(CERITA SAHABAT) Jaga Balita dan Anak Sakit di Swedia, Dibayar Pemerintah. Apa Iya?

Dalam dunia kerja di Swedia, seringkali saya mendengar rekan kerja berkata: ”Jag vabbar min son. Då stannar jag hemma”. Atau, ”Han vabbar sin dotter”, ujar seorang rekan kerja ketika saya menanyakan ketidakhadirannya. Saking penasarannya, apa sih vabbar itu? saya google untuk mencari tahu. Kalian penasaran juga kan?

Ternyata, menurut situs resmi Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan), vabba itu sebuah kosa kata kerja Swedia yang diambil dari kata benda vab yang berarti vård av barn atau stay at home to take care the sick kid dalam bahasa Inggrisnya. 

Singkat kata, vab itu pengajuan sick leave yang dilakukan oleh orang tua karena harus mengurus anak yang sedang sakit di rumah. Istilah ini juga merujuk pada aktivitas harus menginap di rumah sakit. 

Nah, saat vabba itu tentu saja konsentrasi pada pekerjaan buyar. Fokus perhatian orangtua tertuju pada kondisi anak yang sedang sakit. Artinya, orang tua yang vabba itu tidak mampu menjalankan kewajiban pekerjaannya. 

Namun, ijin vabba ini tetap harus diajukan dan sepengetahuan pihak personalia di mana dia bekerja. Mengapa? Karena hal itu terkait dengan persyaratan saat pengajuan kompensasi berupa uang yang bakal didapat oleh pengaju vabba dari Badan Asuransi Jaminan Sosial Swedia (Försäkringskassan). 

Yup! Pengaju vabba akan mendapatkan penggantian sejumlah uang dari badan asuransi sosial negara tersebut. Tentu, nilai uang pengganti ke pengaju vabba itu ada standar perhitungannya, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan Försäkringskassan dan kasus kategori vabba-nya. Sebagai informasi, batas usia anak yang boleh di-vabba oleh orang tuanya, yakni anak berusia 0 – 12 tahun. 

Lalu, seperti apa sih proses pengajuan kompensasi uang karena menjaga anak sakit (vabba) ke Försäkringskassan itu? 

Pertama, pengajuan kompensasi itu segera dilakukan ketika anak sudah sembuh dan sang orang tua sudah siap untuk bekerja kembali. Dalam pengajuannya itu mencantumkan jumlah hari yang membuat orang tua harus stay at home

Namun, ada maksimum jumlah hari stay at home yang bisa dikompensasikan. Biasanya jumlah hari tersebut hanya sampai 90 hari. Kedua, tentu proses pengajuan kompensasi itu harus dilengkapi lampiran dokumen berupa surat keterangan sakit sang anak tercinta dari dokter. 

Ya! Di Swedia, jika sakit dan harus stay at home atau stay at hospital sampai lebih dari 7 hari, maka pada hari ke-8 harus melampirkan surat keterangan sakit. Sebenarnya, informasi proses pengajuan hak tersebut sudah sangat jelas dan detil yang dapat dibaca di laman resmi www.forsakringskassan.se

Sahabat Ruanita perlu tahu prinsip sederhana vabba. Negara Swedia peduli dengan situasi kondisi orangtua yang harus just stay at home untuk mengurus balita dan anak tercinta yang sedang terbaring sakit. 

Bisa dikatakan, hal ini merupakan manfaat dari uang pajak yang kami bayarkan ke Pemerintah Swedia. Cukup lumayan jika dihitung total persentase pajak dari total penghasilan bulanan. Hitungannya bisa mencapai 30-50% dari total penghasilan. 

Belum lagi, setiap kami berbelanja, misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan sampai tersier seperti elektronik, semua itu tetap ada perhitungan pajaknya (moms in Swedish) yakni 6%, 12% dan 25%. Singkat kata, pajak tinggi yang dibayarkan itu ada wujud nyatanya yang bisa dinikmati kembali oleh masyarakat Swedia.

Nah, kira-kira begitu pengalaman saya selama tinggal di Swedia. Bagaimana pengalaman sahabat Ruanita lainnya tentang cuti sakit sebagai orang tua? 

Penulis: Tutut Hanadayani, Kontributor Ruanita Indonesia yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak lewat akun Instagram @kabarkoe

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.

(CERITA SAHABAT) Dua Hati yang Berjarak, tetapi Tetap Satu

”Distance does not matter if you really love the person. What matters most is your honesty & trust for that relationship to work out.” – unknown

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Inginnya setiap detik bersama atau berdekatan dengan yang tercinta. Namun, apa daya, hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya, kita harus berpisah sejenak dengan suami dalam hitungan bulan atau tahun.

Keputusan berpisah sejenak itu disebabkan oleh banyak alasan, seperti faktor domisili asal suami yang berbeda suku bangsa negara atau pekerjaan yang membuatnya harus merantau ke luar negeri. Dengan demikian, konsep long distance relationship marriage (LDMR) menjadi pilihan terbaik dengan semua konsekuensinya.

Lalu, apa sih tantangan terberat yang dialami oleh para pelaku LDMR, khususnya yang berbeda negara domisili itu?

Semua pelaku long distance relationship marriage (LDR) mengakui faktor jarak antar negara dan perbedaan zona waktu yang ekstrim menjadi tantangan terberat dalam membangun komunikasi yang sehat. Mengapa? Karena komunikasi adalah kunci sukses dari sebuah hubungan cinta yang sehat. Nah, di sinilah diperlukan kedewasaan dalam pola pikir dan sikap para pelakunya, termasuk, harus ada kesepakatan bersama agar komunikasi dua arah tetap terjalin baik.

Kecanggihan teknologi telekomunikasi dewasa ini memberikan banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan pasangan via teks (short message service/sms), direct message (DM) via akun sosial media (Facebook, Instagram atau Whatssapp) atau videocall message via Whatsapp, Zoom, Google Meet atau FaceTime. Semua bentuk komunikasi itu bisa dilakukan realtime.

Namun, kecanggihan komunikasi online-virtual itu tetap tidak bisa menggantikan pertemuan fisik. Ada banyak hal yang membuat sepasang kekasih ingin selalu berdekatan secara fisik. Hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dan dimengerti oleh pasangan yang sedang memiliki love-relationship

Pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjalani long distance marriage relationship (LDR) itu diakui oleh Ria Hakefjäll (36 tahun). Sebelum pindah dan stay for good di Swedia, Ria sempat menjalani hubungan long distance marriage relationship (LDMR) hampir setahun lamanya dengan suami tercinta yang berkebangsaan Swedia.

Hal itu disebabkan karena Ria harus menyelesaikan berbagai urusan terkait kepindahannya ke Swedia. Sementara, suami harus segera balik pulang karena pekerjaan setelah menikah di Indonesia. Tentu tidak mudah buat Ria dan suami menjalankan kehidupan rumah tangga yang terpisah jarak ribuan kilometer, Indonesia-Swedia.

Selain itu, faktor perbedaan waktu antara Indonesia dengan Swedia yang ekstrim juga menjadi tantangan tersendiri. Waktu Indonesia itu 5 atau 6 jam lebih awal daripada Swedia. Bayangkan saja, saat Ria memulai aktivitas pagi hari, suami tercinta masih terlelap dalam tidur malamnya. Begitupula sebaliknya. Rasanya ingin berbagi cerita tentang aktivitas hari itu, usai pulang kerja sore hari, namun isteri tercinta sudah siap beranjak ke peraduan. Lalu, bagaimana Ria dan suami menyikapinya?

Ria dan suami sepakat menentukan waktu khusus pada jam tertentu setiap harinya dan pada akhir pekan agar komunikasi tetap terjalin baik. Pasangan pecinta nature-hiking ini menyebut momen khusus itu, video-call dating. ”Via video-call dating ini, saatnya kami berdua bisa berbicara tentang apa saja dengan lebih tenang.

Kami dapat lebih fokus membahas tentang harapan, rencana kehidupan dan perasaan satu sama lain. Intinya, momen video-call dating ini membuat kami mampu menjaga keintiman emosional,” jelas Ria. Lebih lanjut Ria menambahkan, momen video-call dating ini juga membantu mereka untuk meminimalkan rasa cemburu dan buruk sangka terhadap pasangan.

”Saat itulah, kami bisa bicara panjang lebar tentang apa saja. Jika ada permasalahan di antara kami, harus selesai pada momen video-call dating itu,” tegasnya. 

Hal yang sama dilakukan oleh Sadya Nur Anisa. Wanita berusia 28 tahun berprofesi dokter umum itu harus berpisah setahun lamanya dengan suami yang melanjutkan kuliah S2 di Stockholm. Bahkan saat itu, sudah hadir buah cinta mereka yang masih berusia balita.

Buat Sadya, tantangan terberat menjalani hubungan pernikahan jarak jauh itu ketika anak sakit. Tentu kehadiran suami secara fisik saat anak sakit itu sangat berarti buatnya dan terasa berbeda dibandingkan percakapan via video-call untuk menjelaskan kondisi anak.

”Ada hal-hal yang hanya bisa diceritakan ke pasangan. Untuk itu, kami berkompromi menentukan waktu yang sekiranya bisa dipakai untuk melakukan video-call. Bercakap-cakap di waktu khusus itu saatnya kami menceritakan keseharian atau keluh kesah di hari itu kepada pasangan,” jelas Sadya.

Ya! Adanya waktu khusus untuk bercakap-cakap dari hati ke hati pada jam tertentu setiap harinya dan akhir pekan itu mampu membangun keintiman emosional meskipun tetap berkabar setiap harinya, seperti mengucapkan Selamat Pagi/Siang/Malam, bertanya aktivitas hari itu atau Selamat Beristirahat via teks sms atau WhatsApp.

Buat Ria dan Sadya, berkirim kabar setiap hari itu sangat penting dalam hubungan cinta jarak jauh. ”Bagi kami, berkirim kabar itu terlihat remeh dan kecil, namun “wajib” dalam hubungan kami,” tegas Ria.

Lalu, Sadya menyarankan untuk tetap merayakan momen-momen spesial seperti ulang tahun pasangan atau anniversary meskipun hal itu dilakukan via video-call

Upaya saling berkirim kabar diakui oleh Ria dan Sadya juga sebagai cara membangun dan memertahankan rasa saling percaya dalam hubungan cinta jarak jauh, termasuk, menjembatani perbedaan budaya antar dua negara seperti yang dialami oleh Ria dan suami.

”Buat kami, komunikasi rutin sepanjang hubungan jarak jauh kami, bahkan sampai sekarang itu sangat membantu kami membangun rasa saling percaya dan pengertian serta mengenal pasangan semakin dalam,” jelas Ria.  

Untuk menjembatani perbedaan budaya, Ria memulai belajar bahasa Swedia, bahasa ibu suami tercinta. Begitupun sebaliknya. Buat mereka, kemauan belajar untuk memahami dan bercakap-cakap dalam bahasa ibu pasangan juga kunci utama membangun dan menjaga harmonisasi hubungan cinta meskipun, mereka berdua lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama.

”Bahasa Swedia juga membantu saya untuk memahami lebih baik budaya negara suami. Hal yang sama dirasakan saat suami belajar bahasa Indonesia. Bahasa ibu itu pintu masuk memahami dan menjembatani perbedaan budaya”, tambah Ria. 

Sementara itu, Sadya dan suami tidak memiliki kendala bahasa dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Mereka berdua berasal dari negara yang sama, yakni Indonesia. Namun, hubungan jarak jauh telah memengaruhi pola pikir dan cara pandang wanita pecinta warna merah muda itu. 

Kehidupan di Swedia yang semuanya serba tepat waktu, terstruktur dan terencana dengan sistematis dan terukur membuat siapapun di Swedia lebih menghargai waktu, baik waktu untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, sedikit banyak kehidupan dan kebiasaan di Swedia juga memengaruhi dan mewarnai karakter suami Sadya.

Artinya, hal itu juga memengaruhi cara bersikap dan gaya berkomunikasi suami tercinta. ”Jadinya, saya menjadi lebih bisa menghargai waktu. Saya akui waktu di Indonesia terkesan lebih fleksibel dan terbiasa spontan. Ibarat kata, mau telepon kapan saja bisa dan orang yang ditelepon pun cenderung terbuka dan santai jika mendadak dihubungi mendadak. Berbeda dengan di Swedia.

Mau telepon saja harus bikin janji dulu, tidak bisa spontan. Kaget juga di awal-awal hubungan. Karena sifat hubungan ini kan pakai perasaan. Bukan hubungan profesional atau pekerjaan. Inginnya kan kapan saja bisa bicara sama suami,” urai Sadya mengenang masa awal komunikasi hubungan jarak jauh dengan suami. 

Saat ini, Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa telah menetap di Swedia. Mereka sudah hidup bersama dengan suami tercinta masing-masing. Hubungan rumah tangga jarak jauh menjadi kenangan manis. Long distance marriage relationship (LDMR) telah membuat mereka menjadi individu yang lebih mandiri, logis, tangguh, bijaksana dan pengertian dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan yang terkait urusan pribadi maupun rumah tangga.

”Karena ada hal-hal urusan domestik rumah tangga, misalnya anak sakit atau urusan rumah yang butuh keputusan cepat saat itu juga. Sementara kami ada perbedaan waktu yang ekstrim. Jadinya, terkesan tidak ijin secara lisan biarpun saya juga mengabarkan via teks. Di sinilah, sebenarnya kami telah belajar membangun rasa percaya dan menghormati keputusan yang diambil pasangan,” jelas Sadya. 

Selain itu, mereka juga selalu berusaha up-to-date dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan terampil menggunakan aplikasi sosial media terkini yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan pasangan. ”Selalu update dengan aplikasi komunikasi via sosial media terkini juga tetap saya lakukan agar bisa menjaga hubungan jarak jauh dengan keluarga di tanah air,” tambah Ria. 

Tampaknya, kalimat bijak – ”Aku ada di dua tempat, di sini dan di mana kamu berada,” karya Margaret Atwood ini dapat menggambarkan hubungan cinta jarak jauh. Secara fisik memang terpisah, tetapi dua hati yang terpisah oleh jarak tetap menyatu. Namun, untuk membuat dan menjaga agar dua hati tetap menyatu itu membutuhkan kerjasama yang baik para pelaku LDMR. 

Ria dan Sadya sekali lagi mengakui kalau LDMR itu tidak mudah. Mereka berdua menegaskan komunikasi terbuka yang dua arah dan saling pengertian itu kunci utama kalau mau sukses menjalani LDMR. ”Dan, tetap berpikir positif.

Jangan mudah terhasut oleh pikiran negatif sendiri tentang pasangan. Terus, selalu sampaikan kekesalan dan kegusaran secara terbuka. Merajuk atau silent-treament pasangan tidak menyelesaikan persoalan. Yang ada semakin bikin runyam. Usahakan bahas dan selesaikan persoalan saat itu juga,” tegas Ria. 

Kesimpulan seusai menyimak uraian Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa tentang pengalaman long distance marriage relationship (LDMR) itu, komunikasi terbuka dua arah dan saling menjaga kepercayaan itu diyakini sebagai modal utama membangun hubungan cinta yang sehat.

”Bahkan, komunikasi terbuka dan saling jaga kepercayaan itu tips terbaik kalau mau hubungan suami isteri langgeng dan rumah tangga tentram, baik saat berjauhan atau sudah seatap yang sama,” pungkas Sadya. 

Penulis: Tutut Handayani, freelance jurnalis di Indonesia yang kini tinggal di Stockholm Swedia, kontributor cerita sahabat di http://www.ruanita.com, dan dapat dikontak Instagram kabarkoe.

(CERITA SAHABAT) Lagom dan Pengalaman Saya Tinggal di Swedia yang Perlu Kamu Tahu

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Kiki, yang sekarang menetap di Swedia sejak 4 tahun lalu. Saya berasal dari Jakarta. Sebelum menetap di Swedia, saya pernah tinggal di Penang, Malaysia selama 2 tahun. Di Swedia, saya bekerja sebagai Full Time Employment di Start Up company yang bergerak di industri electronic recycling. Maaf, kalau cerita saya bercampur antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. 

Berbicara soal Lagom, saya tentu dengan senang hati menjelaskannya kepada kalian. Lagom is a Swedish word that means balance living  “not too little, not too much, just right”. It provides simple solutions by living in harmony to juggle everyday priorities, reduce stress, eat well, and save money, with lessons on the importance of downtime, being outdoors and Sweden’s coffee break culture.

Jatuhnya, Lagom menurut saya lebih pada keseimbangan hidup dalam mencapai kesejahteraan batin. Banyak orang di luar sana berpendapat, bahwa orang-orang Swedia senang dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan, seperti Greta Thunberg, anak muda yang aktif menyuarakan Friday for Future demi keberlanjutan bumi. Saya merasakan itu betul sekali.

Swedish people like balance in all aspects, for example recycling, they love their nature and they keep their environment clean from trash. So recycling trash has become a habit and part of their life.  As I mentioned, they love their nature, they want to keep their nature preserved and clean from trash and grow their own food. 

Di Indonesia, untuk melihat nyata filosofi Lagom dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita lihat di produk-produk yang ditawarkan di IKEA. Orang-orang Swedia memang begitu adanya membangun alam lewat produk-produk mereka yang simpel. Swedish people like to “build”. It’s in their nature.

So Ikea is one of their concepts in life, Ikea is great innovation and also affordable. I also like Ikea, they made us think and to be creative to resemble our own purchase.

It’s common here to see Ikea products in all houses because it is affordable. They also like to build their own house and garden by hand, they do it by themselves for years. 

Follow us

Speaking of Lagom, it’s all about a balanced lifestyle. Exercise while being fit is important for everybody due to keeping your mind healthy from work stress, specially with long winter time, it’s easy to get depressed just by staying at home, so being more active is important. 

By living lagom you can:

Improve your work-life balance

Free your home from clutter

Become a more conscious consumer

Savor good food the Swedish way

Enjoy healthy exercise in nature

Live a happier and more balance lifestyle

Lagom memang hal yang baru buat saya, yang dulu sibuk bekerja sebelum tinggal di Swedia. Namun di sini, kita harus bisa hidup dalam harmoni dan banyak melakukan aktivitas outdoors, bahkan hanya sekedar “Fika”, kebiasaan orang-orang Swedia untuk menikmati istirahat sembari minum kopi.

Lagom or balance is applied to their life, such as work balance, personal life balance too.They also have Fika habits at the workplace, like in my workplace, we have in a day 2 times fika time, 1 time quick break (elva fika), and lunch break.

I didn’t have this in Indonesia, but here it is important to have fika, so you don’t work all the time and get stressed but you also have balance to do break/fika. These are only a few examples.

Awalnya, saya merasa tidak mudah juga beradaptasi dengan budaya di Swedia. Boleh dibilang ini seperti crossed culture buat saya. 

Tantangan saya tinggal di Swedia seperti Bahasa Swedia yang tidak mudah dan bagaimana beradaptasi untuk menyesuaikan budaya kerja orang-orang Swedia sendiri. 

In a relationship, man and woman they are equal, they share home chores and even financially and take care of children equally. Orang Swedia amat menjunjung kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan.

Ada sejarahnya di mana laki-laki dan perempuan, sama-sama punya andil dalam membangun negara Swedia. Women and men are equal here. And I see many women here are more independent than women in Asia. They try to build this culture and values from a long way to make women have equal rights from men. 

Ada yang menarik ketika tinggal di Swedia. Banyak orang berpendapat, orang Swedia cenderung pemalu. Itu betul, mungkin tidak mudah juga buat mereka membangun komunikasi dengan orang asing. Most yes, but not everyone. Its common here to see Swedish people don’t show their expression or emotion, they are very well reserved, but after 2 or 3 drinks they will talk and become friendly hahahhahaha…..

Ini tipsku terhadap orang-orang Swedia: Respect and be nice are the basic fundamentals to make friendship or engage with people”. Never afraid to say Hello first and smiling as Indonesian identity. You need to speak up if things are slow or incorrect. Buat kalian yang tidak bisa Bahasa Swedia, no worries. Mereka bisa Bahasa Inggris dengan baik.

You need to learn the language so you can communicate with Swedish people who can not speak English, also it helps you to find an easy job.

Menurut saya, orang Swedia cenderung menghindari konfrontasi. They avoid confrontation, yes, but it’s not common for Swedish people to show expression or emotional feelings, most of them are very reserved people.  Hal menarik lainnya adalah bagaimana mereka menempatkan anak-anak mereka di keranjang bayi, meskipun itu adalah musim dingin.

Mungkin kita berpikir, anak-anak akan masuk angin dibiarkan ditaruh dalam keranjang bayi di luar, tetapi tidak untuk mereka. Additionally, in Sweden you will see many men/fathers taking their babies out with strollers to park or out to nature and that’s a common view here. 

The last, Sweden is a beautiful country no matter what the season is, alot to explore and to learn from it. Ini saran saya kalau ingin memahami negara Swedia umumnya. You need to learn patience because sometimes the Swedish system is very slow.

You need to understand that you live in a different country and life, so respect locals and respect their system and culture. It’s a big challenge but also an adventure, especially for young people to study here. It’s a big opportunity to learn a lot of new things, don’t keep closed minded but be open, always give respect and enjoy the ride even with the long winter time. Hope it informs!

Penulis: Kiki, tinggal di Swedia dan dapat dikontak via akun IG: little_monkey2016

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Kalau Mau Datang ke Swedia

Sahabat RUANITA, adakah yang ingin datang untuk bekerja, berkuliah atau membangun hidup baru di Swedia?

Swedia adalah negeri yang kecil yang aman dan juga nyaman loh. Begitu pendapat Nada Danielsson, yang pernah menjabat sebagai Chairwoman Swedish Indonesian Society atau perhimpunan warga Indonesia yang bermukim di Swedia.

Nada berbagi pendapatnya tentang tinggal dan menetap di Swedia yang sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun lebih.

Bagaimana pun tak banyak orang Indonesia memahami bagaimana budaya dan kebiasaan orang Swedia sebenarnya. Misalnya lelucon tentang bentuk tubuh sebagai percakapan sehari-hari ternyata adalah hal tabu loh untuk diucapkan.

Nada berpesan juga kalau mau datang ke Swedia kepada para perempuan, bahwa sebaiknya tidak hanya sekedar jadi ibu rumah tangga saja loh. Alasannya?