(CERITA SAHABAT) Tidak Merasa Sepi atau Sedih di Hari Raya, Justru Saya Belajar Toleransi dari Sesama Perantau di Taiwan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Elok Fenisia, biasa dipanggil Elok. Saat ini, saya adalah seorang ibu beranak satu dan bekerja sebagai full-time mom. Saya mengurus dan merawat anak saya sendiri dari lahir sampai saat ini berusia 16 bulan di Taiwan. Sejak pertengahan tahun 2025 ini, saya dan keluarga menetap di Paraguay, Amerika Selatan.

Saya berasal dari Balikpapan, kemudian saya sempat berdomisili di Surabaya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya berkuliah S1 jurusan psikologi di Malang, kemudian saya sempat juga melanjutkan studi S2 di Surabaya.

Perjalanan saya ke Taiwan diawali dengan pertemuan saya dengan suami, yang dulu masih menjadi pacar, ketika saya sedang mencari peluang studi S2 di Surabaya. Saat itu, saya datang ke gereja dan berjumpa dengan Lorddy, yang kini menjadi suami saya. Saat itu, Lorddy sedang menunggu pengumuman studi S2 di Taiwan. Singkat cerita, kami merasa cocok dan memutuskan menjalin hubungan berpacaran. Tiga bulan setelah itu, Lorddy diterima kuliah S2 di Taiwan, sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh. 

Selama empat tahun delapan bulan akhirnya hubungan jarak jauh itu pun berakhir dengan komitmen janji s ucipernikahan. Kami menikah di Surabaya, yang membuat kami memutuskan untuk tinggal bersama di Taiwan. Saya pun segera mengurus administrasi untuk kelengkapan visa. Saya pun berangkat ke Taiwan dan tinggal di Taiwan di tengah suami sedang menempuh pendidikan studi S3, hingga sekarang bekerja. Itu sebabnya, mengapa saya berada di sini sejak tahun 2022.

Momen perayaan Natal bagi saya sangat spesial, yang mana saya selalu merayakan dengan penuh kemeriahan, ketika saya masih berada di Indonesia. Sebaliknya, ini berbeda sekali ketika saya berada di Taiwan. Saya mengalami kesedihan, saat saya merayakan Natal di Taiwan.

Follow us

Tentunya, ada perasaan jauh dari keluarga besar di Indonesia, sehingga tidak bisa merayakannya bersama keluarga besar. Perayaan Natal di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, mengingat bahwa hari raya Natal bukan hari libur nasional keagamaan di Taiwan. 

Sekalipun Natal di Taiwan bukan hari libur, tetapi gereja saya tetap merayakannya di hari Minggu yang mendekati tanggal 25 Desember tersebut. Agar lebih meriah, perayaan Natal pada 25 Desember tersebut, saya pun memasak makanan spesial Indonesia. Saya juga membuat aneka kue kering dan memasang aksesoris Natal. Meski perayaan Natal berbeda dengan kebiasaan yang saya alami sewaktu di Indonesia, saya tidak merasa ada tantangan tersendiri. Saya mencoba beradaptasi dan menerima kondisi yang sedang saya alami. Hal terpenting buat saya adalah bisa berkumpul dengan suami dan anak saya. Itu sudah cukup di hari raya Natal.

Saya juga melihat bahwa saya tidak sendirian ketika sedang berada di perantauan saat merayakan Natal. Sebagian besar komunitas yang saya kenal di Taiwan adalah teman-teman anggota gereja, yang selalu memberikan dukungan sosial dan semangat satu sama lain, dalam menyambut Natal. Dukungan positif tidak hanya datang dari mereka yang seiman saja, saya juga pernah merasakan dukungan dari orang-orang sekitar saya, meskipun mereka tidak merayakan Natal. Mereka memberikan ucapan Natal dan lainnya mereka memberikan parcel Natal, padahal mereka tidak merayakan Natal. 

Justru perbedaan keyakinan di antara kenalan dan teman-teman saya, memperkuat solidaritas dan jembatan untuk saling memahami satu sama lain. Saya sangat menghargai hal itu. Contohnya, saat saya pergi ke Taipei Main Station, tempat berkumpulnya orang Indonesia atau beberapa titik tempat lainnya di Taiwan, saya mendapati acara berbagi makanan/minuman  untuk menyambut Natal. Selain itu, ada beberapa kali acara kebersamaan yang mampu menyatukan perbedaan menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Artinya, meski saya jauh dari Indonesia, saya merasakan perayaan Natal di tengah keragaman perbedaan keyakinan bersama orang-orang di Taiwan.

Di tengah dunia yang beragam, tentu tak mudah merawat solidaritas. Saya pikir, ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti senyuman saat bertemu dan berkumpul atau memberi ucapan saat momen spesial mereka. Bentuk solidaritas lainnya adalah kita bisa memberikan bantuan, ketika mereka membutuhkan, misalnya: memberi tumpangan, memberi arahan jika mereka bertanya, dan tidak menghakimi atas apa yang mereka lakukan.

Di Taiwan sendiri, saya ikut serta bergabung dalam komunitas Gereja Kristen Indonesia (Indonesia Ministry Bread of Life Church). Saya dan suami aktif melayani di gereja setiap ibadah Minggu hingga momen Natal. Dalam komunitas ini, mereka sangat hangat menyambut saya dan mendukung pertumbuhan saya secara rohani dan mental. Beberapa kali, kami juga mengadakan acara kebersamaan dengan orang yang berbeda keyakinan, seperti jalan-jalan bersama ataupun hanya sekedar makan bersama.

Menurut saya, bergabung dalam komunitas ketika kita berada di perantauan seperti Taiwan, tentu sangat berperan penting. Mereka adalah rumah kedua saya. Kami bisa mengadakan ibadah perayaan Natal bersama, yang mana saya pun ikut melayani di sana. Saya sangat terharu dan bersyukur bisa merayakan Natal bersama teman-teman seperantauan di Taiwan. Biasanya saat menyambut Natal ini, mereka membagi bingkisan kue, coklat, serta ada makan bersama. Menyaksikan banyak orang Taiwan yang juga merayakan Natal bersama di gereja, pun menambah momen bersyukur saya di saat hari raya Natal. Bahkan ketika saya melahirkan dan memiliki anak, mereka sangat mendukung dari hal kecil seperti kebutuhan bayi hingga dukungan finansial.

Makna Natal menurut saya merupakan bentuk kasih atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya, sehingga di mana pun saya berada tidak mengubah pandangan makna Natal itu sendiri. Sekalipun saya berada di negara yang tidak merayakan hari raya Natal, hati saya akan tetap bersemangat dan bersyukur dalam menyambut Natal. Menurut saya, perayaan Natal tidak bergantung pada di lokasi mana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap merayakannya di dalam hati kita. 

Tentu saja, ada lesson learned dalam hidup tentang toleransi dan solidaritas yang dipelajari selama tinggal di Taiwan. Saat saya tinggal jauh dari tanah air, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan kebiasan yang berbeda. Dari sini, saya belajar tentang toleransi bukan sekedar kata, tetapi sikap nyata yang harus dilakukan setiap harinya. Pertama, kita perlu menghargai perbedaan tanpa menghakimi. Sebelum menilai seseorang, saya belajar mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Saya memahami bahwa perbedaan pandangan justru akan memperkaya kapasitas toleransi saya. 

Kedua, kita perlu membangun komunikasi yang baik agar menghindari kesalahpahaman. Saya belajar bahwa komunikasi yang jelas dan terbuka, menghasilkan respon yang lebih baik di dalam perbedaan. Ketiga, kita bisa saja menemukan persamaan di tengah perbedaan. Saya menyadari bahwa persamaan paling utama adalah saya dan teman-teman di Taiwan adalah orang perantauan. Pada akhirnya, saya belajar bahwa sekalipun kita berbeda, kita memiliki hal yang sama yaitu rasa rindu akan tanah air dan membawa nama tanah air di Taiwan. Oleh sebab itu, saya belajar tentang toleransi dan solidaritas dari sesama perantau di Taiwan.

Sahabat Ruanita, jika kalian merayakan Natal yang jauh dari tanah air ataupun di negara yang tidak memiliki hari libur Natal, semoga damai dan sukacita Natal selalu menyertai hati kalian semua. Menurut saya, Natal adalah tentang Iman dan pengharapan. Sekalipun suasana di sekitar mungkin terasa berbeda, kita perlu ingat bahwa Natal tidak bergantung pada tempat, tetapi ada dalam hati. Tetaplah bersinar dan biarlah kasih, iman, dan pengharapan tetap menjadi sumber kekuatanmu.

Terakhir, bagi Sahabat Ruanita yang merayakan Natal, kita perlu sebarkan semangat Natal di mana pun berada. Meskipun, perayaan Natal terasa sepi, kita tidak perlu merasa sendiri. Ketahuilah bahwa banyak perempuan Indonesia lain yang mengalami hal yang sama. Temukan komunitas di sekitar kalian tinggal, baik secara offline/langsung maupun online/daring, untuk saling menguatkan dan berbagi kebahagiaan Natal.

Motto saya: Hidup bukan sekadar menghitung hari, tetapi bagaimana kita mengisi setiap hari dengan makna. Bagi saya, “Setiap Hari Harus Spesial” sudah melekat di hati dalam menciptakan kisah yang tak hanya berarti bagi diri saya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar, khususnya bagi orang yang saya sayangi. Saya percaya bahwa sekecil apa pun momen itu, jika dijalani dengan rasa syukur, akan menjadi spesial. 

Penulis: Elok Fenisia, tinggal di Paraguay dan sempat menetap juga di Taiwan dan dapat dikontak lewat akun IG: @elokfenisia.

(IG LIVE) Perempuan Wirausaha di Negeri Rantau: Cerita Nyata dari Taiwan dan Polandia

Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.

Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha

Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.

Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.

Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.

Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.

Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.

Follow us

Strategi Bisnis dan Peluang Pasar

Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.

Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.

Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.

Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.

Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.

Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.

Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri

Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.

Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.

Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.

Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.

Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya

Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.

Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kemeriahan Imlek di Taiwan

Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.

Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.

Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.

Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Ini Kesedihan Saya Tinggal Jauh dari Keluarga di Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia. 

Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya. 

Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.

Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.

Follow us

Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.

Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu. 

Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan. 

Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile

Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya. 

Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.

Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down

Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.

Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.

Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut. 

Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body

Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja. 

Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.