
Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Soca Indriya, biasa dipanggil Soca. Saya tinggal di Latvia bersama suami dan ketiga anak kami. Perjalanan ini awalnya bukan rencana besar yang kami buat jauh-jauh hari. Kami pindah ke sini karena saya mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Latvia. Dari situlah kehidupan baru kami dimulai, jauh dari tanah air dan keluarga besar.
Jika dulu ada yang bertanya pada saya, “Apakah kamu akan menetap di Latvia?” mungkin saya hanya akan tersenyum bingung. Latvia bukan negara yang sering masuk dalam daftar destinasi impian. Tapi takdir membawa kami ke sini. Dengan tiga anak kecil, yakni si sulung usia 9 tahun, si anak tengah perempuan 8 tahun, dan si bungsu laki-laki 4 tahun, yang kemudian membuat kami berani mencoba hidup di negeri Baltik.
Awalnya penuh tanda tanya. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan cuaca yang katanya ekstrem? Bagaimana dengan bahasa yang terdengar asing di telinga? Semua itu jadi bagian dari petualangan pertama kami.
Dan ternyata, setelah dijalani, Latvia menyimpan kenyamanan tersendiri. Fasilitas umum untuk anak-anak sangat mendukung. Kota terasa tenang, tidak bising. Ada ruang untuk keluarga menikmati waktu bersama, sesuatu yang sebelumnya agak sulit kami dapatkan ketika masih di Indonesia karena kesibukan pekerjaan.
Perbedaan pertama yang paling terasa adalah soal cuaca. Latvia hanya punya musim panas sekitar tiga bulan. Sisanya adalah musim gugur, musim dingin, dan musim semi, di mana saya merasakan suhu yang jauh lebih dingin dari yang pernah saya bayangkan.
Di Indonesia, saya terbiasa bertemu orang di jalan, tersenyum, atau sekadar berbasa-basi dengan tetangga. Di Latvia, semua itu hampir tidak ada. Orang keluar rumah biasanya karena ada urusan. Senyum pada orang asing bahkan bisa dianggap mencurigakan.
Awalnya aneh, bahkan terasa dingin bukan hanya di udara, tetapi juga soal interaksi satu sama lain. Namun lama-kelamaan saya belajar, inilah budaya mereka. Dan sedikit demi sedikit, saya juga ikut berubah. Saya mulai terbiasa hidup dengan cara yang lebih “Latvian”, meski tetap menjaga jati diri sebagai orang Indonesia.
Salah satu perbedaan besar membesarkan anak di Latvia adalah ketiadaan dukungan keluarga besar. Tidak ada nenek, kakek, atau kerabat yang bisa ikut membantu. Akibatnya, anak-anak jadi lebih dekat kepada kami sebagai orang tua.
Saya merasakan ini sebagai hal yang sangat berharga. Hubungan emosional kami terasa lebih kuat. Tapi tentu saja, ada tanggung jawab tambahan. Di Indonesia, banyak orang tua bisa “menitipkan” urusan belajar anak kepada guru les atau kursus tambahan. Di sini, kami harus benar-benar mengambil peran penuh.
Saya dan suami menjadi guru untuk anak-anak kami. Dari pelajaran sekolah, hingga nilai-nilai kehidupan. Dan jujur saja, saya merasa banyak belajar juga dari proses ini.
Latvia memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Uni Soviet. Salah satu dampaknya adalah, masyarakat di sini tidak begitu religius. Agama ada, tetapi tidak begitu kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai muslim, saya harus ekstra berjuang menanamkan nilai agama pada anak-anak. Kami mengajarkan mengaji di rumah, melatih berpuasa meski teman-teman mereka tidak berpuasa, dan menjaga ibadah harian sebisa mungkin. Rasanya seperti mendaki perlahan, tapi saya percaya inilah investasi terbesar bagi masa depan anak-anak.
Syukurlah ada komunitas masjid di kota kami. Sesekali mereka mengadakan acara khusus anak-anak. Itu sangat berarti, karena membuat anak-anak merasa tidak sendirian dalam menjalani identitas keislamannya.
Bahasa adalah dunia baru bagi anak-anak saya. Di rumah, kami tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Saya ingin mereka tidak kehilangan bahasa ibu. Tapi di luar rumah, anak-anak harus berbahasa Latvia.
Hal menarik, mereka juga otomatis bisa berbahasa Inggris. Teman-teman di sekolah datang dari berbagai negara, sehingga bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi. Tanpa kursus khusus, anak-anak bisa menguasai tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Latvia, dan Inggris.
Ada pengalaman yang sampai sekarang membuat saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Anak kedua saya, ketika baru masuk sekolah, memilih diam total. Ia tidak berbicara sama sekali dalam bahasa Latvia. Ternyata, itu caranya belajar. Ia mengamati, menyerap, mencatat dalam ingatan. Setelah tiga bulan, ia tiba-tiba bisa berbahasa Latvia dengan lancar. Wali kelasnya sampai terkejut, dan seluruh teman sekelas bertepuk tangan menyambut “aksi diam” yang akhirnya berakhir.
Saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan di Latvia. Sekolah menerima anak-anak kami dengan tangan terbuka. Guru wali kelas baik dan sabar.
Ketika bulan Ramadhan tiba, saya memberi tahu guru bahwa anak-anak tidak akan makan siang selama sebulan. Mereka tidak sepenuhnya mengerti konsep puasa, tapi mereka menghormati keputusan itu. Rasanya hangat sekali ketika melihat anak-anak tetap didukung meski berbeda dengan mayoritas.
Secara sosial, keluarga kami cukup diterima di Latvia. Jumlah imigran memang tidak banyak, sehingga wajah Asia masih terbilang jarang. Generasi muda Latvia relatif terbuka. Namun generasi tua masih sering memperlihatkan rasa asing, misalnya dengan tatapan penuh selidik di transportasi umum.
Awalnya, hal itu membuat saya kurang nyaman. Tapi lama-kelamaan, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan. Saya lebih memilih fokus pada hal-hal positif: anak-anak punya teman, sekolah mendukung, dan kehidupan berjalan baik.
Di rumah, kami berusaha sekuat tenaga menjaga budaya Indonesia. Kami tetap berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetap memasak makanan Indonesia, dan tetap menceritakan kisah-kisah tentang tanah air.
Setiap 17 Agustus dan Idul Fitri, komunitas Indonesia di Latvia mengadakan perayaan sederhana. Kami membawa makanan masing-masing, berbagi cerita, dan melepas rindu akan suasana tanah air. Itu jadi momen penting untuk mengingatkan anak-anak: bahwa mereka berasal dari negeri kaya budaya bernama Indonesia.
Tantangan terbesar adalah soal tradisi. Bahasa dan makanan masih bisa dijaga. Tapi suasana perayaan kampung, tarian daerah, atau upacara bendera di sekolah tentu sulit tergantikan.
Hidup di lingkungan yang berbeda tentu memberi dampak psikologis bagi anak-anak. Saya dan suami berusaha mendukung perkembangan emosional mereka. Kami mendorong anak-anak ikut dalam kegiatan sekolah, berteman dengan siapa saja, dan berani menghadapi perbedaan.
Kadang ada miskomunikasi dengan teman-teman. Saya mencoba menjembatani, tapi tidak mengambil alih. Saya ingin anak-anak belajar menyelesaikan masalah sendiri. Saya percaya, itu akan membuat mereka lebih dewasa.
Sejauh ini, anak-anak cukup kuat. Tidak ada rasa minder atau merasa berbeda. Justru mereka lebih percaya diri karena bisa menguasai bahasa lebih dari satu.
Saya menyadari bahwa kelak, ketika anak-anak menginjak remaja, mungkin akan ada benturan budaya. Remaja Latvia cenderung lebih bebas, dengan pola pergaulan yang berbeda dari nilai yang kami anut sebagai keluarga Indonesia muslim.
Itu menjadi tantangan besar bagi kami. Kami hanya bisa menyiapkan pondasi sejak dini, agar mereka kuat memegang nilai yang kami tanamkan, sekaligus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Dari semua perjalanan ini, saya belajar bahwa hidup di luar negeri membuat keluarga kecil kami semakin solid. Dulu, ketika masih di Indonesia, saya dan suami sibuk bekerja. Waktu berkualitas bersama anak-anak hanya tersedia di akhir pekan. Itu pun kadang terganggu urusan pekerjaan.
Di Latvia, meski jauh dari keluarga besar, justru kami lebih banyak waktu bersama. Anak-anak lebih dekat dengan kami. Hubungan terasa lebih hangat. Saya benar-benar menikmati fase ini.
Harapan saya sederhana tapi besar: saya ingin anak-anak menyelesaikan pendidikan dengan baik, tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bisa beradaptasi dengan dunia global, tapi tetap mencintai Indonesia.
Saya ingin mereka tetap fasih berbahasa Indonesia, tetap bangga dengan identitasnya, dan kelak, dari manapun mereka berada, bisa memberi kontribusi untuk negeri asal.
Untuk para orang tua Indonesia yang juga menjalani kehidupan di negeri orang, saya ingin menyampaikan: Tetap semangat. Syukuri hal-hal kecil setiap hari. Situasi di luar negeri mungkin tidak selalu ideal, tapi selalu ada sisi yang layak dijalani, dinikmati, dan diperjuangkan.
Perjalanan ini bukan sekadar tentang beradaptasi di tempat baru, tetapi juga tentang menemukan kembali arti keluarga, kebersamaan, dan cinta pada tanah air meski dari jauh.
Penulis: Soca Indriya, tinggal di Latvia dan dapat dikontak via akun instagram @socasoci.