(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(CERITA SAHABAT) Berada Dalam Generasi Sandwich Tidaklah Mudah dan Selalu Negatif

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan  dengan Miri, Sarawak, Malaysia.

Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di  sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.

Di  waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11  tahun. 

Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus  menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan  anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.

Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri.  Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti  kepada orang tua. 

Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri  dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.

Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya,  ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara  kebutuhan hidup mereka masih tinggi.

Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus  menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan  menafkahi anak-anaknya. 

Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang  sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.

Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.

Follow us

Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di  Indonesia.  Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di  masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.

Meskipun secara pribadi, saya tidak punya  pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak. 

Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich,  menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu: 

1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun  hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat  memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat. 

2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari  pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat  membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran,  ketahanan, dan empati.

3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga  kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap  terhubung dan kuat. 

4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich  memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik  dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak. 

Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal.  Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk  menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.

Saya pun turut prihatin, ketika  keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan. 

Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan  menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa  menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti  dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka.  Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang. 

Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang  umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di  saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.

Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington,  Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult  Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh  ilmuwan-ilmuwan budaya barat.  Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari  8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia.  Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya. 

Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh  tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena  kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat  orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 

Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan  keadaan orang tua mereka sendiri. 

Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah.  Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran. 

Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung  semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan  keluarga menjadi tidak baik

Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan  emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami  penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya. 

Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci  menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus.  Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia. 

Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung  keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab,  Allah tahu kita mampu.  Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan  orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.

Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang  sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita.  Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta  bantuan profesional ya, jika dibutuhkan.  Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya. 

Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com