(CERITA SAHABAT) Was I not Worth a Goodbye?

Sahabat Ruanita, saya menggunakan dating apps selama lebih dari enam tahun untuk mencari jodoh di Jerman. Saya bertemu dengan beragam laki-laki dari sana. Laki-laki pertama yang saya temui baik dan kami saling menyukai.

Walau pada akhirnya tidak berakhir dengan baik, tapi kali menyelesaikannya dengan baik-baik dan pamit. Laki-laki selanjutnya ada yang mirip, ada juga berbeda, ada mereka menghilang begitu saya tanpa jejak. Perilaku seperti ini sekarang disebut dengan ghosting.

Makna dari ghosting sendiri adalah menghilang tanpa jejak. Seperti hantu (ghost), orang yang melakukan ghosting tidak terlihat tanpa jejak. Menurut saya di-ghosting itu tidak enak. Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa kali di-ghosting, tapi yang paling membekas di ingatan saya adalah kejadian pada tahun 2017-2018. 

Waktu itu saya dekat dengan seorang laki-laki yang berbeda negara dengan saya. Dia tinggal di Belanda dan saya tinggal di Jerman. Kami pernah bertemu satu kali, saat saya ke Belanda untuk mengunjungi teman baik saya.

Kota tempat tinggal laki-laki ini sebenarnya hanya sekitar satu jam dari kota teman saya, tapi saat itu dia sebenarnya sedang tugas di Inggris. Dia sengaja pulang ke Belanda untuk bertemu saya di kota tetangga. Duh, bikin ge-er sekali ‘kan?

Sebelum dan setelah bertemu semuanya berjalan baik. Setiap hari kami berkomunikasi via tulisan atau telepon. Di telepon kami juga sudah membicarakan, bahwa perkenalan yang kami lakukan ini bertujuan untuk menikah, bukan hanya sekedar main-main saja.

Waktu itu kebetulan mendekati acara wisuda saya dari salah satu universitas di Jerman. Dia bersedia datang menjadi pendamping wisuda saya. Dia sudah setuju untuk mengambil penerbangan pagi dari Belanda ke Jerman karena acara wisuda baru di sore hari pukul 16.30.

Namun dua minggu sebelum saya wisuda, dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Ketika itu kami sudah kenal kurang-lebih enam bulan, bukan waktu yang singkat.

Saya ingat, pesan saya di Whatsapp waktu itu berhari-hari belum contreng biru. Mungkin saking ingin menghindar dari saya, dia sampai tidak membuka pesan saya di handphone-nya, jadi hanya membacanya di smartwatch saja. Mungkin.

Itu hanya fantasi saya. Suatu saat tiba-tiba pesan tersebut bercontreng biru dan saya mendapatkan balasan dari dia, yang hanya bilang dia sedang sibuk. Mungkin dia tidak sengaja membuka pesan saya jadi terpaksa harus membalasnya. Mungkin. Itu adalah pesan terakhir yang saya dapatkan dari dia. 

Selama saya menggunakan dating apps, saya pernah juga beberapa kali di-ghosting beberapa laki-laki, tapi laki-laki ini satu-satunya yang membuat saya sangat patah hati dan kecewa karena di-ghosting.

Mungkin karena saya sudah berharap banyak dari dia. Saya butuh waktu lama untuk sembuh dari patah hati saya. Sampai sekarang kejadian tersebut masih membuat saya sedih dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia.

Jujur, saya juga pernah ghosting ke orang lain, tapi biasanya yang baru mengobrol atau mungkin pernah bertemu sekali, tapi tidak pernah berbicara masalah serius, apa lagi sampai tentang niat menikah.

Benar-benar masih dalam tahap perkenalan awal. Saya melakukan itu biasanya karena tidak tahu dan tidak enak untuk menolak orang, jadi saya menghindari mereka dengan menghilang dari mereka. 

Follow us

Saya juga beberapa kali di-ghosting orang saat di tahap yang sama, tapi itu juga tidak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin karena memang masih baru kenal dan/atau saya sendiri juga tidak suka dengan mereka.

Tapi apa yang laki-laki di Belanda lakukan itu menurut saya kejam sekali. Saya sering memikirkan apa yang salah dari saya sampai dia tidak mengatakan langsung ke saya.

Apakah saya terlalu dominan? Mengapa dia menghilang begitu saja? Saya salah apa? Apa dia juga merasa tidak enak memutuskan saya, makanya menghilang? Apa dia ilfil a.ka hilang feeling ke saya? Begitu buruknya kah saya sampai dia ilfil dan ghosting saya? Dan pikir-pikiran lain yang membuat saya sedih juga tidak percaya diri. 

Saya sempat mengirimkan pesan mengkonfrontasi dia. Saya bertanya mengapa dia keeping distance ke saya dan sebagai orang dewasa sebenarnya kita bisa berbicara jika ada masalah.

Saya juga bilang kalau saya merasa dia tidak punya respect ke saya karena apa yang dia lakukan. Hasilnya nihil, dia tetap tidak bergeming untuk membalas pesan saya. Saya sebenarnya juga ingin menuliskan hal lain ke dia, tentang saya memaafkan dia walau permintaan maaf itu tidak pernah saya dapatkan, tapi untungnya sahabat saya melarang saya untuk mengirimkannya.

Oh iya, mungkin 1-2 bulan, sejak dia ghosting saya, dia aktif lagi di dating app tempat kami berkenalan, padahal sebelumnya saat bersama saya sudah tidak aktif lagi.

Saya memerlukan waktu lama sampai akhirnya bisa mulai melupakan dia. Saat itu saya senang mencari quotes di Instagram yang bisa mewakili isi hati saya. Saya follow seseorang di Instagram yang banyak menulis komik strip tentang patah hati.

Suatu hari dia pos sebuah komik hanya dengan satu paragraf, “Was I not worth a goodbye?”. Saya menangis saat membaca itu. Ini seperti berasal dari hati terdalam saya. Apakah saya tidak berharga sampai seorang laki-laki berhenti menghubungi saya tanpa bilang apa pun? 

Mungkin waktu itu saya me-repost komik tersebut di Whatsapp story saya, saya tidak ingat lagi, tapi seingat saya ada kenalan laki-laki, yang waktu itu dekat dengan saya dan tahu cerita saya di-ghosting laki-laki sebelumnya, menenangkan saya dengan bilang, “It’s not the worth of your, he showed his worth.

Kata-kata itu menyejukkan saya yang sedang mellow. Mungkin sejak itu saya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Apa pun alasan dia ghosting saya waktu itu, dia hanya menunjukkan buruknya nilai atau kualitas dia.   

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Cerita Horor ke Cerita Supranatural di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami. 

Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar. 

Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil:  ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi. 

Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis. 

Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi. 

Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul  04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya. 

Follow us

Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek. 

Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.

Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu,  tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut. 

Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa. 

Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.

Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian. 

Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya  mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi. 

Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam.  Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya  pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh,  seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun. 

Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan  manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya. 

Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana.  Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya. 

Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra.  Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut. 

Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.  

Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno. 

Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup. 

Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.

Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya. 

Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(IG LIVE) Refleksi Perempuan Desa dan Akademisi Bagaimana Membangun Perdamaian

Dalam rangka memperingati International Day of Living Together in Peace yang jatuh setiap tanggal 16 Mei, Ruanita Indonesia menyelenggarakan program diskusi secara langsung melalui platform Instagram Live. Diskusi ini mengangkat tema “Membangun Kedamaian di Tengah Keberagaman”, yang menjadi sangat relevan dalam konteks sosial budaya Indonesia yang multietnis dan multireligius.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita atau yang disapa Rufi dari Ruanita Indonesia. Diskusi IG LIVE menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Khaeria Ulfarani Rahman (pendiri Komunitas Perempuan Desa di Indonesia) dan Maria Regina Jaga (akademisi dan kandidat PhD di Amerika Serikat).

Ulfa, membuka diskusi dengan membagikan tantangan yang dihadapi dalam membangun kedamaian di komunitas desa.

Salah satu tantangan utama adalah memperkenalkan konsep penghargaan terhadap keberagaman, baik dalam hal budaya, agama, maupun bahasa. “Kata toleransi itu mudah diucapkan, tapi ketika kita turun langsung ke lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan desa sering kali menghadapi hambatan kepercayaan diri dalam mengembangkan potensinya. Melalui Komunitas Perempuan Desa, ia dan rekan-rekannya menginisiasi pendampingan agar perempuan desa dapat bertumbuh dan berdaya, sehingga mampu memahami pentingnya pendidikan dan menjadi agen harmoni dalam komunitas mereka. Pemberdayaan ini tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga mendorong ruang dialog dan penghargaan atas perbedaan.

Follow us

Maria Regina Jaga, yang akrab disapa Inja, memberikan perspektif dari sisi pendidikan karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah. Dalam pandangannya, perbedaan suku, etnis, dan agama bukanlah hambatan, tetapi sumber kekuatan yang perlu dirangkul.

Ia menyebut pentingnya peran guru dalam membentuk karakter anak sejak dini. “Guru punya tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai baik dari rumah, sembari menanamkan bahwa keberagaman adalah hal yang harus dirangkul,” jelas Inja. Ia juga menyoroti perlunya keberanian dalam menghadapi perbedaan dengan terbuka dan empatik, sesuatu yang bisa dicapai melalui interaksi langsung di lingkungan pendidikan.

Ulfa membagikan cerita tentang perjalanannya bersama komunitas perempuan di berbagai daerah, termasuk di kawasan adat Amatoa Kajang, Sulawesi Selatan. Di komunitas ini, mereka tidak hanya menekankan penghormatan antarsesama manusia, tetapi juga terhadap alam sebagai bagian dari kearifan lokal. Ulfa percaya bahwa ketika perempuan desa diberdayakan dan memiliki kesadaran pendidikan, mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu menjaga harmoni sosial.

Ia juga mengisahkan pengalamannya ketika berkunjung ke Kalimantan Timur, di mana ia merasa diterima sepenuhnya oleh komunitas lokal meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. “Saya Bugis, mereka Dayak. Tapi saya merasa menjadi bagian dari mereka,” katanya. Ini menunjukkan bahwa kedamaian tidak hanya bisa dirasakan, tetapi juga dibangun melalui pengalaman lintas budaya yang penuh penerimaan.

Inja kemudian berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bagaimana pendekatan culturally responsive pedagogy diterapkan di sana, yaitu sebuah metode pendidikan yang menghargai keberagaman budaya peserta didik. Anak-anak dilatih menjadi mediator konflik sejak usia dini melalui simulasi konflik dan diskusi solusi.

Menurutnya, pendidikan di AS tidak hanya mengajarkan anak untuk memahami bahwa konflik itu nyata, tetapi juga menyediakan ruang untuk mempelajari bagaimana menghadapi konflik tersebut secara sehat. Di sini empati dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci dalam membangun karakter.

Ia juga menceritakan bahwa sebagai pelajar internasional, ia mendapat kesempatan menjadi global ambassador untuk mengenalkan budaya dan nilai-nilai pendidikan dari Indonesia. Dalam proses ini, ia menyadari bahwa meskipun terdapat perbedaan pendekatan, nilai-nilai dasar dalam pendidikan karakter seperti empati, toleransi, dan kejujuran tetap memiliki benang merah yang universal.

Dalam penelitiannya, Inja berfokus pada pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya tutur seperti cerita rakyat, yang sarat dengan nilai-nilai positif dan keberagaman.

Sayangnya, banyak nilai-nilai tersebut tidak lagi diajarkan secara formal dan mulai tergerus oleh arus modernisasi. “Anak-anak sekarang cenderung melupakan akar dan budaya mereka sendiri,” ujarnya. Dengan merevitalisasi cerita rakyat dan budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, ia berharap empati dan penghargaan lintas budaya bisa tumbuh sejak dini.

Ulfa juga menekankan bahwa pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya menyasar perempuan secara umum, tetapi juga perempuan dengan disabilitas. Menurutnya, inklusivitas adalah bagian penting dari harmoni sosial. Ia berharap semua individu bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama, tanpa ada yang merasa tertinggal atau dianggap berbeda.

“Kita harus menyampaikan bahwa kita semua sama. Kita punya potensi dan kesempatan yang sama,” ujarnya dengan penuh semangat.

Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, baik komunitas, akademisi, hingga pemerintah. Kak Inja menyebut bahwa upaya menjaga kedamaian tidak harus melalui tindakan besar. Tindakan kecil di tingkat komunitas pun, jika dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

Ulfa menambahkan bahwa perempuan harus bisa saling menguatkan dalam gerakan maupun aksi-aksi lokal. “Cukup kegiatan kecil yang masif di tingkatan desa. Jadilah lilin-lilin kecil yang menerangi sekitar,” tuturnya.

Keduanya sepakat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian. Tidak hanya sebagai penggerak komunitas, tetapi juga sebagai pendidik dan penjaga nilai-nilai empati dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam suasana hangat diskusi ini, tersampaikan pesan bahwa perdamaian bukanlah sekadar idealisme, tetapi bisa dibangun dari tindakan konkret sehari-hari. Mulai dari mendengarkan, menghargai perbedaan, hingga memberi ruang kepada mereka yang kerap terpinggirkan. Diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang dialog seperti yang difasilitasi Ruanita Indonesia adalah bentuk kontribusi penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Simak selengkapnya program bulanan Diskusi IG LIVE episode Mei 2025 berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Menjalani Kehidupan Damai di Tanah Eropa

Hidup bersama dalam damai bagi saya adalah sebuah pencapaian. Itu adalah keadaan di mana kita merasa tenang karena semua kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, telah terpenuhi. Saya bersyukur memiliki rumah yang bebas dari beban utang bank, yang memberi saya kedamaian batin dan rasa aman hingga masa tua. Kedamaian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga perasaan bahwa saya dan keluarga memiliki fondasi kuat untuk menjalani hidup.

Ketika berbicara tentang Hungaria, negara tempat saya tinggal saat ini, khususnya di ibu kota Budapest, saya melihat toleransi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Hungaria, umumnya, ramah dan suka membantu, terutama ketika saya membutuhkan informasi atau bantuan kecil lainnya. Meski demikian, saya belum pernah secara langsung menyaksikan konflik yang diselesaikan dengan pendekatan damai. Namun, harmoni yang saya rasakan di sini memberikan pelajaran berharga.

Hungaria juga mengajarkan saya tentang keberagaman. Sebagai orang Indonesia, saya melihat masyarakat di sini sangat menghargai kebebasan berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Komunitas Indonesia di Budapest pun dapat menjalankan berbagai kegiatan, seperti pertemuan arisan atau jalan-jalan bersama, tanpa hambatan. Tradisi Hungaria yang menjunjung tenggang rasa ini menjadi landasan penting dalam menciptakan kehidupan yang damai.

Salah satu hal menarik di Hungaria adalah peran seni dan budaya dalam membangun harmoni. Festival musik dan pameran budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan keberagaman karakter dan visi mereka. Inisiatif ini, menurut saya, adalah cara yang indah untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam damai.

Follow us

Namun, tantangan tetap ada. Belajar untuk benar-benar menerima perbedaan adalah pekerjaan yang tidak mudah, baik di Hungaria maupun di tempat lain. Meski demikian, upaya pemerintah dan organisasi lokal untuk mempromosikan dialog lintas budaya menjadi langkah positif yang layak diapresiasi. Sebagai diaspora Indonesia, saya percaya bahwa berpartisipasi dalam program-program lokal, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghargai budaya setempat adalah kontribusi kecil yang dapat berdampak besar.

Pengalaman saya di Hungaria memberikan pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia: merangkul keberagaman untuk membangun harmoni sosial. Sebagai bangsa yang plural, kita memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan. Pluralisme ini harus dipelihara sebagai aset, di mana kita yang berbeda latar belakang bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Harapan saya untuk masa depan sederhana saja. Saya ingin melihat dunia, termasuk Hungaria dan Indonesia, terus hidup dalam kondisi damai sejahtera. Saya berharap kita semua dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan nilai-nilai hidup bersama dalam damai, saling menginspirasi, dan saling menguatkan.

Kepada sahabat Ruanita, pesan saya adalah hidup apa adanya. Nikmati apa yang telah kita miliki, tetap bersyukur, dan bantu orang lain sesuai kemampuan kita. Dengan cara ini, saya percaya, hidup bersama dalam damai bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah kenyataan yang dapat kita wujudkan bersama.

Penulis: Hayati Surjono, tinggal di Budapest dan dapat dikontak via akun Instagram szulcsan.hayati

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Bersama KJRI Mumbai Gelar Diskusi Daring “Perkawinan Campuran Indonesia-India”

MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.

Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.

Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1) Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman. 

Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.

Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.

Follow us

Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.

Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.

Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.

Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.

Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.

Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.

Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.

Informasi lebih lanjut: info@ruanita.com 

Rekaman acara dapat disimak di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

SUBSCRIBE ya.

(PODCAST RUMPITA) Pentingnya Storytelling tentang Indonesia untuk Dunia

Dalam episode podcast RUMPITA ke-37 yang tayang di SPOTIFY RUMPITA, kami menghadirkan sosok istimewa, Rane Hafied, seorang penulis, podcaster, dan penggerak literasi yang telah lama menetap di Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand.

Diskusi hangat bersama Rane membuka banyak wawasan tentang dunia kepenulisan, tantangan hidup di luar negeri, serta upaya mempertahankan identitas Indonesia lewat cerita.

Sejak muda, Rane sudah akrab dengan dunia menulis. Berawal dari keisengan menulis cerita pendek di majalah sekolah, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh semakin kuat.

Namun, siapa sangka perjalanan panjang itu membawanya ke berbagai pengalaman menarik, termasuk bekerja di bidang media dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di mancanegara.

Salah satu bagian menarik dari perbincangan adalah bagaimana Rane melihat pentingnya menjaga akar budaya Indonesia, bahkan saat tinggal jauh dari tanah air.

Dalam karyanya, ia kerap menyelipkan nuansa Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun nilai-nilai yang diangkat. “Menulis itu buat saya seperti cara menjaga jembatan ke rumah,” kata Rane dalam podcast ini.

Tak hanya soal menulis, Rane juga bercerita tentang dunia podcasting. Ia dikenal sebagai salah satu podcaster senior di Indonesia yang terus konsisten memproduksi konten berbobot, terutama tentang literasi dan budaya.

Lewat podcast-nya, ia berharap bisa menularkan semangat membaca dan menulis kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda.

Namun perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Rane mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapinya, mulai dari keterbatasan akses buku berbahasa Indonesia di luar negeri, hingga tantangan mental seperti homesick dan kerinduan akan komunitas lokal.

Menariknya, semua itu justru menjadi bahan bakar kreativitasnya.

Dalam diskusi podcast RUMPITA yang dipandu oleh Kristin dan Anna, Rane juga membagikan tips untuk para calon penulis yang ingin mulai menulis tapi merasa minder atau takut.

Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan keberanian untuk “menulis dulu, edit kemudian.” Ia menekankan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna.

Yang terpenting adalah menuangkan ide, lalu perlahan memperbaikinya seiring waktu.

Rane juga berbagi pengalamannya membangun komunitas literasi daring. Ia percaya bahwa komunitas sangat penting dalam menjaga semangat menulis dan membaca, apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.

Di komunitas ini, para anggotanya saling menyemangati, berbagi karya, dan bertumbuh bersama.

Menariknya, Rane melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, di era digital ini, kesempatan untuk berbagi karya semakin terbuka lebar.

“Tidak perlu lagi menunggu penerbit besar. Kamu bisa mulai dari blog, podcast, atau media sosial. Yang penting konsisten dan tetap autentik,” ungkapnya.

Diskusi santai namun penuh makna bersama Rane Hafied ini memberikan banyak inspirasi, tidak hanya bagi para penulis, tetapi juga siapa saja yang berjuang mempertahankan identitas diri di tengah perubahan zaman.

Kami di RUMPITA merasa beruntung bisa menghadirkan cerita-cerita seperti ini kepada para pendengar setia.

Jangan lewatkan episode lengkapnya di bawah ini dan pastikan FOLLOW akun spotify RUMPITA. Siapapun kamu, di manapun berada, semoga cerita Rane Hafied bisa menjadi pengingat bahwa semangat berkarya dan menjaga akar budaya tak pernah mengenal batas.

(CERITA SAHABAT) Menemukan Harmoni Kawin Campur Indonesia – India Lewat Perjalanan Hidup di Goa, India

Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya. 

Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah. 

Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.

Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.

Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. 

Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.

Follow us

Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.

Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.

Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.

Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia. 

Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.

Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.

Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.

Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.

Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.

Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”

Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.

Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.

Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.

Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan di Negeri Paling Membahagiakan, Finlandia?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi bulan Mei 2025 dari RUANITA – Rumah Aman Kita menghadirkan sosok perempuan inspiratif: Desiree Luhulima, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan yang telah tinggal di Finlandia selama hampir tiga dekade.

Melalui program ini, RUANITA mengajak kita menyelami lebih dalam esensi pendidikan dari perspektif orang Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan sistem pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu kisah paling membekas yang dibagikan Desiree adalah pengalamannya ketika mengunjungi sebuah daerah di Indonesia. Ia mengamati perilaku anak-anak yang membeli teh kemasan plastik saat istirahat sekolah.

Ketika ditanya ke mana mereka membuang gelas plastik tersebut, anak-anak dengan percaya diri menjawab: “ke tempat sampah, supaya tidak menyebabkan banjir.”

Namun ketika bel masuk berbunyi, gelas-gelas itu justru dilempar ke kali.

Follow us

Kejadian ini menjadi simbol nyata bagi Desiree atas apa yang ia sebut sebagai “keterputusan pendidikan”—yaitu ketidaktersambungan antara pengetahuan yang diajarkan dan perilaku nyata yang diterapkan.

Pendidikan yang mestinya membentuk karakter dan kesadaran lingkungan, justru terjebak pada hafalan dan rutinitas kosong.

Desiree membandingkan pengalamannya sebagai orang tua di Indonesia dan di Finlandia.

Di Indonesia, ia pernah mengalami stres berat sebagai ibu karena dua anak laki-lakinya yang sangat aktif.

Ia merasa harus terus mengontrol agar tidak dimarahi guru. Namun, saat berpindah ke Finlandia, anak-anaknya justru diapresiasi.

“Anak-anak diberi kebebasan, diberi ruang, diberi kepercayaan, diapresiasi, suaranya didengar, dan diberi kesempatan seluas-luasnya,” kata Desiree.

Ia melihat bagaimana kelebihan anak dihargai dan kekurangannya dicarikan solusi, bukan disalahkan.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya bisa mencapai itu juga.

Tapi ada yang belum kena, yaitu “roh” dari pendidikan itu sendiri, yakni semangat dan nilai-nilai yang menghidupi proses belajar-mengajar.

Desiree menjelaskan bagaimana pendekatan “sambil menyambil” diadopsi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Finlandia.

Artinya, matematika, IPA, dan pelajaran lain tidak diajarkan secara kaku, tetapi dimasukkan dalam aktivitas bermain.

Bermain menjadi wahana belajar, dan istirahat bukan hanya jeda, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang berharga.

Dalam bermain, anak-anak belajar kecerdasan sosial, mengelola konflik, dan berkolaborasi.

Di TK, jam belajar hanya sekitar empat jam sehari dan 190 hari per tahun, namun sarat makna.

Pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan kolaborasi antar siswa dijadikan kunci utama.

Di Finlandia, guru bukan sekadar profesi, melainkan peran mulia yang secara sadar dipilih. “Menjadi guru itu keren,” ujar Desiree.

Para guru merasa bahwa mereka sedang membentuk bangsa, bukan hanya mengajar mata pelajaran.

Untuk menjadi guru, Desiree sendiri harus menempuh pendidikan pedagogik setara 60 SKS. Proses seleksinya menekankan pada niat dan jiwa sebagai pendidik. Guru juga tidak bekerja sendiri.

Mereka bekerja kolektif untuk menyelesaikan tugas administratif, saling berbagi ide, dan mendukung satu sama lain. Dalam istilah Desiree, ini bukan “mencontek”, melainkan kolaborasi sadar yang adil dan saling memberi.

Salah satu kritik utama Desiree terhadap sistem pendidikan Indonesia adalah soal penilaian. Menurutnya, penilaian di Indonesia masih bersifat menghakimi dan penuh label negatif.

Misalnya, anak yang tidak rajin langsung disebut “malas”, tanpa melihat konteksnya.

Ia menyebut pentingnya penggunaan kata kerja dalam penilaian seperti “kamu sudah bisa menghitung dari satu sampai sepuluh”, bukan sekadar memberi angka atau nilai ujian.

Desiree juga menyoroti bahaya sistem peringkat (ranking), yang secara tidak sadar menyakiti anak-anak yang tidak masuk peringkat atas, dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Orang-orang yang masuk ranking adalah orang-orang yang seragam, dan ketika mereka masuk dunia kerja, mereka saling gontok,” ujarnya.

Inti dari seluruh gagasan yang disampaikan Desiree adalah bahwa pendidikan bukan sekadar alat akademik, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Anak-anak bukan untuk dilabeli, dibandingkan, atau ditekan, melainkan didampingi agar mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan peduli terhadap sekitarnya.

Ia menekankan pentingnya narasi dalam pendidikan: narasi yang positif, suportif, dan membangun.

“Narasi yang dipakai tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan, tidak membuang anak.

Mereka disimulasi untuk berperan di dalam komunitasnya,” kata Desiree.

Cerita Desiree Loholima adalah cermin yang jujur dan penuh harapan.

Ia tidak membandingkan untuk merendahkan, tetapi mengajak kita semua merefleksikan: pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya?

Melalui program Cerita Sahabat Spesial, RUANITA terus menghadirkan suara-suara sahabat Indonesia di mancanegara yang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pengamatan untuk dipahami, bukan dihakimi.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program cerita sahabat spesial yang di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(SWG) Ketimpangan Upah di Vietnam: Suara Perempuan dari Tengah Masyarakat

Dalam episode ke-3 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi—perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam—mengajak penonton menjelajahi tema penting seputar ketimpangan upah di Vietnam melalui wawancara eksklusif bersama Le Thi Ngoc Bau (atau Amy), seorang guru Bahasa Inggris dari kota Quy Nhon.

Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (1 Mei), episode berdurasi sekitar 30 menit ini ditayangkan dalam bahasa Inggris dan menjadi bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) untuk membuka ruang dialog lintas budaya dari perspektif perempuan dunia.

Dalam obrolan yang hangat dan mendalam, Bau memaparkan bahwa ketimpangan gender dalam upah masih nyata di Vietnam, terutama di sektor privat seperti STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika).

Ia juga mengangkat pengaruh norma tradisional yang membatasi kesempatan perempuan untuk naik jabatan atau mengejar karier profesional.

“Banyak perempuan menikah di usia muda dan akhirnya lebih fokus pada keluarga,” jelas Bau. “Ini secara langsung berdampak pada peluang mereka di dunia kerja.”

Follow us

Selain faktor budaya, keterbatasan akses pendidikan di daerah rural juga menjadi penyebab kesenjangan ini.

Meskipun pemerintah Vietnam telah merancang kebijakan dan program untuk mengatasi diskriminasi dan mendukung pendidikan perempuan, Bau menekankan bahwa perubahan sejati membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.

Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi episode ke-3 ini, sila disimak berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar bisa berbagi lebih banyak lagi.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

(CERITA SAHABAT) Jaga Balita dan Anak Sakit di Swedia, Dibayar Pemerintah. Apa Iya?

Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sih vabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?

Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barn atau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya. 

Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit. 

Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya. 

Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan). 

Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun. 

Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu? 

Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home

Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter. 

Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se

Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit. 

Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan. 

Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.

Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua? 

Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe

(IG LIVE) Membedah Mitos dan Fakta Imunisasi pada Anak

Pada Sabtu (26/4) telah berlangsung diskusi IG LIVE yang dilakukan setiap bulan, Ruanita Indonesia melalui akun Instagramnya (@ruanitacom) kembali menggelar diskusi IG Live bertema “Imunisasi Anak, Mitos atau Fakta?.

Diskusi ini diadakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia, dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi di tengah maraknya misinformasi.

Acara dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, dan menghadirkan dua sahabat Ruanita yang inspiratif: Kak Azizah, seorang ibu beranak satu sekaligus Ketua Departemen Sosial dan Kemanusiaan Perinma yang kini menetap di Austria, serta Kak Tiwi, seorang dokter yang berbagi pengalamannya dari Jerman.

Kak Azizah memulai sesi dengan berbagi pengalaman sistem imunisasi di Austria, termasuk penggunaan buku Mutterkindpass yang mencatat semua riwayat kesehatan ibu dan anak, serta rekomendasi vaksinasi yang difasilitasi oleh pemerintah secara gratis.

Ia juga menekankan pentingnya mencari informasi valid untuk menangkal hoaks tentang vaksin.

Dilanjutkan oleh Kak Tiwi, yang menjelaskan secara ilmiah tentang imunisasi sebagai perlindungan aktif terhadap penyakit infeksi berat seperti polio, campak, dan hepatitis.

Ia membantah mitos yang masih berkembang, seperti klaim tidak berdasar tentang hubungan vaksin dengan autisme. Data penelitian besar-besaran menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan vaksin dengan gangguan perkembangan otak.

Diskusi juga menyoroti pentingnya edukasi berbasis bukti di tengah gempuran informasi tidak valid di media sosial.

Pesan kuat disampaikan oleh Kak Azizah dan Kak Tiwi kepada para orang tua: buatlah keputusan imunisasi atas dasar kasih sayang dan informasi terpercaya, bukan ketakutan atau tekanan sosial.

Acara ini menginspirasi banyak sahabat Ruanita untuk lebih kritis dan aktif mencari informasi kesehatan anak dari sumber yang sahih.

Ruanita Indonesia kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung keluarga Indonesia menjadi lebih sehat dan berdaya melalui edukasi berbasis komunitas.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami berjalan terus:

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring: Peran Perempuan, Peluang, dan Tantangan di Era Digital

JAKARTA, 26 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PW Muslimat NU DIY menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Kartini dalam Dunia Digital”.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam dunia digital serta memberikan edukasi tentang literasi berinternet yang aman dan efektif.

Diskusi berlangsung secara daring melalui platform Zoom, yang dihadiri oleh perempuan Indonesia dari berbagai negara dan profesi, yang tertarik dengan isu kesetaraan gender dalam teknologi digital.

Dalam pengantar diskusi sekaligus membuka acara, Hj. Fatma Amalia selaku Ketua PW Muslimat NU DIY menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia digital.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta ancaman keamanan siber, termasuk kekerasan berbasis gender online.

Follow us

Acara ini menghadirkan dua perempuan Indonesia sebagai pemateri yang berbagi pengetahuan dan keilmuan dunia digital.

Pemateri pertama adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, seorang PhD student di University of Birmingham dan dosen di Universitas Trunojoyo Indonesia.

Zakiya memaparkan hasil risetnya mengenai bagaimana perempuan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai sektor. Berdasarkan temuannya, perempuan semakin aktif dalam bidang wirausaha digital, pendidikan, dan advokasi sosial.

Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti bias gender dalam industri teknologi serta minimnya akses terhadap sumber daya digital bagi perempuan di daerah terpencil.

Pemateri kedua adalah Rizqi Mutqiyyah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, alumni International Institute of Information Technology Bangalore, India jurusan MSc Digital Society dengan Beasiswa Kominfo.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan agar dapat memanfaatkan internet secara aman dan efektif.

Rizqi juga menjelaskan strategi dalam mengelola informasi dan identitas digital guna menghindari ancaman siber, seperti pencurian data dan kekerasan berbasis gender online.

Diskusi ini semakin menarik dengan kehadiran penanggap yang berasal dari komunitas perempuan Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab.

Utari Giri sebagai penanggap berpendapat mengenai pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi kekerasan berbasis gender di internet.

Setelah sesi pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Izidiza Febrine, relawan Ruanita di Jerman.

Banyak peserta yang mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka mengenai isu perempuan dan teknologi. Beberapa peserta juga berbagi strategi yang telah mereka terapkan dalam memanfaatkan dunia digital untuk pemberdayaan perempuan.

Di akhir acara, Zakiyatul Mufidah sebagai koordinator penyelenggara menegaskan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam dunia digital.

Sebagai tambahan informasi, acara ini juga dihadiri oleh perempuan Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Dhaka, para perempuan di Nepal, serta PW Muslimat NU di Taiwan dan Jepang, yang berpartisipasi menanyakan permasalahan dunia digital yang sedang meningkat partisipasinya.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, perempuan harus mampu beradaptasi dan memanfaatkannya secara maksimal demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat.

Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk terus berjejaring dan berkolaborasi dalam memperjuangkan hak perempuan di dunia digital.

Melalui akses dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik, perempuan dapat terus berkontribusi dalam berbagai bidang serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Rekaman acara tersebut dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Melindungi Anak dengan Imunisasi – Fakta dan Harapan

Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.

Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune

Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.

Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Follow us

Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.

Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya. 

Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”

Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia

Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).

Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya. 

Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter. 

Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.

Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.

Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.

Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia 

Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.

Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.

Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.

Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.

Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia. 

“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.

Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.

Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.

Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.

Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.

“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya. 

Harapan Untuk Masa Depan

Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.

Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.

Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”

—-

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.

(CERITA SAHABAT) Jadikan Kakek-Nenek Sebagai Support System Untuk Anak-anak, Begini Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Ini kali kedua saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Nama saya Berta. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda, dan kami memiliki 3 orang anak. Tahun 2022 lalu, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di Aalborg, Denmark, dan akhirnya kami pun pindah ke Denmark, kemudian menetap sampai dengan saat ini. 

Karena kami orang tua dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, antara budaya barat dan timur, terkadang memang muncul konflik-konflik kecil sehubungan dengan pola asuh anak. Namun, kami berdua selalu berkomunikasi dan mencari jalan tengah, seperti hal-hal terbaik  apa saja yang menurut kami patut diterapkan untuk anak-anak kami.

Sebelum kami pindah ke Denmark, kami tinggal di kota yang sama di mana kakek-nenek dari pihak suami juga tinggal di sana. Interaksi cukup dekat, karena kami tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Kami bergantian berkunjung, terkadang kami yang pergi ke rumah kakek-nenek, terkadang kakek-nenek yang berkunjung ke rumah kami, terutama di hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun, Hari Raya Natal, perayaan tahun baru atau Hari Raya Paskah. Jika jadwal memungkinkan, kami pun pergi berlibur bersama. Ini hal yang memang jarang dilakukan, karena sulit untuk menemukan jadwal yang cocok.

Sedangkan untuk kakek-nenek dari pihak saya di Indonesia, komunikasi dilakukan melalui whatsapp atau video call. Ini yang agak sulit, karena anak-anak saya tidak bisa  berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan fasih. Kakek-nenek mereka di Indonesia hanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Anak-anak kami tidak memiliki ikatan khusus dengan salah satu pihak kakek-nenek, hanya karena kendala bahasa. Anak-anak kami lebih mudah berkomunikasi dengan kakek-nenek mereka di Belanda dibandingkan dengan kakek-nenek mereka di Indonesia.

Follow us

Kami  menjelaskan kepada anak-anak kami tentang pentingnya hubungan dan interaksi dengan kakek-nenek mereka, walaupun tinggal di negara yang berbeda. Dengan teknologi komunikasi yang semakin berkembang pesat saat ini, komunikasi lintas kota bahkan lintas benua tidak terlalu sulit dibandingkan beberapa tahun silam. Kakek-nenek walaupun tinggal jauh, adalah bagian dari keluarga dan ada hubungan darah. Anak-anak kami diajarkan untuk bersikap hormat terhadap kakek-nenek mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terhubung dengan kakek-nenek mereka. Bertepatan dengan ulang tahun anak kami yang bungsu, kakek mereka dari Indonesia berpulang ke Sang Khalik.

Mereka tidak bisa melihat kakek mereka sebelum dimakamkan untuk yang terakhir kalinya, karena ketika itu mereka masih terlalu kecil untuk dibawa ke Indonesia dalam kondisi yang hectic dan sulit untuk meminta ijin jangka panjang dari sekolah.

Menjelang akhir tahun 2019, nenek mereka dari Belanda berpulang ke Sang Khalik. Ini kondisi yang cukup berat, karena mereka menyaksikan bagaimana nenek sakit dan kondisinya terus menurun sampai akhirnya berpulang. Kami memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses situasi ini dengan cara mereka sendiri.

Pada bulan September 2021, kakek mereka berpulang ke Sang Khalik. Anak-anak pun dihadapkan dengan situasi yang sama di mana mereka menyaksikan kondisi kakek ketika sakit. Mereka ikut menyaksikan ketika dokter tidak bisa melakukan pengobatan lagi, dan  sampai selesai pemakaman.

Kami pun memberikan ruang dan waktu untuk mereka berkabung dan memroses segala sesuatunya, dan berkomunikasi dengan mereka dan tetap siaga ketika mereka ingin meluapkan emosi atau sekedar ingin mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kakek nenek mereka, baik dari Indonesia maupun Belanda.

Kami berpikir bahwa kakek-nenek anak-anak kami dari Belanda dan Indonesia berinteraksi dengan cara yang tidak terlalu berbeda, kecuali perbedaan bahasa. Kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda sangat protective (tapi bukan yang overprotective) terhadap cucu-cucu mereka.

Pada intinya, baik budaya Indonesia maupun Belanda mengajarkan tentang sopan santun dan hormat pada orang tua. Jadi, itu yang kami terapkan kepada anak-anak kami sehubungan dengan interaksi mereka dengan kakek-nenek mereka. Kami mengajarkan supaya anak-anak santun dalam bersikap, bertutur kata ketika kami berkunjung ke rumah kakek-nenek mereka, baik di Belanda maupun di Indonesia. Dalam hal ini, anak-anak tetap kami beri ruang untuk bermain dengan kakek-nenek mereka selayaknya anak-anak bermain dengan kakek nenek pada umumnya.

Anak-anak kami fasih berbahasa Belanda karena mereka lahir dan besar di Belanda, sehingga kakek-nenek di Belanda tidak ada kendala dalam hal berkomunikasi. Sebaliknya, anak-anak kami tidak fasih dalam berbahasa Indonesia karena satu dan lain hal. Kakek-nenek mereka di Indonesia belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami.

Meski begitu, kedekatan anak-anak kami dengan kakek-neneknya seperti memberi ruang untuk anak-anak belajar. Kami berharap bahwa anak-anak kami belajar dari kakek-nenek mereka dari Indonesia dan Belanda, bagaimana mereka bekerja keras untuk bisa bertahan di tengah dunia yang semakin kompetitif.

Anak-anak diharapkan untuk belajar bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak selalu mudah, dan jangan pernah menyerah sebelum mereka mencapai garis finish. Kami berharap juga anak-anak bisa belajar pentingnya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dimulai dari membangun hubungan baik dengan tetangga dan membangun network dengan orang banyak.

Kakek-nenek dari Indonesia dan Belanda mengajarkan pentingnya aktivitas bersama keluarga untuk memelihara hubungan yang satu dengan yang lain, walaupun tinggal berjauhan. Misalnya, makan malam bersama, menghabiskan akhir pekan bersama, merayakan hari raya bersama, bahkan melakukan hal kecil di rumah bersama keluarga seperti misalnya bermain permainan bersama.

Ketika anak-anak kami sedang berada di rumah kakek-nenek mereka di Belanda, dan mereka makan bersama, maka anak-anak akan mendapatkan dessert yang boleh mereka pilih sendiri, karena kakek nenek sudah menyiapkan beberapa dessert yang berbeda.

Ketika kami berkunjung ke rumah kakek nenek mereka di Indonesia, maka nenek akan menyiapkan menu ayam goreng sederhana yang menjadi menu favorit anak-anak setiap kali kami berkunjung ke Indonesia.

Tentunya, tidak mudah beradaptasi dalam menggabungkan tiga budaya (Indonesia, Belanda, dan Denmark) dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kakak. Untuk budaya Indonesia dan Belanda, kami sebagai orang tua bisa mencari jalan tengah dan kompromi, sekiranya hal-hal apa saja yang baik untuk diajarkan kepada anak-anak kami.

Yang lebih sulit sebenarnya adalah mengenalkan budaya Denmark kepada mereka, karena terkadang kami sebagai orang tua maupun individu dewasa agak sulit memahami budaya Denmark, jika perbedaannya terlalu besar dengan budaya Belanda. Perlahan-lahan kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, budaya dan kebiasan orang-orang Denmark dan mengajarkan hal-hal baik yang bisa ditiru dan hal-hal yang tidak baik yang tidak perlu ditiru.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjaga hubungan antara anak-anak dengan kakek-nenek di Indonesia, karena kendala bahasa dan perbedaan waktu yang cukup banyak, 5 jam di musim panas dan 6 jam di musim dingin. Agak sulit untuk mencari waktu yang tepat apabila anak-anak ingin berbicara langsung dengan kakek-nenek di Indonesia. Solusinya hanya dengan mengirim pesan lewat whatsapp.

Terkadang saya mencoba untuk merekam film-film pendek dan mengirimnya ke Indonesia sehingga kakek-nenek mereka bisa sedikit banyak mengikuti aktivitas anak-anak, dan mencoba mencari waktu yang tepat di akhir pekan untuk video call ke Indonesia.Sejak pindah ke Denmark, anak-anak memiliki perangkat telepon genggam masing-masing (karena mereka membutuhkannya untuk beberapa hal di sekolah), dan kami pun membuat grup whatsapp khusus untuk anggota keluarga , di mana anak-anak pun bisa saling berkirim pesan sebagai media komunikasi jarak jauh.

Kakek nenek di Belanda terlibat cukup aktif dalam mengasuh anak-anak. Ada kalanya kakek nenek di Belanda menjemput anak-anak dari sekolah, disaat kami berdua ada kepentingan lain yang waktunya berbenturan dengan jam pulang sekolah.

Sering berkunjung ke Indonesia tentu saja agak sulit karena biaya yang cukup tinggi untuk pergi ke Indonesia setiap liburan sekolah musim panas. Namun ketika kami ada kesempatan untuk berlibur ke Indonesia, maka kami akan memberikan waktu  kepada kakek nenek di Indonesia untuk membangun hubungan dan berinteraksi dengan cucu-cucu mereka.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak berperan besar sebagai support system untuk keluarga kami. Ketika kami dalam situasi pelik, kami tahu kepada siapa kami bisa meminta tolong, walaupun mungkin hanya untuk menjaga anak-anak ketika kami harus ke suatu tempat. Dan kakek nenek di Indonesia pun adalah support system kami di Indonesia , sehingga kami pun bisa menikmati liburan yang agak terbatas waktunya.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak tidak terlalu ikut campur dalam urusan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak, karena biar bagaimana pun kami sebagai orang tua yang bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, kami selalu bisa meminta nasihat kepada kakek nenek jika kami sebagai orang tua tidak bisa menemukan solusi yang tepat berkaitan dengan pengasuhan dan pembelajaran anak-anak-

Saat ini, anak-anak kami hanya memiliki satu nenek dari Indonesia. Harapan saya secara pribadi adalah, anak-anak mau belajar bahasa Indonesia lebih banyak lagi, dan lebih aktif berkomunikasi dengan nenek mereka di Indonesia, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Tentu saja, saya berharap bahwa kami sekeluarga bisa sering berkunjung ke Indonesia dan diberi kesehatan dan umur panjang.

Kakek-nenek dari kedua belah pihak memberi ciri  masing-masing dalam pembentukan indentitas anak-anak sebagai keluarga dari perkawinan campur. Kakek-nenek dari kedua belah pihak memperkaya cerita bagi anak-anak kami, sehingga mereka bangga sebagai anak-anak dari perkawinan campur.

Apabila saya bisa merencanakan liburan bersama dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak, maka liburan yang paling cocok untuk keluarga kami adalah liburan tanpa jadwal yang padat merayap, tanpa ada tekanan untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukai oleh semua anggota keluarga. Menurut saya, yang paling penting dalam liburan bersama adalah menikmati waktu bersama tanpa ada keharusan melakukan hal ini dan itu.

Sebagai penutup, saya tidak punya nasihat khusus karena saya rasa setiap keluarga memiliki cerita dan latar belakang masing-masing yang berbeda-beda. Saya hanya ingin menambahkan pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga, entah itu kakek-nenek, sepupu, om atau tante. Walaupun tidak tinggal satu kota atau satu negara, mereka adalah support system yang terdekat, ketika kita menghadapi sesuatu masalah.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via akun Instagram adenk_bvs