(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.