(CERITA SAHABAT) Pernah Jadi Korban Perundungan, Kini Aktif Serukan Social Justice

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan aku adalah Rufi (akun instagram @zsyasdawita), yang sedang tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi S2 di jurusan Public Policy and Good Governance. Lewat program cerita sahabat, aku ingin membagikan hasil wawancaraku dengan seorang teman asal Indonesia dalam tema Social Justice

Temanku yang dimaksud adalah Dyfna, bukan nama sebenarnya dan sekarang juga tinggal di Jerman. Tepatnya Dyfna sedang tinggal di Leipzig sejak satu tahun lalu. Jika kita mendengar kata “Social Justice” mungkin yang terbayang adalah para profesional dan praktisi yang bergerak di bidang hukum dan keadilan. Nah, aku ingin membawa sahabat Ruanita dalam perspektif yang berbeda, yakni bagaimana perasaan orang yang tidak mengalami “social justice” dalam hidupnya, seperti yang dialami Dyfna ini.

Dfyna pernah mengalami peristiwa tidak mengenakkan, yang memegaruhi keputusannya untuk terlibat dalam bidang keadilan sosial. Awalnya, Dyfna mengalami peristiwa ketidakadilan pada saat dia masih duduk di bangku sekolah. Dyfna menganggap hal itu terjadi karena dia berasal dari suku minoritas pada saat dia bersekolah.  Selain itu, dia memiliki warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan teman-teman sekolahnya. Akibat perasaan tidak adil dan perlakuan rasisme tersebut, Dfyna memutuskan untuk melawan ketidakadilan sosial. 

Setiap orang punya definisi yang mungkin berbeda-beda tentang keadilan sosial, termasuk Dyfna. Menurutnya, keadilan sosial adalah kondisi saat semua orang memiliki persamaan hak dan mendapatkan perlakuan yang sama, tanpa adanya diskriminasi, baik itu  berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. Hal ini penting sekali karena Dyfna percaya bahwa masyarakat yang adil akan menciptakan lingkungan yang harmonis 

Tentu saja, Dyfna bukan hanya berteori saja tentang keadilan sosial, melainkan dia juga memiliki proyek atau inisiatif yang sedang dikerjakannya. Dia memiliki proyek terbaru yang berkaitan dengan program pemberdayaan di kota tempat tinggalnya saat ini. Proyek ini dikerjakannya bersama teman-teman aktivis yang punya concern yang sama, terkait bidang social justice. Proyek ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum kepada korban perundungan atau bullying, khususnya anak-anak sekolah dan remaja. Dyfna dan teman-temannya berharap proyek ini akan membantu para korban untuk bangkit dan mendapatkan keadilan yang layak.

Dalam implementasi proyek ini, tentu saja tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi Dyfna dan kawan-kawan seperjuangannya. Salah satu yang terbesar yang dihadapinya adalah  adalah ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, masih terdapat kelas-kelas sosial yang menciptakan adanya ketimpangan di masyarakat, sehingga ada yang merasa diri mereka lebih superior daripada orang-orang yang berada di kelas bawah, menurut kaum superior ini. 

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Dyfna pun berupaya untuk menciptakan ruang yang ‘merata’ bagi setiap pihak, khususnya dalam edukasi dan literasi tentang keadilan sosial. Contoh konkritnya adalah melakukan kampanye-kampanye, baik secara online maupun offline, sehingga diharapkan semua orang memiliki akses yang sama dalam mendapatkan pemahaman tentang keadilan sosial.

Tak hanya melakukan edukasi dan literasi saja, Dyfna merasa pentingnya peran advokasi dalam memajukan isu keadilan sosial ini agar dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Menurut Dyfna, advokasi dan pendidikan memainkan peran penting dalam memajukan isu keadilan sosial dengan memberikan informasi yang akurat dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan. Strategi yang dimainkan Dyfna adalah mengadakan lokakarya, seminar, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Sebagaimana sahabat Ruanita ketahui, praktiknya tentu tidak mudah ketika komunitas kami membantu anak-anak korban bullying yang mengalami ketidakadilan, khususnya karena rasisme. Dyfna dan komunitas bergerak untuk memotivasi dan mengedukasi mereka dengan cara-cara seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menanamkan pentingnya keadilan sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak di sekolah teredukasi dan lebih aware akan hal tersebut. Dyfna dan teman-teman aktivis berharap korban-korban perundungan di sekolah bisa bangkit dan tetap semangat kembali, terutama mereka tidak malu dan minder dengan identitas mereka ataupun warna kulit mereka.

Apa yang Dyfna dan teman-teman aktivis lakukan tidak dapat terwujud sepenuhnya, apabila pemerintah tidak mendukungnya. Menurut Dyfna, pemerintah dan kebijakan publik memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan menegakkan  keadilan sosial. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil bagi semua pihak, tentunya hal tersebut mampu membantu memerangi ketidakadilan dan diskriminasi. Sebaliknya, kalau tidak ada kebijakan yang mendukung dalam mengupayakan terwujudnya keadilan sosial, pastinya itu dapat menjadi hambatan yang besar dalam penegakan keadilan sosial.

Sahabat Ruanita, satu hal yang penting untuk diketahui tentang penegakan keadilan sosial adalah interseksi keadilan sosial itu sendiri, seperti ras, gender, dan kelas sosial yang saling terkait. Interseksionalitas merupakan konsep penting dalam keadilan sosial yang saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kita paham tentang interseksionalitas,  kita bisa melihat gambaran kesenjangan yang ada secara lebih luas dan kompleks.

Dalam kehidupan digitalisasi yang berkembang seperti sekarang ini, Dyfna berpikir kita bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media sebagai kunci social movement. Ya, tentunya teknologi dan media sosial mempunyai dampak yang signifikan terhadap gerakan keadilan sosial dengan memperluas jangkauan dan mempercepat penyebaran informasi. Namun, ada juga tantangan yang perlu diatasi, seperti misinformasi dan juga hoax yang saat ini tersebar luas di media sosial dengan mudah.

Terakhir, lewat peringatan World Day of Social Justice ini, Dyfna menyerukan bahwa kita bisa mulai terlibat dalam keadilan sosial, baik secara personal maupun institusional, yang bisa dimulai dari edukasi diri kita sendiri terlebih dahulu dan komunitas terdekatnya. Bahkan dari lingkup keluarga, Dyfna berpendapat bahwa kita bisa melakukan awareness tentang isu-isu keadilan sosial, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal. Langkah kecil seperti sukarela di organisasi sosial atau mengikuti kampanye kesadaran yang bisa berdampak besar.

Penulis: Zukrufi Syasdawita yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @zsyasdawita. Naskah berdasarkan wawancara dengan Dyfna (nama samaran) adalah mahasiswa yang sudah tinggal selama 1 tahun di Leipzig, Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hak Asasi Manusia

Menutup kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan yang menjadi bagian dari program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nyatamU) tahun 2024, Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh studi S3 di Belanda. Dia adalah Widya Tuslian yang memiliki latar belakang sebagai socio-legal studies, dengan fokus penelitian di bidang social welfare dan social justice.

Dalam penelitian yang sedang dilakukan, Widya berfokus pada bagaimana tata kelola sumber daya air di masyarakat miskin Urban Jakarta dalam perspektif socio-legal. Meskipun sumber daya air di Indonesia berlimpah, tetapi masalahnya bukan pada ketiadaan air, tetapi bagaimana air bisa dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.

Jakarta terkenal dengan infrastruktur development yang paling maju dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, di sudut-sudut kota Jakarta, permasalahan air masih sangat pelik, yang terkait dengan tata kelola air. Bagaimana pun aliran air yang keluar itu untuk semua manusia tanpa terkecuali.

Air seharusnya adalah hak dasar semua orang yang menyangkut human dignity, terpaksa menjadi begitu sulit di area poor urban Jakarta karena kebijakan dan tata kelola yang tidak tepat. Selain policy makers, hal ini dipersulit oleh para pebisnis yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, dibandingkan hajat hidup orang banyak.

Di Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, kita diingatkan lagi bagaimana keadilan sosial bagi seluruh warga Indonesia lewat distribusi air. Air bersih menjadi impian banyak orang, yang seharusnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Kenyataannya, air bersih begitu sulit diakses bagi mereka yang tinggal di Poor Urban Jakarta.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini: