Di bulan Juli 2023 Podcast RUMPITA mengundang Sahabat RUANITA yang tinggal di India dan sekarang sedang menempuh studi kedokteran yang berfokus pada Ayurveda. Dia adalah Rakanita Arifah yang berasal dari Tangerang dan kini menetap di India untuk mendalami pengobatan tertua di dunia, yang dikenal Ayurveda. Nita, demikian beliau disapa, mengenal Ayurveda sejak dia mengikuti jejak ibunya yang adalah guru Yoga di Bali.
Banyak orang Indonesia belum memahami dan tidak mengenali Ayurveda, di bawah Kementerian Ayush di India, Central Council of Indian Medicine, dan kurikulum pembelajarannya diatur oleh lembaga yang bernama CCIM (=Central Coucil Indian Medicine) sejak 1971. Nita pertama kali belajar bahasa Sansekreta untuk memelajari dasar-dasar Ayurveda, anatomi tubuh, fisiologis dan lainnya di tahun pertama studi.
Dalam Ayurveda, kita perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki pengobatan yang berbeda meski memiliki penyakit yang sama dengan orang lain karena semua tergantung pada tipe tubuhnya.
Menurut Nita, konten pengobatan Ayurveda ini universal meski pendekatan yang dipakai seperti dalam ajaran agama Hindu. Pada tahun ketiga, Nita pun mulai mendalami kasus dan praktik klinis langsung di rumah sakit yang ditemani oleh dosen.
Di tahun keempat, Nita mulai menjalani praktik klinis langsung di rumah sakit sebagai tahun terakhir. Untuk praktik klinis langsung, Nita akan mendapatkan giliran bersama mahasiswa lainnya.
Nita banyak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris terutama untuk hal-hal yang masih belum dipahami selama pembelajaran.
Nita berharap usai studi Ayurveda dapat diaplikasikan di Indonesia terutama masyarakat Indonesia yang bisa menjadi alternatif pengobatan. Indonesia sendiri telah mulai diperkenalkan Ayurveda sebagai pengobatan sejak lama.
Bagaimana Nita menjalani studi kedokteran Ayurveda? Bagaimana Nita menjelaskan Ayurveda sebagai pengobatan untuk masyarakat yang belum banyak diketahui secara umum di Indonesia? Apa yang akan dilakukan oleh Nita setelah selesai studi?
Simak selengkapnya di Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA berikut ini:
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Ajeng dan tinggal di Hamburg, Jerman. Mungkin kalian sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya di Cerita Sahabat Ruanita. Kali ini, saya mau bercerita tentang kesulitan saya memutuskan sesuatu.
Saya baru menyadari kesulitan tersebut setelah saya tinggal jauh dari rumah. Sebelumnya saya berkuliah di Bandung dan pulang ke rumah orang tua di Tangerang. Perjalanan ini bisa ditempuh dengan cepat dengan bus atau mobil travel. Jadi kalau saya perlu apa-apa, saya hanya perlu pulang. Ketika saya bingung memutuskan sesuatu, tinggal tanya ibu saya.
Begitu saya tinggal di Jerman, saya kebingungan saat membeli pakaian atau sepatu. Ini bukan hanya soal modelnya saja, tetapi juga ukurannya. Tidak hanya itu, hal kecil lain yang membuat saya harus memilih pun membuat saya overwhelmed.
Jika saya ingat-ingat, banyak sekali pengalaman saya saat saya bingung memilih barang. Saya selalu harus bertanya ke teman-teman dan keluarga (ibu dan adik perempuan) dengan cara mengirimkan foto-foto barang tersebut ke mereka. Saya meminta mereka memilihkannya untuk saya.
Tidak jarang, saya akan memesan atau membeli semua pakaian atau sepatu yang saya suka untuk dicoba di rumah dulu. Tentu saja, saya mencobanya tidak sendirian. Saya akan mengirimkan foto-fotonya ke teman-teman saya atau bahkan menelepon video dengan mereka agar mereka melihat saya saat mengenakan pakaian tersebut. Untungnya, teman-teman saya ini mempunyai selera yang bagus tentang fesyen sehingga bisa saya andalkan.
Bulan lalu, saya memesan sepatu di online shop. Saya memesan tiga sepatu dengan dua model dan dua ukuran berbeda untuk saya coba di rumah teman. Ya, di rumah teman. Saya juga mengirim langsung ke rumah dia. Selain karena saya jarang di rumah, saya ingin agar teman saya itu bisa melihat langsung saat saya memakainya. Padahal, saya sudah mengirimkan foto layar sepatu itu sebelumnya ke dia. Akhirnya, setelah saya melihat dan mencoba langsung, semua sepatu tersebut saya kembalikan.
Ditemani dengan teman saya itu, kami pergi ke toko sepatu dan menemukan sepasang sepatu yang nyaman. Tentu saja, itu atas bantuan dia. Dia yang memilih warna dan modelnya untuk saya. Oh ya, toko sepatu yang kami datangi ada cabangnya di mana-mana. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi ke salah satu cabang tokonya tetapi tidak menemukan apa-apa.
Sepatu tersebut tidak saya pakai sampai dua minggu loh. Saya menunggu dempul ortopedi saya selesai, karena akan disesuaikan dengan sepatu tersebut. Setelah insole dimasukkan, saya memakai sepatu tersebut untuk keluar rumah. Ujung-ujungnya, saya menyesal membelinya. Pada waktu itu, saya memang membeli satu ukuran lebih besar agar insole bisa masuk. Sebagai catatan, sepatu tersebut punya insole yang bisa dilepas. Memang sih setelah sepatu disesuaikan, insole tersebut masuk. Namun, bagian lain kaki saya menjadi sakit karena sepatu itu ternyata terlalu besar.
Sebelum membeli barang, biasanya saya juga akan membaca deskripsi barang dan review dengan teliti. Saya akan memasukkan barang dengan rating bagus ke keranjang belanja digital sebelum membaca deskripsinya. Barang-barang yang saya maksudkan ini biasanya bukan hanya pakaian, tetapi lebih ke peralatan dapur, rumah tangga, atau barang elektronik. Saya merasa hanya sedikit barang-barang di rumah yang saya beli tanpa bertanya ke orang lain atau membaca deskripsinya terlebih dahulu.
Saya memang tidak terlalu senang pergi langsung ke toko pakaian atau sepatu. Menurut saya, banyaknya pilihan di toko maka membuat saya memerlukan waktu lama untuk berpikir. Bisa jadi, di toko saya akan sibuk memasukan banyak pilihan barang ke keranjang, berkeliling di toko tersebut sambil menimbang yang mana pilihan saya, atau apakah saya benar-benar membutuhkan dan mau membeli barang tersebut?
Saya juga selalu menyimpan struk belanja. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kalau saya mungkin mengembalikan barang tersebut. Bisa jadi, saya akan melihat-lihat barang di toko online terlebih dahulu, kemudian mengunjungi ke toko sebenarnya untuk melihat langsung barang tersebut. Setelah itu, saya mungkin akan meletakan barang itu kembali di Display, lalu saya pulang untuk kembali melihatnya di toko online dan berpikir ulang.
Ini tidak hanya persoalan membeli barang. Membeli makanan di restoran juga, itu membingungkan untuk saya. Biasanya saya akan memesan makanan yang sudah pernah saya makan. Kalau di restoran baru, saya akan mengecek terlebih dulu di google review atau website restoran tersebut sebelumnya sehingga saya bisa berpikir lebih lama. Atau saya akan minta rekomendasi dari teman, jika mereka pernah makan di sana.
Memasak juga kadang menjadi hal yang sulit bagi saya. Kadang-kadang, saya akan bertanya ke keluarga di Indonesia atau suami di Denmark apa yang saya harus saya masak, walaupun hanya saya yang makan sendiri. Suami saya sudah enggan meresponnya karena dia tidak mengerti masakan Indonesia. Selain itu, pertanyaan saya terdengar “receh” juga.
Tidak hanya itu, saya juga sulit memutuskan apa yang harus saya lakukan. Contohnya, apakah saya harus menyeberang jalan saat lampu lalu lintas merah sebentar lagi, atau nanti saja? Kalau di tempat kerja, saya bingung memutuskan prioritas apa yang harus saya kerjakan terlebih dulu. Saya sudah tidak ingat lagi contoh-contoh lainnya. Ujung-ujungnya, saya akan terlihat seperti orang linglung, karena saya bisa jadi berputar-putar sendirian di tempat yang sama.
Karena setahun terakhir ini saya sakit kaki, akhirnya saya bikin janji juga di fisioterapi di dekat rumah. Fisioterapis yang praktik di sana ada banyak. Saya memilih fisioterapis yang paling atas di dalam daftar. Mengapa? Semakin saya melihat ke bawah daftar fisioterapis, saya semakin bingung.
Ternyata tepat sekali, jadwal fisioterapis yang saya pilih memang yang paling cepat. Di hari pertama, fisioterapis tersebut mengatakan kalau di sana saya bisa bebas memilih fisioterapis siapa pun. Fisioterapis akan menyesuaikan dengan jadwal saya. Di hari yang sama saya langsung booked empat janji lainnya dengan dia dan satu janji dengan terapis lainnya. Itupun karena jadwal janji terapis pertama tidak sesuai dengan saya. Iya, saya keukeuh membuat jadwal dengan dia lagi untuk menghindari kebingungan mencari fisioterapis baru.
Kemarin adalah jadwal saya dengan fisioterapis yang kedua. Ternyata lebih enak dibandingkan terapis yang pertama. Saya merasa menyesal juga tidak mencoba ke fisioterapis yang lain, karena dari sana saya akan belajar teknik baru untuk latihan otot kaki. Setiap jadwal dengan fisioterapis pertama, dia akan memberikan pijatan di kaki saya yang sakit.
Baru-baru ini saya baru mengerti, bahwa kesulitan saya memutuskan sesuatu itu berhubungan juga dengan ketakutan. Saya takut sepatu yang saya pakai tidak enak dipakai dan tidak bagus, karena itu saya tanya teman. Saya memesan atau memasak makanan yang itu-itu saya karena saya takut makanan lain tidak enak dan saya tidak menikmatinya. Saya takut lari menyeberang di zebra cross yang hampir merah, karena saya malu orang lain melihat saya panik atau takut tiba-tiba mobil akan jalan saat saya masih di tengah jalan. Takut salah, takut malu, dan takut menyesal, itu tiga alasan kebimbangan saya.
Walau saya selalu bertanya ke teman tentang pakaian dan sepatu yang akan dibeli, saya tidak selalu mendengarkan kata mereka. Saya pernah membeli sepatu kulit, walaupun teman saya bilang tidak. Alasannya, dia punya pengalaman kaki menjadi sakit dan lecet saat dia memakai sepatu kulit. Saat sepatu itu datang (lagi-lagi ke rumah teman saya), saya suka sekali.
Sejujurnya, saya merasa sedikit sedih dan takut, kalau pilihan saya sendiri ini salah. Apalagi, setelah saya melihat reaksi teman saya yang tidak tertarik saat saya memakai sepatu itu. Sampai sekarang, saya tidak menyesal mengenakan sepatu tersebut, walaupun memang kaki saya menjadi sakit dan berubah bentuk. By the way, sakit kaki yang tadi diceritakan di atas itu bukan karena sepatu kulit ini. Memang saya sudah mengalami sakit kaki sebelumnya.
Soal alasan psikologis kesulitan memilih, saya baru mengetahui awal tahun ini. Saat itu, terapis psikologis saya mengajukan banyak pertanyaan saat dia sedang melakukan diagnosa. Salah satu pertanyaannya adalah apakah saya susah memutuskan sesuatu. Contoh yang dia maksudkan adalah memilih baju atau makanan dalam kegiatan sehari-hari. Alhamdulillah, saya belum masuk ke tahap tersebut. Saya bisa memutuskan keduanya itu dengan cepat, walaupun pada akhirnya saya selalu memakai baju atau memesan masakan yang sama.
Setelah saya mengetahui indecisiveness berhubungan dengan psikologis saya, saya semakin berusaha untuk menguranginya. Trik saya adalah tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Jika saya mau memesan sepatu atau pakaian, saya memesan saja langsung model yang disukai. Hanya saja, saya memesan dua ukuran berbeda agar bisa dicoba dulu di rumah.
Saat saya memesan barang di online shop, saya masih mencari barang yang memiliki ulasan yang bagus dan membacanya tidak lagi detil. Saya sering juga memasukan dua atau tiga barang tersebut di keranjang lalu saya menunggunya hingga sebulan. Setelah itu, biasanya saya malah tidak lagi punya keinginan untuk memesan.
Hal yang lebih susah mungkin, memutuskan hal yang tidak bisa dibeli atau ditukar, seperti fisioterapis itu. Inginnya saya bisa bertanya ke mereka atau resepsionis tentang fisioterapis mana yang lebih bagus yang disarankan untuk saya. Tentunya, jawaban mereka akan sama saja, seperti kami punya standar yang sama. Sayangnya, di aplikasi cari dokter/terapis belum ada sistem ulasan pasien mereka.
Sebelum menikah, saya diserang oleh indecisiveness yang sangat kuat. Saya takut salah pilih. Rasanya saya mau bertanya ke semua orang dan meminta mereka memutuskannya untuk saya. Namun, tentu saja itu tidak bisa dilakukan. Alhamdulillah, saya tidak menyesali keputusan tersebut sampai sekarang. Kalau pun ada, saya masih punya alasan kuat untuk bahagia bersama suami.
Untuk Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Kalau kamu juga memiliki problem indecisiveness seperti saya, cobalah untuk tidak terlalu memikirkan baik dan buruk dari pilihan kita. Sekali-sekali, cobalah bersikap spontan melakukan atau membeli sesuatu! Jangan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk bersikap overthinking! Kita bisa loh mengikuti kata hati.
Pada episode bulan Juni 2023, program Podcast RUMPITA atau Rumpita bersama RUANITA kali ini mengangkat tema tentang tantangan perempuan sebagai ibu pekerja di Jerman dalam membagi waktu dan peran. Untuk membahas diskusi lebih lanjut, Nadia yang menjadi host mengundang Euginia Putri Stederi Martenelli yang bekerja di salah satu institusi pemerintahan di Jerman setelah Utte, begitu beliau disapa, menyelesaikan studi Bachelor di Jerman.
Sejak 2021 Utte mendapatkan peran baru sebagai ibu dari seorang putri. Utte memahami bahwa peran sebagai pekerja dan ibu tidak mudah terutama dalam membagikan waktu dan peran, tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga besar. Utte mengakui bahwa pemberi kerja di tempatnya telah memberikan dukungan sosial bagi para ayah atau ibu baru dalam membagikan perannya sebagai orang tua. Utte bekerja hanya 4-5 jam saja dalam sehari.
Utte mengakui bahwa biaya untuk mengeluarkan asisten rumah tangga sangat mahal di Jerman. Selama Utte bekerja di kantor, anak dititipkan di Daycare yang memang menjadi salah satu program pemerintah Jerman. Semakin besar gaji orang tuanya, maka semakin besar pula biaya pengeluarannya di Daycare. Misalnya, suami Utte bekerja fulltime sedangkan Utte bekerja sebagai paruh waktu sehingga dia mendapatkan level ke-4 dalam pembiayaan Daycare.
Bagaimana pengalaman Utte untuk mengakses waktu cuti menjadi orang tua di Jerman? Simak juga bagaimana Utte mendapatkan tunjangan pemerintah di Jerman dalam mengasuh anak? Apa saja kiat-kiat Utte untuk mengatasi tantangan sebagai pekerja dan ibu di Jerman? Apa saja strategi yang diperlukan pekerja dan ibu apabila kita ingin tinggal di Jerman?
Simak penjelasan lebih lanjut dalam diskusi Podcast berikut ini:
Dalam rangka memperkuat kerja sama program pemberdayaan warga Indonesia di Hamburg, RUANITA mengadakan diskusi tatap muka dengan sejumlah volunteer di Hamburg yang tergabung dalam DIG Hamburg, IKAT Agentur, dan PPI Hamburg. Acara ini dimaksudkan untuk mendiskusikan program awal yang melibatkan warga Indonesia di Hamburg untuk meningkatkan kapasitas diri dan wawasan selama tinggal di luar negeri.
Pada hari Senin (3/7) lalu, RUANITA juga berhasil mengadakan diskusi tatap muka dengan Konjen dan Staf KJRI Hamburg untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan warga Indonesia, terutama kelompok rentan di Hamburg. Diskusi ini mendapatkan respon yang positif untuk menindaklanjuti program yang berkelanjutan sebagai mitra pemerintah Indonesia di luar negeri.
Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya, ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis.
Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz, Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk mengurus kebun orang Jerman.
Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman.
Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.
Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.
Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam.
Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis.
Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus.
Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam).
Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi?
Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita?
Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman!
Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman.
Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos, menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan kemampuan Bahasa Jerman.
Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600 jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi.
Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan, bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet.
Bagian kursus orientasi
Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu, meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha…
Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat, teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha.
Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.
Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya, seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!
Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!
Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian.
Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek atau panjang. Baju mana yang lebih bagus dan seterusnya?“ jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar.
Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur.
Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut.
Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.
„Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia, bisa saja tidak biasa di Jerman :).
Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.
Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman.
Episode IG Live pada bulan Juni ini, RUANITA mengangkat tema International Widows Day yang diperingati setiap 23 Juni oleh dunia untuk mengadvokasi hak para janda yang masih mendapatkan stigma sosial dan belum dihargai di masyarakat.
Oleh karena itu, RUANITA mengundang Rizky Suryani atau yang disebut Kiky yang kini menetap di Swedia lewat akun IG: little_monkey2016 dan diskusi dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman lewat akun IG: ruanita.indonesia.
Kiky telah menetap di Swedia sejak 2020 setelah menikah dengan pria asal Swedia pada pernikahan keduanya. Sebelumnya Kiky telah menikah dengan pria asing juga pada pernikahan pertamanya, tetapi kandas disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga selama lima tahun.
Enam tahun setelah pernikahan pertamanya berakhir, Kiky bertemu dengan almarhum suami keduanya. Setahun pernikahannya, almarhum suaminya mempunyai kanker.
Kiky mengakui almarhum suami keduanya adalah true love yang membuat Kiky merasakan cinta sejatinya, tetapi sayangnya maut memisahkan mereka. Kiky pun menyadari banyak challenging yang dihadapinya dalam merantau di Swedia seperti tantangan budaya, bahasa, sosial, dan hukum tetapi Kiky senang menjalaninya berkat dukungan almarhum suaminya. Setahun setelah menikah dengan alrmahum, suaminya didiagnosa kanker.
Menurut Kiky, pengalaman menjadi janda itu berbeda antara janda ditinggal mati dengan janda ditinggal hidup karena Kiky mengalami keduanya dalam pernikahannya. Menjadi janda di Swedia, Kiky mengakui tidak mengalami stigma sosial dari masyarakat sekitar.
Dia justru mendapatkan belas kasihan dari lingkungan sekitarnya. Kiky menyebutnya: “It’s just life. It happens to anybody.” ketika pernikahan keduanya berakhir karena maut.
Kiky berpendapat bahwa janda adalah status sosial seperti layaknya orang lajang, orang menikah, dan juga janda yang dapat terjadi pada siapapun. Kiky tidak merasa malu terhadap statusnya sebagai janda pada pernikahan pertamanya, bahkan dia cenderung bangga karena berhasil keluar dari pernikahan toksiknya.
Sedangkan pada pernikahan kedua, dia pun merasa sedih harus kehilangan suami akibat kanker yang merenggutnya. Akhirnya, Kiky kembali pada mindset untuk memahami situasi hidupnya.
Bagaimana Kiky menghadapi tantangan sosial yang kadang masih bermunculan di masyarakat Indonesia? Apa pesan Kiky pada masyarakat umumnya dan sahabat RUANITA khususnya yang mengalami situasi yang sama dengannya? Apa harapan Kiky di Hari Janda Internasional ini?
Simak selengkapnya dalam rekaman ulang berikut ini:
Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini.
Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.
Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.
Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia.
Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.
Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.
Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia.
Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya.
Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.
Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki.
Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita.
Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.
Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.
Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!
Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw
Foto-foto berikut adalah Soft Launching buku yang diselenggarakan oleh RUANITA bekerja sama dengan KBRI BERLIN, Rumah Budaya Indonesia di Berlin, APPBIPA JERMAN, dan IKAT Jerman. Acara ini terselenggaranya secara hybrid di Rumah Budaya Indonesia di Berlin pada Jumat, 23 Juni 2023 pukul 15.30 CEST.
Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.
Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.
Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.
Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.
Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.
Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.
Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.
Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.
Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.
Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.
Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.
Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.
Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.
Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing. Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.
Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.
Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.
Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.
Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.
Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.
Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.
Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.
Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.
Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.
Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.
Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.
Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.
Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.
Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini. Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.
Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.
Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.
Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!
Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.
Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.
Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.
Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.
Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.
Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.
Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.
Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”
Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.
Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.
Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!
Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.
Program Cerita Sahabat Spesial Episode Juni 2023 mengangkat tema remitansi keluarga di Indonesia yang memang dirayakan secara internasional pada 16 Juni setiap tahun. Pada perayaan International Day of Family Remittances RUANITA mengundang Senior Economist, Senior Banker and Business Woman yang kini menetap di Belanda. Dia adalah Dessy Rutten yang telah 25 tahun tinggal di Eropa dan ahli dalam urusan ekonomi perbankan.
Karena keahlian dalam literasi keuangan tersebut, RUANITA meminta pendapat beliau tentang remitansi keluarga yang biasa dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia tinggal dan bekerja di luar negeri? Dari sekian alasan pastinya mereka mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dengan berbagai alasan.
Dessy menjelaskan tujuan orang Indonesia melakukan remitansi. Pertama, remitansi ditujukan untuk kebutuhan edukasi di mana orang-orang Indonesia di luar negeri banyak mendukung kebutuhan pendidikan anggota keluarga mereka di Indonesia.
Peringkat kedua, remitansi banyak dilakukan juga untuk berobat anggota keluarga di Indonesia. Alasan ketiga, orang-orang Indonesia di luar negeri melakukan remitansi untuk membangun atau merenovasi rumah di Indonesia. Baru alasan terakhir yang sebenarnya bagus dan penting adalah modal usaha.
Tidak semua orang-orang Indonesia di luar negeri bertahan seumur hidup dan tinggal di luar negeri, banyak juga dari mereka yang ingin menghabiskan masa tua di tanah air. Sayangnya anggota keluarga di Indonesia tidak memanfaatkan uang remitansi yang diberikan anggota keluarga lainnya di luar negeri.
Dessy menyarankan untuk meminta anggota keluarga di Indonesia agar membuka akun bank di Indonesia agar bukti pengiriman uang dapat terekam dengan jelas. Bagaimana pun pemberian uang secara cash kepada anggota keluarga di Indonesia menurut Dessy adalah sangat tidak mendidik.
Bila melihat APBN di Indonesia, Dessy berpendapat kalau nilai remintasi itu menyumbangkan sepuluh persen. Artinya nilai remitansi sendiri lebih besar dari sektor pariwisata. Dengan potensi nilai remintasi yang besar, sudah seharusnya pemerintah beserta jajarannya untuk membuat kebijakan dan mengelolanya dengan tepat sasaran. Bukan tidak mungkin, tujuan dari International Day of Family Remittances yang diperingati setiap 16 Juni bahwa remitansi dapat berdampak pada pembangunan dapat tercapai.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak penjelasan lengkap dari Dessy Rutten di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program kami.
Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Perkenalkan saya Nijhas, seorang perempuan asal Indonesia yang menetap di Jerman sejak 2017. Awal mulanya saya datang ke Jerman karena ingin melanjutkan studi Magister di Jerman. Kini saya bekerja di salah satu Organisasi Non Profit di kota terbesar di Jerman, Berlin.
Family remittances atau pengiriman uang ke keluarga di Indonesia merupakan tema menarik, tidak hanya karena berkaitan dengan studi yang saya tekuni tetapi juga pengalaman saya selama ini sebagai anggota keluarga untuk transfer uang ke keluarga Indonesia. Setiap bulan, saya rutin mengirimkan uang untuk kakak saya yang tinggal di Indonesia. Transfer yang saya lakukan biasanya lewat transfer antar bank, salah satu bank di Indonesia. Jadi saya transfer tetap pakai mata uang rupiah. Tentu saya sudah transfer uang gaji saya di Jerman ke rekening bank pribadi saya di Indonesia.
Kalau ditanya tujuan saya transfer, paling banyak tentu untuk kebutuhan sehari-hari seperti bagaimana keluarga kakak saya dapat memenuhi kebutuhan sembako atau membayar tagihan listrik, air dan lainnya. Saya hanya membantu sedikit dari pengeluaran keuangan dia. Saya tidak pernah memperhitungkan nominalnya, tetapi itu rupanya sangat membantu perekonomian Indonesia juga loh. Dengan kita mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia, secara tidak kita sadari, transaksi tersebut mendorong perekonomian di Indonesia.
Dengan uang yang kita kirimkan ke keluarga di Indonesia, keluarga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk dibelanjakan, misalnya untuk membeli kebutuhan makanan pokok, untuk bayar uang sekolah (Edukasi), untuk bayar BPJS Kesehatan (Kesehatan), untuk bayar kontrakan rumah (Well-Being). Mungkin kita tidak berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagaimanapun nilai transfer kecil kita itu berpengaruh untuk terus menghidupkan usaha kecil dan rumah tangga yang memang memerlukan yang ada di Indonesia.
Saya beri contoh misalnya bagaimana mata uang asing yang saya terima sebagai pekerja di Jerman itu dikonversi, dari Euro ke Rupiah maka akan berdampak positif juga pada ekonomi kita. Mau tidak mau permintaan akan Rupiah akan naik. Hal ini menjaga kestabilan perekonomian kita. Bahkan apa yang kita lakukan itu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap uang asing.
Di era moderen seperti sekarang, saya pikir kita sudah semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi perbankan, termasuk mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dari negara tempat kita tinggal dan bekerja. Contohnya teman-teman saya bercerita tentang berbagai aplikasi transfer kekinian yang kata mereka juga paling cepat, murah dan aman. Meski kita juga harus mempertimbangkan kalau keluarga di Indonesia itu gampang juga akses internetnya, tahu bagaimana menggunakan aplikasinya dan memang diterima secara langsung (tanpa pihak ketiga).
Realita menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan keluarga meningkat ketika ada anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Kita tidak lepas dari cara pandang di Indonesia kalau keluarga itu begitu penting, termasuk bagaimana kita juga ikut membantu perekonomian keluarga. Menurut pendapat saya ini hal yang bagus dan saya mendukung cara pandang tersebut.
Saya juga melihat bagaimana status ekonomi keluarga yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri ternyata ikut terdongkrak status ekonominya di mata masyarakat. Ini jelas kalau kesejahteraan pekerja migran pun ikut mengalami perbaikan. Saya juga sering mendengar juga kalau teman-teman yang bekerja di luar negeri pada akhirnya bisa bangun rumah, membayar sekolah anak-anak, bisa membeli baju bermerek, membuat toko kelontong sampai ada yang berinvestasi saham juga.
Pekerja migran membuktikan bahwa nasib mereka menjadi lebih baik ketika mereka mau bersusah payah di negeri orang dan bisa membantu keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Saya menyayangkan saja kalau uang yang diberikan dari anggota keluarga di luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kita bisa loh gunakan uang tersebut untuk investasi seperti membeli tanah atau properti. Ide lain misalnya membuka usaha atau membuat bisnis produktif lainnya yang sekarang juga sudah marak di indonesia.
Kita perlu ingat kalau kita tak selamanya bekerja terus di luar negeri. Suatu saat kita ingin pulang ke Indonesia. Nah, kalau uang yang kita kirimkan hasil kerja keras di Indonesia bisa dipergunakan untuk investasi misalnya, bukan tidak mungkin itu menjadi bekal ketika kita kembali pulang ke Indonesia saat sudah pensiun bekerja di luar negeri. Jadi teman-teman yang bekerja di luar negeri juga bisa mengingatkan anggota keluarganya untuk bersikap ekonomis dan memanfaatkan peluang itu dengan baik.
Saya pikir tidak semua orang punya kemampuan untuk mengelola uang. Keterlibatan pemerintah atau LSM bisa turut memberikan kapasitas atau pelatihan soal manajemen keuangan atau kewirausahaan. Tidak hanya itu, pentingnya juga mengingatkan gaya hidup yang berlebihan dan konsumtif yang justru tidak menghasilkan benefit di masa depan.
Di akhir cerita saya, saya berharap di hari International Day of Family Remittances yang kita rayakan ini pemerintah juga mampu memberantas kelompok-kelompok penyedia jasa layanan pengiriman uang yang ilegal atau terkesan bodong. Hal ini sungguh merusak manakala mereka mengiming-imingi biaya yang rendah kepada anggota masyarakat yang mudah terpengaruh. Perlu juga kita memberantas bank-bank gelap yang menawarkan biaya rendah tetapi menipu. Hal ini masih ditemukan pada kasus-kasus pekerja migran yang tergiur jasa mereka.
Literasi tentang perbankan dan manajemen keuangan juga diperlukan oleh pekerja migran agar mereka tahu bagaimana mengelola penghasilannya secara tepat guna. Pemerintah diharapkan dapat memberikan penyuluhan remitansi yang benar kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri.
Terakhir untuk Sahabat RUANITA, saya menyarankan bahwa selagi kita mampu bekerja di luar negeri, bantulah keluarga kita di Indonesia karena apa yang kita lakukan tidak hanya membantu keluarga saja tetapi juga perekonomian bangsa juga.
Penulis: Nijhas, studi dan bekerja soal keuangan dan kini bekerja di Berlin, Jerman.
Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see.
Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.
Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.
Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.
Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi.
Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.
Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.
Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting.
Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.
Di bulan Mei 2023 ini RUANITA Kembali hadir dengan diskusi online IG Live bertema ‘Bagaimana Play Therapy Bisa Mengatasi Trauma’. Kali ini host Dina Diana @ibudindia mengundang narasumber diskusi Mala Holland, seorang psikoterapis dan trainer untuk trauma model di Inggris yang mendalami play and creative art therapy untuk mengatasi trauma di @connectplaytherapy.
Kala mendengar kata ‘bermain’, mungkin yang terpikirkan hanyalah aktivitas bermain untuk anak-anak. Kenyataannya secara ilmiah bermain membawa manfaat positif untuk kesehatan jiwa di segala kelompok usia. Seperti apa sajakah bentuk play therapy dan bagaimana caranya dalam mengatasi trauma?
Mala Holland menjelaskan bahwa trauma itu punya banyak jenis dan bentuk, tergantung pada kasus penyebabnya. Untuk bidang trauma yang didalami oleh Mala sendiri adalah trauma pada kasus kekerasan seksual dan kekerasan domestik.
Play and creative art therapy adalah sebuah model psikoterapi yang menggunakan permainan dan alat-alat seni untuk membantu seseorang mengekspresikan diri dan memproses apa yang dipikirkan atau dirasakan.
Ketika bicara tentang trauma, menurut Mala orang kerap kali orang kesulitan untuk menjelaskan atau bingung untuk mengekspresikan yang dirasakan. Contohnya seperti ketika Mala bertanya ‘Hi, how are you?’ kepada klien, jawaban awal yang didapat hanyalah kalimat-kalimat pendek seperti ‘I’m fine’, atau ‘a little bit sad’.
Ketika mulai memakai tools seperti lewat permainan atau art and crafting material seperti pasir dan tanah liat, mereka bisa lebih mengerti perasaan mereka sendiri, mudah mengekspresikan perasaan, dan lebih bebas untuk memproses apa yang mereka alami.
Dalam hubungan antara usia, memori dan trauma, Mala menuturkan bahwa secara alami anak-anak belum mulai terbentuk memorinya di bawah usia 3 atau 4 tahun. Ini ada hubungannya dengan kematangan fungsi otak, terutama di bagian prefrontal lobe yang mengatur rasionalitas dan baru matang nanti di usia 20-an.
Mala menegaskan bahwa oleh karena itu banyak memori trauma manusia terekam sebagai emosi atau perasaan, namun secara kognitif tidak mampu mengingatnya.
Ini terjadi di banyak kasus trauma di mana korban tidak bisa mengingat kejadian atau penyebab trauma tetapi merasakan efeknya dengan intens, atau bisa tiba-tiba terpicu (triggered)oleh situasi-situasi tertentu.
Untuk kasus di mana trauma itu muncul dan orang tidak punya kemampuan atau tidak sempat untuk memprosesnya, ini akan memengaruhi coping strategy. Menurut Mala, trauma is not just what happen to us, but it is our ability to process the event. Sebenarnya kondisi triggered ini adalah cara kerja alami dari otak untuk melindungi diri agar aman.
Namun ketika efek dari sebuah kejadian menjadi sedemikian hebatnya sampai mengganggu fungsi dan kehidupan sehari-hari, di situlah trauma tersebut sudah berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD) dan membutuhkan penanganan yang berbeda lagi.
Kondisi yang Mala kerap temui adalah kerap kali klien dengan kondisi trauma tahu apa yang membuat mereka sakit atau takut, tetapi tidak memiliki kemampuan kognitif atau kosa kata yang cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi atau apa yang dirasakan.
Namun ketika mulai memakai art sand atau pasir dan gambar saat terapi, barulah keluar cerita tentang kejadian traumatis yang dialami oleh klien.
Mala juga menuturkan bahwa penting bagi orangtua untuk mampu memodelkan komunikasi yang sehat, agar anak belajar untuk berani bercerita dan merasa aman ketika mengomunikasi kejadian apapun kepada orangtua. Di sisi lain, memang ada anak-anak yang pembawaan atau sifatnya cenderung tertutup dan tidak langsung terbuka untuk bercerita.
Di sinilah orangtua harus lebih jeli memperhatikan perubahan perilaku anak-anak mereka, karena Mala menjelaskan bahwa inilah yang akan terlihat lebih awal ketika anak mengalami kejadian yang menimbulkan trauma.
Menurut Mala, terapis play therapy dasarnya mulai dari bekerja pada penanganan trauma pada anak-anak terlebih dahulu lalu baru orang dewasa. Namun khusus art therapy dimulai dengan menangani orang dewasa terlebih dahulu baru kemudian mengambil extra module untuk penanganan trauma pada anak-anak.
Informasi lebih lengkapnya, Sahabat RUANITA dapat simak dalam video berikut:
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendapatkan video terbaru dari kami.
Halo Sahabat Ruanita, namaku Amanda. Di tulisan ini aku mau bercerita tentang pengalamanku transaksi tanpa uang fisik di Cina, tempat aku tinggal sekarang ini.
Saat sampai di Cina pertama kali tahun 2021, aku kesulitan untuk belanja, bahkan membeli makanan di sini. Waktu itu aku, suamiku, dan kedua anak kami harus dikarantina selama tiga minggu di hotel tempat kami tinggal. Sayangnya hotel tersebut dan toko-toko tidak menerima uang fisik, padahal waktu itu kami hanya bawa uang Euro dan Yen saja, belum punya rekening bank Cina. Oh ya, sebelum tinggal di Cina, aku dan suami yang berkewarganegaraan Prancis tinggal di Jerman dan Prancis.
Karena sudah mendapatkan informasi tentang cashless dari forum-forum ekspatriat di Cina, kami membawa tiga kardus popok dari Prancis untuk anak-anak kami yang waktu itu masih berumur di bawah tiga tahun. Makanan memang disediakan oleh catering perusahaan tempat suami kerja, tapi mau tidak mau kami harus makan yang disediakan. Kami tidak bisa memilih. Suamiku yang terbiasa makan roti, terpaksa harus makan nasi. Akhirnya, waktu itu suami pinjam uang ke koleganya yang sudah tinggal lebih lama di Cina dan sudah punya rekening bank Cina. Mereka kirim uang lewat WeChat dan kami ganti dengan Euro ke bank Prancis. Untungnya WeChat dan Alipay, aplikasi yang marak digunakan di Cina untuk transaksi keuangan, bisa digunakan meskipun tidak mempunyai rekening bank Cina.
Setelah selesai karantina, aku dan suami didampingi oleh orang dari agen yang ditunjuk oleh perusahaan suami untuk buka rekening bank di Cina. Di sini setiap orang hanya diperbolehkan punya satu rekening. Pembuatan rekening bank juga mudah, hanya perlu paspor dan surat registrasi tempat tinggal dari kepolisian. Setoran pertama di bank juga tidak perlu banyak. Aku pernah melihat orang-orang tua menyetor uang berkoper-koper atau kantong plastik. Itu masih bisa. Untuk mengambil uang harus dari ATM, tidak bisa di bank langsung. Di ATM tidak hanya untuk mengambil saja, tetapi juga menyetor uang. Nah, registrasi aplikasi seperti WeChat dan Alipay lebih ribet dibandingkan membuat rekening bank. Kami harus memasukkan sumber uang, misalnya rekening bank kami. Paspor, juga harus diverifikasi dengan foto dan scan muka.
Selama hampir dua tahun tinggal di sini, aku mungkin memegang uang hanya 2-3 kali saja, karena itu memang sangat jarang sekali harus pakai uang tunai. Bahkan untuk belanja di pasar tradisional juga memakai aplikasi meskipun pedagangnya orang tua. Aplikasi-aplikasi tersebut juga menggunakan speaker. Setelah kita telah membayar, di hape pedagang akan bunyi, „Anda mendapatkan transaksi uang sebesar 57 yuan“, misalnya. Itu suaranya kencang sekali dan orang-orang di sekitar kami jadi ikut mendengar. Istilah data privacy tidak dikenal di sini.
Aku melihat di sini semua orang dipaksa untuk memahami dan menggunakan cashless. Semua orang harus punya dan bisa pakai hape. Begitu juga dengan orang-orang tua, mereka dipaksa untuk memahami kehidupan sekarang. Banyak orang tua yang menghambat transaksi di kasir karena mereka tidak paham menggunakan hape dan aplikasinya. Di beberapa toko atau restoran, masih ada yang memperbolehkan bayar tunai, walaupun penjual tampaknya tidak senang. Bisa jadi, mereka tidak punya uang tunai untuk kasih uang kembalian ke pembeli. Ini juga yang membuat kesulitan untuk turis-turis yang datang.
Sebelum pindah ke Cina, kami sering baca-baca di forum untuk expat di Cina. Banyak saran untuk mengenal dan bisa menggunakan hape sendiri dulu. Begitu kita turun dari pesawat, QR code ini juga sudah dipakai di bandara di sini. Dulu aku tidak mengerti bagaimana cara scan QR code, aku baru mengetahuinya di sini karena semua harus bisa. Awal tinggal di sini rasanya aku ingin melempar hape. Selain aku tidak mengerti bahasanya, aku tidak tahu menggunakan aplikasi. Kalau aku mau transaksi di toko ada dua cara yakni: aku yang scan QR code mereka atau sebaliknya. Memang sih, cashless memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi rasanya seperti dikontrol gadget. Kalau kita tidak mengerti, tidak punya gadget, atau hape mati maka kita akan „lost“. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Kita tidak bisa sewa sepeda, tidak bisa naik kereta atau taksi. Kita nothing tanpa hape di sini.
Aku menggunakan kedua aplikasi yang tersedia, yaitu Alipay dan WeChat, karena terkadang ada toko online yang hanya menggunakan salah satunya. Mirip dengan aplikasi GoPay di Indonesia. Sesama aplikasi juga bisa mengirimkan uang dengan gratis. Hanya saja, orang tidak bisa mengirimkan uang dari satu aplikasi ke lainnya. Misalkan, aku mau mengirim uang dari WeChat ke Alipay. Aku harus mengirim uang dulu dari WeChat ke bankku, lalu dari sana baru aku mengirim ke Alipay. Itu lebih ribet dan ada biaya 0,1% untuk setiap transaksi transfer uang dari aplikasi ke rekening bank, sedangkan transfer uang dari bank ke aplikasi gratis. Gaji suamiku masuknya ke rekening bank dia di Prancis. Jadi suami harus transfer uangnya dari bank Prancis ke bank Cina, lalu ke aplikasi. Karena aku tidak bekerja di sini, suami mengirimkan uang dari aplikasinya ke aplikasiku. Cara lain, dia mengirimkannya dari rekening bank Cina, lalu ke aplikasiku. Itu bukan masalah karena uangnya bisa dikirim lewat aplikasi.
Sejak tahun 2022, anakku yang paling besar masuk ke PAUD (=Pendidikan Anak Usia Dini) di sini. Untuk membayar uang sekolahnya, kita harus langsung membayarnya satu tahun yang dibayar lewat WeChat. Misalnya, aku membayar uang sekolah anak 1000 yuan per bulan maka kami harus transfer uang langsung 12.000 yuan. Waktu itu, untungnya aku bisa menegosiasikan dengan kepala sekolah, karena kami tidak bisa mengirimkan uang langsung sebanyak itu dalam sekali. Transfer dari bank Prancis ke Cina juga cuma gratis lima kali. Akhirnya, kami bisa menyicil tiga kali dalam sebulan. Tahun 2022, itu masih lockdown. Jadi, anakku sebenarnya cuma sekolah tiga bulan. Pada tahun ini, dia melanjutkan sekolah di sana dan adiknya juga juga ikut sekolah di sana juga sehingga kami hanya membayar kekurangannya saja. Istilahnya kami sudah mempunyai saldo di sana. Rencananya bulan Juli tahun ini, kami akan kembali ke Eropa. Nanti uang sisanya itu bisa di-refund ke WeChat kami. Kami sudah wanti-wanti ke pihak sekolah untuk mengirimkan uangnya tepat waktu, karena kami juga akan menutup rekening bank Cina.
Ada kejadian menarik di PAUD anakku. Pihak sekolah mengadakan bazar kecil-kecilan untuk anak-anak sebagai latihan. Harga barangnya juga murah, hanya sekitar 2 sampai 5 yen. Tujuan mereka adalah untuk melatih anak-anak menggunakan uang dan melatih belajar berhitung. Nah, sekolah meminta orang tua murid untuk membawa uang tunai untuk anak-anaknya. Aku dan orang tua murid lainnya tidak ada yang punya tunai. Ujung-ujungnya, kami mengirimkan uang ke guru-guru sekolah. Lalu, mereka memberikan uang tunai ke kami. Jadi kami bertukar uang. Menurutku, itu aneh juga sih. Di kehidupan nyata di Cina semua sudah serba cashless sehingga membuat anak-anak tidak perlu memegang uang dan belajar menghitung uang tunai.
Saat anak-anakku pergi fieldtrip dengan PAUD-nya juga, aku hanya perlu mengirimkan uang via WeChat ke sekolah dengan menuliskan namaku dan anakku. Aku tidak perlu mengirimkan bukti transfer, karena pihak sekolah bisa langsung mengecek sendiri.
Untukku, cashless bukan hal yang aneh. Di Indonesia, aku sudah mengenal GoPay dan saat aku tinggal di Jerman juga sudah banyak tempat bisa cashless. Perbedaan yang kurasakan, semua orang di Cina dipaksa untuk cashless. Menurutku, segi keamanan di sini juga sudah bagus. Mereka benar-benar sudah mempersiapkannya. Keamanan aplikasi juga berlapis. Punya nomor hp di Cina itu sulit sekali. Kita harus mendaftarkan diri dan memberikan dokumen-dokumen penting. Itu berbeda sekali dengan di Indonesia yang bisa didapatkan secara mudah. Nomor hape itu sangat penting di Cina dan digunakan untuk verifikasi semua hal. Sebelum kita bayar sesuatu, kita akan diminta kode PIN untuk verifikasi. PIN ini yang harus kita ingat. Sewaktu membuat Aplikasi pertama kali, kita juga memakai password.
Nomor hape juga mempermudah transaksi. Misalnya, aku naik taksi lalu hape mati saat mau check out atau lupa bayar. Nanti, aku mau pesan taksi lagi maka aku akan diingatkan untuk melunasi pembayaran sebelumnya atau aku tidak bisa menggunakan taksi. Ini juga yang membuat susah bagi penipu dengan sistem cashless. Berbeda dengan di Indonesia yang belum ada peraturannya dan nomor hape bisa dibeli dengan mudah, sehingga itu masih ada celah untuk penipuan.
Sahabat Ruanita, kita mungkin ingat kasus penipuan kotak amal di masjid yang menggunakan QR code. Pengemis di Cina juga sekarang mengikuti zaman, mereka menggantungkan QR code dari aplikasi-aplikasi di badan mereka. Orang yang mau beramal, bisa langsung scan kodenya. Nanti aplikasi akan bunyi memberitahu berapa transaksinya. Kita menjadi tahu memang dia yang menerima uangnya. Saranku untuk sahabat-sahabat Ruanita yang beramal lewat QR code, pastikan orang yang akan diberi sedekah itu ada di sana.
Harapanku, transaksi cashless di Indonesia bisa diperbanyak, karena akan mempermudah dan lebih efisien. Namun, sebelumnya kita perlu memperkuat tingkat keamanan digitalnya dan harus memperhitungkan sisi kriminalitasnya juga. Menurutku, Cina sudah banyak memperhitungkan ini sehingga kasus kriminalnya juga sedikit. Di desa tentu masih susah dan prosesnya akan lama. Pengalaman aku saat liburan di sebuah desa di Maluku, penduduknya tidak punya hape dan tidak memakai uang. Bahan makanan mereka didapat dari sekitar rumah seperti ikan yang ditangkap dari laut untuk nelayan. Di sana sudah benar-benar sudah cashless.
Penulis: Mariska Ajeng, penulis di http://www.mariskaajeng.com. Berdasarkan pengalaman dari Amanda, tinggal di Cina dan Hamburg, bisa dihubungi lewat Instagram di @amandapatriciam