosial.
Alih-alih digunakan untuk memberi efek jera, cancel culture tak jarang berubah menjadi perilaku bullying pada pelakunya. Akibatnya mereka yang terkena imbasnya menjadi depresi dan memilih menarik diri dari lingkungan.
Cancel culture bisa menyebabkan seseorang kehilangan rasa empati. Fenomena ini juga menimbulkan masalah sosial lain berupa kekhawatiran takut akan penolakan.
Cancel culture terdapat dalam konsep Habermas tentang ruang publik(1962). Pada bukunya The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society menyebutkan bahwa ruang publik dikuasai oleh kaum elit.
Saat itu, produser, sutradara serta sejumlah penguasa memiliki kemampuan untuk memilih pekerja di industri media, mengatur headline berita, memboikot dan membuat daftar hitam bagi mereka yang tidak diinginkan.
Zaman berganti internet membuat keterbatasan menjadi tak terbatas. Kini siapa saja dengan mudah mengakses dan berbagi informasi peran media menjadi kontrol sosial pun menjadi bias.
Fenomena cancel culture tak hanya menjadi masalah sosial tapi juga kesehatan. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan berdasarkan rasa empati dan tolong menolong. Namun sikap penolakan ini tentu akan menimbulkan emosi negatif bagi orang-orang yang terlibat.
Walau begitu beberapa kasus cancel culture berhasil memerangi kasus seksisme dan rasisme. Salah satunya peristiwa yang menimpa pedangdut Saipul Jamil, ia diboikot untuk tampil di acara televisi usai bebas dari penjara karena terjerat kasus pedofilia.
Akibat peristiwa tersebut masyarakat Indonesia kini menjadi lebih peduli terhadap kasus penyimpangan seks ini dan menjadi lebih awas dalam melindungi anak.
Penulis: Farah Fuadona, WNI yang saat ini berdomisili di Ankara, Turki. Suka menulis dan berteman untuk menambah pengalaman.
Melanjutkan episode ke-18 di bulan Oktober, Podcast Rumpita mengangkat tema pengalaman menjadi seorang ibu pertama kali saat dia jauh dari keluarga besar di Indonesia dan tinggal di perantauan.
Untuk membahasnya lebih mendalam, Fadni yang menjadi Host dari Podcast Rumpita mengundang rekan Host lainnya, yakni Nadia yang saat ini sedang off dari Podcast Rumpita. Nadia dikabarkan sedang menjalani peran baru sebagai seorang ibu sehingga sedang mengambil cuti dari Podcast Rumpita.
Nadia telah tinggal lebih dari 10 tahun di Jerman sejak dia memulai studi S1. Tak disangka, Nadia pun menikah dan membangun keluarga di Jerman. Nadia pun merasakan berbagai perasaan yang menakutkan ketika dia mengetahui dirinya hamil. Perasaan cemas, khawatir, tidak percaya diri, hingga menyangsikan kemampuan diri sendiri sebagai ibu pun muncul dalam pikiran Nadia.
Bagi Nadia, tugas menjadi ibu adalah seumur hidup dalam menjalin ikatan batin antara ibu dengan anak. Nadia bertemu dengan suami, yang juga sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, kemudian memulai hidup baru berkeluarga di Jerman. Tak hanya soal perasaan yang dialaminya, Nadia juga menceritakan pengalamannya untuk menyiapkan diri menjadi ibu seorang diri.
Nadia sempat didiagnosa punya kadar diabetes tinggi saat hamil. Dia pun harus wanti-wanti untuk mengonsumsi apa yang dinikmatinya selama hamil. Bagi Nadia, ketidakhadiran ibu dan keluarga besar di Indonesia membuat dia merasa was-was menantikan sang buah hati.
Di Indonesia, kita terbiasa mendapatkan berbagai segudang nasihat untuk ibu hamil. Belum lagi banyak sekali bentuk perhatian dan dukungan sosial yang diberikan keluarga besar. Namun, Nadia tidak mengalaminya saat dia seorang diri tinggal di perantauan.
Bagaimana pengalaman Nadia menyiapkan diri untuk tidak takut menghadapi proses kehamilan? Apa saja yang harus dipersiapkan kalau seorang perempuan pendatang seperti Nadia, hamil dan melahirkan di Jerman? Mengapa Nadia merasa cemas dan khawatir sebelum persalinan? Bagaimana proses persalinan pada umumnya di Jerman? Siapa yang membantu persalinan Nadia di Jerman?
Selengkapnya diskusi Podcast dapat didengar berikut ini:
Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.
Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.
Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.
Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.
Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.
Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.
Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.
Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.
Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.
Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.
Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.
Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.
Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.
Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.
Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.
Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.
Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.
Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.
Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!
Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.
Program Workshop Visual Arts – Seni Kolase diselenggarakan Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Komnas Perempuan Republik Indonesia yang bertujuan agar mendorong partisipasi warga melalui karya seni sebagai gerakan global untuk menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan, sehingga tercapai kesetaraan gender yang menjadi fokus proyek.
Program Workshop Seni Kolase 2023 diselenggarakan pada Sabtu, 4 & 11 November 2023 pukul 10.00 – 12.00 CET/ pukul 16.00 – 18.00 WIB melalui zoom meeting. Harapannya peserta dapat mengambil bagian dalam kampanye 16 Hari untuk memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung 25 November – 10 Desember 2023.
Program Workshop Seni Kolase 2023 ini hanya untuk 30 peserta. Mohon peserta menuliskan alasan kuat mengikuti workshop ini sehingga menjadi pertimbangan panitia untuk memilih Anda. Pendaftaran ditutup hingga tanggal 2 November 2023.
Ketentuan peserta:
Warga Indonesia berusia minimal 18 tahun.
Bersedia hadir penuh dan tepat waktu dalam pertemuan 1 dan 2.
Bersedia menyerahkan hasil karyanya setelah workshop kedua selesai.
Bersedia mengambil foto/scan karya yang diproduksinya dan mengirimkannya ke panitia penyelenggara via email info@ruanita.com.
Bersedia menuliskan deskripsi singkat (3-5 kalimat) tentang karya yang dibuat dan dicantumkan (nama & akun media sosialnya) pada saat kampanye berlangsung.
Bersedia menyediakan peralatan seperti: gunting, cutter, lem kertas, isolasi, doubletape, kertas gambar ukuran A4, penggaris, alas pemotong dan bahan seperti: majalah/brosur/koran bekas, dll.
Bersedia mengisi formulir berikut
Pengiriman produk workshop sebagai partisipasi kampanye dilakukan selama 11 – 14 November 2023 via email info@ruanita.com. Sebagai tindak lanjut, 15 karya terbaik dari peserta akan dipilih panitia dan ditampilkan di akun media sosial IG, FB, dan website Ruanita Indonesia dan di-repost oleh akun Komnas Perempuan Indonesia. Karya peserta juga bisa dilihat di website www.ruanita.com.
Program cerita sahabat spesial digelar oleh Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia setiap bulan melalui video berkisar 5-10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube. Pada episode Oktober 2023 ini, Ruanita Indonesia mengundang Mala Holland yang telah bekerja di Inggris sebagai Psikoterapis. Sebagai tenaga profesional untuk Trauma Care Practitioner, Mala melakukan pendekatannya melalui play and creative arts dalam melayani kliennya dari berbagai kelompok usia.
Menurut Mala, trauma terjadi sebagai respon tubuh terhadap peristiwa yang pernah dialami. Mala menyadari bahwa tidak mudah bagi tiap orang untuk menceritakan persoalan trauma yang dialaminya. Bahkan Mala pernah mendapatkan klien usia anak-anak yang sama sekali belum dapat mengkomunikasikan apa yang dialaminya akibat peristiwa yang menyebabkan dia trauma.
Melalui pendekatan Play and Creative Art Therapy, Mala membantu para kliennya untuk mengkomunikasikan apa yang mereka alami dan rasakan. Menurut Mala, creative art atau playdough bisa membantu klien menggali hal yang tidak disadarinya yang ada di bagian ketidaksadaran manusia.
Trauma menurut Mala terjadi pada memori yang fragmented dan mungkin saja “tidak utuh” sehingga perlu dibantu untuk mengenali apa yang membuat seseorang itu merasa trauma. Setiap orang mengalami trauma yang tidak mudah dan perlu penanganan ahli/profesional melalui berbagai pendekatan. Mala sendiri juga menyebutkan berbagai trik yang bisa membantu seseorang untuk keluar dari traumanya.
Pergi ke terapi atau bertemu dengan tenaga ahli adalah sebagian kecil yang memang membantu seseorang untuk keluar dari trauma. Namun, sebagian besar waktu yang diperlukan keluar dari trauma bergantung pada orang tersebut dan dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya seperti keluarga.
Mala menyarankan agar kita perlu mencari tahu mana terapi yang cocok dengan kebutuhan kita. Bahkan Mala meminta kita untuk mengecek policy yang dimiliki si terapi dalam membantu kliennya. Kita bisa saja pergi mencari bantuan ke piskoterapi lainnya, bilamana dirasakan tidak cocok.
Bagaimana pendekatan play and creative art therapy dalam membantu klien mengatasi trauma? Apa saja yang diperlukan orang yang mengalami trauma untuk mengatasinya? Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga dan social support system dalam membantu orang sekitar yang mengalami trauma? Berapa besaran biaya dan cara mendapatkan terapi untuk mengatasi trauma?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.
Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”
Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.
Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.
Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.
Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.
Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?
Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:
Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.