
Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.
Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua.
Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.
Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.
Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas.
Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!
Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis.
Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun, anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.
Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.
Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.
Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan.
Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.
Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.
Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.
Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami. Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.
Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.
