AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP
Pembuat kartu adalah Annimah yang tinggal di India.
Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.
Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.
Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.
Dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi digital, keamanan di ruang maya menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi. Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi Oktober 2025 yang dikelola oleh Ruanita Indonesia kembali menyuguhkan narasi reflektif dan penuh wawasan, kali ini bersama Anggi Eka Pratiwi, seorang peneliti muda Indonesia yang tengah menempuh studi PhD di bidang Computer Science and Engineering di India.
Anggi berbagi kisah dan gagasannya tentang perlunya perlindungan digital yang komprehensif, pentingnya literasi digital bagi masyarakat umum, dan urgensi keterlibatan perempuan dalam bidang teknologi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Mengenal Sosok Anggi Eka Pratiwi
Anggi adalah representasi nyata perempuan muda Indonesia yang berani melangkah ke wilayah dominasi teknologi. Berasal dari latar belakang teknik, ia sejak awal telah menyadari bahwa perempuan masih menjadi minoritas di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Saat menempuh pendidikan sarjana di Indonesia, dari total 30 mahasiswa di kelasnya, hanya tiga orang yang perempuan, salah satunya adalah dirinya sendiri.
Kini, di India, Anggi tidak hanya melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi, tetapi juga mendalami topik riset yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita: competitive information diffusion atau penyebaran informasi kompetitif di media sosial.
Motivasi Penelitian: Mendeteksi dan Menelusuri Informasi Digital
Salah satu keprihatinan utama Anggi terhadap dunia digital saat ini adalah bagaimana hoaks atau informasi palsu menyebar dengan sangat cepat dan tak terdeteksi.
Banyak informasi yang viral di media sosial tidak memiliki sumber jelas, namun tetap beredar luas tanpa ada mekanisme penyaringan yang efektif.
Berangkat dari kegelisahan ini, Anggi memilih fokus penelitiannya untuk menciptakan model deteksi penyebaran informasi secara cepat dan akurat dengan data yang berasal dari media sosial.
Harapannya, model ini kelak bisa membantu masyarakat dan pemerintah dalam melacak asal-muasal berita palsu, serta menghambat laju penyebarannya sebelum menyebabkan kerusakan sosial lebih jauh.
Keamanan Digital: Studi Perbandingan Indonesia dan India
Melalui pengalamannya tinggal dan belajar di India, Anggi menyoroti bagaimana negara tersebut telah membangun sistem keamanan digital yang responsif dan terstruktur.
Di India, jika seseorang menjadi korban penipuan online atau kejahatan siber, masyarakat tahu persis harus menghubungi siapa dan ke mana melapor. Nomor darurat digital tersedia dan ditindaklanjuti secara cepat.
Berbeda dengan pengalamannya di Indonesia, ketika ia mencoba melapor atas insiden digital, respon yang diterima hanya berupa pencatatan tanpa kejelasan tindak lanjut.
Hal ini menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perlindungan siber di tanah air.
Menurut Anggi, data saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata, respons cepat, dan edukasi publik agar masyarakat tahu hak serta langkah apa yang harus diambil saat berada dalam situasi darurat digital.
Literasi Digital: Bekal Wajib di Era Internet
Dalam wawancaranya, Anggi juga menegaskan pentingnya literasi digital sebagai modal dasar bagi masyarakat modern. Ia mengusulkan agar pemerintah mengadakan pelatihan dasar tentang bagaimana menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.
Ada tiga poin penting yang Anggi bagikan kepada masyarakat terkait penggunaan internet dan media sosial:
Gunakan media sosial sesuai tujuan yang positif. Jika ingin mencari berita, langsunglah ke situs berita resmi.
Waspadai jejak digital. Apa pun yang dicari dan diakses akan direkam dan memengaruhi jenis konten yang muncul.
Lindungi identitas digital. Gunakan fitur keamanan seperti private IP, adblocker, dan filter konten untuk menghindari paparan konten negatif dan melindungi privasi.
Ia juga mengingatkan bahwa internet bukan ruang netral, melainkan lingkungan yang penuh algoritma dan risiko jika tidak digunakan secara bijak.
Mendorong Perempuan di Dunia STEM
Anggi tidak hanya berbicara soal keamanan digital, tetapi juga membawa isu penting lain: ketimpangan gender di dunia teknologi.
Menurutnya, meskipun ada peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM, peran mereka masih sangat terbatas di tingkat pendidikan tinggi dan profesional.
Ia menyoroti praktik di India yang menetapkan kuota khusus untuk perempuan di program-program teknik dan sains, misalnya 30% dari total mahasiswa harus perempuan.
Kebijakan semacam ini, menurut Anggi, sangat efektif mendorong kesetaraan dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi perempuan di bidang teknologi.
Indonesia, kata Anggi, perlu mempertimbangkan strategi serupa. Selain itu, dibutuhkan narasi positif dan dukungan struktural agar lebih banyak perempuan tertarik dan merasa aman masuk ke ranah ini, yang selama ini dianggap milik laki-laki.
Pesan untuk Indonesia dan Generasi Digital
Sebagai penutup, Anggi menyampaikan harapan besarnya untuk Indonesia. Ia ingin masyarakat memiliki kesadaran lebih tinggi akan pentingnya keamanan digital, dan agar pemerintah membangun sistem perlindungan yang tidak hanya formal, tapi fungsional dan cepat merespon.
Ia juga mengajak para pemuda, khususnya perempuan Indonesia, untuk tidak takut mengejar bidang-bidang teknologi.
Dunia digital bukan hanya tempat untuk bermain atau hiburan, tapi medan yang luas untuk berkontribusi, meneliti, dan menciptakan solusi bagi tantangan zaman.
Tentang Cerita Sahabat Spesial (CSS)
Program Cerita Sahabat Spesial yang dikelola oleh Ruanita Indonesia adalah program bulanan berbentuk video untuk membagikan cerita, pengalaman, dan wawasan mereka, melalui kanal YouTube Ruanita.
Program ini tidak hanya memperkaya perspektif, tetapi juga menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia, melalui suara-suara nyata dari mereka yang belajar, bekerja, dan berjuang di luar batas geografi.
Cerita Anggy Eka Pratiwi adalah cermin bahwa masa depan digital Indonesia bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia yang menggunakannya dengan bijak dan aman.
Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE ya:
NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.
Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.
Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.
Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.
Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.
Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.
Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.
Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.
Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)
Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Aku bernama Sasa merupakan perempuan Indonesia yang tertarik untuk membahas bagaimana perjuanganku sebagai ibu dalam mendapatkan hak asuh anak. Bagaimanapun, aku berhak mendapatkan hak asuh anak karena anak-anakku berpaspor Indonesia, meski mereka tinggal di India.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidup akan membawa aku menetap di India, sebuah negara dengan warna-warni budaya dan kehidupan yang begitu berbeda dari Indonesia. Aku telah menetap di sini selama lebih dari sepuluh tahun, yang berjuang untuk hak asuh anak-anakku dan berharap bisa membangun mimpi indah di Indonesia bersama anak-anakku nanti.
Ini semua berawal dari perkenalanku dengan seorang pria asal India melalui internet, yang kemudian menjadi awal kisah hidupku. Pernikahan, kelahiran putra, perceraian, hingga proses hukum yang panjang, semuanya aku lalui dengan keteguhan hati di negeri yang kini menjadi rumah keduaku sekarang.
Setelah perkenalan dengan ayah dari anak-anakku, aku menikah dengan seorang pria India yang kukenal di dunia maya. Awalnya, semua terasa indah. Aku memutuskan mengikuti suamiku ke India dan membangun keluarga di sini. Namun, di balik senyum dan kebahagiaan semu, aku harus menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang datang dari pihak keluarga mantan suamiku. Bertahun-tahun aku hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berjuang demi anak-anakku dan diriku sendiri.
Mantan suamiku juga memutuskan memilih perempuan lain untuk membangun bahtera kehidupan rumah tangganya. Aku tetap memilih tinggal di India agar aku bisa mendapatkan hak asuh anak-anakku yang selama ini tinggal bersama keluarga mantan suamiku. Proses perceraian di India bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa selesai dalam beberapa bulan, di sini aku harus bertahan selama bertahun-tahun. Namun, aku tak sendiri.
Dalam perjuangan itu, aku bertemu dengan suamiku yang sekarang yang banyak mendukung dan membantuku untuk bertahan di negeri Bollywood ini. Tak hanya suamiku, keluarga suamiku yang sekarang juga hadir memberikan dukungan tanpa syarat. Kakak ipar dan keluarganya menjadi sandaran emosional yang nyata, di tengah badai hidupku. Mereka membantuku memahami hukum setempat, mendampingiku di persidangan, dan menjaga anak-anakku ketika aku harus menghadiri sidang pengadilan.
Aku bersyukur karena akhirnya peringatan dilarang berpergian ke luar India, yang sempat menjeratku sebelumnya, telah dibuka oleh pengadilan di India. Proses mendapatkan hak asuh anak-anakku masih berjalan, tapi harapan mulai tampak di ujung jalan.
Sahabat Ruanita, akhirnya aku kini berhasil mendapatkan anak-anakku. Meskipun mereka besar di India, tetapi kami memperkenalkan mereka pada identitas Indonesia. Kami berbicara tentang budaya Jawa, tentang Indonesia yang ramah, dan hangat serta indah. Anak-anakku memiliki paspor Indonesia dan aku tetap berkomunikasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di India, untuk memastikan semua dokumen mereka terurus dengan baik.
Adaptasi anak-anakku di sekolah cukup lancar. Mereka bersekolah di lingkungan berbahasa Inggris dan tumbuh menjadi anak-anak yang ceria dan percaya diri. Kadang aku terharu melihat mereka tetap menghormati budaya Indonesia, meski tinggal jauh dari tanah air.
Tinggal di India memberikanku banyak pelajaran hidup. Aku pernah dipandang sebelah mata hanya karena aku berasal dari Indonesia. Namun, aku memilih bersikap rendah hati dan membuktikan bahwa integritas dan kepribadian seseorang, tidak ditentukan oleh profesi atau asal negara.
Masa depan? Aku memimpikan pulang ke Indonesia suatu hari nanti, membawa anak-anakku mengenal lebih dekat budaya tanah air mereka, dan mungkin kembali mengajar di institusi pendidikan. Saat ini, aku bekerja sebagai guru di India. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar pengacara untuk memperjuangkan hak hukumku di pengadilan.
Untuk para perempuan Indonesia yang mungkin mengalami situasi serupa di negeri asing, aku ingin berkata: kamu tidak sendiri. Carilah dukungan, baik dari komunitas Indonesia maupun orang-orang lokal yang dapat dipercaya. Laporkan situasi kamu ke perwakilan pemerintah Indonesia terdekat. Tetaplah berdoa dan berpikir positif. Percayalah, badai pasti berlalu dan pertolongan sering datang dari arah yang tak terduga.
Hari ini, aku berdiri lebih kuat. Semua ini tidak lepas dari dukungan keluarga suamiku yang kedua, anak-anakku yang menjadi sumber semangatku, dan tentunya keyakinanku. Saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai langkahku. Ini adalah kisahku, dan aku harap dapat menjadi kekuatan bagi perempuan lain yang tengah berjuang dalam sunyi.
MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.
Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.
Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1)Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman.
Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.
Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.
Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.
Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.
Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.
Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.
Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.
Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.
Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.
Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya.
Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.
Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah.
Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.
Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.
Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.
Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.
Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.
Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.
Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.
Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia.
Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.
Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.
Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.
Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.
Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.
Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.
Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”
Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.
Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.
Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.
Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.
Melanjutkan episode ke-2 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita, yakni perempuan berkebangsaan India yang tinggal di West Bengali dan berprofesi seagai Researcher dan Lecturer sekarang. Dia bernama Sanchali Sarkar yang dapat dikontak lewat akun instagram sanchali_s yang juga kini sedang menempuh pendidikan PhD di Jerman.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Cindy, program ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk diskusi antara Cindy sebagai perempuan Indonesia dan perempuan dari negara lain tentang topik menarik dan bagaimana perspektif mereka terkait dengan tema yang ditawarkan di negara mereka.
Pada episode ke-2, Cindy mengangkat tema kesetaraan gender di India yang masih menjadi isu yang kompleks dan bagaimana implementasinya, sepanjang pengamatan dan pengetahuan dari informan yang juga menjadi dosen keseteraan gender di salah satu universitas di India.
Berbicara tentang kesetaraan gender, Sanchali menyatakan bahwa masih ada ketimpangan gender di negara tempat tinggalnya. Menurut informan, ada banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi seperti: masalah keluarga, agama, seksualitas, kasta, dan benturan budaya yang membuatnya sulit diimplementasikan.
Misalnya, pernikahan anak di India yang sudah dilarang sejak tahun 2006 tetapi faktanya masih saja terjadi pernikahan anak yang terjadi di masyarakat di negara tinggal Sanchali. Padahal, aturan menikah sudah jelas ketat yakni laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berusia 18 tahun, tetapi antara peraturan dan implementasi begitu timpang.
Sanchali mengakui bahwa struktur di masyarakat tempat tinggalnya begitu sangat patriakal, meskipun banyak juga yang mengakui bahwa undang-undang yang dibuat oleh pemerintah India sudah berpihak pada perempuan. Dalam realitanya, itu begitu sulit bagi orang-orang untuk mengaksesnya.
Tema-tema menarik apa saja yang dibahas dalam antara Cindy dengan Sanchali? Mengapa kesetaraan gender di India begitu sulit diterapkan? Apa pesan Sanchali kepada perempuan India dan perempuan seluruh dunia?
Simak selengkapnya program Sharing with Guchi (SWG) episode ke-2 berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.
Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.
Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.
Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.
Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.
Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.
Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.
Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.
Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.
Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:
SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.
Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.
Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.
Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.
Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.
Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?
Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami:
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.
Di bulan Juli 2023 Podcast RUMPITA mengundang Sahabat RUANITA yang tinggal di India dan sekarang sedang menempuh studi kedokteran yang berfokus pada Ayurveda. Dia adalah Rakanita Arifah yang berasal dari Tangerang dan kini menetap di India untuk mendalami pengobatan tertua di dunia, yang dikenal Ayurveda. Nita, demikian beliau disapa, mengenal Ayurveda sejak dia mengikuti jejak ibunya yang adalah guru Yoga di Bali.
Banyak orang Indonesia belum memahami dan tidak mengenali Ayurveda, di bawah Kementerian Ayush di India, Central Council of Indian Medicine, dan kurikulum pembelajarannya diatur oleh lembaga yang bernama CCIM (=Central Coucil Indian Medicine) sejak 1971. Nita pertama kali belajar bahasa Sansekreta untuk memelajari dasar-dasar Ayurveda, anatomi tubuh, fisiologis dan lainnya di tahun pertama studi.
Dalam Ayurveda, kita perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki pengobatan yang berbeda meski memiliki penyakit yang sama dengan orang lain karena semua tergantung pada tipe tubuhnya.
Menurut Nita, konten pengobatan Ayurveda ini universal meski pendekatan yang dipakai seperti dalam ajaran agama Hindu. Pada tahun ketiga, Nita pun mulai mendalami kasus dan praktik klinis langsung di rumah sakit yang ditemani oleh dosen.
Di tahun keempat, Nita mulai menjalani praktik klinis langsung di rumah sakit sebagai tahun terakhir. Untuk praktik klinis langsung, Nita akan mendapatkan giliran bersama mahasiswa lainnya.
Nita banyak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris terutama untuk hal-hal yang masih belum dipahami selama pembelajaran.
Nita berharap usai studi Ayurveda dapat diaplikasikan di Indonesia terutama masyarakat Indonesia yang bisa menjadi alternatif pengobatan. Indonesia sendiri telah mulai diperkenalkan Ayurveda sebagai pengobatan sejak lama.
Bagaimana Nita menjalani studi kedokteran Ayurveda? Bagaimana Nita menjelaskan Ayurveda sebagai pengobatan untuk masyarakat yang belum banyak diketahui secara umum di Indonesia? Apa yang akan dilakukan oleh Nita setelah selesai studi?
Simak selengkapnya di Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA berikut ini: