(CERITA SAHABAT) Merak: Seni Menikmati Hidup Tanpa Terburu-buru di Serbia

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Mery, perempuan asal Indonesia yang sejak tahun 2015 menetap di Serbia setelah menikah dengan suami yang berkewarganegaraan Serbia. Sebelum pindah, saya tinggal di Bekasi—sebuah kota yang sibuk, penuh dengan lalu lintas macet, dan ritme hidup yang selalu terburu-buru. Kini, kehidupan saya berbalik arah 180 derajat. Dari keramaian kota besar, saya beralih ke sebuah desa yang berjarak dua hingga tiga jam perjalanan dari Belgrade, ibu kota Serbia.

Perbedaan itu sangat terasa. Di Bekasi, semua serba cepat dan penuh tekanan. Di sini, hidup berjalan jauh lebih santai. Ritme yang dulu menuntut saya berlari kini berubah menjadi langkah-langkah yang lebih tenang dan teratur.

Tantangan terbesar yang saya hadapi ketika pindah ke Serbia adalah iklim. Tubuh saya butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan musim dingin yang begitu ekstrim dibandingkan dengan cuaca tropis Indonesia. Sampai sekarang pun, setiap kali musim dingin datang, saya masih harus berjuang menyesuaikan diri.

Namun, di balik tantangan itu, ada banyak hal yang membuat saya kagum. Di desa tempat saya tinggal, orang-orang memiliki kebiasaan yang sederhana tetapi hangat: mereka selalu menyapa siapa pun yang mereka temui di jalan. Anak-anak pun sudah terbiasa menghormati orang dewasa dengan sapaan ramah. Setiap pagi, para orang tua biasanya berkumpul bergantian di rumah tetangga untuk minum kopi bersama. Saya merasa inilah salah satu kekayaan budaya yang mengajarkan pentingnya keakraban sosial.

Di Serbia, saya berkenalan dengan sebuah istilah yang indah: merak (мерак). Sulit menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi secara sederhana merak berarti seni menikmati hidup tanpa terburu-buru.

Saya pertama kali merasakannya ketika berjalan-jalan di taman kota. Orang-orang duduk santai di bangku, bercakap-cakap sambil menyeruput kopi, atau sekadar mengawasi anak-anak bermain. Tidak ada rasa terburu-buru, tidak ada agenda besar. Hanya momen sederhana yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Di desa, merak hadir lebih dekat dengan alam. Kami sering duduk di halaman rumah, berbincang santai, sambil menikmati suara burung berkicau. Kadang-kadang muncul ayam hutan, kelinci liar, atau bahkan kijang. Semua itu menghadirkan kebahagiaan yang begitu sederhana, tapi mendalam.

Ketika membandingkan kehidupan di Serbia dan Indonesia, saya melihat perbedaan besar dalam cara orang menemukan kebahagiaan. Di Indonesia, khususnya di kota besar, kehidupan sering kali dipenuhi kesibukan dan tuntutan sosial. Di Serbia, terutama di pedesaan, kebahagiaan hadir dalam bentuk kebersamaan yang tenang: berjalan di hutan, bercocok tanam, atau duduk santai di rumah bersama keluarga.

Follow us

Yang paling kontras bagi saya adalah suasana kumpul keluarga. Di Indonesia, kumpul keluarga biasanya ramai dan besar. Di Serbia, suasananya lebih sederhana dan intim. Keduanya sama-sama berharga, hanya berbeda cara.

Sejak tinggal di Serbia, saya belajar untuk mempraktikkan merak dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, merak bisa sesederhana:

  • Bangun pagi tanpa terburu-buru.
  • Mengurangi waktu bermain media sosial.
  • Menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan keluarga.
  • Memasak sendiri dengan bahan segar dari pasar lokal atau kebun.
  • Memilih produk yang ramah lingkungan.
  • Menikmati berjalan di alam terbuka.
  • Bercocok tanam di musim panas.

Semua itu membuat hidup saya terasa lebih tenang, bermakna, dan bahagia. Saya merasa lebih hadir di setiap momen, lebih dekat dengan orang-orang tercinta, dan lebih sadar akan hal-hal kecil yang patut disyukuri.

Bagi saya, merak erat kaitannya dengan tiga elemen: alam, waktu, dan hubungan sosial.

Alam memberi ketenangan dan keseimbangan. Berjalan di hutan, menikmati pemandangan, atau sekadar menghirup udara segar membuat stres berkurang dan rasa syukur meningkat.

Waktu luang yang tidak dihabiskan di depan layar gadget membuat saya lebih fokus pada saat ini. Saya bisa benar-benar menikmati percakapan, aktivitas rumah, atau sekadar duduk santai tanpa harus merasa bersalah karena tidak “produktif.”

Hubungan sosial menjadi pengikat. Waktu bersama keluarga dan teman-teman, meski sederhana, memberi makna yang dalam. Kehangatan itu adalah bagian dari merak.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan dari gaya hidup merak adalah menyadari bahwa kita sering mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Perlambatlah langkah, maka kita akan lebih jernih melihat apa yang penting.

Dengan slow living, saya bisa memberikan perhatian penuh pada orang-orang terdekat—suami, anak-anak, keluarga. Saya bisa lebih menghargai momen yang ada, dan yang pasti, stres pun berkurang.

Sebagai perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri, saya tahu banyak dari kita yang merasa harus selalu produktif, harus selalu berhasil. Saya percaya produktif dan berhasil memang penting, tetapi tidak boleh membuat kita kehilangan keseimbangan hidup.

Bagi saya, kunci utamanya adalah punya tujuan yang jelas, mengelola waktu dengan bijak, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tetap berpikir positif. Produktivitas sejati bukan hanya tentang hasil besar, tapi juga tentang kualitas hidup yang kita jalani setiap hari.

Jika saya boleh membagi satu kebiasaan sederhana ala Serbia yang bisa diterapkan di mana pun, itu adalah ritual minum kopi. Bukan sekadar minumannya, tetapi momen yang tercipta.

Di Serbia, kopi dinikmati bukan untuk terburu-buru berangkat kerja, melainkan untuk bersantai, bercakap, dan terhubung dengan orang lain. Bagi saya, kopi pagi bersama keluarga atau teman adalah bentuk merak yang paling nyata. Ia menjadi jeda dari hiruk pikuk hidup, sebuah kesempatan untuk benar-benar hadir.

Sekarang, rumah bagi saya bukan hanya bangunan fisik. Rumah adalah tempat di mana saya diterima, dihargai, dan bisa menjadi diri sendiri. Rumah adalah kehangatan keluarga, tempat di mana saya merasa aman dan dicintai tanpa syarat.

Rumah, bagi saya, adalah tempat yang selalu membuat saya ingin pulang.

Dari perjalanan saya, dari Bekasi hingga Serbia, saya belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam kesederhanaan. Tidak selalu tentang pencapaian besar, tapi tentang momen kecil yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Pesan saya untuk siapa pun yang membaca: hargai setiap momen, fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, dan temukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Jangan takut untuk memperlambat langkah, karena justru dengan itulah kita bisa merasakan hidup dengan lebih utuh.

Penulis: Merry, tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun instagram cemanitempehserbia. 

(IG LIVE) Safer Internet Day

Program IG LIVE lewat platform akun instagram @ruanita.indonesia dilaksanakan tiap bulan dengan berbagai tema diselenggarakan sebagai ruang diskusi dan berbagi inspirasi.

Pada bulan Februari 2025 ini, tema yang diambil sejalan dengan Safer Internet Day yang diperingati pada 11 Februari 2025 lalu.

Safer Internet Day mengingatkan kita bahwa internet kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tak terpisahkan dan kita perlu aware tentang bagaimana berinternet yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Demikian pernyataan pembuka pemandu diskusi, Host IG LIVE, yakni relawan Ruanita Indonesia – Zukhrufi Sysdawita.

Bagi Herawasih Yasandikusuma, Digital Marketer yang bermukim di Swiss, Safer Internet Day adalah momen untuk kita dapat menjaga informasi pribadi.

Selain itu, dia menghimbau bagaimana menggunakan sandi atau password yang aman dalam berinternet. Wasih – demikian disapa – mengingatkan pentingnya multi-faktor autentifikasi.

Berkaitan dengan kecerdasan buatan, Wasih juga menyatakan bagaimana hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence, yang dapat membantu kita bekerja.

Lainnya, Netti yang tinggal di Serbia dan aktif sebagai digital content creator – menyatakan pentingnya edukasi tentang kultur berinternet, termasuk bagaimana mengedukasi anak-anak yang berusia sekolah.

Di Serbia, Netti menegaskan sudah ada program untuk sekolah tentang literasi digital.

Meski orang tua masih khawatir dengan internet untuk hal-hal yang tidak edukatif, tetapi orang tua bisa membuat batasan pada anak yang bisa diatur pada bagian setting platform media sosial tersebut, seperti misalnya: Facebook atau Instagram.

Lebih lanjut diskusi IG LIVE ini dapat disimak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Tradisi Tahun Baru yang Kualami di Serbia

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan aku Mery Christiani, yang pernah tinggal di Jakarta dan kini menetap di Serbia. Sehari-hari, aku beraktivitas seperti umumnya ibu rumah tangga dan mengelola usaha rumahan tempe. Setiap hari aku membuat tempe dan melakukan pengiriman setiap Senin dan Kamis, dikarenakan aku ingin tempe masih fresh saat diterima. Pengiriman tempe memerlukan satu hari ke lokasi tujuan. 

Selain membuat tempe, aku juga sibuk dengan berkebun di belakang rumah. Aku punya tanaman kentang dan lainnya, seperti kebun buat kebutuhan sehari-hari keluarga. Tak hanya itu, aku ‚kan tidak tinggal di kota besar seperti Beograd, ibukota Serbia, aku pun mengelola peternakkan milik keluarga. 

Sejak aku tinggal di Serbia, aku menilai warga di sini sebagian besar penduduk Serbia beragama Kristen Ortodoks, tetapi ada juga yang beragama Katolik dan Islam. Sepanjang saya tinggal di Serbia, menurut saya, orang-orang Serbia di lingkungan sekitar saya tinggal merupakan orang-orang yang tidak terlalu religius.

Di Indonesia, umumnya orang-orang merayakan Natal di tanggal 25 Desember, tetapi mereka di sini merayakannya pada tanggal 7 Januari. Itu sebab, mereka merayakan tahun baru  itu dua kali, yaitu tanggal 1 Januari atau 13 Januari. Kenapa mereka di Serbia merayakan Natal dan Tahun Baru berbeda dengan negara-negara lainnya? karena Serbia menggunakan perhitungan kalender Julian.

Berdasarkan pengamatanku selama tinggal di Serbia, mereka memiliki satu makanan khas yang selalu dinikmati setiap tahun baru. Namanya Česnica. Itu semacam roti yang di dalamnya diberikan koin. Namun, tidak setiap roti diberikan koin. Mereka yang beruntung, tentu akan mendapatkan roti berisi koin.

Itu artinya, mereka yang mendapatkan roti berisi koin akan mendapatkan good luck sepanjang tahun. Roti ”tahun baru” yang dimaksud dibentuk dengan berbagai macam. Ada yang berbentuk bunga, ada yang berbentu mahkota, dan lain-lain yang kemudian diberikan koin di dalam roti tersebut. 

Di sini juga terdapat makanan pembuka sebagai starter. Namanya meze. Di Serbia, meze mencakup berbagai macam makanan kecil yang biasanya disajikan sebelum hidangan utama.

Hidangan meze di Serbia sering kali disajikan di acara-acara sosial dan pertemuan keluarga, dan dimaksudkan untuk dinikmati bersama dengan minuman seperti rakija (brendi buah lokal) atau anggur.

Ada makanan favorit saya yakni Punjena Paprika. Paprika besar yang sudah dibuang bijinya tersebut kemudian diisi dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah itu, paprika terisi, kemudian disusun ke dalam panci.

Lalu, panci diisi dengan air dan direbus sampai airnya menyusut. Setelah itu, kami masukkan ke dalam oven. Jika sudah matang, biasanya kami menikmatinya dengan sour cream dan roti. Itu sudah yummy!

Makanan kedua favorit lainnya adalah Sarma. Ini hampir sama dengan Punjena Paprika, tetapi Sarma menggunakan kol atau kubis. Isiannya bisa dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah terisi di lembaran kol atau kubis, tahapan mengolahnya sama seperti memasak Punjena Paprika.

Kalau soal makanan di tahun baru, aku juga suka sekali dengan goulash, yang sebenarnya ini menu yang umum ada di negara Eropa lainnya. Ada juga yang menyebutnya Paprikash. Ini seperti sup daging. Orang-orang di Serbia umumnya suka makanan daging atau masakan olahan daging.

Oleh karena itu, mereka sering kali mengadakan acara seperti barbeque untuk memanggang daging bersama. Di sini banyak sekali penjual kambing guling dan babi guling.

Acara barbeque buat orang-orang di Serbia menjadi penanda kebersamaan untuk menikmati waktu bersama. Orang Serbia mengatakan daging guling atau daging yang digunakan sebagai barbeque merupakan daging terbaik di dunia, karena binatang yang dijadikan daging guling diberi makan secara organik dan natural.

Itu sebab, daging guling di sini begitu tasty. Satu lagi sebagai gambaran, hampir sebagian besar masakan dan makanan Serbia sama dengan Turkies Cuisines, karena dahulu Yugoslavia sempat dijajah oleh negara Turki cukup lama. 

Secara garis besar, tradisi tahun baru seperti layaknya di negara lain, mereka berkumpul dengan keluarga juga di malam penutupan tahun. Kami biasanya berkumpul merayakan pesta bersama keluarga seperti mengadakan pesta barbeque, satay daging atau makanan seafood sambil ngobrol-ngobrol satu sama lain.

Malam pergantian tahun juga diisi dengan pesta kembang api untuk menghitung waktu mundur pergantian tahun, seperti waktu saya berada di Indonesia dulu. Hanya saja yang berbeda adalah kami biasanya dansa (dancing) di Serbia atau bernyanyi, ini yang tidak dilakukan seperti di Indonesia dulu.

Tradisi lainnya adalah kami biasanya bersulang merayakan tahun baru dengan minuman lokal yang mengandung alkohol, namanya Raki. Sambil bersulang, kami memberikan ucapan keberuntungan di tahun yang baru seperti: good health, good wealth, long life dan semacamnya. 

Selama tinggal di Serbia, tradisi menyalakan kembang api hampir ada di tiap rumah di sini. Hanya saja, saya dan keluarga biasanya pergi ke semacam City Center untuk melihat perayaan kembang api. Di City Center tersebut, terdapat pesta kembang api dan juga konser musik.

Sementara dulu di Indonesia, saya tidak terlalu merayakan kemeriahan tahun baru. Saya sudah kapok berpergian di malam pergantian tahun baru, justru mendapati macet di mana-mana. Setelah itu, saya tidak ingin keluar lagi dalam merayakan tahun baru.

Seperti umumnya perayaan pesta kembang api di kota-kota besar, di Serbia pun demikian. Biasanya saya hanya menyaksikan dari televisi, pesta kembang api di pusat kota Beograd. Pesta kembang api dilaksanakan di waterfront di Beograd dan terlihat sangat indah saat saya melihatnya di televisi.

Stasiun televisi seperti TVRI di Indonesia, namanya RTS, yang berisi berbagai program selama jelang tahun baru. Programnya itu bisa berisi komedi, musik atau hiburan berbagai artis, yang kemudian ditutup dengan menghitung mundur perayaan pergantian tahun baru. 

Sahabat Ruanita, biasanya di awal tahun selalu terselip harapan dan resolusi di awal tahun. Begitu pun warga di Serbia. Orang-orang di Serbia biasanya mengucapkan: ” Srećna Nova godina! – Selamat Tahun Baru!” sambil bersulang.

Berdasarkan pengamatan saya, mereka biasanya mengutamakan kesehatan untuk harapan di awal tahun yang baru. Kalau kita tidak sehat, bagaimana kita bisa menikmati hidup dan bekerja. Kalau sahabat Ruanita, apa harapan dan resolusi di awal tahun yang baru?

Penulis: Merry Christiani yang tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun Instagram: cemanitempehserbia.